Jalur Militer: AMERIKA SERIKAT

Waspadai Rusia, Amerika Tumpuk Amunisi dan Rudal Balistik di Eropa

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang,"
BERLIN -- Amerika Serikat (AS) dibawah kepemimpinan Donald Trump semakin memanaskan situasi di Eropa. Setelah melakukan latihan militer besar-besaran dengan NATO, yang membuat Rusia naik pitam, kini negara adidaya tersebut berencana menumpuk rudal-rudal balistik di Eropa.

Dilaporkan, pangkalan Udara Ramstein di Jerman telah menerima sekitar 100 kontainer amunisi dan rudal balistik dari Amerika. Pengiriman persenjataan itu tercatat yang terbesar oleh Washington sejak NATO melakukan pemboman di Yugoslavia pada tahun 1999.

"Berbagai amunisi sudah dikirim ke Ramstein selama bulan Oktober. Ramstein adalah pangkalan udara luar negeri dan pusat pengangkutan udara terbesar AS. Jadi tugas utama kami adalah mendapatkan amunisi di mana mereka harus tepat waktu," kata Sersan Arthur Myrick, kepala untuk Misioner Skuadron 86.

Pengiriman itu dimaksudkan untuk mendukung prakarsa NATO yang bernama "European Deterrence Initiative" dan memompa sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Udara AS di Eropa.

Pentagon bertujuan untuk meningkatkan waktu respons militer AS dengan memposisikan amunisi, bahan bakar, dan peralatan untuk dapat memberikan respons cepat terhadap ancaman yang dibuat oleh aktor agresif, yang disini tentu saja ditujukan untuk militer Rusia.

"Ini adalah amunisi dunia nyata untuk memenuhi tujuan dunia nyata. Itulah alasan kami mengunduh hal-hal tersebut, untuk memastikan kami memiliki kemampuan untuk menggerakkan pertarungan ke depan jika perlu," jelas Sersan Arthur, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (27/10/2018).

Sersan David Head, Kepala Bagian Operasi Amunisi Skuadron 86, mencatat bahwa pengiriman itu adalah yang terbesar dari jenisnya sejak Operasi Pasukan Sekutu, yang berlangsung pada tahun 1999.

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang," kata David dalam sebuah rilis.

Operasi Allied Force adalah nama kode NATO resmi untuk kampanye pengeboman 78 hari aliansi melawan pasukan Serbia selama Perang Serbia-Kosovo antara akhir Maret dan awal Juni 1999.

Saat itu, AS dan sekutunya meluncurkan serangan udara di Yugoslavia, tanpa restu Dewan Keamanan PBB, setelah menyalahkan Beograd atas penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tidak proporsional dalam konflik dengan pemberontakan etnik Albania di Kosovo.

Dalam pemboman di Yugoslavia, pesawat-pesawat tempur NATO meluncurkan 900 serangan mendadak selama operasi pemboman brutal selama 78 hari. Data resmi menyatakan 758 warga sipil tewas selama agresi tersebut. Namun sumber-sumber Serbia mengatakan jumlah korban sebenarnya dua kali lebih besar.

Lebih dari 1.000 pesawat NATO, yang sebagian besar berasal dari AS, melancarkan 38.000 total serangan, 30.000 di antaranya dilakukan oleh pesawat AS. Selama konflik, hanya dua pesawat berawak NATO yang ditembak jatuh. 


Salah satunya jet tempur siluman F-117 Nighthawks dan F-16 Angkatan Udara AS yang saat itu dipiloti oleh Letnan Kolonel David Goldfein, yang sekarang adalah kepala staf Angkatan Udara.

Amerika dan NATO Terus Provokasi Rusia

Tuan Sersan. Arthur Myrick mengatakan bahwa persediaan di Ramstein akan ditambahkan ke Bahan Cadangan Perang Angkatan Udara di Eropa dan akan mendukung European Deterrence Initiative (EDI) atau Inisiatif Pencegahan Eropa.

EDI, sebelumnya dikenal sebagai Prakarsa Reasuransi Eropa, yang telah mendanai proyek-proyek militer di Eropa sejak intervensi Rusia di Ukraina pada tahun 2014. Sejak dimulainya konflik Ukraina dan reunifikasi Crimea dengan Rusia, NATO telah mengerahkan ribuan pasukan dan persenjataan berat ke negara-negara Baltik, Polandia, dan wilayah Eropa Tenggara.

Para penerbang AS yang ditugaskan ke Skadron Mesiu ke-86 membongkar pengiriman amunisi di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)

Amerika Berhasil Ujicoba Rudal Aegis Pencegat Antarbenua Terbaru

Militer Amerika Serikat dan Jepang melakukan ujicoba rudal Aegis di lepas pantai Hawai. (Foto: missilethreat.csis.org)
“Para pelaut AL AS di atas kapal USS John Finn (DDG-113) berhasil melakukan pencegatan target rudal balistik jarak menengah dengan rudal Standard Missile-3 (SM-3) Blok IIA selama uji terbang dari pantai barat Hawaii.
HAWAII -- Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah berhasil melakukan ujicoba sistem rudal pencegat balistik antarbenua di lepas Pantai Barat Hawaii. 

Dalam ujicoba Badan Pertahanan Rudal (MDA) mengatakan, Rudal SM-3 Blok IIA, yang merupakan bagian dari sistem Aegis, berhasil mendeteksi, melacak, menargetkan, dan menembak jatuh rudal balistik jarak menengah dari kapal USS John Finn Pada hari Jumat (26/10).

Direktur Badan Pertahanan Rudal AS (Missile Defense Agency/MDA) Letnan Jenderal Sam Greaves menjelaskan, para anggota MDA dengan menggunakan kapal jenis DDG-113 berhasil melakukan tes uji tembak rudal sasaran yang diluncurkan dari Fasilitas Rudal Pasifik di Kauai, Hawaii.

Sementara kapal John Finn beroperasi untuk mendeteksi dan melacak dengan radar AN/SPY-1 onboard dengan menggunakan sistem senjata Aegis Baseline 9.C2. Uji coba rudal SM-3 kali ini kata dia disebutnya sebagai capaian membanggakan. “Ini menandai intercept sebagai pencapaian luar biasa dan tonggak utama untuk SM-3 Blok IIA,” ungkapnya.

“(Para MDA) dan para pelaut AL AS di atas kapal USS John Finn (DDG-113) berhasil melakukan pencegatan target rudal balistik jarak menengah dengan rudal Standard Missile-3 (SM-3) Blok IIA selama uji terbang dari pantai barat Hawaii. Setelah berhasil melacak target, kapal meluncurkan rudal kendali SM-3 Block IIA untuk menghadang target,” kata Sam, Jumat, 26 Oktober 2018, dikutip dari Sputniknews.com.

