Jalur Militer: AFRIKA

Rakyat Libya Jual Senapan Serbu, Granat dan Rudal Lewat Facebook

Media sosial ternama Facebook di negara Libya menjadi salah satu alat yang dipakai oleh para penjual senjata berat untuk menjangkau para konsumennya. Hingga kini pihak Facebook mengaku belum bisa mengatasi semua penyalahgunaan dalam pengendalian media sosial tersebut. (Gambar: Facebook)
“Meskipun kebanyakan barang yang dijualbelikan adalah senjata ringan tradisional, pistol hingga senapan manual dan senapan mesin, terdapat juga sistem persenjataan yang lebih signifikan, yang dapat memberi dampak di medan perang atau digunakan teroris,"
TRIPOLI -- Jika di Indonesia media sosial ternama Facebook bisa sangat ketat dalam menyeleksi dan memblokir akun-akun yang dianggap menyalahi aturan, lain halnya kondisi di Libya. di negara tersebut senjata berat untuk perang justru dijual melalui media Facebook.

Studi terbaru menunjukkan bahwa perdagangan senjata ilegal di Libya dilakukan melalui media sosial, khususnya Facebook. Studi yang dilakukan selama 18 bulan itu menemukan penjualan berbagai senjata, dari pistol hingga granat berpeluncur roket. Kebanyakan ditawarkan di grup Facebook secara “tertutup” atau “rahasia”.

Laporan studi itu menggunakan data yang dikumpulkan oleh Armament Research Services (ARES) dari total 1.346 transaksi jual-beli. Peneliti yakin ini hanya sebagian kecil dari jumlah perdagangan di media sosial yang sebenarnya. Laporan itu dirilis pada Kamis (07/04), namun BBC Newsnight menerima telah menerima salinannya terlebih dahulu.

Jumlah anggota dalam satu grup bervariasi, dari 400 hingga hampir 1.400 anggota. Beberapa grup punya nama yang jelas, seperti The Libians Firearms Market (Pasar Senjata Libia) yang kini telah ditutup, dan banyak grup yang masih aktif selama 18 bulan waktu studi, hal ini mengisyaratkan, kata peneliti, bahwa grup seperti ini jarang dilaporkan ke pengelola situs.

Perdagangan gelap senjata melanggar persyaratan layanan Facebook, dan juru bicara Facebook mengatakan bahwa mereka menganjurkan pengguna untuk melaporkan hal seperti itu.

Peneliti yakin perdagangan di media sosial mulai populer pada 2013, dan pasarnya terus tumbuh. Mereka menelusuri perdagangan senjata ringan di situs-situs media sosial termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Telegram. Alhasil, volume penjualan terbesar ditemukan di Facebook.

Sebagian besar senjata yang dijualbelikan adalah pistol atau senapan. Jenis senapan paling populer ialah Kalashnikov, yang terjual seharga rata-rata 1800 dinar Libia (Rp17 juta).

Salah satu tampilan grup penjual senjata berat di Libya melalui media sosial Facebook.
“Meskipun kebanyakan barang yang dijualbelikan adalah senjata ringan tradisional, pistol hingga senapan manual dan senapan mesin, terdapat juga sistem persenjataan yang lebih signifikan, yang dapat memberi dampak di medan perang atau digunakan teroris,” kata salah seorang peneliti Nic Jenzen-Jones dari ARES.

“Manpad adalah sistem anti-pesawat udara. Kami tak hanya menemukan sejumlah sistem yang komplet, tapi juga komponen individunya. Senjata ini tidak begitu ampuh melawan pesawat tempur modern, tapi ancaman besar terhadap pesawat sipil.” Peneliti menemukan sistem anti-pesawat udara dibanderol hingga 85.000 dinar Libia (sekitar Rp816 juta).

Salah satu tawaran meliputi senapan anti-udara yang dilengkapi satu unit truk. 'Tertutup' dan 'Rahasia' Kebanyakan perdagangan berpusat di kota-kota besar, terutama Tripoli, Benghazi, dan Sabratha. Pembelinya adalah gabungan dari milisi yang membeli senjata untuk berperang, dan milisi yang hendak menyingkirkan senjata mereka karena sudah tak terpakai.

Kebanyakan penjual berusia 20 atau 30-an, dan transaksi sering diselesaikan lewat pesan pribadi atau telepon.

Seorang anak kecil Libya saat sedang mempelajari menggunakan sebuah senapan AK47. Perang yang berkepanjangan yang terjadi di Libya saat ini memaksa anak-anak juga turut andil ke medan perang untuk mempertahankan diri mereka. (Foto: istimewa)

Mendiang Moammar Khadaffy dikenal sebagai pembeli senjata yang obsesif dan mengendalikan pasar senjata dengan ketat. Selama 40 tahun berkuasa, diperkirakan dia membelanjakan lebih dari 30 miliar dollar AS atau sekitar Rp 395 triliun untuk senjata. Ketika pasukan pemberontak menggulingkan rezimnya pada 2011, timbunan senjata milik Khadaffy dijual bebas ke pasar gelap.

