Jalur Militer: TNI AL

Perkuat Alutsista, TNI AL Berencana Beli 35 Kapal Perang Terbaru

Kapal Perang milik TNI AL dalam sebuah latihan tempur. (Foto: ANTARA/M. Risyal Hidayat)
“Kami harap (jumlah kapal perang) memenuhi standar lah, sekitar 186 kapal. Jumlah kapal selam yang diharapkan tidak usah banyak-banyak. Sama seperti dulu, 12 kapal,”
JAKARTA -- Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi mengajukan permintaan penambahan 35 kapal perang Indonesia untuk memenuhi jumlah standar alutsista TNI. Penambahan jumlah kapal perang tersebut untuk memperkuat alutsista matra laut TNI.

Permintaan penambahan jumlah kapal perang itu, kata Ade, telah diajukan kepada Kementerian Pertahanan. Namun, Kemenhan harus meminta persetujuan Kementerian Keuangan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Ade menuturkan, saat ini jumlah kapal perang TNI AL berjumlah 151 unit. Jumlah tersebut berkurang dari jumlah kapal perang pada 1960-an yang berjumlah hingga 162 kapal.

Selain kapal perang, Ade juga mengharapkan penambahan jumlah kapal selam baru. Pada 1960an era Presiden Soekarno, Indonesia membeli 12 kapal selam jenis Whiskey Class. Saat ini, Indonesia masih menggunakan 12 kapal selam tersebut. Ade berharap, TNI AL memiliki kapal selam tambahan dengan jumlah yang sama.

“Kami harap (jumlah kapal perang) memenuhi standar lah, sekitar 186 kapal. Jumlah kapal selam yang diharapkan tidak usah banyak-banyak. Sama seperti dulu, 12 kapal,” kata Ade, seperti dilansir dari tempo.co, Jumat, 26 Januari 2018.

Tetapi keinginan TNI Al sepertinya akan sulit terealisasi, pasalnya anggaran TNI AL yang digelontorkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk matra laut tahun ini menurun dibandingkan 2017.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi. (Foto: Dispen Kormar)

Ingin Beli 8 Kapal Perang Frigat dan Korvet, TNI Minta Kenaikan Anggaran di 2019

Kapal perang Frigate Van Speijk Class TNI AL, saat melakukan ujicoba penembakan rudal Yakhont dari KRI Oswald Siahaan 354. Setelah 30 tahun bertugas di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL, dan setengah abad berlayar sejak dioperasikan AL Belanda, akhirnya enam unit frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) dipensiunkan pada tahun 2017. Frigat Van Speijk Class menjadi kapal perang terkuat dan tercanggih yang dimiliki Indonesia, bahkan setelah datangnya korvet Sigma Class, Van Speijk Class masih sangat diperhitungkan, dan Van Speijk Class dipercaya jadi maskot kekuatan TNI AL. Van Speijk Class TNI AL hingga akhirnya di tahun 2022 semuanya akan decommission. (Foto: Istimewa)
"Kapal perang Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) ada empat, PKR (Perusak Kawal Rudal) nanti ada pengadaan dua. Nanti proses dua lagi. Jadi rencana ada delapan kapal. Modelnya begitu (medium). Satu dua di sana, tiga empat di sini. Sudah selesai dua. Sekarang lagi dibangun lagi,"
JAKARTA -- Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI harus bergerak cepat untuk segera melakukan peremajaan dan pergantian kapal-kapal perang (KRI) yang sudah banyak memasuki usia tua dan tidak layak operasi. Salah satu agenda yang dilakukan Kemhan adalah berencana membeli dan mendatangkan delapan kapal perang baru.

Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Laksda TNI Agus Setiadji saat mendampingi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dalam Rapat Kerja bersama Komisi I di gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/9) mengatakan, dari delapan kapal tersebut, ada kapal yang dibeli dari Belanda. Sebagian lain diproduksi PT PAL. Saat ditanya bentuknya, dia menegaskan berukuran medium.

"Kapal perang Sigma (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) ada empat, PKR (Perusak Kawal Rudal) nanti ada pengadaan dua. Nanti proses dua lagi. Jadi rencana ada delapan kapal. Modelnya begitu (medium). Satu dua di sana, tiga empat di sini. Sudah selesai dua. Sekarang lagi dibangun lagi," kata Agus menjelaskan.

Ajukan Kenaikan Anggaran Pertahanan

Kementerian Pertahanan dan TNI mengajukan usulan dana Rp 215,29 triliun untuk anggaran Tahun 2019. Namun dari surat PPN/Bappenas dan Menteri Keuangan tanggal 16 April 2018, pagu indikatif untuk Kemhan/TNI tahun 2019 hanya Rp 107,16 triliun. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu di Jakarta, Jumat (7/9).

