Jalur Militer: Rudal

Pertahanan Udara Khordad 15 Iran Jadi Mimpi Buruk AS di Timur Tengah

Ujicoba peluncuran Sistem Pertahanan Udara Khordad 15, oleh militer Iran. (Foto: tasnimnews.com)
TEHERAN -- Iran berhasil menguji sistem pertahanan udara produk dalam negeri. Sistem canggih itu diluncurkan pada Jumat, 22/11/19, dalam latihan militer berskala besar, dengan nama sandi "Guardians of Velayat Sky-98", di provinsi tengah, Semnan.

Sistem Pertahanan itu diberi nama Khordad 15. Khordad 15 adalah sistem pertahanan udara bergerak berbasis darat. Sistem senjata terdiri dari radar array bertahap yang mampu mendeteksi jet tempur, rudal jelajah, dan kendaraan udara tak berawak (UCAV) dari jarak 150 kilometer (93 mil) dan mampu melacaknya dalam jarak 120 kilometer (75 mil).

Sistem pertahanan udara ini dapat melibatkan hingga enam target secara bersamaan sambil mampu menembak jatuh mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah terdeteksi. Sistem ini juga dapat mendeteksi target siluman pada jarak 85 kilometer dan mampu menghancurkan target dalam jarak 45 kilometer.

Pengaturan sistem SAM mencakup dua truk militer. Satu dengan peluncur berputar persegi panjang yang berisi empat tabung rudal. Sistem pertahanan udara ini beroperasi bersamaan dengan misil Sayyad-3.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dinamai untuk menghormati demonstrasi 1963 di Iran, yang menurut kalender Iran dikenal sebagai pemberontakan 15 Khordad. Itu adalah serangkaian protes di Iran terhadap penangkapan Ayatollah Ruhollah Khomeini oleh rezim diktator Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dirancang dan diproduksi oleh Organisasi Industri Penerbangan Iran (IAIO), dan diumumkan kepada publik pada 9 Juni 2019 dalam pidato Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami di Teheran, Iran.

Sistem Pertahanan Udara Khordad 15 Republik Islam Iran
Spesifikasi Khordad 15

Engaged Aerial Targets : 6
Performance
Max Detection Range    : 150 kilometer
Max Tracking Range     : 120 kilometer
Target's Max Altitude  : 27,000 meter (88,583 foot)
Weapon Max Range       : 120,000 meter
Time
Reaction Time          : 5 minute (300 second)

Ancaman Serius Bagi Militer AS dan Sekutu di Timur Tengah

Setelah diluncurkan, sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran, pada debut pertamanya langsung menggemparkan dunia. Sebuah Video yang dirilis memperlihatkan sistem pertahanan udara Khordad 15 bergerak meluncurkan rudal dari lokasi yang dirahasiakan di bagian selatan Iran pada Kamis dini hari. Rudal itu berhasil mengenai sasarannya di dalam wilayah udara Iran atau di atas provinsi Hormuzgan.

IRGC mengatakan bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara Khordad 3 untuk menembak jatuh drone Amerika yang canggih, yang dapat mencapai ketinggian hingga 18 kilometer. Iran juga mengatakan militer AS telah mematikan transponder pada pesawat, menerbangkannya dengan mode sembunyi-sembunyi.

IRGC menyatakan bahwa drone itu dari jenis RQ-4 Global Hawk. Triton adalah versi Global Hawk yang sedikit dimodifikasi dan sebagian besar dibuat dari komponen-komponennya. Tak lama kemudian, Iran memberikan koordinat peta yang tepat di mana drone ditembak.

AS awalnya membantah bahwa ada drone mereka yang ditembak jatuh oleh militer Iran, namun kemudian mengakui setelah itu. AS bahkan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menghasilkan koordinat peta, dengan menuduh bahwa drone telah ditargetkan di wilayah udara internasional.

Beberapa jam kemudian, para pejabat militer Amerika mengkonfirmasi bahwa pesawat tak berawak MQ-4C Triton milik Angkatan Laut AS telah ditembak jatuh di “wilayah udara internasional” dekat Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Angkatan Laut Amerika telah dikirim ke daerah itu untuk mengambilnya.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militer AS untuk melakukan serangan balasan terhadap beberapa posisi di Iran tetapi kemudian secara tiba-tiba membatalkan serangan.

The New York Times juga telah melaporkan bahwa para pejabat pertahanan AS “terkejut” oleh kemampuan Iran untuk menurunkan “drone Amerika di ketinggian tinggi, yang dikembangkan untuk menghindari rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk menjatuhkannya.”

Pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia. (Foto: Erik Hildebrandt/Northrop Grumman/Handout via REUTERS)
“Ini adalah unjuk kekuatan,” kata Times mengutip Derek Chollet, mantan asisten menteri pertahanan AS untuk urusan keamanan internasional, sebagaimana dikatakan.

Becca Wasser, seorang analis di Rand Corp, mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, dan menggambarkan fakta “signifikan” bahwa sistem tersebut buatan dalam negeri.

“Penembakan drone menunjukkan kemampuan Iran, dan pesan kuat ke Amerika Serikat. Fakta bahwa Iran dapat menembak drone menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan atau membeli kemampuan yang cukup signifikan dan terampil dalam menggunakan sistem ini,” tambahnya.

Mantan kepala badan intelijen Prancis, yang berbicara dengan syarat anonim, juga mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, bahwa bahkan jika militer AS mengirim sejumlah besar pesawat ke Iran, harus dipersiapkan untuk kerugian karena pertahanan udara Iran akan siap untuk terlibat.

Iran mengembangkan sistem dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan rudal dan ancaman udara lainnya mengingat kehadiran pasukan ekstra-regional yang dipimpin Amerika Serikat, di pangkalan di negara-negara di sekitar Iran.

Iran semakin bergerak cepat memperkuat postur pertahanan mereka di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan upaya gagal Eropa untuk menegakkan komitmennya terhadap perjanjian nuklir Iran 2015.

Titik lokasi ditembak jatuhnya pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia.

Israel Klaim Berhasil Ciptakan Rudal Balistik Penakluk Timur Tengah

Israel melakukan uji coba penembakan rudal pencegat anti-balistik Arrow-2. Selain terus mengupgrade berbagai rudal balistik yang dimilikinya, Israel mengklaim telah berhasil menciptakan rudal balistik yang dianggap terkuat di Timur Tengah. (Foto: wired.com)
TEL AVIV -- Setelah Rusia memperkuat militer Suriah dengan sistem pertahanan udara S-300, Israel seperti kebakaran jenggot dan berusaha mencari berbagai macam cara untuk melumpuhkan kecanggihan rudal S-300 Suriah tersebut.

Israel bertekad akan mengembangkan senjata yang mampu menembus perisai S-300 yang melindungi langit Suriah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah mengembangkan rudal ofensif yang bisa menghantam target di negara mana saja di seluruh wilayah Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Netanyahu saat pidato tentang kemajuan negaranya dalam teknologi militer dan kedirgantaraan pada hari Senin di Israel Aerospace Industries (IAI). Pemimpin Zionis tersebut sesumbar, bahwa negaranya adalah satu-satunya yang mengembangkan rudal seperti itu.

