Jalur Militer: Nuklir

AS Ingkar Janji, Iran Bangkitkan Kembali Fasilitas Nuklir Rahasia

Keputusan sepihak Amerika Serikat yang keluar dari perjanjian nuklir Iran, dibalas oleh Teheran dengan mengaktifkan kembali sejumlah fasilitas nuklir rahasia negara itu.
TEHERAN -- Iran kembali melanjutkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanahnya, Fordow, dengan target pengayaan 5 persen. Dikutip dari RT.com, kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi mengumumkan pada Selasa bahwa Iran akan mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas bawah tanah, dan mengatakan bahwa fasilitas itu memiliki kapasitas untuk memperkaya hingga 20 persen jika diperlukan.

Media pemerintah Iran melaporkan hari Rabu bahwa 2,800 kg silinder yang memuat 2.000 kg prekursor pengayaan uranium hexafluoride telah dipasang di Fordow. Di bawah kesepakatan 2015, Iran berkomitmen untuk mengurangi kemurnian uranium yang diperkaya menjadi 3 persen dan pengayaan dilarang di fasilitas Fordow.

"Setelah semua persiapan yang berhasil, injeksi gas uranium ke sentrifugal dimulai pada hari Kamis di Fordow, semua proses telah diawasi oleh inspektur pengawas nuklir AS," kata Badan Energi Atom Iran (AEOI) pada Kamis, seperti dikutip dari Reuters, 7 November 2019.

Perjanjian nuklir Iran 2015 melarang pengayaan dan bahan nuklir dari Fordow. Tetapi dengan bahan baku gas memasuki sentrifugalnya, fasilitas yang dibangun di dalam gunung, akan berpindah dari status yang diizinkan dari fasilitas penelitian menjadi situs nuklir aktif.

Di bawah pakta tersebut, Iran setuju untuk mengubah Fordow menjadi pusat nuklir, fisika dan teknologi, di mana 1.044 sentrifugal digunakan untuk tujuan selain pengayaan, seperti memproduksi isotop stabil, yang memiliki berbagai kegunaan sipil.

Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir, di mana perjanjian tersebut mengekang program nuklirnya dengan imbalan penghapusan sebagian besar sanksi internasional, setelah Amerika Serikat mengingkari perjanjian tahun lalu.

"Prosesnya akan membutuhkan beberapa jam untuk stabil dan pada hari Sabtu, ketika inspektur Badan Energi Atom Internasional akan kembali mengunjungi situs tersebut, tingkat pengayaan uranium 4,5% akan tercapai," kata juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi kepada TV pemerintah.

"Semua sentrifugal yang dipasang di Fordow adalah tipe IR1. Gas uranium (UF6) disuntikkan ke empat rantai sentrifugal IR1 (696 sentrifugal). Dua rantai tersisa lainnya dari sentrifugal IR1 (348 sentrifugal) akan digunakan untuk memproduksi dan memperkaya isotop stabil di fasilitas tersebut," kata Kamalvandi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan Teheran tidak memiliki alasan yang dapat dipercaya untuk memperluas program pengayaan uraniumnya dan Washington akan melanjutkan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Iran sampai ia mengubah perilakunya.


Iran Balas Pengkhianatan AS

Iran dan Rusia, pada Minggu 10 November 2019, meresmikan tahap konstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr. Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 km selatan Teheran.

Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), dan Wakil Kepala Badan Nnuklir Rusia (Rosatom), Alexander Lokshin, meluncurkan tahap baru pada upacara pembangunan awal di mana beton dituangkan ke pangkalan reaktor, demikian seperti dikutip dari the Japan Times, Senin (11/11/2019).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kami akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Iran tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir. Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga lanjutannya di masa depan, menurut AEOI. Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Teheran untuk reaktor nuklir penghasil listriknya.

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau 'Iran nuclear deal' 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama dunia, termasuk Rusia, menempatkan pembatasan pada jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Teheran dan produksibahan bakar nuklirnya. Tetapi, perjanjian itu tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

Menurut pakta itu, Iran dituntut untuk mengurangi stok uranium hingga 98 persen dan berhenti menjalankan program pengembangan senjata nuklir untuk tujuan militer. Kepatuhan Iran akan ditukar dengan pencabutan sanksi dari para negara penandatangan.

kelangsungan hidup kesepakatan JCPOA 2015 telah terancam sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada 8 Mei 2018, memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang menekan Negeri Paramullah.

Menanggapi pengkhianatan dan penjatuhan sanksi yang kembali dilakukan oleh AS terhadap Iran, Teheran kembali mengaktifkan secara bertahap seluruh fasilitas nuklir rahasianya yang sebelumnya sempat ditutup demi menghormati pakta perjanjian nuklir tersebut sejak Mei 2019.


Menanggapi kebijakan tekanan maksimum Washington, Iran telah melewati batasan kesepakatan selangkah demi selangkah, termasuk melanggar batasan pada uranium yang diperkaya yang ditimbun dan pada tingkat pengayaan fisil.

Iran pada hari Senin mengatakan sedang mengembangkan sentrifugal canggih yang dapat memperkaya uranium lebih cepat. Langkah Iran ini akan semakin memperumit peluang menyelamatkan perjanjian.

Rintangan terbesar untuk membangun senjata nuklir adalah mendapatkan bahan fisil yang cukup, yakni uranium atau plutonium yang sangat diperkaya, untuk inti bom. Tujuan utama kesepakatan nuklir 2015 adalah untuk memperpanjang waktu yang diperlukan Iran untuk membangun senjata nuklir, dari 2 hingga 3 bulan menjadi satu tahun.

Kisruh seputar pakta itu selama setahun terakhir telah menjadi salah satu faktor penyulut eskalasi tensi hubungan antara Iran - AS dan Iran dengan negara Barat lainnya, serta menuai kekhawatiran akan konflik diplomatik hingga geo-politik.

Situs reaktor nuklir Iran di wilayah Fordow saat dilihat dari satelit militer Amerika Serikat. Situs nuklir ini memiliki sistem keamanan yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan. (Foto: Istimewa)
Berbicara pada konferensi pers di akhir kunjungan ke Cina, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah terbaru Iran sebagai kabar buruk, dan ia akan berbicara dengan Trump dan Iran dalam beberapa hari mendatang.

Sejarah Panjang Pengembangan Nuklir Iran

Pada awal 1957, AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan AS. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan AS.

AS mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik.

Namun badan rahasia AS, CIA, menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom.

Pada tahun 2003, Badan Energi Atom Internasional, IAEA, menyatakan bahwa mereka menemukan pabrik uranium berkadar tinggi di Natanz, Iran. Produksi uranium Iran sempat dihentikan, namun pada tahun 2006 Iran kembali memproduksi setelah mengadakan perjanjian dengan IAEA.


Pada akhir tahun 2006 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi terhadap Iran karena tidak juga menghentikan program nuklirnya. Sanksi kemudian meluas menjadi larangan jual beli senjata, larangan berkunjung, larangan jual beli minyak dan larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama tujuh tahun.

Sanksi tersebut melumpuhkan perekonomian Iran karena harga minyak turun dan mata uang Iran turun 80%. Tahun 2012 Iran bahkan mengalami inflasi. Tapi seakan tidak jera setelah diselidiki oleh AS, Iran malah menambah produksi uraniumnya menjadi 19 ribu sentrifugal yang awalnya hanya berjumlah 3.000 sentrifugal pada tahun 2007.

Pemerintah AS percaya bahwa sanksi yang diberikan cukup membuat Iran jera. Presiden Iran Hassan Rouhani juga dinilai lebih terbuka dari presiden sebelumnya sehingga lebih mudah diajak bernegoisasi.