Rudal SM-3 Blok IIA adalah rudal tiga tahap yang dirancang untuk mencegat ancaman rudal balistik di atas atmosfer bumi. 


Rudal itu diklaim mampu menghancurkan rudal balistik karena dilengkapi hulu ledak kinetik yang bisa bertabrakan dengan ancaman hulu ledak rudal balistik musuh pada kecepatan yang sangat tinggi.
Uji coba Rudal SM-3 Blok IIA, dari kapal perang perusak Amerika. (Foto: missilethreat.csis.org)
Rudal SM-3 Blok IIA dirancang untuk meningkatkan kemampuan militer AS untuk dapat menjatuhkan rudal balistik antarbenua. Menurut Raytheon, walau pencegat rudal Blok IIA masih dalam pengujian, namun bersiap untuk disebarkan di laut dan di darat di Polandia pada tahun ini.

Sistem baru sedang dikembangkan dalam usaha patungan antara raksasa senjata Raytheon dan Mitsubishi Heavy Industries Ltd. Jepang. Pada bulan Januari, MDA mengatakan AS telah menghabiskan sekitar $ 2,2 miliar pada sistem ini, sementara Jepang menghabiskan sekitar $ 1 miliar.

Uji Coba Selalu Gagal

Amerika Serikat dan Jepang telah berkali-kali melakukan tes terhadap rudal rudal SM-3 block IIA, namun selalu mengalami kegagalan pada Juni 2017 dan Januari 2018, dan satu yang sukses pada Februari 2017. 


Pejabat pertahanan mengatakan kepada AFP, bahwa uji coba pencegat rudal gagal dan para penyelidik telah melakukan penyelidikan untuk memahami penyebabnya.

Aegis BMD mewakili komponen berbasis laut dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik. Selain Aegis, sistem pertahanan rudal AS lainnya termasuk Patriot, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), dan Pertahanan Midcourse Berbasis-darat.

Angkatan Laut AS saat ini menyebarkan Aegis BMD pada 28 kapal perang Destroyer kelas Arleigh Burke dan 5 kapal penjelajah kelas Ticonderoga-nya.

Pada tahun 2016, Amerika Serikat mengaktifkan kemampuan Aegis BMD di sebuah situs Aegis Ashore yang berbasis di darat di Devesulu, Rumania. Situs Aegis Ashore kedua sedang dalam pembangunan di Polandia dan dijadwalkan akan selesai pada 2018.

Seperti semua sistem pertahanan udara dan rudal, Aegis memasukkan kemampuan pencegat, sensor, komando dan kontrol. Sensor utama untuk misi pertahanan rudal adalah radar SPY-1D, radar S-band yang ditempatkan di dekhouse.

Motor roket yang lebih besar dari pencegat SM-3 Block IIA. (Sumber Foto: Raytheon)

Jet Tempur AS dan Pasukan Koalisi Hujani Suriah dengan Bom Fosfor

Jet-jet tempur Amerika Serikat dan pasukan koalisi menghujani salah satu kota di Suriah dengan menggunakan bom fosfor yang dilarang. (Foto: ©Karim Sahib / AFP)
"Saat ini, kami belum menerima laporan penggunaan fosfor putih. Tak ada unit militer di daerah tersebut bahkan memiliki amunisi fosfor putih,"
DAMASKUS --  Jet-jet tempur koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menjatuhkan bom fosfor putih di provinsi timur Suriah, Dayr al-Zawr. Sumber-sumber lokal mengatakan kepada kantor berita resmi Suriah, SANA, bahwa serangan udara itu juga menargetkan kota kecil Hajin pada hari Sabtu (13/10).

Pada tanggal 8 September, dua pesawat tempur F-15 dari Angkatan Udara AS menargetkan kota Suriah yang sama dengan bom fosfor putih. Kepala Pusat Rekonsiliasi Rusia, Mayor Jenderal Vladimir Savchenko, mengumumkan dalam sebuah pernyataan, bahwa serangan udara menyebabkan kebakaran besar-besaran di situs tersebut.

Jet tempur Amerika juga menggunakan bom fosfor ketika menyerang kota di Deir Ezzor, Suriah. Dalam laporan Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah, dua jet tempur F-15 memakai bom terlarang itu. Kantor berita Rusia, TASS dan RIA, melaporkan bahwa serangan itu menargetkan Desa Hajin, kantung ISIS terakhir di Suriah.

White phosphorus atau bom fosfor adalah bom yang sangat merusak dan mematikan. Jika terkena oksigen, fosfor yang meledak tersebut bisa mengeluarkan asap putih dengan suhu panas yang tinggi. Jika terkena ledakan bom itu, korban bakal menderita luka bakar parah yang sangat sulit untuk disembuhkan. Penggunaan bom ini telah dilarang di Konvensi Jenewa 1980.

"Akibat serangan dengan bom fosfor, timbul kobaran api besar di kawasan itu," ulas Savchenko dilansir Russian Today Minggu (9/9).

Amerika Membantah Gunakan Bom Fosfor

Walau berbagai bukti video, foto maupun data intelijen memperlihatkabn bahwa Amerika Serikat telah menggunakan bom fosfor yang terlarang di Suriah, namun, AS tetap bergeming dan membantahnya.

Juru bicara Pentagon Komandan Sean Robertson kepada kantor berita TASS mengatakan, dia belum mendapat laporan adanya jet tempur AS yang menggunakan bom fosfor dalam pengeboman di Deir Ezzor. Amerika dan koalisinya memastikan bahwa serangan udara mereka tepat sasaran dan tidak menggunakan amunisi yang dilarang.

Rakyat Suriah berusaha melarikan diri dari serangan bom fosfor yang dijatuhkan jet tempur pasukan koalisi Barat. (Foto: Mohammed Abed /AFP/Getty Images)

Militer AS Lawan Kebijakan Rezim Trump Soal Pengurangan Senjata Nuklir

Rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III Amerika Serikat. Kekuatan daya ledak rudal nuklir ini mampu menghancurkan dan melenyapkan sebuah pulau, dengan radiasi nuklir akan bertahan hilang puluhan tahun setelahnya. (Foto: Istimewa)
"Kami akan mengakhiri perjanjian itu dan kemudian kami akan mengembangkan senjata,"
WASHINGTON DC -- Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) membuat gebrakan signifikan soal senjata nuklir. AU negara adidaya itu  terus mengurangi stok rudal balistik antarbenua (ICBM). Pengurangan rudal ICBM yang hampir rampung ini untuk mematuhi perjanjian pengawasan senjata antara AS dan Rusia yang diteken pada 2010.

