Jalur Militer: Yaman

Tentara Yaman Berhasil Produksi Rudal Balistik, Arab Saudi Marah

Tentara Yaman memberi hormat di atas peluncur rudal balistik Scud, selama parade militer di Sana'a pada 21 Mei 2009, menandai penyatuan Yaman ke-19. Saat ini Yaman berhasil menciptakan berbagai jenis rudal balistik untuk menghadapi agresi militer Arab Saudi dan koalisinya. (Sumber Foto: AFP / Khaled Fazaa / Getty Images)
"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini,"
SANA'A -- Menghadapi keroyokan dari negara-negara koalisi pimpinan Arab Saudi, tidak menjatuhkan mental para pejuang Yaman untuk mempertahankan tanah air mereka. Bahkan, perang yang sudah berlangsung selama beberapa tahun tersebut, justru membuat Yaman berusaha mandiri dalam bidang persenjataan.

Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan telah meluncurkan sebuah rudal cerdas yang dirancang dan diproduksi secara domestik. Biro media Pusat Komando Operasi Yaman,pada hari Sabtu (28/10), mengumumkan bahwa rudal jarak dekat dan propelan padat Badr P-1 adalah upgrade dari rudal Badr-1, dan memiliki akurasi 3 meter.

Yaman berusaha memproduksi rudal balistik tersebut dengan titik akurasi yang sangat tinggi untuk mencapai sasaran objek-objek vital Arab Saudi. Dengan rudal ini, Yaman mampu menghancurkan target-target yang ditetapkan.

Rudal balistik ini langsung diterjunkan dalam pertempuran melawan koalisi Riyadh. Tentara Yaman didukung oleh milisi komite populer, menembakkan rudal balistik Badr-1, pada Rabu (9/5) malam di markas Informasi dan Peperangan Elektronik Saudi di Najran, Arab Saudi selatan.

Sebelumnya, tentara Yaman menyerang pangkalan al-Mostahaddeth di provinsi pesisir barat Yaman Hudaydah dengan rudal balistik yang sama, membunuh dan melukai sejumlah besar pasukan Sudan yang dipimpin Saudi di sana.

Pasukan Yaman juga menembakkan salvo rudal balistik tersebut dengan menyasar "target ekonomi" di ibu kota Saudi Riyadh, sebagai pembalasan terhadap agresi Al-Saud. Seorang juru bicara militer gerakan perlawanan Ansarullah, Kolonel Aziz Rashed, mengatakan serangan rudal itu menandai "fase baru" dan balas dendam atas serangan udara Saudi di Yaman.

"Akan ada lebih banyak lagi salvo sampai musuh ini dihalangi, memahami arti kekuatan Yaman dan menghentikan kejahatannya," katanya, seperti diberitakan televisi berbahasa Arab al-Masirah.

Badr P-1 misil balistik presisi tinggi yang dipajang di Sana'a, Yaman. (Foto: Istimewa)
Selain berhasil membuat rudal balistik Badr-I, sebelumnya tentara Yaman juga telah berhasil memproduksi rudal yang dinamai Zelzal-1 (Gempa-1). Rudal balistik ini dalam sejumlah serangan, mampu menghancurkan basis-basis pertahanan pasukan Saudi dan koalisinya.

Di daerah al-Khobe wilayah Jizan, hantaman rudal Zelzal-I bahkan menewaskan puluhan tentara Arab Saudi. Tembakan rudal pasukan Yaman juga mampu menyasar dan menghantam gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh.


Saudi dan Amerika Tuduh Rudal Yaman Buatan Iran

Agresifnya tentara Yaman menembakkan rudal-rudal balistik canggih ke wilayah Arab Saudi, membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya Arab Saudi marah dan mencurigai Iran telah menyuplai Yaman dengan persenjataan canggih.

Amerika dan Saudi menuduh bahwa rudal yang dimiliki para pejuang Yaman, merupakan buatan Iran. Karena kecanggihan rudal tersebut memiliki kesamaan dengan sejumlah rudal balistik yang diproduksi Iran.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, saat berpidato di hadapan para anggota Dewan Keamanan PBB, bahkan terang-terangan melontarkan tuduhan tersebut kepada Iran.

"Punya kesamaan dengan rudal dalam serangan-serangan serupa yang menggunakan senjata pasokan Iran. Kita harus bertindak bersama untuk mengungkap kejahatan-kejahatan rezim Teheran dan melakukan apapun yang diperlukan demi memastikan mereka mendapat pesannya. Jika kita tidak melakukannya, Iran akan membawa dunia lebih masuk ke dalam konflik kawasan," kata Haley.

