Jalur Militer: Arab Saudi

Konspirasi Tingkat Tinggi dalam Pembunuhan Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi, seorang wartawan veteran yang sangat kritis dan diduga banyak menyimpan rahasia Kerajaan Arab Saudi, dinyatakan hilang saat memasuki Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Khashoggi akhirnya diketahui telah dibunuh oleh agen intelijen Riyadh di dalam kedutaan tersebut. (Foto: Chris McGrath / Getty Image via inquisitr.com)
"Saya meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya dan saya menyuarakan pandangan saya dengan tegas. Jika tidak melakukannya sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak bisa."
ISTANBUL -- Dunia internasional dikejutkan dengan pembunuhan wartawan veteran Arab Saudi. Jamal Khashoggi dibunuh saat mengurus surat-surat di konsulat Saudi di Istanbul tanggal 2 Oktober lalu dan tidak pernah tampak keluar lagi.

Pemerintah Saudi yang selama dua pekan terakhir menyangkal akhirnya mengonfirmasi bahwa wartawan tersebut tewas di konsulat. Riyadh mengklaim Khashoggi tewas setelah berkelahi dengan sejumlah orang yang ditemuinya di Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan pemerintah Turki memiliki rekaman suara dan video yang menurut mereka membuktikan bahwa Khashoggi dibunuh di dalam konsulat Saudi saat ia hilang.

Pejabat AS dan Turki dilaporkan mengatakan rekaman itu menunjukkan tim keamanan Saudi menahan Khashoggi saat ia mengambil dokumen untuk kelengkapan pernikahannya. Arab Saudi menyanggah terlibat dalam hilangnya Khashoggi. Lalu siapa sebenarnya Jamal Khashoggi sehingga bisa menimbulkan kehebohan atas kematiannya?

Jamal Khashoggi meniti karier sebagai seorang reporter ketika dia sudah berteman dengan Osama bin Laden, sampai kemudian menjadi pembangkang terkemuka Arab Saudi yang harus meninggalkan negaranya.

Sebelum hilang di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, keputusan Khashoggi untuk mengasingkan diri membuatnya harus membagi waktunya antara Amerika Serikat, Inggris dan Turki. Dari luar negeri, dia menyebarkan pandangan kritis terhadap pemerintah Saudi lewat kolomnya di koran Amerika Serikat, Washington Post, dan akun Twitternya yang sangat populer dengan lebih 1,6 juta pengikut.

Pria berumur 59 tahun ini memulai kariernya sebagai wartawan di Arab Saudi setelah lulus dari sebuah universitas Amerika di tahun 1985. Selama bekerja di koran al-Madina di tahun 1990-an, dia banyak menulis tentang milisi berhaluan Islam yang pergi ke Afghanistan untuk melawan invasi Soviet.

Rekaman CCTV merekam Jamal Khashoggi memasuki Kedutaan Besar Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki. Khashoggi pergi ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengurus surat keterangan perceraian dengan mantan istrinya. (Foto: AFP/Getty Images)
Dia beberapa kali mewawancarai Osama bin Laden, yang dia katakan telah dikenalnya sejak masih muda. Saat itu bin Laden belum menjadi tokoh yang dikenal di Barat sebagai pemimpin al-Qaida. Khashoggi mengunjungi bin Laden di gua-gua pegunungan Tora Bora, selain mewawancarainya di Sudan pada tahun 1995.

Beberapa tahun kemudian, Khashoggi sendiri diwawancarai media Jerman, Der Spiegel pada tahun 2011 terkait dengan hubungannya dengan Osama bin Laden. Khashoggi mengakui telah menyebarkan pandangan bin Laden di masa lalu dengan menggunakan cara tidak demokratis seperti menyusupi sistem politik atau menggunakan kekerasan untuk membebaskan dunia Arab dari rezim korup.

Sejak saat itu, wartawan ini menjadi salah satu pemikir progresif yang paling banyak menyatakan pandangan tentang negaranya. Khashoggi sering dikutip media Barat sebagai seorang ahli radikalisme Islam.

Dia juga dipandang sebagai salah satu orang yang berada di dalam lingkaran dalam sistem Saudi karena banyak mengenal orang penting. Ia juga bergaul dengan keluarga kerajaan.

Khashoggi bekerja di sejumlah media Arab dan saluran TV, memulai karier sebagai wartawan asing sampai menjadi pemimpin redaksi. Tetapi dia harus dua kali meninggalkan pekerjaannya di koran al-Watan, di tahun 2003 dan 2010, karena tulisannya yang kritis terhadap kelompok Islam yang mendominasi Arab Saudi, pendukung Salafisme yang dikenal akan pemahaman agama yang ketat.

Di antara tahun-tahun itu, Khashoggi meninggalkan Saudi untuk menjadi penasihat media Pangeran Saudi, Turki al-Faisal, mantan pemimpin intelijen yang menjadi duta besar Saudi untuk Inggris dan kemudian untuk AS. Tahun 2010, miliarder Saudi, Alwaleed bin Talal menugaskan Jamal Khashoggi untuk memimpin stasiun TV barunya yang bermarkas di Bahrain.

Ketika pergolakan Arab pecah, Khashoggi berpihak pada kelompok oposisi yang mendesak perubahan di Mesir dan Tunisia. Pandangannya sangat bertolak belakang dengan kebijakan resmi Kerajaan Saudi, yang memandang pemberontakan Arab sebagai ancaman.

