Jalur Militer: SEJARAH

Walau Sempat Jadi Musuh, Malaysia Kagumi Kehebatan Kopassus

Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit Indonesia yang sudah kenyang dengan pengalaman tempur. Kopassus bahkan pernah adu tanding nyawa di belantara Kalimantan menghadapi pasukan elit Inggris dan Amerika Serikat dalam operasi Dwikora. Dalam operasi yang terkenal dengan istilah 'Ganyang Malaysia' tersebut, Kopassus bahkan juga menghadapi pasukan Gurkha yang dimitoskan sebagai pasukan elit tersadis di dunia. (Foto: Istimewa)
"Kesempatan langka kebersamaan itulah yang mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dekat dengan RPKAD,"
Jalurmiliter -- Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit kebanggaan Indonesia, memiliki banyak, kisah dan catatan sejarah yang panjang dan heroik sejak dibentuknya pasukan elit TNI Angkatan Darat ini.
Kopassus telah menjalani pelbagai pertempuran, mulai dari menghadapi gerilyawan DI/TII sampai operasi pembebasan sandera. Operasi militer Dwikora ke pedalaman Kalimantan menjadi salah satu misi berat yang dijalankan Kopassus. 

Dalam operasi 'Ganyang Malaysia' untuk menghadapi negara boneka Inggris itu, berkali-kali prajurit komando terlibat bentrok dengan pasukan elite Inggris, Special Air Service atau disingkat SAS. Meski terlibat pertempuran, namun tak pernah ada pernyataan perang antara Indonesia dan Malaysia. 

Personel yang tertangkap, atau terbunuh tak diakui keberadaannya. Seragam dan pangkat militer wajib dilepas, seragam diganti dengan seragam hijau Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Dengan demikian, jejak keterlibatan Indonesia terhapus. 

Operasi-operasi yang dilakukan Kopassus bersama Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) berkali-kali merepotkan Malaysia, hingga akhirnya meminta bantuan Inggris. Permintaan itu disetujui, negeri Ratu Elizabeth itu langsung menerjunkan satu batalyon SAS.

SAS merupakan pasukan elite terbaik dunia. Prestasinya sungguh tersohor. Selain SAS, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.
Presiden Soekarno saat memeriksa dan melepas pasukan TNI, dalam operasi Dwikora. (Foto: Istimewa)

Inilah Fakta Sejarah Pengkhianatan Etnis China di Indonesia

Anggota Pau An Tui dilatih menembak oleh anggota KNIL, Oktober 1947.(Foto: gahetna.nl)
"Melihat fakta-fakta ini, saya bertanya-tanya mengapa Pao An Tui itu kemudian dijadikan pahlawan dan harus diagung-agungkan. Ingat Jenderal-jenderal Spoor dulu saja tak mau merangkulnya. Bahkan, Syahrir pun yang sempat mau merangkul mereka, tiba-tiba membatalan keputusannya,"
JAKARTA -- Peresmian Monumen Laskar China oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo membuat masyarakat Indonesia yang memahami sejarah kembali terusik dengan beberapa fakta sejarah yang ada. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak mengetahui jadi bertanya-tanya apa itu laskar China?

Banyak pengamat, golongan masyarakat dan sejarahwan yang menolak pendirian monumen laskar China karena ada unsur pemutarbalikkan sejarah dalam memahami kontribusi etnis China bagi kemerdekaan Indonesia.

Salah satu yang paling terkenal dan membekas dalam pergolakan kaum China di Indonesia adalah pengkhianatan laskar Po An Tui kepada Republik Indonesia yang saat itu benar-benar berada di titik nadir eksistensi memperjuangkan kemerdekaan.

"Pao An Tui adalah sisi kelam masyarakat Cina di era awal kemerdekaan Indonesia," kata Teguh, Wartawan Republika. Teguh mengatakan tidak tahu persis mengapa ada pejabat tinggi negara bersedia meresmikan monumen Laskar China di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Sebab, ada milisi bersenjata, yakni Pao An Tui, yang bercitra buruk di mata rakyat Indonesia.

Laskar Po An Tui, adalah satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda. Tugas laskar Po An Tui selain menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Kehadiran serta sepak terjangnya yang terkenal kejam menjadi salah satu penyebab pejuang membenci etnis Cina dan etnis Cina pun antipati terhadap para pejuang.

Sebagai mata-mata, anggota laskar Po An Tui selalu mengamati kegiatan para pejuang. Akibatnya gerak-gerik dan markas pejuang dapat diketahui. Setelah markas para pejuang diketahui, Belanda melakukan serangan gabungan dengan Inggris terhadap markas para pejuang.

Peresmian Monumen Laskar Cina oleh Mendagri Tjahjo Kumolo di TMII. Peresmian Monumen Laskar Cina di Taman Mini Indonesia Indah seperti membuka luka lama bagi banyak kalangan. Hingga kini banyak golongan masyarakat dan pelaku sejarah yang meminta monumen Cina tersebut untuk dihancurkan. (Foto: istimewa)
Poh An Tui juga bertugas mengambil upeti dari petani-petani pribumi, memeras rakyat pribumi untuk diambil kekayaan dan disetorkan ke Belanda, bahkan mereka akan membunuh kalau ada pribumi yang menantang. Aksi Po An Tui bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara Belanda.

Poh An Tui juga memusuhi sesama warga etnis Cina muslim. Jika ada China warga masuk Islam mereka aniaya, jika ada China anti-Belanda maka akan dimusuhi. Poh An Tui menganggap China muslim adalah pengkhianat dari golongan mereka yang harus diperangi seperti kaum pribumi lainnya.

Dalam sejarahnya, Poh An Tui juga selalu berkhianat. Saat Belanda pergi dari Indonesia Poh An Tui ikut Jepang, begitu Jepang hengkang dari Indonesia mereka ikut Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat pemberontakan PKI mereka ikut PKI, mereka ikut membunuh para ulama, mereka bunuh Kyai, dan mereka bunuh masyarakat pribumi.