Sebuah kelompok anti-nuklir di AS mengatakan bahwa jika Iran tidak dicegah, Iran dapat memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu sebulan. Namun menurut Mark Hibbs, seorang ahli kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, jika Iran terus dicegah, Iran baru bisa memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu satu hingga tiga tahun.

Negara barat menuntut agar Iran mengurangi 20% kadar uranium yang sedang diproduksi. Selain itu Iran juga harus mengurangi stok uranium, berhenti membangun fasilitas pengayaan uranium baru dan menghentikan reaktor di Arak, yang dapat menghasilkan plutonium bahan alternatif untuk bom nuklir.

Iran meminta negara Barat mengurangi sanksi dan memperbolehkan Iran memproduksi uranium berkadar rendah sesuai perjanjian Non-Proliferasi (pembatasan kepemilikan senjata nuklir) yang telah ditandatangani Iran pada 1 Juli 1968.

Iran Mampu Buat Senjata Nuklir dalam Hitungan Bulan 


Israel merupakan negara yang paling "getol" menentang pengembangan nuklir Iran. Musuh bebuyutan Teheran itu merasa terancam jika Iran berhasil membuat senjata nuklir di kawasan bergejolak tersebut.
Sejumlah situs reaktor nuklir Iran, yang disebar di sejumlah wilayah negara itu. (Gambar: Istimewa)

Amerika Tuding Korut Masih Miliki 13 Pangkalan Rudal Nuklir Rahasia

Sebuah laporan yang dikeluarkan lembaga thing-thank Amerika Serikat menyatakan, Korea Utara memiliki pangkalan rudal rahasia yang mampu melancarkan serangan terhadap AS. (Foto: GETTY via express.co.uk)
"Korea Utara memang tidak pernah berjanji menutup basis rudal ini. Mereka tidak pernah menandatangani perjanjian apa pun, atau negosiasi apa pun yang membuat penutupan basis-basis rudal itu menjadi sebuah kewajiban,"
WASHINGTON DC -- Perundingan senjata nuklir Korea Utara dengan Amerika Serikat (AS), masih berlangsung hingga kini. Walau Korut menyatakan bersedia melucuti kekuatan senjata nuklirnya, dengan syarat Amerika dan negara-negara Barat menghapus seluruh sanksi yang dijatuhkan terhadap Korut, namun Amerika sepertinya tidak percaya begitu saya.

Lembaga think tank AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melaporkan, Korut Disebut masih memiliki 13 Pangkalan Rudal nuklir yang disembunyikan. Laporan ini merujuk pada citra satelit yang mereka himpun.

Korut setidaknya masih mengoperasikan 13 pangkalan nuklir yang dirahasiakan, di tengah perundingan perlucutan senjata nuklir dengan Amerika. 


Kepala CSIS untuk Program Korea Utara, Victor Cha mengatakan bahwa Kim Jong-un tampaknya "mengelabui" Presiden Donald Trump dengan menghancurkan salah satu pangkalan rudal, tapi masih ada belasan situs lain yang beroperasi.

"Tampaknya pangkalan-pangkalan ini belum dibekukan. Pekerjaan masih berlangsung. Yang dikhawatirkan semua orang adalah Trump akan menerima kesepakatan buruk. Mereka hanya menghancurkan satu situs uji coba dan menutup beberapa hal lain, dengan timbal balik mereka ingin kesepakatan damai," ujar Cha sebagaimana dikutip AFP, Senin (12/11).

Berdasarkan laporan CSIS, situs-situs rudal tersebut berlokasi di daerah pinggiran pegunungan di Korut. Situs itu dapat digunakan untuk menyimpan rudal berbagai jarak, yang terjauh bisa mencapai wilayah AS.

"Basis rudal yang beroperasi ini bukan fasilitas peluncuran. Rudal bisa diluncurkan dari dalam situs itu dalam keadaan darurat, dengan prosedur operasi tentara Korut memerintahkan semua pelontar rudal disebar ke situs-situs operasi itu," demikian bunyi laporan tersebut.

Salah satu situs yang paling dekat dengan perbatasan Korea Selatan, Sakkanmol, dilaporkan "aktif dan dikelola dengan sangat baik." Lembaga think tank itu menyatakan bahwa pemerintah AS seharusnya mengetahui keberadaan semua situs senjata nuklir dan rudal sebelum mencapai kesepakatan.

Kim Jong-Un memeriksa sebuah perangkat nuklir, saat mengunjungi salah satu situs instalasi rudal nuklir negara tersebut. (Foto: STR / AFP / Getty via independent.co.uk)

Putin: Kekuatan Rudal Nuklir Kami Mampu Hancurkan Planet Bumi

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memperkuat rudal nuklir yang dimiliki negeri beruang merah, setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump ingin menarik diri dari perjanjian pengurangan senjata nuklir global. (Foto: GETTY via express.co.uk)
"Agresor harus tahu bahwa pembalasan tidak dapat dihindarkan, bahwa itu akan dihancurkan. Dan kita, para korban agresi, akan pergi ke surga sebagai martir, sementara mereka hanya akan mati, karena mereka tak punya waktu untuk bertobat,"
SOCHI -- Menyandang predikat sebagai negara pemilik rudal nuklir terkuat di dunia, tidak membuat pemerintah Rusia gegabah dan sombong dalam bertindak. Bahkan, Moskow menyadari bahwa senjata yang mereka miliki seperti pedang bermata dua yang juga bisa menghancurkan diri mereka sendiri. 

Negeri Beruang Merah itu berkomitmen hanya menggunakan rudal nuklir jika keadaan saat mendesak dan mereka tidak punya pilihan lain atasnya.

Hal ini disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin perihal kebijakan pertahanan dan doktrin nuklir Rusia. Menurutnya, jika negaranya dibom nuklir lebih dulu maka Moskow pasti membalas dengan senjata pemusnah massal dan kehidupan di planet Bumi bisa tamat atau berakhir.

Pemimpin Kremlin itu menyampaikan doktrin nuklirnya dalam forum Valdai Discussion Club di Sochi pada hari Kamis (18/10/2018). Dia menjamin senjata nuklir Moskow tidak untuk serangan pre-emptive (pendahuluan), namun digunakan sebagai pembalasan terhadap negara agresor.

"Tentang apakah kita siap, apakah saya siap, untuk menggunakan senjata yang kita miliki, termasuk senjata pemusnah massal, untuk melindungi kepentingan kita. Saya akan mengingatkan Anda apa yang saya katakan, dan saya mengatakan bahwa dalam konsep senjata nuklir kami tidak ada gagasan serangan pre-emptive," katanya.

"Konsep kami adalah respons terhadap serangan pre-emptive. Bagi mereka yang tahu, tidak perlu menjelaskan apa itu, tetapi bagi yang belum tahu saya akan mengatakannya lagi. Ini berarti bahwa kami siap dan akan menggunakan senjata nuklir hanya ketika kami membuat yakin bahwa seseorang, calon agresor, serangan di Rusia, di wilayah kita," ujarnya.

Sebuah rudal nuklir mobile Topol-12M Rusia. (Foto: REUTERS)
Tetapi Putin juga menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah ragu-ragu untuk menghantam musuh-musuh yang menyerang negaranya dengan kekuatan senjata nuklir total. Putin menegaskan akan melumat dan menghancurkan negara manapun yang menyerang Rusia, dan setiap musuh Rusia harus menyadari konsekuensi kehancuran yang akan mereka terima.

"Agresor harus tahu bahwa pembalasan tidak dapat dihindarkan, bahwa itu akan dihancurkan. Dan kita, para korban agresi, akan pergi ke surga sebagai martir, sementara mereka hanya akan mati, karena mereka tak punya waktu untuk bertobat," paparnya, seperti dikutip Sputnik.

