Jalur Militer: Suriah

Israel Tolak Kembalikan Dataran Tinggi Golan ke Suriah

Pasukan Israel saat berpatroli di Dataran Tinggi Golan. Perdana Menteri Israel menyatakan tidak akan pernah menyerahkan dataran tinggi Golan yang mereka rebut dari Suriah dalam perang Yom Kippur. Israel bahkan meminta sekutu abadinya Amerika Serikat mendukung klaim tersebut. (Foto: istimewa)
"UE mengakui Israel sesuai perbatasan pra tahun 1967-nya, apa pun klaim pemerintah (Israel) terkait daerah lain, sampai dengan penyelesaian akhir disimpulkan, Ini adalah posisi konsolidasi umum UE dan negara-negara anggotanya,"
TEL AVIV -- Zionis Israel sepertinya pantas disebut sebagai kolonial sejati di Timur Tengah. Setelah menjajah dan perampas seluruh tanah bangsa Palestina, kini Israel ingin menguasai secara utuh Dataran Tinggi Golan yang merupakan wilayah kedaulatan Suriah, ke dalam wilayah jajahan mereka.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu saat memimpin rapat kabinet terbatas di Dataran Tinggi Golan pada Minggu 17 April siang waktu setempat, meminta dunia mengakui kedaulatan Israel di wilayah tersebut serta berjanji tidak akan mengembalikan Golan ke Suriah dalam pidato pembukaannya.

Pengambilan waktu dan lokasi rapat kabinet itu diduga sengaja dilakukan bertepatan dengan negosiasi damai Suriah di Jenewa, Swiss. “Dataran Tinggi Golan telah menjadi bagian integral Israel sejak zaman dahulu. 

Puluhan Sinagoga kuno di sekitar kita sekarang ini telah memberi bukti. Golan adalah bagian integral Israel di era baru,” ucap Netanyahu seperti dilansir New York Times, Senin (18/4/2016). Pria 66 tahun itu mengaku telah menyampaikan sikap Israel kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry. 

Netanyahu tidak masalah dengan perjanjian diplomatik dengan Suriah selama tetangganya itu tidak mengganggu keamanan dalam negeri Israel.

Bashar al-Jaafari, Duta Besar Suriah untuk PBB, mengecam Israel, dengan menyebut negara zionis tersebut melakukan "provokasi yang tidak bertanggung jawab”.

Dunia Mengecam

Pernyataan Benjamin Netanyahu untuk menganeksasi seluruh dataran tinggi Golan mendapat kecaman dunia. Bahkan kecaman pun datang dari negara-negara Uni Eropa yang selama ini biasanya selalu menyokong Israel.

Perdana Menteri Israel saat memimpin rapat kabinetnya di wilayah dataran tinggi Golan, yang merupakan wilayah kedaulatan Suriah. (Foto: istimewa)
Kepala Kebijakan Urusan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Federica Mogherini, pada Selasa, 19/04/16, menyebut bahwa Uni Eropa (UE) tidak mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

Mogherini mematahkan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengklaim Dataran Tinggi Golan adalah milik Israel dan takkan menyerahkan kepada Suriah.

"UE mengakui Israel sesuai perbatasan pra tahun 1967-nya, apa pun klaim pemerintah (Israel) terkait daerah lain, sampai dengan penyelesaian akhir disimpulkan, Ini adalah posisi konsolidasi umum UE dan negara-negara anggotanya," kata Mogherini.

Pernyataan UE itu disampaikan Mogherini menjelang pertemuan di Brussels, ibu kota Belgia, yang diikuti lembaga donor internasional dalam rangka mendukung perekonomian Palestina. Pertemuan itu dihadiri para menteri dan pejabat tinggi Israel, pada Ahad, 17/04/16.

Dataran Tinggi Golan adalah sebuah dataran tinggi di wilayah perbatasan Israel, Lebanon, Yordania dan Suriah. Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Suriah, namun Israel mencaploknya dari tangan Suriah pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari. Setelah itu mereka perlahan-lahan mengambil wilayah Golan tanpa diketahui dunia internasional.