"Perusahaan ini secara aktif mengembangkan rudal ofensif, serta persenjataan dengan kemampuan khusus yang tidak dimiliki negara lain," kata Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel, Selasa (18/12/2018).

Selain itu, kata Netanyahu, Israel juga berusaha memperluas pijakannya di ruang angkasa dengan meluncurkan satelit mikro. "Ruang angkasa adalah lingkup besar yang negara Israel masuk," katanya.

Pernyataan PM Israel ini muncul di saat situasi di kawasan Timur Tengah masih tegang. Selama setahun terakhir, Israel telah berulang kali menyerang Suriah, dengan dalih menghilangkan kehadiran milisi pro-Iran dan pasukan Iran di negara tersebut.

Israel tidak menampik bahwa pengembangan rudal tersebut memang ditujukan untuk melawan Suriah dan sekutunya Iran. "Rudal-rudal itu bisa mencapai di mana saja di kawasan ini dan target apa pun. Ini adalah kekuatan ofensif Israel yang sangat penting bagi kami di semua sektor," ujar Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memeriksa rudal canggih di Israel Aerospace Industries, Senin (17/12/2018). (Foto: / Twitter @IsraeliPM)
Sebelum Rusia memperkuat militer Suriah, rezim pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad memang kerepotan menghadapi gempuran Israel. Walau Suriah telah berulang kali mengecam serangan tersebut, yang dianggap sebagai agresi terbuka terhadap sebuah negara yang berdaulat, Israel tetap melenggang bebas karena didukung oleh Amerika Serikat.

Harus diakui, dengan bantuan AS dan sejumlah negara Barat lainnya, perkembangan teknologi rudal Israel menjadi yang terdepan di Timur Tengah. Sejumlah rudal balistik canggih melindungi wilayah zionis tersebut dari serangan musuh.

Untuk melindungi wilayah udaranya, Israel dilengkapi perisai misil anti-roket yang disebut Iron Dome. Israel sempat sesumbar bahwa Iron Dome adalah sistem pertahanan udara terkuat di dunia. Namun, seiring berkembangnya teknologi rudal yang dimiliki Pasukan Hamas dan Hizbullah, Iron Dome akhirnya perlahan-lahan kebobolan juga.

Dalam sejumlah serangan yang dilakukan Hamas, sistem Iron Dome tidak mampu melumpuhkan hujan roket yang dilancarkan para pejuang Palestina, saat menyerang basis-basis pertahanan Israel.

Saat ini, Israel bekerja sama dengan Amerika Serikat, mengembangkan misil pertahanan balistik terbaru yang dinamakan Arrow-3. Israel mengklaim, Arrow-3 mampu mencegat dan menghancurkan secara simultan lebih dari lima rudal balistik dalam 30 detik. 

Dikutip dari laman www.armyrecognition.com, Arrow-3 merupakan rudal anti balistik pencegat exoatmospheric yang menghancurkan target di luar atmosfir bumi. Rudal Arrow-3 dapat diluncurkan di satu tempat tanpa menunggu kepastian lokasi rudal balistik yang menjadi target untuk dihancurkan.

Sistem rudal Arrow-3 menghancurkan berbagai ancaman termasuk rudal yang membawa hulu ledak nuklir tanpa menimbulkan bahaya di bumi. Arrow-3 juga terkadang digunakan untuk mencegat satelit. Israel bahkan mengklaim rasio keberhasilan Arrow 3 dalam menjalankan tugasnya sekitar 99 persen.

Tentara Israel berjalan di dekat sistem pertahanan udara Irone Dome, sistem rudal permukaan-ke-udara (SAM), MIM-104 Patriot, dan rudal anti-balistik Arrow-3, saat melakukan latihan bersama, Juniper Cobra di Hatzor Pangkalan Angkatan Udara Israel di pusat Israel, 25 Februari 2016. (Foto: GETTY / Gil Cohen-Magen via al-monitor.com)

Rudal S-300 Suriah Ubah Peta Kekuatan di Timur Tengah

Kebijakan pemerintah Rusia dengan menempatkan rudal sistem pertahanan udara S-300 di Suriah, membuat perimbangan kekuatan di Timur Tengah menjadi berubah. Militer Israel dan Amerika Serikat yang dulu sangat mendominasi di kawasan tersebut, kini mulai tertekan dengan kehadiran rudal pertahanan udara canggih tersebut. (Foto: debka.com)
TEL AVIV -- Media-media massa Israel menanggapi serius pengiriman sistem antirudal S-300 oleh Rusia ke Suriah. Stasiun televisi Israel Chanel 9, menyebut Angkatan Udara Israel akan menghadapi mimpi buruk. The Jerusalem Post mengatakan, keberadaan sistem rudal canggih S-300 akan benar-benar mendongkrak kapabilitas militer Suriah.

Sementara media Haaretz dalam headline-nya, menulis "Kehadiran S-300 di Suriah Membuat Israel Berpikir Dua Kali di Aksi Berikutnya". Haaretz menambahkan, saat ini jadi masa paling sulit bagi Tel Aviv menyikapi perkembangan ini. 


Sedangkan surat kabar Ynetnews menyebut kedatangan rudal S-300 di Suriah adalah kabar buruk bagi Israel.

Sebab, rudal balistik itu akan membatasi manuver armada udara Israel yang selama ini begitu leluasa menerbangi wilayah Lebanon dan Suriah. 


Bukan hanya Israel, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu yang menjadi musuh utama Damaskus juga mencemaskan pengiriman rudal S-300 ke Suriah.

Kebijakan Moskow mengirim misil S-300 ke Suriah dipicu akibat ditembak jatuhnya pesawat pengintai Il-20 Rusia di atas langit Suriah. Peristiwa nahas tersebut menewaskan 15 tentara Rusia.

Menurut Rusia, pesawat itu secara keliru ditembak jatuh oleh rudal S-200 Suriah, yang sebetulnya diarahkan ke jet tempur Israel F-16 yang tengah menyerang negara tersebut. 


Namun, salah satu pilot F-16 berhasil menghindari tembakan itu dan mengalihkannya ke pesawat Rusia yang memiliki permukaan pantulan lebih besar. Tak terelakkan, pesawat Rusia menjadi sasaran empuk rudal S-200 dan meledak di udara.

Menanggapi hal ini, Moskow langsung mengambil langkah khusus demi mencegah terulangnya tragedi serupa. Karena itu, Moskow hendak melengkapi pertahanan udara Suriah dengan sistem yang dua kali lebih baik.

Selain mengirimkan sistem antirudal S-300, Menhan Rusia Sergei Shoigu menegaskan, Rusia akan menetapkan larang terbang di wilayah Latakia hingga lepas pantainya. Zona larangan terbang ini akan memangkas pergerakan Israel dan pesawat asing lainnya.


Lalu, sebenarnya secanggih apa misil pertahanan udara S-300 buatan Rusia tersebut, hingga mampu membuat Israel dan sekutunya seperti "terkencing-kencing" ketakutan?

Kecanggihan Rudal S-300 Buatan Rusia

S-300 (pelaporan nama NATO: SA-10 Grumble) adalah serangkaian sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara yang dikembangkan pada tahun 1970-an, dan menjadi tulang punggung pertahanan udara Rusia pada era Uni Soviet.