Haley sudah berkali-kali mengajukan pemberian sanksi DK PBB untuk Iran, tapi selalu ditolak dan diveto oleh Rusia dan China. Sejumlah anggota tidak tetap DK PBB juga menolak pemberian sanksi terhadap Iran.

Para pemberontak Houthi mengungkap rudal Burkan-2 pada Februari 2017. (Foto: Almasirah)
Sementara Arab Saudi melalui Juru bicara pasukan koalisi, Kolonel Turki al-Maliki mengatakan, saat ini rudal-rudal balistik yang ditembakkan oleh para pejuang Yaman hanya bisa dilumpuhkan dengan sistem pertahanan udara rudal Patriot. 

Hal inilah yang semakin menguatkan tuduhan Saudi bahwa rudal Yaman dipasok oleh Iran yang merupakan musuh bebuyutannya.

Iran Membantah Tuduhan Saudi dan Amerika


Menanggapi tuduhan Amerika dan Saudi, pemerintahan Teheran dengan tegas membantahnya. Pada hari Senin (12/3), kementerian luar negeri Iran menolak tuduhan Saudi bahwa Tehran telah memasok Yaman dengan rudal dan senjata dan menekankan bahwa ucapan tersebut dibuat karena putus asa akibat kekalahan pasukan Saudi dan koalisi di Yaman.

"Ucapan yang diucapkan oleh beberapa pejabat Saudi sangat banyak memberi tahu tentang keputusasaan pemerintah Saudi untuk analis politik yang adil," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qassemi.

Sedangkan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, Amerika dan sekutunya Saudi berusaha mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan mereka di negara Arab yang malang itu.

"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini," kata Brigjen Hatami di Tehran pada hari Selasa (13/3).

Bantahan Iran juga diperkuat oleh Deputi Juru Bicara Sekjen PBB, Farhan Haq mengatakan, tidak ada satu buktipun yang menunjukkan bahwa rudal-rudal yang ditembakkan ke Arab Saudi dari Yaman adalah buatan Iran.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperlihatkan sisa-sisa rudal yang ditembakkan ke arah Riyadh, November lalu. (Foto: AFP)
Hal ini disampaikan Farhan Haq saat melaporkan pelaksanaan resolusi 2231 di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Kamis (14/12).

Sementara petinggi Yaman sendiri berulangkali menegaskan, kekuatan pertahanan militer negara ini sepenuhnya produk dalam negeri dan meski diblokade total oleh Saudi, kekuatan ini berhasil ditingkatkan.

Yaman sejak Maret 2015 menghadapi agresi brutal oleh koalisi pimpinan Saudi, dalam upaya mengembalikan kekuasaan kepada mantan presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang buron. Puluhan ribu orang Yaman telah terluka dan menjadi martir, dengan sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

Data PBB memperlihatkan lebih dari 8.670 orang meninggal dunia dan 49.960 lainnya cedera sejak pasukan koalisi turut campur dalam peperangan di Yaman. 


Perang tersebut juga menyebabkan 20,7 juta orang memerlukan bantuan kemanusiaan dan turut menimbulkan wabah kolera yang diperkirakan menewaskan 2.219 orang sejak April lalu.

Menurut Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 60 persen dan tiga perempat dari populasi Yaman sebesar 28 juta jiwa, didefinisikan tidak aman dalam segi asupan makanan, di mana tujuh dari 22 provinsi di negara itu, berada di ambang kelaparan, dan hampir setengah juta anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Namun, kekuatan sekutu tentara Yaman dan komite populer yang didirikan oleh kaum revolusioner Ansarullah telah secara heroik menghadapi agresi dengan segala cara, menimbulkan kerugian besar pada pasukan Saudi koalisi.

Serangan rudal balistik tentara Yaman berhasil menghancurkan sebuah bangunan di kota Jizan, Arab Saudi. (Foto: alaraby.co.uk / Getty)

Bom MK-82 Arab Saudi Hujani Yaman, Tewaskan Puluhan Wanita dan Anak-anak

Pasukan militer Arab Saudi dan kelompok sekutunya terus membombardir wilayah Yaman. Bahkan Saudi tak segan-segan menggunakan bom canggih Mark-82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat untuk menyerang negara miskin tersebut. (Foto: PressTV)
"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang,"
SANAA -- Militer Kerajaan Arab Saudi kembali membombardir wilayah Yaman dalam agresi mereka untuk mengalahkan negara miskin tersebut. Stasiun Al Massira TV yang dikelola Houthi melaporkan, 22 anak dan empat wanita tewas pada hari Kamis setelah serangan jet tempur Koalisi Arab yang menargetkan sebuah kamp bagi orang-orang telantar di ad-Durayhimi.

