Jalur Militer: ISIS

Kalah di Berbagai Medan Pertempuran, ISIS Kehilangan Banyak Wilayah

Tentara Suriah merayakan kemenangannya setelah berhasil merebut kembali sebuah wilayah yang sebelumnya di kuasai ISIS. (Foto: Istimewa)
"Wilayah ISIS benar-benar telah menyusut, oleh karena itulah saat ini mereka memilih menerapkan pertahanan berlapis untuk menjaga wilayah yang masih mereka duduki,"
DAMASKUS -- Sempat menjadi momok yang sangat menakutkan, dengan serangan kilatnya menguasai hampir seluruh wilayah Irak dan Suriah, kini kelompok teroris ISIS mulai kehilangan sebagian besar wilayahnya. ISIS kehilangan wilayah seluas Irlandia atau seperempat dari wilayah kekuasaannya dalam 18 bulan terakhir akibat perang melawan musuh-musuhnya di Irak dan Suriah.

Dalam beberapa bulan ke depan ISIS diperkirakan akan menyerang warga sipil, demikian bunyi laporan IHS seperti dikutip Reuters. Wilayah kekuasaan ISIS telah menyusut dari 90.800 km persegi pada Januari 2015 menjadi 68.300 km persegi di Suriah dan Irak.

Kekalahan ini membuat ISIS menyerang penduduk sipil di Timur Tengah dan Eropa yang kemungkinan makin intensif.

"Mengingat khilafah ISIS menyusut dan semakin jelas kini bahwa proyek pemerintahan mereka gagal, telah membuat kelompok ini mereprioritasi gerilya," kata Columb Strack dari IHS.
Peta wilayah kekuasaan ISIS di Suriah dan Irak.
"Akibatnya, kami dengan menyesal memperkirakan adanya peningkatan dalam serangan korban massal dan sabotase infrastruktur ekonomi di seluruh Irak dan Suriah, dan medan lebih jauh lagi, termasuk Eropa."

ISIS Terdesak di Suriah

Serangan besar di Suriah dilancarkan pada saat yang bersamaan dengan operasi militer Irak buat merebut Fallujah dan Mosul yang dikuasai kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi tersebut. Selain itu, jantung kekuasaan ISIS di Libya, Sirte, kini juga sedang terdesak oleh manuver pasukan pemerintah.

Serangan besar dilancarkan aliansi Arab-Kurdi di utara Suriah untuk memotong jalur logistik Islamic State. Sementara itu pasukan pemerintah persatuan Libya mulai mendekat ke jantung kekuasaan ISIS di Sirte.

Pasukan Demokratik Suriah, sebuah aliansi militer yang didominasi kelompok Kurdi, menyerbu kota strategis Manbij, dengan bantuan serangan udara koalisi pimpinan AS. Dalam 24 jam terakhir koalisi itu melancarkan sebanyak 14 serangan udara.

Manbij berada di antara Jarablus, kota perbatasan yang dikuasai ISIS, dan Raqqa, ibukota kekhalifahan di Suriah. Selama ini ISIS menggunakan kota tersebut buat mendatangan logistik dari Turki ke Raqa, kara Jennifer Cafarella, analis Suriah utuk Institut Studi Konflik di Washington, AS.

Peta wilayah kekuasaan ISIS pada tahun 2016. Wilayah ISIS mulai menyusut setelah pasukan resmi pemerintah Suriah dan Irak mulai melakukan perlawanan balik.
Jika koalisi berhasil merebut Manbij dan Jarablus, ISIS bakal kesulitan mempertahankan akses ke perbatasan Turki. "Merebut kedua kota itu akan mengganggu, tapi tidak mengeliminasi kemampuan ISIS untuk menjamin pasokan logistik," tutur Cafarella.

Tentara Suriah Mulai Dekati Ibu Kota ISIS


Kelompok pemantau konflik di Suriah mengatakan, tentara Suriah telah menyeberangi perbatasan provinsi Raqqa pasca serangan besar-besaran Rusia terhadap ISIS.

Observatorium untuk HAM Suriah (SOHR) mengatakan, serangan udara Rusia deras melanda wilayah ISIS di sebelah timur provinsi Hama, Suriah, pada Jumat kemarin. Wilayah itu berbatasan dengan provinsi Raqaa dan membantu tentara Suriah mencapai wilayah pinggiran Raqqa.

Meski begitu, juru bicara tentara Suriah tidak mau berkomentar terkait kabar, ini seperti disitir dari laman Reuters, Sabtu (4/6/16).

Kota Raqqa secara de facto diumumkan sebagai ibukota kelompok Negara Islam Irak Suriah atau ISIS. Kota ini bersama dengan kota Mosul, Irak, menjadi target utama pasukan yang memerangi kelompok ekstrimis itu.


Serangan militer Suriah ke Raqqa adalah serangan militer terbesar ketiga terhadap basis ISIS. Sedangkan di Irak, pasukan pemerintah setempat juga melakukan serangan besar-besaran ke kota Fallujah, salah satu basis ISIS.
Konvoi kelompok ISIS berusaha lari meninggalkan medan perang Palmyra, saat pasukan pemerintah Suriah merebut kembali kota kuno tersebut. (Foto: Istimewa)

Terus Dibombardir Rusia, ISIS Sesumbar Akan Membunuh Presiden Putin

Menderita kekalahan bertubi-tubi sejak ikut campurnya Rusia di medan perang Suriah, kelompok teror ISIS mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Vladimir Putin. (Foto: express.co.uk)
“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.”
DAMASKUS -- Bantuan yang diberikan Federasi Rusia kepada pemerintahan Presiden Bashar Al Assad dalam menumpas kelompok teror ISIS di bumi Suriah dengan cepat mengubah peta pertempuran. ISIS yang sebelumnya sangat begitu kuat dan dibantu oleh Arab Saudi, dan beberapa negara teluk lainnya, kini berada di ujung kekalahan.