Kemampuan rudal sistem pertahanan udara S-300 dalam membentengi wilayah Iran dari serangan musuh. Sebelum Suriah, Iran telah lebih dulu membeli dan menginstal rudal S-300 di sejumlah titik strategis negara tersebut. (Infografis: graphicnews)
Misil canggih ini mengambil DNA dari rudal S-75 yang merupakan misil SAM pertama yang dimiliki Uni Soviet. S-75 adalah rudal legendaris, yang telah menembak jatuh pesawat mata-mata U-2 Amerika Serikat di atas ruang udara Uni Soviet pada tahun 1960, dan mempermalukan pemerintahan Presiden AS, Eisenhower.

Rudal yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan pertahanan Rusia, NPO Almaz-Antey tersebut, mempunyai jarak tembak 150 km dengan kecepatan 4 Mach. 


Dalam upgrade versi terbaru, daya jangkau S-300 ditingkatkan hingga mencapai 300 kilometer, dan memiliki alat pelacak jet dan roket. Rudal pintar ini juga mampu menyergap benda yang terbang rendah maupun tinggi (25M- 25KM).

Awalnya misil S-300 dikembangkan sebagai benteng pertahanan Angkatan Udara Uni Soviet dari serangan rudal jelajah dan rudal balistik Amerika Serikat dan sekutu. Kemampuan S-300 semakin berkembang dan kini mampu mendeteksi, menyergap dan menghancurkan Pesawat tempur, Helikopter, Drone, Roket Balistik, serta Peluru Kendali antar-benua (ICBM).


Walau masuk kategori alutsista keluaran lama, S-300 masih dianggap sebagai sistem pertahanan udara terkuat di dunia, sebelum keluarnya misil pertahanan udara generasi terbaru buatan Rusia lainnya seperti misil S-400 dan S-500. Sejumlah analis militer menyatakan S-300 Rusia setara dengan rudal Patriot AS, bahkan dalam beberapa spesifikasi, S-300 lebih unggul dari Patriot AS.
 
Sistem pertahanan S-300 dapat melacak hingga 12 target serangan, dimana enam baterai rudal lainnya bisa menyasar objek yang terpisah dan berbeda secara bersamaan. 


Misil S-300 adalah sistem pertahanan mobile yang dirancang untuk memukul mundur dan menghancurkan serangan udara besar-besaran, dimana tingkat akurasi yang diciptakan S-300 mampu menghancurkan 80 hingga 95 persen formasi pesawat tempur musuh.

Hingga kini, tidak ada satupun jet tempur di dunia yang bisa menandingi kecepatan misil S-300, yang mampu mencapai kecepatan di atas 7200 km / jam dan mampu mencapai ketinggian maksimum 98.000 kaki.


Bahkan pada pengembangan versi terbaru, misil S-300 mampu menembak jet tempur yang berusaha bersembunyi dari jangkauan radar dengan terbang rendah 20 kaki di atas permukaan laut.

Pengiriman misil S-300 ke Suriah akan mendongkrak kekuatan militer Damaskus secara signifikan. Sebab selama ini untuk mempertahankan ruang udara wilayahnya, Suriah hanya mengandalkan misil permukaan-ke-udara jangka panjang SA-5 atau biasa juga disebut S-200 buatan Uni Soviet yang diproduksi pada akhir 1960-an.

Rudal S-200 Suriah yang sudah tua hampir benar-benar tak berdaya melawan kecanggihan jet-jet tempur generasi terbaru, drone maupun rudal balistik Israel dan AS. Sistem pertahanan udara terbaru yang mereka miliki hanya rudal jarak pendek Pantsir S-1.

Rudal pertahanan udara S-300 mampu membentengi seluruh wilayah udara Suriah dari serangan Israel dan Amerika Serikat. (Infografis: RT.com)
Namun dengan memiliki S-300, Suriah mampu mendeteksi jet tempur Israel, 107 detik saat tinggal landas dari pangkalan udara Tel Aviv. Artinya Suriah mampu mengunci pergerakan jet tempur Israel bahkan hingga di dalam basis pertahanan terdalam sekalipun.

Misil S-300 yang dimiliki Suriah menjadi momen penting, sebab ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Timur Tengah, bangsa Arab akan memiliki kemampuan untuk menembak jatuh pesawat tempur Israel di atas wilayah negara zionis tersebut.

Robert Hewson, editor IHS Jane, menggambarkan sistem S-300 sebagai alat yang tangguh dan dihormati oleh para perencana militer Barat. "Jika rencana Anda adalah melenggang ke wilayah udara Suriah dan memulai pengeboman, ini adalah kesalahan terbesar," kata Hewson.

Sebagai contoh, S-300 dapat mengeliminasi jet-jet tempur taktis dan pengebom canggih yang dilengkapi teknologi siluman. S-300 dapat menangkis rudal jelajah Tomahawk (salah satu senjata utama kapal perusak AS) dan rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.500 km, serta rudal jarak pendek yang diluncurkan dari negara-negara tetangga Suriah.

Tak hanya itu, S-300 dapat beroperasi bahkan ketika sistemnya dikacaukan oleh perangkat peperangan elektronik lainnya. Selain sulit dilumpuhkan S-300 juga sangat sulit dideteksi pergerakannya.

S-300 akan semakin mematikan jika digunakan bersama-sama dengan artileri anti-pesawat (AAA) dan pesawat tempur. Cara kerjanya rudal S-300 mendorong pesawat musuh ke dalam "perangkap buta" di mana baterai AAA dan pesawat tempur menunggu mereka.

Salah satu yang paling ditakuti oleh AS dan sekutunya mengenai sistem pertahanan S-300 adalah, mampu menjiplak navigasi satelit, radar onboard dan sistem komunikasi pesawat tempur musuh yang berusaha menyerang sasaran.

Tidak cukup sampai disitu, perangkat S-300 juga mampu mengcopy dan menyalin semua data, sistem dan kecanggihan pesawat tempur musuh yang sudah masuk dalam jangkauan perangkap radarnya.

Saat ini Rusia sudah mengembangkan hingga tiga varian rudal S-300, dan beberapa sub varian lainnya yang memiliki kecanggihannya masing-masing. Diantara varian tersebut adalah: basis darat S-300P (SA-10), basis laut S-300F (SA-N-6), basis laut S-300FM (SA-N-20), S-300V (SA-12), S-300PMU-1/2 (SA-20), S-400 (SA-21) dan S-300VM (SA-X-23).

Versi S-300P diletakkan di atas truk mirip peluncur rudal balistik, S-300F untuk di kapal perang, dan terakhir S-300V yang dibopong kendaraan beralaskan track, mirip 9K37 Buk (SA-11 'Gadfly'). Yang terakhir ini juga dikenal dengan nama Antey-300.

Saat Iran menekan perjanjian kerja sama pembelian rudal S-300 dari Rusia, Israel sebenarnya sudah langsung melakukan penelitian untuk mencari cara melumpuhkan sistem pertahanan udara canggih tersebut.

Reuters melaporkan, Israel dengan dibantu AS, pada tahun 2015 pernah berlatih melawan sistem rudal S-300 yang dipasok oleh Rusia di Yunani. Yunani adalah satu-satunya negara anggota NATO yang membeli rudal S-300 buatan Rusia. Tapi hingga kini upaya itu belum juga berhasil.

Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)

Israel dan AS Ketar-Ketir Hadapi Rudal S-300 Suriah

Israel dan sekutunya, Amerika Serikat mengecam keras kebijakan Rusia dengan mengirim sistem pertahanan udara rudal S-300 ke Suriah. (Sumber foto: AP)
DAMASKUS -- Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, rezim Suriah telah menempatkan empat sistem pertahanan rudal anti-pesawat S-300 Rusia di belahan utara negara itu. Hal ini diketahui dari rilis rekaman yang diambil oleh satelit Israel yang menunjukkan salah satu peluncur sudah dipasok oleh Rusia ke Suriah.

Menurut Haaretz, salah satu sistem pertahanan udara S-300 dikerahkan di daerah Musyaf, sebelah utara kota Homs. Kawasan itu memiliki jaringan industri senjata Suriah di mana Iran dan Suriah telah berusaha memproduksi senjata presisi untuk Hizbullah. Israel telah menyerang wilayah itu beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Sedangkang Izvestia, pada hari Jumat (19/10/2018), melaporkan, Rusia telah memasok militer Suriah dengan sistem pertahanan rudal S-300PM-2, versi lain dari S-300 yang lebih canggih. Pengiriman senjata pertahanan itu untuk melawan serangan Israel.

Misil S-300PM-2 yang dipasok ke militer Damaskus memiliki sistem radar dan komunikasi yang lebih canggih. Senjata pertahanan itu telah digunakan oleh tentara Rusia sejak 2010.

Laporan yang mengutip pejabat di Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, tiga baterai dari sistem S-300PM-2 telah ditransfer ke Suriah. Sistem baru ini merupakan pasokan tambahan dari baterai S-300 yang dikirim Moskow awal bulan ini. Secara bertahap, Rusia akan mengirimkan hingga delapan bateral misil S-300 ke Suriah.

"Pos komando pasukan Suriah dan unit pertahanan udara militer akan dilengkapi dengan sistem kontrol otomatis, yang telah disediakan hanya untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Ini akan memastikan manajemen terpusat dari semua kekuatan pertahanan udara Suriah, fasilitas, pemantauan situasi di wilayah udara dan penetapan target yang cepat," kata Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu.


"Yang paling penting, S-300 akan memastikan identifikasi semua pesawat Rusia oleh pasukan pertahanan udara Suriah," tegas Shoigu, menjelaskan cara kerja misil S-300 di Suriah.
Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)
Israel dan Amerika Serikat "Ketar-Ketir" Hadapi Misil S-300 Suriah

Israel dan Amerika Serikat (AS) mengecam keras pengiriman rudal S-300 ke Suriah. Bahkan Israel dan AS sudah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan masuknya rudal canggih tersebut ke wilayah Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon mengatakan, pengiriman misil S-300 ke Suriah merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Israel memperingatkan Rusia bahwa kebijakan Moskow untuk mengirim misil S-300 ke Suriah dapat membahayakan kawasan Timur Tengah.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga sudah berulang kali melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, agar membatalkan pengiriman S-300 ke Suriah. 


Bahkan pada tanggal 9 Oktober, Netanyahu berbicara langsung dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Maxim Akimov di Yerusalem, agar Moskow menghentikan pengiriman S-300 tersebut.

Israel membujuk Rusia dan beralasan tidak akan lagi menjadikan jet-jet tempur Rusia di Suriah sebagai target sasaran mereka. Israel berkilah, operasi militer yang mereka lakukan selama ini di Suriah hanya menyasar pabrik dan gudang-gudang persenjataan Iran yang sering digunakan oleh milisi Hizbullah.

Selain berusaha melobi Rusia, Pemerintah Israel, berusaha mempengaruhi Dewan Keamanan PBB agar mengambil sikap terkait tindakan Rusia tersebut. PM Netanyahu sempat mengadakan pertemuan dengan DK PBB untuk membahas perkembangan. Bersama sekutunya Presiden AS, Donald Trump, dia mendesak masalah ini diangkat di Majelis Umum PBB.

Sedangkan Menteri Energi Israel Yuval Steinitz mengatakan, Kabinet Keamanan Israel mengakui penempatan S-300 di Suriah adalah masalah yang problematik bagi militer Israel. "Dan itu bisa juga untuk Amerika. Ini adalah sistem yang tentu menyulitkan kami dan membutuhkan solusi untuk ditemukan," kata Steinitz dikutip dari Army Radio.

Seirama dengan Israel, AS pun mengutuk Rusia yang mengirim rudal S-300 ke Suriah. Jenderal Joseph Votel, Komandan pasukan AS di Timur Tengah mengatakan, pengerahan S-300 itu hanya akan memicu eskalasi dan respons spontan yang tidak perlu, dan menuding senjata anti-pesawat itu hanya untuk melindungi kejahatan rezim Iran dan Suriah.

Presiden Suriah Bashar al-Assad saat bertemu dengan sekutu kuatnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Sumber foto: ndtv.com)

Turki Manfaatkan Konflik AS-Rusia untuk Dapatkan Rudal S-400 dan Patriot

Ujicoba misil pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat. Turki berencana juga akan membeli rudal Patriot, selain juga membeli misil tandingan S-400 dari Rusia. (Foto: defpost.com)
"Turki Mencari kepemimpinan di Timur Tengah, Turki mencoba menggunakan konflik antara negara-negara kuat seperti AS dan Rusia untuk kepentingannya sendiri,"
ANKARA -- Setelah mendapatkan ancaman sanksi dari Amerika Serikat (AS) karena membeli rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia, kini Turki mengisyaratkan juga akan membeli misil pertahanan Patriot dari Amerika.

Rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal Patriot AS disampaikan Juru bicara Presiden Erdogan beberapa waktu lalu. "Turki tidak harus memenuhi kebutuhannya dari satu sumber, karena Turki adalah negara besar," kata juru bicara Erdogan.

Namun, sejumlah pengamat dari Rusia menyatakan langkah Erdogan tersebut hanya memanfaatkan konflik yang terjadi antara Rusia dengan musuh bebuyutannya, yaitu Amerika, untuk mendapatkan sekaligus rudal canggih S-400 dan Patriot dengan harga murah.

"Turki Mencari kepemimpinan di Timur Tengah, Turki mencoba menggunakan konflik antara negara-negara kuat seperti AS dan Rusia untuk kepentingannya sendiri," kata Nikita Danyuk, wakil direktur Institute for Strategic Studies and Predictions yang berbasis di Moskow, dilansir dari Russia Today, Sabtu (24/11/2018).

Nikita menyatakan, memegang negosiasi dengan beberapa mitra dagang secara bersamaan sejalan dengan taktik Presiden Erdogan untuk menggunakan kesepakatan senjata sebagai alat tawar-menawar. 


"Dengan menjajaki kesepakatan itu, ada kemungkinan bahwa Erdogan ingin mendorong Moskow untuk memberikan konsesi tertentu dalam hal kerja sama militer," kata analis itu.

selain itu, Turki juga menjadikan perseteruan Washington dan Moskow di Timur Tengah sebagai nilai tawar dengan Amerika. Dengan membeli rudal Patriot, Erdogan mengharapkan kesepakatan untuk menghalangi Presiden Donald Trump menekan Turki dalam memotong hubungan ekonominya dengan Iran.