Kelompok pejuang Houthi Yaman mengatakan, serangan terhadap puluhan warga sipil ini hanya berselang dua minggu setelah serangan udara Koalisi Arab terhadap bus sekolah yang menewaskan 40 anak laki-laki. Belakangan diketahui, bom yang digunakan untuk menyerang bus sekolah itu adalah bom Mark 82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat (AS).

Juru bicara pejuang Houthi Yaman, Mohammed Abdul-Salam, mengatakan serangan Koalisi Arab terjadi di Distrik ad-Durayhimi, 20 kilometer (12,5 mil) dari Kota Hodeida.

Anak-anak Yaman yang menjadi korban serangan militer Arab Saudi dan sekutu. (Foto: Business Insider)
Namun, kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM, melaporkan bahwa pemberontak Houthi yang meluncurkan serangan rudal balistik di daerah tersebut. UEA merupakan bagian dari Koalisi Arab pimpinan Saudi. Versi media itu, satu anak tewas dan lusinan lainnya terluka.

Hussein al-Bukhaiti, seorang wartawan Yaman di Sanaa, mengatakan jumlah korban tewas dalam serangan udara Kamis mencapai 31 orang. Data itu mengutip sumber medis setempat. Menurut Al-Bukhaiti, puluhan anak-anak dan wanita diserang sebelum mereka naik bus dalam upaya untuk melarikan diri.

"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang," ujarnya, katanya kepada Al Jazeera, Jumat (24/8/2018).

Seorang anak Yaman memperlihatkan serpihan bom MK-82 Arab Saudi yang membombardir negara itu. (Foto: YemenExtra)
Agresi Koalisi Arab terhadap Yaman dengan dalih memerangi pemberontak Houthi sudah berlangsung sejak Maret 2015. Konflik itu telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan banyak warga di negara miskin itu dilanda kelaparan.

PBB dan dunia internasional seakan bungkam dengan aksi brutal yang dilakukan Saudi terhadap Yaman. Menurut sejumlah laporan internasional, saat ini Yaman sudah berada dalam kondisi bencana kemanusiaan yang berat, dampak dari agresi militer yang dilakukan Arab Saudi beserta sekutunya.(*JM)

Sumber:AlMassiraTV/AlJazeera

Tutupi Pembantaian Muslim Yaman, Saudi Tuduh Pejuang Houthi Rudal Kota Makkah

Korban serangan militer Arab Saudi. Menutupi sejumlah serangan yang menewaskan hingga ratusan rakyat sipil Yaman dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi melakukan propaganda dengan menuduh para pejuang Houthi telah mengarahkan serangan rudal untuk menghantam kota suci Makkah. (image: farsnews)
"Saudi, bertujuan untuk menyembunyikan kekejaman mereka di Yaman, menyatakan halusinasi kosong yang tidak pernah dapat dipercaya oleh orang-orang waras,"
SANA'A -- Serangan militer Arab Saudi dan koalisinya terhadap rakyat Yaman terus menjadi sorotan dunia. Setelah sebelumnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa Arab Saudi telah melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Yaman dalam sebuah upacara pemakaman yang menewaskan hingga lebih dari 550 jiwa tak berdosa, kini Saudi juga kembali melakukan serangan brutal yang sama.

Serangan udara Liga Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi menghantam sebuah penjara pejuang Houthi di Yaman. Akibat insiden ini, 58 tahanan tewas. Liga Arab melancarkan serangan udara akhir pekan ini dan membuat seluruh bangunan penjara hancur lebur.

"Jumlah korban tewas saat ini sebanyak 58 jiwa, namun tim bantuan masih terus melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun puing-puing," ujar Kepala Keamanan Yaman, Abdel-Rahman al-Mansab, seperti diberitakan koran Daily Mail, Senin (31/10).

Menurut keterangan al-Mansa, mereka yang tewas kebanyakan adalah tawanan pejuang Houthi. Bahkan, 20 orang di antaranya malahan tahanan politik anti-Houthi. Di dalam penjara tersebut ada sekitar 115 tahanan.


