Jalur Militer: MALAYSIA

Ancaman Perang Terbuka RI vs Malaysia di Perbatasan Negara

TNI memperingatkan Malaysia agar tidak bermain-main dalam soal penyelesaian masalah perbatasan kedua negara. Ketidakseriusan Malaysia dalam menyelesaikan perselisihan perbatasan negara, dapat memicu terjadinya perang terbuka antara militer Indonesia melawan Malaysia.

Menhan Malaysia Kagum dengan Industri Pertahanan Indonesia

Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu. (Sumber foto: kemhan.go.id)
KUALA LUMPUR -- Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu menyatakan ingin mencontoh industri pertahanan Indonesia yang telah sukses membuat dan memproduksi berbagai peralatan tempur seperti kapal perang, pesawat, tank, senapan serbu, amunisi dan berbagai alutsista lainnya.

Dilansir dari laman berita Astroawani.com, Sabu menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan kerja sama Sidang General Border Commitee (GBC) Malindo ke-41 di Pullman Hotel, Legian Bali, Kamis, 15 November 2018.

Mohammad Sabu mengaku sangat kagum dengan Indonesia yang telah mampu memproduksi berbagai alutsista asli buatan dalam negeri.

Sabu berpendapat, melihat masifnya perkembangan industri pertahanan Indonesia, seharusnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tidak perlu lagi harus mengimpor senjata dari negara-negara Barat.

“Bukan kita mau berperang, tetapi daripada kita beli di negara luar, lebih baik dibeli dari kalangan negara ASEAN. Kalau ada pertukaran uang pun, cuma di kalangan negara ASEAN,” katanya.

Mohammad Sabu bahkan mengusulkan agar negara-negara ASEAN membangun industri pertahanan bersama, sehingga mampu membuat berbagai alutsista tanpa harus bergantung pada buatan Barat. 


“Kita tidak mau negara menjadi pengimport terus-menerus, kalau bisa, kita buat sendiri kapal-kapal patroli, kapal perang, dan sebagainya," tegas Mohamad Sabu.

Selain bicara soal industri pertahanan Indonesia, Menhan Malaysia itu juga bicara seputar kerja sama militer negeri jiran tersebut dengan militer Indonesia. 


Sejumlah kerja sama baru telah disepakati, diantaranya menambah pos pengawasan dan pos patroli Laut di perairan Laut Sulu, Filipina, yang berbatasan dengan kedua negara.
Panser Anoa, merupakan salah satu alutsista buatan Indonesia yang telah dibeli oleh militer Malaysia. (Foto: Istimewa)

Walau Sempat Jadi Musuh, Malaysia Kagumi Kehebatan Kopassus

Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit Indonesia yang sudah kenyang dengan pengalaman tempur. Kopassus bahkan pernah adu tanding nyawa di belantara Kalimantan menghadapi pasukan elit Inggris dan Amerika Serikat dalam operasi Dwikora. Dalam operasi yang terkenal dengan istilah 'Ganyang Malaysia' tersebut, Kopassus bahkan juga menghadapi pasukan Gurkha yang dimitoskan sebagai pasukan elit tersadis di dunia. (Foto: Istimewa)
"Kesempatan langka kebersamaan itulah yang mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dekat dengan RPKAD,"
Jalurmiliter -- Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit kebanggaan Indonesia, memiliki banyak, kisah dan catatan sejarah yang panjang dan heroik sejak dibentuknya pasukan elit TNI Angkatan Darat ini.
Kopassus telah menjalani pelbagai pertempuran, mulai dari menghadapi gerilyawan DI/TII sampai operasi pembebasan sandera. Operasi militer Dwikora ke pedalaman Kalimantan menjadi salah satu misi berat yang dijalankan Kopassus. 