Hatice Cengiz, warga Turki dan tunangan Jamal Khashoggi, memberi tahu pemerintah Turki bahwa Khashoggi hilang. (Foto: EPA)
Wartawan veteran ini lalu pergi ke AS pada bulan September 2017. Khashogi menuduh pemimpin de-facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, telah menindas para pemrotes.

"Saya meninggalkan rumah saya, keluarga saya dan pekerjaan saya dan saya menyuarakan pandangan saya dengan tegas. Jika tidak melakukannya sama saja dengan mengkhianati orang-orang yang dipenjara. Saya bisa bersuara, sementara banyak orang lain tidak bisa. Saya bisa mengatakan Mohammed bin Salman bertingkah laku seperti Putin. Dia menerapkan hukum dengan sangat berpihak,"  tulisnya lewat kolomnya di Washington Post.

Berikut sejumlah fakta mengenai konspirasi pembunuhan Jamal Khashoggi yang dilakukan Arab Saudi:

1. Tubuh Khashoggi Dipotong-potong Selama 15 Menit

The New York Times merilis laporan yang menyebut tubuh jurnalis 60 tahun itu dipotong-potong tim algojo Saudi pada 2 Oktober lalu, di dalam Konsulat Saudi di Istanbul. Pihak berwenang Turki mengklaim memiliki bukti bahwa dia dibunuh oleh 15 orang yang terbang dengan jet pribadi.

Menurut laporan New York Times, Dr Salah al-Tubaigy, seorang ahli autopsi yang belajar di Glasgow pada tahun 2004, merupakan salah satu tersangka dalam tim algojo yang dituduh menyiksa dan membunuh Khashoggi. Tubaigy yang dijuluki sebagai "Dr Death (Dokter Maut)," disebut memutilasi hidup-hidup Khashoggi dalam tujuh menit pembunuhan. Sedangkan proses mutilasi rampung dalam 15 menit dengan menggunakan gergaji tulang.

Bagian tubuh wartawan itu kemudian dibungkus oleh tim algojo. Mereka beraksi dengan mendengarkan musik. Musik itu dibutuhkan agar mereka tidak mendengar jeritan. Sumber investigator Turki yang mendengarkan rekaman audio dari momen-momen terakhir wartawan tersebut. Sumber mengatakan, jeritan keras terdengar, namun berhenti ketika wartawan itu diduga disuntik dengan zat yang tidak diketahui.

"Ketika saya melakukan pekerjaan ini, saya mendengarkan musik. Anda harus melakukan itu juga," bunyi suara yang diduga suara Tubaigy dalam rekaman yang dimiliki tim investigator Turki.

2. Raja Salman Perintahkan Pembunuhan Jamal Khashoggi

Pangeran Arab Saudi yang membangkang, Khalid bin Farhan al-Saud, menuding Raja Salman bin Abdulaziz yang memerintahkan pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi. Ia juga menyebut Putra Mahkota, Mohammad bin Salman adalah pelaksana dari perintah tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi DW Jerman, Pangeran bin Farhan menggambarkan Raja Salman sebagai penguasa agak tiran yang menggunakan kekerasan karena ia tidak memiliki pengalaman politik.

Rekaman kamera pengawas yang diambil pada 2 Oktober menunjukkan seorang pria yang diidentifikasi oleh pejabat Turki sebagai Maher Abdulaziz Mutreb di luar Konsulat Saudi di Istanbul sebelum penulis Jamal Khashoggi menghilang. Maher Abdulaziz Mutreb sering menjadi pendamping putra mahkota Saudi Arabia dan diduga menjadi salah satu eksekutor pembunuhan Jamal Khashoggi. (Foto: AP)
"Tapi, sayangnya, dia adalah penguasa. Ketika dia menjadi raja, dia menerapkan metode yang serupa dengan yang dia gunakan ketika dia menjadi gubernur Provinsi Riyadh. Seandainya Khashoggi terbunuh, para pembunuh akan menerima otorisasi langsung dari kepala negara," katanya seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (19/10/18).

Namun, bin Farhan menambahkan, Raja Salman hanyalah sebuah fasad sekarang. "Perintah itu pasti telah dieksekusi oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman,” ujarnya. Pangeran bin Farhan juga menyebut kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, ke Riyadh dan pertemuannya dengan Mohammed bin Salman, menjadi upaya untuk menjaga Putra Mahkota dalam posisi.

Pasalnya, MBS sangat penting bagi pemerintahan Donald Trump karena beberapa alasan, termasuk keuangan dan urusan militer. Pangeran Bin Farhan yang kini mengasingkan diri di Jerman tersebut, menggambarkan MBS sebagai kesempatan bagi pemerintahan AS saat ini karena dia dapat dengan mudah dikontrol dan dimanipulasi.

3. Pengeran Mohammad bin Salman Bertugas "Membersihkan"

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), telah ditunjuk untuk memimpin komite tingkat menteri yang bertugas merestrukturisasi badan intelijen. Keputusan untuk menunjuk MBS untuk memimpin proses restrukturisasi datang setelah Raja Salman mengeluarkan dekrit yang memecat wakil direktur badan intelijen, Ahmed bin Hassan bin Mohammed Asiri.

Raja Salman juga telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan beberapa perwira dan menunjuk yang baru dalam badan intelijen utama Kerajaan Arab Saudi. Langkah-langkah baru, yang diduga bertujuan untuk memastikan lebih banyak "transparansi" dalam struktur intelijen yang sangat rahasia.

"Badan intelijen sedang dirombak sepenuhnya dari kepentingan publik, perintah Raja Salman. Oleh karena itu komite akan ditugaskan untuk merancang struktur administratif dan hierarkis baru untuk memastikan fungsi yang tepat dan penentuan tanggung jawab dalam agen mata-mata," kutip Russia Today dari kantor berita SPA, Sabtu (20/10/18).

