Jalur Militer: IRAN

Pertahanan Udara Khordad 15 Iran Jadi Mimpi Buruk AS di Timur Tengah

Ujicoba peluncuran Sistem Pertahanan Udara Khordad 15, oleh militer Iran. (Foto: tasnimnews.com)
TEHERAN -- Iran berhasil menguji sistem pertahanan udara produk dalam negeri. Sistem canggih itu diluncurkan pada Jumat, 22/11/19, dalam latihan militer berskala besar, dengan nama sandi "Guardians of Velayat Sky-98", di provinsi tengah, Semnan.

Sistem Pertahanan itu diberi nama Khordad 15. Khordad 15 adalah sistem pertahanan udara bergerak berbasis darat. Sistem senjata terdiri dari radar array bertahap yang mampu mendeteksi jet tempur, rudal jelajah, dan kendaraan udara tak berawak (UCAV) dari jarak 150 kilometer (93 mil) dan mampu melacaknya dalam jarak 120 kilometer (75 mil).

Sistem pertahanan udara ini dapat melibatkan hingga enam target secara bersamaan sambil mampu menembak jatuh mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah terdeteksi. Sistem ini juga dapat mendeteksi target siluman pada jarak 85 kilometer dan mampu menghancurkan target dalam jarak 45 kilometer.

Pengaturan sistem SAM mencakup dua truk militer. Satu dengan peluncur berputar persegi panjang yang berisi empat tabung rudal. Sistem pertahanan udara ini beroperasi bersamaan dengan misil Sayyad-3.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dinamai untuk menghormati demonstrasi 1963 di Iran, yang menurut kalender Iran dikenal sebagai pemberontakan 15 Khordad. Itu adalah serangkaian protes di Iran terhadap penangkapan Ayatollah Ruhollah Khomeini oleh rezim diktator Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dirancang dan diproduksi oleh Organisasi Industri Penerbangan Iran (IAIO), dan diumumkan kepada publik pada 9 Juni 2019 dalam pidato Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami di Teheran, Iran.

Sistem Pertahanan Udara Khordad 15 Republik Islam Iran
Spesifikasi Khordad 15

Engaged Aerial Targets : 6
Performance
Max Detection Range    : 150 kilometer
Max Tracking Range     : 120 kilometer
Target's Max Altitude  : 27,000 meter (88,583 foot)
Weapon Max Range       : 120,000 meter
Time
Reaction Time          : 5 minute (300 second)

Ancaman Serius Bagi Militer AS dan Sekutu di Timur Tengah

Setelah diluncurkan, sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran, pada debut pertamanya langsung menggemparkan dunia. Sebuah Video yang dirilis memperlihatkan sistem pertahanan udara Khordad 15 bergerak meluncurkan rudal dari lokasi yang dirahasiakan di bagian selatan Iran pada Kamis dini hari. Rudal itu berhasil mengenai sasarannya di dalam wilayah udara Iran atau di atas provinsi Hormuzgan.

IRGC mengatakan bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara Khordad 3 untuk menembak jatuh drone Amerika yang canggih, yang dapat mencapai ketinggian hingga 18 kilometer. Iran juga mengatakan militer AS telah mematikan transponder pada pesawat, menerbangkannya dengan mode sembunyi-sembunyi.

IRGC menyatakan bahwa drone itu dari jenis RQ-4 Global Hawk. Triton adalah versi Global Hawk yang sedikit dimodifikasi dan sebagian besar dibuat dari komponen-komponennya. Tak lama kemudian, Iran memberikan koordinat peta yang tepat di mana drone ditembak.

AS awalnya membantah bahwa ada drone mereka yang ditembak jatuh oleh militer Iran, namun kemudian mengakui setelah itu. AS bahkan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menghasilkan koordinat peta, dengan menuduh bahwa drone telah ditargetkan di wilayah udara internasional.

Beberapa jam kemudian, para pejabat militer Amerika mengkonfirmasi bahwa pesawat tak berawak MQ-4C Triton milik Angkatan Laut AS telah ditembak jatuh di “wilayah udara internasional” dekat Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Angkatan Laut Amerika telah dikirim ke daerah itu untuk mengambilnya.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militer AS untuk melakukan serangan balasan terhadap beberapa posisi di Iran tetapi kemudian secara tiba-tiba membatalkan serangan.

The New York Times juga telah melaporkan bahwa para pejabat pertahanan AS “terkejut” oleh kemampuan Iran untuk menurunkan “drone Amerika di ketinggian tinggi, yang dikembangkan untuk menghindari rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk menjatuhkannya.”

Pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia. (Foto: Erik Hildebrandt/Northrop Grumman/Handout via REUTERS)
“Ini adalah unjuk kekuatan,” kata Times mengutip Derek Chollet, mantan asisten menteri pertahanan AS untuk urusan keamanan internasional, sebagaimana dikatakan.

Becca Wasser, seorang analis di Rand Corp, mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, dan menggambarkan fakta “signifikan” bahwa sistem tersebut buatan dalam negeri.

“Penembakan drone menunjukkan kemampuan Iran, dan pesan kuat ke Amerika Serikat. Fakta bahwa Iran dapat menembak drone menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan atau membeli kemampuan yang cukup signifikan dan terampil dalam menggunakan sistem ini,” tambahnya.

Mantan kepala badan intelijen Prancis, yang berbicara dengan syarat anonim, juga mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, bahwa bahkan jika militer AS mengirim sejumlah besar pesawat ke Iran, harus dipersiapkan untuk kerugian karena pertahanan udara Iran akan siap untuk terlibat.

Iran mengembangkan sistem dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan rudal dan ancaman udara lainnya mengingat kehadiran pasukan ekstra-regional yang dipimpin Amerika Serikat, di pangkalan di negara-negara di sekitar Iran.

Iran semakin bergerak cepat memperkuat postur pertahanan mereka di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan upaya gagal Eropa untuk menegakkan komitmennya terhadap perjanjian nuklir Iran 2015.

Titik lokasi ditembak jatuhnya pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia.

AS Ingkar Janji, Iran Bangkitkan Kembali Fasilitas Nuklir Rahasia

Keputusan sepihak Amerika Serikat yang keluar dari perjanjian nuklir Iran, dibalas oleh Teheran dengan mengaktifkan kembali sejumlah fasilitas nuklir rahasia negara itu.
TEHERAN -- Iran kembali melanjutkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanahnya, Fordow, dengan target pengayaan 5 persen. Dikutip dari RT.com, kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi mengumumkan pada Selasa bahwa Iran akan mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas bawah tanah, dan mengatakan bahwa fasilitas itu memiliki kapasitas untuk memperkaya hingga 20 persen jika diperlukan.

Media pemerintah Iran melaporkan hari Rabu bahwa 2,800 kg silinder yang memuat 2.000 kg prekursor pengayaan uranium hexafluoride telah dipasang di Fordow. Di bawah kesepakatan 2015, Iran berkomitmen untuk mengurangi kemurnian uranium yang diperkaya menjadi 3 persen dan pengayaan dilarang di fasilitas Fordow.

"Setelah semua persiapan yang berhasil, injeksi gas uranium ke sentrifugal dimulai pada hari Kamis di Fordow, semua proses telah diawasi oleh inspektur pengawas nuklir AS," kata Badan Energi Atom Iran (AEOI) pada Kamis, seperti dikutip dari Reuters, 7 November 2019.