Pada awal Perang Yom Kippur 1973, Suriah berhasil merebutnya kembali, namun serangan balik Israel berhasil mengusir Suriah dari sebagian besar Dataran Tinggi Golan.
Dataran Tinggi Golan, tanah strategis milik Suriah yang berhasil direbut Israel pada saat perang Arab-Israel. (Gambar: Istimewa)

Kerahkan Militer di Suriah, Rusia Malah Dapat Untung Besar



Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat pujian dari kalangan internasional dengan mengeluarkan taktik cerdasnya di Suriah. Walau sempat dihina oleh rival abadinya Amerika Serikat, pengerahan militer Rusia untuk membantu pemerintahan Bashar Assad justru akhirnya menguntungkan bagi Rusia. (Foto: istimewa)
“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,”
DAMASKUS -- Pada saaat Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan kebijakan mengirimkan armada perangnya ke Suriah, untuk membantu pemerintahan Presiden Bashar al Assad, Amerika Serikat beserta gerombolan sekutunya sempat menghina dan mengolok Rusia dan mengatakan Rusia akan mengalami kerugian total.

Tetapi siapa sangka, Rusia justru mendapatkan keuntungan ganda dari membantu Suriah yang merupakan sekutu lamanya tersebut. Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber militer Rusia. 

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keuntungan yang didapat Rusia dari membantu sekutunya Suriah:

Kontrak dengan Aljazair 

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. 

Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Rusia, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 sampai dengan 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai.
Seorang tentara Rusia berpose dengan dilatarbelakangi sebuah MBT-T90, di pangkalan militer Latakia, Suriah. (Foto: istimewa)
Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850-900 juta dolar AS. Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600-700 juta dolar AS. 

Mendapat Pembeli Dari Asia Tenggara

Di Asia Tenggara Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian negara terkuat dan terbesar di wilayah tersebut yaitu Indonesia. Selain itu, Vietnam dan Pakistan juga menyatakan akan mengikuti langkah Indonesia membeli armada perang Rusia tersebut.

Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. 

Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut, yang berencana membeli hingga lima Skuadron pesawat tempur Sukhoi SU35.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit, selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Rusia menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS. 

Pengerahan Armada Militer Untuk Iklan Senjata

Selain membantu sekutunya, Rusia secara tidak langsung juga menjadikan pengerahan armada perangnya ke Suriah sebagai sebuah iklan alat-alat tempur buatan terbaru dan tercanggih mereka di pentas dunia. Hal ini dibuktikan dengan membanjirnya pesanan bahkan dari kawasan Timur Tengah sendiri.

Buktinya militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. 

Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.
Sebuah helikopter Ka-52 Alligator dan helikopter Mi-28NE saat dalam operasi penumpasan ISIS di Suriah. (Foto: istimewa)

Bashar al-Assad Kunjungi Pasukan Suriah di Zona Terdepan Pertempuran

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengunjungi zona terdepan medan perang di wilayah Ghouta Timur. Kedatangan tiba-tiba Assad ke zona pertempuran mengagetkan dan mengembirakan pasukan Suriah atas datangnya pemimpin mereka. (Foto: parstoday.com)
 “Kami bangga pada Anda. Dengan setiap peluru yang Anda tembak pada seorang teroris, Anda mengubah keseimbangan di dunia ini,”
DAMASKUS -- Pasukan tentara Suriah dikejutkan dengan kedatangan pemimpin mereka, Bashar Al-Assad ke medan perang di wilayah Ghouta Timur. CNN memberitakan Senin (19/3/2018), Assad menyetir sendiri mobil Honda Civic-nya untuk mengunjungi wilayah konflik di kawasan pinggiran Damaskus itu.

Dalam video yang diposting di Twitter, tampak Assad menyetir melewati puing-puing bangunan, dan lalu-lalang kendaraan. Presiden Assad berdiri di jalan-jalan dan disambut jabat tangan para tentara dan warga sipil.

“Kita akan memasuki wilayah Ghouta untuk meninjau situasi terkini,” kata Assad dalam video tersebut.