4. Menantu Donald Trump Terlibat Pembunuhan Khashoggi

Anggota Kongres Amerika dari kubu Demokrat mengkonfirmasikan keterlibatan menantu Presiden AS di pembunuhan Jamal Khashoggi. Joaquin Castro, anggota Kongres AS dari kubu Demokrat saat diwawancarai CNN mengatakan, Menantu Trump, Jared Kushner dengan mencantumkan nama Jamal Khashoggi di list musuh Arab Saudi terlibat di pembunuhan wartawan tersebut.

Menurut Castro, Jared Kushner dengan bantuan agen intelijen memberikan list tersebut kepada Mohammad bin Salman dan pangeran mahkota Arab Saudi ini bertindak sesuai dengan list yang ia terima. Anggota Kongres dari kubu Demokrat ini menuntut penyidikan lebih lanjut terhadap petinggi intelijen Amerika di kasus ini.

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman dan Menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. (Foto: parstoday.com)

Bom MK-82 Arab Saudi Hujani Yaman, Tewaskan Puluhan Wanita dan Anak-anak

Pasukan militer Arab Saudi dan kelompok sekutunya terus membombardir wilayah Yaman. Bahkan Saudi tak segan-segan menggunakan bom canggih Mark-82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat untuk menyerang negara miskin tersebut. (Foto: PressTV)
"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang,"
SANAA -- Militer Kerajaan Arab Saudi kembali membombardir wilayah Yaman dalam agresi mereka untuk mengalahkan negara miskin tersebut. Stasiun Al Massira TV yang dikelola Houthi melaporkan, 22 anak dan empat wanita tewas pada hari Kamis setelah serangan jet tempur Koalisi Arab yang menargetkan sebuah kamp bagi orang-orang telantar di ad-Durayhimi.

Kelompok pejuang Houthi Yaman mengatakan, serangan terhadap puluhan warga sipil ini hanya berselang dua minggu setelah serangan udara Koalisi Arab terhadap bus sekolah yang menewaskan 40 anak laki-laki. Belakangan diketahui, bom yang digunakan untuk menyerang bus sekolah itu adalah bom Mark 82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat (AS).

Juru bicara pejuang Houthi Yaman, Mohammed Abdul-Salam, mengatakan serangan Koalisi Arab terjadi di Distrik ad-Durayhimi, 20 kilometer (12,5 mil) dari Kota Hodeida.

Anak-anak Yaman yang menjadi korban serangan militer Arab Saudi dan sekutu. (Foto: Business Insider)
Namun, kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM, melaporkan bahwa pemberontak Houthi yang meluncurkan serangan rudal balistik di daerah tersebut. UEA merupakan bagian dari Koalisi Arab pimpinan Saudi. Versi media itu, satu anak tewas dan lusinan lainnya terluka.

Hussein al-Bukhaiti, seorang wartawan Yaman di Sanaa, mengatakan jumlah korban tewas dalam serangan udara Kamis mencapai 31 orang. Data itu mengutip sumber medis setempat. Menurut Al-Bukhaiti, puluhan anak-anak dan wanita diserang sebelum mereka naik bus dalam upaya untuk melarikan diri.

"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang," ujarnya, katanya kepada Al Jazeera, Jumat (24/8/2018).

Seorang anak Yaman memperlihatkan serpihan bom MK-82 Arab Saudi yang membombardir negara itu. (Foto: YemenExtra)
Agresi Koalisi Arab terhadap Yaman dengan dalih memerangi pemberontak Houthi sudah berlangsung sejak Maret 2015. Konflik itu telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan banyak warga di negara miskin itu dilanda kelaparan.

PBB dan dunia internasional seakan bungkam dengan aksi brutal yang dilakukan Saudi terhadap Yaman. Menurut sejumlah laporan internasional, saat ini Yaman sudah berada dalam kondisi bencana kemanusiaan yang berat, dampak dari agresi militer yang dilakukan Arab Saudi beserta sekutunya.(*JM)

Sumber:AlMassiraTV/AlJazeera

Hamas Merapat ke Iran, Arab Saudi Ingin Lucuti Kekuatan Pejuang Palestina

Para pejuang Hamas. Penolakan para pejuang Hamas untuk ikut serta bergabung dalam invasi Arab Saudi menyerang rakyat Yaman, ditanggapi dengan kemarahan oleh dinasti Al-Saud. Di tengah kedekatan Hubungan Arab Saudi saat, terselip sebuah konspirasi untuk melucuti kemampuan tempur pejuang Hamas dalam menghadapi Israel. (Foto: Istimewa)
"Semua orang tahu bahwa Hamas merupakan pergerakan yang memerangi pendudukan Zionis di tanah Palestina dan Hamas hanya memiliki agenda rakyat Palestina (saja),”
GAZA -- Hubungan antara Arab Saudi dan organisasi pejuang Hamas, memasuki babak baru. Pada Minggu 10 Juli 2016, kelompok Hamas di Palestina mengutuk pernyataan dari salah satu pangeran di Arab Saudi yaitu Turki al-Faisal yang mengatakan, Hamas dan Kelompok Harakat al-Jihad al-Islami fi Filasthin telah menyebarkan kekacauan.

“Ini adalah sebuah bentuk kebohongan dan pernyataan tanpa dasar,” ujar Hamas melalui pernyataan yang dikutip dari Quds Press, sebagaimana dilansir dari Middle East Monitor, Senin (11/7/16).