Dalam operasi 'Ganyang Malaysia' untuk menghadapi negara boneka Inggris itu, berkali-kali prajurit komando terlibat bentrok dengan pasukan elite Inggris, Special Air Service atau disingkat SAS. Meski terlibat pertempuran, namun tak pernah ada pernyataan perang antara Indonesia dan Malaysia. 

Personel yang tertangkap, atau terbunuh tak diakui keberadaannya. Seragam dan pangkat militer wajib dilepas, seragam diganti dengan seragam hijau Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Dengan demikian, jejak keterlibatan Indonesia terhapus. 

Operasi-operasi yang dilakukan Kopassus bersama Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) berkali-kali merepotkan Malaysia, hingga akhirnya meminta bantuan Inggris. Permintaan itu disetujui, negeri Ratu Elizabeth itu langsung menerjunkan satu batalyon SAS.

SAS merupakan pasukan elite terbaik dunia. Prestasinya sungguh tersohor. Selain SAS, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.
Presiden Soekarno saat memeriksa dan melepas pasukan TNI, dalam operasi Dwikora. (Foto: Istimewa)

Fakta! Malaysia Sangat Iri dengan Jiwa Nasionalisme Rakyat Indonesia

Demonstrasi rakyat Indonesia menyerukan "Ganyang Malaysia" (Foto: istimewa)
"Mungkin sampai masanya, kita belajar dari Indonesia, bagaimana caranya untuk menjadi sebuah negara bangsa."
Malaysia, jika mendengar kata ini bagi rakyat Indonesia akan banyak perbincangan yang bisa dilontarkan. Mulai dari “Ganyang Malaysia”, pulau Sipadan dan Ligitan, maling dan klaim budaya, penyiksaan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan lain-lain.

Tetapi tahukah anda jika Malaysia begitu iri dengan Indonesia di berbagai bidang kehidupan?

Profil negara Malaysia saat ini sangat jauh berbeda dengan Indonesia, apalagi sejak Indonesia membangun dalam era reformasi. Di saat Indonesia semakin kuat dengan demokrasi dan kebangsaannya, Malaysia justru berada dalam titik nadir dalam mempertahankan identitas kebangsaan mereka.

Saat ini pemerintah kerajaan Malaysia sedang gencar-gencarnya mempromosikan gerakan “1 Malaysia” kepada rakyatnya, tetapi slogan itu hanyalah propaganda tiada arti bagi rakyatnya.

Propaganda "1 Malaysia" yang dicetuskan pemerintah Malaysia untuk rakyatnya sendiri dengan harapan dan tujuan agar rakyat Malaysia semakin mencintai negaranya sendiri.

Perbedaan antara kelompok Melayu yang mencakup kurang lebih 60 persen dari total populasi nasional dengan kelompok etnis China dan India sangat mencolok. Di sana setiap etnis akan berdiri dan berkembang di dalam kelompok mereka masing-masing.

Salah satu bentuk pencarian identitas bangsanya sendiri oleh rakyat Malaysia.
Melayu akan belajar di sekolah Melayu, begitu pun dengan etnis China atau India juga akan belajar dan sekolah di kelompoknya masing-masing.

Dominasi kelompok dari etnis China dan India di bidang ekonomi semakin membuat takut suku Melayu yang berusaha terus dominan di dalam pemerintahan dan politik negara.

Apalagi seiring berkembangnya waktu rakyat Malaysia semakin kritis dan apatis dengan pemerintahan mereka, terlebih dengan pihak kerajaan yang kini dianggap hanya sebagai penghias dan tidak memiliki peran berarti dalam struktur pemerintahan.

Suku Melayu di Malaysia yang membanggakan diri mereka sebagai “pribumi sejati” dan dimotori oleh partai penguasa yaitu UMNO, terus berusaha menanamkan ketakutan di kalangan suku Melayu bahwa Melayu akan hilang jika UMNO kalah dalam pemilu dan Islam akan hancur serta Malaysia akan menjadi negara sekuler jika etnis China dan India di negara tersebut diberi ruang dan kekuasaan di bidang politik.