Doktrin nuklir Rusia ini berbeda dengan doktrin nuklir Amerika Serikat (AS). Dalam dokumen Nuclear Posture Review (NPR) terbaru Washington yang dirilis beberapa bulan lalu dinyatakan bahwa Washington bisa menggunakan senjata nuklir sebagai tanggapan atas serangan non-nuklir terhadap dirinya sendiri atau sekutu-sekutunya.

Serangan yang bisa memicu pembalasan bom nuklir AS itu masih samar-samar, sehingga memicu spekulasi bahwa serangan siber pun bisa memungkinkan respons senjata nuklir Amerika. Presiden Putin menekankan bahwa Rusia tidak akan memulai perang nuklir karena akan menyebabkan malapetaka global.

Sejarah mencatat, tanggal 31 Juli 1991 menjadi tonggak awal untuk menuju perdamaian dan keamanan dunia dari ancaman senjata pemusnah massal nuklir. Pada hari itu, dua kekuatan dunia, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet meneken perjanjian untuk mengurangi jumlah senjata nuklir yang dihadapi masing-masing negara.

Di perjanjian bertajuk "START" ini, AS dan Soviet sepakat untuk mengurangi sekitar 35% senjata nuklir yang mereka miliki. Kesepakatan ini ditandatangani di Moskow oleh Presiden AS George HW Bush dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Perjanjian "Start" antara Blok Barat dan Blok Timur ini, baru tercapai setelah 9 tahun bernegosiasi.

Perbedaan sejumlah rudal nuklir yang dimiliki Amerika Serikat dan Rusia (dulu Uni Soviet). (Foto: stilloutinthecold.net)

Rudal Nuklir Korea Utara Kini Mampu Menghantam Kawasan Eropa

Ujicoba peluncuran rudal nuklir Korea Utara. Kemampuan daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat dari waktu ke waktu, hal ini menimbulkan kecemasan bagi AS dan negara-negara Barat lainnya. (Foto: © REUTERS / KCNA)
"Sekarang kita akhirnya menyadari penyebab historis yang hebat dalam menyelesaikan kekuatan nuklir negara,"
PYONGYANG -- Permasalahan senjata nuklir Korea utara (Korut) kini masih menjadi momok menakutkan bagi dunia Barat. Korut dituduh terus melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan nuklir mereka. Terbukti, daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat, bahkan kini mampu mencapai kawasan Eropa.

Rudal balistik antarbenua (ICBM) Korut kini dapat dipasangi hulu ledak nuklir dan mampu menargetkan negara-negara di Eropa tengah. Perkembangan kemampuan senjata rezim Kim Jong-un ini disampaikan intelijen Jerman.

Surat kabar Bild pada hari Minggu mengutip laporan Wakil Ketua Federal Intelligence Service (BND), Ole Diehl, kepada pejabat pemerintah dalam sebuah pertemuan tertutup. Dalam laporannya, Diehl mengatakan bahwa ICBM Korea Utara sekarang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir.

Selain itu, dia juga yakin bahwa ICBM Pyongyang sekarang dapat menjangkau Jerman. Meski demikian, Diehl melihat pembicaraan antara Korea Utara dan Korea Selatan sebagai langkah positif untuk menurunkan ketegangan. Pihak BND secara resmi belum berkomentar atas laporan pejabatnya tersebut.

Korea Utara telah lama mengklaim bahwa rudalnya mampu mencapai berbagai negara di dunia. Pada bulan November, Pyongyang mengatakan telah melakukan uji coba pertama Hwasong-15, sebuah rudal balistik antarbenua terbaru yang diklaim bisa sampai ke bagian dunia manapun.

Perkembangan daya jangkau rudal nuklir Korea Utara, yang kini sudah mampu mencapai kawasan Eropa dan sebagian wilayah teritorial Amerika Serikat.

Wilayah Kashmir Kembali Bergejolak, India dan Pakistan Diambang Perang Nuklir

India dan Pakistan kembali terlibat konflik yang menjurus ke perang terbuka di wilayah sengketa, Kashmir. India berusaha memperlebar wilayahnya di zona konflik Kashmir, yang memicu kemarahn Pakistan. (Foto: india.com)
KASHMIR -- Dua negara pemilik senjata nuklir, India dan Pakistan kini kembali memanas di wilayah sengketa lama, Kashmir. Ketegangan kedua negara terjadi setelah pasukan India menyerbu wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan dengan alasan memburu teroris. Sabtu lalu, terjadi baku tembak antara kedua kubu di perbatasan.

Sedangkan, India menuding Pakistan telah mendukung terorisme di Kashmir. Pemerintah Pakistan membantah tudingan itu. Kisruh India dan Pakistan terkait sengketa Kashmir kembali memanas dalam sebulan terakhir. Upaya menahan diri dari konflik bersenjata gagal setelah kedua belah pihak baku tembak dan saling tuduh sebagai pemicu kekerasan.

Konflik kali ini dianggap salah satu yang terparah dalam lima tahun terakhir, ini dan membawa emosi rakyat di kedua negara dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dunia perfileman pun terkena imbasnya.

Otoritas sinema Pakistan melarang penayangan film-film India di bioskop-bioskop negara itu menyusul ketegangan antara kedua negara di wilayah sengketa Kashmir. Keputusan Pakistan ini diambil setelah sebelumnya Asosiasi Produser Film India, IMPPA, melarang aktor dan teknisi Pakistan untuk bekerja di Bollywood.

Penduduk muslim Kashmir terlibat konflik dengan polisi dan militer India, yang dianggap telah menjajah tanah air mereka. (Foto: aim.org)
Kisruh perbatasan ini merambah dunia perfilman saat para pemilik bioskop mencabut poster-poster film India dan menggantinya dengan film Pakistan atau Hollywood. Pemilik bioskop di Punjab mengatakan tidak akan memutar film India sebagai bentuk solidaritas.

"Saya kira kita harus menunjukkan solidaritas terhadap tentara kita di perbatasan yang tengah memanas saat ini, dan kedua terhadap aktor-aktor kita," kata Khurram Gultasab, petinggi Super Cinema, seperti dilansir AFP, Minggu (1/9).

India memiliki salah satu industri perfilman terbesar di dunia. Banyak aktor dan artis Pakistan ikut ambil ambil bagian dalam film-film di India sebagai bentuk hubungan antar-masyarakat kedua negara. Namun pekan lalu, para artis Pakistan diberi waktu 48 jam untuk angkat kaki dari India setelah ketegangan di Kashmir muncul.

Sejarah Konflik Kashmir

India dan Pakistan sejatinya pada masa lampau adalah satu negara yang utuh. Walau mayoritas dihuni penganut Hindu, tetapi selama ratusan tahun, dinasti Islam menguasai anak benua India. Memasuki masa penjajahan, Inggris menjadikan isu agama dan sektarian untuk memecah kekuatan negara jajahannya itu. Salah satunya adalah dalam masalah perbedaan agama.

Peta wilayah Kashmir dengan penduduk mayoritas muslim, namun menjadi pertikaian tiga negara besar pemilik senjata nuklir. (Gambar: pakimag.com)
Inggris hengkang dari India pada tahun 1947, membuat negara itu terpecah menjadi dua, mayoritas hindu membentuk negara India dan Muslim mendirikan Pakistan dengan batas wilayah masing-masing.

Tapi ternyata masalah belum selesai, sejumlah wilayah yang memiliki mayoritas penganut Islam masih berada dalam penguasaan India, salah satunya adalah di Jammu dan Kashmir, yang terletak diperbatasan kedua negara. Wilayah Kashmir sebenarnya ingin bergabung kedalam wilayah Pakistan, tapi India tidak bersedia melepaskannya.