Dalam kunjungan itu, Assad di dampingi oleh istrinya, Asma. Keduanya memberikan motivasi kepada para pasukan militer Suriah agar terus memenangkan pertarungan dari kelompok-kelompok oposisi. Dia mengatakan kepada tentaranya bahwa mereka tidak hanya berjuang untuk wilayah Ghouta Timur, tetapi juga untuk menyingkirkan dunia terorisme.

Foto-foto yang dirilis oleh kantor berita resmi Suriah menunjukkan bahwa Presiden Assad dikelilingi oleh kerumunan pria dengan pakaian militer, dan sebagian dari mereka berdiri di atas tank.

Presiden 52 tahun itu memuji pengorbanan tentaranya. Assad menyebut, setiap meter daerah yang direbut di Ghouta Timur harus ditebus oleh darah setiap anggota militer Suriah, yang disebutnya sebagai “pahlawan di antara pahlawan”.

 “Kami bangga pada Anda. Dengan setiap peluru yang Anda tembak pada seorang teroris, Anda mengubah keseimbangan di dunia ini,” kata Assad, yang disiarkan stasiun televisi televisi Al-Ikhbariya, Senin (19/3/18).

Tentara Suriah langsung mengerumuni Bashar Al-Assad, begitu mengetahui kedatangan pemimpin mereka. (Foto: parstoday.com)
Pasukan pemerintah Suriah telah membebaskan 70 persen wilayah Ghouta Timur di pinggiran Damaskus. Wilayah itu sebelumnya bawah kendali kelompok pemberontak dan militan bersenjata sejak 2012.

Assad Tawarkan Pengampunan untuk Tentara Desersi

Presiden Suriah, Bashar al Assad, juga menawarkan amnesti bagi tentara Suriah yang desersi atau mereka yang telah menghindari wajib militer. Persyaratan untuk proses pengampunan ini sangat mudah, yakni para tentara yang sebelumnya membelot, hanya diwajibkan melapor selama beberapa bulan tugas tanpa menghadapi hukuman.

Ketakutan akan wajib militer, dan hukuman potensial untuk menghindarinya atau karena desersi, sering dikutip oleh kelompok-kelompok bantuan sebagai salah satu alasan utama yang diberikan para pengungsi karena tidak ingin pulang ke rumah.

The National melaporkan, bahwa Bashar Al Assad telah mengeluarkan perintah amnesti, tetapi amnesti hanya akan berlaku jika desertir menyerahkan diri dalam waktu empat bulan untuk mereka berada di Suriah, dan enam bulan untuk mereka yang berada di luar negeri.

Amnesti yang ditawarkan mencakup desersi, namun tidak diperuntukan bagi mereka yang melawan pemerintah Suriah atau bergabung dengan pemberontak, yang dianggap oleh rezim Bashar al Assad sebagai teroris.

Puluhan ribu orang Suriah dicari negara karena tidak melapor dalam dinas militer atau meninggalkan kesatuan selama konflik panjang dan berdarah. Banyak ketakutan kembali ke Suriah karena ancaman penangkapan dan pemenjaraan. 


Sebelumnya, di bawah hukum militer Suriah, desertir dapat menghadapi bertahun-tahun penjara jika mereka meninggalkan dinas mereka dan tidak melapor dalam jangka waktu tertentu.

Assad Bersumpah Akan Rebut Kembali Seluruh Wilayah Suriah


Bashar al Assad menyatakan Pemerintah Suriah akan merebut kembali seluruh wilayah Suriah, seperti dilansir dari Reuters via wawancara di tv Rusia, NTV, pada hari Minggu (24/6/18).

Presiden Suriah Bashar al-Assad mempelajari strategi perang yang diterapkan pasukan Suriah untuk menyerang kubu pemberontak. (Foto: Istimewa)
Pemerintah Suriah menyatakan masih ingin menyelesaikan perang yang berkepanjangan di negara ini dengan jalan damai, terutama di wilayah Utara Suriah yang hingga kini masih bergejolak.