Erdogan juga mengharapkan Amerika akan segera menyerahkan pentolan oposisi Turki, Fethullah Gulen, yang kini bermukin di AS dan menggeser kebijakan Amerika pada kaum Kurdi Suriah.

Para perwira tentara AS berdiri di depan sistem pertahanan rudal Patriot AS, selama latihan militer gabungan Israel-AS "Juniper Cobra" di Hatzor Airforce Base Israel pada 8 Maret 2018. Rudal Patriot yang dimiliki Israel, menjadi alasan kuat Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. (Foto: AFP / JACK GUEZ)
Seperti diketahui, Pentagon selama ini telah membantu kelompok paramiliter YPG Kurdi di Suriah utara dengan senjata dan pelatihan. Sedangkan Ankara menganggap YPG sebagai organisasi teroris dan meluncurkan beberapa operasi militer terhadap milisi Kurdi.

"Turki membuat isyarat niat baik, mengharapkan AS untuk mengubah pendiriannya terhadap Kurdi di Suriah. AS menghadapi dilema; terus mendukung Kurdi atau membiarkan Erdogan menghancurkan otonomi mereka," kata Peneliti kebijakan luar negeri Rusia, Konstantin Truyevtsev.

Truyevtsev, yang bekerja di Institute of Oriental Studies of the Russian Academy of Sciences Rusia, berpendapat bahwa Presiden Erdogan tidak mungkin berhasil mengubah strategi Amerika di kawasan itu, tetapi dia akan terus berusaha.

Integrasi S-400 dengan Patriot Mustahil Dilakukan

Jika rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dan misil Patriot terealisasi, Ankara setidaknya harus melakukan pengintegrasian teknologi pada dua misil pertahanan terkuat di dunia tersebut.

Hal inilah yang disanksikan oleh sejumlah pengamat militer. Pasalnya, basic atau dasar teknologi dari kedua senjata canggih tersebut sangat berbeda. Ahli militer Aleksey Leonkov mengatakan, akan sulit untuk membuat sistem rudal Patriot kompatibel dengan S-400 buatan Rusia, jika Turki memutuskan untuk menyebarkan keduanya.

"Ini diragukan bahwa rudal Patriot dapat berintegrasi dalam satu sistem kontrol dengan S-400. Amerika tidak akan mengizinkannya, karena khawatir teknologi yang sangat rahasia akan bocor ke Moskow," katanya.

Upaya pencurian teknologi kemungkinan besar terjadi dan akan dilakukan oleh dua negara adidaya tersebut, untuk mencari titik lemah masing-masing. Nilai tawar Turki akan menjadi penentu, apakah hegemoni Ankara mampu menggoyahkan kedua negara raksasa tersebut.

Sanksi Amerika jadi 'Senjata makan Tuan'

Kebijakan yang diterapkan oleh rezim Donald Trump untuk memberikan sanksi atau hukuman kepada setiap negara yang membeli senjata dari Rusia, ternyata menjadi 'senjata makan tuan' yang sangat merepotkan bagi Washington.

Truk militer Belanda membawa sistem pertahanan rudal Patriot NATO untuk melindungi Turki jika tetangga Suriah meluncurkan serangan, yang diturunkan di pangkalan Incirnik, dekat Adana, Turki, Kamis, 24 Januari 2013. Sebagai sesama anggota NATO, Turki memang mendapat bantuan 'pinjaman' rudal Patriot, namun, kebijakan NATO terhadap Turki dianggap sering tidak tulus dan penuh dengan kepentingan tertentu. (Foto: AP / Rob van Eerden , Kementerian Pertahanan Belanda, HO)
Seperti diketahui, negara-negara yang membeli senjata dari Moskow berisiko terkena sanksi AS di bawah undang-undangnya yang bernama Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

Namun, penerapan sanksi tersebut tidak berjalan mulus di lapangan. Bahkan sejumlah sanksi, jika benar-benar diterapkan, akan menciptakan musuh baru bagi Amerika. 


Seperti rencana AS yang akan memberikan sanksi kepada India, karena membeli sejumlah alutsista canggih buatan Rusia, seperti misil S-400, jet tempur Sukhoi SU-35 dan kapal selam.

Amerika akhirnya menganulir kembali rencananya untuk menjatuhkan sanksi kepada New Delhi, karena berpotensi akan menciptakan konflik tingkat tinggi dengan India. Status India dianggap sebagai 'pengecualian.'

Hal yang sama juga berlaku untuk Indonesia, yang berencana membeli jet tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia. Rencana Amerika yang akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, juga dianulir tanpa alasan yang jelas.

Militer Turki juga sebelumnya berada dalam ancaman Sanksi Amerika. Tapi sikap 'ngotot' rezim Erdogan membuat AS juga serba salah. Turki sempat menyatakan akan melawan segala sanksi dan ancaman yang dilontarkan oleh Amerika.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada hari Kamis mengatakan, pembelian sistem pertahanan canggih buatan Rusia itu merupakan kebijakan nasional mereka dan akan disebar untuk melindungi wilayah negaranya mulai Oktober 2019.

Akar mengatakan Turki menghadapi ancaman rudal, namun tidak tidak menyebut asal ancaman tersebut. "Kita harus melawan ancaman itu," ujarnya. Akar menegaskan, kontrak untuk kesepakatan S-400 sudah ditandatangani dengan Rosoboronexport, agen ekspor senjata utama Rusia.

Rudal S-400 buatan Rusia, yang rencaananya akan dibeli India dan Turki, merupakan sistem pertahanan udara canggih terkuat di muka bumi yang hingga kini belum bisa dilampaui oleh Amerika dan NATO sekalipun. (Foto: Vasily Fedosenko / Reuters)

Waspadai Rusia, Amerika Tumpuk Amunisi dan Rudal Balistik di Eropa

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang,"
BERLIN -- Amerika Serikat (AS) dibawah kepemimpinan Donald Trump semakin memanaskan situasi di Eropa. Setelah melakukan latihan militer besar-besaran dengan NATO, yang membuat Rusia naik pitam, kini negara adidaya tersebut berencana menumpuk rudal-rudal balistik di Eropa.

Dilaporkan, pangkalan Udara Ramstein di Jerman telah menerima sekitar 100 kontainer amunisi dan rudal balistik dari Amerika. Pengiriman persenjataan itu tercatat yang terbesar oleh Washington sejak NATO melakukan pemboman di Yugoslavia pada tahun 1999.

"Berbagai amunisi sudah dikirim ke Ramstein selama bulan Oktober. Ramstein adalah pangkalan udara luar negeri dan pusat pengangkutan udara terbesar AS. Jadi tugas utama kami adalah mendapatkan amunisi di mana mereka harus tepat waktu," kata Sersan Arthur Myrick, kepala untuk Misioner Skuadron 86.

Pengiriman itu dimaksudkan untuk mendukung prakarsa NATO yang bernama "European Deterrence Initiative" dan memompa sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Udara AS di Eropa.

Pentagon bertujuan untuk meningkatkan waktu respons militer AS dengan memposisikan amunisi, bahan bakar, dan peralatan untuk dapat memberikan respons cepat terhadap ancaman yang dibuat oleh aktor agresif, yang disini tentu saja ditujukan untuk militer Rusia.