Kebanyakan perdagangan berpusat di kota-kota besar, terutama Tripoli, Benghazi, dan Sabratha. Pembelinya adalah gabungan dari milisi yang membeli senjata untuk berperang, dan milisi yang hendak menyingkirkan senjata mereka karena sudah tak terpakai. (*JM)

Sumber: BBCIndonesia

Putra Muammar Gaddafi Ingin Rebut Kembali Pemerintahan Libya

Seorang siswa memegang gambar pemimpin Libya Moammar Gadhafi dan putranya Saif al-Islam dan Khamis, di dekat gedung di Universitas Fatih, di Tripoli. ( Foto: Reuters)
"Dia berencana untuk menjadikan Libya lebih aman dan stabil, sesuai dengan geografi Libya, dan berkoordinasi dengan semua faksi Libya,"
TRIPOLI -- Kabar mengejutkan datang dari Libya, anak dari mantan diktaktor Libya, Muammar Gaddafi, yakni Saif al-Islam Gaddafi dilaporkan akan maju dalam pemilihan Presiden Libya. Pilpres Libya sendiri akan berlangsung pada pertengahan tahun depan.

Saif al-Islam bertekad akan merebut kembali pemerintahan Libya melalui jalan demokrasi.

Kepastikan akan majunya Saif al-Islam dalam pilpres di Libya disampaikan langsung oleh juru bicara keluarga Gaddafi, Basem al-Hashimi al-Soul. Basem menuturkan, Saif al-Islam mendapatkan dukungan yang cukup luas dari sejumlah suku, dan kelompok di Libya untuk maju dalam pilpres pada tahun depan.

"Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan presiden Libya, mendapat dukungan dari suku-suku utama di Libya, sehingga dia dapat mencalonkan diri untuk pemilihan presiden yang akan datang, yang dijadwalkan pada 2018," kata Basem.

Saif berharap, dia bisa menyatukan seluruh suku dan faksi yang ada di Libya, dan menciptakan stabilitas. Bentuk stabilitas itu dituangkan pada program kampanye keamanan berdasarkan kondisi geografi Libya.

"Dia berencana untuk menjadikan Libya lebih aman dan stabil, sesuai dengan geografi Libya, dan berkoordinasi dengan semua faksi Libya," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Senin (18/12).


Pengumuman majunya Saif sebagai capres terjadi pasca-keputusan Panglima Tertinggi Libya, Khalifa Haftar. Saat itu, Haftar menyatakan bakal mendengarkan keinginan rakyat Libya yang merdeka. Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal Haftar bakal menggelar pilpres.

"Kami percaya pilpres itu bakal digelar pertengahan 2018," kata menteri luar negeri Pemerintahan Kesepakatan Nasional Libya (GNA), Mohamed Siala.

Anak dari mantan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi, yakni Saif al-Islam Gaddafi mendapat sambutan hangat dari Rakyat Libya sesaat setelah bebas dari penjara. (Foto/Reuters)

Muammar Qaddafi Tumbang, Libya Jatuh dalam Kekacauan Panjang

Seorang pemuda Libya berdiri di atas sebuah bangkai tank yang hancur terbakar akibat perang saudara yang terus berkecamuk di Libya setelah tumbangnya rezim Muammar Qaddafi. (Foto: Istimewa)
"Mana mungkin ini revolusi rakyat sedangkan tiga-perempat rakyat mendukung Khadafi? Apakah protes oleh ratusan orang di setiap kota adalah revolusi? Saya percaya dinas intelijen Barat berada di belakangnya untuk mengubah rezim Khadafi melalui kekerasan,"
TRIPOLI -- Tumbangnya pemerintahan Presiden Libya Muammar Qaddafi, ternyata menimbulkan bencana baru bagi rakyat Libya. Negara itu kini jatuh dalam kekacauan berkepanjangan. 

Kekacauan terjadi setelah terjadinya perebutan kekuasaan diantara berbagai kekuatan militer yang dulu bahu membahu memburu Muammar Qaddafi.

Libya kini terpecah menjadi dua kubu kekuatan, yaitu pemerintahan resmi yang diakui oleh PBB dan disokong kekuatan Pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin oleh Jenderal Khalifa Haftar, melawan pasukan Islamis yang terpecah dalam beberapa kelompok yang ingin mendirikan negara Islam Libya. Masing-masing pihak bertempur untuk mendapatkan kekuasaan secara penuh atas negara itu.