Tetapi pengurangan senjata nuklir ini bertentangan dengan kebijakan rezim pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dimana Trump membuat keputusan akan menghentikan seluruh perjanjian kerjasama pengurangan senjata nuklir antar-benua yang sudah disepakati dengan Rusia.

Juru bicara Angkatan Udara AS Mayor Daniel Dubois mengatakan data pada 14 Merat 2017, Angkatan Udara AS memiliki 406 rudal Minuteman. Jumlah itu akan terus dikurangi menjadi 400 rudal pada bulan April nanti. AS berniat melenyapkan hingga 50 rudal ICBM.

Menurut laporan The Associated Press, Senin (20/3/2017), pengurangan stok rudal ICBM AS akan menjadi yang pertama dalam satu dekade. Jumlah stok rudal ICBM AS sebelumnya mencapai 500 buah.

Laporan lain menyebut, 50 rudal Minuteman yang akan dilenyapkan dilaporkan akan terus ”hangat” di fasilitas penyimpanan. Artinya, 50 rudal itu tidak akan dimusnahkan dan bisa dikembalikan ke penggunaan aktif di kemudian hari.

Sejarah mencatat, Perjanjian Penggunaan Tenaga Nuklir untuk Senjata Jarak Menengah bernama Intermediate-Range Nuclear Force (INF) ditandatangani oleh Presiden AS saat itu, Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Sovier, Mikhail Gorbachev tahun 1987.

Senior Airmen Mark Pacis, kiri, dan Christopher Carver memasang hulu ledak nuklir yang telah diperbaharui di atas sebuah rudal balistik antarbenua Minuteman III di dalam sebuah silo bawah tanah di Scottsbluff, Neb, 15 April 1997. (Foto: Eric Draper / AP)

Amerika Ancam Jatuhkan Sanksi Jika Indonesia Beli Sukhoi SU-35

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah petarung superioritas udara terhebat Rusia yang beroperasi hari ini, dan mewakili puncak desain jet tempur generasi ke-4++. Jet tempur Sukhoi SU-35 akan tetap beroperasi hingga pembangunan jet tempur siluman PAK-FA generasi kelima, selesai diproduksi. (Foto: theduran.com)
"Indonesia sangat menantikan untuk menerima jet tempur itu segera, kami sangat tertarik dengan ini,"
SINGAPURA -- Impian Indonesia untuk segera bisa memiliki jet tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia benar-benar melalui jalan yang terjal. Setelah sebelumnya terkendala dana dan budget yang terbatas, akibat memburuknya perekonomian nasional, kini Amerika Serikat (AS) juga mulai ikut campur.

Pembelian pesawat tempur Su-35 yang dilakukan Indonesia dari Rusia membuat Amerika berang. AS mengancam akan memberikan sanksi kepada Indonesia atas pembelian jet tempur tersebut.

AS telah memberlakukan undang-undang (UU) Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) untuk negara-negara yang membeli persenjataan buatan Rusia. Indonesia juga tak luput dari sanksi tersebut, jika tidak membatalkan pembelian 11 pesawat jet tempur SU-35 Rusia.

Sejauh ini, China menjadi negara pertama yang terkena sanksi CAATSA karena membeli sejumlah jet tempur Su-35 dan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Beijing memprotes keras penjatuhan sanksi tersebut.

Indonesia melalui Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan menolak mundur dari kesepakatan pembelian 11 pesawat jet  tempur Su-35 Rusia meskipun dihantui sanksi dari Amerika Serikat (AS).

"Indonesia sangat menantikan untuk menerima jet tempur itu segera, kami sangat tertarik dengan ini," kata Menhan Ryamizard, di sela-sela forum ASEAN Defense Ministers' Meeting (Pertemuan Para Menteri Pertahanan ASEAN), Sabtu (20/10/2018).


Pembelian jet tempur dengan nilai kontrak sekitar USD1,154 miliar itu sudah tercapai dan sedang dalam proses pengiriman. Ryamizard menambahkan bahwa kementeriannya saat ini sedang mengerjakan perincian tentang prosedur pembayaran dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan.

Berdasarkan undang-undang yang diteken Presiden Donald John Trump pada bulan Agustus lalu, setiap negara yang terlibat perdagangan dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia akan menghadapi sanksi Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis bertemu di Jakarta pada Selasa (23/01). (Foto: Antara / Sigid Kurniawan)

Persaingan Militer AS, Rusia dan China Merambah ke Luar Angkasa

Ruang angkasa berpotensi menjadi medan perang baru, setelah Rusia, China dan Amerika Serikat menyatakan akan membangun kekuatan militer di luar angkasa. (Foto: dailystar.co.uk)
“Kami telah memperingatkan semua pihak selama bertahun-tahun perlunya melindungi aset ruang angkasa dan mengembangkan kapabilitas sistemnya. Kami tidak memilih untuk mempersenjatai ruang angkasa, tapi jika kami ditantang, kami akan memberikan respons,"
WASHINGTON DC -- Peperangan di luar angkasa yang selama ini hanya disaksikan dalam film-film fiksi, tidak lama lagi sepertinya akan benar-benar terjadi di dunia nyata. Hal ini dipicu tiga negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, yakni Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China yang menyatakan akan memperkuat dan bahkan menciptakan senjata yang dapat digunakan dalam perang luar angkasa di masa depan.

Tiga negara tersebut bersaing membentuk dan memperkuat Tentara Angkatan Antariksa (AA). Teranyar AS akan menggelontorkan dana hingga USD8 miliar untuk mendominasi bagian atas bumi itu. Rencananya proyek tersebut dimulai pada 2020.

Di AS sendiri, teori perang bintang masih menjadi perdebatan. Kebijakan yang digagas Presiden AS Donald Trump sejak Juni itu masih membutuhkan persetujuan Kongres karena pembentukan Tentara AA akan menjadi bagian dari cabang keenam militer. Pendirian Tentara AA negeri Paman Sam dipastikan akan memacu persaingan.

Sejumlah anggota Kongres dan pejabat militer sudah memperingatkan, ruang angkasa tidak lama lagi menjadi tempat damai. Jika terjadi konflik, wilayah hampa udara itu akan menjadi salah satu pusat pertempuran karena negara besar bergantung pada satelit dalam mengantisipasi misil, berkomunikasi, dan mengelola data.

Pasukan AS sedang menguji pesawat ruang angkasa yang disebut Boeing X-37. (Foto: dailystar.co.uk)
Namun, AS menghadapi dilema yang tidak memungkinkan mereka hanya diam atau mundur, pasalnya seteru abadi seperti Rusia dan China, mengalami kemajuan yang lebih pesat dibanding AS terkait aset Tentara AA. Rusia bahkan sudah melangkah jauh.