Selain tahanan politik, para narapidana juga ada yang menjalani hukuman penjara untuk pelanggaran kejahatan, ada juga yang masih menjalani penahanan praperadilan.
Para korban dari kalangan rakyat sipil Yaman yang tewas akibat serangan militer Arab Saudi dan pasukan koalisinya.
Serangan biadab yang dilancarkan Arab saudi tersebut, langsung mendapat kecaman masyarakat dunia, bahkan Badan HAM PBB mendesak diadakannya investigasi langsung dalam sejumlah pemboman yang telah menewaskan ratusan rakyat muslim Yaman tersebut.

Yaman Lakukan Serangan Balasan, Saudi Sebarkan Propaganda

Serangan militer yang terus dilakukan Saudi dan koalisinya terhadap Rakyat Yaman, mendapat respon balasan dari para pejuang Houthi. Untuk pertama kalinya dalam Konflik di Yaman, pasukan revolusioner al-Houthi meluncurkan rudal balistik menuju kota utama di Saudi Arabia.

Menurut media resmi Garda Republik Yaman pada 29/10/16, pasukan al-Houthi menembakkan rudal balistik Burkan-1 yang menargetkan Bandara King Abdel-Aziz di Jeddah. Serangan berhasil menghantam sisi bandara King Abdul Aziz di Jeddah tanpa menimbulkan korban.

TV Yaman al-Massirah melaporkan bahwa pasukan roket meluncurkan rudal "Burkan-1" (Volcano-1) terhadap Bandara Internasional King Abdulaziz, terletak 19 kilometer utara kota pelabuhan barat Saudi, Jeddah.

Tujuan serangan rudal al-Houthi ini adalah untuk menunjukkan kepada Arab Saudi bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyerang kota-kota besar di Saudi jika Angkatan Udara Saudi terus menerus membom daerah Yaman yang berpenduduk padat.

Sebagian sisi dari Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, yang hancur akibat dihantam serangan rudal Burkan-1 milik para pejuang Houthi. (Foto: istimewa)
Juru bicara tentara Yaman, jenderal Sharaf Ghaleb Lukman, menegaskan bahwa penembakan rudal balistik ke Bandara Internasional King Abdulaziz telah berhasil dan mencapai tujuannya.

Namun, media massa Saudi mengklaim bahwa sistem rudal pencegat kerajaan telah menghancurkan rudal Scud itu sebelum mengenai sasaran.

Arab Saudi mengklaim bahwa rudal itu berhasil dicegat oleh sistem Pertahanan Udara Saudi 65km dari kota suci Mekkah, dan bahkan balik menyebarkan propaganda bahwa para pejuang Houthi telah menembakkan rudal untuk menghantam kota Makkah yang mana terdapat Kakbah di dalamnya, untuk menarik simpati umat muslim dunia dan menutupi serangan brutalnya yang telah membantai ribuan rakyat sipil Yaman hingga kini.

Bahkan, Presiden Urusan Dua Masjid Suci, Syeikh Abdurrahman Al Sudais yang merupakan pendukung kerajaan Bani Saud, seperti dilansir dari Saudi Gazette, Ahad (30/10, ikut mendramatisir kejadian dengan menyatakan bahwa wilayah Makkah menjadi target rudal balistik pejuang Houthi. 


Menurutnya, tindakan tersebut juga dinilai telah menyinggung perasaan 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia. Sebagai salah satu pimpinan Muslim, menurut dia, kata-katanya akan didengar ke seluruh penjuru dunia.

Houthi: Arab Saudi Berhalusinasi

Menanggapi propaganda yang disebarkan kerajaan Saudi, Juru bicara gerakan Ansarullah Yaman Mohammad Abdol Salam menilai klaim Saudi telah mencegat rudal balistik Yaman yang katanya menuju kota suci Mekkah mencerminkan kegagalan KSA dalam perang berdarah terhadap Yaman.

Juru bicara Houthi Ansarullah movement Mohammed Abdulsalam (Foto: AFP)
"Saudi, bertujuan untuk menyembunyikan kekejaman mereka di Yaman, menyatakan halusinasi kosong yang tidak pernah dapat dipercaya oleh orang-orang waras," kata Abdol Salam seperti dikutip dari Islamtimes.

Abdol Salam menambahkan bahwa komitmen Yaman terhadap 'Islam dan Arabisme mereka tidak kontroversial, mencatat bahwa meskipun semua pembantaian yang telah dilakukan Saudi, pasukan Yaman belum pernah mentargetkan instalasi sipil serta tempat-tempat suci.

