Jalur Militer: TEKNOLOGI

Pertahanan Udara Khordad 15 Iran Jadi Mimpi Buruk AS di Timur Tengah

Ujicoba peluncuran Sistem Pertahanan Udara Khordad 15, oleh militer Iran. (Foto: tasnimnews.com)
TEHERAN -- Iran berhasil menguji sistem pertahanan udara produk dalam negeri. Sistem canggih itu diluncurkan pada Jumat, 22/11/19, dalam latihan militer berskala besar, dengan nama sandi "Guardians of Velayat Sky-98", di provinsi tengah, Semnan.

Sistem Pertahanan itu diberi nama Khordad 15. Khordad 15 adalah sistem pertahanan udara bergerak berbasis darat. Sistem senjata terdiri dari radar array bertahap yang mampu mendeteksi jet tempur, rudal jelajah, dan kendaraan udara tak berawak (UCAV) dari jarak 150 kilometer (93 mil) dan mampu melacaknya dalam jarak 120 kilometer (75 mil).

Sistem pertahanan udara ini dapat melibatkan hingga enam target secara bersamaan sambil mampu menembak jatuh mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah terdeteksi. Sistem ini juga dapat mendeteksi target siluman pada jarak 85 kilometer dan mampu menghancurkan target dalam jarak 45 kilometer.

Pengaturan sistem SAM mencakup dua truk militer. Satu dengan peluncur berputar persegi panjang yang berisi empat tabung rudal. Sistem pertahanan udara ini beroperasi bersamaan dengan misil Sayyad-3.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dinamai untuk menghormati demonstrasi 1963 di Iran, yang menurut kalender Iran dikenal sebagai pemberontakan 15 Khordad. Itu adalah serangkaian protes di Iran terhadap penangkapan Ayatollah Ruhollah Khomeini oleh rezim diktator Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dirancang dan diproduksi oleh Organisasi Industri Penerbangan Iran (IAIO), dan diumumkan kepada publik pada 9 Juni 2019 dalam pidato Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami di Teheran, Iran.

Sistem Pertahanan Udara Khordad 15 Republik Islam Iran
Spesifikasi Khordad 15

Engaged Aerial Targets : 6
Performance
Max Detection Range    : 150 kilometer
Max Tracking Range     : 120 kilometer
Target's Max Altitude  : 27,000 meter (88,583 foot)
Weapon Max Range       : 120,000 meter
Time
Reaction Time          : 5 minute (300 second)

Ancaman Serius Bagi Militer AS dan Sekutu di Timur Tengah

Setelah diluncurkan, sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran, pada debut pertamanya langsung menggemparkan dunia. Sebuah Video yang dirilis memperlihatkan sistem pertahanan udara Khordad 15 bergerak meluncurkan rudal dari lokasi yang dirahasiakan di bagian selatan Iran pada Kamis dini hari. Rudal itu berhasil mengenai sasarannya di dalam wilayah udara Iran atau di atas provinsi Hormuzgan.

IRGC mengatakan bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara Khordad 3 untuk menembak jatuh drone Amerika yang canggih, yang dapat mencapai ketinggian hingga 18 kilometer. Iran juga mengatakan militer AS telah mematikan transponder pada pesawat, menerbangkannya dengan mode sembunyi-sembunyi.

IRGC menyatakan bahwa drone itu dari jenis RQ-4 Global Hawk. Triton adalah versi Global Hawk yang sedikit dimodifikasi dan sebagian besar dibuat dari komponen-komponennya. Tak lama kemudian, Iran memberikan koordinat peta yang tepat di mana drone ditembak.

AS awalnya membantah bahwa ada drone mereka yang ditembak jatuh oleh militer Iran, namun kemudian mengakui setelah itu. AS bahkan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menghasilkan koordinat peta, dengan menuduh bahwa drone telah ditargetkan di wilayah udara internasional.

Beberapa jam kemudian, para pejabat militer Amerika mengkonfirmasi bahwa pesawat tak berawak MQ-4C Triton milik Angkatan Laut AS telah ditembak jatuh di “wilayah udara internasional” dekat Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Angkatan Laut Amerika telah dikirim ke daerah itu untuk mengambilnya.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militer AS untuk melakukan serangan balasan terhadap beberapa posisi di Iran tetapi kemudian secara tiba-tiba membatalkan serangan.

The New York Times juga telah melaporkan bahwa para pejabat pertahanan AS “terkejut” oleh kemampuan Iran untuk menurunkan “drone Amerika di ketinggian tinggi, yang dikembangkan untuk menghindari rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk menjatuhkannya.”

Pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia. (Foto: Erik Hildebrandt/Northrop Grumman/Handout via REUTERS)
“Ini adalah unjuk kekuatan,” kata Times mengutip Derek Chollet, mantan asisten menteri pertahanan AS untuk urusan keamanan internasional, sebagaimana dikatakan.

Becca Wasser, seorang analis di Rand Corp, mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, dan menggambarkan fakta “signifikan” bahwa sistem tersebut buatan dalam negeri.

“Penembakan drone menunjukkan kemampuan Iran, dan pesan kuat ke Amerika Serikat. Fakta bahwa Iran dapat menembak drone menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan atau membeli kemampuan yang cukup signifikan dan terampil dalam menggunakan sistem ini,” tambahnya.

Mantan kepala badan intelijen Prancis, yang berbicara dengan syarat anonim, juga mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, bahwa bahkan jika militer AS mengirim sejumlah besar pesawat ke Iran, harus dipersiapkan untuk kerugian karena pertahanan udara Iran akan siap untuk terlibat.

Iran mengembangkan sistem dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan rudal dan ancaman udara lainnya mengingat kehadiran pasukan ekstra-regional yang dipimpin Amerika Serikat, di pangkalan di negara-negara di sekitar Iran.

Iran semakin bergerak cepat memperkuat postur pertahanan mereka di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan upaya gagal Eropa untuk menegakkan komitmennya terhadap perjanjian nuklir Iran 2015.

Titik lokasi ditembak jatuhnya pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia.

4 Jenis UAV Tempur Super Canggih Siap Perkuat Militer Rusia

Rusia menjawab tantangan perang dimasa depan dengan menciptakan berbagai jenis pesawat tanpa awak (done/UAV) untuk memperkuat strategi dan postur militer negara adidaya tersebut. (Foto: istimewa)
MOSKOW -- Pesawat nirawak (UAV/drone) menjadi salah satu alat perang yang paling banyak diandalkan oleh militer Rusia di medan perang saat ini. Rusia semakin agresif menciptakan berbagai jenis UAV/drone dengan berbagai macam kemampuan dan kecanggihan.

Berikut sejumlah UAV yang telah dan sedang diciptakan Rusia, dan bahkan diantaranya ada yang sudah diujicoba langsung di medan perang.