Perjanjian nuklir Iran 2015 melarang pengayaan dan bahan nuklir dari Fordow. Tetapi dengan bahan baku gas memasuki sentrifugalnya, fasilitas yang dibangun di dalam gunung, akan berpindah dari status yang diizinkan dari fasilitas penelitian menjadi situs nuklir aktif.

Di bawah pakta tersebut, Iran setuju untuk mengubah Fordow menjadi pusat nuklir, fisika dan teknologi, di mana 1.044 sentrifugal digunakan untuk tujuan selain pengayaan, seperti memproduksi isotop stabil, yang memiliki berbagai kegunaan sipil.

Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir, di mana perjanjian tersebut mengekang program nuklirnya dengan imbalan penghapusan sebagian besar sanksi internasional, setelah Amerika Serikat mengingkari perjanjian tahun lalu.

"Prosesnya akan membutuhkan beberapa jam untuk stabil dan pada hari Sabtu, ketika inspektur Badan Energi Atom Internasional akan kembali mengunjungi situs tersebut, tingkat pengayaan uranium 4,5% akan tercapai," kata juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi kepada TV pemerintah.

"Semua sentrifugal yang dipasang di Fordow adalah tipe IR1. Gas uranium (UF6) disuntikkan ke empat rantai sentrifugal IR1 (696 sentrifugal). Dua rantai tersisa lainnya dari sentrifugal IR1 (348 sentrifugal) akan digunakan untuk memproduksi dan memperkaya isotop stabil di fasilitas tersebut," kata Kamalvandi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan Teheran tidak memiliki alasan yang dapat dipercaya untuk memperluas program pengayaan uraniumnya dan Washington akan melanjutkan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Iran sampai ia mengubah perilakunya.


Iran Balas Pengkhianatan AS

Iran dan Rusia, pada Minggu 10 November 2019, meresmikan tahap konstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr. Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 km selatan Teheran.

Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), dan Wakil Kepala Badan Nnuklir Rusia (Rosatom), Alexander Lokshin, meluncurkan tahap baru pada upacara pembangunan awal di mana beton dituangkan ke pangkalan reaktor, demikian seperti dikutip dari the Japan Times, Senin (11/11/2019).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kami akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Iran tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir. Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga lanjutannya di masa depan, menurut AEOI. Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Teheran untuk reaktor nuklir penghasil listriknya.

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau 'Iran nuclear deal' 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama dunia, termasuk Rusia, menempatkan pembatasan pada jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Teheran dan produksibahan bakar nuklirnya. Tetapi, perjanjian itu tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

Menurut pakta itu, Iran dituntut untuk mengurangi stok uranium hingga 98 persen dan berhenti menjalankan program pengembangan senjata nuklir untuk tujuan militer. Kepatuhan Iran akan ditukar dengan pencabutan sanksi dari para negara penandatangan.

kelangsungan hidup kesepakatan JCPOA 2015 telah terancam sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada 8 Mei 2018, memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang menekan Negeri Paramullah.

Menanggapi pengkhianatan dan penjatuhan sanksi yang kembali dilakukan oleh AS terhadap Iran, Teheran kembali mengaktifkan secara bertahap seluruh fasilitas nuklir rahasianya yang sebelumnya sempat ditutup demi menghormati pakta perjanjian nuklir tersebut sejak Mei 2019.


Menanggapi kebijakan tekanan maksimum Washington, Iran telah melewati batasan kesepakatan selangkah demi selangkah, termasuk melanggar batasan pada uranium yang diperkaya yang ditimbun dan pada tingkat pengayaan fisil.

Iran pada hari Senin mengatakan sedang mengembangkan sentrifugal canggih yang dapat memperkaya uranium lebih cepat. Langkah Iran ini akan semakin memperumit peluang menyelamatkan perjanjian.

Rintangan terbesar untuk membangun senjata nuklir adalah mendapatkan bahan fisil yang cukup, yakni uranium atau plutonium yang sangat diperkaya, untuk inti bom. Tujuan utama kesepakatan nuklir 2015 adalah untuk memperpanjang waktu yang diperlukan Iran untuk membangun senjata nuklir, dari 2 hingga 3 bulan menjadi satu tahun.

Kisruh seputar pakta itu selama setahun terakhir telah menjadi salah satu faktor penyulut eskalasi tensi hubungan antara Iran - AS dan Iran dengan negara Barat lainnya, serta menuai kekhawatiran akan konflik diplomatik hingga geo-politik.

Situs reaktor nuklir Iran di wilayah Fordow saat dilihat dari satelit militer Amerika Serikat. Situs nuklir ini memiliki sistem keamanan yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan. (Foto: Istimewa)
Berbicara pada konferensi pers di akhir kunjungan ke Cina, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah terbaru Iran sebagai kabar buruk, dan ia akan berbicara dengan Trump dan Iran dalam beberapa hari mendatang.

Sejarah Panjang Pengembangan Nuklir Iran

Pada awal 1957, AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan AS. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan AS.

AS mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik.

Namun badan rahasia AS, CIA, menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom.

Pada tahun 2003, Badan Energi Atom Internasional, IAEA, menyatakan bahwa mereka menemukan pabrik uranium berkadar tinggi di Natanz, Iran. Produksi uranium Iran sempat dihentikan, namun pada tahun 2006 Iran kembali memproduksi setelah mengadakan perjanjian dengan IAEA.


Pada akhir tahun 2006 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi terhadap Iran karena tidak juga menghentikan program nuklirnya. Sanksi kemudian meluas menjadi larangan jual beli senjata, larangan berkunjung, larangan jual beli minyak dan larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama tujuh tahun.

Sanksi tersebut melumpuhkan perekonomian Iran karena harga minyak turun dan mata uang Iran turun 80%. Tahun 2012 Iran bahkan mengalami inflasi. Tapi seakan tidak jera setelah diselidiki oleh AS, Iran malah menambah produksi uraniumnya menjadi 19 ribu sentrifugal yang awalnya hanya berjumlah 3.000 sentrifugal pada tahun 2007.

Pemerintah AS percaya bahwa sanksi yang diberikan cukup membuat Iran jera. Presiden Iran Hassan Rouhani juga dinilai lebih terbuka dari presiden sebelumnya sehingga lebih mudah diajak bernegoisasi.

Sebuah kelompok anti-nuklir di AS mengatakan bahwa jika Iran tidak dicegah, Iran dapat memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu sebulan. Namun menurut Mark Hibbs, seorang ahli kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, jika Iran terus dicegah, Iran baru bisa memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu satu hingga tiga tahun.

Negara barat menuntut agar Iran mengurangi 20% kadar uranium yang sedang diproduksi. Selain itu Iran juga harus mengurangi stok uranium, berhenti membangun fasilitas pengayaan uranium baru dan menghentikan reaktor di Arak, yang dapat menghasilkan plutonium bahan alternatif untuk bom nuklir.

Iran meminta negara Barat mengurangi sanksi dan memperbolehkan Iran memproduksi uranium berkadar rendah sesuai perjanjian Non-Proliferasi (pembatasan kepemilikan senjata nuklir) yang telah ditandatangani Iran pada 1 Juli 1968.