Rudal Burkan adalah rudal Scud yang dikembangkan oleh pasukan roket Yaman. Kisaran rudal melampaui 800 km, dengan hulu ledak seberat setengah ton. Sejak pejuang Yaman memiliki misil ini, Arab Saudi mulai dilanda ketakutan akan serangan balik Yaman. Pasalnya, rudal tersebut mampu menjangkau kota-kota strategis di seluruh kerajaan Saudi dengan mudah.

Bahkan, Amerika Serikat (AS) akhirnya terpaksa turun tangan membela sekutunya tersebut dengan mengirimkan sejumlah armada kapal perang ke Laut Yaman, tapi hal ini tidak menggentarkan semangat tempur para pejuang Yaman, dan justru menyerang balik sejumlah kapal perang AS dengan hantaman rudal scud.

Peluru kendali Burkan milik para pejuang Houthi yang merupakan hasil modifikasi misil scud buatan Rusia. (Foto: almanar)

Inilah Catatan Keberhasilan Yaman Pecundangi Koalisi Militer Pimpinan Arab Saudi

Berbekal persenjataan yang jauh dari kata mumpuni, para pejuang Yaman ternyata mampu melakukan perlawanan yang sangat heroik dalam melindungi negara mereka dari agresi militer koalisi pimpinan Arab Saudi. (Foto: Sputniknews)
SANA'A -- Memiliki persenjataan serba canggih di era-nya dan didukung negara koalisi, Arab Saudi ternyata hingga kini tetap tidak bisa menaklukkan perlawanan para pejuang Yaman. Bahkan pasukan milisi Yaman yang biasa disebut tentara "sarungan" tersebut, justru berhasil melakukan perlawanan dan serangan balik kepada koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Setidaknya berikut catatan keberhasilan pasukan Yaman dalam menghadapi invasi Arab Saudi, yang menandai kekalahan hegemoni Saudi dalam ambisinya menaklukkan Yaman:

1. Tentara Yaman, yang didukung oleh para pejuang Komite Populer, pada tahun 2017 membunuh hampir 400 tentara Saudi dan ratusan milisi yang setia kepada mantan presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi, di wilayah perbatasan barat daya kerajaan tersebut, dan berhasil membunuh tentara bayaran Saudi di Yaman, sebagai pembalasan atas operasi militer rezim Riyadh di Yaman.

Arab Saudi dan kekuatan koalisinya, mengerahkan kekuatan militer penuh dalam ambisinya menaklukkan Yaman. (Foto: Istimewa)
Kantor berita resmi Yaman SABA melaporkan, bahwa tentara Yaman dan sekutunya juga menghancurkan delapan tank tempur utama M1 Abrams, 196 kendaraan lapis baja, 31 tank dan 1.337 kendaraan militer dalam periode tersebut. Pasukan angkatan laut Yaman juga menyerang empat kapal perang, sebuah kapal selam mata-mata dan sebuah kapal frigat tahun lalu.

Selain itu, unit pertahanan udara dan pejuang juga berhasil mencegat dan menembak jatuh dua pesawat tempur Fighter Senior F-16 Fighting Falcon, satu pesawat tempur McDonnell Douglas F-15 Eagle, dua helikopter uji coba Apache AH-64, sebuah Sikorsky UH- 60 helikopter utilitas Black Hawk, kendaraan udara tak berawak Predator B serta 19 pesawat pengintai.


Pasukan Yaman juga berhasil meluncurkan total 45 rudal balistik yang diproduksi di dalam negeri, termasuk tiga tipe Bangkalan-1 (Volcano-1) tipe Scud, tiga rudal Borkan-2 (Volcano-2) dan tiga bom Borkan H- 2 rudal ke posisi tentara Saudi.
Sebuah pesawat tanpa awak milik kerajaan Arab Saudi berhasil ditembak jatuh oleh para pejuang Yaman. (Foto: en.alalam.ir)
2. Jaringan televisi al-Masirah melaporkan pada hari Minggu (24/12), bahwa 37 pesawat ditambah lebih dari 1.200 tank dan kendaraan lapis baja telah hancur sejak rezim Saudi dan sekutunya melancarkan perang yang menghancurkan negara tersebut. Arab Saudi juga kehilangan selusin helikopter serang Boeing AH-64 Apache, lima jet tempur McDonnell Douglas F-15 Eagle dan General Dynamics F-16 Fighting Falcon ditambah lebih dari 20 pesawat pengintai.