Pao An Tui tidak punya jasa sama sekali dalam perjuangan Indonesia. Organisasi ini adalah simbol oportunistik Tionghoa Indonesia, yang hanya sibuk menjaga properti ketimbang membantu Indonesia memerdekakan diri. Mereka tidak peduli siapa yang akan berkuasa; Belanda atau Indonesia, yang penting properti usaha selamat.

"Melihat fakta-fakta ini, saya bertanya-tanya mengapa Pao An Tui itu kemudian dijadikan pahlawan dan harus diagung-agungkan. Ingat Jenderal-jenderal Spoor dulu saja tak mau merangkulnya. Bahkan, Syahrir pun yang sempat mau merangkul mereka, tiba-tiba membatalkan keputusannya," kata Teguh.

Pau An Tui Berdiri di Berbagai Kota

Laskar Po An Tui atau Pau An Tui (PAT), adalah sebuah milisi yang dibentuk secara 'nasional' sekitar pertengahan 1947 oleh kolonial Belanda. Pasukan ini dulu dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL) di Cimahi, Jawa Barat.

PAT Jakarta dan seksi-seksinya di Bandung, Karawang, Sukabumi, Djatibarang, Cirebon, dikomandoi oleh Chung Hua Tsung Hui, organisasi Tionghoa pro nasionalis Kuomintang pimpinan Ciang Kai Sek. Pembentukannya dibantu Konsul Jenderal Cina di Jakarta.

Latihan perang laskar China, Pao An Tui yang anti Republik Indonesia. (Foto: gahetna.nl)
Organisasi yang dibentuk oleh Chung Hua Hui merupakan wadah berkumpulnya para tuan tanah kaya yang menjadi anak emas Belanda selama sekian ratus tahun, yang pro NICA. Informasi menyebutkan Pao An Tui Tangerang berniat mendirikan negara Capitanate of Tangerang. Laskar Po An Tui tidak hanya terdapat di Jakarta, tapi juga di Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya.

Di tahun 1945, begitu Bung Karno dan Bung Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, Poh An Tui di Sumatera Utara memberontak. China-china di kota Medan angkat senjata tidak mau bergabung dengan NKRI. 


Di wilayah Balaraja Tangerang, Poh An Tui juga memberontak tidak mau bergabung dengan NKRI, akhirnya umat Islam marah terjadi perang di Balaraja, laskar China dibunuh oleh masyarakat.

Di Bandung, laskar Po An Tui aktif membantu NICA (Nederland Indische Civil Administration) menebar teror terhadap para pejuang, seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan penjarahan. Teror itu bertujuan agar pribumi segera pindah ke Bandung Selatan dan tidak mendukung RI.

Pao An Tui di Kota Surabaya juga terlibat membantu NICA dalam perang 10 November (lihat penelitian Andjarwati Noorhidajah yang terangkum dalam buku Tionghoa di Surabaya, serta memoir Soemarsono, komandan Pemuda Rakyat).

Pengkhianatan yang dilakukan warga etnis China tersebut membuat bung Tomo marah dan mengobarkan semangat anti-Tionghoa. Akibatnya, terjadi pembantaian masyarakat Tionghoa di Medan, Tangerang, Bagan Siapi-api, dan kota-kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Keterlibatan Pao An Tui Surabaya membantu NICA inilah yang diingkari banyak sejarawan masyarakat Tionghoa Indonesia. Pengingkaran itu terjadi sejak awal. Buktinya, ketika masyarakat Tionghoa Medan berupaya melindungi diri, mereka membentuk Pao An Tui dan meminta Jenderal TED Kelly, komandan pasukan Inggris, mempersenjatai mereka.

Membantu Pelarian Westerling dan Pasokan Senjata dari Jenderal Spoor

Poh An Tui juga bersekutu dengan Westerling, yang telah membantai puluhan ribu warga pribumi di Sulawesi. Setelah melakukan pembantaian di Makassar, Westeling melarikan diri ke Jakarta dan Jawa Barat dan ia dikejar oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di Jawa, Westerling menebar teror di Bandung dan berniat membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Anggota Pau An Tui dilatih menembak oleh anggota KNIL, Oktober 1947.(Foto: gahetna.nl)

Inilah Tujuh Suku Bangsa Paling Ganas dan 'Maniak' Perang di Dunia

Sejarah peradaban manusia banyak melahirkan berbagai macam bangsa yang memiliki sifat brutal dan ganas. Bangsa-bangsa tersebut kerap kali akan menjajah bangsa lain dengan sadis untuk memperluas wilayah mereka. (Gambar ilustrasi: Istimewa)
Jalurmiliter.com -- Sejarah Peradaban manusia tak pernah lepas dari peperangan. Serangan atau penjajahan yang dilakukan satu bangsa kepada bangsa lain seakan-akan selalu menjadi pintu lahirnya peradaban baru umat manusia. Peperangan selalu menyertai keberadaan umat manusia dari dulu hingga kini.

Sepanjang sejarah umat manusia, banyak melahirkan bangsa-bangsa yang dikenal sangat buas, brutal, ganas dan kejam. Bangsa-bangsa tersebut tidak segan-segan akan menumpahkan darah manusia lain, bahkan melakukan pemusnahan terhadap suatu bangsa yang dianggap menjadi musuhnya. Kekejaman bangsa-bangsa tersebut bahkan terpatri dalam sejarah hingga kini.

Setidaknya berikut rangkuman tujuh bangsa-bangsa yang dikenal karena keganasannya:

Bangsa Persia atau Iran

Bangsa Persia, atau pada abad moderen ini dinamai Iran, dikenal sebagai salah satu bangsa penakluk sejak dulu kala. Kekaisaran Persia yang didirikan oleh Cyrus Yang Agung bahkan memiliki tiga kerajaan besar (Medes, Lydian, dan Babilon), dan menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai Asia Barat, Asia Tengah, Kaukasus, Eropa, India hingga Laut Tengah.

Yang paling ditakuti dari Persia saat itu adalah kekuatan militernya. Persia memiliki pasukan militer dijuluki Pasukan Abadi yang dinamai Anûšiya, dan dalam bahasa Yunani disebut Athánatoi, kadang disebut "Pasukan Abadi Persia" atau "Sepuluh Ribu Tentara Abadi," pada masa Kekaisaran Persia Akhemeniyah. Pasukan Abadi bertugas sebagai Garda Imperial dan juga sebagai pasukan tempur, juga bertugas melindungi kekaisaran jika ada serangan dari luar.