1. UAV Orion

Ini merupakan salah satu drone yang telah berlaga di Suriah. Setelah diuji dalam pertempuran melawan kelompok militan di Suriah, drone Orion telah dikirim ke Tentara Rusia. Orion dipersenjatai empat buah peluru kendali dan nonkendali yang mampu menghancurkan target musuh pada jarak ratusan kilometer.

Drone baru ini dapat membawa empat rudal dengan bobot hingga 200 kg. Pada saat yang sama, Orion mampu mendaki ke ketinggian 7,5 km. Pesawat tanpa awak itu juga mampu melesat hingga 200 km/jam dan baterai yang tahan selama 24 jam. Setelah itu, drone perlu kembali ke hanggar untuk “mengisi bahan bakar”.

Kronstadt, perusahaan pengembang drone tersebut, belum mengomentari keberhasilan Orion baru-baru ini. Perusahaan itu pun enggan memberikan keterangan lebih rinci terkait pengiriman Orion ke pasukan Rusia. Selain mengutip “rahasia negara”, mereka masih harus menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut Viktor Murakhovsky, Pemimpin Redaksi Arsenal Otechestva, ada dua versi Orion yang digunakan di Suriah: satu untuk pengintaian, sedangkan yang lainnya untuk penyerangan.

UAV Orion buatan Rusia yang sudah diujicoba di medan perang Suriah. (Foto: Istimewa)
“Pasukan Kedirgantaraan Rusia kini sedang mengembangkan program untuk drone jarak jauh berdampak besar. Para jenderal ingin unit-unit tentara baru dipersenjatai dengan pesawat tradisional dan UAV dengan senjata kelas serupa supaya bisa beroperasi bersama dalam satu kelompok,” kata sang ahli.

2. UAV Sukhoi S-70 Okhotnik

Senjata mematikan lain yang akan segera memperkuat Tentara Rusia adalah drone tempur Okhotnik buatan Sukhoi. Dibuat dengan teknologi yang sama dengan pesawat tempur generasi kelima Su-57, drone ini merupakan prototipe pesawat tanpa awak masa depan.

Sebagaimana “abangnya” (Su-57), Okhotnik adalah pesawat tipe sayap terbang (flying wing), yang keduanya melindungi pesawat dari sistem pertahanan udara musuh dan memungkinkan drone membawa lebih banyak senjata.

Selain itu, drone seberat 20 ton tersebut dapat meluncur mencapai target dengan kecepatan supersonik hingga 1000 km/jam (hampir menyamai kecepatan suara). Apalagi, Okhotnik juga dilengkapi dengan salah satu komputer pertama yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan.

Teknologi ini membuat si operator terbebas dari sebagian besar tugas pengoperasian kecuali keputusan untuk mengerahkan senjata. Beberapa teknologi dan amunisinya bahkan disatukan dengan Su-57.

“Persenjataan Okhotnik termasuk rudal udara-ke-darat dan sejumlah bom (misil kendali dan bersayap) yang disembunyikan di dalam tubuh drone demi mengurangi visibilitas pada radar musuh alih-alih menggantungnya pada sayap,” ujar Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer Rusia kepada Rusia Beyond.

Di antara bom yang diangkut Okhotnik adalah bom berdaya ledak tinggi OFZAB-500 dan bom udara ODAB-500PMV, yang keduanya telah digunakan dalam kampanye militer di Suriah.

Salah satu UAV pertama Rusia kelak dapat menggunakan senjata pesawat tempur generasi kelima dan menyediakan platform untuk menguji teknologi pesawat masa depan. Foto-foto pertama drone terbaru Rusia, Okhotnik-B, yang diambil di lokasi uji coba di dekat Novosibirsk, dirilis di internet pada awal bulan ini.

Sebagaimana yang ditunjukkan foto-foto itu, drone tersebut adalah tipe drone bersayap yang dapat memberikan perlindungan lebih baik dari pertahanan udara musuh. Drone itu pun mampu membawa lebih banyak senjata. Teknologi kecerdasan buatan membuat drone ini sangat mandiri.

UAV Sukhoi S-70 Okhotnik. (Foto: Akela Freedom/artstation.com)
“Ini bukan hanya salah satu drone tempur pertama yang dibuat di Rusia, tetapi juga sebuah platform untuk menguji teknologi tempur generasi keenam. Spesifikasinya memang masih dalam tahap penyelesaian, tetapi fitur utamanya sudah diketahui, yaitu sistem yang sepenuhnya berbasis robot,” ujar Kozyulin menjelaskan.

Dalam istilah militer Rusia, “sepenuhnya berbasis robot” berarti tidak ada pilot dan mampu untuk membuat keputusan secara independen dari awal hingga akhir. “Mesin itu sudah melakukan siklus penuh operasi tempur, dengan pengecualian mengerahkan senjata dalam pertempuran. Fungsi ini ada pada operator,” tambahnya.

Menurut Kozyulin, badan pesawat itu terbuat dari bahan komposit dengan lapisan radio reflektif berbasis teknologi siluman.

3. UAV ZALA 421-16E2

Kalashnikov, perusahaan senjata Rusia yang terkenal akan senapan serbu legendaris AK-47, telah mulai memproduksi massal pesawat tak berawak (drone) canggih untuk penyelidikan dan pengintaian, ZALA 421-16E2. Pesawat ini memiliki fitur penerbangan tanpa suara.

“Sistem ZALA 421-16E2 tidak ada bandingannya baik di Rusia maupun di dunia dalam hal fungsionalitas, kesederhanaan, dan keandalan operasi. Ia juga memiliki fitur penerbangan tanpa suara, yang sangat berguna untuk badan-badan pertahanan dan keamanan,” ujar Nikita Zakharov, wakil CEO ZALA AERO (bagian dari Kalashnikov), seperti yang diberitakan TASS, Selasa (20/6).

Beberapa badan pemerintah, perusahaan, dan perdagangan telah memesan sistem ZALA 421-16E2. Kalashnikov berharap drone ini dapat diuji coba tahun ini dan didemonstrasikan pada Pertunjukan Udara dan Aviasi Internasional 2017 di Moskow pada Juli 2017 dan pameran Army 2017 pada Agustus mendatang.

Drone ZALA 421-16E2 buatan Rusia. (Foto: Istimewa)
ZALA 421-16E2 memiliki bobot 7,5 kilogram, dan dapat dipasang kamera siang hari dengan 60 kali optical zoom dan modul pencitraan termal dengan 10 kali optical zoom. 

Drone ini dapat mengirimkan informasi video di tengah kondisi cuaca yang sulit dengan jarak lebih dari 30 kilometer dan radius kendali lebih dari 50 kilometer. Selain itu, ZALA 421-16E2 juga dapat terbang terus-menerus selama empat jam dan diluncurkan dengan tangan.