Hingga saat ini, wilayah kekuasaan ISIS yang sebelumnya membentang dari Irak, Suriah, hingga Libya, perlahan-lahan mulai menyusut, akibat terus mengalami kekalahan dalam menghadapi pasukan pemerintah dari masing-masing negara yang ingin merebut wilayahnya kembali.

Terus menderita kekalahan, ISIS pun dendam kesumat kepada tokoh yang menjadi biang keladi semua kesialan mereka, ya siapa lagi kalau bukan Presiden Rusia Vladimir Putin. ISIS pun mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Putin.

Seperti pada 31 Juli lalu, ISIS kembali memublikasikan sebuah video ancaman di YouTube. Dalam video itu tampak seorang pria yang mengenakan penutup wajah, berkata dengan mata tertuju pada kamera, “Putin, Anda dengar? Kami juga akan datang ke Rusia dan akan membunuh Anda di sana, insya Allah.” Ia lalu menyerukan agar para milisi Islam meluncurkan jihad di Rusia. 

Menurut laporan Reuters, tautan video tersebut dikirim oleh akun aplikasi Telegram yang terhubung dengan para milisi. Dalam video tersebut, kelompok ISIS memperlihatkan adegan pria bersenjata menyerang kendaraan lapis baja. Mereka juga menunjukkan tenda dan pengumpulan senjata di sebuah padang gurun.
Kelompok teror ISIS merekam propagannya melalui video dan menyebarkannya di dunia maya.
“Breaking menjadi barak penangkal militer di jalur internasional selatan Akashat,” bunyi teks dalam video ISIS, seperti dikutip Reuters, Senin (1/8/16).

Rekaman video itu tidak memberikan alasan mengapa Rusia dan Putin menjadi target. Namun, Rusia dan AS dalam beberapa hari ini telah membahas kerja sama militer dan intelijen dalam melawan ISIS dan Al-Qaeda di Suriah.

ISIS Serukan Muslim Rusia Bunuh Putin

Sebelumnya, pada Maret lalu sekelompok teroris Rusia yang berjanji setia kepada ISIS menyerukan jutaan warga muslim Rusia untuk mengangkat senjata dan melakukan serangan terhadap penduduk dan pemerintah Rusia lewat rekaman video yang beredar di dunia maya.

Kremlin menanggapi pesan teroris tersebut dengan menegaskan bahwa ancaman semacam itu tak akan mempengaruhi kebijakan Rusia dalam memerangi terorisme. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Kepresidenan Dmitry Peskov, yang menambahkan bahwa Rusia tak perlu pontang-panting menghadapi ancaman teroris yang ‘ekornya sedang diinjak-injak’.


ISIS memanggil para pengikutnya untuk melakukan jihad di Rusia karena operasi militer yang dilancarkan Angkatan Udara Rusia di Suriah menciptakan kerusakan serius bagi mereka, demikian disampaikan Vladimir Akhmedov, peneliti senior dunia Arab di Institut Studi Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat bertemu Presiden Suriah, Bashar Al Assad.
“ISIS benar-benar compang-camping. Berdasarkan beragam perkiraan, ISIS telah kehilangan sekitar 30 – 50 persen wilayahnya di Suriah,” kata sang pakar.

Sergei Goncharov, presiden asosiasi veteran antiteror internasional unit Alfa, juga sepakat dengan pandangan tersebut. Ia mengaitkan ancaman terhadap Rusia dengan serangkaian serangan baru-baru ini yang terjadi di sejumlah negara Barat. 


“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.” katanya.

Sejauh ini, ISIS belum melakukan aksi terorisme besar-besaran di tanah Rusia. Serangan terbesarnya sejauh ini ialah meledakkan pesawat penumpang Rusia Airbus A321 di atas Semenanjung Sinai, 31 Oktober 2015 lalu, yang menewaskan 224 jiwa. Namun demikian, para pakar mengingatkan bahwa ancaman teroris harus ditanggapi dengan serius.

“Ada sekitar dua ribu hingga empat ribu warga negara Rusia yang bertempur di pihak ISIS, sebagian besar warga suku Chechnya dan penduduk dari republik lainnya di Kaukasus Utara,” kata Vladimir Akhmedov. Seiring dengan kekalahan-kekalahan militer mereka di Suriah dan Irak, kemungkinan para milisi akan kembali ke Rusia dan melancarkan aksi terorisme, tambahnya.


Rusia Siap Hadapi Setiap Ancaman ISIS

Secara umum, pasukan keamanan Rusia dinilai mampu mengatasi ancaman dan mencegah para milisi kembali ke Rusia. “Perbatasan kita di bawah kendali. Para petugas di lapangan memiliki data para bandit yang bertempur di Suriah,” kata Goncharov.