Meskipun begitu, Presiden Bashar al Assad tetap menegaskan dan berjanji akan merebut kembali seluruh wilayah Utara Suriah, dan apabila pasukan pemberontak tidak ingin menyerah maka Suriah akan mengambilnya "secara paksa". Assad juga berjanji akan mengusir keluar sisa pasukan pemberontak di Selatan Suriah.

Bashar al Assad menjelaskan bahwa sekarang Pemerintah Suriah menggunakan dua jalan demi tercapainya perdamaian di Utara dan seluruh wilayah Suriah. Pertama, merupakan jalan yang paling penting yaitu rekonsiliasi.

Kedua, adalah jalan terakhir yaitu tetap terus menyerang jika pasukan pemberontak/teroris menolak untuk menyerah dan berdamai dengan pemerintah Suriah. Kedua jalan ini dianggapnya sebagai jalan terbaik, setelah kemenangan absolut Pemerintah Suriah di Damaskus.

Pasukan pemberontak yang memfokuskan pertahanan di wilayah Utara Suriah, menjadi halangan terbesar Presiden Assad untuk kembali memegang kontrol seluruh wilayah Suriah. Sebelumnya, pemberontak, Pemerintah Suriah sudah memulai pergerakkan untuk melancarkan operasi militer besar di Selatan.

Presiden Bashar al-Assad berbincang dengan para tentara Suriah di sela makan bersama di desa Marj al-Sultan, Damaskus, Suriah. Tempat tersebut telah direbut kembali oleh tentaranya di pinggiran Ghouta Timur di sebelah timur Damaskus. (Foto: SANA via AP)

Serangan Rudal Berhasil Dihalau, Suriah Meledek Kekuatan Militer Amerika dan Sekutu

Sebuah sistem pertahanan Suriah menembakkan misil mencegat rudal-rudal yang ditembakkan Amerika Serikat dan Sekutu saat menyerang ibukota Damaskus. (Foto: presstv.com)
“Trump menghancurkan institusi ini, yang tidak memiliki koneksi untuk memproduksi senjata apa pun. Ini adalah kebohongan perang tentang senjata kimia yang diciptakan Trump. Pusat Sains dan Penelitian yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Suriah terbaik setiap tahun menjadi sasaran,"
DAMASKUS --- Aksi Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara sekutunya seperti Inggris dan Prancis yang menyerang Suriah secara tiba-tiba, mendapat perlawanan keras dari Suriah. Berniat ingin menunjukkan 'otot' dan 'taringnya' kepada dunia, AS dan sekutu justru mendapat cemoohan bukan hanya di dalam negeri mereka masing-masing, tapi justru oleh Suriah dan Rusia.

Pertahanan anti pesawat Suriah menembak jatuh rudal yang ditembakkan ke pangkalan udara Suriah Shayrat, Homs, dan pangkalan lain di timur laut Ibu Kota Damaskus. Televisi Suriah memperlihatkan gambar-gambar sebuah rudal yang ditembakkan di atas pangkalan udara.


Dilansir dari Reuters, Selasa (17/4/2018),  Serangan ini hanya beberapa saat setelah serangan AS dan Sekutu terhadap sejumlah sasaran di Suriah, sebagai pembalasan atas dugaan serangan bahan kimia di kota Douma di pinggiran Damaskus.

Televisi pemerintah tidak menyebutkan jumlah rudal yang ditembakkan ke bandara militer Dumair, timur laut Damaskus tersebut, namun media Hezbollah melaporkan sembilan serangan rudal Sekutu telah dicegat oleh sistem pertahanan udara Suriah.

Menurut sumber oposisi Suriah, pangkalan udara Dumair adalah pangkalan utama pasukan pemerintah untuk menyerang daerah kantong pemberontak di pinggiran Damaskus. Sedangkan Pangkalan udara Shayrat pernah menjadi target serangan rudal jelajah AS tahun lalu. 