Trump menginginkan Tentara AA yang independen dan memiliki seragam serta logo sendiri. Gedung Putih meminta Parlemen merancang aturan baru pada awal tahun depan.


Beberapa anggota Kongres pernah mengadvokasi pembentukan Korps Antariksa di tubuh Tentara AU pada tahun lalu, mirip Korps Marinir di tubuh Tentara Angkatan Laut. Namun, Trump menginginkan departemen baru. Para ahli mengatakan pembentukan depar temen baru sama saja akan memerlukan birokrasi baru.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengaku sadar pembentukan Tentara AA tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Dia mengatakan Pentagon memerlukan asisten Menteri Pertahan untuk antariksa, jabatan tinggi yang bertanggung jawab memberikan laporan terkait perkembangan dan ekspansi layanan Tentara AA terhadap Menhan.

Pasukan luar angkasa Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
Jenderal Tentara AU Paul Selva yang juga wakil kepala staf gabungan mengatakan, Pentagon sangat antusias untuk mendirikan Komando Antariksa guna mempercepat rencana militerisasi ruang angkasa, sebab militer AS tidak pernah membentuk departemen baru sejak pembentukan Tentara AU pada 1947. Komando Antariksa akan diperkuat ahli ruang angkasa dari seluruh cabang militer, satelit, dan teknologi terbaru dan canggih.

Adapun Menteri Pertahanan (Menhan) AS Jim Mattis mengatakan, Pentagon dan Gedung Putih memiliki kesamaan pandangan terkait pentingnya Tentara AA setelah sebelumnya menentang pembentukan departemen baru.

Mattis sempat menentang karena anggarannya kosong. Pada 2017 anggaran militer AS mencapai USD590 miliar. Sekretaris Eksekutif Dewan Antariksa Nasional Scott Pace mengatakan, reorganisasi Tentara AA harus menggunakan anggaran secukupnya.

Anggota House Armed Services Committee Mike D Rogers dan Jim Cooper menyambut baik pembentukan Tentara AA yang diharapkan dapat memperkuat AS. 


“Kami telah memperingatkan semua pihak selama bertahun-tahun perlunya melindungi aset ruang angkasa dan mengembangkan kapabilitas sistemnya. Kami tidak memilih untuk mempersenjatai ruang angkasa, tapi jika kami ditantang, kami akan memberikan respons," katanya.
Kosmonot Yuri A. Gagarin. Sejarah mencatat, Rusia atau dulu dikenal sebagai Uni Soviet, merupakan negara adidaya yang menjadi pioner penjelajahan ruang angkasa. (Foto: Istimewa)
Ancaman Perang Luar Angkasa

Saat ini Rusia satu-satunya negara yang sudah mendirikan Tentara AA bernama Kosmicheskie Voyska Rossii (KVR). KVR merupakan hasil merger antara Tentara Angkatan Udara dan Pasukan Pertahanan Antariksa Rusia. KVR didirikan pada 10 Agustus 1992 dan beroperasi di Plesetsk dan Svobodny Cosmodromes.


Sedangkan China pada 2007 berhasil meledakkan satelit cuaca yang sudah rusak hingga berkeping-keping dengan misil ruang angkasa. Uji coba serupa juga dilakukan terhadap satelit diorbit jauh. 

China telah menggalakkan program ruang angkasa sejak beberapa tahun terakhir. AS menyebut aksi itu sebagai tindakan provokatif, dan menuduh China telah mencuri teknologi dalam skala besar dari AS.

Persaingan penguasaan atau penaklukan ruang angkasa sudah terjadi sejak 1960-an. AS dan Rusia pernah bersaing menuju bulan untuk menunjukkan keadidayaan mereka. “Jangan sampai melakukan kesalahan. Kami sedang berperang dengan China,” kata CEO dan Chairman Nano-Mech, Jim Phillips.

Program ruang angkasa China: Beijing menginvestasikan miliaran untuk ekspansi ke orbit Bumi. (Foto: dailystar.co.uk)

Rusia Akan Kerahkan Senjata Nuklir di Suriah Jika AS Jatuhkan Sanksi

Rusia menanggapi dengan keras ancaman sanksi yang akan dijatuhkan oleh pemerintahan Donald Trump. Salah satunya dengan menempatkan senjata nuklir di wilayah Suriah untuk membendung hegemoni AS. (Foto: Daily Star/Getty)
"Kita harus mengikuti saran dari para ahli, yang mengatakan bahwa Rusia mungkin harus menangguhkan pelaksanaan perjanjian pada non-proliferasi teknologi rudal, dan juga mengikuti contoh AS dan mulai menyebarkan senjata nuklir taktis kami di negara-negara asing. Ada kemungkinan bahwa Suriah, di mana kita memiliki pangkalan udara yang dilindungi dengan baik, dapat menjadi salah satu dari negara-negara tersebut,"
MOSKOW -- Berbagai macam sanksi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) kepada musuh abadinya, Rusia, membuat negeri Beruang Merah itu semakin tersudut. Rusia pun mengancam akan membalas perlakuan AS itu dengan tindakan yang setimpal.

Salah satunya Moskow berencana akan menempatkan senjata nuklir taktis Rusia di negara-negara sekutu seperti Suriah. Langkah itu diambil Moskow sebagai respons atas sanksi dari Washington yang dianggap tak masuk akal.

Gagasan dari para ahli Rusia itu dibocorkan Vladimir Gutenev, Wakil Kepala Komite Kebijakan Ekonomi Duma Negara (Parlemen Rusia). Dia mengatakan, sudah waktunya bagi Rusia untuk menarik garis merahnya sendiri. Menurutnya, pemerintah Rusia harus mengikuti saran dari para ahli tersebut.

"Saya percaya bahwa sekarang Rusia harus menggambar 'garis merah' sendiri. Saatnya telah tiba untuk merenungkan varian tanggapan asimetris terhadap AS, yang sekarang sedang disarankan oleh para ahli dan dimaksudkan tidak hanya untuk mengimbangi sanksi mereka tetapi juga untuk melakukan beberapa kerusakan balas dendam," lanjut dia, dilansir Express.co.uk, Minggu (26/8/2018).

Presiden Rusia Vladimir Putin, (kanan), mememeriksa kesiapan pasukan Rusia, saat mengunjungi pangkalan udara Hmeimim di Suriah, 11 Desember 2017. (Foto: Mikhail Klimentyev/Sputnik/Kremlin Pool Photo via AP)
Langkah pembalasan lainnya adalah penggunaan cryptocurrency untuk ekspor senjata Rusia dan penangguhan sejumlah perjanjian dengan AS seperti perjanjian non-proliferasi teknologi nuklir.