Propaganda UMNO dalam mempertahankan kekuasaan mereka, bahkan dianggap oleh sebagian rakyat Malaysia sudah sampai dalam taraf sangat sangat kasar.

Kembali lagi kepada Indonesia, bagaimana pemerintah atau penguasa Malaysia memandang Indonesia, terutama petinggi dari Partai UMNO? Dalam pandangan pemerintah Malaysia, Indonesia adalah ancaman terbesar mereka di kawasan.

Para demonstran oposisi pemerintah Malaysia menuntut penggantian bendera nasional yang menganggap bendera Malaysia saat ini adalah hasil ciptaan penjajahan Inggris. (Foto: istimewa)
Ditambah lagi dengan profil yang dimiliki oleh Indonesia yaitu memiliki populasi suku Melayu terbesar di dunia (terutama di Riau, Sumatera Utara dan lain-lain), memiliki jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, memiliki jumlah penduduk umat Islam terbesar di dunia, memiliki negara yang begitu luas dan besar, memiliki keragaman budaya yang begitu kaya, hasil alam yang melimpah, keragaman suku, dan sejarah masa lalu yang gilang- gemilang terutama sejarah pada masa kerajaan masa lampau dan sejarah agung dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Bagi penguasa Malaysia, melihat profil yang dimiliki Indonesia, apa yang mereka banggakan dan agungkan di hadapan rakyat Malaysia, langsung hancur ketika dihadapkan dan disandingkan dengan Indonesia.


Sebagian kaum muda Malaysia yang kritis menganggap pemerintah Malaysia yang dikuasai Partai UMNO berusaha memutar-balikkan sejarah Malaysia, salah satu tuntutan mereka adalah mengembalikan bendera nasional Malaysia seperti pada saat perjuangan kemerdekaan dan mengganggap bendera nasional Malaysia saat ini adalah hasil kreasi jajahan Inggris

Untuk menutupi hal tersebut, Kerajaan Malaysia terutama dari partai penguasa selalu mempropagandakan semua keburukan Indonesia. Hal ini diperparah dengan kenyataan adanya jutaan rakyat Indonesia yang bekerja sebagai buruh kasar di Malaysia, semakin memudahkan pemerintah dan media massa penyokong pemerintah untuk menampilkan keburukan Indonesia dan menampilkan superioritas Malaysia di hadapan rakyatnya sendiri.


Tidak bisa dibantah dengan jumlah penduduk Malaysia yang hanya 30 juta jiwa, berbanding dengan jumlah kaum miskin di Indonesia, seperti pernyataan presiden Joko Widodo baru-baru ini yang mencapai lebih dari 28 juta jiwa, artinya kaum miskin di Indonesia hampir menyamai keseluruhan jumlah penduduk Malaysia.
Posko yang didirikan oleh rakyat indonesia secara sukarela untuk "Ganyang Malaysia", sebagai ungkapan kemarahan terhadap Malaysia yang selalu saja mengklaim kebudayaan asli Indonesia. (Foto: istimewa)
Data ini tentu saja tidak berbanding dengan penilaian yang disematkan pemerintah Malaysia tentang Indonesia di hadapan rakyatnya sendiri, karena mereka tidak membuka fakta bahwa penduduk Indonesia memiliki populasi lebih dari 250 juta jiwa. Berkali-kali lipat dibandingkan jumlah penduduk Malaysia.

Untuk menutupi kelemahan negara mereka di hadapan jirannya Indonesia, penguasa Malaysia dengan didukung media massa pro pemerintah, selalu mempropagandakan kejelekan, kelemahan, keburukan, dan kemiskinan Indonesia di hadapan rakyat mereka sendiri. Rakyat Indonesia di Malaysia diidentikkan dengan kebodohan dan kemiskinan.

Karena itu kita tidak akan menemukan pemberitaan mengenai keberhasilan Indonesia di berbagai bidang dengan jujur di hadapan media massa mereka.