Menurut AS, serangan itu sebagai balasan atas serangan kimia yang menewaskan sedikitnya 70 orang, termasuk anak-anak, di kota Khan-Khaniqun yang dikuasai pemberontak.
Sebuah gambar yang disiarkan oleh Angkatan Laut AS, menunjukkan kapal perang penjelajah USS Monterey (CG 61), menembakkan rudal Tomahawk, dari lepas pantai Suriah. (Foto: PTI)
Menurut laporan Suriah, selain dibantu kekuatan Sekutu, Israel juga ikut ambil bagian dalam agenda AS untuk menyerang Suriah. Namun, As membantah telah menyerang pangkalan militer Suriah, seorang juru bicara Pentagon mengatakan tidak ada kegiatan militer AS di daerah itu pada saat ini.

"Tidak ada kegiatan militer AS di daerah itu pada saat ini. Kami tidak memiliki detail tambahan untuk diberikan," kata Eric Pahond, seorang juru bicara Pentagon, Selasa (17/4).

Walau diperkuat hasil laporan Rusia, bahwa Zionis ada di belakang penyerangan pangkalan udara T-4 di Homs, Israel tetap tidak mengakuinya dan melalui seorang juru bicara militer mengatakan: "Kami tidak berkomentar tentang laporan seperti itu."

Suriah 'Meledek' Serangan AS dan Sekutu

Terkait aksi 'koboy' AS dan Sekutu terhadap Suriah, Penasihat politik Presiden Bashar al-Assad, Bouthaina Shaaban memuji sistem pertahanan udara Suriah. Pasalnya, sebagian besar rudal yang ditembakkan AS dan sekutunya pada akhir pekan lalu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Suriah.

"Pecahnya agresi jahat mereka adalah awal dari lenyapnya kekaisaran mereka, yang akan digantikan oleh kekuatan baru yang menghormati kemanusiaan, kedaulatan dan keamanan masyarakat," katanya seperti dilansir dari Press TV, Selasa (17/4/2018).

Perempuan berusia 65 tahun itu juga meledek tweet Trump sebelum serangan, yang memperingatkan Suriah dan sekutunya untuk bersiap-siap menghadapi serangan misil. Donald Trump menyebut bahwa misil-misil yang diluncurkan akan menghindari pertahanan udara Suriah karena mempunyai kualitas yang "baik dan baru serta cerdas."

Rudal sistem pertahanan Suriah mencegat serangan Rudal AS dan Sekutu di atas langit kota Damaskus. (Foto: AP)
“Fakta paling penting yang harus kita catat di sini untuk Trump adalah bahwa misilnya tidak cerdas, tidak akurat dan bahwa pertahanan udara Suriah telah memberikan bukti bahwa mereka lebih pintar dan akurat daripada misilnya. Dia harus berhati-hati tentang tweet-nya,” ledek Shaaban.

Shaaban menjelaskan, Serangan AS, Sekutu dan Israel alih-alih membuat Rakyat Suriah ketakutan dan mencari tempat perlindungan, justru malah kembali membangkitkan semangat juang dan persatuan Suriah. Kini warga Suriah malah keluar dari bunker-bunker perlindungan dan siap menyambut serangan Sekutu sampai titik darah penghabisan.

“Alih-alih orang-orang Suriah pergi ke tempat penampungan, mereka pergi ke atap untuk menyaksikan pasukan Suriah menembak jatuh sejumlah rudal Trump sebelum mereka dapat mencapai tujuan mereka," cetus Shaaban.

Hizbullah: Serangan AS dan Sekutu Telah Gagal Meneror Suriah

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah menyebut, serangan Barat terhadap Suriah gagal meneror negara itu. Melalui pidato yang disiarkan televisi dari ibu kota Lebanon di Beirut, Nasrallah menyatakan bahwa serangan ini dimaksudkan untuk menghancurkan tekad bangsa Suriah dan pasukan pemerintah, tetapi serangan itu malah meningkatkan ketahanan dan ketabahan mereka.

Petinggi Hizbulllah menyatakan,  AS dan sekutunya tidak dapat mencapai tujuan apapun dari serangan rudal tersebut. "Jika serangan ini ditujukan untuk meningkatkan moral kelompok bersenjata, itu benar-benar membuat mereka frustrasi!" Kata pemimpin Hizbullah itu.