Dilaporkan, kelompok Hamas menegaskan bahwa pergerakan yang selama ini mereka lakukan adalah demi memukul mundur okupasi Israel di wilayah Palestina.

“Semua orang tahu bahwa Hamas merupakan pergerakan yang memerangi pendudukan Zionis di tanah Palestina dan Hamas hanya memiliki agenda rakyat Palestina (saja),” papar Kelompok Hamas.

Dilaporkan, Hamas juga menuduh pernyataan dari Al-Faisal sebagai bentuk dalih yang memberikan alasan lebih kepada Israel untuk melancarkan agresi kepada rakyat Palestina.
Pangeran Arab Saudi Turki al-Faisal. (Foto: Istimewa)
Selain Hamas, Kelompok Harakat al-Jihad al-Islami fi Filasthin juga mengutuk pernyataan dari sang Pangeran Saudi tersebut.

Tolak Perintah Saudi, Hamas Dilucuti

Kebencian Kerajaan Arab Saudi kepada para pejuang Hamas semakin menjadi-jadi ketika kelompok pembebasan Palestina tersebut menolak ajakan Arab Saudi untuk ikut ambil bagian menyerang Yaman, yang dianggap membangkang kepada dinasti Al-Saud.

Kemarahan Saudi semakin bertambah ketika melihat bahwa Hamas justru semakin dekat dengan Republik Islam Iran, yang merupakan rival abadi kerajaan Arab Saudi.

Menurut laporan Panorama Middle East, Muhammad bin Salman, Menteri Pertahanan dan pangeran mahkota Arab Saudi dalam pertemuan dengan Khaled Meshal, meminta pengerahan 700 pasukan dan pejuang Palestina yang mendapat latihan dengan taktik Hizbullah Lebanon, ke Arab Saudi agar mereka dapat dikirim untuk menghadapi militer dan komite rakyat Yaman.

Mereaksi tuntutan Muhammad bin Salman itu, Khaled Meshal mengatakan, “Jika 700 personil dari pasukan Hamas direlokasi dari Jalur Gaza menuju Arab Saudi, maka akan tercipta kekosongan keamanan dimana masalah ini menciptakan masalah politik.

Kepala Biro Politik Hamas ini mengusulkan kepada Salman bahwa gerakan ini siap untuk melatih militer Arab Saudi berdasarkan taktik Hizbullah daripada merelokasi pasukan Palestina ke dalam wilayah Arab Saudi.
Luas wilayah negara Palestina yang dijajah Israel dari masa ke masa. (Gambar: Istimewa)

Militer Arab Saudi dan Israel Jalin Aliansi untuk Hancurkan Iran

Merasa memiliki musuh yang sama, Arab Saudi dan Israel memperkuat kerjasama dalam menghadapi Republik Islam Iran. Arab Saudi menyatakan memberikan izin pesawat tempur Israel melintasi wilayah udaranya untuk menyerang Iran. (Foto: Youtube)
TEL AVIV -- Hubungan antara Arab Saudi dengan Zionis Israel saat ini memasuki fase yang sangat 'mesra'. Hal ini disampaikan sendiri oleh para petinggi kedua negara. 

Amos Gilad, mantan Direktur Biro Urusan Politik-Militer Kementerian Pertahanan Israel, mengatakan bahwa kerjasama Israel dengan Mesir dan negara Teluk sangat unik. Ia juga mengatakan, ini adalah periode terbaik hubungan diplomatik Tel Aviv dengan Arab.

Pada November 2013, menurut radio Israel, Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Amir Salman bin-Sultan dan dua pejabat lainnya diam-diam mengunjungi negeri Zionis itu. Perjalanan ke Israel itu juga dilaporkan oleh surat kabar bermarkas di Yerusalem, al-Manar. Dalam berita itu dikatakan informasi soal itu berasal dari sumber-sumber rahasia.

"Delegasi Saudi," kata sumber itu,"menemui pejabat militer Israel dan Bin-Sultan mengunjungi salah satu pangkalan militer Israel ditemani seorang pejabat militer senior."

Radio Israel tidak mengonfirmasi berita dari sumber itu, namun dilaporkan sejumlah surat kabar baru-baru ini sudah banyak melaporkan pertemuan rahasia antara pejabat Saudi dengan pejabat militer Israel. 

Di bulan yang sama koran Iran melaporkan pihak Saudi dan Israel mengadakan pertemuan di sebuah negara di luar negeri. Sejumlah laporan dan pemberitaan media massa itu kian menguatkan hubungan mesra antara Israel dan Saudi.
Raja Arab Saudi saat bertemu dengan petinggi Zionis Israel. (Foto: Istimewa)
Namun jika dikonfirmasi, pihak Saudi kerap membantah tudingan semacam itu meski Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman pernah mengatakan sebaliknya. Dalam wawancara dengan koran Israel Yedioth Ahronoth April tahun lalu dia mengatakan Kuwait dan Arab Saudi merupakan dua dari sejumlah negara Arab yang menjalin hubungan rahasia dengan Israel meski tidak punya hubungan diplomatik.

Liberman menyatakan Jerusalem berhubungan dengan sejumlah negara Islam moderat untuk menggalang persatuan dalam menghadapi ancaman Iran. "Memang ada kontak dan perundingan. Dalam waktu setahun atau 18 bulan lagi semuanya akan menjadi bukan rahasia dan akan dibuka ke publik," kata dia.


Israel juga memberikan bantuan kepada Arab Saudi dan koalisinya dalam menaklukkan Yaman. Sejumlah laporan menyebutkan jet tempur Israel ikut serta dalam penyerangan para pejuang Yaman bersama dengan pesawat tempur Arab Saudi dan koalisinya.