Ia menjelaskan, menurut jenis belanja, dana itu dipakai untuk belanja pegawai sebesar Rp 41,65 triliun, belanja barang Rp 36,30 triliun dan belanja modal sebesar Rp 29,20 triliun.

Korvet Kelas SIGMA TNI AL "KRI Diponegoro-365" memasuki Samudera Hindia pada Juli 2011. (Foto: US Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Kelas Adam K. Thomas.)
Sementara penggunaan dana sesuai unit organisasi dan program adalah Kemhan mencapai Rp 19,06 trilun dengan 11 program. Kemudian Mabes TNI sebanyak Rp 7,96 triliun untuk empat program. Untuk TNI AD mencapai Rp 47,54 triliun dengan empat program, TNI AL mencapai 18,25 triliun untuk empat program dan TNI AU Rp 14,33 triliun untuk empat program.

Selain itu, dia menegaskan, dalam pengamanan pemilu, TNI akan benar-benar netral. TNI juga akan bekerja profesional dan memegang teguh sumpah prajurit.

“Prioritas kami adalah mendukung stabilitas keamanan nasional dan kesuksesan pemilu. Kemudian pertahanan wilayah perbatasan dan keamanan wilayah udara. Pelaksanaan pilkada-pilkada sebelumnya sudah ada bukti. Jadi tidak perlu diragukan lagi netralitas TNI,” tegas Ryamizard, seperti dilansir dari Suara Pembaruan.

Namun, jika pun pengajuan tambahan anggaran tersebut dikabulkan pemerintah, hal ini tidak akan merubah postur dan kekuatan pertahanan Indonesia secara signifikan. Pasalnya, sebagian dana selain banyak terserap untuk belanja pegawai, pembelian alat utama sistem senjata (Alutsista) juga lebih difokuskan untuk pembeli persenjataan yang sudah tua dan tidak layak pakai.

Sejauh ini TNI AL telah memiliki empat kapal perang korvet kelas Sigma 9113, yakni KRI Diponegoro 365, KRI Hasanuddin 366, KRI Sultan Iskandar Muda 367, dan KRI Frans Kaisiepo 368. Semua kapal perang yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden SBY tersebut, dalam pembuatannya bekerjasama dengan galangan kapal Damen's Schelde Naval Shipbuilding dari Belanda.

Senjata utama kapal perang Korvet Kelas SIGMA meriam Otobreda 76 mm . (Foto: Saberwyn)
Selain itu TNI AL juga telah memiliki empat kapal perang Perusak Kawal Rudal (PKR) jenis Frigat ringan yang juga dibangun dan kontrak pembelian dilakukan pada masa pemerintahan SBY. 

Salah satu PKR Sigma yang sudah selesai adalah KRI Raden Eddy Martadinata dengan nomor lambung  331. Kapal Perang RI Raden Eddy Martadinata-331 menjadi kapal perang tercanggih yang dimiliki Indonesia saat ini.

KRI RE Martadinata-331 merupakan hasil hasil kerja sama alih teknologi antara TNI AL bersama PT PAL dengan galangan kapal Damen Schiede Naval Ship Building (DSNS), Belanda.

Seperti diketahui, Proyek SIGMA PKR 10514 diluncurkan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia pada bulan Agustus 2010. Kementerian Pertahanan Indonesia itu memberikan kontrak untuk DSNS pembangunan PKR SIGMA 10514 pertama pada bulan Desember 2012. Pemotongan baja pertama dilakukan pada bulan Januari 2014 dan keel dibaringkan pada April 2014 di galangan kapal PT PAL di Surabaya, Indonesia.

Sementara kontrak untuk pembangunan kapal kedua  ditandatangani pada bulan Februari 2013 dengan  baja pertama dipotong pada bulan September 2014 dan peletakan pada Desember 2014.

Empat dari enam modul inti dibangun di galangan kapal Surabaya, sedangkan dua sisanya dibangun dan diuji di galangan kapal Vlissingen di Belanda. Kapal dijadwalkan untuk pengiriman pada tahun 2017. Pada November 2013, Thales dianugerahi kontrak oleh DSNS untuk memberikan suite sistem misi untuk dua frigat pertama.