Iran Mampu Buat Senjata Nuklir dalam Hitungan Bulan 


Israel merupakan negara yang paling "getol" menentang pengembangan nuklir Iran. Musuh bebuyutan Teheran itu merasa terancam jika Iran berhasil membuat senjata nuklir di kawasan bergejolak tersebut.
Sejumlah situs reaktor nuklir Iran, yang disebar di sejumlah wilayah negara itu. (Gambar: Istimewa)

Iran Klaim Berhasil Produksi Jet Tempur Generasi Keempat

Iran melakukan uji terbang jet tempur Kowsar buatan dalam negeri yang diklaim merupakan pesawat tempur generasi keempat pada 21 Agustus 2018. (Foto: Tasnimnews.com)
"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran mengklaim telah berhasil memproduksi jet tempur canggih buatan dalam negeri, jet tempur tersebut kini memasuki proses produksi skala besar untuk memperkuat militer negara itu.

Iran bahkan sempat memamerkan salah satu prototipe jet tempur yang dinamai Kowsar tersebut pada Agustus lalu.

"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara," kata Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dalam peresmian pembuatan jet tempur tersebut, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (3/11).

Dalam gambar yang ditunjukkan televisi Iran, pada 21 Agustus lalu, Presiden Hassan Rouhani terlihat duduk di kokpit Kowsar, yang diklaim merupakan jet tempur generasi keempat, pada ajang Industri Pertahanan Nasional.

Cuplikan tes terbang Kowsar juga sudah diedarkan oleh berbagai media resmi, walaupun tayangan langsung harus terputus sebelum jet lepas landas. Iran mengatakan Kowsar "100 persen buatan dalam negeri".

Media Iran melaporkan bahwa jet baru tersebut dilengkapi dengan sistem avionik terkini dan radar multiguna. Pesawat itu diklaim Teheran sanggup membawa berbagai jenis senjata dan akan digunakan untuk mendukung misi jangka pendek angkatan udara.

Pemerintah Iran menyatakan akan memproduksi secara besar-besaran jet tempur Kowsar secepatnya, guna mengantisipasi meningkatnya konflik antara negeri paramullah tersebut dengan Amerika Serikat, sejak era kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Namun, sejumlah pengamat dan analis militer meyakini bahwa Kowsar adalah jiplakan dari jet tempur F-5 buatan Amerika Serikat yang hanya dimodifikasi. AS memproduksi F-5 sekitar 1960-an.

Iran memproduksi secara massal jet tempur Kowsar yang diklaim 100 persen buatan dalam negeri, di Perusahaan Industri Manufaktur Pesawat Iran di Provinsi Isfahan pada 3 November 2018. (Foto: defanews.ir)

Misil S-300 Bentengi Iran dari Serangan Amerika dan Israel

Peluncuran sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. Setelah melalui jalan yang panjang dan melelahkan, Republik Islam Iran akhirnya kini memperoleh sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. Diyakini kecanggihan teknologi S-300 akan merubah peta kekuatan di Timur Tengah. (Foto: istimewa)
"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami,"
JAKARTA -- Sebagai sebuah negara adidaya, Amerika Serikat ternyata hingga kini belum juga bisa menyentuh negara yang paling dibencinya di Timur Tengah, yaitu Iran. Walau AS dan negara-negara sekutunya sudan menjatuhkan sanksi berkali-kali kepada negara para mullah tersebut, Iran bukannya melemah tapi justru semakin kuat dan mandiri.

Salah satu yang dikagumi kalangan internasional saat ini terhadap Iran adalah kemandirian dalam membangun dan menciptakan teknologi terbaru terutama dalam hal persenjataan dan sistem pertahanan.

Meski beribu sanksi menghadang, Republik Islam Iran mampu menciptakan inovasi dan peralatan tempur secara mandiri, walau AS, Israel dan sekutunya tetap berusaha menghalangi upaya Iran tersebut.

Berita terheboh saat ini mengenai Iran adalah pembelian sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. AS, Israel dan para sekutunya selama ini terus berusaha menghalangi Iran memiliki sistem pertahanan canggih tersebut. Karena dikhawatirkan akan mengancam hegemoni Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Atase Militer Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Kolonel Shahriar Dasin mengatakan, dirinya sudah tidak merasa aneh dengan sikap Amerika Serikat (AS) yang coba menjegal upaya Iran membeli jet tempur Su-30 dari Rusia. Menurutnya, hal semacam itu sudah dilakukan AS sejak tiga dekade lalu.

"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami," ucap Dasin pada Jumat (15/4).

Daya jangkau sistem pertahanan udara S-300 yang dibeli Iran dari Rusia, jika ditempatkan di kawasan Timur Tengah. (Gambar: istimewa)
Dasin menuturkan, meski Iran sedang mencoba membeli sejumlah peralatan militer dari negara lain, tapi fokus utama Iran sejatinya adalah mengembangkan sendiri alutista dan persenjataan mereka. Hal ini dilakukan agar di masa depan Iran tidak bergantung pada negara lain. 

S-300 Membuat Iran Kebal dari Serangan

Terkait pembelian sistem pertahan udara S-300 itu, analis politik asal Turki, Hakan Gunes menuturkan, sistem pertahanan udara S-300 akan membuat Iran kebal dari ancaman Israel dan Arab Saudi, dua rival terbesarnya di Timur Tengah.

"Israel dan Arab Saudi lebih dari sekali membuat pernyataan tentang serangan rudal jarak menengah pada infrastruktur Iran. Pernyataan-pernyataan ini menjadi tidak relevan sekarang, bila melihat fakta Iran telah menerima S-300," kata Gunes, seperti dilansir Sputnik pada Jumat (15/4).

Dirinya juga menuturkan, S-300 sejatinya bukanlan senjata yang ditujukan untuk menyerang, tapi senjata yang didesain untuk bertahan. Sehingga, S-300 pada faktanya tidak akan memberikan ancaman kepada negara lain.


Namun, lanjut Gunes, akibat pernyataan-pernyataan yang kerap dibuat Saudi dan Israel, S-300 kemudian terlihat seperti yang mengancam. Inilah yang pada akhirnya akan membuat hubungan antara Iran dengan negara-negara anti-Iran lainnya, seperti Turki dan Qatar akan terus memburuk.

"Terus memburuknya situasi terkait dengan pengiriman S-300 buatan Rusia ke Iran tidak lepas dari provokasi yang dibuat Arab Saudi dan Israel. S-300 adalah senjata defensif, dan bukan senjata ofensif," tutur Gunes.

Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, saat bertemu sekutunya Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: istimewa)

Iran: Indonesia adalah Sekutu Kami

Pasukan militer Iran. Indonesia dan Republik Islam Iran hingga kini terus memperkuat kerjasama di berbagai bidang. Selain bidang politik dan ekonomi, kerjasama militer dan pertahanan akan terus ditingkatkan. Iran menyatakan siap berbagi teknologi pertahanan dengan Indonesia. (Foto: istimewa)
"Hubungan bilateral ekonomi dan politik antara Indonesia dan Iran berada di titik memuaskan, namun di bidang pertahanan masih kami upayakan agar setara dengan bidang politik dan ekonomi,"
JAKARTA -- Indonesia sudah menjalin hubungan diplomatik cukup lama dengan Republik Islam Iran. Meski jauh dari pemberitaan media, kerjasama antara Indonesia dengan Iran menyentuh berbagai macam aspek, seperti kerjasama riset dalam bidang kesehatan, pendidikan, diplomasi luar negeri, bahkan kerjasama dalam bidang militer.