4. UAV T-16
Eleron

Biro Desain Eniks, perusahaan asal Kazan, sedang mengembangkan drone T-16 yang didesain untuk keperluan militer. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strake di tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah

Rusia sedang menguji coba T-16, pesawat tanpa awak (UAV/drone) bersenjata buatan lokal, demikian dilaporkan kantor berita Interfax, mengutip seorang sumber di sektor pertahanan.

“UAV ini dapat membawa muatan hingga 6 kilogram,” ujar sang sumber. “Ia dapat mengirim amunisi di pylon bawah sayapnya.” Ia tidak menjelaskan lebih detail mengenai karakteristik teknis persenjataannya, yang diketahui berasal dari pihak ketiga.

T-16 memiliki bobot lepas landas sekitar 20 kilogram, menurutnya. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strakedi tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah. Baling-baling pendorong drone tersebut digerakkan oleh akumulator dengan kebisingan rendah atau motor elektrik bertenaga bensin.

UAV terbaru ini sedang dikembangkan oleh Biro Desain Eniks, perusahaan spesialis perancangan UAV dan objek udara berukuran kecil asal Kazan. Proyek perusahaan ini sebelumnya termasuk UAV Tipchak-RN, yang dikirim untuk penyelidikan proyektil yang diluncurkan dari sistem peluncur roket Smerch, serta berbagai macam modifikasi UAV Eleron 3 dan Eleron 10 untuk badan-badan keamanan Rusia.

Eleron 10 sendiri bertindak sebagai platform untuk UAV Valdai yang digunakan oleh Layanan Keamanan Federal Rusia untuk berpatroli di Olimpiade 2014 di Sochi. Di halaman situs webnya, Eniks mengatakan bahwa mereka memiliki lapangan uji coba UAV sendiri.

Drone T-16 belum terdaftar dalam katalog produk Eniks. Namun begitu, tahun lalu di sumber-sumber internet tertentu beredar foto-foto contoh T-16 yang diambil di acara Konferensi Sains Militer “Perobotan Angkatan Bersenjata Rusia”.

Sumber tersebut menyorot kesamaan penampilan T-16 dengan UAV Orbiter 3b buatan perusahaan asal Israel, Aeronautics Defense Systems, yang telah tersedia sejak 2014.


Sepuluh hingga 15 tahun yang lalu, hanya UAV berkelas MALE yang mampu membawa senjata, ujar Denis Fedutinov, pakar sistem tanpa awak dan pemimpin redaksi situs web UAV.ru.

UAV T-16 Eleron buatan Rusia. (Foto: Istimewa)

Israel Klaim Berhasil Ciptakan Rudal Balistik Penakluk Timur Tengah

Israel melakukan uji coba penembakan rudal pencegat anti-balistik Arrow-2. Selain terus mengupgrade berbagai rudal balistik yang dimilikinya, Israel mengklaim telah berhasil menciptakan rudal balistik yang dianggap terkuat di Timur Tengah. (Foto: wired.com)
TEL AVIV -- Setelah Rusia memperkuat militer Suriah dengan sistem pertahanan udara S-300, Israel seperti kebakaran jenggot dan berusaha mencari berbagai macam cara untuk melumpuhkan kecanggihan rudal S-300 Suriah tersebut.

Israel bertekad akan mengembangkan senjata yang mampu menembus perisai S-300 yang melindungi langit Suriah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah mengembangkan rudal ofensif yang bisa menghantam target di negara mana saja di seluruh wilayah Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Netanyahu saat pidato tentang kemajuan negaranya dalam teknologi militer dan kedirgantaraan pada hari Senin di Israel Aerospace Industries (IAI). Pemimpin Zionis tersebut sesumbar, bahwa negaranya adalah satu-satunya yang mengembangkan rudal seperti itu.

"Perusahaan ini secara aktif mengembangkan rudal ofensif, serta persenjataan dengan kemampuan khusus yang tidak dimiliki negara lain," kata Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel, Selasa (18/12/2018).

Selain itu, kata Netanyahu, Israel juga berusaha memperluas pijakannya di ruang angkasa dengan meluncurkan satelit mikro. "Ruang angkasa adalah lingkup besar yang negara Israel masuk," katanya.

Pernyataan PM Israel ini muncul di saat situasi di kawasan Timur Tengah masih tegang. Selama setahun terakhir, Israel telah berulang kali menyerang Suriah, dengan dalih menghilangkan kehadiran milisi pro-Iran dan pasukan Iran di negara tersebut.

Israel tidak menampik bahwa pengembangan rudal tersebut memang ditujukan untuk melawan Suriah dan sekutunya Iran. "Rudal-rudal itu bisa mencapai di mana saja di kawasan ini dan target apa pun. Ini adalah kekuatan ofensif Israel yang sangat penting bagi kami di semua sektor," ujar Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memeriksa rudal canggih di Israel Aerospace Industries, Senin (17/12/2018). (Foto: / Twitter @IsraeliPM)
Sebelum Rusia memperkuat militer Suriah, rezim pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad memang kerepotan menghadapi gempuran Israel. Walau Suriah telah berulang kali mengecam serangan tersebut, yang dianggap sebagai agresi terbuka terhadap sebuah negara yang berdaulat, Israel tetap melenggang bebas karena didukung oleh Amerika Serikat.

Harus diakui, dengan bantuan AS dan sejumlah negara Barat lainnya, perkembangan teknologi rudal Israel menjadi yang terdepan di Timur Tengah. Sejumlah rudal balistik canggih melindungi wilayah zionis tersebut dari serangan musuh.

Untuk melindungi wilayah udaranya, Israel dilengkapi perisai misil anti-roket yang disebut Iron Dome. Israel sempat sesumbar bahwa Iron Dome adalah sistem pertahanan udara terkuat di dunia. Namun, seiring berkembangnya teknologi rudal yang dimiliki Pasukan Hamas dan Hizbullah, Iron Dome akhirnya perlahan-lahan kebobolan juga.

Dalam sejumlah serangan yang dilakukan Hamas, sistem Iron Dome tidak mampu melumpuhkan hujan roket yang dilancarkan para pejuang Palestina, saat menyerang basis-basis pertahanan Israel.

Saat ini, Israel bekerja sama dengan Amerika Serikat, mengembangkan misil pertahanan balistik terbaru yang dinamakan Arrow-3. Israel mengklaim, Arrow-3 mampu mencegat dan menghancurkan secara simultan lebih dari lima rudal balistik dalam 30 detik. 