Jenderal Haftar merupakan salah satu petinggi militer pada era Qaddafi yang membelot, dan melakukan perlawanan untuk menggulingkan mantan presiden Muamar Qaddafi pada 2011 lalu. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai salah satu tokoh militer paling kuat di negara itu. Ia bersama dengan pasukannya menguasai sebagian besar wilayah Libya Timur.

Haftar menjadi pendukung utama terbentuknya pemerintahan Libya saat ini, dengan lebih dulu membantu menumbangkan pemerintahan transisi Libya yang didominasi kekuatan Islam Pada awal tahun 2014, setelah tewasnya Muammar Qaddafi.

Setelahnya tumbangnya rezim Qaddafi, tampuk pemerintahan Libya dipegang oleh pihak Islamis yang diwakili oleh GNC (General National Congress) dibawah pimpinan Nouri Abusahman pada Juni 2013. 


GNC mulai menerapkan syariat Islam pada Desember 2013. Namun pada tanggal 14 Februari, pemerintahan GNC diprotes oleh Khalifa Haftar. Haftar menyeru pembubaran GNC dan menuntut dibentuk pemerintah baru.
Jenderal Khalifa Haftar. Setelah berkhianat pada Muammar Qaddafi, Haftar kemudian tinggal di luar negeri dan mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat. Setelah itu Haftar mulai diplot oleh Barat untuk menjadi simbol pemberontakan untuk melawan rezim Tripoli. (Foto: middleeastmonitor.com)
Tanggal 16 Mei 2014 Jenderal Khalifa Haftar membuat operasi penyerangan yang diberi kode Operasi Dignity terhadap Islamis di Bengazhi. Dua hari setelahnya, pasukan Haftar berusaha membubarkan GNC di Tripoli. 

Pada Juni 2013 berlangsung pemilu di Libya. Hasilnya, pemerintah baru Libya menggantikan GNC. Pemerintah baru yang diakui oleh dunia internasional tersebut mengangkat Abdullah Al-Thinni sebagai perdana menteri.

Walau Libya sudah memiliki perdana menteri baru, tetapi secara de facto, kekuasaan Libya dipegang oleh Jenderal Haftar. Dengan kekuatan militer yang dimilikinya, jenderal yang memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat tersebut, mampu mengendalikan dan mempengaruhi jalannya pemerintahan Libya.

Pasukan militer yang loyal pada Haftar, mengendalikan keimigrasian, membangun zona militer, mengendalikan dan menguasai kota-kota besar di Libya, seperti Tripoli, Bengazhi, Derna dan kota lainnya.

Pemerintahan Libya yang disokong Barat, mendapat perlawanan sengit dari kubu pejuang Islamis. Mendapat bantuan suplai secara penuh dari Amerika dan Barat, tetap tidak mampu membantu Haftar dan pasukannya untuk mengalahkan gerilyawan Islamis yang justru semakin menyebar di kota-kota besar negara itu.

Akibatnya, perang berkecamuk terjadi di Bengazhi, Derna, Tripoli, Sirte, dan kota-kota lainnya diseluruh penjuru Libya. Setidaknya ratusan ribu rakyat Libya tewas akibat perang saudara yang terjadi di Libya. Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan saat terjadinya pertempuran untuk menumbangkan Muammar Qaddafi.

Bahkan di Tripoli, pertempuran tersebut telah menyebabkan penutupan bandara internasional. Sementara kelompok-kelompok Islamis juga bertempur melawan pasukan khusus Libya di kota Benghazi, Libya timur.

Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada akhir perjalanan satu hari ke Tripoli, Libya, pada 18 Oktober 2011, setelah jatuhnya Kolonel Muammar el-Qaddafi. Laporan media menyebut kunjungan ini sebagai “kunjungan kemenangan.” Amerika Serikat dan sekutu dalam menumbangkan rezim pemerintahan Muammar Qaddafi. (Foto: Kevin Lamarque via nytimes.com)
"Ini lebih buruk daripada 2011. Saat itu kami dibombardir oleh NATO, namun sekarang kami sedang dibombardir oleh warga Libya sendiri, dan itu sangat memalukan," ujar Ali Gariani, pria Libya yang menikahi wanita Yunani. "

Rakyat Libya Menyesal Gulingkan Muammar Qaddafi

Revolusi Libya yang disponsori kekuatan Barat untuk menumbangkan rezim Muammar Qaddafi seperti membuka kotak Pandora bagi rakyat Libya. Impian untuk mendapatkan kebahagiaan, kebebasan, kesejahteraan dan kemakmuran setelah tumbangnya Qaddafi, ternyata hanya menjadi ilusi. Libya kini jatuh dalam kehancuran dan akan disesali rakyat negara itu hingga beberapa dekade setelahnya.

