Jalur Militer: Nasionalisme

Nasionalisme Ganda Etnis China dan Hinaan Terhadap TNI

Seorang warga etnis China ikut dalam demonstrasi Mei 1998 untuk menjatuhkan rezim pemerintahan Presiden Soeharto. Tumbangnya Orde Baru menjadi momentum baru bagi pergerakan etnis China di Indonesia untuk masuk dalam seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia, yang sebelumnya sangat dibatasi. (Foto: Istimewa)
“Hari ini baca, Sukanto Tanoto, dia bilang Indonesia cuma bapak angkatnya, bapak kandungnya China. Coba, dia lahir disini, gede disini, kawin disini, bisnis disini, ngemplang pajak juga disini. Begitu dia di Cina, dia bilang bapak angkat gue tuh Indonesia, bapak kandungnya China,"
JAKARTA -- Sejak era pemerintahan Presiden Joko widodo, banyak membawa angin perubahan di tengah masyarakat, salah satunya adalah mulai kembali timbul suara-suara ketidakpuasan, keresahan dan kebencian rakyat Indonesia pribumi terhadap warga etnis keturunan Cina. 

Keresahan rakyat pribumi Indonesia bukan tanpa alasan, pasalnya kini etnis Cina yang menguasai mayoritas kekayaan negara ini dianggap semakin semena-mena dan sering menghina maupun  melecehkan bangsa Indonesia, tempat dimana warga Cina itu mencari makan dan kehidupan.

Seperti halnya terjadi baru-baru ini, rakyat Indonesia dibuat gempar dengan pernyataan berani dan menghina yang dilakukan seorang konglomerat Cina pemilik The Royal Golden Eagle International Sukanto Tanoto. Pengusaha tajir keturunan Cina ini terang-terangan menghina Indonesia dengan menyebut NKRI tak lebih sebagai negara kedua dan negara persinggahan baginya.

Pernyataan Sukanto Tanoto bos besar Asian Agri yang pernah tersangkut kasus penggelapan pajak ini terekam saat tampil sebagai narasumber dalam sebuah acara televisi di Cina. Wawancara Sukanto Tanoto itu langsung ramai dibicarakan di tanah air dan menimbulkan kemarahan rakyat Indonesia.

“Saya lahir dan besar di Indonesia. Menempuh pendidikan, menikah dan memulai bisnis juga di sana. Tetapi Indonesia adalah ayah angkat bagi saya, karena itu ketika pulang ke Cina saya merasa menemukan ayah kandung. Itu karena saya masih merasa orang Cina,” ujar Sukanto Tanoto saat itu.

Tak ayal lagi pengakuan Sukanto Tanoto itu langsung menghebohkan tanah air, yang umumnya mengecam dan mempertanyakan kesetiaan dan nasionalisme Sukanto Tanoto kepada NKRI. 

Bahkan bukan hanya masyarakat umum, para tokoh nasional dan pejabat negara pun mengeluarkan komentar pedas mengecam pengusaha Cina itu, yang dianggap telah menginjak-injak harkat dan martabat serta kedaulatan Indonesia.
Sukanto Tanoto saat diwawancarai sebuah televisi Cina, yang menyebutkan Indonesia tak lebih hanya sebagai negara persinggahan baginya, dan Cina tetaplah ayah kandungnya.
Seperti disampaikan mantan Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi, Taufiqurrahman Ruki, yang menyinggung pernyataan pengusaha Sukanto Tanoto, yang menyebut Indonesia adalah ayah angkatnya atau negara persinggahan, sementara menganggap China sebagai ayah kandungnya.

“Hari ini baca, Sukanto Tanoto, dia bilang Indonesia cuma bapak angkatnya, bapak kandungnya China. Coba, dia lahir disini, gede disini, kawin disini, bisnis disini, ngemplang pajak juga disini. Begitu dia di Cina, dia bilang bapak angkat gue tuh Indonesia, bapak kandungnya China,” tuturnya, saat menghadiri Deklarasi Rumah Amanah Rakyat di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/8).

Dalam deklarasi itu turut hadir sejumlah tokoh nasinal. Diantaranya Rizal Ramli, Yusril Ihza Mahendra, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, Irjen Pol (Purn) Mayjend TNI (Purn) Prijanto, KRT Permadi Satrio Wiwoho (Permadi), Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edi Purdjiatno, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lulung Lunggana, Hatta Taliwang, Ferdinan Hutahaean, Lily Chodidjah Wahid, aktifis HAM Ratna Sarumpaet, Sasmito Hadinegoro, Marsda TNI (Purn) Amirullah Amin, Muhammad Rifki atau Eki Pitung, Lieus Sungkarisma dan Marwan Batubara.