Sepuluh kapal perang, kapal fregat dan sejumlah gunboat juga hancur dalam agresi militer pimpinan-Saudi. Tentara Yaman dan pejuang sekutu dari Komite Populer juga telah menghancurkan ratusan pusat komando dan pos perbatasan di wilayah Najran, Jizan dan Assir barat daya Arab Saudi.

3. Pasukan Yaman berhasil menembakkan sebuah rudal balistik pada sebuah tempat pertemuan pasukan agresi yang dipimpin Saudi di Marib. Angkatan Darat Yaman dan Komite Populer melepaskan rudal "Qaher-M2" di kamp "Royk" Saudi di provinsi Marib. Pasukan Yaman juga menargetkan tempat pertemuan pasukan Saudi di daerah perbatasan Najran.


4. Jaringan televisi berbahasa Arab al-Masirah, melaporkan bahwa pesawat tak berawak Saudi ditembak jatuh saat terbang di langit di atas distrik Hirz pada dini hari Sabtu (30/12). Pasukan Yaman, menggunakan rudal permukaan-ke-udara, juga menembak jatuh jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Royal Saudi saat pesawat tersebut terbang ke timur ibukota Yaman, Sana'a.
Sebuah helikopter serbu Apache milik kerajaan Arab Saudi, ditembak jatuh oleh para milisi Yaman. (Foto: Istimewa)
Selain itu, tentara Yaman juga berhasil menembak General Atomics MQ-9 Reaper buatan AS, pesawat tak berawak yang dioperasikan oleh Royal Saudi Air Force. Pada bulan Juni, pasukan pertahanan udara Yaman juga mencegat dan menembak jatuh jet tempur F-15 Saudi di atas Sana'a.

5. Kantor berita Sputnik, Senin (1/1) melaporkan, Pasukan angkatan laut Yaman, yang didukung oleh pejuang sekutu dari gerakan Houthi Ansarullah, telah berhasil mengkap sebuah kendaraan bawah laut nirawak (AUV) Saudi di perairan teritorial Yaman.

Brigadir Aziz Rashed, wakil juru bicara militer untuk tentara Yaman mengatakan bahwa AUV dikendalikan secara remote, dan memiliki gambar rinci tentang zona operasinya, dan mengidentifikasi kendaraan itu dari seri REMUS (Remote Environmental Monitoring Unit), yang terutama digunakan untuk mendeteksi ranjau dan memeriksa kapal karam, dan beroperasi dengan pelacak WiFi dan GPS.

Para pejuang Yaman berpose disebuah bangkai pesawat tempur kerajaan Arab Saudi yang berhasil mereka tembak jatuh. (Foto: Reuters)

Dianggap Berkhianat, Para Pejuang Houthi Bunuh Mantan Presiden Yaman

Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh tewas secara mengenaskan di tangan para milisi Houthi. Mantan orang terkuat di Yaman itu dieksekusi karena dianggap berkhianat dan membelot ke Arab Saudi. (Foto: Reuters)
”Nol jam akan datang ke medan perang di Sanaa. Negara itu harus diselamatkan dari kegilaan kelompok Houthi,”
SANA'A -- Konflik di Yaman hingga kini terus bergejolak. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi justru semakin brutal menyerang Yaman di tengah kecaman dunia internasional. Di sisi lain, rakyat Yaman terutama para pejuang Houthi juga semakin meningkatkan serangannya walau dengan kondisi persenjataan yang memprihatinkan.

Salah satu yang mengejutkan adalah kelompok milisi Houthi mengklaim telah menewaskan mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dalam sebuah serangan terhadap kediamannya di Sanaa. Padahal Saleh pada awalnya adalah sekutu setia dari Houthi.

Melansir Reuters pada Senin (4/12), Houthi diketahui telah berhasil meledakkan kediaman Saleh. Melalui sebuah pernyataan yang diumumkan melalui radio Kementerian Luar Negeri Yaman yang dikontrol Houthi, disebutkan bahwa Saleh tewas dalam serangan itu.

Sumber dari Kongres Rakyat Yaman mengonfirmasi bahwa pemimpin mereka yang juga mantan presiden Ali Abdullah Saleh tewas pada hari Senin dalam bentrokan sengit dengan pemberontak Houthi di Ibu Kota Sanaa. Saleh dilaporkan dibunuh dengan puluhan tembakan di kepala dan perut.