Kebanyakan rakyat Libya menyesalkan penggulingan Muammar Qaddafi, bukan karena mereka mencintai rezimnya, tapi karena pilihan revolusi ternyata tak sesuai harapan. Perang sipil yang terjadi di negeri itu saat ini jauh lebih buruk daripada kerusuhan yang terjadi sebelum tumbangnya diktator Muammar Qaddafi.

"Ketika kami berdemonstrasi menentang rezim Qaddafi, kami memimpikan kebebasan dan menikmati kekayaan kami. Namun, kami sekarang dikelilingi oleh penjahat dan gembong perang. Bukannya menikmati kekayaan minyak kami, kemiskinan telah meningkat dan warga tak berdaya," kata Jalal Fituri, seorang pengajar di universitas setempat.

Sementara itu, Ibtisam Naili, seorang perawat di Tripoli, mengatakan percaya ada persekongkolan internasional dalam revolusi itu.

"Mereka yang berdemonstrasi menentang rezim Qaddafi pada 2011 dibodohi politisi Libya di luar negeri yang sangat menginginkan kekuasaan. Mereka mengambil-alih kekuasaan dengan mencuci otak pemuda Libya," katanya.

Di lain pihak, Najwa Al-Hami, seorang pegiat hak asasi manusia, mengatakan apa yang terjadi di Libya bukanlah revolusi.

Seorang pejuang Libya berusaha menyelamatkan temannya yang terluka dalam sebuah pertempuran perang saudara di negara itu. Setelah tumbangnya Qaddafi, keamanan adalah sesuatu yang sangat mahal di Libya. (Foto: EPA)

Tentara Sudan Selatan Perkosa Para Wanita di Depan Mata Pasukan PBB

Para tentara Sudan Selatan saat menyerang sebuah desa dari etnis berbeda. Peperangan yang terjadi di Sudan Selatan semakin menjadi-jadi. Tindakan kejahatan seperti penculikan anak, pemerkosaan dan pembunuhan terhdapa warga sipil semakin meningkat, yang bahkan tidak bisa dihentikan oleh Pasukan Keamanan PBB yang sedang bertugas di sana sekalipun. (Foto: Istimewa)
"Saya disuruh memilih mau diperkosa oleh salah satu dari mereka atau semuanya, Saya memohon agar mereka membunuh saya saja,"
JUBA -- Lepasnya Sudan Selatan dari negara Islam Sudan, justru membuat wilayah tersebut semakin bergejolak. Perang suku, pembantaian etnis, dan ketidakstabilan politik terus saja terjadi di negara termuda di Afrika itu. Bahkan, pemerkosaan yang dialami para wanita di Sudan Selatan hampir terjadi setiap menitnya, meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menurunkan ratusan ribu pasukan penjaga perdamaian di negara konflik tersebut.

Ketidakmampuan pasukan PBB dalam memberikan perlindungan terhadap para wanita di Sudan Selatan terlihat pada peristiwa yang terjadi, sore 18 Juli lalu saat tentara Sudan Selatan menyeret Theresa. Dia hanya berjarak beberapa meter saja dari lokasi aman, kamp Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Ibu Kota Juba, Sudan Selatan, tempat dia mengungsi bersama ribuan warga lainnya.

Meski mereka berada di ruang terbuka, para tentara itu masih menyempatkan waktu membahas nasib Theresa. Mereka menawarkan pilihan kejam.

"Saya disuruh memilih mau diperkosa oleh salah satu dari mereka atau semuanya. Saya memohon agar mereka membunuh saya saja," kata Theresa, bukan nama sebenarnya, seperti dilansir koran the Guardian, Jumat (29/7).

Kelima pria itu, semuanya anggota Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SDLA), kemudian menyeret Theresa beberapa meter ke pinggir jalan. Mereka kemudian memperkosanya di siang bolong, di pinggir jalan itu.
Tentara Sudan Selatan menangkap para wanita dan anak-anak dari etnis Nuer. Walau di Sudan Selatan terdapat ratusan ribu pasukan PBB, namun tetap tidak mampu memberikan perlindungan bagi para wanita dari aksi pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara pemerintah. (Foto: Istimewa)
Saksi mengatakan sejumlah pasukan perdamaian PBB asal Nepal dan China hanya melihat saja kejadian itu tanpa memberi pertolongan kepada korban.

Theresa bukan satu-satunya korban. Tak lama setelah bentrokan berdarah awal bulan ini antara pasukan pemerintah dan kelompok oposisi di Juba, puluhan wanita dilaporkan diperkosa di dekat lokasi Perlindungan PBB untuk rakyat sipil (POC), tempat penampungan sekitar 30 ribu warga sipil.

Kekerasan terhadap kaum perempuan merak terjadi dalam perang saudara di Sudan Selatan dalam dua tahun terakhir. Penyebab utama kekerasan itu antara lain tentara yang punya kekebalan hukum dan kurangnya pasukan perdamaian PBB di lokasi.