Pasukan Abadi adalah sebuah kekuatan infantri berat yang dipimpin oleh Panglima Hydarnes. Jumlah tentaranya adalah 10.000 prajurit. Yang boleh masuk ke dalam Pasukan Abadi hanya orang Persia, Medes, dan Elam. Pasukan Abadi memperoleh pelatihan yang lebih baik dan lebih berat daripada infantri ringan biasa. Para prajurit dalam Pasukan Abadi sudah dilatih dengan keras sejak kecil. Siasat yang biasa digunakan oleh Pasukan Abadi yaitu barisan depan menyerang musuh sedangkan barisan belakang menembakkan panah ke arah musuh.

Sejarah Pasukan Abadi Persia sangat dikenal terutama dalam menaklukkan Bangsa Yunani dalam Pertempuran Thermopylae, yang saat itu dipimpin oleh raja Sparta Leonidas 1. Pada gelombang pertama penyerangan, pasukan Persia mengalami kekalahan yang cukup berat, karena pasukan Yunani memiliki sejumlah senjata dan peralatan perang lebih canggih dibandingkan pasukan Persia. Namun, kaisar Persia saat itu, Xerxes "Sang Penakluk" memerintahkan Pasukan Abadi untuk melakukan serangan penghabisan di seluruh penjuru pulau Yunani.
Pasukan Persia menyerang dan menaklukkan bangsa Yunani. (Gambar ilustrasi: Istimewa)
Walaupun Yunani berhasil membunuh hingga ratusan Pasukan Abadi, namun serangan Persia seakan tidak pernah berhenti hingga menjatuhkan moral pasukan Yunani, dan menimbulkan mitos-mitos di kalangan rakyat Yunani, bahwa yang mereka hadapi saat itu adalah pasukan iblis yang memiliki keabadian. Jatuhnya moral pasukan Yunani, membuat pasukan Persia begitu mudah untuk menguasai seluruh tanah Yunani.

Akibat kekalahan itu, raja Sparta, Leonidas 1 akhirnya dipenggal dan kepalanya ditancapkan ke sebatang tombak dan diletakkan di atas bukit agar dimakan burung bangkai, sedangkan tubuhnya disalib dan diletakkan di tengah kota, agar menjadi tontonan rakyat Yunani. Xerxes juga memerintahkan membunuh semua pasukan Yunani yang masih tersisa dengan cara ditarik pakai kuda hingga tubuh mereka tercerai berai, dan membawa semua istri dan anak-anak gadis mereka ke Persia.

Tapi dalam beberapa film produksi Hollywood, sejarah penaklukan Persia atas bangsa Yunani terjadi pemutarbalikkan fakta. Dalam film tersebut, dikonstruksi seakan-akan raja Leonidas 1 sangat superior hingga mampu mengalahkan pasukan Xerxes dengan mudah. Padahal, bukti sejarah yang otentik justru mencatat sebaliknya.

Kekaisaran Persia berubah total setelah terjadinya penaklukan yang dilakukan oleh umat Islam. Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada masa yang sama juga sebagai muslim, hingga kini.

Suku Maori

Suku Maori adalah suku asli dari masyarakat Polinesia yang tinggal di wilayah Selandia Baru. Namun, suku ini memiliki reputasi yang buruk pada abad 18, khususnya bagi orang-orang yang berasal dari luar lingkup suku Maori. Satu hal yang membuat nama suku Maori terkenal di kalangan pelaut asing adalah mereka dipercaya sebagai suku kanibal.

Suku Maori diklaim melakukan praktik kanibal ketika sedang dalam keadaan perang. Pasalnya, suku Maori percaya dengan memakan daging dari musuh maka mereka akan mendapatkan kekuatan dari sang musuh.
Suku Maori. (Foto: Istimewa)
Praktik kanibalisme ini sempat disaksikan oleh beberapa orang yang selamat pada Oktober 1809. Tepatnya ketika kapal yang mengangkut para tahanan dari Eropa diserang oleh suku Maori sebagai tindakan balasan atas pelecehan yang dilakukan anak buah kapal (ABK) tersebut terhadap anak kepala suku Maori.

Dikabarkan, suku Maori membantai 66 ABK di atas kapal. Tidak selesai sampai di sana saja, suku Maori membawa jenazah serta ABK yang masih hidup ke daratan.

Beberapa ABK yang selamat sempat bersembunyi, namun yang mereka saksikan hanya teror tak berujung. Mereka melihat para anggota suku Maori memakan daging rekan-rekan ABK yang selamat dari malam hingga keesokan paginya.

Bangsa Viking

Bagi penikmat sejarah ataupun dokumentasi tentang Barat, pasti mengenal bangsa yang satu ini. Ya, bangsa Viking, bangsa yang selalu digambarkan kuat dan selalu tidak takut untuk berperang melawan siapapun.

Bangsa Viking merupakan para pelaut yang berasal dari Jerman bagian timur. Mereka terkenal menyerang, melakukan jual beli, mengeksplorasi dan bermukim di banyak wilayah dari Eropa, Asia dan pulau-pulau di Atlantik Utara. Selama di Eropa, bangsa Viking memiliki reputasi buruk karena menyebarkan teror dan melakukan perampasan di setiap desa serta kota yang mereka sambangi di Eropa.
Bangsa Viking. (Foto: istimewa)
Kemampuan bertarung bangsa Viking di medan perang tidak perlu diragukan lagi. Viking terkenal menggunakan beragam senjata dari mulai pedang, tombak hingga kapak.

Oleh karena memang gemar bertempur dan menebarkan teror, banyak pihak yang memandang para bangsa Viking memiliki agama khusus menyembah dewa perang. Bahkan bangsa Viking kerap disebut sebagai bangsa yang hidupnya hanya untuk berperang hingga napas terakhir mereka.