Dalam sejarahnya India dan Pakistan telah 69 tahun berkonflik di Kashmir, sejak kedua negara merdeka. Pada 18 September lalu salah satu serangan paling mematikan terjadi di Kashmir, membuka kembali konflik yang telah berusaha diredam.

Karena perebutan dan sengketa yang tak berujung tersebut, kini Kashmir menjadi daerah tak bertuan yang akhirnya diklaim oleh kedua negara. India memasukkan Kashmir menjadi bagian dari wilayah mereka, memicu penentangan dari Pakistan, hingga berujung pecahnya perang.

Tentara Pakistan di perbatasan India dan Kashmir. (Foto: India Today)
Konflik menjadi semakin berbahaya setelah China juga mengklaim sebagian wilayah Kashmir. Namun, wilayah terbesar tetap dikuasai India, yang mengendalikan Jammu dan Kashmir yang mencakup 45 persen dari bagian tenggara dan timur wilayah tersebut.

Pakistan mengendalikan tiga bagian bernama Azad Kashmir, Gilgit dan Baltistan, mencakup 35 persen wilayah Kashmir di bagian utara dan barat. Sementara China mengendalikan Aksai Chin, sebesar 20 persen wilayah di timurlaut Kashmir. Garis Kendali adalah wilayah perbatasan yang dikuasai India dan Pakistan sepanjang 700 km di Kashmir.

Konflik Abadi

India dan Pakistan telah tiga kali berperang, dua di antaranya terkait Kashmir di tahun 1947 dan 1965. Kedua negara memiliki senjata nuklir sejak 1998 dan hampir kembali berperang pada 1999.

Lembaga think-tank Amerika Serikat, Council on Foreign Relations, mengatakan gencatan senjata kedua negara pada 2003 sangat rapuh namun tetap dipertahankan kendati sering terjadi baku tembak di perbatasan.

Serangan kelompok militan ke pos tentara India di Uri, dekat Garis Kendali, pada 18 September lalu adalah pemicu ketegangan belakangan ini. Serangan yang menewaskan 19 tentara India itu adalah yang terparah dalam puluhan tahun terakhir.

Dan pada 29 September, dua tentara Pakistan terbunuh dalam bentrok dengan pasukan India di perbatasan kedua negara. India menuding Pakistan mendukung terorisme dan mengangkat isu ini di PBB. Pakistan membantah tudingan tersebut.

Penduduk Kashmir melakukan demonstrasi mendesak India untuk angkat kaki dari wilayah mereka. (Foto: Washington Times)

Amerika Serikat Mulai Menyerah untuk Lucuti Senjata Nuklir Korea Utara

Rudal nuklir, Musudan Korea Utara, yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat. (Foto: defende.pk)
NEW YORK -- Kebijakan Amerika Serikat (AS) untuk berusaha melucuti senjata nuklir Korea Utara terus menemui jalan buntu. Bukannya semakin melemah, Korut justru terus memperkuat senjata nuklir mereka dengan melakukan berbagai macam uji coba.

Terkait kondisi ini, Amerika pun mengakui bahwa membujuk Korea Utara agar mengabaikan program senjata nuklirnya mungkin 'tidak berhasil'. Hal ini disampaikan oleh Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, James Clapper.

Dalam pidatonya di New York, James Clapper mengatakan hal yang paling bisa diharapkan AS adalah pembatasan kemampuan nuklir Korut. Pernyataan tersebut merupakan pengakuan yang jarang dilakukan, bahwa upaya denuklirisasi jangka panjang yang ditempuh Washington mungkin tidak tercapai.

Dalam sebuah acara di lembaga pengkajian Dewan Hubungan Luar Negeri di New York, Clapper juga menyebut pemerintah Korea Utara sebagai paranoid dan melihat senjata nuklir sebagai 'karcis untuk bisa selamat'.

Dia berpendapat tawaran rangsangan ekonomi kepada pemimpin Korut, Kim Jong-un, agar membatasi kemampuan nuklirnya mungkin akan lebih baik. "Jadi gagasan agar mereka menghentikan kemampuan nuklirnya, apa pun itu, tidak berguna," kata Clapper.
Daya jangkau rudal nuklir Korea Utara yang mampu menghantam wilayah Amerika Serikat.

Inilah Bukti Catatan NAZI Ternyata Berhasil Ciptakan Senjata Nuklir

Adolf Hitler dan sejumlah petinggi militer Nazi saat menyaksikan parade militer pasukan Nazi di Berlin. (photo: The Inquisitr)
BERLIN -- Para ilmuwan dan pemerhati sejarah hingga kini masih terus berusaha mencari dan meneliti berbagai macam penemuan teknologi para era pemerintahan Nazi Jerman. Bukan tanpa sebab, setidaknya sejarah mencatat, Adolf Hitler saat itu berusaha menciptakan berbagai macam penemuan dan teknologi yang bahkan masih dianggap tidak masuk akal di era-nya.

Setelah kekalahan Nazi dan tewasnya Hitler, negara-negara sekutu dan Rusia berebut untuk mendapatkan hasil penemuan Nazi terutama dalam pengembangan senjata dan bom atom. Musuh-musuh Nazi saat itu meyakini jika Hitler telah mampu menciptakan bom atom dan bahkan menyimpan bom atom disebuah tempat rahasia.

Selama perang, sekutu musuh menyadari ambisi nuklir rezim Hitler dan berhasil menghentikannya pada tahun 1942 ketika sembilan penyabot menghancurkan sebuah “heavy water plant” di Norwegia yang dikendalikan Nazi.

Menurut laporan Der Spiegel, Nazi terindikasi sudah berhasil mengembangkan senjata nuklir di masa lalu. Pada tahun 2005, sejarawan Rainer Karlsch mengklaim bahwa Nazi berhasil melakukan pengujian hingga tiga bom pada tahun 1944 saat sekutu-sekutunya berkumpul di Berlin.

Rezim Nazi Jerman diyakini hampir berhasil membuat bom atom sebelum dihancurkan di hadapan sekutu-sekutunya sendiri, menjelang kedatangan pasukan musuh.

Meski pada akhir kekuasaanya Hitler tak pernah menggunakan bom atom, tetapi dalam sejumlah penemuan, terbukti bahwa Nazi sebenarnya telah mampu dan memiliki bom nuklir. Berikut catatan penemuan tersebut.

1. Nazi Pernah Melakukan Uji Coba Bom Nuklir

Sebuah film dokumenter Jerman mengungkapkan bahwa Nazi pernah sangat dekat dengan upaya mengembangkan senjata pemusnah massal. Seperti diberitakan oleh Express, 31 Juli 2015.

Film The Search for Hitler Atom Bomb itu menggambarkan bagaimana Nazi melakukan penelitian canggih, dan bahkan mengorbankan tawanan perang Uni Soviet untuk menguji efisiensi bom itu. Film yang ditayangkan di saluran ZDF itu mengutip laporan interogasi para ilmuwan Nazi, saksi mata, dan catatan yang ditinggalkan para peneliti.

Para ilmuwan Nazi sedang melakukan ujicoba rudal balistik pertama, yang rencananya akan disematkan bom nuklir untuk menghadapi Sekutu dan Uni Soviet. (photo: Daily Star)
Sejarawan Matthia Uhl mengklaim bahwa kompetisi menciptakan bom atom justru intensif dilangsungkan pada tahun-tahun terakhir perang, saat Jerman mulai sering mengalami kekalahan. Di pusat program SS, Jendral Hans Kammler diberi tanggung jawab mewujudkan ambisi Adolf Hitler ini.