Seperti yang disampaikan Atase Militer Iran di Indonesia, Kolonel Shahriar Dasin beberapa hari lalu. Dasin mengatakan pihaknya siap untuk melakukan kerja sama dengan militer Indonesia seperti halnya yang sudah dilakukan kedua negara dalam sektor ekonomi dan politik.

"Kami sedang berusaha meningkatkan hubungan di bidang pertahanan, dan kami bertekad dan siap melakukan kerja sama di bidang pertahanan dan militer," kata Dasin yang ditemui di Jakarta, (15/4/16).

Kolonel Dasin menyebutkan, Indonesia merupakan sekutu negaranya, meski begitu dia juga mengaku kalau hubungan kedua negara di bidang militer dan pertahanan masih kurang berjalan mulus. Dasin mengungkapkan kehadirannya di Indonesia untuk mempererat hubungan pertahanan militer kedua negara.

"Saya beranggapan bahwa, Ini merupakan tugas bagi saya dan kolega di Indonesia untuk meluaskan hubungan," kata dia. Dasin menambahkan pihaknya juga siap untuk memproduksi persenjataan bersama, menjaga perdamaian bersama dan bisa latihan militer bersama.

"Hubungan bilateral ekonomi dan politik antara Indonesia dan Iran berada di titik memuaskan, namun di bidang pertahanan masih kami upayakan agar setara dengan bidang politik dan ekonomi," ujarnya.


Ia menyatakan pihaknya siap bagi pengalaman militer, penemuan di bidang industri pertahanan, dan siap bagikan pengalaman di bidang perlawanan terorisme. Jika diperhatikan, kata dia, peluangnya begitu besar dan banyak hal yang bisa dikerjakan bersama.
Atase Militer Iran di Indonesia, Kolonel Shahriar Dasin. (Foto: istimewa)

Gunakan Teknologi Kuno, Jet Tempur Buatan Iran Jadi Bahan Tertawaan AS dan Israel

Presiden Iran Hassan Rouhani duduk di kokpit jet tempur Kowsar Iran, Selasa (21/8/2018). (Foto:IRNA)
"Ini hampir seperti peristiwa yang menggelikan, ini adalah pesawat yang tidak kami gunakan dalam 20 tahun, kecuali untuk melatih negara lain dalam cara menerbangkan pesawat Amerika. Teknologi kuno ini tidak mengintimidasi."
TEHERAN -- Embargo militer tidak menyurutkan Republik Islam Iran untuk bangkit dan mandiri dalam bidang teknologi persenjataan. Negeri paramullah tersebut secara perlahan mampu menciptakan sejumlah persenjataan seperti tank, rudal, drone dan bahkan pesawat tempur.

Iran mengklaim telah berhasil menciptakan jet tempur generasi keempat yang diberi nama Kowsar. Stasiun televisi pemerintah Iran memamerkan adegan pesawat Kowsar saat lepas. Video itu direkam dari dalam kokpit.

Peluncuran Kowsar bahkan dihadiri langsung Presiden Hassan Rouhani yang duduk di kokpit sambil memeriksa jet tempur tersebut. Dalam laporan Selasa, kantor berita pemerintah Iran, Fars, mengatakan fungsi utama pesawat tempur itu adalah untuk misi pelatihan. Iran mengklaim, Kowsar merupakan jet tempur yang diproduksi sendiri oleh Iran dengan sistem avionik terdepan.

Jet Tempur Buatan Iran Jadi Bahan Tertawaan Barat

Kowsar, pesawat tempur baru Iran yang diklaim buatan dalam negeri, juga menarik perhatian para pakar militer Barat. Peluncuran pesawat itu dianggap sebagai kejadian menggelikan, karena Kowsar bisa jadi target empuk jet tempur canggih Amerika Serikat (AS), seperti F-22.


Sebab, setiap pesawat tempur Iran yang menyeberang ke Irak atau Suriah akan menghadapi jet-jet tempur canggih AS, termasuk F-16 dan F-22. Dua jet tempur AS itu rutin terbang di atas wilayah Irak dan Suriah sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi koalisi pimpinan AS melawan kelompok militan Islamic State atau ISIS.

Kowsar, jet tempur buatan Iran yang dianggap merupakan hasil jiplakan teknologi lama pesawat tempur Amerika Serikat. (Foto: IRNA)
Para pakar Barat meyakini, pesawat tempur itu mirip pesawat F-5 Tiger Amerika yang sudah usang dan mempertanyakan keampuhan senjatanya. Namun, mereka tetap menghargai pesawat yang berpotensi untuk pelatihan.

"Ini hampir seperti peristiwa yang menggelikan, ini adalah pesawat yang tidak kami gunakan dalam 20 tahun, kecuali untuk melatih negara lain dalam cara menerbangkan pesawat Amerika. Teknologi kuno ini tidak mengintimidasi." kata Michael Pregent, seorang analis Timur Tengah di Hudson Institute yang berbasis di Washington, dalam wawancara dengan VOA Persian, Minggu (26/8/2018). .

Pregent mengatakan keterbatasan Kowsar sebagai pesawat tempur modern dapat menjadi bumerang bagi Iran.

"Iran ingin dapat memproyeksikan kemampuan ofensif (udara) di Selat Hormuz dan setidaknya menunjukkan kemampuan yang sama untuk menyerang pasukan Amerika di Irak dan Suriah. Tapi saya pikir (peluncuran Kowsar) akan menjadi bumerang, karena AS akan meningkatkan postur pertahanannya di Irak dan Suriah dan membuatnya sangat mudah untuk menembak salah satu dari mereka," ujarnya.

Jet tempur buatan Iran dianggap hanya akan menjadi sasaran empuk bagi jet-jet tempur canggih negara-negara yang menjadi musuhnya, jika terjadi perang terbuka. (Foto: IRNA)

Rusia Beralasan Tempatkan Jet Tempur Pembom di Iran untuk Hancurkan ISIS

Rusia semakin mengintensifkan kekuatan militernya untuk mempercepat penumpasan gerombolan teroris ISIS. Guna mempersingkat jarak tempuh armada tempurnya, kini Rusia menempatkan pesawat tempur pembom berkemampuan nuklir di Iran. (foto: istimewa)
"Tidak ada suplai, penjualan atau pengiriman pesawat tempur untuk Iran. Jet-jet tempur ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia dengan persetujuan Iran untuk operasi anti-teroris di Suriah atas permintaan resmi pemerintah Rusia,"
HAMADAN -- Tindakan mengejutkan terjadi dalam hubungan militer antara Federasi Rusia dengan Republik Islam Iran, dikabarkan untuk mempercepat penumpasan kelompok teror ISIS, Pesawat-pesawat Rusia telah melancarkan serangan udara atas kelompok Islamic State di Suriah dari sebuah pangkalan udara di Iran untuk pertama kalinya. Ini merupakan perkembangan besar dari kolaborasi dua sekutu utama pemimpin Suriah Bashar al-Assad itu.

Media Rusia mengatakan, Selasa (16/8), bahwa sejumlah pesawat pembom jarak jauh Sukhoi Su-34 dan Tupolev Tu-22M3 lepas landas dari Hamadan, kota di wilayah barat Iran, untuk menghantam target-target IS di dekat Aleppo, Suriah. 