Sebagai generasi yang lahirnya sama dengan kemerdekaan Republik Indonesia, Ruki mengajak seluruh komponen bangsa bergerak memperbaiki keadaan. Tidak lagi diam dan membiarkan Jakarta diubah seperti Singapura. Dimana penduduk aslinya, Melayu, cuma menjadi orang nomor dua.

“Masuk di Hong Kong kita dianggap kelas kuli, masuk di Arab didagangin, pergi ke Malaysia dianggap tukang kebon. Tidak punya lagi martabat, itu Indonesia. Anda mau? Jakarta mau jadi kayak Singapura. Gimana orang Melayu sekarang, paling banyak jadi tukang parkir, paling banyak jadi sopir taksi,” jelas dia.

Tak hanya Ruki, Anggota DPD, Gede Pasek Sardika meretweet berita, terkait pengakuan Sukanto Tanoto itu, dengan menambahkan komentar: "Manusia Model begini diberikan kekayaan di republik ini?"
Gubernur DKI Jakarta keturunan Cina Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat mengumpulkan para pengusaha Cina, untuk membantu program kerjanya. Sejak Ahok berkuasa, hampir semua kebijakan pemerintahannya lebih condong dan lebih mengutamakan para pengusaha dan etnis Cina. (Foto: Istimewa)
Sementara pakar Imam B Prasojo dalam akun facebooknya menshare video tersebut dan mempertanyakannya nasionalisme Sukanto Tanoto: INDONESIA HANYA SEKADAR "AYAH ANGKAT"?

Pengusaha Cina Merendahkan TNI

Sikap hampir sama juga dilakukan pengusaha Cina, Tommy Winata, yang menyebut TNI lebih rendah dibandingkan Satuan Pengamanan (Satpam). Peristiwa itu terjadi ketika Tommy Winata berbicara dengan Gubernur DKI Jakarta keturunan Cina, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tentang reklamasi Pantai Utara Jakarta. 

Tommy Winata pamer kepada Ahok bahwa ia memiliki kedekatan dengan mantan Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dengan menceritakan kehebatan Satpam Tommy Winata yang mampu menjaga hutan di pulau pribadinya seluas 60.000 di kepulauan seribu.

"Jumlah satpam saya yang menjaga hutan tersebut sebanyak 300 orang yang dipersenjatai, hasilnya hutan utuh, sedangkan Panglima TNI punya tentara 2 batalyon menjaga 60.000 hektar hutan, hasilnya gundul semua," kata Tommy Winata saat itu.

Bukan hanya itu, bahkan Tommy Winata terang-terangan akan membunuh siapapun warga Indonesia yang berani mengganggu dan mengusik dirinya maupun property kekayaannya. Hal ini diakuinya disampaikan langsung Tommy Winata ketika ia berbicara di depan Panglima TNI dan Kapolda.

Tommy Winata mengatakan telah memerintahkan seluruh anak buahnya, wajib Membunuh jika ada orang yang ingin menyerang maupun mengganggu dirinya, oleh karena itu anak buahnya dilengkapi dengan senjata laras pendek berpeluru Tajam, bahkan senjata itu lebih canggih daripada yang dimiliki pasukan kepolisian sekalipun.

Mendengar komentar Tommy Winata tersebut, Sambil tertawa Gubernur Ahok meminta Tommy Winata untuk membantunya dengan memerintahkan anak buahnya yang bersenjata itu untuk membasmi pedagang kaki lima yang berjualan di lapangan Monas. Saat ini, setidaknya rekaman percapakan Ahok dan Tommy Winata itu telah tersebar ke sejumlah media sosial.

Etnis China dan Nasionalisme Semu

Terkait peristiwa ini, sejumlah pakar dan tokoh nasional meyakini, semakin berani dan tidak beradabnya sikap yang ditunjukkan pengusaha Cina saat ini tak lepas dari faktor penguasa. Seperti diketahui bahwa naiknya Presiden Joko Widodo menduduki kursi RI-1 tak lepas dari bantuan dana dan dukungan dari para pengusaha dan konglomerat Cina.
Pengusaha Cina, Tommy Winata saat bersama Gubernur Ahok. (foto: Youtube)

Fakta! Malaysia Sangat Iri dengan Jiwa Nasionalisme Rakyat Indonesia

Demonstrasi rakyat Indonesia menyerukan "Ganyang Malaysia" (Foto: istimewa)
"Mungkin sampai masanya, kita belajar dari Indonesia, bagaimana caranya untuk menjadi sebuah negara bangsa."
Malaysia, jika mendengar kata ini bagi rakyat Indonesia akan banyak perbincangan yang bisa dilontarkan. Mulai dari “Ganyang Malaysia”, pulau Sipadan dan Ligitan, maling dan klaim budaya, penyiksaan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan lain-lain.