Salah satu proyek utama Kammler adalah Lembah Jonas di Thuringia, Jerman timur, yang diduga sebagai lokasi program nuklir Nazi. Satu percobaan penggunaan senjata pembunuh massal itu dilaporkan dilakukan pada awal Maret 1945.

ZDF mengutip dokumen Soviet yang berasal dari agen intelijen militer Rusia yang berbicara tentang dua tes nuklir di Thuringia. Mereka mengatakan, "Jerman tengah berupaya keras membuat dan menguji senjata rahasia baru, yang memiliki daya rusak yang besar. Bom itu memiliki diameter 1,5 meter."

2. Ditemukan Materi Radioaktif

Bernd Thalmann, 64, seorang pemburu peninggalan Nazi, menemukan sejumlah logam-logam aneh di pingggiran kota Berlin. Thalmann, menemukan bukti itu dengan menggunakan detektor logamnya. Dia menemukan tumpukan logam yang agak aneh dan tidak magnetik.

Dia awalnya tidak curiga dengan tumpukan logam tersebut dan membawanya pulang. Tapi, setelah pemeriksaan singkat, dia menjadi khawatir dan melapor ke pihak berwenang Jerman.

Menurut hasil pemeriksaan yang dikutip dari Berlin Kurier, semalam (23/9/2017), benda-benda logam yang ditemukan itu sebenarnya adalah bagian dari materi radioaktif untuk bom atom Nazi.

Wilayah yang disurvei Thalmann adalah Oranienburg, sebuah lokasi fasilitas uji coba nuklir rahasia Nazi. Lokasi itu dimusnahkan dengan lebih dari 10.000 bom.

Para ilmuwan Nazi sedang membangun situs uji coba senjata nuklir rezim di Haigerloch, Jerman. (photo/Wikipedia)

Inilah SS-18 Satan 2, Rudal Nuklir Terkuat yang Mampu Menghancurkan Benua

Rusia telah melakukan uji coba peluncuran tahap akhir dalam proses produksi rudal nuklir SS-18 Satan 2, yang merupakan misil nuklir tercanggih di dunia pada abad ini. (image: rt.com)
”Pada bulan Juni 2011, Kementerian Pertahanan Rusia menandatangani kontrak negara untuk pembangunan (rudal) Sarmat ini. Para calon sistem rudal strategis sedang dikembangkan untuk menciptakan penangkal nuklir terjamin dan efektif untuk pasukan strategis Rusia,"
MOSKOW -- Rusia kembali menunjukkan diri sebagai negara paling terdepan dalam teknologi peluru kendali dan senjata nuklir. Menyandang gelar sebagai negara pemilik senjata nuklir terbanyak di dunia, sepertinya belum membuat Rusia merasa puas, dan kini negeri Beruang Merah tersebut dalam proses tahap akhir pembuatan rudal nuklir tercanggih di dunia, dan beberapa saat yang lalu telah dilakukan uji coba.

Pasukan Misil Strategis Rusia meluncurkan misil balistik RS-18 pada Selasa (25/10), demikian dilaporkan RT. Peluncuran tersebut merupakan uji coba hulu ledak peluncur hipersonik termutakhir, yang mampu mengalahkan sistem antimisil AS.

Uji coba dilakukan pada siang hari dari area dekat kota Yasny, Orenburg Oblast, di Ural selatan. Hulu ledak tersebut berhasil meluncur hingga lapangan uji coba Kura di Kamchatka, Timur Jauh Rusia. Dua lokasi ini berjarak sekitar 5.800 kilometer. Sebagai perbandingan, jarak dari Sabang sampai Merauke jika ditarik garis lurus sekitar 5.100 kilometer.

"Uji coba berlangsung dengan sukses. Hulu ledak tiba di lapangan Kura sesuai rencana," terang Kementerian Pertahanan Rusia.

Misil balistik nuklir RS-28 Sarmat, atau di NATO lebih dikenal dengan rudal nuklir SS-18 Satan 2. (FOTO: istimewa)
Menurut MilitaryRussia.ru, salah satu blog militer yang populer, peluncuran tersebut bertujuan menguji coba hulu ledak peluncur hipersonik Rusia, yang dijuluki sebagai ‘Objek 4202’, atau Hulu Ledak Hipersonik Aerobalistik.

Meski belum diluncurkan secara resmi, Rusia sudah membocorkan informasi perihal rudal Satan 2 ini beberapa hari lalu. Rudal supernuklir ini secara resmi baru akan melayani militer Rusia pada 2018 mendatang.

Rudal Satan 2 diklaim Rusia memiliki efek ledakan 2.000 kali lebih kuat dari bom atom Amerika Serikat (AS) yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II puluhan tahun silam. Kantor berita Sputnik melaporkan, rudal Satan 2 mampu menghancurkan area seukuran Prancis maupun Texas, dan memiliki daya rusak radiasi nuklir mampu mencakup sebuah benua.

Rudal RS-28 Sarmat akan menggantikan rudal RS-36M atau SS-18, senjata Soviet era 1970-an yang oleh NATO dinamai sebagai rudal Satan. Menurut laporan media Rusia, rudal Satan 2 memiliki berat hingga 10 ton dengan kapasitas mampu membawa hingga 10 ton kargo nuklir.

Perbandingan rudal nuklir SS-18 Satan 2 dengan ukuran tubuh manusia. (image: pravdareport)

Trump Buat Masalah, Iran Ancam Keluar dari Kesepakatan Nuklir Global

Rudal dengan latar belakang spanduk potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Baharestan Square di Teheran, Iran. (Foto kredit: Reuters/Nazanin Tabatabaee Yazdi)
"Kesepakatan nuklir 2015 tidak dapat dinegosiasikan ulang dan kami tidak menerima perubahan apapun baik sekarang atau di masa depan,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran menyatakan akan keluar dari kesepakatan nuklir, jika Presiden Amerika Serikat (AS) terus saja membuat masalah yang akan merusak kesepakatan tersebut.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragachi yang memperingatkan dunia akan menghadapi “krisis nuklir Iran lainnya” jika kesepakatan tahun 2015 runtuh.

Ancaman itu dilontarkan dalam sebuah pidato di Chatham House London pada hari Kamis. Menurut Aragachi, “atmosfer ketidakpastian” di bawah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membuat lebih sulit bagi Iran untuk tetap menjalankan kesepakatan yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tersebut.

”Jika kita kehilangan JCPOA, kita akan menghadapi krisis nuklir lagi, yang akan sangat sulit dipecahkan saat ini. Ini adalah pilihan antara keamanan dan ketidakamanan di tingkat dunia,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (23/2/2018).

Araghchi, yang bertindak sebagai juru runding nuklir utama Iran, juga mengisyaratkan bahwa Iran dapat menarik diri dari kesepakatan tersebut jika negaranya gagal untuk memetik manfaat yang diharapkan dari JCPOA. Faktanya, masih ada beberapa bank internasional yang menolak bekerjasama dengan Iran karena takut terkena sanksi dari AS.

”Bagi Iran, kami seharusnya mendapat keuntungan dari pencabutan sanksi. Jika perusahaan dan bank-bank (internasional) tidak bekerjasama dengan Iran, kami tidak bisa tetap berada dalam kesepakatan yang tidak menguntungkan kami,” katanya merujuk pada hasil kesepakatan nuklir Iran.

Ujicoba misil balistik Iran. AS, Israel dan sejumlah negara Uni Eropa mencurigai Iran telah mampu menyematkan senjata nuklir dalam sistem misil balistiknya. (Foto: Global Look Press)
Araqchi menyatakan Iran siap menghadapi skenario apapun, terkait rencana mundurnya Washington dari JCPOA. "Wilayah kita tidak akan berubah menjadi daerah yang lebih aman tanpa kesepakatan nuklir," katanya.