Sebuah helikopter tempur Rusia membombardir basis pertahanan kelompok ISIS di Aleppo Selatan, Suriah. (Foto: Istimewa)

Kekurangan Anggota, ISIS Gunakan Anak-Anak untuk Senjata Bom Bunuh Diri

Menderita kekalahan hampir di semua medan pertempuran baik di Irak maupun Suriah dan kehilangan puluhan ribu pasukan, kini kelompok teroris ISIS mulai kekurangan anggota. Untuk menutupi kelemahannya, ISIS menggunakan anak-anak yang dipaksa untuk menjadi pasukan bom bunuh diri. Sejumlah anak tersebut mereka culik dari sejumlah kamp pengungsian. (Foto: Istimewa)
“Siapa yang akan mencurigai seorang anak kecil? Mereka (ISIS) telah melakukan hal ini kepada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Otak mereka sudah dicuci,”
DAMASKUS -- Bangkitnya kekuatan militer pemerintah Suriah setelah mendapat bantuan dari Rusia dan Iran merubah peta pertarungan dalam menghadapi kelompok teroris ISIS dan kelompok pemberontak lainnya di Irak dan Suriah. 

Hingga kini dilaporkan lebih dari 170.000 para anggota ISIS telah telah di medan perang Suriah dan Irak, dan kini pemerintah Suriah dengan dibantu Rusia, Iran, Hizbullah, Hamas, dan kelompok relawan jihad lainnya serangan penghabisan untuk merebut kembali Provinsi Aleppo dan Raqqa dari tangan kelompok ISIS

Kekalahan hampir di semua medan pertempuran menyebabkan ISIS mulai kekurangan personelnya, selain itu di sejumlah kota yang berhasil direbut kembali pemerintah Suriah, banyak anggota ISIS yang menyatakan menyerah dan keluar dari ISIS. Berkurangnya anggota ISIS diakali oleh para petinggi ISIS dengan cara merekrut secara paksa anak-anak untuk dijadikan anggota baru.


Selain merekrut anak-anak dari kota-kota yang sebelumnya mereka rebut, ISIS juga kerap menculik anak-anak dari sejumlah kamp pengungsian untuk dijadikan senjata bom manusia.

Kelompok teroris dari ISIS pada hari Senin (25/04) merilis video propaganda baru menyerukan anak-anak dan orang tua untuk bergabung dan mendukung opersi melawan koalisi Barat. Video propaganda ini dirilis oleh media center yang mendukung ISIS, Wilayat al-Khayr di Deir ez-Zor.

Puluhan anggota ISIS tewas, setelah dibombardir pasukan pemerintah Suriah di Aleppo selatan. (foto: istimewa)
Video itu ditujukan untuk umat Islam di seluruh dunia, dan menghasut mereka untuk bergabung dengan kelompok ISIS untuk melawan "musuh-musuh Allah."

Setelah itu, video kemudian memunculkan anak laki-laki berusia 14 tahun, dan mengatakan ia bergabung ISIS untuk menjadi anggota pelaku bunuh diri di jajaran kelompok. Anak itu juga mengatakan bahwa jatuhnya kota Shaddadi di provinsi Hasakah dan kota bersejarah Palmyra di Suriah Tengah di tangan pemerintah, tidak terlalu penting, tapi "berkomitmen pada aturan Khilafah adalah hal penting," tegasnya.

Selanjutnya, seorang narator mengajak setiap orang untuk bergabung dengan ISIS untuk mendukung janda, anak yatim dan kaum tertindas. Terakhir, orang tua yang tadi muncul lagi dan menyerukan bahwa ia tidak akan mengampuni anak-anaknya yang tidak bergabung dengan ISIS dan bahwa ia siap "untuk mati demi Allah."


ISIS melakukan perekrutan besar-besaran terhadap para anak dan remaja di Irak dan Suriah. Catatan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, beralihnya perekrutan kepada anak-anak karena ISIS mengalami kesulitan merekrut orang dewasa.

"Tercatat sejak awal tahun 2015, hanya 120 orang dewasa yang bergabung dengan mereka, " ungkap Kepala Observatorium yang berbasis di Inggris, Rami Abdulrahman seperti dilansir dari Reuters, Selasa (24/3).

Propaganda ISIS yang menggunakan anak-anak untuk menjadi anggota baru mereka. Propaganda ini mereka siarkan di Youtube dan sejumlah media sosial lainnya untuk mearik simpatik umat Islam dari seluruh dunia. (Foto: Istimewa)
ISIS mengalami kesulitan dalam perekrutan, lantaran kontrol yang lebih ketat di perbatasan Turki yang menyebabkan pejuang asing sulit untuk masuk ke Suriah. Demi mendapatkan pejuang, ISIS pun mendorong orang tua di Suriah untuk menyekolahkan anak mereka di kamp-kamp pelatihan. Ada pula anak-anak di Suriah yang direkrut tanpa persetujuan dari orangtuanya.

"Perekrutan ISIS sering memikat mereka (anak-anak) karena adanya tawaran uang," kata Observatorium, yang melacak konflik menggunakan sumber di lapangan. Adapun, di kamp-kamp pelatihan, kata dia, anak-anak belajar menggunakan senjata api peluru tajam. Mereka diajarkan berperang di pertempuran dan mengemudi.


Observatorium menambahkan, ISIS juga merekrut anak-anak sebagai informan dan sebagai penjaga untuk kantor pusat. Anak-anak yang cacat sejak lahir pun diterima dengan tangan terbuka oleh ISIS.