Sebuah video menunjukkan Saleh terbaring di atas selimut yang dikelilingi oleh milisi Houthi yang merayakan kematiannya. Video klip pendek yang ditayangkan di saluran televisi pro-Houthi juga mengonfirmasi laporan bahwa Saleh tewas akibat ditembaki di bagian kepala.

Di awal konflik Yaman, Saleh memutuskan untuk berkoalisi dengan pasukan Houthi. Tentara Yaman yang setiap pada Saleh dan Houthi bersama-sama menggempur pasukan pro-pemerintah Yaman. Saleh dieksekusi karena dianggap telah mengkhianati perjuangan rakyat Yaman melawan agresor pimpinan Arab Saudi.

Pekan lalu Saleh membuat langkah yang mengejutkan. Saleh mengatakan ia siap untuk membuka era baru dalam hubungan dengan koalisi pimpinan Arab Saudi, jika koalisi Arab menghentikan serangan terhadap negaranya. Akibat pernyataan ini, hubungan Saleh, dan Houthi yang memang tengah memburuk, langsung meledak.

Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh tewas setelah terjadi bentrokan bersenjata dengan kelompok milisi Houthi. (Foto: Istimewa)

Amerika Serikat Bombardir Pejuang Houthi, Iran Kirimkan Kapal Perang ke Yaman

Amerika Serikat meluncurkan rudal balistik Tomahawk untuk membombardir dan menghancurkan posisi para pejuang Houthi di Yaman.(Foto: Gulf News)
“Armana kapal itu akan memberikan keamanan di jalur laut untuk kapal Iran serta untuk melindungi kepentingan Iran di laut lepas. Kapal-kapal itu akan melakukan misinya selama tiga bulan,”
SANA'A -- Tindakan militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan rudal jelajah untuk menghancurkan tiga lokasi radar di pinggiran pantai di wilayah yang dikuasai para pejuang Houthi di Yaman, direspon Iran dengan mengirimkan sejumlah kapal perang ke perairan Yaman.

Seperti dilansir Russia Today, Jumat (14/10/16) Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengatakan, Angkatan Laut Iran menurunkan kapal perang yang diberangkatkan dari kota pelabuhan Bandar Abbas di Iran, ke perairan internasional untuk sebuah misi. Sayyari menyatakan misi tersebut juga mengharuskan kapal perang itu memasuki wilayah pantai Yaman bagian timur.

Kapal perang perusak Alborz Angkatan Laut Iran. (Foto: IRIA)
“Armana kapal itu akan memberikan keamanan di jalur laut untuk kapal Iran serta untuk melindungi kepentingan Iran di laut lepas. Armada 34 itu terdiri dari kapal logistik Bushehr dan kapal perusak Alborz. Kapal-kapal itu akan melakukan misinya selama tiga bulan,” ujar Sayyari kepada Press TV.

AS menyerang Yaman pada Kamis 13 Oktober, sebagai pembalasan atas penembakan rudal yang gagal terhadap kapal perusak angkatan laut AS pekan ini. Tindakan ini merupakan tindakan langsung pertama yang dilakukan militer AS terhadap wilayah yang dikuasai kelompok Houthi di Yaman.

“Ini adalah serangan bela diri terbatas yang dilakukan untuk melindungi personel kami, kapal kami, dan kebebasan berlayar kami,” demikian disampaikan juru bicara Pentagon Peter Cook seperti dilansir Reuters, Jumat (14/10/16).

Kapal perang USS Mason yang sebelumnya diserang para pejuang Houthi di perairan Yaman.(Foto: Gulf News)
Keterangan dari beberapa pejabat AS yang tak disebutkan namanya mengatakan rudal jelajah berjenis Tomahawk tersebut diluncurkan dari kapal perusak USS Nitze sekira pukul 4 dini hari waktu setempat. Ketiga radar yang dihancurkan berada di dekat Ras Isa, sebelah utara Mukha, dan dekat Kokha.

Para pejuang Houthi pun membalas serangan bombardir AS dengan meluncurkan sedikitnya tiga rudal yang diarahkan kepada kapal USS Mason pada Rabu dan Minggu lalu. Namun, dengan kekuatan persenjataan yang apa adanya, AS tetaplah bukan lawan sebanding bagi para pejuang Houthi.