Trump Ingin Hengkang dari Kesepakatan Nuklir

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump pada Jumat (13/10), menolak mengesahkan kesepakatan nuklir Iran yang tercapai pada 2015 sewaktu Presiden Barrack Obama. Trump mengatakan, dirinya telah mengambil langkah tepat karena mungkin AS telah lolos dari kesepakatan yang bisa menjadi menurutnya menjadi 'salah satu yang terburuk' dalam sejarah.

"Saya mengumumkan bahwa kita tidak dapat dan tidak akan membuat sertifikasi (pengesahan) ini. Kami tidak akan terus menyusuri jalan yang bisa diperkirakan kesimpulannya lebih banyak kekerasan, teror, dan ancaman nyata dari nuklir Iran," kata Trump, dikutip AFP, Sabtu (14/10).

Pernyataan Trump ini ditanggapi cepat oleh Iran. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, kebijakan itu merupakan langkah putus asa Amerika Serikat (AS) untuk merusak kesepakatan multilateral.

Pemerintah Iran menegaskan, tidak akan menerima apa pun perubahan yang dilakukan terhadap kesepakatan nuklir yang dicapai tiga tahun lalu. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, segala bentuk revisi yang dilakukan dalam perjanjian tersebut melanggar komitmen yang sudah dicapai.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Kesepakatan nuklir 2015 tidak dapat dinegosiasikan ulang dan kami tidak menerima perubahan apapun baik sekarang atau di masa depan," tegas Mohammad Javad Zarif seperti dikutip Aljazirah, Ahad (14/1).

Sementara juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi, memperingatkan bahwa kemungkinan pencabutan atau perilaku irasional yang berhubungan dengan kesepakatan nuklir akan menjadi kesalahan terang-terangan yang oleh pemerintahan Trump dan akan disesalinya.

"Semua pilihan ada di meja Republik Islam untuk kondisi apapun dan akan dilaksanakan pada hari yang sama dan dengan cepat sesuai dengan jenis keputusan yang dibuat di AS," ujar Qassemi.

Iran pun menyatakan tidak menutup kemungkinan akan memikirkan kembali kesepakatan kerja sama dengan badan pengawas nuklir PBB, IAEA, jika Amerika Serikat (AS) gagal menjalankan komitmennya. Peringatan itu disampaikan ke Direktur Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Yukiya Amano.

"Jika AS tidak memenuhi komitmennya dalam JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action), Republik Islam Iran akan mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kerja sama saat ini dengan Badan Tenaga Atom Internasional," kata kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (9/1/2018).

PBB: Iran Telah Memenuhi Kewajibannya

Di bawah kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani di Wina antara Iran dan enam kekuatan dunia yakni Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Prancis, Inggris dan China. Teheran bersedia mengekang program pengayaan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi atau embargo.

Seorang pria Iran membaca sebuah salinan surat kabar harian 'Omid Javan' dengan gambar Presiden AS Donald Trump dengan tajuk utama yang bertuliskan 'Crazy Trump' (Foto: AFP / Getty)
Menurut inspektur PBB, Iran terus mematuhi kesepakatan tersebut. Sebagai gantinya, Iran diizinkan untuk melanjutkan perdagangan minyak dan gas di pasar internasional. Aset Iran di luar negeri senilai USD 100 miliar yang sebelumnya dibekukan juga sudah dibebaskan dari sanksi.

IAEA telah berulang kali mengkonfirmasi kepatuhan penuh Iran terhadap kesepakatan internasional tersebut, dengan mengatakan bahwa Teheran belum memperkaya uranium di atas tingkat yang ditentukan. Pengawas PBB juga menjelaskan bahwa mereka tidak pernah mengalami hambatan dalam memperoleh akses ke lokasi nuklir yang diinginkan di dalam negeri.

Namun, ini semua tetap belum dirasa cukup oleh Donald Trump. Secara keseluruhan, ada empat poin kritis yang ingin dikoreksi Donald Trump dalam perjanjian tersebut. Pada poin pertama Trump meminta inspeksi dapat dilakukan langsung di semua tempat yang diminta oleh badan inspeksi internasional.

Kedua, kesepakatan harus mengatur langkah-langkah yang memastikan Iran tidak akan pernah memiliki persenjataan nuklir. Ketiga, tidak ada kebijakan tanggal kedaluwarsa. Keempat, tidak ada perbedaan antara program rudal jarak jauh dan senjata nuklir Iran yang diatur dalam sanksi tersebut.

Trump mengancam, AS akan menarik diri dari kesepakatan jika 'kecacatan' yang ada dalam kesepakatan itu tidak diperbaki. Komisioner Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Federica Mogherini mengatakan, kesepakatan yang ada saat ini masih berjalan dengan maksimal, yakni selalu terawasinya program nuklir Iran. Trump menginginkan perjanjian itu diperkuat dengan kesepakatan terpisah dalam waktu 120 hari.

Trump harus memutuskan pada pertengahan Januari apakah akan memperpanjang keringanan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran di bawah kesepakatan nuklir atau tidak. Jika Trump gagal untuk menandatangani keringanan dana, yang akan diperpanjang setiap 120 hari, pembatasan terhadap Teheran akan diberlakukan secara otomatis.

Rusia: Trump Membuat Semuanya Jadi Berantakan!

Sekutu Iran, yakni Rusia ikut mengecam kebijakan negatif Trump yang ingin menghentikan dan memperketat sanksi terhadap Iran. Rusia menegaskan akan menentang Paman Sam jika mereka memutuskan hengkang dari kesepakatan nuklir tersebut.

Seorang wanita Iran memegang sebuah plakat yang menunjukkan karikatur Presiden AS Donald Trump ditinju oleh sebuah tangan yang memakai gelang bendera Iran dalam sebuah demonstrasi yang memperingati ulang tahun revolusi Islam 1979 pada 10 Februari 2017 di ibukota Teheran. (Foto: Atta Kenare / AFP)

Ketakutan, Arab Saudi Protes Program Nuklir Iran dan Pengiriman Rudal ke Yaman

Misil balistik Iran saat dipamerkan dalam sebuah parade militer. Arab Saudi menuding Iran semakin meningkatkan kemampuan program nuklirnya secara diam-diam dan terus menerus mengirimkan sejumlah persenjataan kepada para pejuang Houthi di Yaman. (Foto: istimewa)
"Iran tidak hanya mengirim senjata, mereka memindahkan pengetahuan di rudal balistik ke Yaman. Keahlian tersebut mungkin bisa diturunkan kepada milisi Suriah, atau juga kepada al-Qaeda dan ISIS,"
RIYADH -- Kerajaan Arab Saudi semakin cemas dan ketakutan melihat perkembangan program nuklir Iran, dan semakin meningkatnya pengiriman rudal dari negeri paramullah tersebut ke zona konflik di Yaman.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam sebuah pidato di hadapan Parlemen Eropa di Brussels bahwa kesepakatan nuklir saat ini tidak cukup untuk mengubah perilaku Iran. Dia yakin Teheran dapat membuat sebuah bom nuklir dalam 8 tahun.

”Kami percaya bahwa 'sunset clause' memungkinkan Iran untuk memperkaya (uranium) sebanyak yang dia inginkan delapan atau sepuluh tahun dari hari ini sangat berbahaya,” katanya.

Sunset clause adalah suatu kondisi atau ketentuan dalam undang-undang atau kesepakatan yang menetapkan suatu titik tertentu pada saat kesepakatan tertentu itu tidak berlaku lagi. Klausul itu merupakan salah satu inti dari kesepakatan nuklir antara Iran dan enam kekuatan dunia yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Saudi juga meyakini, Iran secara teoritis dapat memiliki 50.000 atau 60.000 sentrifugal sehingga dapat memperkaya uranium yang cukup untuk membuat sebuah bom nuklir dalam beberapa minggu saja.