"Ini adalah amunisi dunia nyata untuk memenuhi tujuan dunia nyata. Itulah alasan kami mengunduh hal-hal tersebut, untuk memastikan kami memiliki kemampuan untuk menggerakkan pertarungan ke depan jika perlu," jelas Sersan Arthur, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (27/10/2018).

Sersan David Head, Kepala Bagian Operasi Amunisi Skuadron 86, mencatat bahwa pengiriman itu adalah yang terbesar dari jenisnya sejak Operasi Pasukan Sekutu, yang berlangsung pada tahun 1999.

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang," kata David dalam sebuah rilis.

Operasi Allied Force adalah nama kode NATO resmi untuk kampanye pengeboman 78 hari aliansi melawan pasukan Serbia selama Perang Serbia-Kosovo antara akhir Maret dan awal Juni 1999.

Saat itu, AS dan sekutunya meluncurkan serangan udara di Yugoslavia, tanpa restu Dewan Keamanan PBB, setelah menyalahkan Beograd atas penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tidak proporsional dalam konflik dengan pemberontakan etnik Albania di Kosovo.

Dalam pemboman di Yugoslavia, pesawat-pesawat tempur NATO meluncurkan 900 serangan mendadak selama operasi pemboman brutal selama 78 hari. Data resmi menyatakan 758 warga sipil tewas selama agresi tersebut. Namun sumber-sumber Serbia mengatakan jumlah korban sebenarnya dua kali lebih besar.

Lebih dari 1.000 pesawat NATO, yang sebagian besar berasal dari AS, melancarkan 38.000 total serangan, 30.000 di antaranya dilakukan oleh pesawat AS. Selama konflik, hanya dua pesawat berawak NATO yang ditembak jatuh. 


Salah satunya jet tempur siluman F-117 Nighthawks dan F-16 Angkatan Udara AS yang saat itu dipiloti oleh Letnan Kolonel David Goldfein, yang sekarang adalah kepala staf Angkatan Udara.

Amerika dan NATO Terus Provokasi Rusia

Tuan Sersan. Arthur Myrick mengatakan bahwa persediaan di Ramstein akan ditambahkan ke Bahan Cadangan Perang Angkatan Udara di Eropa dan akan mendukung European Deterrence Initiative (EDI) atau Inisiatif Pencegahan Eropa.

EDI, sebelumnya dikenal sebagai Prakarsa Reasuransi Eropa, yang telah mendanai proyek-proyek militer di Eropa sejak intervensi Rusia di Ukraina pada tahun 2014. Sejak dimulainya konflik Ukraina dan reunifikasi Crimea dengan Rusia, NATO telah mengerahkan ribuan pasukan dan persenjataan berat ke negara-negara Baltik, Polandia, dan wilayah Eropa Tenggara.

Para penerbang AS yang ditugaskan ke Skadron Mesiu ke-86 membongkar pengiriman amunisi di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)

Tentara Yaman Berhasil Produksi Rudal Balistik, Arab Saudi Marah

Tentara Yaman memberi hormat di atas peluncur rudal balistik Scud, selama parade militer di Sana'a pada 21 Mei 2009, menandai penyatuan Yaman ke-19. Saat ini Yaman berhasil menciptakan berbagai jenis rudal balistik untuk menghadapi agresi militer Arab Saudi dan koalisinya. (Sumber Foto: AFP / Khaled Fazaa / Getty Images)
"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini,"
SANA'A -- Menghadapi keroyokan dari negara-negara koalisi pimpinan Arab Saudi, tidak menjatuhkan mental para pejuang Yaman untuk mempertahankan tanah air mereka. Bahkan, perang yang sudah berlangsung selama beberapa tahun tersebut, justru membuat Yaman berusaha mandiri dalam bidang persenjataan.

Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan telah meluncurkan sebuah rudal cerdas yang dirancang dan diproduksi secara domestik. Biro media Pusat Komando Operasi Yaman,pada hari Sabtu (28/10), mengumumkan bahwa rudal jarak dekat dan propelan padat Badr P-1 adalah upgrade dari rudal Badr-1, dan memiliki akurasi 3 meter.

Yaman berusaha memproduksi rudal balistik tersebut dengan titik akurasi yang sangat tinggi untuk mencapai sasaran objek-objek vital Arab Saudi. Dengan rudal ini, Yaman mampu menghancurkan target-target yang ditetapkan.

Rudal balistik ini langsung diterjunkan dalam pertempuran melawan koalisi Riyadh. Tentara Yaman didukung oleh milisi komite populer, menembakkan rudal balistik Badr-1, pada Rabu (9/5) malam di markas Informasi dan Peperangan Elektronik Saudi di Najran, Arab Saudi selatan.

Sebelumnya, tentara Yaman menyerang pangkalan al-Mostahaddeth di provinsi pesisir barat Yaman Hudaydah dengan rudal balistik yang sama, membunuh dan melukai sejumlah besar pasukan Sudan yang dipimpin Saudi di sana.

Pasukan Yaman juga menembakkan salvo rudal balistik tersebut dengan menyasar "target ekonomi" di ibu kota Saudi Riyadh, sebagai pembalasan terhadap agresi Al-Saud. Seorang juru bicara militer gerakan perlawanan Ansarullah, Kolonel Aziz Rashed, mengatakan serangan rudal itu menandai "fase baru" dan balas dendam atas serangan udara Saudi di Yaman.

"Akan ada lebih banyak lagi salvo sampai musuh ini dihalangi, memahami arti kekuatan Yaman dan menghentikan kejahatannya," katanya, seperti diberitakan televisi berbahasa Arab al-Masirah.

Badr P-1 misil balistik presisi tinggi yang dipajang di Sana'a, Yaman. (Foto: Istimewa)
Selain berhasil membuat rudal balistik Badr-I, sebelumnya tentara Yaman juga telah berhasil memproduksi rudal yang dinamai Zelzal-1 (Gempa-1). Rudal balistik ini dalam sejumlah serangan, mampu menghancurkan basis-basis pertahanan pasukan Saudi dan koalisinya.

Di daerah al-Khobe wilayah Jizan, hantaman rudal Zelzal-I bahkan menewaskan puluhan tentara Arab Saudi. Tembakan rudal pasukan Yaman juga mampu menyasar dan menghantam gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh.


Saudi dan Amerika Tuduh Rudal Yaman Buatan Iran

Agresifnya tentara Yaman menembakkan rudal-rudal balistik canggih ke wilayah Arab Saudi, membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya Arab Saudi marah dan mencurigai Iran telah menyuplai Yaman dengan persenjataan canggih.

Amerika dan Saudi menuduh bahwa rudal yang dimiliki para pejuang Yaman, merupakan buatan Iran. Karena kecanggihan rudal tersebut memiliki kesamaan dengan sejumlah rudal balistik yang diproduksi Iran.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, saat berpidato di hadapan para anggota Dewan Keamanan PBB, bahkan terang-terangan melontarkan tuduhan tersebut kepada Iran.

"Punya kesamaan dengan rudal dalam serangan-serangan serupa yang menggunakan senjata pasokan Iran. Kita harus bertindak bersama untuk mengungkap kejahatan-kejahatan rezim Teheran dan melakukan apapun yang diperlukan demi memastikan mereka mendapat pesannya. Jika kita tidak melakukannya, Iran akan membawa dunia lebih masuk ke dalam konflik kawasan," kata Haley.