Dikutip dari laman www.armyrecognition.com, Arrow-3 merupakan rudal anti balistik pencegat exoatmospheric yang menghancurkan target di luar atmosfir bumi. Rudal Arrow-3 dapat diluncurkan di satu tempat tanpa menunggu kepastian lokasi rudal balistik yang menjadi target untuk dihancurkan.

Sistem rudal Arrow-3 menghancurkan berbagai ancaman termasuk rudal yang membawa hulu ledak nuklir tanpa menimbulkan bahaya di bumi. Arrow-3 juga terkadang digunakan untuk mencegat satelit. Israel bahkan mengklaim rasio keberhasilan Arrow 3 dalam menjalankan tugasnya sekitar 99 persen.

Tentara Israel berjalan di dekat sistem pertahanan udara Irone Dome, sistem rudal permukaan-ke-udara (SAM), MIM-104 Patriot, dan rudal anti-balistik Arrow-3, saat melakukan latihan bersama, Juniper Cobra di Hatzor Pangkalan Angkatan Udara Israel di pusat Israel, 25 Februari 2016. (Foto: GETTY / Gil Cohen-Magen via al-monitor.com)

Adu Tanding F-35 Lightning vs Jet Tempur J-20, Siapa yang Terkuat?

Angkatan Udara China menyatakan pengembangan jet tempur siluman Chengdu J-20 sudah mencapai tahap akhir. China sesumbar, J-20 akan mampu menyaingi jet tempui siluman generasi kelima F-35 Lightning buatan Amerika Serikat. (Foto: scmp.com)
“Harga senjata militer China yang dikembangkan sendiri biasanya seperlima hingga sepertiga dari harga senjata AS yang sama. Dan harga pembelian senjata militer adalah 5 persen lebih besar dari biaya sebenarnya. J-20 sesuai dengan F-22,"
BEIJING -- Angkatan Udara militer China memamerkan jet tempur J-20 yang sudah dipersenjatai rudal canggih untuk pertama kalinya pada Senin (12/11). 

Dilansir dari Reuters, dua awak pesawat menunjukkan empat muatan rudal jarak jauh yang terpasang di bawah sayap dan dua lainnya di sisi pesawat. 

China memamerkan rudal dan J-20 itu ketika menerbangkan pesawat tersebut di tengah peringatan hari jadi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) ke-69.

Song Zhongping, seorang Ahli militer China mengatakan empat rudal di pesawat J-20 itu adalah rudal jarak jauh dari udara ke udara. Sementara itu, dua rudal yang berada di sisi pesawat adalah rudal tempur jarak pendek untuk pertempuran udara.

Zhongping sesumbar pesawat tempur J-20 akan menjadi senjata ampuh di masa depan jika ada yang berani memprovokasi China melalui jalur udara.

"Di masa lalu, hanya AS dan sekutunya seperti Jepang yang mampu mempersenjatai jet pembom. Namun sekarang, monopoli mereka di wilayah ini telah dipatahkan oleh J-20 dari China," kata dia.

Perbandingan Jet Tempur F35 Lightning VS J-20 Buatan China

Jet tempur F-35 Lightning buatan Amerika Serikat (AS) adalah sebuah proyek ambisius dan gengsi tinggi bagi negara adidaya tersebut. Amerika ingin tetap menjadi pionir dan terdepan dalam teknologi pesawat tempur mengalahkan negara-negara lainnya seperti Rusia dan China.

F-35 Lightning diciptakan untuk menutupi kekurangan jet tempur siluman F-22 Raptor yang tidak terlalu mendapat peminat di pasar internasional. AS berambisi menciptakan pesawat tempur utopis yang memiliki semua kecanggihan, kekuatan, keunggulan dalam teknologi siluman dan tidak memiliki kelemahan.


Dari awal riset dan pembangunan, Amerika telah menggelontorkan dana sangat besar untuk proyek ini. Bahkan jet tempur F-35 lightning menjadi alutsista termahal yang pernah dibuat oleh Amerika. Hal inilah yang dikritik oleh Presiden terpilih AS Donald Trump.

Trump mengatakan bahwa, biaya untuk membangun jet tempur generasi militer AS, F-35 Joint Strike Fighter, telah berputar "diluar kendali". 


Kritik Trump di tengah ekonomi AS yang lamban mengungkapkan kesepakatan mahal antara pemerintah AS dan perancang dan produsen jet Lockheed Martin, yang telah menguras biaya hingga US $ 400 miliar.


“Program F-35 dan biayanya tidak terkendali. Miliaran dolar dapat dan akan disimpan untuk pembelian militer (dan lainnya) setelah 20 Januari,” tulis Trump di akun Twitter-nya, pada hari dia akan dilantik sebagai presiden.
Korps Marinir Amerika Serikat telah mulai maju menyebarkan skuadron operasional pertama F-35B Joint Strike Fighters buatan Lockheed Martin ke Jepang. Unit Skuadron Serangan ke-3 121 (VMFA-121) meninggalkan pangkalannya di Yuma, Arizona, untuk rumah barunya di Marine Corps Air Station di Iwakuni, Jepang, 9 Januari 2017. (Foto: nationalinterest.org)
Pada 2014, pembeli senjata utama Pentagon, Frank Kendall, dikutip oleh CBS News mengatakan bahwa, program F-35 telah mencapai “US $163 miliar melebihi anggaran tujuh tahun di belakang jadwal”. Menurut laporan New York Times, Pentagon telah bertengkar dengan Lockheed mengenai harga pesawat terbaru.

Baru-baru ini, para pejabat Pentagon mengatakan mereka membutuhkan tambahan US $500 juta untuk menyelesaikan pengembangan jet. Pengiriman F-35 untuk militer AS dijadwalkan selesai pada 2037, dengan umur layanan diproyeksikan hingga 2070.

Ada tiga jenis pesawat F-35, yang termurah adalah F-35A, yang biaya unit kontraknya baru-baru ini adalah US $98 juta per unit tanpa mesin, dan akan diturunkan menjadi US $ 85 juta ketika dalam produksi penuh, menurut pejabat situs web dari F-35 Lightning II.

Jet tempur F-35 melakukan penerbangan perdana pada 15 Desember 2006. Satu dekade kemudian pada 2 Agustus 2016, Angkatan Udara AS mengumumkan skuadron pertama F-35A yang siap tempur. Pesawat tempur generasi kelima ini dirancang untuk melakukan serangan darat dan misi pertahanan udara.


Menurut Mark Shackelford, Deputi Akuisisi Angkatan Udara AS, F-35 adalah pesawat tempur multi-peran, dengan kursi tunggal dan mesin tunggal. Jet tempur ini memiliki kemampuan siluman atau tak terjamah radar dan mampu terbang di semua kondisi cuaca.

F-35 Lightning dirancang untuk menjadi "pembunuh rudal permukaan-ke-udara," dilengkapi integrasi radar aperture sintetis canggih dan mampu mengenal beberapa terget dalam satu kali serangan lanjutan.