"Kita harus mengikuti saran dari para ahli, yang mengatakan bahwa Rusia mungkin harus menangguhkan pelaksanaan perjanjian pada non-proliferasi teknologi rudal, dan juga mengikuti contoh AS dan mulai menyebarkan senjata nuklir taktis kami di negara-negara asing. Ada kemungkinan bahwa Suriah, di mana kita memiliki pangkalan udara yang dilindungi dengan baik, dapat menjadi salah satu dari negara-negara tersebut," ujar Gutenev.

AS dan sejumlah negara Uni Eropa, terutama negara-negara Anggota NATO, sudah berkali-kali memberikan sanksi bagi ekonomi, militer maupun sanksi diplomatik kepada Rusia untuk melemahkan Moskow. Namun, sanksi tersebut justru malah meningkatkan perlawanan Rusia dalam melawan hegemoni Barat.

Sanksi terbaru Washington terhadap Moskow dijatuhkan pada 22 Agustus lalu sebagai tanggapan atas dugaan keterlibatan Moskow dalam meracuni bekas mata-mata Kremlin, Sergei Skripal dan putrinya di Salisbury, Inggris. Sergei dan putrinya, Yulia, ditemukan tidak sadarkan diri di bangku dekat pusat perbelanjaan Maltings di Salisbury, beberapa bulan lalu.

Sebuah ledakan terjadi di sebuah gudang senjata milik pemberontak Suriah di wilayah Ghouta Timur, akibat dibombardir pesawat tempur Rusia. (Foto: Daily Star/Getty)

Rusia: Amerika Serikat Suplai Senjata dan Rudal Canggih untuk ISIS di Aleppo

Kelompok teroris ISIS memperlihatkan kiriman senjata yang mereka terima dari Amerika Serikat. Walau sempat membantah adanya hubungan erat dengan ISIS, namun semakin terdesaknya organisasi teror itu di Suriah dan Irak, membuat AS kini secara terang-terangan memberikan bantuannya untuk ISIS. (Foto: redice.tv)
"ISIS saat ini menderita kebingungan di Mosul. Pasukan keamanan Irak menerima intelijen dari penduduk Mosul tentang lokasi militan ISIS, namun Amerika Serikat tidak bersedia menyerang mereka,"
ALEPPO -- Kondisi kelompok teror ISIS dan para pemberontak yang semakin terdesak di Aleppo, Suriah, membuat Amerika Serikat (AS) sebagai sponsor utama selama ini menjadi semakin resah. Usaha AS dan koalisinya untuk mempertahankan keberadaan kelompok-kelompok teror dan pemberontak di Suriah terus dilakukan.

Terbaru, menurut pejabat militer Rusia, elemen-elemen ISIS di Aleppo menerima sistem rudal TOW dari AS, demikian Kepala Departemen Operasi Utama Rusia, Staf Umum Letnan Jenderal Sergei Rudskoi, pada Senin.

"Menurut informasi yang datang dari beberapa sumber, militan terus menerima jenis senjata modern, termasuk rudal TOW antitank buatan AS," kata jenderal Sergei Rudskoi kepada Russia Today (RT).

Kelompok ISIS menggunakan sistem rudal TOW yang mereka terima dari Amerika Serikat untuk melumpuhkan kekuatan militer Rusia dan Iran di Suriah. (Foto: Alalam News)
Selain itu, pemimpin milisi Brigade Babel, pada Senin, 17/10/16, mengatakan pasukan koalisi internasional pimpinan AS sama sekali tidak menargetkan konvoi ISIS yang melarikan diri dari Mosul menuju Suriah.

Sekretaris Jenderal milisi Brigade Babel, Ryan al-Kildani, mengeluarkan pernyataan yang mengungkap rasa takjub dan heran soal tindakan pasukan koalisi internasional yang tidak menargetkan elemen-elemen dan konvoi ISIS saat melarikan diri dari Mosul menuju Suriah.

"ISIS saat ini menderita kebingungan di Mosul. Pasukan keamanan Irak menerima intelijen dari penduduk Mosul tentang lokasi militan ISIS, namun Amerika Serikat tidak bersedia menyerang mereka," jelas Kildani.

ISIS dan sejumlah kelompok pemberontak hingga kini terus berusaha melakukan perlawanan menghadapi serangan militer pemerintah Suriah, Rusia, dan Iran, meskipun kemungkinan mereka untuk menang sangat tipis sekali.

Helikopter tempur Rusia terus membombardir posisi ISIS di kota Aleppo, Suriah, dan mendesak kelompok teror dan pemberontak segera keluar dari wilayah tersebut. (Foto: dailymail.co.uk)
Para militan juga tidak putus asa berusaha untuk memulihkan jalur penyediaan kepada geng dengan senjata dan amunisi di rute Aleppo timur. Namun, satuan tugas udara Rusia terus memberikan serangan saat mereka datang, dan pembentukan formasi persenjataan dekat kota," kata jenderal itu.

Rusia dan Iran mendesak pemerintah Suriah untuk melakukan serangan penghabisan di wilayah Aleppo, untuk mengusir seluruh kelompok teror dari kota terbesar di Suriah itu. Rusia berpendapat bahwa penyelesaian konflik militer hanya bisa diakhiri melalui jalur militer. Pasalnya, Rusia dan pemerintah Suriah telah berulang kali memberikan kesempatan genjatan senjata maupun pemberian pengampunan untuk para pemberontak, namun selalu dikhianati ISIS dan kelompok pemberontak lainnya.

Guna menghentikan peperangan tersebut secepat mungkin, Rusia kini telah memperkuat armada perangnya dengan mengirimkan tambahan pesawat tempur, kapal perang, kapal induk, maupun personel pasukan elit ke zona konflik tersebut.

Sebuah karikatur yang menyindir bantuan dana yang diberikan Amerika Serikat untuk menyokong gerakan kelompok teroris ISIS. (Gambar: medium.com)

Amerika Serikat Mulai Menyerah untuk Lucuti Senjata Nuklir Korea Utara

Rudal nuklir, Musudan Korea Utara, yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat. (Foto: defende.pk)
NEW YORK -- Kebijakan Amerika Serikat (AS) untuk berusaha melucuti senjata nuklir Korea Utara terus menemui jalan buntu. Bukannya semakin melemah, Korut justru terus memperkuat senjata nuklir mereka dengan melakukan berbagai macam uji coba.

Terkait kondisi ini, Amerika pun mengakui bahwa membujuk Korea Utara agar mengabaikan program senjata nuklirnya mungkin 'tidak berhasil'. Hal ini disampaikan oleh Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, James Clapper.