Bangsa Mongol

Kerajaan yang dikuasai oleh bangsa Mongol pada abad ke 13 hingga 14 termasuk sebagai kerajaan terbesar di sepanjang sejarah manusia. Kerajaan Mongol tercipta atas unifikasi dari bangsa Mongol dan suku Turkic yang berada di bawah kepemimpinan Genghis Khan.

Bangsa Mongol terkenal sebagai orang-orang yang barbar dan kejam. Mereka mendominasi Eropa dan Asia sambil mengendarai kuda. Bangsa Mongol sangat terlatih dalam menggunakan panah sambil berkuda.
Pasukan Mongol. (Gambar ilustrasi: Istimewa)
Ketika pergi menyerang, bangsa Mongol menggunakan panah dengan bahan campuran yang dapat menembus baju zirah. Selain itu, mereka juga pandai menggunakan pedang lengkung dan tombak. Bangsa Mongol juga menggunakan intimidasi serta teknik psikologi untuk membuat lawannya gentar.

Salah satu tindakan ikonik mereka yang sangat ditakuti terjadi ketika invasi ke India. Bangsa Mongol membangun piramid dari kepala manusia di depan tembok Delhi. Bangsa Mongol juga menggunakan salah satu teknik psikologi yang mengerikan terhadap musuhnya. Mereka menggunakan kepala manusia yang dilemparkan ke kamp musuh untuk membuat para pasukan di dalam kamp gentar.

Bangsa Aztec

Bangsa Aztec merupakan kelompok etnis yang berada di Meksiko tengah dan mereka mendominasi wilayah Mesoamerica pada abad ke 14 hingga 16. Bangsa ini juga memiliki tradisi yang membuat bangsa lainnya takut, yaitu mereka kerap menjalankan ritual pengorbangan manusia.

Ritual pengorbanan manusia ini mulai mencapai zaman keemasannya di Aztec ketika mereka mulai menggunakan sistem Teokrasi. Bangsa Aztec percaya setiap 52 tahun sekali, jika mereka tidak memuaskan para dewa maka dunia akan berakhir.

Bangsa Aztec juga meyakini cara memuaskan para dewa ialah melalui ritual pengorbanan manusia. Sekira 20 ribu orang dibunuh oleh bangsa Aztec demi memuaskan Dewa Matahari mereka. Jantung para manusia yang dikorbankan dipotong keluar dari tubuh mereka dan beberapa bagian dari tubuh mereka dimakan oleh bangsa Aztec.
Upacara kanibal (memakan daging manusia) yang dilakukan bangsa Aztec. (Gambar ilustrasi: Istimewa)
Itu baru untuk satu dewa. Faktanya, bangsa Aztec memiliki banyak dewa yang harus dipuaskan. Jika lama tidak turun hujan maka beberapa anak kecil akan dikorbankan di beberapa lokasi, sebab bangsa Aztec percaya air mata anak-anak tersebut akan membantu menurunkan hujan.

Sedangkan untuk Dewa Api, pasangan suami-istri yang baru menikah akan dilemparkan ke dalam api, hingga keduanya tewas terbakar. Masih ada satu ritual lagi yang bikin bulu kuduk merinding, yaitu ritual Dewi Jagung. Pada ritual ini seorang perempuan yang masih perawan dipaksa menari selama seharian dan dibunuh serta dikuliti. Kulit dari perempuan malang itu selanjutnya akan digunakan oleh seorang pendeta Aztec.

Bangsa Indonesia

Bangsa Indonesia walaupun saat ini dikenal sebagai bangsa yang ramah, tapi pada masa lampau dikenal juga sebagai bangsa yang ganas dan suka perang. Banyak suku-suku atau etnis di seluruh wilayah Nusantara memiliki kebiasaan aneh dan menyeramkan. Seperti budaya memenggal kepala (ngayau) pada suku Dayak, terdapatnya suku-suku pemakan manusia atau Kanibal di pedalaman Papua dan di Mentawai, dan beberapa budaya sadis lainnya di sejumlah pulau.

Setelah hadirnya sejumlah kerajaan, seperti Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan kecil lainnya, bangsa Indonesia saat itu juga memiliki kebiasaan suka berperang. Karena begitu mudahnya tersulut peperangan, hal inilah yang membuat para penjajah seperti Belanda, Portugis dan Inggris mampu menjajah Indonesia selama beberapa abad. Belanda melakukan politik adu domba (devide et impera) untuk melemahkan kekuatan antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.
Salah satu suku di pedalaman Papua, Indonesia. Sejumlah penelitian menyebutkan, hingga kini masih terdapat beberapa suku kecil di pedalaman Papua yang masih mempraktekkan upacara kanibal memakan jasad musuhnya yang tewas dalam peperangan antar suku. (Foto: istimewa)

Inilah Bukti Catatan NAZI Ternyata Berhasil Ciptakan Senjata Nuklir

Adolf Hitler dan sejumlah petinggi militer Nazi saat menyaksikan parade militer pasukan Nazi di Berlin. (photo: The Inquisitr)
BERLIN -- Para ilmuwan dan pemerhati sejarah hingga kini masih terus berusaha mencari dan meneliti berbagai macam penemuan teknologi para era pemerintahan Nazi Jerman. Bukan tanpa sebab, setidaknya sejarah mencatat, Adolf Hitler saat itu berusaha menciptakan berbagai macam penemuan dan teknologi yang bahkan masih dianggap tidak masuk akal di era-nya.

Setelah kekalahan Nazi dan tewasnya Hitler, negara-negara sekutu dan Rusia berebut untuk mendapatkan hasil penemuan Nazi terutama dalam pengembangan senjata dan bom atom. Musuh-musuh Nazi saat itu meyakini jika Hitler telah mampu menciptakan bom atom dan bahkan menyimpan bom atom disebuah tempat rahasia.

Selama perang, sekutu musuh menyadari ambisi nuklir rezim Hitler dan berhasil menghentikannya pada tahun 1942 ketika sembilan penyabot menghancurkan sebuah “heavy water plant” di Norwegia yang dikendalikan Nazi.

Menurut laporan Der Spiegel, Nazi terindikasi sudah berhasil mengembangkan senjata nuklir di masa lalu. Pada tahun 2005, sejarawan Rainer Karlsch mengklaim bahwa Nazi berhasil melakukan pengujian hingga tiga bom pada tahun 1944 saat sekutu-sekutunya berkumpul di Berlin.