Dengan mengizinkan pangkalannya dipakai Rusia, Iran telah meninggalkan kebijakan operasi-operasi militer tertutup dalam konflik regional. Diyakini bahwa peristiwa pengerahan pesawat Rusia dari Iran itu adalah yang pertama dalam lebih dari setengah abad terakhir.

Seperti dilansir Al-Masdar, situs berita yang meliput konflik-konflik dunia Arab, merilis sejumlah foto pesawat-pesawat Rusia di pangkalan udara Hamadan, dan menyebutkan akan memangkas waktu tempuh ke Suriah sekitar 60%. 


Lebih lanjut disebutkan pangkalan udara Khmeimim di Latakia, Suriah, tidak bisa digunakan untuk mengerahkan pesawat-pesawat pembom besar seperti TU-22M3.
Pesawat tempur pembom TU-22M3, Rusia, di pangkalan militer Hamadan, Iran. (foto: istimewa)
“Jarak penerbangan-penerbangan ini (dari pangkalan Rusia) setara 2.150 km untuk menuju target dekat Palmyra. Sebagai perbandingan, pangkalan Hamadan di Iran hanya sekitar 900 km dari Palmyra,” tulis al-Masdar.

Rusia mengatakan, penggunaan pangkalan angkatan udara di Iran untuk misi pengeboman di Suriah tidak melanggar reolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, meskipun negaranya dilarang mengirimkan jet tempur untuk Teheran.

"Tidak ada suplai, penjualan atau pengiriman pesawat tempur untuk Iran. Jet-jet tempur ini digunakan oleh Angkatan Udara Rusia dengan persetujuan Iran untuk operasi anti-teroris di Suriah atas permintaan resmi pemerintah Rusia," kata Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, Rabu, 17 Agusus 2016, seperti ditulis kantor berita Rusia, TASS.


Baca Juga: Rusia Ternyata Diam-diam Tempatkan Jet Tempur Pembom TU-22M3 di Iran

Pernyataan Lavrov itu untuk menanggapi komentar juru bicara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mark Toner, yang sebelumnya mengatakan, Rusia mungkin melanggar Resolusi PBB 2231 yang menggunakan wilayah Iran untuk melakukan serangan udara ke Suriah. Salah satu butir isi resolusi tersebut berbunyi pelarangan, penjualan atau memindahkan jet perang ke Iran kecuali mendapatkan persetujuan dari Dewan Keamanan PBB.
Jarak tempuh yang harus dilalui pesawat tempur Rusia untuk mencapai lokasi ISIS di Suriah, sebelum dan sesudah menggunakan pangkalan militer Iran di Hamadan.
Menurut Toner apa yang dilakukan oleh Rusia itu sangat disayangkan tetapi tidak mengejutkan. “Serangan udara Rusia yang dimaksudkan menghatam benteng pertahananan Negara Islam Irah dan Suriah (ISIS) namun kenyataannya menyasar pasukan oposisi moderat di Suriah.”

Semakin kuatnya hubungan militer antara Rusia dan Iran, semakin membuat Amerika Serikat Israel serta Arab Saudi yang selama ini memusuhi negara Islam itu, semakin geram. Pasalnya rencana Israel dengan dibantu AS dan Arab Saudi untuk menyerang Iran akan semakin sulit untuk dilaksanakan. Tentunya mereka akan berpikir seratus kali jika menyerang Iran artinya sama dengan membuka permusuhan baru dengan militer Rusia.

Pemerintah Iran Membenarkan

Menanggapi pemberitaan yang berkembang terkait adanya pesawat pembom Rusia di Iran, Kepala dewan tertinggi pertahanan nasional Iran, Ali Shamkhani, membenarkannya. “Teheran dan Moskwa menjalin kerjasama strategis dalam pertempuran melawan terorisme di Suriah dan kami punya sumber daya dan kemampuan untuk kolaborasi ini,” ujarnya seperti dikutip kantor berita pemerintah, IRNA.


Iran telah terlibat banyak dalam melindungi rejim Assad, dengan mengirimkan para komandan Garda Revolusi paling berpengalaman ke Suriah untuk merencanakan dan mengawasi operasi serta rekrutmen para pengungsi Afghanistan agar berperang melawan para pemberontak.
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat bertemu dengan Presiden Iran, Hassan Rouhani. (foto: istimewa)

Rusia Ternyata Diam-diam Tempatkan Jet Tempur Pembom TU-22M3 di Iran

Deretan pesawat tempur pembom TU-22M3 Rusia di pangkalan militer Hamadan, Iran. Dikabarkan setelah mendapatkan serangan opini dan kritikan dari sejumlah negara, Rusia telah menarik kembali sejumlah pesawat tempur pembom TU-22M3 yang sebelumnya sempat ditempatkan di Iran. Namun, pemerintah Iran membantah pemberitaan tersebut, sehingga kini kabar keberadaan pesawat pembom berkemampuan nuklir tersebut tetap jadi misteri. (Foto: istimewa)
“Rusia hendak menunjukkan bahwa mereka adalah negara adidaya yang akan menjamin bagian mereka dalam masa depan politik Suriah dan tentu ada sikap pamer dan tak pantas di bidang ini,"
TEHERAN -- Setelah Rusia melakukan gebrakan menggunakan pangkalan militer Iran di Hamadan untuk pangkalan aju pesawat pembom, dikabarkan Rusia Sudah menarik kembali seluruh armada pesawat tempurnya dari Republik Islam itu.

Aviasi tempur Rusia tak lagi menggunakan markas Hamadan di Iran untuk memerangi ISIS di Suriah. Pengumuman tersebut dikeluarkan pada 22 Agustus oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov. Alasan penarikan adalah karena semua tugas yang diemban oleh pesawat pengebom jarak jauh Tu-22M3 dan pesawat tempur Su-34 telah tercapai, terangnya. 


Pesawat tersebut telah melakukan sejumlah serangan dadakan dari Hamadan dan kembali ke Rusia. Namun, Konashenkov menyebutkan bahwa markas Iran mungkin boleh digunakan kembali tergantung pada situasi di Suriah.

Sedangkan informasi lainnya menyebutkan alasan penarikan adalah, pemimpin politik Rusia gagal menyepakati pernyataan publik mereka dengan pihak Iran sehingga Teheran menjadi keberatan. Demikian pendapat wakil kepala Institut CIS dan analis militer Vladimir Yevseyev. 

Rusia disebutkan melakukan kesalahan perhitungan diplomatik karena menyiarkan penggunaan pangkalan militer tersebut kepada media massa tanpa mendapat izin resmi dari pemerintah Iran.
Penggunaan pangkalan militer Hamadan di Iran di tujuan untuk mempermudah penumpasan kelompok teroris ISIS di sejumlah wilayah di Suriah. Penggunaan pangkalan militer Hamadan memperpendek jarak tempuh pesawat tempur pembom dalam menyerang posisi kelompok ISIS. (Gambar: Istimewa)
“Rusia hendak menunjukkan bahwa mereka adalah negara adidaya yang akan menjamin bagian mereka dalam masa depan politik Suriah dan tentu ada sikap pamer dan tak pantas di bidang ini," kata Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan dilansir Associated Press.  Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Moskow mengumumkan bahwa pesawat Rusia Tu-22M3 mulai menggunakan markas Hamadan untuk misi tempur.