Dalam pidatonya di New York, James Clapper mengatakan hal yang paling bisa diharapkan AS adalah pembatasan kemampuan nuklir Korut. Pernyataan tersebut merupakan pengakuan yang jarang dilakukan, bahwa upaya denuklirisasi jangka panjang yang ditempuh Washington mungkin tidak tercapai.

Dalam sebuah acara di lembaga pengkajian Dewan Hubungan Luar Negeri di New York, Clapper juga menyebut pemerintah Korea Utara sebagai paranoid dan melihat senjata nuklir sebagai 'karcis untuk bisa selamat'.

Dia berpendapat tawaran rangsangan ekonomi kepada pemimpin Korut, Kim Jong-un, agar membatasi kemampuan nuklirnya mungkin akan lebih baik. "Jadi gagasan agar mereka menghentikan kemampuan nuklirnya, apa pun itu, tidak berguna," kata Clapper.
Daya jangkau rudal nuklir Korea Utara yang mampu menghantam wilayah Amerika Serikat.

Hadapi Rusia dan China, AS Naikkan Anggaran Militer Terbesar Sepanjang Sejarah

Untuk menghadapi Rusia, China dan Korea Utara, Amerika Serikat menyatakan akan kembali bangkit dan memperkuat seluruh sistem pertahanan mereka. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan anggaran militer yang tercatat akan menjadi paling terbesar dalam sejarah negara adidaya tersebut. (Foto: dailymail.co.uk)
"Sejujurnya kita perlu melakukan itu karena negara lain juga melakukannya. Jika mereka berhenti, kita berhenti, tapi mereka tidak berhenti. Jadi jika mereka tidak akan berhenti, kita akan jauh lebih maju dalam persoalan nuklir."
WASHINGTON DC -- Dunia perlahan-lahan seperti memasuki fase perang Dunia. Negara-negara adidaya pemilik senjata nuklir berlomba-lomba menaikkan anggaran pertahanan militer mereka masing-masing. 

Bahkan, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengajukan anggaran pertahanan senilai $686 miliar atau sekitar Rp9.400 triliun kepada Kongres untuk menghadapi ancaman China dan Rusia dan Korea Utara. Jika disetujui, anggaran tahun ini bisa jadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada Senin (12/2), militer Amerika akan jadi yang paling kuat sepanjang masa, dengan "benar-benar menambah setiap persediaan senjata yang ada." Di saat yang sama, pemerintahan Donald Trump juga berencana memangkas pengeluaran untuk diplomasi internasional dan bantuan luar negeri dalam anggarannya.

Anggaran $686 miliar yang diajukan Pentagon lebih tinggi $80 miliar dari 2017 lalu. Kementerian tersebut menyatakan peningkatan ini terutama dibutuhkan untuk menangkal ancaman Rusia dan China dan Korut.

Pesawat tempur siluman F-35 Lightning ini, sebelumnya sempat menjadi ikon kemajuan teknologi alutsista AS, namun negara-negara rival sang paman Sam, kini mulai melampaui teknologi perang AS. (Foto: CNN.com)
"Kompetisi kekuatan hebat, bukan terorisme, telah menjelma jadi tantangan utama bagi keamanan dan kesejahteraan AS. Semakin jelas bahwa China dan Rusia ingin membentuk dunia konsisten dengan model otoriternya-memperoleh kewenangan veto terhadap keputusan ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara lain," kata Wakil Menteri Pertahanan Defens David L Norquist kepada wartawan, menyusul pengungkapan rencana anggaran, seperti dikutip dikutip CNN.

Pentagon meminta pengadaan 37 rudal Standard Block 1B untuk kapal pertahanan rudal Aegis milik Angkatan Laut dan situs-situs di pesisir. Di Pasifik, sistem Aegis dikerahkan pada belasan kapal penghancur rudal dan kapal penjelajah yang secara teori bisa menembak jatuh rudal Korut.

Selain itu, rencana anggaran juga termasuk pengadaan 82 sistem pencegat rudal THAAD. Sistem tersebut memicu kontroversi ketika dikerahkan di Korea Selatan, tahun lalu, termasuk mengundang penentangan dari China yang menganggap radar senjata itu bisa memantau jauh ke wilayahnya.

Ada pula rencana pengadaan 20 rudal tambahan pada sistem pertahanan Midcourse yang bisa mencegat rudal di luar angkasa. Secara luas, Trump ingin mengadakan 10 kapal perang di tahun anggaran yang akan datang, menambah puluhan jet tempur siluman F-35 dan jet tempur kapal induk F/A-18.

Pesawat tempur siluman China, Chengdu J-20. China telah menyatakan bahwa Jet tempur J-20,sudah siap tempur. (Foto: ainonline.com)
"Sejujurnya kita perlu melakukan itu karena negara lain juga melakukannya. Jika mereka berhenti, kita berhenti, tapi mereka tidak berhenti. Jadi jika mereka tidak akan berhenti, kita akan jauh lebih maju dalam persoalan nuklir." kata Trump.

Anggaran itu juga melanjutkan pengembangan pengebom B-21 yang dipandang bakal jadi pengganti B-2, pesawat kunci pembawa nuklir AS. Selain itu, AS juga berencana melanjutkan pengembangan kapal selam untuk memperbarui kemampuan nuklirnya di lautan.

Bangkitnya Kekuatan Perlawanan

 
Beijing menurut AS, menggunakan perekonomian buas untuk mengintimidasi para tetangganya sembari memiliterisasi fitur-fitur di Laut China Selatan. Dalam laporan dokumen yang dikeluarkan AS menyebutkan, China "berupaya membentuk hegemoni regional Indo-Pasifik di jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang, negara itu disebut berupaya untuk "mencapai keunggulan global" atas AS.

Rudal nuklir Korea Utara yang selalu menjadi momok menakutkan bagi AS. (Foto: Al Jazeera)
Dokumen itu mengikuti laporan terkonfirmasi soal pembangunan pulau yang dilakukan China di Laut China Selatan, lengkap dengan sejumlah fasilitas yang tengah dibangun di kepulauan Spratly dan Paracel serta di Dangkalan Scarborough.

Pekan lalu, situs resmi Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat China mengunggah artikel soal patroli jet tempur Sukhoi SU-35 di atas daerah tersebut. Patroli pesawat jarak jauh bermesin ganda itu menunjukkan "tekad Angkatan Udara China untuk mengimplementasikan misi-misi di era baru dan dengan tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan kepentingan dan keamanan maritim," bunyi artikel tersebut mengutip Wang Mingzhi, profesor di Akademi Komando Angkatan Udara China.