Tokoh masyarakat setempat mengatakan kepada wartawan lebih dari 120 perempuan diperkosa dalam beberapa hari sejak bentrokan terjadi. Sejumlah korban yang selamat menceritakan bagaimana tentara menyerang kaum perempuan berdasarkan etnis dan sistematis. Kebanyakan korban berasal dari etnis Nuer, kelompok suku yang berseberangan dengan pemimpin kaum oposisi Riek Machar.

Pasukan PBB Tak Mampu Berikan Perlindungan

Peristiwa pemerkosaan di Ibu Kota Juba itu menggambarkan dua masalah utama yang terjadi negara konflik tersebut: kekerasan terhadap etnis tertentu dan gagalnya pasukan perdamaian PBB melindungi warga sipil.
Seorang wanita yang sedang hamil bersembunyi di sebuah kamp yang dilindungi pasukan PBB. Ratusan wanita di Sudan Selatan, hamil akibat pemerkosaan yang dilakukan secara sistematis oleh tentara pemerintah. (Foto: Istimewa)
Koran the Daily mail melaporkan, Rabu (27/7), pada 17 Juli lalu dua tentara berseragam menyeret seorang perempuan di depan gerbang sebelah barat kamp PBB yang hanya berjarak beberapa ratus meter.

Seorang saksi mengungkapkan setidaknya ada 30 tentara perdamaian PBB asal Nepal dan China melihat peristiwa pemerkosaan itu dan hanya diam saja.

"Mereka melihatnya. Semua orang melihat. Perempuan itu menjerit dan menangis tapi tidak seorang pun menolong," kata saksi itu.

Dia dan sejumlah saksi lain tidak mau menjelaskan identitas mereka karena takut diketahui oleh tentara. Insiden pemerkosaan ini hanya sepekan setelah pasukan antipemerintah menyerang Juba dan menewaskan ratusan orang.
Para wanita dan anak-anak berlindung di salah satu kamp pasukan PBB, walau tetap tidak ada jaminan bahwa mereka aman dari serangan pasukan pemerintah Sudan Selatan. (Foto: Istimewa)
Juru bicara PBB di Sudan Selatan Shantal Persaud tidak membantah bahwa pemerkosaan itu bisa saja terjadi di dekat kamp PBB.

Ketika gencatan senjata diumumkan, kaum hawa mulai mencari makanan di luar kamp PBB yang dihuni sekitar 30 ribu warga sipil yang kebanyakan dari etnis Nuer. Mereka takut akan serangan dari pasukan pemerintah yang kebanyakan dari etnis Dinka. (*)

Sumber: the Guardian/Merdeka.com/Daily mail

Tentara Anak-anak Menjadi Mesin Pembunuh Paling Efektif di Benua Afrika

Anak-anak di Afrika selalu menjadi korban konflik dalam setiap pertikaian di kawasan tersebut. Sebagian dari mereka dipaksa untuk angkat senjata dan menjadi tentara untuk maju di zona terdepan pertempuran. (Foto: istimewa)
"Setiap pagi kami berlatih keras, merangkak di dalam lumpur. Mereka ingin kami menjadi kejam, tanpa rasa ampun,"
Jalurmiliter.com -- Dalam kehidupan normal tidak ada tindakan yang lebih gila daripada memberikan senjata terutama senjata tajam kepada anak kecil. Namun berbeda untuk di kawasan Afrika, di kawasan benua hitam tersebut, anak-anak dieksploitasi sejak kecil untuk dijadikan mesin pembunuh di zona perang.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, benua Afrika memiliki jumlah tentara anak-anak tertinggi di dunia. Menurut Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), lebih dari 20.000 tentara anak telah dikerahkan oleh kelompok bersenjata di Sudan Selatan sejak perang sipil meletus pada bulan Desember 2013.

Di tempat lain, diperkirakan ada ratusan ribu anak yang direkrut menjadi tentara selama konflik bersenjata yang terjadi di Republik Afrika Tengah, Somalia, Mali, Republik Demokratik Kongo, dan sejumlah negara Afrika yang berada dalam kondisi perang.

Kelompok teroris Boko Haram di Nigeria menggunakan anak-anak dan perempuan dalam banyak operasinya. UNICEF baru-baru ini mengumumkan bahwa jumlah anak yang dikerahkan sebagai pelaku bom bunuh diri di Nigeria telah meningkat empat kali lipat pada tahun ini.

Sedangkan kelompok al-Shabaab di Somalia, Tidak hanya merekrut pemuda, namun kelompok tersebut mengerahkan anak-anak dan remaja dalam serangan terhadap pasukan pemerintah, pasukan Uni Afrika dan lembaga internasional. Al-Shabaab mampu merekrut banyak anak yang terkena dampak kelaparan dengan menjanjikan makanan, tempat tidur, dan uang.