Daya jangkau sejumlah misil balistik Iran yang mampu menyasar wilayah Arab Saudi. Dari masa ke masa, Iran semakin meningkatkan kemampuan misil balistiknya yang dianggap sebagai ancaman bagi sejumlah negara. Kekhawatiran terbesar adalah jika Iran juga mampu menguasai teknologi nuklir, maka, misil balistik tersebut juga bisa disematkan muatan nuklir.
”Pada saat mereka mengusir inspektur dan pada saat penghukuman berakhir, mereka akan memiliki satu bom. Pada saat mereka mendapatkan resolusi di PBB, mereka akan memiliki tiga bom dan pada saat resolusi berjalan di tempat, mereka akan memiliki selusin bom. Dan kita berada tepat di sebelah mereka,” lanjut Jubeir, seperti dikutip Arab News, Jumat (23/2/2018).

Jubeir juga mengingatkan Iran bahwa Revolusi Islam ala Iran yang dicetuskannya pada tahun 1979 sudah berakhir dan mendesak Teheran untuk menghentikan tindakan yang bisa memicu terjadinya perlombaan senjata di kawasan.

Sebaran Rudal Iran Semakin Meningkat di Yaman

Selain masalah program nuklir Iran, rezim dinasti Al-Saud di Riyadh juga mencemaskan peran Iran di Yaman dan semakin meningkatnya keberadaan rudal-rudal buatan Teheran di wilayah konflik itu. Saudi pun mendesak PBB dan negara Barat menghentikan tindakan Iran tersebut.

Selain itu menurut Jubeir, milisi Houthi yang didukung Iran telah menyebabkan kelaparan di Yaman dan menanam ranjau di mana-mana. Kelompok pemberontak itu, kata dia, juga menghalangi bantuan makanan dan air untuk warga sipil di kota-kota dan daerah pedesaan yang mereka kuasai.

Arab Saudi beralasan, rudal yang dikirimkan oleh Iran ke Yaman, untuk mendukung pemberontak Houthi bisa jatuh ke tangan al-Qaeda dan juga memiliki kemungkinan untuk jatuh ke tangan ISIS.

Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammad Al Jabir menyatakan bahwa bukan hanya rudal saja yang bisa jatuh ke tangan teroris, tapi juga pengetahuan bagaimana untuk membangun dan mengembangkan rudal bisa tersampaikan kepada teroris di Yaman.

Tentara Arab Saudi membombardir Yaman dengan artileri dekat perbatasan di wilayah Jazan, Arab Saudi, 20 April 2015. Walau didukung persenjataan super canggi dari Amerika Serikat, Israel dan sejumlah negara koalisinya, Arab Saudi hingga kini belum juga mampu menaklukkan wilayah miskin, Yaman. (Foto: AP)

Inilah The Football, Tombol Nuklir AS yang Paling Ditakuti China dan Korut

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat terlibat perang retorika dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Kedua pemimpin negara saling melontarkan ancaman serangan senjata nuklir. (Foto: Daily Star)
"Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan bahwa tombol nuklirnya selalu berada di atas meja setiap waktu. Adakah seseorang dari rezimnya yang kelaparan itu bisa memberitahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih kuat dari miliknya, dan tombol saya bekerja dengan baik!"
WASHINGTON DC -- Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat (AS) juga menjadi negara memiliki musuh terbanyak di muka bumi. AS setiap saat terpaksa harus waspada dengan segala kemungkinan ancaman serangan dari musuh-musuhnya tersebut.

Untuk itu, setiap Presiden Amerika Serikat yang terpilih, diberikan otoritas tertinggi untuk menggunakan seluruh akses militer salah satunya adalah senjata nuklir. Kemana pun Presiden AS pergi, selalu disertai dengan tombol nuklir yang dibawa oleh para ajudannya.

Seperti saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambangi China dalam rangka tur Asia pada 8 November 2017. Sebuah laporan mengungkap “keributan” antara agen Secret Service AS, dengan petugas keamanan China saat Presiden Donald Trump berkunjung ke Beijing November lalu.


Petugas keamanan China mencegah ajudan militer Trump membawa tombol nuklir atau “nuclear football” saat menemani presiden AS masuk ke sebuah ruang pertemuan.

Kejadian itu diungkap Axios dalam laporannya pada hari Minggu (19/2/2018). Sekadar diketahui, “nuclear football” berwujud koper atau tas kerja yang nyaris tak pernah lepas dari tangan ajudan militer presiden AS.

Sesuai protokol, koper berisi tombol-tombol perintah serangan nuklir itu wajib selalu berada di dekat presiden AS di mana pun dan kapan pun. Dengan koper itu, seorang presiden AS setiap saat bisa meluncurkan serangan nuklir dengan memencet tombol perintah yang terhubung langsung ke eksekutor nuklir Pentagon.

Insiden di Beijing itu membuat Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly, turun tangan. Menurut laporan, Kelly sempat “ribut” dengan seorang petugas keamanan China yang mencegah ajudan militer Trump membawa “nuclear football” masuk ke ruangan untuk berada di belakang Trump.

Para ajudan Presiden Donald Trump tetap membawa The Nuclear Football saat pemimpin negara adidaya itu mengunjungi China. (Foto: zerohedge.com)
Menurut laporan Axios, Insiden bermula ketika staf militer AS yang membawa koper dilarang masuk Balai Agung Rakyat di Beijing. Saat delegasi AS mulai bergerak memasuki aula, seorang pejabat keamanan China meraih Kelly yang menyingkirkan tangan petugas yang menghalangi langkah ajudan militer Trump. Saat itulah seorang agen Secret Service AS menangani pejabat keamanan Beijing tersebut.

"Lalu terjadilah keributan, seorang petugas keamanan China memegang Kelly, kemudian Kelly dorong orang itu. Kelompok petugas dari pihak Trump menjelaskan prosedur keamanan pada keamanan China sebelum datang. Tapi seseorang (di pihak China) tidak mengerti," kata seorang sumber pada Axios.

Tak tinggal diam, petugas Dinas Rahasia AS membalas dengan melumpuhkan petugas keamanan China. Insiden itu terjadi dalam waktu singkat. Pihak AS maupun China pun diminta untuk menutup mulut soal ketegangan yang terjadi.

Lebih lanjut, pihak China menegaskan bahwa mereka tidak merebut atau bahkan menyentuh koper tombol nuklir itu. Setelah dijelaskan bahwa “nuclear football” AS tidak pernah berhubungan dengan seorang pejabat asing dan detail keamanannya, pihak China juga telah meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.

Tombol Nuklir dan Perang Retorika Jong Un Versus Trump

Perang retorika bernada ancaman juga pernah terjadi terkait tombol nuklir antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Donald Trump. Hal ini terjadi saat Kim dalam pidato tahun barunya sesumbar, dengan menyatakan tombol nuklirnya lebih besar dan dapat menghancurkan AS hingga rata dengan tanah. Dia siap menekan tombol nuklir yang selalu ada di atas mejanya jika Korut terancam.

Kim juga menegaskan bahwa negaranya akan terus mengembangkan senjata nuklir dan rudalnya. Dia mengatakan bahwa negaranya adalah "kekuatan nuklir pecinta damai yang bertanggung jawab."

"Bahwa saya punya tombol nuklir di meja saya adalah kenyataan, bukan ancaman. Seluruh daratan Amerika Serikat dalam jangkauan serangan nuklir kami," kata Kim dalam pidatonya, Senin (1/1).