Anak-Anak Dijadikan Senjata Bom Bunuh Diri

Demi menarik minat anak-anak di berbagai negara di Timur Tengah, ISIS sering menampilkan anak-anak dalam video-video propaganda mereka. Anak-anak yang dijuluki "Anak Singa Khalifah" ini dilatih menggunakan senjata dan bom. Dalam beberapa video, mereka terlihat melakukan eksekusi mati tawanan.

"Perekrutan anak di kawasan itu meningkat. Anak-anak mengambil peran lebih banyak, mereka dilatih menggunakan senjata berat, menjaga pos pemeriksaan di garis depan, bertugas menjadi sniper, dan dalam kasus yang ekstrem menjadi pengebom bunuh diri, kata juru bicara regional UNICEF, Juliette Touma.

ISIS sudah melatih dan mengajarkan anak-anak yang masih balita, menggunakan bom, roket ataupun senapan mesin lainnya. Biasanya prajurit anak-anak mereka tempatkan di barisan paling depan pertempuran sekaligus untuk menjadi tameng hidup. (Foto: istimewa)
Hisham al-Hashimi, penasihat keamanan pemerintah Irak mengatakan ISIS tahun ini telah mengaktifkan Brigadi Pemuda Surga menyusul kekalahan di beberapa wilayah.

"Pemuda paling mudah direkrut untuk misi bunuh diri, terutama saat tengah menderita atau putus asa akibat kehilangan orang tercinta. Mereka juga tidak menarik perhatian dan kecurigaan dibanding orang dewasa," kata Hashimi. 

Studi Pusat Pemberantasan Terorisme akademi militer West Point di AS pada Februari lalu menunjukkan setidaknya ada tiga pengeboman bunuh diri yang dilakukan anak-anak ISIS antara Januari 2015 dan 2016.

Seperti peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Seorang anak sangat ketakutan saat polisi kota Kirkuk di Irak meringkusnya hari Minggu lalu. Sabuk peledak seberat 2 kg melingkar di pinggangnya, dia hendak meledakkan diri di dekat sebuah masjid Syiah. 


Kepolisian Irak mengatakan ISIS kini terpaksa menggunakan para pengantin bom bunuh diri berusia remaja karena semakin berkurangnya jumlah militan mereka. Menurut mereka, tidak akan ada yang curiga kepada anak-anak sehingga mereka bebas keluar masuk suatu wilayah.
Seorang anak yang menggunakan bom bunuh diri berhasil ditangkap aparat di Suriah, saat hendak meledakkan dirinya di pusat keramaian. (Foto: Istimewa)
“Siapa yang akan mencurigai seorang anak kecil? Mereka (ISIS) telah melakukan hal ini kepada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Otak mereka sudah dicuci,” ujar Gubernur Kirkuk Najmiddin Karim, seperti dimuat Washington Post, Selasa (23/8/16).

“Sangat mudah untuk meracuni pikiran anak kecil,” ucap salah satu pejabat Kepolisian Kirkuk Brigadir Jenderal Sarhad Qadir. Jenderal Sarhad Qadir yakin remaja yang ditangkap di Kirkuk itu dibawa oleh seseorang dari Mosul beberapa hari lalu. Ia juga yakin remaja itu diberikan obat bius oleh ISIS untuk menjalankan aksinya.

Anak yang diperkirakan berusia antara 11-15 tahun ini bukan yang pertama digunakan sebagai "bom berjalan" oleh kelompok militan, bahkan cara ini kian dipilih untuk menyerang lawan. Dalam ledakan di Turki yang menewaskan lebih dari 50 orang, aparat juga mengatakan pelakunya adalah pengebom bunuh diri anak. 


ISIS disebut meneruskan metode yang dipakai oleh pendahulu mereka, Al Qaeda di Irak. Kelompok pimpinan almarhum Osama bin Laden itu sering menggunakan anak kecil sebagai pengantin bom bunuh diri. Anak-anak kecil itu disebut sebagai “Burung-Burung dari Surga”.

Selain itu di Afghanistan, militan Taliban juga telah lama menggunakan anak-anak sebagai serdadu perang. Pada tahun 2012, remaja berusia 14 tahun meledakkan diri di Kabul yang menewaskan enam orang. Dua tahun kemudian remaja lainnya meledakkan diri di pusat kebudayaan Perancis, juga di Kabul.
Anak-anak korban peperangan di Timur Tengah. ISIS biasanya menculik anak-anak yang tanpa memiliki orang tua atau tanpa pengawasan dari sejumlah kamp pengungsian di Irak, Suriah dan Turki. Anak-anak tersebut selanjutnya mereka doktrin agar setia dan bersedia melakukan apapun yang mereka perintahkan. (Foto: Istimewa)

Ratusan Ribu Anggota Tewas, Militan ISIS Berada di Ujung Kekalahan

Para tentara pemerintah Suriah merayakan kemenangannya saat berhasil menguasai basis pertahanan ISIS di Kota Homs, Suriah. Sejak terbentuknya koalisi sejumlah negara dan kelompok pejuang Islam untuk mengalahkan ISIS, pergerakan kelompok teror tersebut kini mulai melemah. Dalam beberapa bulan saja dilaporkan puluhan ribu anggota ISIS tewas di berbagai macam medan pertempuran Irak dan Suriah. (Foto: Istimewa)

Inilah Sumber Keuangan ISIS yang Menjadikannya Teroris Terkaya di Dunia

ISIS dikenal hingga kini menjadi kelompok teroris paling kaya di dunia. Dengan banyaknya sumber pemasukan dana, ISIS mampu mengerakkan pasukannya dengan mudah.(Gambar: Huffington Post)
Jalurmiliter.com - Munculnya kelompok teroris ISIS secara tiba-tiba dianggap sangat fenomenal. Bagaimana tidak, hanya dalam beberapa bulan saja ISIS mampu menguasai luas wilayah hampir dua kali luas negara Jerman di Irak dan Suriah hanya dalam beberapa bulan saja. Sebuah invasi yang bahkan tak mampu dilakukan oleh negara adidaya sekalipun.