Tetapi tahukah anda jika Malaysia begitu iri dengan Indonesia di berbagai bidang kehidupan?

Profil negara Malaysia saat ini sangat jauh berbeda dengan Indonesia, apalagi sejak Indonesia membangun dalam era reformasi. Di saat Indonesia semakin kuat dengan demokrasi dan kebangsaannya, Malaysia justru berada dalam titik nadir dalam mempertahankan identitas kebangsaan mereka.

Saat ini pemerintah kerajaan Malaysia sedang gencar-gencarnya mempromosikan gerakan “1 Malaysia” kepada rakyatnya, tetapi slogan itu hanyalah propaganda tiada arti bagi rakyatnya.

Propaganda "1 Malaysia" yang dicetuskan pemerintah Malaysia untuk rakyatnya sendiri dengan harapan dan tujuan agar rakyat Malaysia semakin mencintai negaranya sendiri.

Perbedaan antara kelompok Melayu yang mencakup kurang lebih 60 persen dari total populasi nasional dengan kelompok etnis China dan India sangat mencolok. Di sana setiap etnis akan berdiri dan berkembang di dalam kelompok mereka masing-masing.

Salah satu bentuk pencarian identitas bangsanya sendiri oleh rakyat Malaysia.
Melayu akan belajar di sekolah Melayu, begitu pun dengan etnis China atau India juga akan belajar dan sekolah di kelompoknya masing-masing.

Dominasi kelompok dari etnis China dan India di bidang ekonomi semakin membuat takut suku Melayu yang berusaha terus dominan di dalam pemerintahan dan politik negara.

Apalagi seiring berkembangnya waktu rakyat Malaysia semakin kritis dan apatis dengan pemerintahan mereka, terlebih dengan pihak kerajaan yang kini dianggap hanya sebagai penghias dan tidak memiliki peran berarti dalam struktur pemerintahan.

Suku Melayu di Malaysia yang membanggakan diri mereka sebagai “pribumi sejati” dan dimotori oleh partai penguasa yaitu UMNO, terus berusaha menanamkan ketakutan di kalangan suku Melayu bahwa Melayu akan hilang jika UMNO kalah dalam pemilu dan Islam akan hancur serta Malaysia akan menjadi negara sekuler jika etnis China dan India di negara tersebut diberi ruang dan kekuasaan di bidang politik.

Propaganda UMNO dalam mempertahankan kekuasaan mereka, bahkan dianggap oleh sebagian rakyat Malaysia sudah sampai dalam taraf sangat sangat kasar.

Kembali lagi kepada Indonesia, bagaimana pemerintah atau penguasa Malaysia memandang Indonesia, terutama petinggi dari Partai UMNO? Dalam pandangan pemerintah Malaysia, Indonesia adalah ancaman terbesar mereka di kawasan.

Para demonstran oposisi pemerintah Malaysia menuntut penggantian bendera nasional yang menganggap bendera Malaysia saat ini adalah hasil ciptaan penjajahan Inggris. (Foto: istimewa)
Ditambah lagi dengan profil yang dimiliki oleh Indonesia yaitu memiliki populasi suku Melayu terbesar di dunia (terutama di Riau, Sumatera Utara dan lain-lain), memiliki jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, memiliki jumlah penduduk umat Islam terbesar di dunia, memiliki negara yang begitu luas dan besar, memiliki keragaman budaya yang begitu kaya, hasil alam yang melimpah, keragaman suku, dan sejarah masa lalu yang gilang- gemilang terutama sejarah pada masa kerajaan masa lampau dan sejarah agung dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Bagi penguasa Malaysia, melihat profil yang dimiliki Indonesia, apa yang mereka banggakan dan agungkan di hadapan rakyat Malaysia, langsung hancur ketika dihadapkan dan disandingkan dengan Indonesia.