Kita tidak akan menemukan pemberitaan keberhasilan PT. Pindad dalam memproduksi Panser, Tank, Senapan Serbu ataupun persenjataan lainnya, kita tidak akan menemukan pemberitaaan PT. Dirgantara Indonesia mampu membangun pesawat dan berbagai macam helikopter tempur di media massa mereka. 

Atau kita juga tidak akan menemukan pemberitaan PT. PAL mampu membangun berbagai macam kapal perang, bahkan fakta bahwa Indonesia masuk dalam kelompok G20 yang merupakan representatif negara paling kaya dan terkuat secara ekonomi di dunia.

Di balik fakta-fakta di atas salah satu yang membuat rakyat Malaysia iri atau cemburu bahkan heran dengan Indonesia adalah mengenai jiwa nasionalisme yang diperlihatkan rakyat Indonesia.

Kaum muda Malaysia menuntut pemurnian sejarah Malaysia dengan mengganti bendera nasional Malaysia dengan bendera Malaysia pada saat perjuangan kemerdekaan. (Gambar: istimewa)

Operasi Dwikora, Keberhasilan Pejuang Indonesia Bantai Pasukan Elit Inggris di Mapu

Pasukan RPKAD, salah satu bagian kekuatan TNI yang diterjunkan dalam operasi Dwikora. Sejarah mencatat, walau masih menggunakan persenjataan yang jauh tertinggal, namun RPKAD mampu menewaskan ratusan pasukan Inggris di Sabah dan Sarawak. (Foto: istimewa)
"Hanya semangat patriotisme yang sangat tinggi dan latihan yang keras kita bisa sukses melaksanakan tugas,"
PLAMAN MAPU -- Salah satu sejarah kolosal bangsa Indonesia dalam masa perjuangan kemerdekaan adalah dalam peristiwa operasi Dwikora.

Operasi yang biasa dikenal dengan 'Ganyang Malaysia' tersebut, terjadi sejak tahun 1964-1966 memang luar biasa. Indonesia yang menentang pembentukan Federasi Malaysia bentukan Inggris harus bertempur melawan Inggris, Amerika Serikat dan sekutunya dari Selandia Baru dan Australia.

Pertempuran di Plaman Mapu, Sarawak, Malaysia adalah salah satu yang brutal, meski cuma 1 jam, dari beberapa pertempuran yang ada. Dalam dokumen yang didapatkan dari Museum Pustaka Korps Baret Merah, disebutkan penyerangan di Mapu, mempunyai pengaruh besar terhadap pihak lawan.

Komentar dari juru bicara Pasukan Keselamatan Sarawak yang menyebut serangan ini sebagai 'determine attack' alias serangan yang menentukan yang telah berhasil menembus pertahanan melingkar kawat berduri dan menyerang ke atas bukit.

Presiden Soekarno melakukan pemeriksaan pasukan sebelum diterjunkan dalam operasi Dwikora. (Foto: istimewa)
Dokumen juga mencatat siaran radio Sarawak di Kuching yang mengatakan bahwa tentara Inggris yang bertahan adalah prajurit yang baru lulus 10 bulan dari pendidikan, dan harian Strait Times pada 28 April 1965 menuliskan bahwa tentara Inggris yang diserang adalah "British Paratroops".

Pasukan Para Inggris dikenal sangat elit dan seleksi untuk masuk ke Parachute Regiment sangat berat. Kemudian, dari siaran radio Sarawak di Kuching pada 28 April 1965 pukul 22.00 Wita diketahui ada sekitar 150 penerbangan heli dari pihak tentara Inggris berseliweran, yang memperkuat dugaan Indonesia bahwa korban musuh sangat besar.

Saksi hidup dan pelaku penyerangan di Mapu, Pelda (Purn) Soemadji mengatakan bisa mencapai sekitar 100-an tentara, dan mendengar dari siaran radio bahwa yang tewas adalah 72 tentara Selandia Baru.