Dalam hal kemampuan serang dan bertahan, F-35 dirancang memiliki kemampuan tempur udara-ke-udara baik jarak dekat maupun jarak jauh. Kemampuan ini ditujukan untuk menutupi kelemahan jet tempur siluman F-22 Raptor. 


Menurut Lockheed Martin, F-35 merupakan jet tempur taktis yang memiliki fleksibilitas, kecepatan, sensor canggih dan mampu memberikan informasi kepada pilot mengenai kondisi medan tempur secara langsung.

Tidak seperti jet tempur AS generasi sebelumnya, F-35 dirancang '100 persen siluman'. F-35 dilapisi bahan penyerap radar yang lebih tahan lama dan membutuhkan perawatan yang lebih sedikit dibandingkan F-22 Raptor.

Jet tempur siluman F-35 Lightning, merupakan alutsista dengan biaya produksi termahal dalam sejarah Amerika Serikat. (Foto: f35.com)
Kemampuan Advanced electronic warfare (EW) memungkinkan pilot F-35 untuk mencari dan melacak pasukan musuh, melumpuhkan radar dan mengganggu serangan musuh dengan efektivitas tak tertandingi. 

Avionik tingkat lanjut memberi pilot akses waktu nyata ke informasi ruang pertempuran dengan cakupan 360 derajat dan kemampuan yang tak tertandingi untuk mendominasi lingkungan taktis.

Data yang dikumpulkan oleh sensor F-35 akan segera dibagikan dengan pasukan di Darat, Laut dan Udara, memberikan pandangan lengkap mengenai operasi yang sedang berlangsung secara 'real time'. Kemampuan ini membuat F-35 menjadi pengganda kekuatan yang tangguh bagi operasi pasukan koalisi.

Kemampuan siluman F-35 memungkinkannya untuk memasuki area ruang udara dengan aman tanpa terlacak oleh radar jet tempur Generasi ke-4. 


Kemampuan siluman tersebut juga ditopang oleh radar AESA dan dilengkapi komponen lengkap penyimpanan senjata rudal dan bahan bakar internal. Kecanggihan yang dimiliki F-35 ini, membuatnya hampir tidak terdeteksi dan tak terlacak.

Tapi menurut Defense Aviation, seperti jet tempur siluman lainnya, F-35 masih rentan deteksi oleh radar frekuensi rendah, seperti yang digunakan oleh kontrol lalu lintas udara di bandara-bandara penerbangan sipil. Hal ini disebabkan radar frekuensi rendah tidak memberikan koordinat yang cukup rinci untuk memandu rudal ke target.

Meskipun banyak kendala disana-sini dan membengkaknya biaya produksi jet tempur canggih ini, program F-35 menjadi alat diplomatisi untuk meningkatkan jaringan keamanan AS dengan negara-negara yang menjadi sekutunya.

Sejumlah negara yang menjadi sekutu setia Amerika menyatakan akan memborong jet tempur super mahal ini jika kemampuan tempurnya sesuai dengan yang tercatat di atas kertas.

Di Eropa, sekutu setia NATO akan membeli ratusan F-35 dari semua varian. Di Asia, Jepang, Singapura dan sejumlah negara-negara Timur Tengah telah memasukkan F-35 dalam keranjang belanja alutsista mereka.


Israel, misalnya, telah memesan 33 pejuang siluman dengan biaya lebih dari US $ 5,5 miliar, dan kabinet Israel memutuskan baru-baru ini untuk meningkatkan jumlah pesawat menjadi 50. Di Kawasan Pasifik, Australia dan Selandia Baru bahkan sudah melakukan test dan uji terbang terhadap jet tempur F-35 Lightning.

Wakil Presiden Eksekutif Lockheed Martin, Orlando Carvalho pada Juni 2014 menyatakan, tingginya minat negara-negara yang akan membeli F-35, dia optimis jet tempur tersebut akan mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat bagi AS dan mitra internasionalnya,

Sedangkan jet tempur siluman J-20 buatan China pertama kali diluncurkan pada 2011. Pesawat ini melakukan penerbangan publik pertamanya di sebuah pertunjukan udara di kota selatan Zhuhai pada November tahun ini. China mengklaim J-20 adalah pesawat tempur paling canggih yang pernah dikembangkan oleh militer China.

J-20 pesawat tempur siluman pertama buatan China terekam saat di luar pabrik Perusahaan Pesawat Chengdu pada Desember lalu. (Foto: ainonline.com)
Namun, sejumlah pengamat internasional menganggap China terlalu membesar-besarkan kemampuan tempur J-20. Pasalnya teknologi jet tempur J-20 didapatkan China dengan mencuri teknologi jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat.

Dalam sejumlah serangan cyber, China berhasil membobol pusat-pusat riset pengembangan senjata AS, dan salah satunya berhasil mencuri data riset pengembangan jet tempur F-35 yang masih dalam proses rancangan pertama. 


Tidak heran, secara postur dan fisik, J-20 memiliki kemiripan dengan jet tempur F-35. Hidung dan kanopi J-20 menggunakan desain bentuk siluman yang mirip dengan F-22, diduga selain mencuri data pengembangan F-35, China juga mencuri data riset jet tempur F-22 Raptor dari Amerika. 


Setelah terjadinya pencurian teknologi tersebut, AS melakukan sejumlah pengembangan F-35 dalam beberapa tahap yang berbeda dengan riset pertamanya. 

Amerika mengklaim, sekalipun China berhasil mencuri sejumlah data F-35, namun jet tempur siluman F-35 Lightning yang dikembangkan saat ini sangat berbeda dan jauh melampaui kemampuan riset awalnya.

China pun kesulitan dalam mengembangkan J-20, setelah terputusnya akses untuk mendapatkan teknologi curian F-35. Bahkan, China sempat dituduh mencomot teknologi jet tempur Sukhoi SU-30 dan SU-35 buatan Rusia di sejumlah bagian.

Jet tempur J-20 buatan China, adalah pesawat tempur dengan satu tempat duduk dengan dua mesin. J-20 juga memiliki kemampuan senjata dan bahan bakar internal. 

J-20 memiliki tiga bagian senjata internal. Dua bagian untuk rudal jarak pendek dan rudal jarak jauh udara-ke-udara dan satu bagian lainnya untuk senjata artileri udara-ke-darat.

Justin Bronk, peneliti di Royal United Services Institute mengatakan, dibandingkan dengan jet tempur generasi kelima AS, J-20 memiliki jangkauan yang lebih panjang, kapasitas bahan bakar internal yang lebih banyak dan kemampuan senjata internal yang lebih besar.