Perkembangan angkatan udara China konsisten dengan upaya untuk meningkatkan kapabilitas militernya. Pada Jumat, Beijing menyatakan jet tempur siluman barunya yang dinilai sebagai pesaing F-22 dan F-35 milik AS, J-20, sudah siap tempur. Pada tahun lalu, China menambahkan kapal perang canggih pada armada angkatan lautnya dan secara resmi membuka pangkalan militer luar negeri pertama di Djibouti.

Soal Rusia, dokumen anggaran AS menyebut negara itu "telah melanggar perbatasan negara-negara sekitar dan berupaya mendapatkan kekuatan veto seputar keputusan ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara tetangga." Moskow juga disebut berupaya "memecahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)."

Rudal nuklir terkuat di dunia milik Rusia, Satan 2. (Foto: Daily Mirror)

Inilah The Football, Tombol Nuklir AS yang Paling Ditakuti China dan Korut

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat terlibat perang retorika dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Kedua pemimpin negara saling melontarkan ancaman serangan senjata nuklir. (Foto: Daily Star)
"Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan bahwa tombol nuklirnya selalu berada di atas meja setiap waktu. Adakah seseorang dari rezimnya yang kelaparan itu bisa memberitahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih kuat dari miliknya, dan tombol saya bekerja dengan baik!"
WASHINGTON DC -- Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat (AS) juga menjadi negara memiliki musuh terbanyak di muka bumi. AS setiap saat terpaksa harus waspada dengan segala kemungkinan ancaman serangan dari musuh-musuhnya tersebut.

Untuk itu, setiap Presiden Amerika Serikat yang terpilih, diberikan otoritas tertinggi untuk menggunakan seluruh akses militer salah satunya adalah senjata nuklir. Kemana pun Presiden AS pergi, selalu disertai dengan tombol nuklir yang dibawa oleh para ajudannya.

Seperti saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambangi China dalam rangka tur Asia pada 8 November 2017. Sebuah laporan mengungkap “keributan” antara agen Secret Service AS, dengan petugas keamanan China saat Presiden Donald Trump berkunjung ke Beijing November lalu.


Petugas keamanan China mencegah ajudan militer Trump membawa tombol nuklir atau “nuclear football” saat menemani presiden AS masuk ke sebuah ruang pertemuan.

Kejadian itu diungkap Axios dalam laporannya pada hari Minggu (19/2/2018). Sekadar diketahui, “nuclear football” berwujud koper atau tas kerja yang nyaris tak pernah lepas dari tangan ajudan militer presiden AS.

Sesuai protokol, koper berisi tombol-tombol perintah serangan nuklir itu wajib selalu berada di dekat presiden AS di mana pun dan kapan pun. Dengan koper itu, seorang presiden AS setiap saat bisa meluncurkan serangan nuklir dengan memencet tombol perintah yang terhubung langsung ke eksekutor nuklir Pentagon.

Insiden di Beijing itu membuat Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly, turun tangan. Menurut laporan, Kelly sempat “ribut” dengan seorang petugas keamanan China yang mencegah ajudan militer Trump membawa “nuclear football” masuk ke ruangan untuk berada di belakang Trump.

Para ajudan Presiden Donald Trump tetap membawa The Nuclear Football saat pemimpin negara adidaya itu mengunjungi China. (Foto: zerohedge.com)
Menurut laporan Axios, Insiden bermula ketika staf militer AS yang membawa koper dilarang masuk Balai Agung Rakyat di Beijing. Saat delegasi AS mulai bergerak memasuki aula, seorang pejabat keamanan China meraih Kelly yang menyingkirkan tangan petugas yang menghalangi langkah ajudan militer Trump. Saat itulah seorang agen Secret Service AS menangani pejabat keamanan Beijing tersebut.

"Lalu terjadilah keributan, seorang petugas keamanan China memegang Kelly, kemudian Kelly dorong orang itu. Kelompok petugas dari pihak Trump menjelaskan prosedur keamanan pada keamanan China sebelum datang. Tapi seseorang (di pihak China) tidak mengerti," kata seorang sumber pada Axios.

Tak tinggal diam, petugas Dinas Rahasia AS membalas dengan melumpuhkan petugas keamanan China. Insiden itu terjadi dalam waktu singkat. Pihak AS maupun China pun diminta untuk menutup mulut soal ketegangan yang terjadi.

Lebih lanjut, pihak China menegaskan bahwa mereka tidak merebut atau bahkan menyentuh koper tombol nuklir itu. Setelah dijelaskan bahwa “nuclear football” AS tidak pernah berhubungan dengan seorang pejabat asing dan detail keamanannya, pihak China juga telah meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.

Tombol Nuklir dan Perang Retorika Jong Un Versus Trump

Perang retorika bernada ancaman juga pernah terjadi terkait tombol nuklir antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Donald Trump. Hal ini terjadi saat Kim dalam pidato tahun barunya sesumbar, dengan menyatakan tombol nuklirnya lebih besar dan dapat menghancurkan AS hingga rata dengan tanah. Dia siap menekan tombol nuklir yang selalu ada di atas mejanya jika Korut terancam.

Kim juga menegaskan bahwa negaranya akan terus mengembangkan senjata nuklir dan rudalnya. Dia mengatakan bahwa negaranya adalah "kekuatan nuklir pecinta damai yang bertanggung jawab."

"Bahwa saya punya tombol nuklir di meja saya adalah kenyataan, bukan ancaman. Seluruh daratan Amerika Serikat dalam jangkauan serangan nuklir kami," kata Kim dalam pidatonya, Senin (1/1).

Rudal nuklir Korea Utara. (Foto: Reuters)
Menanggapi ini, Trump balik mengancam dan memamerkan kekuatan Amerika Serikat lewat akun Twitternya. Trump menyebut  tombol nuklirnya  lebih besar dan lebih kuat dari pada yang dimiliki Pyongyang.

"Pemimpin Korut Kim Jong-un mengatakan bahwa tombol nuklirnya selalu berada di atas meja setiap waktu. Adakah seseorang dari rezimnya yang kelaparan itu bisa memberitahu dia bahwa saya juga memiliki tombol nuklir yang lebih besar dan lebih kuat dari miliknya, dan tombol saya bekerja dengan baik!" kicau Trump melalui akun Twitternya, Rabu (3/1).

Namun, banyak orang merasa tidak aman dan khawatir akan terjadinya perang akibat perseteruan dua kepala negara ini. Tidak sedikit netizen yang kemudian membalas cuitan Trump tersebut dengan nada kesal, karena dianggap melibatkan dan mengorbankan kepentingan publik yang tidak tahu apa-apa.

Apa itu Tombol Nuklir dan Seperti Apa Bahayanya?

Sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam, Donald Trump punya wewenang untuk meluncurkan senjata nuklir ke pihak lawan yang dianggap mengancam keselamatan AS.