Haley sudah berkali-kali mengajukan pemberian sanksi DK PBB untuk Iran, tapi selalu ditolak dan diveto oleh Rusia dan China. Sejumlah anggota tidak tetap DK PBB juga menolak pemberian sanksi terhadap Iran.

Para pemberontak Houthi mengungkap rudal Burkan-2 pada Februari 2017. (Foto: Almasirah)
Sementara Arab Saudi melalui Juru bicara pasukan koalisi, Kolonel Turki al-Maliki mengatakan, saat ini rudal-rudal balistik yang ditembakkan oleh para pejuang Yaman hanya bisa dilumpuhkan dengan sistem pertahanan udara rudal Patriot. 

Hal inilah yang semakin menguatkan tuduhan Saudi bahwa rudal Yaman dipasok oleh Iran yang merupakan musuh bebuyutannya.

Iran Membantah Tuduhan Saudi dan Amerika


Menanggapi tuduhan Amerika dan Saudi, pemerintahan Teheran dengan tegas membantahnya. Pada hari Senin (12/3), kementerian luar negeri Iran menolak tuduhan Saudi bahwa Tehran telah memasok Yaman dengan rudal dan senjata dan menekankan bahwa ucapan tersebut dibuat karena putus asa akibat kekalahan pasukan Saudi dan koalisi di Yaman.

"Ucapan yang diucapkan oleh beberapa pejabat Saudi sangat banyak memberi tahu tentang keputusasaan pemerintah Saudi untuk analis politik yang adil," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qassemi.

Sedangkan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, Amerika dan sekutunya Saudi berusaha mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan mereka di negara Arab yang malang itu.

"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini," kata Brigjen Hatami di Tehran pada hari Selasa (13/3).

Bantahan Iran juga diperkuat oleh Deputi Juru Bicara Sekjen PBB, Farhan Haq mengatakan, tidak ada satu buktipun yang menunjukkan bahwa rudal-rudal yang ditembakkan ke Arab Saudi dari Yaman adalah buatan Iran.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperlihatkan sisa-sisa rudal yang ditembakkan ke arah Riyadh, November lalu. (Foto: AFP)
Hal ini disampaikan Farhan Haq saat melaporkan pelaksanaan resolusi 2231 di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Kamis (14/12).

Sementara petinggi Yaman sendiri berulangkali menegaskan, kekuatan pertahanan militer negara ini sepenuhnya produk dalam negeri dan meski diblokade total oleh Saudi, kekuatan ini berhasil ditingkatkan.

Yaman sejak Maret 2015 menghadapi agresi brutal oleh koalisi pimpinan Saudi, dalam upaya mengembalikan kekuasaan kepada mantan presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang buron. Puluhan ribu orang Yaman telah terluka dan menjadi martir, dengan sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

Data PBB memperlihatkan lebih dari 8.670 orang meninggal dunia dan 49.960 lainnya cedera sejak pasukan koalisi turut campur dalam peperangan di Yaman. 


Perang tersebut juga menyebabkan 20,7 juta orang memerlukan bantuan kemanusiaan dan turut menimbulkan wabah kolera yang diperkirakan menewaskan 2.219 orang sejak April lalu.

Menurut Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 60 persen dan tiga perempat dari populasi Yaman sebesar 28 juta jiwa, didefinisikan tidak aman dalam segi asupan makanan, di mana tujuh dari 22 provinsi di negara itu, berada di ambang kelaparan, dan hampir setengah juta anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Namun, kekuatan sekutu tentara Yaman dan komite populer yang didirikan oleh kaum revolusioner Ansarullah telah secara heroik menghadapi agresi dengan segala cara, menimbulkan kerugian besar pada pasukan Saudi koalisi.

Serangan rudal balistik tentara Yaman berhasil menghancurkan sebuah bangunan di kota Jizan, Arab Saudi. (Foto: alaraby.co.uk / Getty)

Amerika Berhasil Ujicoba Rudal Aegis Pencegat Antarbenua Terbaru

Militer Amerika Serikat dan Jepang melakukan ujicoba rudal Aegis di lepas pantai Hawai. (Foto: missilethreat.csis.org)
“Para pelaut AL AS di atas kapal USS John Finn (DDG-113) berhasil melakukan pencegatan target rudal balistik jarak menengah dengan rudal Standard Missile-3 (SM-3) Blok IIA selama uji terbang dari pantai barat Hawaii.
HAWAII -- Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah berhasil melakukan ujicoba sistem rudal pencegat balistik antarbenua di lepas Pantai Barat Hawaii. 

Dalam ujicoba Badan Pertahanan Rudal (MDA) mengatakan, Rudal SM-3 Blok IIA, yang merupakan bagian dari sistem Aegis, berhasil mendeteksi, melacak, menargetkan, dan menembak jatuh rudal balistik jarak menengah dari kapal USS John Finn Pada hari Jumat (26/10).

Direktur Badan Pertahanan Rudal AS (Missile Defense Agency/MDA) Letnan Jenderal Sam Greaves menjelaskan, para anggota MDA dengan menggunakan kapal jenis DDG-113 berhasil melakukan tes uji tembak rudal sasaran yang diluncurkan dari Fasilitas Rudal Pasifik di Kauai, Hawaii.

Sementara kapal John Finn beroperasi untuk mendeteksi dan melacak dengan radar AN/SPY-1 onboard dengan menggunakan sistem senjata Aegis Baseline 9.C2. Uji coba rudal SM-3 kali ini kata dia disebutnya sebagai capaian membanggakan. “Ini menandai intercept sebagai pencapaian luar biasa dan tonggak utama untuk SM-3 Blok IIA,” ungkapnya.

“(Para MDA) dan para pelaut AL AS di atas kapal USS John Finn (DDG-113) berhasil melakukan pencegatan target rudal balistik jarak menengah dengan rudal Standard Missile-3 (SM-3) Blok IIA selama uji terbang dari pantai barat Hawaii. Setelah berhasil melacak target, kapal meluncurkan rudal kendali SM-3 Block IIA untuk menghadang target,” kata Sam, Jumat, 26 Oktober 2018, dikutip dari Sputniknews.com.

Rudal SM-3 Blok IIA adalah rudal tiga tahap yang dirancang untuk mencegat ancaman rudal balistik di atas atmosfer bumi. 


Rudal itu diklaim mampu menghancurkan rudal balistik karena dilengkapi hulu ledak kinetik yang bisa bertabrakan dengan ancaman hulu ledak rudal balistik musuh pada kecepatan yang sangat tinggi.
Uji coba Rudal SM-3 Blok IIA, dari kapal perang perusak Amerika. (Foto: missilethreat.csis.org)
Rudal SM-3 Blok IIA dirancang untuk meningkatkan kemampuan militer AS untuk dapat menjatuhkan rudal balistik antarbenua. Menurut Raytheon, walau pencegat rudal Blok IIA masih dalam pengujian, namun bersiap untuk disebarkan di laut dan di darat di Polandia pada tahun ini.