Rezim Nazi Jerman diyakini hampir berhasil membuat bom atom sebelum dihancurkan di hadapan sekutu-sekutunya sendiri, menjelang kedatangan pasukan musuh.

Meski pada akhir kekuasaanya Hitler tak pernah menggunakan bom atom, tetapi dalam sejumlah penemuan, terbukti bahwa Nazi sebenarnya telah mampu dan memiliki bom nuklir. Berikut catatan penemuan tersebut.

1. Nazi Pernah Melakukan Uji Coba Bom Nuklir

Sebuah film dokumenter Jerman mengungkapkan bahwa Nazi pernah sangat dekat dengan upaya mengembangkan senjata pemusnah massal. Seperti diberitakan oleh Express, 31 Juli 2015.

Film The Search for Hitler Atom Bomb itu menggambarkan bagaimana Nazi melakukan penelitian canggih, dan bahkan mengorbankan tawanan perang Uni Soviet untuk menguji efisiensi bom itu. Film yang ditayangkan di saluran ZDF itu mengutip laporan interogasi para ilmuwan Nazi, saksi mata, dan catatan yang ditinggalkan para peneliti.

Para ilmuwan Nazi sedang melakukan ujicoba rudal balistik pertama, yang rencananya akan disematkan bom nuklir untuk menghadapi Sekutu dan Uni Soviet. (photo: Daily Star)
Sejarawan Matthia Uhl mengklaim bahwa kompetisi menciptakan bom atom justru intensif dilangsungkan pada tahun-tahun terakhir perang, saat Jerman mulai sering mengalami kekalahan. Di pusat program SS, Jendral Hans Kammler diberi tanggung jawab mewujudkan ambisi Adolf Hitler ini.

Salah satu proyek utama Kammler adalah Lembah Jonas di Thuringia, Jerman timur, yang diduga sebagai lokasi program nuklir Nazi. Satu percobaan penggunaan senjata pembunuh massal itu dilaporkan dilakukan pada awal Maret 1945.

ZDF mengutip dokumen Soviet yang berasal dari agen intelijen militer Rusia yang berbicara tentang dua tes nuklir di Thuringia. Mereka mengatakan, "Jerman tengah berupaya keras membuat dan menguji senjata rahasia baru, yang memiliki daya rusak yang besar. Bom itu memiliki diameter 1,5 meter."

2. Ditemukan Materi Radioaktif

Bernd Thalmann, 64, seorang pemburu peninggalan Nazi, menemukan sejumlah logam-logam aneh di pingggiran kota Berlin. Thalmann, menemukan bukti itu dengan menggunakan detektor logamnya. Dia menemukan tumpukan logam yang agak aneh dan tidak magnetik.

Dia awalnya tidak curiga dengan tumpukan logam tersebut dan membawanya pulang. Tapi, setelah pemeriksaan singkat, dia menjadi khawatir dan melapor ke pihak berwenang Jerman.

Menurut hasil pemeriksaan yang dikutip dari Berlin Kurier, semalam (23/9/2017), benda-benda logam yang ditemukan itu sebenarnya adalah bagian dari materi radioaktif untuk bom atom Nazi.

Wilayah yang disurvei Thalmann adalah Oranienburg, sebuah lokasi fasilitas uji coba nuklir rahasia Nazi. Lokasi itu dimusnahkan dengan lebih dari 10.000 bom.

Para ilmuwan Nazi sedang membangun situs uji coba senjata nuklir rezim di Haigerloch, Jerman. (photo/Wikipedia)

Terikat Sejarah Panjang, Rusia Siap Berikan Bantuan Militer Apapun untuk Indonesia

Pesawat pengebom strategis Tu-95 MS saat mendarat di Biak, Provinsi Papua, Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua pesawat pengebom jarak jauh Tu-95MS terbang melintasi Samudra Pasifik yang luas dan singgah di Indonesia. (Foto: Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia/AP)
"Waktu demi waktu kita meningkatkan hubungan antar militer. Dan sangat penting bagi kita untuk menggarisbawahi bahwa Rusia siap untuk mengembangkan proses ini sejauh yang Indonesia inginkan,"
JAKARTA -- Negara Federasi Rusia atau dulu dikenal dengan Uni Soviet, terikat hubungan sejarah yang sangat panjang dan hampir tak dapat dipisahkan dengan Indonesia. Walau penuh dengan pasang surut, nyatanya Rusia menjadi negara adidaya yang paling banyak membantu Indonesia, khususnya dalam bidang militer hingga kini.

Bahkan, Rusia menyatakan siap untuk membantu Indonesia mengembangkan dan memperkuat bidang militer. Hal itu disampaikan oleh Atase Militer Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Kolonel Nikolay Nikolayuk. Lagi-lagi hal ini didasari faktor kedekatan sejarah.

Nikolayuk menyatakan hubungan antara Rusia dan Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Dia menyebut, sejak awal kemerdekaan Indonesia, Rusia sudah memberikan dukungan dari segi politik maupun militer ke Indonesia.

"Berbicara mengenai sejarah hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia, saya ingin menyampaikan bahwa Rusia sudah menyediakan banyak dukungan militer dan politik kepada Indonesia sedari awal kemerdekaan (Indonesia)," ucap Nikolayuk, dikutip dari Sindonews.com, (26/2).

Nikolayuk mengatakan, saat ini hubungan kedua negara sudah mencapai babak baru, khususnya dalam bidang militer. Dia lalu menegaskan bahwa Rusia siap untuk membantu mengembangkan dan memperkuat militer, sejauh yang Indonesia inginkan.

Atase Militer Kedutaan Besar Rusia, Kolonel Nikolay Nikolayuk. (Foto: Victor Maulaua/Sindonews)
"Saat ini kita telah memasuki babak baru dalam hubungan ini, khususnya dalam bidang militer. Indonesia dan Rusia adalah dua negara yang bersahabat. Kita memiliki kerjasama tehnik militer yang sangat aktif. 