Teroris juga memanfaatkan perdagangan manusia, terutama anak-anak sebagai sumber pendapatan baru mereka. Karena sumber pendapatan sebelumnya termasuk penjualan minyak dan perpajakan, tidak efektif menyusul kondisi perekonomian global dan harga minyak yang anjlok.

Seorang kelompok militan bersenjata di Afrika sedang mengajarkan seorang anak kecil cara menggunakan senjata. (Foto: istimewa)
Anak-anak yang diperdagangkan, biasa didapat dari menculik anak-anak dari kawasan konflik yang tidak mendapatkan perlindungan, atau dari sejumlah kamp-kamp pengungsian. Kristen Sandberg, Kepala Komite PBB untuk Hak Anak mengatakan, "Kami khawatir dengan laporan penculikan ratusan anak-anak Afrika dari keluarga mereka dan penyelundupan mereka."

Sedangkan menurut laporan, lembaga Save the Children, Kamis (19/12), Ada 10 Ribu Tentara Anak di Republik Afrika Tengah banyak yang terpaksa angkat senjata demi mendapatkan makanan, pakaian dan uang. Tidak jarang mereka diturunkan di garis depan peperangan.

Dalam laporannya, lembaga ini mengatakan bahwa beberapa dari anak itu diculik atau dipaksa bergabung dengan kelompok bersenjata. Sementara anak lainnya terpaksa bergabung demi mendapat makanan, pakaian, uang dan perlindungan. Beberapa di antara mereka angkat senjata karena ditekan oleh kawan-kawan atau orang tua, untuk melindungi komunitas atau balas dendam.

"Setiap pagi kami berlatih keras, merangkak di dalam lumpur. Mereka ingin kami menjadi kejam, tanpa rasa ampun," kata seorang mantan tentara anak, Grace a Dieu, yang bergabung dengan kelompok bersenjata pada Desember 2012 saat usianya 15 tahun, dikutip Reuters.

Tentara paling kecil diketahui berusia delapan tahun, mereka berperang, memanggul logistik, dan berada di garis depan. Save The Children mengatakan anak-anak ini seringkali mengalami penyiksaan fisik dan mental dari militan, beberapa dipaksa untuk membunuh orang.

"Saat berperang, kami, anak-anak, yang sering diturunkan ke garis depan, sementara yang lain tinggal di belakang. Saya melihat banyak saudara-saudara saya terbunuh saat bertempur," kata Dieu yang menggunakan nama samaran demi keselamatannya.

Hampir dalam setiap pertempuran, tentara anak-anak selalu ditempatkan di zona paling terdepan dalam menghadapi musuh. (Foto: istimewa)
Save the Children juga mengatakan, dengan menyaksikan atau bahkan membunuh atau melakukan kekejaman lainnya akan membuat anak-anak menderita ketakutan, kekerasan, depresi, tertekan dan merasa tidak aman.

"Banyak anak di negara ini melalui hal-hal yang, jangan anak-anak, orang dewasa saja tidak sanggup melaluinya. Mereka menyaksikan kehilangan orang terkasih, melihat rumah mereka hancur, dan berusaha bertahan hidup di kondisi yang berat di semak-semak selama berbulan-bulan," kata Julie Bodin, manajer perlindungan Save the Children.

Tentara Anak-anak, Mesin Pembunuh Paling Efektif

Banyak negara di benua Afrika, terjadi perang sipil dengan berbagai faktor termasuk kurangnya perkembangan politik, minimnya demokrasi, dan upaya para pejabat untuk mempertahankan kekuasaan mereka, struktur budaya dan sosial, perbedaan agama, kesukuan dan etnis, campur tangan negara-negara asing khususnya Barat, perselisihan, kemiskinan dan buruknya kondisi ekonomi.

Di Suasana kondisi lingkungan brutal dan penuh kekacauan tersebut, anak-anak menjadi objek yang paling mudah untuk dieksploitasi. Selain terbunuh, anak-anak juga menjadi komoditi yang diperjual-belikan. Anak-anak perempuan diperjual-belikan dan dipelihara oleh gembong-gembong kejahatan untuk dijadikan mesin seks ketika saat mulai beranjak remaja.

Sedangkan anak-anak laki-laki diculik, diperjual belikan sebagian untuk dipanen organ tubuh mereka dan dijual ke pasar internasional dan sebagian lagi dipaksa untuk menjadi tentara anak dan menjadi umpan paling depan setiap terjadi konflik.


Meskipun orang dewasa memiliki kesiapan fisik lebih bagus dan pelatihan mereka lebih cepat, namun banyak kelompok militan yang memaksa mereka untuk merekrut anak-anak demi tujuan militer. Ini dikarenakan anak-anak dan remaja jauh lebih mudah dimanfaatkan untuk tujuan non-materi, seperti mendapatkan kehormatan dan kredibilitas sekaligus balas dendam, ketimbang orang dewasa.