Saat itu dengan propaganda mengatasnamakan Islam, ISIS mampu menarik minat kaum muslimin dari seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka. ISIS juga mampu membuat sebuah framing yang sangat baik untuk memanipulasi umat Islam, ISIS selalu mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kemaslahatan Islam. Namun, waktu kemudian menjawab, bahwa perjuangan ISIS sangat jauh dari semangat dan ajaran Islam.

Lalu, apa yang membuat ISIS begitu kuat saat itu. Selain mampu mengumpulkan para prajurit dengan jumlah tanpa batas, ISIS juga memiliki sejumlah sumber pendanaan yang memperkuat pundi-pundi keuangan mereka. Banyaknya sumber pendanaan yang dimiliki ISIS membuat kelompok teror ini menjadi organisasi teroris terkaya di dunia.

Sejumlah lokasi di perbatasan sejumlah negara yang menjadi pintu pemasukan sumber dana ISIS di Timur Tengah. (Gambar: istimewa)
ISIS membutuhkan dana yang tak sedikit untuk biaya kelompok mereka. Mulai dari persenjataan, perekrutan anggota, hingga rencana teror bom yang kerap mereka lakukan di banyak tempat di belahan dunia. Berikut adalah enam sumber dana utama yang menyokong pergerakan ISIS yang dirangkum dari berbagai sumber;

1. Penjualan Minyak Ilegal
Ini merupakan sumber utama pendanaan ISIS. Selama ini, ISIS telah merebut beberapa ladang minyak penting di Suriah dan Irak. Pun sudah menjadi rahasia umum bahwa jalur penyelundupannya adalah melewati Turki. Pentagon menaksir, tiap bulan ISIS meraup omzet hingga 40 juta dollar AS dari pasar gelap minyak, atau setara dengan Rp 525 miliar.

2. Penjarahan Bank 

ISIS selalu menjarah bank-bank di kawasan yang mereka rebut di Suriah dan Irak. Pemerintah AS menaksir, antara 500 juta hingga satu miliar dollar AS mereka raup dari bank-bank tersebut. Saat menaklukkan Kota Mossul di utara Irak, dilaporkan dana sebesar 420 juta dollar AS raib dijarah. Jumlah ini cukup buat membayar gaji 50.000 teroris mereka selama setahun.
ISIS berhasil merebut sebuah ladang minyak dari pasukan Suriah. (Foto: istimewa)
3. Pajak dan Pemerasan
Delapan juta rakyat di kawasan kekuasaan ISIS harus membayar pajak antara 5 sampai 15 persen dari pendapatan. Pemerintah Jerman melaporkan, ISIS juga menerapkan pajak khusus bagi warga non-Muslim. Pajak pun berlaku bagi perusahaan di kawasan yang ditaklukkan harus membayar rutin sejumlah uang perlindungan.

4. Penjualan Barang Antik
Para teroris ini pun biasa mempropagandakan aksi menghancurkan berhala dari kota-kota antik yang mereka kuasai. Namun, barang antik berharga tinggi biasanya diamankan dan diselundupkan untuk dijual di pasar gelap. Juga banyak artefak temuan arkeolog yang disita dan dijual di pasar gelap. Sejauh ini tidak ada angka pasti terkait omzet penjualan ini.

5. Penculikan dan Uang Tebusan
penculikan dan permintaan uang tebusan ibarat pisau bermata dua bagi ISIS. Di satu sisi menjadi sumber pemasukan, dan di sisi lain menjadi propaganda teror. ISIS diyakini telah mengantongi puluhan juta dollar AS. Sandera yang mempunyai efek propaganda besar biasanya dieksekusi dan videonya ditayangkan lewat internet. Dengan sekali pukul, ISIS mencapai dua sasaran.

ISIS merempas sejumlah artefak kuno untuk dijual ke pasar gelap barang antik. Banyak artefak kuno dari Suriah yang memiliki nilai tinggi, dijual kelompok ISIS untuk mendanai pergerakannya. (Foto: istimewa)

Rusia: Amerika Serikat Suplai Senjata dan Rudal Canggih untuk ISIS di Aleppo

Kelompok teroris ISIS memperlihatkan kiriman senjata yang mereka terima dari Amerika Serikat. Walau sempat membantah adanya hubungan erat dengan ISIS, namun semakin terdesaknya organisasi teror itu di Suriah dan Irak, membuat AS kini secara terang-terangan memberikan bantuannya untuk ISIS. (Foto: redice.tv)
"ISIS saat ini menderita kebingungan di Mosul. Pasukan keamanan Irak menerima intelijen dari penduduk Mosul tentang lokasi militan ISIS, namun Amerika Serikat tidak bersedia menyerang mereka,"
ALEPPO -- Kondisi kelompok teror ISIS dan para pemberontak yang semakin terdesak di Aleppo, Suriah, membuat Amerika Serikat (AS) sebagai sponsor utama selama ini menjadi semakin resah. Usaha AS dan koalisinya untuk mempertahankan keberadaan kelompok-kelompok teror dan pemberontak di Suriah terus dilakukan.