Waktu demi waktu kita meningkatkan hubungan antar militer. Dan sangat penting bagi kita untuk menggarisbawahi bahwa Rusia siap untuk mengembangkan proses ini sejauh yang Indonesia inginkan," ucapnya.

Terikat Sejarah yang Dalam


Perjalanan sejarah mencatat, Uni Soviet mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan tertarik dengan misi Sukarno untuk membebaskan seluruh Hindia Timur dari pemerintahan kolonial Belanda.

Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau dan suku-suku yang mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.

Presiden pertama RI Sukarno, yang memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi untuk membebaskan wilayah yang saat itu disebut sebagai Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Upaya Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dengan melakukan negosiasi bilateral langsung dengan Belanda. Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB. Namun, hal ini pun terbukti sia-sia.

Pada tahun 1956, Presiden Sukarno, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow. Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dengan Belanda. Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, yang mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan Afrika, dengan cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia.

Moskow mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia. Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Sukarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dengan satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, delapan kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor dan kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja dan amfibi, helikopter, dan pesawat pengebom.

Pesawat pengebom Tupolev Tu-16 yang diberikan Uni Soviet kepada Indonesia, sempat menjadikan AURI sebagai Angkatan Udara terkuat di bumi bagian selatan, melampaui negara-negara lainnya. (Foto: istimewa)
Aktivitas militer Indonesia terus meningkat di wilyah yang dipersengketakan ini sampai pertengahan tahun 1962. AURI mulai beroperasi dari pangkalan di pulau-pulau sekitar Irian Barat dan pesawat pengebom Tupolev Tu-16 yang dikirim Soviet, lengkap dengan misil antikapal AS-1 Kennel/KS-1 Kome, dikerahkan untuk mengantisipasi serangan kapal HNLMS Karel Doorman milik Belanda.

“Situasi benar-benar berubah ketika Indonesia dipersenjatai oleh Soviet. Belanda sudah kalah perang dengan rakyat Indonesia dan tidak siap untuk berurusan dengan tentara Indonesia yang dilengkapi dengan senjata modern,” kata Clarice Van den Hengel, seorang peneliti dan ahli Indonesia yang tinggal di Den Haag, seperti dilansir dari RBTH.

Dengan dukungan persenjataan Soviet, Indonesia memulai kebijakan konfrontasi dengan Belanda pada tahun 1960. Tahap akhir konfrontasi memaksa invasi militer skala penuh, suatu rencana berisiko yang akan memaksa Amerika untuk campur tangan dan membantu Belanda.

Menteri Luar Negeri RI Subandrio, Selama puncak konfrontasi, terbang ke Moskow untuk meminta dukungan Soviet. Kemampuan Menlu Sukarno yang fasih berbahasa Rusia itu, menjadikan proses diplomatik dapat berjalan lancar.


Dalam memoarnya  Nikita Khrushchev mengatakan kepada Subandrio, "Jika Belanda tidak bisa bersikap rasional dan memilih terlibat dalam operasi militer, ini akan menjadi perang yang, pada batas tertentu, bisa berfungsi sebagai medan pembuktian bagi pilot-pilot kami yang menerbangkan pesawat tempur yang dilengkapi dengan rudal. Kita akan melihat bagaimana rudal kami bekerja.”

Meskipun dukungan Moskow terhadap Indonesia sangat jelas dan dinyatakan secara terbuka, pembicaraan antara Khrushchev dan Subandrio ini seharusnya bersifat rahasia. Namun, sang menlu, menurut memoar Khrushchev, mengungkapkan hasil pembicaraannya itu kepada Amerika, yang sama sekali tak ingin terjebak dalam krisis lain yang berpotensi menjadi Perang Dunia.

“Ini menjadi momen berakhirnya kekuasaan Belanda di Irian Barat. Selain ingin menghindari konfrontasi langsung dengan Uni Soviet, AS tidak ingin terlihat bahwa negaranya tampak mendukung penjajah Eropa melawan negara dunia ketiga yang baru merdeka,” kata Van den Hengel.

Di bawah tekanan Amerika, pada Agustus 1962, Belanda akhirnya setuju untuk menyerahkan Irian Barat ke Otoritas PBB (UNTEA). Pada 1963, wilayah Irian Barat akhirnya diserahkan kepada Indonesia.

KRI IRIAN, merupakan kapal perang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia hingga detik ini. Kapal perang bantuan dari Uni Soviet ini benar-benar menjadi efek penggentar dalam operasi pengusiran Belanda dari Irian Jaya (sekarang Papua). (Foto: istimewa)

Kisah Keberanian Presiden Soekarno Melawan Hegemoni Amerika Serikat

Keberanian Presiden Soekarno dalam mengusir para penjajah dicatat dalam tinta emas sejarah Indonesia. Soekarno juga sangat tegas dalam melawan hegemoni Amerika Serikat yang menekan Indonesia untuk menjadi salah satu negara porosnya. (Foto: istimewa)
”Kami tidak mempunyai hasrat untuk meniru Uni Soviet, juga tidak mau mengikuti dengan membabi-buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi satelit dari salah satu blok,"
Indonesia pernah menjadi negara yang amat disegani di dunia, termasuk oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat. Citra Indonesia sebagai negara yang disegani muncul belasan tahun setelah Indonesia meraih kemerdekan pada tahun 1945 .

Harus diakui, kondisi tersebut kontras bila dibandingkan dengan saat ini. Meski memiliki sumber daya alam yang berlimpah, posisi Indonesia masih ketergantungan dengan negara lain, terutama dalam bidang perekonomian.

Indonesia di era Soekarno menjadi amat disegani. Kepiawaian diplomasi Soekarno saat itu mampu mengatasi segala gangguan dari luar yang berupaya menggerogoti kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hebatnya, Indonesia mampu diterima kedua negara besar yang terlibat perang dingin, yakni Uni Soviet dan Amerika Serikat kurun waktu 1953-1963. Diterimannya Indonesia oleh dua negara adidaya itu merupakan buah dari politik bebas aktif yang diterapkan kepemimpinan Presiden Soekarno.

Kedekatan Soekarno dengan Amerika Serikat diawali penembakan terhadap anggota lembaga intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) bernama Allen Pope.