Namun, Rusia menyayangkan sikap Iran tersebut, dan menganggap Iran tidak menyampaikan secara penuh bagaimana seharusnya mekanisme kerjasama penggunaan pangkalan militer Iran itu. Selain itu, terdapat sejumlah alasan politik yang mengharuskan pesawat Tu-22M3 dan Su-34 kembali ke Rusia.


“Teheran adalah mitra yang sangat rumit dan informasi bagi media perlu dikeluarkan bersama-sama. Mereka seharusnya mengatur konferensi pers bersama Duta Besar Iran untuk Moskow Mehdi Sanayee dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dengan pernyataan gabungan mengenai penggunaan markas. Namun, kita malah mengumumkan hal tersebut sendiri ke media lewat militer,” kata Yevseyev.

Untuk memastikan operasi penuh aviasi Rusia, perlu didirikan pos komando di Iran dengan jaringan komunikasi yang relevan. Selain itu, perlu dibangun hanggar untuk menyimpan amunisi bagi Tu-22M3 (tiap pesawat dapat mengangkut hingga 20 ton amunisi), yang mungkin perlu diperbaiki dan dijaga.

“Status personel militer Rusia di Iran masih menjadi isu besar. Dalam kasus ada insiden, akan muncul masalah serius. Mereka tak punya imunitas diplomatik seperti tentara kami di Suriah,” kata Yevseyev.

Iran Membantah Rusia Tarik Armada Tempur

Kesimpangsiuran dengan informasi penarikan armada tempur Rusia dari pangkalan militer Iran di Hamadan semakin bertambah, hal ini setelah ketua parlemen Iran, Ali Larijani, mengungkapkan bahwa Rusia masih menggunakan pangkalan militernya.

Sejumlah spesifikasi kecanggihan pesawat tempur pembom TU-22M3 buatan Rusia.

Antisipasi Serangan Israel dan AS, Iran Tempatkan Misil S-300 di Situs Nuklir Fordow

Tak gentar menghadapi ancaman militer Israel dan Amerika Serikat, kini Iran menempatkan sistem pertahanan udara S-300 di situs nuklir rahasia Fordow. Dengan sistem pertahanan ini menjadikan wilayah udara Iran menjadi yang terkuat di Timur Tengah. (Foto: Istimewa)
“Hari ini, “kita melihat bahwa setelah penandatanganan kesepakatan nuklir, ketika kepercayaan berbagai negara ‘di Iran telah dipulihkan, persahabatan lama ada antara Rusia dan Iran telah menguat kembali,”
FORDOW -- Republik Islam Iran sepertinya tak pernah gentar menghadapi ancaman dari Amerika Serikat dan Israel terkait dengan program nuklirnya. Meski berkali-kali Israel dan AS akan menyerang Iran, jika negara itu tetap melanjutkan program nuklirnya, Iran justru semakin mempercepat pembangunan sejumlah fasilitas pembangkit nuklirnya.

Kini, guna menghadapi kemungkinan serangan dari Israel dan AS, Iran telah mengerahkan sistem rudal pertahanan udara S-300 yang telah diterima dari Rusia di sekitar fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di Fordow yang terletak  125 km sebelah barat daya dari Teheran.

Berbicara kepada televisi negara pada Minggu (28/08/16), Farzad Esmaili, komandan Angkatan Pertahanan Udara p angkalan Khatam ol-Anbia, Iran, menjelaskan bahwa “prioritas utama kami adalah untuk melindungi fasilitas nuklir Iran dalam kondisi apapun, katanya, Senin (29/8).


Fasilitas pengayaan uranium bawah tanah Fordow, diungkapkan kepada dunia pada tahun 2009 dan belum terlibat melakukan pengayaan uranium sejak Januari 2016, ketika ketentuan kesepakatan nuklir Iran diberlakukan. 

Fasilitas ini dibangun sekitar 90 meter di bawah gunung. Para pejabat Iran telah sejak mengatakan bahwa keputusan untuk membangun fasilitas bawah tanah karena ancaman oleh Israel untuk menyerang fasilitas tersebut.
Situs reaktor nuklir Iran di wilayah Fordow saat dilihat dari satelit militer Amerika Serikat. Situs nuklir ini memiliki sistem keamanan yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan. (Foto: Istimewa)
Iran punya pengalaman buruk dengan Israel ketika Tel Aviv melakukan serangan udara kejutan pada reaktor nuklir Irak pada tahun 1981. Peristiwa lainnya, pada bulan September 2015, Wakil Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Asqar Zareaan mengungkapkan 'adanya upaya sabotase di pabrik pengayaan uranium Fordo dan pasukan keamanan Iran' bereaksi cepat terhadap musuh dan berhasil menggagalkan mereka.

Tindakan cepat dari pasukan keamanan Iran telah menggagalkan plot untuk melumpuhkan situs nuklir Fordow. Situs nuklir Fordow bertindak sebagai cadangan untuk fasilitas nuklir Natanz dan musuh sedang berusaha untuk melemahkan backup ini melalui metode selain operasi militer. Karena itulah Iran terus memperkuat pertahanannya dalam menjaga situs nuklir negara itu, termasuk Fordow.


Menurut analis militer Iran dan Barat, fasilitas nuklir Fordow tidak dapat dirusak melalui operasi militer, karena kuatnya sistem pertahanan yang ditanam di wilayah tersebut.

Sementara itu, mengomentari penyebaran sistem rudal ini, Sajjad Tayeri, seorang ahli hubungan Iran-Rusia, menyarankan bahwa kabar ini  sebagai indikasi lain kerjasama antara Rusia dan Iran telah mencapai tahap yang strategis.

“Hari ini, “kita melihat bahwa setelah penandatanganan kesepakatan nuklir, ketika kepercayaan berbagai negara ‘di Iran telah dipulihkan, persahabatan lama ada antara Rusia dan Iran telah menguat kembali,” kata Tayeri, seperti dilansir Sputnik Persia.

Sejumlah situs reaktor nuklir Iran, yang disebar di sejumlah wilayah negara itu. (Gambar: Istimewa)

Iran: Embargo Jadikan Militer Kami Salah Satu yang Terkuat di Dunia

Embargo militer dan ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya untuk melemahkan Iran, justru menjadi pemicu bangsa Iran melakukan inovasi dan pembangunan dari hasil keringat bangsanya sendiri. Embargo justru membuat militer Iran menjadi salah satu yang terkuat di dunia. (Foto: istimewa)
"Tentara Republik Islam Iran dianggap tidak hanya sebagai salah satu dari tentara terkuat di wilayahnya, tetapi juga sebagai salah satu yang terkuat di dunia,”
JAKARTA -- Tak bisa dipungkiri, Republik Islam Iran adalah salah satu negara paling 'tahan banting' saat ini. Mendapatkan embargo militer, ekonomi dan sejumlah embargo lainnya dari negara-negara barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, dikucilkan dalam sejumlah pergaulan internasional, bahkan diancam akan diserang oleh AS, Israel dan sekutunya, namun hal itu tidak membuat Iran menjadi lemah dan runtuh.