Terbaru, menurut pejabat militer Rusia, elemen-elemen ISIS di Aleppo menerima sistem rudal TOW dari AS, demikian Kepala Departemen Operasi Utama Rusia, Staf Umum Letnan Jenderal Sergei Rudskoi, pada Senin.

"Menurut informasi yang datang dari beberapa sumber, militan terus menerima jenis senjata modern, termasuk rudal TOW antitank buatan AS," kata jenderal Sergei Rudskoi kepada Russia Today (RT).

Kelompok ISIS menggunakan sistem rudal TOW yang mereka terima dari Amerika Serikat untuk melumpuhkan kekuatan militer Rusia dan Iran di Suriah. (Foto: Alalam News)
Selain itu, pemimpin milisi Brigade Babel, pada Senin, 17/10/16, mengatakan pasukan koalisi internasional pimpinan AS sama sekali tidak menargetkan konvoi ISIS yang melarikan diri dari Mosul menuju Suriah.

Sekretaris Jenderal milisi Brigade Babel, Ryan al-Kildani, mengeluarkan pernyataan yang mengungkap rasa takjub dan heran soal tindakan pasukan koalisi internasional yang tidak menargetkan elemen-elemen dan konvoi ISIS saat melarikan diri dari Mosul menuju Suriah.

"ISIS saat ini menderita kebingungan di Mosul. Pasukan keamanan Irak menerima intelijen dari penduduk Mosul tentang lokasi militan ISIS, namun Amerika Serikat tidak bersedia menyerang mereka," jelas Kildani.

ISIS dan sejumlah kelompok pemberontak hingga kini terus berusaha melakukan perlawanan menghadapi serangan militer pemerintah Suriah, Rusia, dan Iran, meskipun kemungkinan mereka untuk menang sangat tipis sekali.

Helikopter tempur Rusia terus membombardir posisi ISIS di kota Aleppo, Suriah, dan mendesak kelompok teror dan pemberontak segera keluar dari wilayah tersebut. (Foto: dailymail.co.uk)
Para militan juga tidak putus asa berusaha untuk memulihkan jalur penyediaan kepada geng dengan senjata dan amunisi di rute Aleppo timur. Namun, satuan tugas udara Rusia terus memberikan serangan saat mereka datang, dan pembentukan formasi persenjataan dekat kota," kata jenderal itu.

Rusia dan Iran mendesak pemerintah Suriah untuk melakukan serangan penghabisan di wilayah Aleppo, untuk mengusir seluruh kelompok teror dari kota terbesar di Suriah itu. Rusia berpendapat bahwa penyelesaian konflik militer hanya bisa diakhiri melalui jalur militer. Pasalnya, Rusia dan pemerintah Suriah telah berulang kali memberikan kesempatan genjatan senjata maupun pemberian pengampunan untuk para pemberontak, namun selalu dikhianati ISIS dan kelompok pemberontak lainnya.

Guna menghentikan peperangan tersebut secepat mungkin, Rusia kini telah memperkuat armada perangnya dengan mengirimkan tambahan pesawat tempur, kapal perang, kapal induk, maupun personel pasukan elit ke zona konflik tersebut.

Sebuah karikatur yang menyindir bantuan dana yang diberikan Amerika Serikat untuk menyokong gerakan kelompok teroris ISIS. (Gambar: medium.com)

Berubah Haluan, Militer Mesir Bantu Rezim Assad Hancurkan ISIS

Angkatan Udara Mesir ikut memberikan bantuan untuk menghancurkan kelompok teroris ISIS di Suriah. Hal ini dilakukan setelah berubahnya kebijakan politik Mesir di Suriah dengan mengakui pemerintahan Bashar al-Assad sebagai presiden yang sah. (Foto: istimewa)
Hama -- Arah politik pemerintah Mesir kini berubah drastis menyangkut Suriah. Sebelumnya, Mesir merupakan salah satu negara Arab yang menyetujui dan mensponsori penggulingan pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dari kursinya, namun kini Mesir justru memberikan bantuan militer untuk menumpas ISIS dan kelompok pemberontak Suriah lainnya.

Beberapa pilot Mesir telah tiba di pangkalan udara tentara Suriah di Hama, media Lebanon melaporkan, menambahkan bahwa Kairo telah memutuskan untuk tidak peduli dan berpartisipasi dalam operasi anti-terorisme di Suriah.

Menurut harian al-Safir, pasukan Mesir telah memulai pekerjaan mereka di pangkalan udara Hama sejak 12 November dan sejumlah 18 pilot juga telah bergabung dengan mereka, sebagian besar pilot helikopter.

Surat kabar itu mengatakan tidak jelas apakah pilot Mesir telah memulai serangan udara di Suriah atau tidak tapi kehadiran mereka di pangkalan udara Hama menunjukkan bahwa Mesir telah membuat keputusan untuk mempercepat bantuan kepada pemerintah Suriah.