Allen Pope berhasil ditembak jatuh oleh tentara Indonesia di Pulau Morotai dan menimbulkan kepanikan pemimpin Amerika Serikat saat itu, D Dwight Eisenhower atau Ike John yang khawatir kedok Amerika Serikat dan CIA akan terbuka menjadi dalang atas pemberontakan separatisme di Indonesia.

Peristiwa tertangkapnya Allen Pope menjadi tamparan keras bagi Amerika Serikat. Tentu saja bagi Soekarno ini kesempatan bagus untuk melakukan tawar-menawar dengan Amerika Serikat demi kepentingan dalam negeri. Apalagi Indonesia saat itu membutuhkan peralatan perang untuk menghadapi Belanda yang menduduki Irian Barat.

Presiden Soekarno saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy. (Foto: istimewa)
Namun, persaingan hegemoni dan geopolitik antara dua negara adidaya Uni Soviet dan Amerika Serikat, membuat posisi Indonesia menjadi dilematis. AS berulang kali membujuk Presiden Soekarno agar merapat ke kubu mereka dengan imbalan ekonomi, bantuan keuangan dan persenjataan.

Tapi Soviet ternyata sudah lebih dulu curi start membantu apapun yang dibutuhkan Indonesia, sehingga Soekarno merasa lebih "nyaman" dengan batuan yang diberikan Moskow.

Ketidaksenangan Amerika terhadap Sukarno dan RI sudah muncul ketika kunjungan pertama Sukarno ke negara Paman Sam, Mei 1956. Waktu itu, Bung Karno menjelaskan kepada Menlu John Fuster Dulles, dasar politik Indonesia.

”Kami tidak mempunyai hasrat untuk meniru Uni Soviet, juga tidak mau mengikuti dengan membabi-buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi satelit dari salah satu blok," kata Presiden Soekarno tegas.

Sayangnya, politik seperti ini disalahartikan oleh AS. Negara superpower ini hanya menyukai bila Indonesia memilih pihak seperti yang dikehendakinya.

Bung Karno menilai AS tidak memahami masalah Asia. Dalam salah satu dialognya dengan Presiden Eisenhower, Bung Karno menyatakan sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua, Amerika bisa saja memberi nasihat kepada Indonesia. ”Memberi kami nasihat ‘bisa’.

Keretakan hubungan Indonesia semakin bertambah saat bangkitnya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang ternyata didukung AS dan sekutu. Pertentangan antara RI-AS mencapai puncaknya ketika pecah pemberontakan PRRI/Permesta.

Apalagi Amerika Serikat memberikan bantuan senjata untuk melawan Sukarno. Usaha-usaha Central Intelegence Agency (CIA) atau Pusat Intelejen AS menjatuhkan pemerintahan Sukarno didukung sebuah task force lepas pantai dari Armada VII AS.

Presiden Soekarno saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, D Dwight Eisenhower. (Foto: istimewa)

Operasi Dwikora, Keberhasilan Pejuang Indonesia Bantai Pasukan Elit Inggris di Mapu

Pasukan RPKAD, salah satu bagian kekuatan TNI yang diterjunkan dalam operasi Dwikora. Sejarah mencatat, walau masih menggunakan persenjataan yang jauh tertinggal, namun RPKAD mampu menewaskan ratusan pasukan Inggris di Sabah dan Sarawak. (Foto: istimewa)
"Hanya semangat patriotisme yang sangat tinggi dan latihan yang keras kita bisa sukses melaksanakan tugas,"
PLAMAN MAPU -- Salah satu sejarah kolosal bangsa Indonesia dalam masa perjuangan kemerdekaan adalah dalam peristiwa operasi Dwikora.

Operasi yang biasa dikenal dengan 'Ganyang Malaysia' tersebut, terjadi sejak tahun 1964-1966 memang luar biasa. Indonesia yang menentang pembentukan Federasi Malaysia bentukan Inggris harus bertempur melawan Inggris, Amerika Serikat dan sekutunya dari Selandia Baru dan Australia.

Pertempuran di Plaman Mapu, Sarawak, Malaysia adalah salah satu yang brutal, meski cuma 1 jam, dari beberapa pertempuran yang ada. Dalam dokumen yang didapatkan dari Museum Pustaka Korps Baret Merah, disebutkan penyerangan di Mapu, mempunyai pengaruh besar terhadap pihak lawan.

Komentar dari juru bicara Pasukan Keselamatan Sarawak yang menyebut serangan ini sebagai 'determine attack' alias serangan yang menentukan yang telah berhasil menembus pertahanan melingkar kawat berduri dan menyerang ke atas bukit.

Presiden Soekarno melakukan pemeriksaan pasukan sebelum diterjunkan dalam operasi Dwikora. (Foto: istimewa)
Dokumen juga mencatat siaran radio Sarawak di Kuching yang mengatakan bahwa tentara Inggris yang bertahan adalah prajurit yang baru lulus 10 bulan dari pendidikan, dan harian Strait Times pada 28 April 1965 menuliskan bahwa tentara Inggris yang diserang adalah "British Paratroops".

Pasukan Para Inggris dikenal sangat elit dan seleksi untuk masuk ke Parachute Regiment sangat berat. Kemudian, dari siaran radio Sarawak di Kuching pada 28 April 1965 pukul 22.00 Wita diketahui ada sekitar 150 penerbangan heli dari pihak tentara Inggris berseliweran, yang memperkuat dugaan Indonesia bahwa korban musuh sangat besar.

Saksi hidup dan pelaku penyerangan di Mapu, Pelda (Purn) Soemadji mengatakan bisa mencapai sekitar 100-an tentara, dan mendengar dari siaran radio bahwa yang tewas adalah 72 tentara Selandia Baru.

Sedangkan dalam catatan dokumen di Museum Pustaka Korps Baret Merah dituliskan, berdasarkan tafsiran sementara, paling sedikit 30 orang musuh ditewaskan. Sedang dalam buku "Britain's Secret War:

The Indonesian Confrontation, 1962-66" yang ditulis Will Fowler di halaman 21 dituliskan, saat penyerangan di Mapu itu, saat itu ada 34 tentara, terdiri dari B Coy HQ, Parachute Regiment termasuk satu peleton yang lemah karena prajuritnya baru lulus dari pendidikan. Dituliskan pula korban serangan dari pihak Inggris adalah 2 tentara tewas dan 7 lainnya terluka.