Perjalanan waktu membuktikan, alih-alih membuat Iran bertekuk lutut, negara Islam itu justru semakin maju dan kuat dalam berbagai bidang. Salah satu kemajuan paling pesat yang dilakukan Iran dan mendapat pujian dari kalangan internasional adalah perkembangan teknologi militer dan pertahanan negara itu yang mampu mandiri di tengah keterbatasan dan embargo.

Setelah revolusi Islam di Iran, pasukan pertahanan Republik Islam Iran dikembangkan dengan peningkatan terhadap sumber daya manusia, mengandalkan potensi-potensi nasional, dan mengurangi ketergantungan terhadap negara luar.

“Sekarang setelah berakhirnya perang delapan tahun yang dipaksakan, dengan segudang pengalaman itu, Tentara Republik Islam Iran dianggap tidak hanya sebagai salah satu dari tentara terkuat di wilayahnya, tetapi juga sebagai salah satu yang terkuat di dunia,” tutur Atase Militer dan Pertahanan Iran Kolonel Shahriar Dasin, (16/4/).

Parade militer Iran. (Foto: istimewa)
Kolonel Dasin mengungkapkan, saat ini Iran telah mengembangkan sistem pertahanan yang berbasis pengetahuan, yang dikontribusikan untuk berbagai bidang pendidikan. Demikian juga operasi militernya semata mengandalkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dari para komandan, staf dan pakar militer dan pertahanan mereka.

“Dengan hal ini, tingkat persiapan tertinggi telah dicapai melalui wilayah darat, air, dan udara. Sejauh ini, kami juga sudah merekonstruksi dan memperbarui perlengkapan serta fasilitasnya. Hasil ketrampilan para pribumi pun bisa kita nikmati. Baik produksi persenjataan dan peralatan militer modern dan kelengkapan kebutuhan pada segala bidang juga telah tercapai,” ujarnya.

Secara terbuka, atase militer Negeri Para Mullah itupun membeberkan keunggulan yang telah dicapai pasukannya selama ini. Tidak terlepas dari pengalaman berharga yang dipetik selama delapan tahun berperang dengan negara-negara Barat.

Dari segi angkatan udara (AU), perkembangan ilmu pengetahuan di angkatan bersenjata Republik Islam Iran, berbagai macam pesawat berhasil dikembangkan dan diproduksi secara mandiri. Kemajuan pertahanan udara yang dimaksud, meliputi pembuatan pesawat tempur, pesawat transportasi dan pesawat latihan.

Atase Militer dan Pertahanan Iran Kolonel Shahriar Dasin. (Foto: istimewa)
“Angkatan udara kami juga memproduksi berbagai jenis misil, perlengkapan perang elektronik, peralatan laser dan suku cadang sensitif dan rumit dari pesawat tempur dan pengebom,” papar dia.

Persenjataan angkatan laut (AL) juga disebutnya tidak kalah muktahir. Kini AL Iran tidak hanya mampu mendesain dan memproduksi macam-macam kapal, kapal selam, dan perlengkapan maritim lainnya. Akan tetapi, juga mampu menunjukkan eksistensi yang kuat pada wilayah air internasional. 


Termasuk membantu memerangi terorisme dan bajak laut, serta mendukung secara aktif pelestarian keamanan jalur pelayaran bersama dengan AL lainnya di perairan internasional.
Misil balistik Iran. Negara-negara Barat menganggap, pengembangan rudal balistik Iran, menjadi ancaman terbesar bagi musuh-musuh Teheran tersebut. (Foto: istimewa)

Semakin Ditekan Barat, Iran Malah Tingkatkan Produksi Rudal Hingga 3x Lipat

Sebuah rudal permukaan ke permukaan, Iran, Ghasedak didorong melewati potret pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam parade militer tahunan di Teheran, Iran. (Foto: iranian.com)
"Rudal bukanlah sebuah isu yang dapat dinegosiasikan dengan kekuatan dunia manapun. Kesepakatan nuklir bulan Juli 2015 tidak ada hubungannya dengan kemampuan rudal kita,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran bagi Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Uni Eropa yang menjadi rivalnya, benar-benar musuh 'tengil' dan 'badung'. Berharap negeri paramullah itu akan menghentikan pengembangan program rudalnya dengan tekanan sanksi ekonomi dan militer, Teheran malah semakin menjadi-jadi dengan meningkatkan produksi rudal hingga tiga kali lipat.

Komandan senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Amir-Ali Hajizadeh telah mengumumkan bahwa meskipun semua upaya yang dilakukan oleh musuh untuk membatasi kekuatan defensif Iran, tapi itu memiliki efek sebaliknya dimana produksi rudal telah meningkat tiga kali lipat.

Dalam pidato pada hari Rabu (7/3), Hajizadeh menuduh Amerika Serikat menggunakan standar ganda dalam hubungan internasional, karena mereka menuangkan uang untuk memperbesar persenjataan nuklir mereka, namun menolak Iran menggunakan kesempatan untuk mengembangkan program rudalnya.

Sedangkan Wakil Komandan Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Salami mengatakan bahwa Iran tidak akan pernah menegosiasikan kekuatan misilnya dengan kekuatan dunia manapun.

"Rudal bukanlah sebuah isu yang dapat dinegosiasikan dengan kekuatan dunia manapun. Kesepakatan nuklir bulan Juli 2015 tidak ada hubungannya dengan kemampuan rudal kita. Iran bertindak lebih independen daripada kekuatan lain yang sejalan dengan penguatan kemampuan pertahanannya," katanya, (02/18).

Komandan Kedua Pasukan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Hossein Salami. (Foto: en.radiofarda.com)
Salami malah menyarankan pihak barat dan negara-negara lain yang berperang dengan negara itu sudah saatya menerima kemunculan Iran sebagai sebuah negara yang memiliki "kekuatan logika dan pencegahan" secara bersamaan.

Sebelumnya, pejabat Iran telah menolak permintaan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian untuk membatasi program rudalnya setelah satu hari diskusi menegangkan di Teheran pada hari Senin (5/3), yang bertujuan untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran.

Le Drian mengunjungi Teheran dan bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, untuk menekan Iran segera menghentikan pengembangan rudal dan senjata nuklirnya.

Kunjungan tersebut terjadi di tengah pertemuan oleh pemerintah Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan 2015 setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meninggalkannya kecuali jika ada pembatasan baru yang sulit dilakukan di Iran sebelum 12 Mei.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian saat bertemu Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif di Teheran pada tanggal 5 Maret 2018. (Foto: Atta Kenare/AFP)

Trump Buat Masalah, Iran Ancam Keluar dari Kesepakatan Nuklir Global

Rudal dengan latar belakang spanduk potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Baharestan Square di Teheran, Iran. (Foto kredit: Reuters/Nazanin Tabatabaee Yazdi)
"Kesepakatan nuklir 2015 tidak dapat dinegosiasikan ulang dan kami tidak menerima perubahan apapun baik sekarang atau di masa depan,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran menyatakan akan keluar dari kesepakatan nuklir, jika Presiden Amerika Serikat (AS) terus saja membuat masalah yang akan merusak kesepakatan tersebut.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragachi yang memperingatkan dunia akan menghadapi “krisis nuklir Iran lainnya” jika kesepakatan tahun 2015 runtuh.

Ancaman itu dilontarkan dalam sebuah pidato di Chatham House London pada hari Kamis. Menurut Aragachi, “atmosfer ketidakpastian” di bawah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membuat lebih sulit bagi Iran untuk tetap menjalankan kesepakatan yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tersebut.