Banyak spesifikasi senjata baru yang masih belum diketahui karena militer China enggan memberikan rincian J-20, mungkin karena beberapa komponen utamanya mungkin tidak selesai atau seluruhnya berasal dari China.

Zhou Chenming pengamat militer dan peneliti di Knowfar Institute for Strategic and Defence Studies, sebuah lembaga think tank non-pemerintah China di Jiangyin, provinsi Jiangsu mengklaim, walau tidak mampu secanggih F-35 Lightning, J-20 sudah menyamai jet tempur siluman F-22 Raptor buatan AS.

Selain itu China optimis J-20 akan diminati pasar internasional karena selain dianggap canggih, jet tempur ini sangat murah dibandingkan jet tempur siluman buatan AS.

Pelatihan tempur over-the-sea dari stealth fighter baru buatan China akan membantu menghilangkan keraguan analis pertahanan Barat tentang kesiapan tempur J-20. Juru bicara Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Shen Jinke mengkonfirmasi bahwa Chengdu J-20 telah menyelesaikan tahap baru. (Foto: AP / Color China)

Terlibat Aksi Spionase, Perusahaan Ponsel China Dilarang Masuk Amerika

Dua vendor mobile raksasa asal China, yakni Huawei dan ZTE, dilarang masuk Amerika Serikat, karena dicurigai menjadi agen spionase pemerintah China. Larangan juga datang dari sejumlah negara lainnya, yang menganggap, dua vendor itu telah menjadikan teknologi mereka sebagai sarana memata-matai musuh China. (Foto: istimewa)

LAPAN: 25 Tahun Lagi Indonesia Akan Kuasai Teknologi Antariksa

Dalam 25 tahun ke depan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bertekad menjadikan Indonesia mampu menguasai teknologi antariksa sama seperti negara-negara maju lainnya. (Foto: dlr.de)
"Anggaran pengembangan satelit ini kasarnya Rp 4,5 triliun. Satu satelit seharga 1,5 triliun, sisa anggaran akan digunakan untuk fasilitas pengembangan, uji coba, integrasi, dan lainnya,"
JAKARTA -- Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia, dibandingkan negara Asia lainnya seperti India, China dan Jepang, masih jauh tertinggal dalam bidang teknologi antariksa. 

Bahkan hingga kini, Indonesia masih menyewa dan memanfaatkan stasiun peluncuran satelit asing seperti Amerika Serikat, Rusia dan Perancis.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tengah mencanangkan rencana yang sekiranya akan dicapai dalam kurun waktu 25 tahun ke depan. Dalam kurun waktu tersebut LAPAN berambisi mampu menguasai teknologi antariksa dan sudah memiliki stasiun peluncuran satelit sendiri, sama seperti negara-negara maju lainnya.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin menguraikan beberapa hal yang akan dicapai demi kemajuan keantariksaan Indonesia. Agenda besar Lapan adalah mengembangkan satelit penginderaan jarak jauh yang diharapkan bisa memantau kondisi Indonesia dan memetakan keadaan maritim.

Satelit penginderaan jarak jauh ini juga disebut sebagai satelit besar nasional, rencananya akan dikembangkan sebanyak dua unit. Selain satelit penginderaan jarak jauh, Lapan memiliki keinginan untuk luncurkan satelit telekomunikasi.


 "Anggaran pengembangan satelit ini kasarnya Rp 4,5 triliun. Satu satelit seharga 1,5 triliun, sisa anggaran akan digunakan untuk fasilitas pengembangan, uji coba, integrasi, dan lainnya," ujar Thomas, Rabu (10/12).

Lapan juga berencana akan membangun observatorium nasional yang mengambil lokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT dianggap menjadi lokasi yang memiliki kecerahan terbaik di Tanah Air. Observatorium nasional akan dimanfaatkan sebagai sarana penelitian lingkungan antariksa seperti dinamika atmosfer Bumi.

Beberapa lokasi penelitian dan stasiun antariksa yang telah dimiliki LAPAN saat ini. (Gambar: ILOAHawaii)

Inilah Daftar Alutsista Canggih Buatan Indonesia yang Diakui Dunia

Indonesia semakin meningkatkan kemampuannya dalam bidang penguasaan teknologi militer. Kini Indonesia sudah bisa menciptakan dan memproduksi sejumlah alutsista seperti Panser, roket, kapal perang, helikopter, pesawat dan lain-lain.
JAKARTA -- Perlahan tapi pasti, kemampuan Indonesia untuk bisa membuat dan memproduksi alat utama sistem senjata (Alutsista), semakin meningkat dari masa ke masa. Kini Indonesia sudah mampu memproduksi peralatan tempur untuk semua matra, mulai dari pesawat, kapal perang, panser, heli serbu dan lain-lain.

Bukan hanya digunakan oleh tentara Indonesia. Alustsista ini juga sudah diekspor ke berbagai dunia. Negara-negara besar seperti Rusia sampai Korea Selatan sudah mengakui kecanggihan alutsista buatan Indonesia. 

Sejumlah negara yang sudah membeli alutsista buatan Indonesia adalah Malaysia, Brunai Darussalam, Senegal, Timor Leste, Nigeria, Irak, Filipina, Oman dan lain-lain.

Berikut alutsista buatan Indonesia yang mendapat pengakuan dunia internasional:

1. Panser APC Anoa 6×6

Kendaraan taktis ini sudah dipakai banyak negara dan juga telah mendapatkan lisensi dari PBB. Panser bermesin Renault ini sudah teruji di negara-negara gurun seperti Libanon saat digunakan oleh pasukan perdamaian PBB. Kualitasnya sesuai dengan standar NATO pada level III atau level yang tingkat ketahananannya terhadap serangan sudah lebih baik dari level II yang diproduksi di China dan India.

Pada tahun 2008, TNI memesan 154 buah Panser Anoa berbagai tipe. Untuk tahun 2011 TNI memesan 11 Panser Anoa tipe APC dan tahun 2012 TNI memesan 61 unit. PT Pindad juga mengeluarkan Panser Anoa jenis baru. 

Anoa spesies baru ini mengusung Kanon kaliber 20 mm dan berjenis berjenis IFV (Infantry Fighting Vehicle). Panser ini didesain untuk mengantisipasi kebutuhan Batalyon Infantri Mekanis.

2. Tank Medium

PT Pindad telah merancang prototipe Medium Tank bersama FNSS asal Turki. Tank ini mampu menembus kecepatan hingga 70 kilometer per jam dengan daya jelajah hingga 600 km. Medium tank ini akan dilengkapi dengan meriam dengan kaliber 105 mm yang diadopsi dari Cockerill Maintenance & Ingenierie SA Defense dari Belgia.