Rudal nuklir Korea Utara. (Foto: Reuters)
Menanggapi ini, Trump balik mengancam dan memamerkan kekuatan Amerika Serikat lewat akun Twitternya. Trump menyebut  tombol nuklirnya  lebih besar dan lebih kuat dari pada yang dimiliki Pyongyang.

"Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan bahwa tombol nuklirnya selalu berada di atas meja setiap waktu. Adakah seseorang dari rezimnya yang kelaparan itu bisa memberitahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih kuat dari miliknya, dan tombol saya bekerja dengan baik!" kicau Trump melalui akun Twitternya, Rabu (3/1).

Namun, banyak orang merasa tidak aman dan khawatir akan terjadinya perang akibat perseteruan dua kepala negara ini. Tidak sedikit netizen yang kemudian membalas cuitan Trump tersebut dengan nada kesal, karena dianggap melibatkan dan mengorbankan kepentingan publik yang tidak tahu apa-apa.

Apa itu Tombol Nuklir dan Seperti Apa Bahayanya?

Sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam, Donald Trump punya wewenang untuk meluncurkan senjata nuklir ke pihak lawan yang dianggap mengancam keselamatan AS.

Akan tetapi, meluncurkan senjata pemusnah massal itu tak sesederhana memencet tombol untuk mengganti saluran televisi. Di Amerika, meluncurkan sebuah serangan nuklir merupakan proses yang rahasia dan rumit yang melibatkan sebuah tas kantor (koper) berwarna hitam yang digunakan oleh presiden AS untuk memerintahkan penggunaan senjata nuklir atau yang disebut dengan "nuclear football" seberat 20 kilogram.

Koper berisi tombol perintah serangan nuklir AS tersebut dikenal sebagai “tas darurat presiden”. Berbeda dengan bayangan banyak orang, tak ada tombol di dalamnya, apalagi jam yang bisa diatur berdetak hingga ke momentum ledakan.

Perang retorika antara Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. (Foto: Twitter)
Yang ada di dalam tas tersebut adalah alat-alat komunikasi dan sebuah buku panduan yang memuat rencana perang. Panduan ini juga berisi dan daftar tempat-tempat yang bisa disasarkan oleh senjata nuklir Amerika yang didesain untuk membuat keputusan secara cepat.

Koper hitam yang merupakan modifikasi dari tas merek Zero Halliburton itu, dibawa langsung oleh perwira tinggi militer. Personil yang membawa ‘nuclear football‘ dirotasi untuk mencerminkan beberapa cabang angkatan militer yang ada.


CNN dalam sebuah laporannya menyebutkan, ‘nuclear football‘ sebenarnya berisi 4 hal : folder manila tentang prosedur ‘Emergency Broadcast System’ untuk berkoordinasi dengan personel militer lain, buku hitam terkait pilihan serangan nuklir yang ada, buku tentang tempat-tempat persembunyian rahasia yang dapat dipakai untuk mengamankan presiden, dan yang terakhir kartu plastik berisi kode autentifikasi disebut ‘nuclear biscuit‘.

Presiden tidak perlu persetujuan dari pihak lain, termasuk Kongres dan Angkatan Bersenjata, untuk mengeluarkan otorisasi serangan nuklir. Seandainya Trump memerintahkan serangan nuklir, dia harus mengidentifikasi dirinya kepada pejabat militer dengan sebuah kode, yang disebut “biscuit,” dan dibawa oleh presiden setiap saat.

Pada 1980, Bill Gulley, mantan direktur Kantor Militer Gedung Putih, mengatakan, ada tiga pilihan serangan balasan yang ada dalam tas tersebut: rare, medium, atau well done. Dan "Biscuit" mewakili kartu-kartu yang berisi kode yang harus dibawa setiap saat oleh presiden. Kartu-kartu tersebut tak disimpan di dalam tas "nuclear football".

Setelah mengidentifikasi dirinya dengan menggunakan kode yang ada dalam "biscuit", presiden meneruskan perintah ke Pemimpin Kepala Staf Gabungan Militer AS (Chairman of the Joint Chiefs of Staff), jabatan tertinggi dalam militer Negeri Paman Sam.

"The Football" atau "president's emergency satchel" adalah tas Zero Halliburton 45-lb berbingkai aluminium di dalam jaket kulit hitam, di mana sebuah kartu plastik dengan kode peluncuran nuklir yang disebut "biskuit nuklir" dapat ditemukan. Ini juga berisi prosedur untuk Sistem Siaran Darurat, sebuah "buku hitam" dengan "menu" pilihan penyerangan yang telah direncanakan sebelumnya, dan sebuah buku bunker rahasia tempat Presiden dapat dilindungi. The Football selalu dibawa oleh seorang ajudan militer yang diharuskan tinggal di dekat Presiden setiap saat. (Foto: zerohedge.com)
Kemudian, pejabat militer tersebut meneruskannnya kepada Pentagon di Washington DC dan Markas Komando Strategis AS (US Strategic Command) di Pangkalan Udara Offutt, Nebraska.

Perintah lalu disampaikan ke tim di lapangan, di darat, laut, maupun udara. Perintah untuk menembak dikirim melalui kode, yang urutannya harus sesuai dengan kode yang terkunci di brankas tim peluncur senjata nuklir.

Pasca disumpah jadi presiden, ABC News bertanya ke Trump soal bagaimana perasaannya setelah menerima "biskuit" tersebut. "Saat mereka menjelaskan apa yang terwakili di balik itu dan kehancuran yang bisa diakibatkannya, momentum itu sangatlah serius. Ini sangat, sangat menakutkan, dalam arti tertentu," kata Trump.

Bisakah Perintah Presiden Ditolak?

Presiden adalah panglima tertinggi di tubuh militer AS. Dengan kata lain, apa yang dititahkannya merupakan perintah. Namun, kemungkinan ada celah untuk menolak perintah tersebut. Masalah penggunaan senjata nuklir bukanlah perkara main-main. Hingga kini bahkan aksi peluncuran senjata nuklir sebenarnya masih dianggap ilegal.

Gen. John Hyten, komandan dari US Strategic Command bahkan mengatakan jika presiden benar-benar memerintahkan militer untuk meluncurkan serangan nuklir, ia akan memilih untuk memberikan nasihat pada presiden. 


“Jika presiden memerintahkan melakukan hal ilegal, saya akan berkata: Pak Presiden, tindakan ini ilegal,” kata Hyten kepada CNN.
Seorang perwira tinggi AS membawa tombol nuklir (Foto: AP/ Cliff Owen)
Hyten juga lebih menyarankan untuk memberikan respon yang sesuai dengan kapabilitasnya.

Pada November 2017, untuk pertama kali dalam 40 tahun, Kongres meninjau kewenangan presiden untuk meluncurkan serangan nuklir. Salah seorang pakar yang dihadirkan adalah C Robert Kehler, komandan Komando Strategis AS pada kurun 2011-2013.

Kepada Kongres, dia mengatakan bakal mengikuti perintah presiden untuk melancarkan serangan nuklir, tapi hanya jika perintah itu sah secara hukum. Dalam kondisi-kondisi tertentu, menurutnya, 'Saya akan mengatakan, saya tidak siap melanjutkan'. Kehler berpendapat bahwa perintah penggunaan tombol nuklir oleh presiden seharusnya bisa ditolak.

Setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki, senjata nuklir jadi instrumen militer paling berbahaya dan ditakuti di dunia. Bahkan hanya ada lima negara yaitu; Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis, dan Cina, secara legal diakui dan diperbolehkan memiliki senjata nuklir dalam perjanjian Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).

Ajudan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selalu membawa 'Cheget,' tombol nuklir negari Beruang Merah yang merupakan rival utama negeri paman Sam. (Foto: istimewa)