Sistem baru sedang dikembangkan dalam usaha patungan antara raksasa senjata Raytheon dan Mitsubishi Heavy Industries Ltd. Jepang. Pada bulan Januari, MDA mengatakan AS telah menghabiskan sekitar $ 2,2 miliar pada sistem ini, sementara Jepang menghabiskan sekitar $ 1 miliar.

Uji Coba Selalu Gagal

Amerika Serikat dan Jepang telah berkali-kali melakukan tes terhadap rudal rudal SM-3 block IIA, namun selalu mengalami kegagalan pada Juni 2017 dan Januari 2018, dan satu yang sukses pada Februari 2017. 


Pejabat pertahanan mengatakan kepada AFP, bahwa uji coba pencegat rudal gagal dan para penyelidik telah melakukan penyelidikan untuk memahami penyebabnya.

Aegis BMD mewakili komponen berbasis laut dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik. Selain Aegis, sistem pertahanan rudal AS lainnya termasuk Patriot, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dan Pertahanan Midcourse Berbasis-darat.

Angkatan Laut AS saat ini menyebarkan Aegis BMD pada 28 kapal perang Destroyer kelas Arleigh Burke dan 5 kapal penjelajah kelas Ticonderoga-nya.

Pada tahun 2016, Amerika Serikat mengaktifkan kemampuan Aegis BMD di sebuah situs Aegis Ashore yang berbasis di darat di Devesulu, Rumania. Situs Aegis Ashore kedua sedang dalam pembangunan di Polandia dan dijadwalkan akan selesai pada 2018.

Seperti semua sistem pertahanan udara dan rudal, Aegis memasukkan kemampuan pencegat, sensor, komando dan kontrol. Sensor utama untuk misi pertahanan rudal adalah radar SPY-1D, radar S-band yang ditempatkan di dekhouse.

Motor roket yang lebih besar dari pencegat SM-3 Block IIA. (Sumber Foto: Raytheon)

Militer AS Lawan Kebijakan Rezim Trump Soal Pengurangan Senjata Nuklir

Rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III Amerika Serikat. Kekuatan daya ledak rudal nuklir ini mampu menghancurkan dan melenyapkan sebuah pulau, dengan radiasi nuklir akan bertahan hilang puluhan tahun setelahnya. (Foto: Istimewa)
"Kami akan mengakhiri perjanjian itu dan kemudian kami akan mengembangkan senjata,"
WASHINGTON DC -- Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) membuat gebrakan signifikan soal senjata nuklir. AU negara adidaya itu  terus mengurangi stok rudal balistik antarbenua (ICBM). Pengurangan rudal ICBM yang hampir rampung ini untuk mematuhi perjanjian pengawasan senjata antara AS dan Rusia yang diteken pada 2010.

Tetapi pengurangan senjata nuklir ini bertentangan dengan kebijakan rezim pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dimana Trump membuat keputusan akan menghentikan seluruh perjanjian kerjasama pengurangan senjata nuklir antar-benua yang sudah disepakati dengan Rusia.

Juru bicara Angkatan Udara AS Mayor Daniel Dubois mengatakan data pada 14 Merat 2017, Angkatan Udara AS memiliki 406 rudal Minuteman. Jumlah itu akan terus dikurangi menjadi 400 rudal pada bulan April nanti. AS berniat melenyapkan hingga 50 rudal ICBM.

Menurut laporan The Associated Press, Senin (20/3/2017), pengurangan stok rudal ICBM AS akan menjadi yang pertama dalam satu dekade. Jumlah stok rudal ICBM AS sebelumnya mencapai 500 buah.

Laporan lain menyebut, 50 rudal Minuteman yang akan dilenyapkan dilaporkan akan terus ”hangat” di fasilitas penyimpanan. Artinya, 50 rudal itu tidak akan dimusnahkan dan bisa dikembalikan ke penggunaan aktif di kemudian hari.

Sejarah mencatat, Perjanjian Penggunaan Tenaga Nuklir untuk Senjata Jarak Menengah bernama Intermediate-Range Nuclear Force (INF) ditandatangani oleh Presiden AS saat itu, Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Sovier, Mikhail Gorbachev tahun 1987.

Senior Airmen Mark Pacis, kiri, dan Christopher Carver memasang hulu ledak nuklir yang telah diperbaharui di atas sebuah rudal balistik antarbenua Minuteman III di dalam sebuah silo bawah tanah di Scottsbluff, Neb, 15 April 1997. (Foto: Eric Draper / AP)

China Klaim Berhasil Ciptakan Rudal Supersonik yang Mampu Kalahkan India

Rudal CX-1 buatan China. Kini China mengklaim berhasil menciptakan rudal jelajah lainnya yang dinamak HD-1. Tidak seperti rudal supersonik lainnya, HD-1 diklaim hanya membutuhkan lebih sedikit bahan bakar dan terbang lebih cepat dan lebih jauh. (Foto: siasat.com)
"Rudal BrahMos adalah rudal jelajah supersonik yang lebih mahal dan kurang berguna yang dikembangkan oleh India dan Rusia."
BEIJING -- Produsen senjata China, Guangdong Hongda Blasting Company mengklaim telah berhasil menguji coba peluncuran rudal jelajah supersonik HD-1. Senjata ini diklaim akan mampu mengalahkan rudal supersonik BrahMos India. Ujicoba peluncuran rudal jelajah tersebut dilakukan pada pada 15 Oktober lalu, di sebuah lokasi rahasia di China utara.

"Semua parameter untuk penerbangan mencapai perkiraan tujuannya," bunyi pernyataan perusahaan tersebut yang dikutip Global Times, Kamis (18/10/2018).

Perusahaan tidak mengungkapkan rincian tambahan tentang tes atau spesifikasi dari rudal supersonik itu. Uji peluncuran senjata tersebut bertujuan untuk memverifikasi sistem peluncuran, daya, dan kontrol penerbangan HD-1.

rudal jelajah supersonik HD-1  menggunakan teknologi ramjet yang berbahan bakar padat canggih. Senjata itu diklaim akan tersedia untuk pelanggan internasional dalam varian peluncuran berbasis udara, darat, dan laut.

Hongda mengatakan pihaknya secara independen berinvestasi untuk mengembangkan rudal HD-1 tersebut. Total investasi untuk HD-1 diperkirakan mencapai 1,3 miliar yuan atau sekitar Rp2,8 triliun

"Bahan bakar padat HD-1 yang canggih membutuhkan lebih sedikit bahan bakar dibandingkan pesaingnya, menjadikan rudal yang lebih ringan dapat terbang lebih cepat dan lebih jauh. Penerbangan menunjukkan bahwa komponen inti HD-1 sekarang telah matang, dengan desain aerodinamisnya, material dan struktur keseluruhan sudah terbukti layak," kata Wei Dongxu, seorang analis militer yang berbasis di Beijing.

Didirikan pada tahun 1988, Hongda adalah perusahaan pertambangan yang berbasis di Guangzhou, ibukota Provinsi Guangdong China Selatan yang juga memproduksi peralatan peledakan dan militer. Saat ini, perusahaan tersebut sedang menunggu keluarnya ijin lisensi ekspor dari pemerintah China untuk menjual senjata dan melakukan produksi serial.

Rudal jelajah supersonik Brahmos hasil buatan patungan antara India dengan Rusia. (Foto: Sputniknews.com)