Menurut harian itu, kelompok pertama terdiri dari 4 perwira berpangkat tinggi Mesir telah memasuki Suriah dan dikerahkan ke basis staf umum tentara Suriah di Damaskus, menambahkan bahwa dua jenderal utama Mesir telah mulai bekerja di ruang operasi tentara Suriah sejak sebulan lalu, dan tanggung jawab mereka memimpin operasi pengintaian, yang terbaru adalah di Quneitra di selatan Suriah, Dataran Tinggi Golan dan Dara'a.

Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Mesir saat mendarat di pangkalan militer Hama, Suriah. Para pilot dikirim untuk ikut ambil bagian dalam menumpas kelompok teroris ISIS di negara bergejolak tersebut. (Foto: istimewa)

Merasa Berjasa Ikut Tumpas ISIS, Kurdi Minta Negara Merdeka dari Irak

Parade militer Kurdi. Saat ini, kaum Kurdi menjadi sebuah kekuatan baru di Timur Tengah.  Selain memiliki populasi yang cukup besar dan tersebar di sejumlah negara, Kurdi juga memiliki pasukan tempur yang lebih dari cukup untum membentuk sebuah negara. (Foto: istimewa)
”Waktu telah lama matang untuk itu, tapi kami sedang berkonsentrasi pada perang melawan Daesh (ISIS). Begitu Mosul dibebaskan, Kurdi akan bertemu dengan mitra di Baghdad dan berbicara tentang kemerdekaan kami,"
MOSUL -- Kekuatan Suku Kurdi baik di Irak maupun Suriah, memiliki andil yang sangat besar dalam melawan kelompok teror ISIS dan pasukan pemberontak lainnya. Ditambah lagi, Amerika Serikat dan sejumlah negara anggota NATO terus menyuplai kaum Kurdi dengan persenjataan canggih. Bahkan, kini Kurdi sudah memiliki pasukan militer yang lebih dari cukup untuk membentuk sebuah negara yang kuat.

Seakan menyadari hal ini, Perdana Menteri (PM) Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG), Nechervan Barzani, mengatakan, Kurdi akan memperbarui tuntutan merdeka dari Pemerintah Irak setelah Mosul dibebaskan dari kelompok ISIS.

Hal ini disampaikan Barzani, dalam sebuah wawancara hari Jumat dengan surat kabar Jerman, Bild (28/10/2016). Ia mengatakan, pihak berwenang Kurdistan memutuskan untuk memperbarui tuntutan kemerdekaan dari Irak.
Pasukan militer Kurdi membombardi posisi kelompok ISIS pinggiran di kota Mosul, Irak. (Foto: istimewa)
”Waktu telah lama matang untuk itu, tapi kami sedang berkonsentrasi pada perang melawan Daesh (ISIS). Begitu Mosul dibebaskan, Kurdi akan bertemu dengan mitra di Baghdad dan berbicara tentang kemerdekaan kami," kata Barzani.

Menurut Barzani, Kurdi Irak telah menunggu kesempatan untuk merdeka dalam waktu yang terlalu lama. ”Kami bukan Arab, kami bangsa Kurdi. Pada beberapa titik akan ada referendum kemerdekaan Kurdistan, dan kemudian kami akan membiarkan orang memutuskannya,” katanya.

Barzani mengatakan kemajuan di Mosul telah cepat sejauh ini. ”Kami telah mengambil distrik terpencil dengan cepat, tetapi tidak jelas seberapa kuat Daesh akan mempertahankan kota ini. Jika semuanya berjalan dengan baik secara lebih jauh, saya meramalkan kota ini akan dibebaskan dalam tiga bulan," katanya.
Peta wilayah penyebaran etnis suku Kurdi di sejumlah negara.

Terdesak di Medan Tempur, ISIS Jadikan Penduduk Sipil Sebagai Perisai Hidup

Kelompok teror ISIS menangkap para pria dan anak-anak laki-laki, untuk dijadikan sebagai perisai hidup melawan pasukan militer pemerintah di Mosul, Irak. ISIS juga dilaporkan telah mengeksekusi ratusan penduduk sipil sebelum meninggalkan wilayah yang sebelumnya mereka kuasai. (Foto: yournewswire.com)
"Kami mendapat laporan bahwa ISIS menggunakan warga sipil di dalam dan sekitar Mosul sebagai perisai manusia untuk menghadapi tentara Irak. Mereka menempatkan warga sipil dekat markas atau tempat pasukan ISIS berada, sebagai tameng hidup,"
MOSUL -- Serangan tanpa henti yang dilakukan pemerintah Irak dan Suriah untuk menumpas kelompok teror ISIS, membuat ISIS kini terpojok dan terdesak hampir di semua medan pertempuran. ISIS dengan gigih tetap berusaha melakukan perlawanan meski itu harus mengorbankan nyawa penduduk sipil yang tak berdosa.

Bahkan, ISIS kini menjadikan penduduk sipil, baik di Mosul Irak dan Aleppo, Suriah, sebagai perisai hidup, yang membuat pasukan anti-ISIS kesulitan untuk bergerak dan melancarkan serangan.

Organisasi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Jumat, 21/10/16, melaporkan, Kelompok ISIS telah menyandera 550 keluarga dari desa-desa di sekitar Mosul dan mungkin menjadikan mereka sebagai tameng dan perisai manusia dekat markas ISIS di kota tersebut.