Kaplan MT saat ini baru akan diproduksi untuk kebutuhan dalam negeri. Rencananya, Kaplan MT baru akan diproduksi sebanyak 100 unit untuk Tentara Nasional Indonesia. Namun sejumlah negara dari regional Asia Tenggara mulai berminat dengan kendaraan tempur ini.
KAPLAN MT, tank tempur buatan Indonesia-Turki diresmikan dalam sebuah pameran di Istanbul. (Foto/Anadolu)
Tingginya minat dari pasar mancanegara disebabkan karena spesifikasi Kaplan MT yang mutakhir. Kaplan MT memiliki berat 30-40 ton dengan ukuran 7 meter x 3,2 meter x 2,7 meter. Menggunakan mesin diesel dengan sistem transmisi otomatis (fully-automatic) yang mampu mengangkut 3 personel, terdiri dari juru kemudi, juru tembak, hingga pemberi komando.

Dengan kecepatan 70 kilometer per jam, Kaplan MT memiliki jarak tempuh maksimal sekali jalan 450 km. Selain itu, medium tank ini juga dilengkapi dengan meriam berkaliber 105 mm. Dan juga dilengkapi Remote Control Weapon System (RCWS).

3. Pesawat CN 235

Pesawat CN 235 jenis Maritime Patrol Aircraft (MPA) produksi PT Dirgantara Indonesia menjadi salah satu Alutsista yang diminati negara lain. Pada 2011-2012 lalu, PT DI memenuhi permintaan Korea Selatan yang memesan empat pesawat itu melalui kontrak yang ditandatangani pada 2008 dengan nilai total USD 94,5 juta.

Pesawat yang merupakan modifikasi dari CN-235 itu, cocok untuk melakukan patroli perairan di samping bisa difungsikan untuk angkutan personel. PT DI juga mengekspor pesawat CN 235 jenis pesawat angkut militer VIP, ke Senegal, Afrika.

4. UAV Smart Eagle II

Smart Eagle II adalah pesawat tanpa awak buatan Indonesia yang diproduksi oleh PT. Aviator Teknologi Indonesia guna kepentingan Intelijen Indonesia. Pesawat canggih dengan mesin 2 tak berdiameter 150cc yang mampu terbang selama 6 jam ini pertama kali diuji coba di pantai selatan Jawa Barat. 

UAV ini dilengkapi color TV Camera dan mampu beroperasi pada malam hari menggunakan Therman Imaging alias TIS Camera untuk penginderaannya.

5. Kapal Perang

Saat ini sudah mampu memproduksi beberapa jenis kapal perang. Pertama kapal perang Strategic Sealift Vessel (SSV) merupakan jenis kapal pengembangan dari tipe Loading Platform Dock. Kapal ini memiliki fungsi sebagai kapal pengangkut personil dan alat tempur, mulai dari truck, tank hingga helikoper.
KRI Diponegoro kelas SIGMA asli buatan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Selain sudah digunakan TNI AL, kapal perang buatan PT PAL ini juga sudah dibeli oleh militer Filipina dan menjadi armada kapal perang terbesar yang pernah dimiliki negara itu.

Selain mampu mengangkut banyak personil, SSV juga sudah menerapkan teknologi canggih. Kapal tersebut berukuran panjang 123 meter dan lebar 21,8 meter serta memiliki kecepatan 16 knot dengan ketahanan berlayar selama 30 hari di laut lepas. Kapal jenis ini dibanderol senilai US$ 90 juta atau setara dengan Rp 1 triliun, tergantung dari spesifikasi teknis.

Kedua adalah Perusak Kawal Rudal (PKR), Kapal PKR merupakan kapal perang canggih jenis Frigate Class yang memiliki panjang 105,11 meter; lebar 14,2 meter; kecepatan 28 knot. Kapal ini dapat berlayar sampai 5.000 nm pada 14 knot dan ketahanan berlayar 20 hari.

Kapal perusak ini memiliki empat kemampuan tempur yakni, kemampuan perang antar permukaan. Dengan tembakan torpedo dan rudal, PKR 1 dapat menenggelamkan kapal perang musuh. Perang di udara, dengan senjata yang dimiliki dapat menghancurkan jet tempur atau pesawat musuh.

Kapal ini bisa difungsikan untuk perang bawah laut. Dan yang terakhir kemampuan perang elektronika. Dengan peralatan elektronika, kapal ini bisa membajak atau melakukan jammer terhadap sistem persenjataan dan kendali dari kapal perang musuh.

Indonesia juga telah mampu membuat kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal) Klas 60 Meter, yang sangat ideal beroperasi di kawasan laut perairan dangkal. PT PAL juga telah berhasil membuat kapal perang jenis patroli cepat (Fast Patrol Boat). Pada 2011 lalu, Timor Leste memesan dua kapal patroli cepat senilai USD 40 juta.

6. Senapan Serbu SS-2

PT Pindad telah mampu memproduksi berbagai jenis senjata antara lain; jenis senapan serbu (SSI-VI, SS2-V2, SS1-V3, SS1-V5), Senapan sniper (SPR-1) pistol (P-1, P-2), revolver (R1-V1, R1-V2, RG-1 (tiper A), RG-1 (tipe c), senapan sabhara/polisi (Sabhara V1 and Sabhara V2), senjata penjaga hutan, pistol profesional magnum, peluncur granat, dan pelindung tubuh (personal body protection).
Senapan serbu SS-2 Buatan PT Pindad. (Foto: Istimewa)
SS-2 merupakan generasi kedua dari senapan serbu Pindad sebelumnya, SS-1. SS-2 diklaim memiliki desain yang lebih ergonomis, tahan terhadap kelembapan tinggi, lebih ringan, serta akurasi yang lebih baik.

Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 3,8 kg, sebagai catatan SS1 varian awal memiliki berat kosong 4,01 kg. 

SPR-3, sebuah senapan tipe sniper bahkan memiliki kemampuan menembus plat baja tank tempur. Senapan serbu SS-2 merupakan produk langganan negara-negara Afrika seperti Zimbabwe, Mozambik, Nigeria, Thailand dan Singapura.

7. Kepala roket (Smoke Warhead)

Smoke Warhead adalah produk militer asli buatan Indonesia yang diproduksi oleh PT Sari Bahari dari Ngalam, Malang, Jawa Timur. Kualitas Smoke Warhead buatan Indonesia bahkan diakui mampu mengalahkan produk serupa buatan pabrikan sejumlah negara maju, di antaranya; Amerika Serikat dan Rusia.

Smoke Warhead adalah kepala roket berdiameter 70 mm yang dipasangkan dengan roket pasangan pada pesawat Super Tucano. Smoke Warhead ini memberikan informasi kepada pilot mengenai posisi jatuh roket dengan mengeluarkan asap selama dua menit. Smoke Warhead buatan Indonesia juga telah diekspor ke berbagai negara, salah satunya adalah ke Chile yang membeli 260 unit kepala roket.