"Ini pertama kalinya pasukan Zionis bergabung dengan koalisi negara Arab," ujar Sekretaris Jenderal Partai Politik Al-Haq, Yaman, Hassa Zayd dalam akun jejaring sosial Facebook, seperti dilansir Global Search, Ahad (29/3).

Dia mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah memerintahkan langsung Angkatan Udara Israel mengerahkan jet-jet tempur mereka buat mendukung serangan Saudi ke Yaman.
Pasukan Kerajaan Arab Saudi saat membombardir Sana'a, ibu kota Yaman, dalam invasi menaklukan para pejuang Yaman. (Foto: Istimewa)
Kerja sama Saudi dan Israel dalam perang Yaman, merupakan puncak kedekatan kedua pihak dalam beberapa tahun terakhir, di mana para pangeran Kerajaan Saudi dalam sejumlah pidatonya menyambut kerja sama itu dan bahkan mereka menunjukkan lampu hijau untuk menciptakan hubungan ekonomi dan politik dengan Israel.

Di bidang ekonomi, November lalu, Menteri Perminyakan Saudi Ali al-Naimi menyatakan kesediaannya menjual minyak ke Israel.

"Yang Dipertuan Agung Raja Abdullah (ketika itu) selalu menjadi contoh tentang hubungan baik antara Saudi dengan negara lain." Dan negara Yahudi juga tanpa kecuali," kata Naimi kepada wartawan di Wina

Israel dan Arab Saudi Bahu-membahu Gempur Iran

Pejabat Uni Eropa di Brussels, Belgia, Februari lalu mengatakan kepada stasiun televisi Israel Channel 2, Arab Saudi sudah menawarkan wilayah udaranya untuk dilintasi pesawat-pesawat jet tempur Israel guna menyerang Iran jika diperlukan.

"Pihak berwenang Saudi sudah berkoordinasi penuh dengan pejabat Israel dalam soal Iran," kata pejabat Eropa itu, seperti dilansir Sputnik News, Kamis (26/2).

Jika jet-jet tempur Israel bisa melintasi wilayah udara Arab Saudi maka Negeri Bintang Daud itu bisa menyerang Teheran kapan saja tanpa perlu mengitari Teluk Persia. Channel 2 juga mengungkapkan pasukan intelijen Israel dan negara Arab juga sudah berbagi informasi soal program nuklir Iran.
Pesawat tempur Israel ikut ambil bagian bersama Arab Saudi menggempur rakyat Yaman. (Foto: Istimewa)
Surat kabar asal Inggris The Sunday Times menerbitkan laporan mengejutkan November 2013 lalu. Saudi akan mengizinkan Israel melintasi wilayah udara negeri itu untuk menyerang Iran. Tak hanya itu, Saudi juga akan menyediakan pesawat tanpa awak, helikopter penyelamat, dan pesawat tanker

Penyerangan itu merupakan langkah antisipasi jika pembicaraan di Jenewa, Swiss, antara Negara Barat dan Iran pekan ini gagal memaksa Iran menghentikan program nuklirnya, seperti dilansir surat kabar Haaretz, Ahad (17/11/13).

"Ketika perjanjian Jenewa ditandatangani maka pilihan untuk melancarkan serangan militer akan kembali dipertimbangkan. Pihak Saudi sangat marah dan bersedia mendukung penuh Israel," ujar Times mengutip sejumlah sumber.

Iran: Arab Saudi Segitiga Kekacauan Suriah

Menanggapi sikap Arab Saudi, militer Iran menyebut Amerika Serikat (AS), rezim Zionis Israel dan Arab Saudi sebagai segitiga kejahatan yang membuat kekacauan. Iran juga menilai kesediaan Saudi menginvasi Suriah mencerminkan kegagalan AS.

Pernyataan itu dilontarkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi. Menurutnya, Washington telah memprovokasi Riyadh agar menginvasi Suriah.

”Menteri Pertahanan AS (Ashton) Carter mendukung dan memprovokasi Kerajaan Saudi untuk berbaris ke (medan) perang (di Suriah). Ini merupakan indikasi bahwa dia bingung. Ini juga membuktikan tanpa keraguan bahwa mereka telah gagal,” kata Firouzabadi pada hari Senin dalam menanggapi pengumuman Saudi untuk mengirim pasukan darat ke Suriah.

Peta rencana serangan pesawat tempur Zionis Israel melalui ruang udara Arab Saudi untuk menyerang Iran. (Gambar: Istimewa)

Tutupi Pembantaian Muslim Yaman, Saudi Tuduh Pejuang Houthi Rudal Kota Makkah

Korban serangan militer Arab Saudi. Menutupi sejumlah serangan yang menewaskan hingga ratusan rakyat sipil Yaman dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi melakukan propaganda dengan menuduh para pejuang Houthi telah mengarahkan serangan rudal untuk menghantam kota suci Makkah. (image: farsnews)
"Saudi, bertujuan untuk menyembunyikan kekejaman mereka di Yaman, menyatakan halusinasi kosong yang tidak pernah dapat dipercaya oleh orang-orang waras,"
SANA'A -- Serangan militer Arab Saudi dan koalisinya terhadap rakyat Yaman terus menjadi sorotan dunia. Setelah sebelumnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Arab Saudi telah melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Yaman dalam sebuah upacara pemakaman yang menewaskan hingga lebih dari 550 jiwa tak berdosa, kini Saudi juga kembali melakukan serangan brutal yang sama.