Sebagian kaum muda Malaysia yang kritis menganggap pemerintah Malaysia yang dikuasai Partai UMNO berusaha memutar-balikkan sejarah Malaysia, salah satu tuntutan mereka adalah mengembalikan bendera nasional Malaysia seperti pada saat perjuangan kemerdekaan dan mengganggap bendera nasional Malaysia saat ini adalah hasil kreasi jajahan Inggris

Untuk menutupi hal tersebut, Kerajaan Malaysia terutama dari partai penguasa selalu mempropagandakan semua keburukan Indonesia. Hal ini diperparah dengan kenyataan adanya jutaan rakyat Indonesia yang bekerja sebagai buruh kasar di Malaysia, semakin memudahkan pemerintah dan media massa penyokong pemerintah untuk menampilkan keburukan Indonesia dan menampilkan superioritas Malaysia di hadapan rakyatnya sendiri.


Tidak bisa dibantah dengan jumlah penduduk Malaysia yang hanya 30 juta jiwa, berbanding dengan jumlah kaum miskin di Indonesia, seperti pernyataan presiden Joko Widodo baru-baru ini yang mencapai lebih dari 28 juta jiwa, artinya kaum miskin di Indonesia hampir menyamai keseluruhan jumlah penduduk Malaysia.
Posko yang didirikan oleh rakyat indonesia secara sukarela untuk "Ganyang Malaysia", sebagai ungkapan kemarahan terhadap Malaysia yang selalu saja mengklaim kebudayaan asli Indonesia. (Foto: istimewa)
Data ini tentu saja tidak berbanding dengan penilaian yang disematkan pemerintah Malaysia tentang Indonesia di hadapan rakyatnya sendiri, karena mereka tidak membuka fakta bahwa penduduk Indonesia memiliki populasi lebih dari 250 juta jiwa. Berkali-kali lipat dibandingkan jumlah penduduk Malaysia.

Untuk menutupi kelemahan negara mereka di hadapan jirannya Indonesia, penguasa Malaysia dengan didukung media massa pro pemerintah, selalu mempropagandakan kejelekan, kelemahan, keburukan, dan kemiskinan Indonesia di hadapan rakyat mereka sendiri. Rakyat Indonesia di Malaysia diidentikkan dengan kebodohan dan kemiskinan.

Karena itu kita tidak akan menemukan pemberitaan mengenai keberhasilan Indonesia di berbagai bidang dengan jujur di hadapan media massa mereka.


Kita tidak akan menemukan pemberitaan keberhasilan PT. Pindad dalam memproduksi Panser, Tank, Senapan Serbu ataupun persenjataan lainnya, kita tidak akan menemukan pemberitaaan PT. Dirgantara Indonesia mampu membangun pesawat dan berbagai macam helikopter tempur di media massa mereka. 

Atau kita juga tidak akan menemukan pemberitaan PT. PAL mampu membangun berbagai macam kapal perang, bahkan fakta bahwa Indonesia masuk dalam kelompok G20 yang merupakan representatif negara paling kaya dan terkuat secara ekonomi di dunia.

Di balik fakta-fakta di atas salah satu yang membuat rakyat Malaysia iri atau cemburu bahkan heran dengan Indonesia adalah mengenai jiwa nasionalisme yang diperlihatkan rakyat Indonesia.

Kaum muda Malaysia menuntut pemurnian sejarah Malaysia dengan mengganti bendera nasional Malaysia dengan bendera Malaysia pada saat perjuangan kemerdekaan. (Gambar: istimewa)

Wapres Pertanyakan Nasionalisme Warga Cina Di Indonesia

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, hingga kini, masalah kesetiaan dan nasionalisme warga China di Indonesia terus dipertanyakan. Di satu sisi warga China mengklaim setia pada NKRI, namun disisi lain mereka tidak juga melepaskan jejak masa lalu mereka dari daratan China. (Foto: ilustrasi)
"Kalau tadi disebutkan suku-suku Hokkian, Hakka, Kanton dan sebagainya, maka ke depan Tionghoa Indonesia tak perlu selalu dikait-kaitkan dengan suku-suku leluhurnya di sana. Kalau mau konsekuen sebut saja Tionghoa Medan, atau Tionghoa Indonesia bukan lagi dikait-kait dengan leluhur,"
JAKARTA -- Walau era reformasi sudah lama bergulir, etnis China atau Tionghoa di Indonesia hingga saat ini terus berusaha menanamkan jati dirinya di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satu yang terus menjadi perdebatan hingga kini adalah mengenai nasionalisme kaum China di Indonesia.