The Second Battalion The Parachute Regiment. Salah satu pasukan elit kerajaan Inggris yang diterjunkan melawan Indonesia di Sabah dan Sarawak, dalam peristiwa Dwikora. (Foto: istimewa)
Dituliskan pula, keberhasilan serangan di Mapu karena strategi gerilya dengan serangan pendadakan total, faktor musuh yang lengah karena terlalu percaya akan sistem pertahanannya, faktor cuaca kabut dan hujan, doktrin-doktrin Komando RPKAD, serta moril prajurit yang tinggi juga keeratan hubungan antara pimpinan dan bawahan.

Sedangkan Soemadji mengenang, bahwa meski unggul dalam gerilya, sebenarnya persenjataan RPKAD kala itu kalah dibanding pihak musuh, terutama dalam perlindungan udara. Pihak tentara Inggris, imbuhnya, memiliki banyak helikopter dan pesawat yang bisa melindungi tentara darat dan menyisir musuh dari udara.

"Hanya semangat patriotisme yang sangat tinggi dan latihan yang keras kita bisa sukses melaksanakan tugas," tutur Soemadji, Selasa (17/3/2015).

Dalam catatan eks Komandan Kompi Benhur, Mayor (Purn) Oerip Soetjipto juga menuliskan bahwa "Dalam perjalanan diberitahukan lewat penghubung bahwa dalam pengunduran nanti pasukan akan dilindungi oleh pesawat terbang Mustang. Walaupun pada akhirnya tidak ada kenyataan, namun berita tersebut sudah sempat membesarkan hati pasukan".

Operasi Dwikora yang berlangsung pada tahun 1965 adalah respons Indonesia untuk berperang di Malaysia, di bawah Presiden Soekarno saat itu, karena tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris.

Inggris, yang hendak mengakhiri kolonisasi saat itu hendak menggabungkan koloninya di Semenanjung Malaya dengan Sabah dan Sarawak di Kalimantan. Presiden Soekarno tak setuju lantaran menganggap Federasi Malaysia adalah boneka Inggris yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia.

The Second Battalion The Parachute Regiment, melakukan serangan melawan Indonesia dengan berbagai persenjataan super canggih pada era tersebut. (Foto: istimewa)

Inilah Empat Senjata Uni Soviet Paling Ditakuti di Era Perang Dunia II

Sekelompok Panzergrenadier memasuki kota Stalingrad, setelah berhasil merebut sebagian wilayah tengah kota itu dari pasukan Uni Soviet, awal Oktober 1942. (Foto: Istimewa)
MOSKOW -- Sempat dipecundangi oleh kekuatan militer Nazi pada awal Perang Dunia II, Uni Soviet kemudian bangkit melakukan perlawanan balik yang berhasil mengantarkannya sebagai salah satu pemenang PD II.

Apa faktor yang menjadikan Uni Soviet bisa membalikkan keadaan, dalam catatan sejarah, selain memiliki prajurit yang tangguh, Uni Soviet juga berhasil menciptakan berbagai macam senjata yang tak mampu dibendung oleh kekuatan militer imperium Nazi.

Setidaknya berikut empat senjata terkuat Uni Soviet yang mampu menciptakan mimpi buruk bagi pasukan militer Nazi:

1. Peluncur Roket Katyusha

Peluncur ini digunakan oleh Uni Soviet di garis depan timur selama Perang Dunia II, untuk Jerman, ia adalah pengganggu: suara proyektilnya yang lewat saat siang bolong membuat para tentara Nazi takut. Roketnya dapat menghancurkan apa pun di hadapannya, sambil menyebarkan peluru pecahan ke segala arah.

Peluncur roket Katyusha Uni Soviet saat membombardir posisi pasukan Nazi. Suara gelegar dari senjata ini digelari sebagai "lolongan Stalin," benar-benar mampu menjatuhkan mental juang pasukan musuh. (Foto: rbth.com)
Sistem ini sangat efektif untuk menghadapi tentara infanteri. Roketnya dilengkapi dengan peledak tinggi, bukan hulu ledak penembus lapisan baja. Roket Katyusha BM-13 adalah senjata yang sangat berharga dan memainkan peran penting saat membantu tentara Soviet mengeliminasi para penjajah Nazi dalam konflik paling berdarah di sejarah negara itu.

2. Tank T-34
Tank ini adalah salah satu mesin perang terbesar dalam sejarah Soviet, dan dimodifikasi berkali-kali salah satunya dengan dipasang meriam 76 milimeter. Tank T-35 merupakan kombinasi dari daya tembakan luar biasa (bisa menghancurkan lapisan baja tank terkuat Jerman), mobilitas, dan perlindungan. Jenderal Jerman Paul Ludwig Ewald von Kleist menamakan T-34 tank terbaik di dunia.

Tank T-34 Uni Soviet. (Foto: Istimewa)
3. Pesawat Ilyushin Il-2

Pesawat ini punya dua julukan: “Tank Terbang” karena lapisan baja tebalnya, dan “Si Bungkuk” karena penampilannya. Il-2 bukanlah pesawat bermanuver terbaik, tapi ia salah satu yang terefektif dan berhasil menjatuhkan pesawat Jerman beserta target laut dan daratnya.

Dengan satu kali isi tangka bensin, pesawat ini bisa terbang sejauh 700 kilometer dan memberondongkan timah panas dengan dua senapan 23 mm dan dua senapan mesin 7,62 mm miliknya. Selain itu, ia juga bisa menurunkan bom-bom tak berpandu RS-82 dan RS-132 dengan berat hingga 600 kilogram. Salah satu fitur paling menarik Il-2 adalah kemampuan pendaratan tanpa roda-roda dan perangkat lainnya bila ia harus mendarat secara darurat.

Pesawat serangan darat Ilyushin Il-2. (Foto: Istimewa)