Anak-anak di Afrika, hampir tidak memiliki tempat yang aman untuk berlindung. Sebagian besar dari mereka diculik di desa-desa, dirampas dari orang tua mereka, atau diculik dari sejumlah kamp pengungsian tanpa ada yang bisa mencegah, untuk dijual atau dijadikan sebagai tentara. (Foto: istimewa)
Mengendalikan anak-anak dan menanamkan ideologi militer kepada mereka jauh lebih mudah daripada orang dewasa, karena kekuatan analisa dan identifikasi benar dan salah mereka lebih lemah dibanding orang dewasa.

Untuk menggembleng anak-anak yang masih berpikiran polos dan berhati bersih tersebut, agar menjadi bengis dan kejam, para kelompok militan bersenjata melakukan cara-cara yang juga sangat biadab.

Tak jarang, seorang anak kecil disuruh menembak mati seorang teman bermainnya sendiri dengan alasan untuk menunjukkan kesetiaan atau keberanian. Atau terkadang, seorang anak dipaksa memperkosa anak gadis lainnya di hadapan teman-temannya sendiri dengan alasan sebagai sebuah simbol kejantanan. Ketika mereka menolak, pilihannya hanya mati.

Hasilnya terbukti, dalam sejumlah pertempuran, para warga di sejumlah negara Afrika, lebih menakuti tentara anak-anak karena kebrutalan mereka. Anak-anak yang hati nuraninya sudah dikotori tersebut, tak segan-segan membumi-hanguskan sebuah desa atau mengeksekusi mati semua penduduknya tanpa memandang usia. 


Bahkan, pasukan keamanan PBB yang ditempatkan di sejumlah negara konflik Afrika, mengakui lebih sulit menghadapi tentara anak-anak dibandingkan ancaman kelompokm bersenjata lainnya.

Antara Diperkosa atau Membunuh

Kekerasan dan pelecehan seksual adalah masalah lain yang dialami anak-anak di zona konflik. Laporan internasional menunjukkan bahwa puluhan anak telah menjadi korban pelecehan seksual dalam konflik di Afrika Tengah, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo dan banyak negara Afrika. 


Terungkapnya skandal eksploitasi seksual terhadap anak-anak dengan imbalan makanan yang disediakan oleh pasukan penjaga perdamaian Perancis di Afrika Tengah merupakan masalah yang masih belum jelas hingga kini.

Ini juga mencakup anak-anak yang sendirian atau bersama keluarga mereka mengungsi di kamp-kamp daerah lain, termasuk Eropa. Banyak dari anak-anak pengungsi ini tidak hanya mengalami pemerkosaan dan kekerasan, tapi juga banyak yang diperjual-belikan atau dibunuh dan organ mereka dijual.

Para Anggota Front Patriotik Nasional Independen Liberia (INPLF) menahan seorang tahanan anak gadis di Monrovia. Banyak dari para gadis di Afrika ketika tertangkap, diperkosa lalu dibunuh atau dijual sebagai komoditi. (Foto: thedailybeast.com)

Milisi Libya Dituduh Lakukan perbudakan dan Penjualan Organ Tubuh

Munculnya berbagai kelompok milisi bersenjata di Libya, membuat kriminalitas meningkat pesat di negara tersebut. Diantaranya maraknya kasus perbudakan dan perdagangan manusia. (Foto: istimewa)
“75 persen dari mereka dijual ke perbudakan di Libya, yang organnya dipanen, tubuh dimutilasi dan dipanggang seperti suya (kebab Afrika), berasal dari Nigeria selatan,”
ABUJA -- Seorang mantan menteri Nigeria mengungkap praktik mengerikan dari perdagangan budak di Afrika oleh geng di Libya. Menurutnya, orang-orang Afrika di Libya dijadikan budak, dijual, hingga dimasak seperti suya atau kebab Afrika.

Praktik perbudakan dan penjualan manusia ini juga pernah diungkap Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam laporannya bulan April lalu. IOM memperingatkan bahwa para migran dijual ke pasar budak.

Fani-Kayode
mantan Menteri Budaya Nigeria mengatakan, tiga perempat dari orang-orang yang ditahan oleh kelompok kriminal di Libya berasal dari Nigeria selatan.

“75 persen dari mereka dijual ke perbudakan di Libya, yang organnya dipanen, tubuh dimutilasi dan dipanggang seperti suya (kebab Afrika), berasal dari Nigeria selatan,” tulis mantan menteri tersebut.