Serangan udara Liga Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi menghantam sebuah penjara pejuang Houthi di Yaman. Akibat insiden ini, 58 tahanan tewas. Liga Arab melancarkan serangan udara akhir pekan ini dan membuat seluruh bangunan penjara hancur lebur.

"Jumlah korban tewas saat ini sebanyak 58 jiwa, namun tim bantuan masih terus melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun puing-puing," ujar Kepala Keamanan Yaman, Abdel-Rahman al-Mansab, seperti diberitakan koran Daily Mail, Senin (31/10).

Menurut keterangan al-Mansa, mereka yang tewas kebanyakan adalah tawanan pejuang Houthi. Bahkan, 20 orang di antaranya malahan tahanan politik anti-Houthi. Di dalam penjara tersebut ada sekitar 115 tahanan.


Selain tahanan politik, para narapidana juga ada yang menjalani hukuman penjara untuk pelanggaran kejahatan, ada juga yang masih menjalani penahanan praperadilan.
Para korban dari kalangan rakyat sipil Yaman yang tewas akibat serangan militer Arab Saudi dan pasukan koalisinya.
Serangan biadab yang dilancarkan Arab saudi tersebut, langsung mendapat kecaman masyarakat dunia, bahkan Badan HAM PBB mendesak diadakannya investigasi langsung dalam sejumlah pemboman yang telah menewaskan ratusan rakyat muslim Yaman tersebut.

Yaman Lakukan Serangan Balasan, Saudi Sebarkan Propaganda

Serangan militer yang terus dilakukan Saudi dan koalisinya terhadap Rakyat Yaman, mendapat respon balasan dari para pejuang Houthi. Untuk pertama kalinya dalam Konflik di Yaman, pasukan revolusioner al-Houthi meluncurkan rudal balistik menuju kota utama di Saudi Arabia.

Menurut media resmi Garda Republik Yaman pada 29/10/16, pasukan al-Houthi menembakkan rudal balistik Burkan-1 yang menargetkan Bandara King Abdel-Aziz di Jeddah. Serangan berhasil menghantam sisi bandara King Abdul Aziz di Jeddah tanpa menimbulkan korban.

TV Yaman al-Massirah melaporkan bahwa pasukan roket meluncurkan rudal "Burkan-1" (Volcano-1) terhadap Bandara Internasional King Abdulaziz, terletak 19 kilometer utara kota pelabuhan barat Saudi, Jeddah.

Tujuan serangan rudal al-Houthi ini adalah untuk menunjukkan kepada Arab Saudi bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyerang kota-kota besar di Saudi jika Angkatan Udara Saudi terus menerus membom daerah Yaman yang berpenduduk padat.

Sebagian sisi dari Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, yang hancur akibat dihantam serangan rudal Burkan-1 milik para pejuang Houthi. (Foto: istimewa)
Juru bicara tentara Yaman, jenderal Sharaf Ghaleb Lukman, menegaskan bahwa penembakan rudal balistik ke Bandara Internasional King Abdulaziz telah berhasil dan mencapai tujuannya.

Namun, media massa Saudi mengklaim bahwa sistem rudal pencegat kerajaan telah menghancurkan rudal Scud itu sebelum mengenai sasaran.

Arab Saudi mengklaim bahwa rudal itu berhasil dicegat oleh sistem Pertahanan Udara Saudi 65km dari kota suci Mekkah, dan bahkan balik menyebarkan propaganda bahwa para pejuang Houthi telah menembakkan rudal untuk menghantam kota Makkah yang mana terdapat Kakbah di dalamnya, untuk menarik simpati umat muslim dunia dan menutupi serangan brutalnya yang telah membantai ribuan rakyat sipil Yaman hingga kini.

Bahkan, Presiden Urusan Dua Masjid Suci, Syeikh Abdurrahman Al Sudais yang merupakan pendukung kerajaan Bani Saud, seperti dilansir dari Saudi Gazette, Ahad (30/10, ikut mendramatisir kejadian dengan menyatakan bahwa wilayah Makkah menjadi target rudal balistik pejuang Houthi. 


Menurutnya, tindakan tersebut juga dinilai telah menyinggung perasaan 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia. Sebagai salah satu pimpinan Muslim, menurut dia, kata-katanya akan didengar ke seluruh penjuru dunia.

Houthi: Arab Saudi Berhalusinasi

Menanggapi propaganda yang disebarkan kerajaan Saudi, Juru bicara gerakan Ansarullah Yaman Mohammad Abdol Salam menilai klaim Saudi telah mencegat rudal balistik Yaman yang katanya menuju kota suci Mekkah mencerminkan kegagalan KSA dalam perang berdarah terhadap Yaman.

Juru bicara Houthi Ansarullah movement Mohammed Abdulsalam (Foto: AFP)
"Saudi, bertujuan untuk menyembunyikan kekejaman mereka di Yaman, menyatakan halusinasi kosong yang tidak pernah dapat dipercaya oleh orang-orang waras," kata Abdol Salam seperti dikutip dari Islamtimes.

Abdol Salam menambahkan bahwa komitmen Yaman terhadap 'Islam dan Arabisme mereka tidak kontroversial, mencatat bahwa meskipun semua pembantaian yang telah dilakukan Saudi, pasukan Yaman belum pernah mentargetkan instalasi sipil serta tempat-tempat suci.