Umumnya masyarakat beranggapan masih meragukan kecintaan mereka terhadap Indonesia. Bukan tanpa alasan, rekam jejak kaum China di Indonesia sebagian besar memperlihatkan sisi negatifnya. Mulai dari monopoli ekonomi, koruptor, melarikan uang negara, pengemplang pajak dan lain-lain.

Sisi negatif inilah yang membuat kaum China di Indonesia belum mendapatkan tempat di hati mayoritas masyarakat Indonesia, dan beranggapan bahwa kaum China atau Tionghoa di Indonesia hanya sekadar menumpang mencari kehidupan, jika situasi memburuk mereka akan lari ke tanah leluhurnya yaitu Republik Rakyat China dengan membawa seluruh hasil kekayaannya dari Indonesia.


Seperti dikutip dari Antara, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta warga Tionghoa Indonesia konsekuen untuk tidak lagi mengait-ngaitkan dengan suku-suku leluhurnya karena sudah menjadi Tionghoa Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla. (Foto: istimewa)
"Kalau tadi disebutkan suku-suku Hokkian, Hakka, Kanton dan sebagainya, maka ke depan Tionghoa Indonesia tak perlu selalu dikait-kaitkan dengan suku-suku leluhurnya di sana. Kalau mau konsekuen sebut saja Tionghoa Medan, atau Tionghoa Indonesia bukan lagi dikait-kait dengan leluhur," kata Wapres Jusuf Kalla saat perayaan Cap Go Meh di Jakarta, Minggu.

Perayaan Cap Go Meh bersama ke-9 kali ini mengambil tema "Semangat Membangun Negeri".

Lebih lanjut Jusuf Kalla juga minta agar orang Tionghoa Indonesia benar-benar mencintai negeri ini bukan hanya ucapan tetapi tindakan.

"Kalau kita Tionghoa Indonesia tidak mau ada perbedaan maka lakukan yang terbaik bagi bangsa ini," kata Jusuf Kalla.


Dalam bagian pidato lainnya, Wapres mengatakan bangsa Indonesia saat ini mengalami dua hal serius yakni pertama pertumbuhan ekonomi yang melambat dan, kedua, kesenjangan yang lebar antara yang mampu dan tak mampu.
Perayaan Cap Gomeh di Tegal, Jawa Tengah,. Sebagian kaum China di Indonesia terus berupaya membaur dan meyakinkan masyarakat akan kecintaan mereka kepada Indonesia, tetapi sebagian kalangan masih menganggap apa yang dilakukan kaum China tersebut masih sebatas seremonial. (Foto: Antara / Oky Lukmansyah)
"Apa yang dapat kita lakukan adalah menggali potensi dan kekuatan kita sendiri dari dalam. Tentu akan dahsyat jika itu bisa kita (Tionghoa Indonesia) lakukan bersama-sama suku-suku lainnya," kata Wapres.

Wapres juga menjelaskan pemerintah akan berusaha melaksanakan pengampunan pajak atau "tax amnesty".

"Positifnya, ada banyak uang warga negara kita yang diparkir di luar negeri. Kalau tak ada tax amanesty mereka tak mau bawa pulang," kata Jusuf Kalla


Sementara terhadap kesenjangan yang besar bisa dikurangi dengan beberapa langkah. Pertama, membayar pajak yang benar. Kedua, mempercayai negerinya.

"Jangan hanya diucapkan tapi dilaksanakan. Kalau sekarang ini masih ada yang minta pengampunan pajak, apakah itu bangsa yang baik," kata JK..

Tidak ada pembedaan

Sebelumnya Ketua Dewan Pembina Forum Bersama Indonesia Tionghoa Murdaya W. Poo meminta tidak ada lagi pembedaan terhadap warga Tionghoa Indonesia.

Peta asal kedatangan kaum China ke Indonesia atau Nusantara.
Lebih Lanjut Murdaya Poo menjelaskan tema perayaan Cap Go Meh kali ini tujuannya adalah untuk mengajak suku-suku Tionghoa bersama-sama suku-suku lain di Tanah Air meningkatkan semangat membangun negeri Indonesia.

"Diharapkan peran serta suku Tionghoa Indonesia dengan suku-suku lain di Indonesia mampu menciptakan sinergi yang harmonis membangun negeri kita," kata Murdaya Poo.

Sandra Dewi adalah salah satu artis nasional keturunan Tionghoa yang mendapatkan hati dari masyarakat Indonesia. Membuktikan bahwa masih ada harapan bagi kaum China atau Tionghoa untuk membuktikan kecintaan dan eksistensi mereka untuk Indonesia. (Foto: Gusmun/detikHot)