Sedangkan dalam catatan dokumen di Museum Pustaka Korps Baret Merah dituliskan, berdasarkan tafsiran sementara, paling sedikit 30 orang musuh ditewaskan. Sedang dalam buku "Britain's Secret War:

The Indonesian Confrontation, 1962-66" yang ditulis Will Fowler di halaman 21 dituliskan, saat penyerangan di Mapu itu, saat itu ada 34 tentara, terdiri dari B Coy HQ, Parachute Regiment termasuk satu peleton yang lemah karena prajuritnya baru lulus dari pendidikan. Dituliskan pula korban serangan dari pihak Inggris adalah 2 tentara tewas dan 7 lainnya terluka.

The Second Battalion The Parachute Regiment. Salah satu pasukan elit kerajaan Inggris yang diterjunkan melawan Indonesia di Sabah dan Sarawak, dalam peristiwa Dwikora. (Foto: istimewa)
Dituliskan pula, keberhasilan serangan di Mapu karena strategi gerilya dengan serangan pendadakan total, faktor musuh yang lengah karena terlalu percaya akan sistem pertahanannya, faktor cuaca kabut dan hujan, doktrin-doktrin Komando RPKAD, serta moril prajurit yang tinggi juga keeratan hubungan antara pimpinan dan bawahan.

Sedangkan Soemadji mengenang, bahwa meski unggul dalam gerilya, sebenarnya persenjataan RPKAD kala itu kalah dibanding pihak musuh, terutama dalam perlindungan udara. Pihak tentara Inggris, imbuhnya, memiliki banyak helikopter dan pesawat yang bisa melindungi tentara darat dan menyisir musuh dari udara.

"Hanya semangat patriotisme yang sangat tinggi dan latihan yang keras kita bisa sukses melaksanakan tugas," tutur Soemadji, Selasa (17/3/2015).

Dalam catatan eks Komandan Kompi Benhur, Mayor (Purn) Oerip Soetjipto juga menuliskan bahwa "Dalam perjalanan diberitahukan lewat penghubung bahwa dalam pengunduran nanti pasukan akan dilindungi oleh pesawat terbang Mustang. Walaupun pada akhirnya tidak ada kenyataan, namun berita tersebut sudah sempat membesarkan hati pasukan".

Operasi Dwikora yang berlangsung pada tahun 1965 adalah respons Indonesia untuk berperang di Malaysia, di bawah Presiden Soekarno saat itu, karena tidak setuju atas pembentukan Federasi Malaysia oleh Inggris.

Inggris, yang hendak mengakhiri kolonisasi saat itu hendak menggabungkan koloninya di Semenanjung Malaya dengan Sabah dan Sarawak di Kalimantan. Presiden Soekarno tak setuju lantaran menganggap Federasi Malaysia adalah boneka Inggris yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia.

The Second Battalion The Parachute Regiment, melakukan serangan melawan Indonesia dengan berbagai persenjataan super canggih pada era tersebut. (Foto: istimewa)

Malaysia: Pesawat Tempur Kami Berhak Terobos Wilayah Udara Indonesia!

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein, mengeluarkan bantahan bahwa pesawat tempur F-16 TNI AU telah mencegat sebuah pesawat angkut militer Hercules C-130 TUDM saat pesawat tersebut menerobos wilayah udara Indonesia tanpa izin. Bahkan Hishammuddin mengatakan bahwa pesawat tempur Malaysia berhak menerobos wilayah udara Indonesia meskipun tanpa memberikan informasi terlebih dahulu kepada pihak TNI AU. (Foto: istimewa)