KRI Raden Eddy Martadinata-331 saat bersandar di Dermaga Pondok Dayung TNI AL, Jakarta Utara, Jumat (7/4/2017). Kapal itu dikukuhkan sebagai kapal perang pimpinan atau flagship. (Foto: Kompas.com/Lutfy Mairizal Putra)

KRI Ardedali 404, Kapal Selam Pembelian Era SBY Siap Perkuat TNI AL

KRI Ardadedali 404 merupakan salah satu dari tiga kapal selam yang Indonesia pesan dari Korea Selatan. Pembuatan dua kapal selam dilakukan di galangan DSME dan satu lainnya di PT PAL Surabaya. (Foto: Istimewa)
"Pengadaan alutsista TNI AL ini merupakan program strategis TNI AL jangka panjang, hal ini merupakan suatu hal yang wajar sebagai wujud peremajaan alutsista guna mengganti alutsista  yang berumur diatas 25 sampai dengan 30 tahun,"
JAKARTA -- Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mendapatkan tambahan kapal selam baru. Kapal selam yang diproduksi di galangan kapal di Daewoo Shipbulding and Marine Engineering Co, Ltd (DSME), Okpo, Korea Selatan (Korsel) itu diberi nama KRI Ardadedali 404.

KRI Ardadedali 404 berangkat dari dermaga galangan kapal DSME, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan pada 30 April 2018, melintasi laut selama 17 hari menuju Indonesia.

Rute yang dilalui adalah Okpo (Korsel), Selat Korea, Perairan Jepang, Laut Cina Timur, Selat Luzon, Laut Cina Selatan, Selat Apo, Selat Cuyo, Laut Sulu, Selat Sibutu, Laut Sulawesi, Selat Makassar - Laut Jawa Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) hingga akhirya merapat di Dermaga Kapal selam Koarmada II Surabaya, Jawa Timur pada Kamis, 17 Mei 2018.

"Pengadaan alutsista TNI AL ini merupakan program strategis TNI AL jangka panjang, hal ini merupakan suatu hal yang wajar sebagai wujud peremajaan alutsista guna mengganti alutsista  yang berumur diatas 25 sampai dengan 30 tahun," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Ade Supandi yang menjadi Inspektur upacara dalam penyambutan kapal selam KRI Ardadedali 404 dalam keterangan tertulis, Jumat, 18 Mei 2018. 

Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Totok Sugiharto menjelaskan, nama Ardadedali diambil dari salah satu nama senjata panah yang dimiliki tokoh dalam dunia pewayangan Arjuna. "Anak panah Ardadedali merupakan senjata yang dahsyat yang dapat melumpuhkan musuhnya di medan pertempuran besar," kata Totok, Senin (30/4).

KRI Ardadedali 404 merupakan kapal selam type 209/400 DSME yang memiliki bobot 1.280 ton saat muncul di permukaan dan bobot menjadi 1.400 ton saat menyelam. Kapal selam ini memiliki empat mesin diesel MTU 12V493 yang mendukung jarak jelajah mencapai 18.520 km. KRI Ardadedali 404 ini juga dilengkapi Latest Combat System, Enhanced Operating System, Non-hull Penetrating Mast dan Comfortable Accomodation.

Prajurit TNI AL menambatkan tali KRI Ardadedali-404 ketika tiba di Dermaga Kapal Selam Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. (Foto: Antara/Zabur Karuru)
Memiliki panjang 61,3 meter, diameter 6,2 M, dengan draft 5,7 M yang mampu menampung 40 kru kapal. Kapal ini memiliki kecepatan mencapai 21 knot di bawah air dan 12 knot di permukaan. KRI Ardadedali mampu berlayar lebih dari 50 hari untuk menunjang fungsi operasi.


Kapal selam KRI Ardedali 404 merupakan kapal dengan sistem tempur terbaru dibandingkan kapal selam yang sudah dimiliki Indonesia saat ini. sistem operasi yang ditingkatkan, tiang penetrasi tanpa lambung, dan akomodasi yang nyaman.


Kapal tersebut dilengkapi dengan peluncur torpedo yang mampu melepaskan torpedo 533 mm. Kapal juga mampu melepaskan peluru kendali antikapal permukaan yang merupakan modernisasi armada kapal selam TNI AL.

Pembelian pada Era Pemerintahan Presiden SBY

Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji kepada wartawan di Surabaya, Senin (17/9), mengatakan kapal selam tersebut adalah pesanan kedua, dari tiga kontrak pembelian kapal selam dari Korea Selatan yang dilakukan para masa era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemudian melanjutkan program pengadaan persenjataan era SBY tersebut. Kapal selam yang dipesan Indonesia adalah kelas Changbogo senilai 250 juta dolar AS.