”Jika kita kehilangan JCPOA, kita akan menghadapi krisis nuklir lagi, yang akan sangat sulit dipecahkan saat ini. Ini adalah pilihan antara keamanan dan ketidakamanan di tingkat dunia,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (23/2/2018).

Araghchi, yang bertindak sebagai juru runding nuklir utama Iran, juga mengisyaratkan bahwa Iran dapat menarik diri dari kesepakatan tersebut jika negaranya gagal untuk memetik manfaat yang diharapkan dari JCPOA. Faktanya, masih ada beberapa bank internasional yang menolak bekerjasama dengan Iran karena takut terkena sanksi dari AS.

”Bagi Iran, kami seharusnya mendapat keuntungan dari pencabutan sanksi. Jika perusahaan dan bank-bank (internasional) tidak bekerjasama dengan Iran, kami tidak bisa tetap berada dalam kesepakatan yang tidak menguntungkan kami,” katanya merujuk pada hasil kesepakatan nuklir Iran.

Ujicoba misil balistik Iran. AS, Israel dan sejumlah negara Uni Eropa mencurigai Iran telah mampu menyematkan senjata nuklir dalam sistem misil balistiknya. (Foto: Global Look Press)
Araqchi menyatakan Iran siap menghadapi skenario apapun, terkait rencana mundurnya Washington dari JCPOA. "Wilayah kita tidak akan berubah menjadi daerah yang lebih aman tanpa kesepakatan nuklir," katanya.

Trump Ingin Hengkang dari Kesepakatan Nuklir

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump pada Jumat (13/10), menolak mengesahkan kesepakatan nuklir Iran yang tercapai pada 2015 sewaktu Presiden Barrack Obama. Trump mengatakan, dirinya telah mengambil langkah tepat karena mungkin AS telah lolos dari kesepakatan yang bisa menjadi menurutnya menjadi 'salah satu yang terburuk' dalam sejarah.

"Saya mengumumkan bahwa kita tidak dapat dan tidak akan membuat sertifikasi (pengesahan) ini. Kami tidak akan terus menyusuri jalan yang bisa diperkirakan kesimpulannya lebih banyak kekerasan, teror, dan ancaman nyata dari nuklir Iran," kata Trump, dikutip AFP, Sabtu (14/10).

Pernyataan Trump ini ditanggapi cepat oleh Iran. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, kebijakan itu merupakan langkah putus asa Amerika Serikat (AS) untuk merusak kesepakatan multilateral.

Pemerintah Iran menegaskan, tidak akan menerima apa pun perubahan yang dilakukan terhadap kesepakatan nuklir yang dicapai tiga tahun lalu. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, segala bentuk revisi yang dilakukan dalam perjanjian tersebut melanggar komitmen yang sudah dicapai.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Kesepakatan nuklir 2015 tidak dapat dinegosiasikan ulang dan kami tidak menerima perubahan apapun baik sekarang atau di masa depan," tegas Mohammad Javad Zarif seperti dikutip Aljazirah, Ahad (14/1).

Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi, memperingatkan bahwa kemungkinan pencabutan atau perilaku irasional yang berhubungan dengan kesepakatan nuklir akan menjadi kesalahan terang-terangan yang oleh pemerintahan Trump dan akan disesalinya.

"Semua pilihan ada di meja Republik Islam untuk kondisi apapun dan akan dilaksanakan pada hari yang sama dan dengan cepat sesuai dengan jenis keputusan yang dibuat di AS," ujar Qassemi.

Iran pun menyatakan tidak menutup kemungkinan akan memikirkan kembali kesepakatan kerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB, IAEA, jika Amerika Serikat (AS) gagal menjalankan komitmennya. Peringatan itu disampaikan ke Direktur Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Yukiya Amano.

"Jika AS tidak memenuhi komitmennya dalam JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), Republik Islam Iran akan mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kerja sama saat ini dengan Badan Tenaga Atom Internasional," kata kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (9/1/2018).

PBB: Iran Telah Memenuhi Kewajibannya

Di bawah kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani di Wina antara Iran dan enam kekuatan dunia yakni Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Prancis, Inggris dan China. Teheran bersedia mengekang program pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi atau embargo.

Seorang pria Iran membaca sebuah salinan surat kabar harian 'Omid Javan' dengan gambar Presiden AS Donald Trump dengan tajuk utama yang bertuliskan 'Crazy Trump' (Foto: AFP / Getty)
Menurut inspektur PBB, Iran terus mematuhi kesepakatan tersebut. Sebagai gantinya, Iran diizinkan untuk melanjutkan perdagangan minyak dan gas di pasar internasional. Aset Iran di luar negeri senilai USD 100 miliar yang sebelumnya dibekukan juga sudah dibebaskan dari sanksi.

IAEA telah berulang kali mengkonfirmasi kepatuhan penuh Iran terhadap kesepakatan internasional tersebut, dengan mengatakan bahwa Teheran belum memperkaya uranium di atas tingkat yang ditentukan. Pengawas PBB juga menjelaskan bahwa mereka tidak pernah mengalami hambatan dalam memperoleh akses ke lokasi nuklir yang diinginkan di dalam negeri.

Namun, ini semua tetap belum dirasa cukup oleh Donald Trump. Secara keseluruhan, ada empat poin kritis yang ingin dikoreksi Donald Trump dalam perjanjian tersebut. Pada poin pertama Trump meminta inspeksi dapat dilakukan langsung di semua tempat yang diminta oleh badan inspeksi internasional.

Kedua, kesepakatan harus mengatur langkah-langkah yang memastikan Iran tidak akan pernah memiliki persenjataan nuklir. Ketiga, tidak ada kebijakan tanggal kedaluwarsa. Keempat, tidak ada perbedaan antara program rudal jarak jauh dan senjata nuklir Iran yang diatur dalam sanksi tersebut.

Trump mengancam, AS akan menarik diri dari kesepakatan jika 'kecacatan' yang ada dalam kesepakatan itu tidak diperbaki. Komisioner Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Federica Mogherini mengatakan, kesepakatan yang ada saat ini masih berjalan dengan maksimal, yakni selalu terawasinya program nuklir Iran. Trump menginginkan perjanjian itu diperkuat dengan kesepakatan terpisah dalam waktu 120 hari.

Trump harus memutuskan pada pertengahan Januari apakah akan memperpanjang keringanan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran di bawah kesepakatan nuklir atau tidak. Jika Trump gagal untuk menandatangani keringanan dana, yang akan diperpanjang setiap 120 hari, pembatasan terhadap Teheran akan diberlakukan secara otomatis.

Rusia: Trump Membuat Semuanya Jadi Berantakan!

Sekutu Iran, yakni Rusia ikut mengecam kebijakan negatif Trump yang ingin menghentikan dan memperketat sanksi terhadap Iran. Rusia menegaskan akan menentang Paman Sam jika mereka memutuskan hengkang dari kesepakatan nuklir tersebut.

Seorang wanita Iran memegang sebuah plakat yang menunjukkan karikatur Presiden AS Donald Trump ditinju oleh sebuah tangan yang memakai gelang bendera Iran dalam sebuah demonstrasi yang memperingati ulang tahun revolusi Islam 1979 pada 10 Februari 2017 di ibukota Teheran. (Foto: Atta Kenare / AFP)