Akan tetapi, meluncurkan senjata pemusnah massal itu tak sesederhana memencet tombol untuk mengganti saluran televisi. Di Amerika, meluncurkan sebuah serangan nuklir merupakan proses yang rahasia dan rumit yang melibatkan sebuah tas kantor (koper) berwarna hitam yang digunakan oleh presiden AS untuk memerintahkan penggunaan senjata nuklir atau yang disebut dengan "nuclear football" seberat 20 kilogram.

Koper berisi tombol perintah serangan nuklir AS tersebut dikenal sebagai “tas darurat presiden”. Berbeda dengan bayangan banyak orang, tak ada tombol di dalamnya, apalagi jam yang bisa diatur berdetak hingga ke momentum ledakan.

Perang retorika antara Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. (Foto: Twitter)
Yang ada di dalam tas tersebut adalah alat-alat komunikasi dan sebuah buku panduan yang memuat rencana perang. Panduan ini juga berisi dan daftar tempat-tempat yang bisa disasarkan oleh senjata nuklir Amerika yang didesain untuk membuat keputusan secara cepat.

Koper hitam yang merupakan modifikasi dari tas merek Zero Halliburton itu, dibawa langsung oleh perwira tinggi militer. Personil yang membawa ‘nuclear football‘ dirotasi untuk mencerminkan beberapa cabang angkatan militer yang ada.


CNN dalam sebuah laporannya menyebutkan, ‘nuclear football‘ sebenarnya berisi 4 hal : folder manila tentang prosedur ‘Emergency Broadcast System’ untuk berkoordinasi dengan personel militer lain, buku hitam terkait pilihan serangan nuklir yang ada, buku tentang tempat-tempat persembunyian rahasia yang dapat dipakai untuk mengamankan presiden, dan yang terakhir kartu plastik berisi kode autentifikasi disebut ‘nuclear biscuit‘.

Presiden tidak perlu persetujuan dari pihak lain, termasuk Kongres dan Angkatan Bersenjata, untuk mengeluarkan otorisasi serangan nuklir. Seandainya Trump memerintahkan serangan nuklir, dia harus mengidentifikasi dirinya kepada pejabat militer dengan sebuah kode, yang disebut “biscuit,” dan dibawa oleh presiden setiap saat.

Pada 1980, Bill Gulley, mantan direktur Kantor Militer Gedung Putih, mengatakan, ada tiga pilihan serangan balasan yang ada dalam tas tersebut: rare, medium, atau well done. Dan "Biscuit" mewakili kartu-kartu yang berisi kode yang harus dibawa setiap saat oleh presiden. Kartu-kartu tersebut tak disimpan di dalam tas "nuclear football".

Setelah mengidentifikasi dirinya dengan menggunakan kode yang ada dalam "biscuit", presiden meneruskan perintah ke Pemimpin Kepala Staf Gabungan Militer AS (Chairman of the Joint Chiefs of Staff), jabatan tertinggi dalam militer Negeri Paman Sam.

"The Football" atau "president's emergency satchel" adalah tas Zero Halliburton 45-lb berbingkai aluminium di dalam jaket kulit hitam, di mana sebuah kartu plastik dengan kode peluncuran nuklir yang disebut "biskuit nuklir" dapat ditemukan. Ini juga berisi prosedur untuk Sistem Siaran Darurat, sebuah "buku hitam" dengan "menu" pilihan penyerangan yang telah direncanakan sebelumnya, dan sebuah buku bunker rahasia tempat Presiden dapat dilindungi. The Football selalu dibawa oleh seorang ajudan militer yang diharuskan tinggal di dekat Presiden setiap saat. (Foto: zerohedge.com)
Kemudian, pejabat militer tersebut meneruskannnya kepada Pentagon di Washington DC dan Markas Komando Strategis AS (US Strategic Command) di Pangkalan Udara Offutt, Nebraska.

Perintah lalu disampaikan ke tim di lapangan, di darat, laut, maupun udara. Perintah untuk menembak dikirim melalui kode, yang urutannya harus sesuai dengan kode yang terkunci di brankas tim peluncur senjata nuklir.

Pasca disumpah jadi presiden, ABC News bertanya ke Trump soal bagaimana perasaannya setelah menerima "biskuit" tersebut. "Saat mereka menjelaskan apa yang terwakili di balik itu dan kehancuran yang bisa diakibatkannya, momentum itu sangatlah serius. Ini sangat, sangat menakutkan, dalam arti tertentu," kata Trump.

Bisakah Perintah Presiden Ditolak?

Presiden adalah panglima tertinggi di tubuh militer AS. Dengan kata lain, apa yang dititahkannya merupakan perintah. Namun, kemungkinan ada celah untuk menolak perintah tersebut. Masalah penggunaan senjata nuklir bukanlah perkara main-main. Hingga kini bahkan aksi peluncuran senjata nuklir sebenarnya masih dianggap ilegal.

Gen. John Hyten, komandan dari US Strategic Command bahkan mengatakan jika presiden benar-benar memerintahkan militer untuk meluncurkan serangan nuklir, ia akan memilih untuk memberikan nasihat pada presiden. 


“Jika presiden memerintahkan melakukan hal ilegal, saya akan berkata: Pak Presiden, tindakan ini ilegal,” kata Hyten kepada CNN.
Seorang perwira tinggi AS membawa tombol nuklir (Foto: AP/ Cliff Owen)
Hyten juga lebih menyarankan untuk memberikan respon yang sesuai dengan kapabilitasnya.

Pada November 2017, untuk pertama kali dalam 40 tahun, Kongres meninjau kewenangan presiden untuk meluncurkan serangan nuklir. Salah seorang pakar yang dihadirkan adalah C Robert Kehler, komandan Komando Strategis AS pada kurun 2011-2013.

Kepada Kongres, dia mengatakan bakal mengikuti perintah presiden untuk melancarkan serangan nuklir, tapi hanya jika perintah itu sah secara hukum. Dalam kondisi-kondisi tertentu, menurutnya, 'Saya akan mengatakan, saya tidak siap melanjutkan'. Kehler berpendapat bahwa perintah penggunaan tombol nuklir oleh presiden seharusnya bisa ditolak.

Setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki, senjata nuklir jadi instrumen militer paling berbahaya dan ditakuti di dunia. Bahkan hanya ada lima negara yaitu; Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Perancis, dan Cina, secara legal diakui dan diperbolehkan memiliki senjata nuklir dalam perjanjian Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).

Ajudan Presiden Rusia, Vladimir Putin, selalu membawa 'Cheget,' tombol nuklir negari Beruang Merah yang merupakan rival utama negeri paman Sam. (Foto: istimewa)