”Dipanggang hidup-hidup. Ini adalah apa yang orang Libya lakukan kepada orang-orang Afrika sub-Sahara yang mencari titik transit ke Eropa. Mereka menjualnya ke perbudakan dan pembunuhan, mutilasi, penyiksaan atau kerja sampai mati,” lanjut Fani-Kayode, seperti dikutip IB Times, Kamis (30/11/2017).

Menanggapi peristiwa mengerikan tersebut, Presiden Nigeria Muhammadu Buhari mengatakan, pemerintah mulai membawa pulang warganya yang terdampar di Libya. Langkah itu diambil setelah laporan tentang praktik perbudakan yang mengerikan di Libya jadi sorotan global.


”Situasi di Libya, orang-orang yang dijual menjadi budak, sangat mengerikan dan tidak dapat diterima. Kami akan melakukan segalanya untuk melindungi warga dimanapun mereka berada, Nigeria mulai membawa pulang semua orang Nigeria yang terdampar di Libya dan tempat lain, ” tulis Buhari di akun Twitter-nya, seperti dikutip Reuters, Kamis (30/11/2017).
Para migran tiba di sebuah pangkalan angkatan laut setelah diselamatkan penjaga pantai Libya di Tripoli. (Foto: Reuters/Ismail Zitouny)

Berubah Haluan, Militer Mesir Bantu Rezim Assad Hancurkan ISIS

Angkatan Udara Mesir ikut memberikan bantuan untuk menghancurkan kelompok teroris ISIS di Suriah. Hal ini dilakukan setelah berubahnya kebijakan politik Mesir di Suriah dengan mengakui pemerintahan Bashar al-Assad sebagai presiden yang sah. (Foto: istimewa)
Hama -- Arah politik pemerintah Mesir kini berubah drastis menyangkut Suriah. Sebelumnya, Mesir merupakan salah satu negara Arab yang menyetujui dan mensponsori penggulingan pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad dari kursinya, namun kini Mesir justru memberikan bantuan militer untuk menumpas ISIS dan kelompok pemberontak Suriah lainnya.

Beberapa pilot Mesir telah tiba di pangkalan udara tentara Suriah di Hama, media Lebanon melaporkan, menambahkan bahwa Kairo telah memutuskan untuk tidak peduli dan berpartisipasi dalam operasi anti-terorisme di Suriah.

Menurut harian al-Safir, pasukan Mesir telah memulai pekerjaan mereka di pangkalan udara Hama sejak 12 November dan sejumlah 18 pilot juga telah bergabung dengan mereka, sebagian besar pilot helikopter.

Surat kabar itu mengatakan tidak jelas apakah pilot Mesir telah memulai serangan udara di Suriah atau tidak tapi kehadiran mereka di pangkalan udara Hama menunjukkan bahwa Mesir telah membuat keputusan untuk mempercepat bantuan kepada pemerintah Suriah.

Menurut harian itu, kelompok pertama terdiri dari 4 perwira berpangkat tinggi Mesir telah memasuki Suriah dan dikerahkan ke basis staf umum tentara Suriah di Damaskus, menambahkan bahwa dua jenderal utama Mesir telah mulai bekerja di ruang operasi tentara Suriah sejak sebulan lalu, dan tanggung jawab mereka memimpin operasi pengintaian, yang terbaru adalah di Quneitra di selatan Suriah, Dataran Tinggi Golan dan Dara'a.

Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Mesir saat mendarat di pangkalan militer Hama, Suriah. Para pilot dikirim untuk ikut ambil bagian dalam menumpas kelompok teroris ISIS di negara bergejolak tersebut. (Foto: istimewa)

Pasca Bertemu Pemerintah Suriah, Mesir Nyatakan Keluar dari Koalisi Saudi

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi kini terpecah menyikapi penyelesaian konflik militer di Yaman. Mesir sebagai pendukung terbesar dalam koalisi tersebut, juga menyatakan keluar dan menolak untuk menyerang para pejuang Yaman. (Foto: Al-Arabiya)
KAIRO -- Sikap mengejutkan ditunjukkan Mesir dalam menyikapi penyelesaian konflik militer di Yaman. Mesir menyatakan menarik diri dari koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi, untuk menyerang rakyat Yaman.

Mengutip laman situs www.nationalyemen.com pada Rabu, 19/10/16, langkah ini dilakukan oleh pemerintah Mesir hanya beberapa jam setelah Kepala Intelijen Mesir bertemu dengan sejumlah petinggi di pemerintahan Suriah.

Perubahan kebijakan politik yang berubah secara tiba-tiba ini, juga didukung oleh Angkatan Udara Mesir pada Selasa, 18/10/16, yang menyatakan akan menarik menarik diri dari Koalisi Arab Saudi untuk menghancurkan negara Yaman setelah operasi 12 bulan.

Raja Kerajaan Arab Saudi, King Salman Al-Saud saat bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.(Foto: The Media Line)