Salah satu bentuk kesepakatan kontrak pembelian adalah kapal selam pertama dan kedua akan dibangun di galangan kapal DSME Korea Selatan, dan kapal selam ketiga akan dibangun di galangan kapal PT PAL di Indonesia, melalui mekanisme transfer teknologi (ToT). Dengan adanya ToT, Indonesia berharap di masa depan akan mampu menciptakan kapal selam buatan dalam negeri secara mandiri.

Kapal Selam pertama dengan nama KRI Nagapasa 403 yang murni dibuat oleh teknisi dan tenaga kerja Korea Selatan di galangan DSME, sudah lebih dulu datang dan memperkuat alutsista TNI AL. Kapal selam kedua KRI Ardadedali 404 dibuat di galangan DSME Kores Selatan dengan teknisi Indonesia dan teknisi Korea Selatan.

Prajurit TNI AL berusaha menambatkan tali KRI Ardadedali-404 ketika tiba di Dermaga Kapal Selam Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. (Foto: Antara/Zabur Karuru)

Dapat Tambahan Alutsista Terbaru, Korps Marinir TNI AL Semakin Ditakuti

RM-70 Vampire multi-launch rocket system. Korps marinir TNI AL kembali mendapatkan tambahan alutsista canggih. Namun, luasnya wilayah Indonesia yang harus dilindungi, tambahanan alutsita tersebut dianggap masih jauh dari cukup. (Foto: Istimewa)
"Pembelian ini dalam rangka pemenuhan kekuatan Marinir, khususnya kemampuan arteleri medan dari laut ke darat,"
JAKARTA -- Korps Marinir kembali mendapatkan delapan kendaraan tempur (ranpur) berpeluncur roket multilaras baru buatan Republik Ceko. Serah terima alutsista itu ditandai seremoni antara Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Ade Supandi dan Komandan Korps Marinir, Brigjen Trusuno di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (2/8).
 
Ranpur tersebut adalah RM-70 Vampire multi-launch rocket system atau Raketomet vzor 1970. Alutsista yang juga dioperasikan sejumlah negara Asia, Amerika Selatan dan Afrika itu nantinya akan disiagakan Situbondo.

"Pembelian ini dalam rangka pemenuhan kekuatan Marinir, khususnya kemampuan arteleri medan dari laut ke darat," ucap Ade seperti dilansir Antara.

Ade mengatakan, delapan ranpur berpeluncur roket tersebut merupakan bagian dari program pembelian 36 unit RM-70 Vampire. Tahun 2016, kata dia, pemerintah baru bisa merealisasikan delapan ranpur.

Korps Marinir sebelumnya telah mengoperasikan sembilan ranpur berpeluncur roket jenis RM Grad buatan Rusia sejak 10 tahun yang lalu. Perbedaannya, kata Ade, RM-70 Vampire dikendalikan secara digital.
Pasukan Marinir melakukan ujicoba alutsista RM-70 Vampire multi-launch rocket system buatan Republik Ceko. (Foto: Istimewa)
Juni lalu, bertempat di Markas Batalyon Roket-1 Marinir, Surabaya, prajurit korps berprinsip jalesu bhumyamca jayamahe itu telah menguji coba RM-70 Vampire. Pelatihan penggunaan peluncur roket berkaliber 122 milimeter itu diadakan sejak 12 Juni hingga 30 Juli lalu.

Dinas Penerangan Marinir menyampaikan, pelatihan itu berkonten pendidikan pimpinan penembakan, awak pucuk, peninjau depan, komunikasi dan montir.

Selain Indonesia, RM-70 dioperasikan beberapa negara seperti Myanmar, Kamboja, Zimbabwe, Ghana, Polandia dan Uruguay.

Sebelumnya, sejumlah negara Eropa pernah memiliki ranpur berpeluncur roket multilaras ini, yakni Jernam, Republik Ceko, dan Bulgaria. RM-70 Vampire tercatat pernah digunakan para pihak yang bersengketa di Perang Ossetia Selatan tahun 2008.

Alutsista Marinir Banyak yang Usang

Sebelumnya, saat masih menjabat Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengungkapkan, Alat Utama Sistem Senjata atau alutsista Korps Marinir saat ini sudah banyak yang setengah tua (STW).
Pasukan Marinir TNI AL melakukan uji coba penggunaan alutsista RM-70 Vampire multi-launch rocket system buatan Republik Ceko. (Foto: Istimewa)
"Kita harus selalu memodernisasi persenjataan. Kita up date, termasuk tank-tank yang sudah tua. Kalau sudah tua, dimodifikasi seperti apapun tidak bisa. Lupakan yang lama dan kita cari yang baru," katanya kepada wartawan seusai penyerahan tank amfibi BMP-3F dari Rusia di Puslatpur Karang Tekok, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (27/1).