Malaysia Berulah Lagi, TUDM Terobos Wilayah Udara Indonesia Tanpa Izin

Dua pesawat tempur F-16 TNI AU melakukan pengejaran dan menyergap pesawat angkut militer Hercules C-130 TUDM, saat menerobos wilayah udara Indonesia di kepulauan Natuna tanpa izin. (Foto: istimewa)
"Pertama, harus ada diplomatic notice kepada Malaysia. Protes terhadap itu. Ya harus minta penjelasan, sengaja atau tidak sengaja, masak sih sengaja, masa sih enggak sengaja. Tapi protes secara diplomatik itu harus dilakukan,"
NATUNA -- Belum hilang kemarahan rakyat Indonesia akibat perbuatan para nelayan China yang mencuri dan menerobos wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Pulau Natuna, kini Indonesia kembali dibuat murka saat sebuah pesawat angkut militer Hercules C-130 Angkatan Udara Malaysia juga ikut-ikutan menerobos wilayah udara Indonesia tanpa izin.

Pesawat Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) jenis Hercules C-130 diketahui telah memasuki wilayah udara Indonesia, tepatnya di wilayah perairan Natuna, pada Sabtu 25 Juni 2016 lalu.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara RI, Marsma Wieko Sofyan membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pesawat tersebut sempat diberi peringatan saat melanggar batas ruang udara Indonesia, namun diabaikan begitu saja.


Peringatan diberikan oleh pesawat F-16 milik TNI AU. "Pesawat sempat diperingati oleh petugas TNI Angkatan Udara (AU) yang sedang bertugas di wilayah Natuna di wilayah tersebut," kata sebut Wieko. Ia menambahkan, pesawat militer Malaysia tersebut memasuki ruang udara Indonesia tanpa flight clearance.

TNI AU pun mengambil tindakan dengan mengusir pesawat yang telah melanggar batas ruang udara itu. "Karena dia terbang tanpa flight clearance, maka petugas langsung mengusir. Maka selanjutnya, pesawat TUDM keluar dari wilayah udara RI," tandasnya. 


DPR: Pemerintah Harus Protes Keras!

Menurut Anggota Komisi I DPR, Syarief Hasan, Indonesia harus mengeluarkan nota diplomasi atau diplomatic notice ke Malaysia. "Pertama, harus ada diplomatic notice kepada Malaysia. Protes terhadap itu. Ya harus minta penjelasan, sengaja atau tidak sengaja, masak sih sengaja, masa sih enggak sengaja. Tapi protes secara diplomatik itu harus dilakukan," kata Syarief, Senin (27/6/2016).

Wilayah udara Indonesia di kepulauan Natuna yang sering diterobos pesawat militer angkatan udara Malaysia. (Gambar: istimewa)

Insiden Natuna: Sempat Membantah, Menhan Malaysia Akhirnya Minta Maaf

Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Hishammuddin Hussein. Walau sempat membantah bahwa Malaysia sudah menerobos wilayah udara Indonesia di kepulauan Natuna, tanpa izin, Malaysia akhirnya mengakuinya dengan menyampaikan permintaan maaf kepada Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu.
"Saya sudah koordinasi dengan Menhan Malaysia. Dia langsung minta maaf,"
JAKARTA -- Setelah sempat membantah dan berkilah terkait dengan insiden pelanggaran wilayah udara yang dilakukan sebuah pesawat angkut militer Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM, Kementerian Pertahanan Malaysia menyampaikan permintaan maafnya kepada Indonesia. Malaysia berharap masalah tersebut dapat diselesaikan melalui jalur diplomatik.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan, Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein telah meminta maaf atas kejadian itu. "Saya sudah koordinasi dengan Menhan Malaysia. Dia langsung minta maaf," ujarnya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/6).

Untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tidak terulang, Ryamizard meminta TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara memperkuat koordinasi dengan negara-negara sahabat. Baginya, koordinasi antar negara perlu dilakukan untuk menjaga hubungan baik antarnegara. "Kalau koordinasi seperti saya ini kan enak, tinggal telepon Menhan Malaysia, Singapura, Brunei," tuturnya. 