Amerika Serikat ikut ambil bagian, setelah koalisi agresor yang dipimpin Arab Saudi mengalami kekalahan telak di Yaman. Bukannya berhasil menghancurkan Houthi, Saudi malah menjadi sasaran empuk serangan rudal jelajah Houthi yang menghantam sejumlah kota strategis di wilayah Saudi. (*)

Sumber: Russia Today/Reuters

Pengadilan PBB: Arab Saudi Terbukti Telah Melakukan Pembantaian Rakyat Yaman

Pasukan militer Kerajaan Saudi membombardir ibukota Yaman, Sana'a. (Foto: Istimewa)
"Tempat pemakaman ini merupakan pusat komunitas yang diketahui banyak orang. Tempat itu dipadati keluarga dan anak-anak. Membom orang yang sudah kehilangan orang yang mereka cintai merupakan tindakan tercela,"
SANA'A -- Serangan barbar pasukan militer Kerajaan Arab terhadap rakyat Yaman hingga kini mendapat kecaman dari seluruh dunia. Bahkan Uni Eropa, Rusia dan sejumlah kekuatan dunia lainnya mendesak agar dilakukannya penyelidikan kejahatan perang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Desakan ini pun langsung ditangkapi oleh Komisi Tinggi HAM PBB yang meminta Arab Saudi meminta maaf kepada rakyat Yaman dan masyarakat dunia, serta segera angkat kaki dari wilayah negara berdaulat Yaman.

Pada hari Kamis, 47 negara anggota Dewan HAM PBB juga mengeluarkan resolusi yang menyerukan PBB untuk menginstruksikan penyidik sementara, guna mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia oleh Arab Saudi di Yaman.

Namun, bukannya mengakui kesalahan, Saudi justru menolak mentah-mentah permintaan KT HAM PBB tersebut, untuk memulai penyelidikan independen terkait kejahatan perang Saudi di Yaman. Hal ini disampaikan Adel Bin Zaid al-Tarifi, Menteri kebudayaan dan media Saudi, pada hari Rabu (5/10/16), menanggapi desakan adanya penyelidikan yang dilakukan Badan PBB itu.

Rakyat Yaman melakukan demonstrasi memprotes serangan militer brutal yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. Kecaman juga datang dari seluruh dunia yang mendesak PBB untuk menyeret kerajaan Saudi ke Pengadilan Kejahatan Perang. (Foto: Istimewa)
Bahkan, bukannya menghentikan serangan, pesawat tempur Saudi justru membombardir rakyat Yaman secara membabi-buta, hingga menewaskan ratusan rakyat Yaman yang sedang menghadiri sebuah upacara pemakaman pada Sabtu lalu (8/10).

Sekjen PBB Ban Ki-Moon menyebut serangan udara pimpinan Arab Saudi terhadap rakyat Yaman itu sebagai "tindakan tidak berperikemanusiaan". Ia juga menilai, peristiwa tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat keterlaluan.

"Tempat pemakaman ini merupakan pusat komunitas yang diketahui banyak orang. Tempat itu dipadati keluarga dan anak-anak. Membom orang yang sudah kehilangan orang yang mereka cintai merupakan tindakan tercela," ujar Ban Ki-Moon, Senin 10 Oktober, kepada wartawan.

Serangan pada Sabtu 8 Oktober itu menewaskan lebih dari 140 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya. Ban Ki-Moon mengatakan serangan udara oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah menimbulkan kerusakan luar biasa dan menghancurkan rumah sakit serta infrastruktur penting lainnya.

Satu aula pemakaman di Kota Sanaa hancur diterjang serangan yang diduga dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi. (Foto: Reuters/VOA)
Ban Ki-Moon juga mendukung usulan Ketua Komisi Tinggi PBB Untuk HAM Zeid Ra’ad AL Hussein yang telah berulangkali menyerukan perlunya pembentukan tim penyelidik internasional yang independen terhadap tuduhan-tuduhan pelanggaran HAM dan kemanusiaan internasional di Yaman.

"Saya mendesak Dewan HAM PBB untuk memenuhi tugas dan kewajibannya. Insiden mengerikan yang terbaru ini menuntut penyelidikan penuh. Bahkan lebih luas lagi, harus ada pertanggungjawaban atas tindakan mengerikan dalam perang ini secara keseluruhan," tegasnya.

Agustus lalu Utusan Khusus PBB Untuk Konflik Bersenjata dan Anak-Anak telah memasukkan koalisi Arab Saudi yang melawan pejuang Houthi di Yaman, dalam daftar hitam kelompok yang membunuh, melukai anak-anak dan terlibat dalam serangan terhadap sekolah dan rumah sakit dalam perang.

Rakyat Yaman melakukan unjukrasa mendesak PBB untuk menghentikan serangan militer yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. (Foto: Istimewa)