Moeldoko menyebut tank-tank Korps Marinir saat ini tidak bisa beroperasi maksimal. Jenderal berbintang empat itu mengemukakan kelengkapan alutsista merupakan bagian kesejahteraan secara tidak langsung bagi prajurit TNI. 

Menurut dia, kalau prajurit berangkat ke medan tempur dengan senjata tua, maka akan menurunkan moral prajurit "Dengan kedatangan tank baru ini akan sangat baik bagi pembangunan kekuatan Marinir ke depan. Marinir tentu akan semakin hebat," katanya.

Dalam acara serah terima dilaksanakan penandatanganan naskah penyerahan 37 unit BMP-3F dari pihak Rusia ke Dephan kemudian ke Mabes TNI dan terakhir ke pihak TNI AL. 

Minim Alutsista, Marinir TNI AL Tetap Ditakuti

Meski tak dilengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) secanggih milik negara-negara maju, Indonesia disebut-sebut memiliki kekuatan Korps Marinir terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Pasukan Marinir TNI AL mengoperasikan Tank amfibi BMP-3F buatan Rusia. (Foto: Istimewa)

TNI AL Lakukan Uji Coba Kendaraan Tempur Amfibi made in Indonesia

TNI AL lakukan uji coba kendaraan tempur amfibi asli buatan Indonesia.
SURABAYA -- Indonesia terus berupaya melakukan berbagai macam riset dan penemuan dalam bidang teknologi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista). Minimnya Alutsista di ketiga matra TNI, membuat TNI terus melakukan berbagai macam inovasi untuk menciptakan Alutsista yang sesuai kebutuhan dan yang terpenting merupakan asli buatan Indonesia.

Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Laut (Dislitbangal) melaksanakan uji coba kendaraan amfibi di kolam rampa Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis (27/10/2016). 


Kegiatan yang disaksikan langsung Sekdislitbangal Kolonel Laut (T) Aris Krisnadjaja didampingi Letkol Laut (T) Noor Fauzy R, Letkol Laut (E) Muhamad Nurul Adib tersebut untuk mengetahui kelaikan kendaraan amfibi untuk manuver di darat maupun di air.
Kendaraan amfibi tersebut merupakan proyek Dislitbangal yang dikerjakan oleh Letkol Mar Citro Subono bekerja sama dengan PT. Fiberboat.


Letkol Mar Citro Subono selaku peneliti Litbangal kendaraan amfibi mengatakan, kendaraan amfibi yang dibuat dengan spesifikasi menggunakan mesin darat Isuzu NKR 71, 5100 CC, 125 PS, 4x4, selain itu menggunakan dua buah mesin cummins mercruiser 220 HP, jenis diesel commonrail, stem drive propeller.

TNI AL lakukan uji coba kendaraan tempur amfibi asli buatan Indonesia.
Keistimewaannya roda darat bisa dilipat keatas seperti pesawat saat di air, sehingga kecepatannya bisa mencapai 12 knot sedangkan di darat mampu melaju dengan kecepatan 80 km per jam.

Dimensinya, lanjutnya, panjang 10 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 3,1 meter dan mempunyai bobot 6,7 ton. Daya muat kendaraan amfibi yaitu 3 kru, 16 penumpang dan 500 kg barang. 


Secara taktis, kegunaan kendaraan amfibi yaitu raid amfibi cepat dengan sasaran yang jauh di darat, mengangkut bekal untuk re supply pasukan depan, ambulance amfibi, mobil komunikasi amfibi dan mobil komando.
TNI AL lakukan uji coba kendaraan tempur amfibi asli buatan Indonesia.
Kemudian secara Non taktis, kendaraan amfibi bisa digunakan untuk SAR banjir, kendaraan organik KRI stand by di KRI dan untuk kendaraan pangkalan membantu fungsi pangkalan yang banyak menghadapi dua alam.

Seluruh rangkaian kegiatan di akhiri dengan pemotongan tumpeng oleh Sekdislitbangal Kolonel Laut (T) Aris Krisnadjaja sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan uji coba kendaraan amfibi, dan potongan tumpeng diserahkan kepada Letkol Mar Citro Subono.(*Dispen Kormar)

Sumber: Lembaga Kajian Pertahanan untuk Kedaulatan NKRI