Panglima TNI: Malaysia Sempat Membantah 

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo memastikan prajurit matra udara telah mengusir pesawat asal negeri Jiran, Malaysia. Namun, awalnya otoritas Malaysia tidak mengakui bahwa yang di-intercept TNI AU adalah pesawat militer.
Dua pesawat tempur F-16 TNI AU saat terbang di wilayah udara Natuna (ilutrasi)
"Di bawah kita bicara dengan laison officer (LO), LO bilang tidak ada pesawat tapi begitu kita cek itu jelas pesawat berbendera Malaysia karena militer tidak mengakui, terpaksa kita giring keluar," ujar Gatot di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (27/6/2016).

Mantan KSAD itu menambahkan, pesawat Malaysia tersebut awalnya terdeteksi radar. Selanjutnya, pesawat tempur F-16 milik TNI AU langsung take off dan menggiring pesawat Malaysia itu untuk keluar jalur udara Indonesia. "Iya, pesawat Malaysia itu, mereka terbang terindikasi kemudian dari radar terpantau, kemudian para pilot F16 take-off untuk memberikan tanda kemudian supaya membuka jalur internasional," imbuhnya.

Sabtu (25/6) pekan lalu, pesawat militer Malaysia Mega 207 RMA terbang di atas kepulauan Natuna. Namun dua pesawat jet F-16 milik TNI AU kemudian mencegat pesawat tempur jenis Hercules Charlie C-130 TUDM itu. Pesawat tempur TNI AU mengusir pesawat militer Malaysia itu, yang dituduh melanggar wilayah Indonesia di kawasan Pulau Natuna.

Kedua pesawat tempur TNI AU dilesatkan dari Pulau Natuna setelah komunikasi melalui jalur internasional “tidak mendapat respons” dari pesawat Malaysia, menurut Kepala Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Wieko Sofyan. “Kami langsung mengadakan identifikasi langsung. Nggak ada komunikasi yang terbentuk waktu itu,” ujar Wieko.
Pesawat angkut militer Hercules C-130. (ilustrasi)
Setelah dua F-16 TNI AU membayangi C-130 milik Malaysia, baru kemudian isyarat melalui gerakan pesawat dilakukan. ”Di dunia penerbangan sudah umum, mengerti, jika seandainya pilot melakukan gerakan seperti rocking the wing (menggoyangkan sayap) itu tandanya pesawat lain harus mengikuti. TNI AU hanya mengarahkan pesawat (Malaysia) itu agar keluar dari wilayah RI,” kata Wieko. 

Hingga kini, belum diketahui penyebab pesawat Malaysia itu masuk wilayah udara Indonesia dan mengapa pilot Malaysia tidak menjalin komunikasi verbal saat menerbangkan pesawatnya. Namun TNI AU menyerahkan hal ini ke tingkatan yg lebih tinggi, antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, kata Wieko. 

Sementara itu, Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Hishammuddin Hussein mengakui kejadian yang melibatkan pesawat Malaysia dan Indonesia di wilayah Natuna.

”Ya, pesawat itu dicegat oleh dua pesawat jet Indonesia,” ujar Hishammuddin sebagaimana dikutip laman berita The Star. ”Saya tidak khawatir karena ini normal dan biasa terjadi di mana-mana di dunia. Jika ada insiden di antara kami, kita bisa berunding secara diplomatis. Kita tidak akan membiarkan insiden apapun merusakan hubungan kami,” tambahnya. 

Kepada kantor berita AFP, seorang pejabat Malaysia mengatakan pesawat C-130 tersebut bertolak dari pangkalan udara Subang di bagian barat ke Labuan, Negara Bagian Sabah, di Pulau Kalimantan. Kejadian itu berlangsung hanya dua hari setelah Presiden Joko Widodo berkunjung ke Pulau Natuna. (*)

Sumber: cnnindonesia.com/bbc.com