Rudal Burkan adalah rudal Scud yang dikembangkan oleh pasukan roket Yaman. Kisaran rudal melampaui 800 km, dengan hulu ledak seberat setengah ton. Sejak pejuang Yaman memiliki misil ini, Arab Saudi mulai dilanda ketakutan akan serangan balik Yaman. Pasalnya, rudal tersebut mampu menjangkau kota-kota strategis di seluruh kerajaan Saudi dengan mudah.

Bahkan, Amerika Serikat (AS) akhirnya terpaksa turun tangan membela sekutunya tersebut dengan mengirimkan sejumlah armada kapal perang ke Laut Yaman, tapi hal ini tidak menggentarkan semangat tempur para pejuang Yaman, dan justru menyerang balik sejumlah kapal perang AS dengan hantaman rudal scud.

Peluru kendali Burkan milik para pejuang Houthi yang merupakan hasil modifikasi misil scud buatan Rusia. (Foto: almanar)

Ketakutan, Arab Saudi Protes Program Nuklir Iran dan Pengiriman Rudal ke Yaman

Misil balistik Iran saat dipamerkan dalam sebuah parade militer. Arab Saudi menuding Iran semakin meningkatkan kemampuan program nuklirnya secara diam-diam dan terus menerus mengirimkan sejumlah persenjataan kepada para pejuang Houthi di Yaman. (Foto: istimewa)
"Iran tidak hanya mengirim senjata, mereka memindahkan pengetahuan di rudal balistik ke Yaman. Keahlian tersebut mungkin bisa diturunkan kepada milisi Suriah, atau juga kepada al-Qaeda dan ISIS,"
RIYADH -- Kerajaan Arab Saudi semakin cemas dan ketakutan melihat perkembangan program nuklir Iran, dan semakin meningkatnya pengiriman rudal dari negeri paramullah tersebut ke zona konflik di Yaman.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dalam sebuah pidato di hadapan Parlemen Eropa di Brussels bahwa kesepakatan nuklir saat ini tidak cukup untuk mengubah perilaku Iran. Dia yakin Teheran dapat membuat sebuah bom nuklir dalam 8 tahun.

”Kami percaya bahwa 'sunset clause' memungkinkan Iran untuk memperkaya (uranium) sebanyak yang dia inginkan delapan atau sepuluh tahun dari hari ini sangat berbahaya,” katanya.

Sunset clause adalah suatu kondisi atau ketentuan dalam undang-undang atau kesepakatan yang menetapkan suatu titik tertentu pada saat kesepakatan tertentu itu tidak berlaku lagi. Klausul itu merupakan salah satu inti dari kesepakatan nuklir antara Iran dan enam kekuatan dunia yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Saudi juga meyakini, Iran secara teoritis dapat memiliki 50.000 atau 60.000 sentrifugal sehingga dapat memperkaya uranium yang cukup untuk membuat sebuah bom nuklir dalam beberapa minggu saja.

Daya jangkau sejumlah misil balistik Iran yang mampu menyasar wilayah Arab Saudi. Dari masa ke masa, Iran semakin meningkatkan kemampuan misil balistiknya yang dianggap sebagai ancaman bagi sejumlah negara. Kekhawatiran terbesar adalah jika Iran juga mampu menguasai teknologi nuklir, maka, misil balistik tersebut juga bisa disematkan muatan nuklir.
”Pada saat mereka mengusir inspektur dan pada saat penghukuman berakhir, mereka akan memiliki satu bom. Pada saat mereka mendapatkan resolusi di PBB, mereka akan memiliki tiga bom dan pada saat resolusi berjalan di tempat, mereka akan memiliki selusin bom. Dan kita berada tepat di sebelah mereka,” lanjut Jubeir, seperti dikutip Arab News, Jumat (23/2/2018).

Jubeir juga mengingatkan Iran bahwa Revolusi Islam ala Iran yang dicetuskannya pada tahun 1979 sudah berakhir dan mendesak Teheran untuk menghentikan tindakan yang bisa memicu terjadinya perlombaan senjata di kawasan.

Sebaran Rudal Iran Semakin Meningkat di Yaman

Selain masalah program nuklir Iran, rezim dinasti Al-Saud di Riyadh juga mencemaskan peran Iran di Yaman dan semakin meningkatnya keberadaan rudal-rudal buatan Teheran di wilayah konflik itu. Saudi pun mendesak PBB dan negara Barat menghentikan tindakan Iran tersebut.

Selain itu menurut Jubeir, milisi Houthi yang didukung Iran telah menyebabkan kelaparan di Yaman dan menanam ranjau di mana-mana. Kelompok pemberontak itu, kata dia, juga menghalangi bantuan makanan dan air untuk warga sipil di kota-kota dan daerah pedesaan yang mereka kuasai.

Arab Saudi beralasan, rudal yang dikirimkan oleh Iran ke Yaman, untuk mendukung pemberontak Houthi bisa jatuh ke tangan al-Qaeda dan juga memiliki kemungkinan untuk jatuh ke tangan ISIS.

Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammad Al Jabir menyatakan bahwa bukan hanya rudal saja yang bisa jatuh ke tangan teroris, tapi juga pengetahuan bagaimana untuk membangun dan mengembangkan rudal bisa tersampaikan kepada teroris di Yaman.

Tentara Arab Saudi membombardir Yaman dengan artileri dekat perbatasan di wilayah Jazan, Arab Saudi, 20 April 2015. Walau didukung persenjataan super canggi dari Amerika Serikat, Israel dan sejumlah negara koalisinya, Arab Saudi hingga kini belum juga mampu menaklukkan wilayah miskin, Yaman. (Foto: AP)

Pasca Bertemu Pemerintah Suriah, Mesir Nyatakan Keluar dari Koalisi Saudi

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi kini terpecah menyikapi penyelesaian konflik militer di Yaman. Mesir sebagai pendukung terbesar dalam koalisi tersebut, juga menyatakan keluar dan menolak untuk menyerang para pejuang Yaman. (Foto: Al-Arabiya)
KAIRO -- Sikap mengejutkan ditunjukkan Mesir dalam menyikapi penyelesaian konflik militer di Yaman. Mesir menyatakan menarik diri dari koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi, untuk menyerang rakyat Yaman.