8. Kapal Selam

Indonesia kini juga sudah mampu memproduksi kapal selam, yang merupakan hasil transfer teknologi (TOT) dari Korea Selatan. Indonesia membeli tiga unit kapal selam Changbogo class buatan Korsel, dua kapal selam diproduksi di Korsel dan satu kapal selam diproduksi di galangan kapal PT PAL setelah dilakukannya TOT.
Kapal selam KRI Ardedali 404 buatan Indonesia, yang merupakan hasil alih teknologi dari Korea Selatan. (Foto: Istimewa)
salah satu produk alutsista hasil dari alih teknologi PT PAL dengan perusahaan dari Korea adalah kapal selam KRI Nagapasa 403. Selain itu ada juga kapal selam Ardedali yang merupakan asli buatan Indonesia. Rencananya Indonesia akan memproduksi 12 kapal selam lagi dalam beberapa tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan TNI AL.

9. Peluru

PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) juga telah mampu memproduksi berbagai jenis peluru, antara lain peluru berkaliber 5,56 mm, 7,62 mm dan 9 mm. Peluru buatan Pindad telah melalui uji kelayakan badan internasional dan telah lulus pengujian standar NATO. Juga telah mendapatkan sertifikat ISO 9001 dari SGS Yearsly-International Certification Services Ltd, Inggris pada tahun 1994.

Selain memasok kebutuhan peluru TNI-Polri. Peluru buatan Pindad juga diekspor keluar negeri. Peluru-peluru tersebut dikirim ke Singapura, Filipinan, Bangladesh, hingga ke Amerika Serikat (AS). Singapura pernah memesan 10 juta peluru dari Indonesia dan pada 2009 lalu, satu juta peluru telah diekspor ke AS dengan nilai transaksinya mencapai USD 200.000.

10. Tank boat

PT Pindad bekerjasama dengan PT Lundin Industry Invest berhasil membuat alutsista jenis baru yang dinamai Tank Boat Antasena. Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal TNI (purn) Ryamizard Ryacudu mengungkapan jika Antasena sudah dipesan negara lain. Salah satu pemesannya adalah Rusia. Kapal tank boat canggih ini juga menjadi salah satu senjata andalan TNI AL dan Marinir dalam pertempuran.

11. Helikopter Serbu

PT DI hingga kini sudah mampu membuat berbagai jenis helikopter, dengan berbagai macam fungsi. Helikopter tersebut diantaranya adalah helikopter EC725 Super Cougar, H215 Super Puma, EC725 alias H225M, BELL 412EP, AS565 MBe, dan lain-lain.

Helikopter EC725 Super Cougar alias H225M merupakan helikopter multiguna bermesin ganda untuk keperluan militer yang diproduksi secara berbarengan oleh Airbus dan PTDI. EC725 biasa digunakan sebagai helikopter angkut dan pernah diterjunkan di Afghanistan, Mali dan Libya. Belum lama ini TNI memesan lima unit EC725 dari PTDI.
Helikopter Super Puma buatan PT DI. (Foto: indonesian-aerospace.com)

Indonesia Buat Tank Boat, Ide Jenius atau Kebodohan Murni?

Indonesia bekerjasama dengan PT Lundin membuat tank tempur yang dapat beroperasi di perairan. Namun, alutsista yang dinamai Tank Boat X-18 Fire Support Vessel ini, menurut sejumlah pengamat persenjataan luar negeri memiliki sejumlah kelemahan dan cacat rupa. (Foto: Istimewa)
JalurMiliter.com -- Dalam kasus ini, bisa menjadi sebuah ide bagus atau menjadi ide paling terbodoh untuk Indonesia. Perusahaan galangan kapal Indonesia PT Ludin telah membuat kapal perang tank hibrida yang mampu berlayar dan beroperasi di perairan.

Kapal perang yang dinamai "Tank Boat" tersebut, Mampu berlayar dengan kecepatan hingga 30 knot dan dipersenjatai dengan meriam dan senjata 105-milimeter. Alutsista ini secara resmi dinamakan X-18 Fire Support Vessel.

Tidak mengherankan jika Indonesia sangat terobsesi dengan Tank Boat, karena negara ini terdiri dari lebih dari 18.307 pulau, dan kapal perang serta marinir sangat berpengaruh dalam pertahanannya. Sebuah kapal perang yang dapat beroperasi di perairan dangkal seperti sungai-sungai, dapat dioperasikan oleh pasukan darat dan menyediakan dukungan senjata berat akan menjadi tambahan yang ideal bagi militer Indonesia.

Tank Boat memiliki panjang 18 meter, dioperasikan oleh empat orang awak dan dapat mengangkut hingga 20 pasukan tambahan. Selain itu juga dilengkapi dengan sebuah perahu karet untuk operasi pendaratan. Persenjataan terdiri dari senapan Cockerill 105-milimeter dan senapan kaliber 50 dan dilengkapi dengan remote control.

Tank Boat X-18 Fire Support Vessel memiliki senjata besar, dapat membawa 20 pasukan. Namun ironisnya hampir tidak memiliki pelapisan armor. (Foto: Istimewa)
Mesin jet di dalam air mampu mendorong Tank Boat hingga kecepatan 30 knot dan memiliki jangkauan hingga 900 mil laut, atau setara dengan jarak dari kota Washington DC hingga ke Miami di Amerika Serikat.

Tank Boat bisa beroperasi di gugus pulau-pulau terkecil, delta sungai, lepas pantai, garis pantai dangkal, dan daerah perkotaan yang berdekatan dengan laut. Dengan daya benam hanya 0,8 meter, Tank Boat mampu mencapai garis pantai terdangkal tanpa khawatir akan mengalami kandas.

Satu masalah dengan Tank Boat adalah: kebutuhan untuk membuatnya mengambang dengan maksimal diperairan dangkal, Tank Boat hanya diperkuat dengan lapis baja ringan 7,62 milimeter. Dengan ketebalan ini, Tank Boat terlihat lebih mirip perahu daripada sebuah kapal perang atau tank tempur karena hampir tidak memiliki pelapisan armor.

Pada saat yang sama, Tank Boat juga dipaksa untuk memikul sejumlah persenjataan berat seperti meriam howitzer 105-milimeter dan sejumlah persenjataan lainnya. Dengan kondisi ini, Tank Boat akan sangat mudah dihancurkan oleh musuh, karena tidak memiliki kemampuan pertahanan yang kuat, dan bahkan mudah tenggelam. Potensi masalah inilah yang menjadi perhatian sejumlah pengamat militer.

Tank Boat X-18 Fire Support Vessel dikhususkan mampu beroperasi di perairan dangkal seperti sungai, delta sungai dan tepi pantai. (Foto: Istimewa)