"Kami mendapat laporan bahwa ISIS menggunakan warga sipil di dalam dan sekitar Mosul sebagai perisai manusia untuk menghadapi tentara Irak. Mereka menempatkan warga sipil dekat markas atau tempat pasukan ISIS berada, sebagai tameng hidup," terang Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Raad al-Hussein dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Reuters.
ISIS membawa para penduduk sipil yang menjadi tahanan mereka ke medan pertempuran untuk dijadikan perisai hidup menghadapi serangan militer pemerintah Irak dan Suriah. (Foto: dailymail.co.uk)
Juru bicara PBB Ravina Shamdasani, mengutip informasi yang diverifikasi dari kontak lokal mengatakan, 200 keluarga dipaksa menuju ke Mosul dari desa Samalia pada 17 Oktober, dan 350 keluarga lain meninggalkan desa Najafia menuju ke Mosul pada hari yang sama.

"Sangat berbahaya, para pejuang ISIS tidak hanya akan menggunakan kerentanan warga seperti perisai manusia tetapi dapat membunuh mereka daripada melihat mereka dibebaskan. Ini tampaknya menunjukkan alasan bahwa gerakan ini (ISIS) adalah untuk menggunakannya sebagai tujuan perisai manusia," katanya.

Selain itu, laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa Kelompok ISIS telah mengeksekusi 284 laki-laki dewasa, dan anak laki-laki di Mosul di tengah serangan ofensif militer Irak dan pasukan relawan Hashd Shaab, untuk mengusir mereka dari kota itu, seperti diberikan cnn.com, pada 22/10/16.

Untuk menghilangkan jejak, ISIS menggunakan buldoser untuk membuang mayat yang mereka eksekusi di sebuah kuburan massal di bagian utara kota, tulis saluran CNN. Menurut sumber intelijen Irak, mereka yang tewas digunakan sebagai perisai manusia terhadap serangan pasukan Irak dan gerilyawan Kurdi Peshmerga.
Para tentara Suriah berusaha mengevakuasi para penduduk sipil dari wilayah Aleppo selatan dan akan mengosongkan kota tersebut sebelum melancarkan serangan militer menumpas kelompok ISIS di bagian lain kota Aleppo yang masih dikuasai ISIS dan kelompok pemberontak lainnya. (Foto: presstv.ir)

Berada Diambang Kekalahan, Pemimpin ISIS Malah Dikudeta Pasukannya

Terjadi sebuah tindakan kudeta di dalam tubuh organisasi teror ISIS. Kudeta yang dilakukan para petinggi ISIS tersebut bertujuan untuk membunuh pemimpin ISIS, namun berhasil digagalkan.
"Pemimpin Polisi Islam ISIS tewas, bersama dengan sejumlah pembantunya, dan ISIS mengeksekusi massal anggota yang yang berpartisipasi dalam upaya kudeta,"
MOSUL -- Kesialan sepertinya kini tak henti-hentinya mengikuti kelompok teror ISIS. Setelah mengalami kekalahan hampir di semua medan pertempuran, baik di Irak, Suriah dan Libya, kini ISIS mengalami perpecahan dari dalam, dan memicu terjadinya upaya kudeta yang dilakukan para petinggi ISIS sendiri.

Pemimpin tertinggi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi dilaporkan selamat dari upaya kudeta yang dilakukan oleh "Polisi Islam ISIS" di Mosul setelah tentara al-Assra berhasil menumpas upaya kudeta tersebut, demikian menukil laporan situs berbahasa Arab, al-Sumaria pada Senin, 17/10/16.

Menurut laporan al-Sumaria, Komandan Polisi Islam ISIS, Abu Othman, memimpin upaya kudeta dengan menyerang empat markas ISIS di Mosul. Tetapi, pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mengerahkan apa yang disebut sebagai tentara al-Assra untuk menekan kudeta dan membunuh tujuh pemimpin Polisi Islam ISIS yang diduga terlibat.

"Pemimpin Polisi Islam ISIS tewas, bersama dengan sejumlah pembantunya, dan ISIS mengeksekusi massal anggota yang yang berpartisipasi dalam upaya kudeta," tulis al-Sumaria.

Pemimpin tertinggi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi
Kantor Berita Irak itu juga melaporkan, beberapa jam sebelum kudeta Polisi Islam ISIS dilakukan, mereka mencoba mengumumkan melalui pengeras suara yang dibawa kendaraan bahwa aturan al-Baghdadi di Mosul berakhir, dan Baghdadi melarikan diri ke kota Suriah di Raqqa.

"ISIS mengumumkan hal itu melalui detasemen medianya bahwa mereka telah mengatasi kudeta yang dilakukan oleh Kepolisian Islam terhadap al-Baghdadi dan kembali mengontrol penuh seluruh markas setelah konfrontasi hebat yang berlangsung selama beberapa jam," tambah al-Sumaria.

Peta pertempuran di Timur Tengah mengalami perubahan setelah Rusia ikut ambil bagian di Suriah. ISIS sebelumnya seakan menjadi kekuatan tanpa tanding di Irak, Suriah dan Libya mengalami kemunduran setelah rakyat di sejumlah negara jajahan ISIS bangkit melawan.

Kehadiran Rusia memberikan semangat baru pada pemimpin negara yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan ISIS, ditambah lagi Amerika Serikat, Arab Saudi, Turki dan sejumlah negara koalisi lainnya yang selama ini selalu berkoar-koar akan membasmi ISIS, justru dikemudian hari diketahui menjadi sponsor utama terbentuknya kekuatan ISIS.(*)

Sumber: IT/al-Sumaria