Mengutip laman situs www.nationalyemen.com pada Rabu, 19/10/16, langkah ini dilakukan oleh pemerintah Mesir hanya beberapa jam setelah Kepala Intelijen Mesir bertemu dengan sejumlah petinggi di pemerintahan Suriah.

Perubahan kebijakan politik yang berubah secara tiba-tiba ini, juga didukung oleh Angkatan Udara Mesir pada Selasa, 18/10/16, yang menyatakan akan menarik menarik diri dari Koalisi Arab Saudi untuk menghancurkan negara Yaman setelah operasi 12 bulan.

Raja Kerajaan Arab Saudi, King Salman Al-Saud saat bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.(Foto: The Media Line)

Pengadilan PBB: Arab Saudi Terbukti Telah Melakukan Pembantaian Rakyat Yaman

Pasukan militer Kerajaan Saudi membombardir ibukota Yaman, Sana'a. (Foto: Istimewa)
"Tempat pemakaman ini merupakan pusat komunitas yang diketahui banyak orang. Tempat itu dipadati keluarga dan anak-anak. Membom orang yang sudah kehilangan orang yang mereka cintai merupakan tindakan tercela,"
SANA'A -- Serangan barbar pasukan militer Kerajaan Arab terhadap rakyat Yaman hingga kini mendapat kecaman dari seluruh dunia. Bahkan Uni Eropa, Rusia dan sejumlah kekuatan dunia lainnya mendesak agar dilakukannya penyelidikan kejahatan perang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Desakan ini pun langsung ditangkapi oleh Komisi Tinggi HAM PBB yang meminta Arab Saudi meminta maaf kepada rakyat Yaman dan masyarakat dunia, serta segera angkat kaki dari wilayah negara berdaulat Yaman.

Pada hari Kamis, 47 negara anggota Dewan HAM PBB juga mengeluarkan resolusi yang menyerukan PBB untuk menginstruksikan penyidik sementara, guna mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia oleh Arab Saudi di Yaman.

Namun, bukannya mengakui kesalahan, Saudi justru menolak mentah-mentah permintaan KT HAM PBB tersebut, untuk memulai penyelidikan independen terkait kejahatan perang Saudi di Yaman. Hal ini disampaikan Adel Bin Zaid al-Tarifi, Menteri kebudayaan dan media Saudi, pada hari Rabu (5/10/16), menanggapi desakan adanya penyelidikan yang dilakukan Badan PBB itu.

Rakyat Yaman melakukan demonstrasi memprotes serangan militer brutal yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. Kecaman juga datang dari seluruh dunia yang mendesak PBB untuk menyeret kerajaan Saudi ke Pengadilan Kejahatan Perang. (Foto: Istimewa)
Bahkan, bukannya menghentikan serangan, pesawat tempur Saudi justru membombardir rakyat Yaman secara membabi-buta, hingga menewaskan ratusan rakyat Yaman yang sedang menghadiri sebuah upacara pemakaman pada Sabtu lalu (8/10).

Sekjen PBB Ban Ki-Moon menyebut serangan udara pimpinan Arab Saudi terhadap rakyat Yaman itu sebagai "tindakan tidak berperikemanusiaan". Ia juga menilai, peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat keterlaluan.

"Tempat pemakaman ini merupakan pusat komunitas yang diketahui banyak orang. Tempat itu dipadati keluarga dan anak-anak. Membom orang yang sudah kehilangan orang yang mereka cintai merupakan tindakan tercela," ujar Ban Ki-Moon, Senin 10 Oktober, kepada wartawan.

Serangan pada Sabtu 8 Oktober itu menewaskan lebih dari 140 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya. Ban Ki-Moon mengatakan serangan udara oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah menimbulkan kerusakan luar biasa dan menghancurkan rumah sakit serta infrastruktur penting lainnya.

Satu aula pemakaman di Kota Sanaa hancur diterjang serangan yang diduga dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi. (Foto: Reuters/VOA)
Ban Ki-Moon juga mendukung usulan Ketua Komisi Tinggi PBB Untuk HAM Zeid Ra’ad AL Hussein yang telah berulangkali menyerukan perlunya pembentukan tim penyelidik internasional yang independen terhadap tuduhan-tuduhan pelanggaran HAM dan kemanusiaan internasional di Yaman.

"Saya mendesak Dewan HAM PBB untuk memenuhi tugas dan kewajibannya. Insiden mengerikan yang terbaru ini menuntut penyelidikan penuh. Bahkan lebih luas lagi, harus ada pertanggungjawaban atas tindakan mengerikan dalam perang ini secara keseluruhan," tegasnya.

Agustus lalu Utusan Khusus PBB Untuk Konflik Bersenjata dan Anak-Anak telah memasukkan koalisi Arab Saudi yang melawan pejuang Houthi di Yaman, dalam daftar hitam kelompok yang membunuh, melukai anak-anak dan terlibat dalam serangan terhadap sekolah dan rumah sakit dalam perang.

Rakyat Yaman melakukan unjukrasa mendesak PBB untuk menghentikan serangan militer yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. (Foto: Istimewa)