Sebuah sistem pertahanan Pantsir-S1 menembakkan salah satu dari dua belas rudal permukaan ke udara 57E6-nya. Seperti halnya Buk-M2E dan Pechora-2M, sistem ini terutama terkonsentrasi di sekitar Damaskus dan Wilayah pesisir Suriah. Agar lebih berbaur dengan lingkungan di sepanjang pantai, banyak Pantsir-S1s yang telah dikamuflase agar sama dengan warna lingkungan padang gurun di sekitarnya, sehingga luput dari pandangan musuh. (Foto: Istimewa)
Dia menegaskan bahwa AS, Inggris dan Prancis bergegas untuk meluncurkan serangan rudal terhadap Suriah karena mereka tahu klaim mereka terkait serangan senjata kimia terhadap kota Douma Damaskus, tidak berdasar. "Mereka ingin menyelesaikan skenario sebelum ahli senjata kimia internasional dapat mencapai lokasi yang diduga," kata sekjen Hizbullah.

Menurut Nasrallah, militer AS dan Sekutu melakukan serangannya secara terbatas karena tahu serangan lebih luas bakal memicu pembalasan dari Damaskus, Moskow dan sekutu Suriah lainnya, termasuk dari Hizbullah. Sebab, Hizbullah dan Iran akan tetap menjadi sekutu utama Damaskus dan memenangkan perang Proxy untuk mengembalikan kedaulatan Suriah.

"Militer Amerika Serikat tahu betul bahwa AS bergerak ke arah bentrokan luas dan operasi besar melawan pemerintah dan tentara serta pasukan sekutu di Suriah tak akan ada akhirnya. Setiap bentrokan seperti itu akan mengobarkan semangat seluruh wilayah," kata Nasrallah dalam unjuk rasa di Bekaa, Lebanon.

Seperti diketahui, pada hari Sabtu (14/4), Suriah menjadi sasaran serangan agresi AS, Inggris dan Prancis dan Israel. Serangan yang dilakukan atas perintah Presiden  AS, Donald Trump tersebut, menargetkan Pusat Penelitian di Barzeh dan gudang untuk tentara Arab Suriah di Homs.

Barat melakukan agresi dengan alasan untuk menghancurkan senjata Kimia Suriah, dan menuduh Damaskus telah melakukan serangan kimia di kota Douma yang dikuasai militan ISIS dan kubu pemberontak.

Rudal 9M33 saat akan ditembakkan dari sistem pertahanan 9K33 Osa SAM. Suriah telah menerjunkan 9K33 sejak tahun 80-an untuk melindungi perbatasan dan bahkan digunakan untuk melindungi wilayah udara Lebanon. Sistem pertahanan ini kembali digunakan setelah kelompok militan Jaish al-Islam mendapat bantuan beberapa peluncur rudal dari Barat di Ghouta Timur pada tahun 2012. Suriah bahkan mengembangkan sistem pertahanan 9K33 agar dapat dioperasikan menggunakan helikopter SyAAF, di atas wilayah teritorial yang dikuasai Jaish al-Islam. (Foto: istimewa)
Namun tuduhan tak berdasar tersebut langsung dibantah Damaskus, sebab, Suriah telah menyerahkan seluruh persediaan bahan kimianya di bawah kesepakatan yang dinegosiasikan oleh Rusia dan AS pada 2013 lalu. Sedangkan menurut laporan Rusia, justru Inggris yang menjadi dalang dibalik serangan senjata kimia tersebut melalui tangan kubu pemberontak.

Penasihat politik Presiden Bashar al-Assad, Bouthaina Shaaban mengecam tuduhan kepala Pentagon Jim Mattis bahwa instalasi yang terkait dengan produksi senjata kimia telah dibom.

“Trump menghancurkan institusi ini, yang tidak memiliki koneksi untuk memproduksi senjata apa pun. Ini adalah kebohongan perang tentang senjata kimia yang diciptakan Trump. Pusat Sains dan Penelitian yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Suriah terbaik setiap tahun menjadi sasaran," tegas Shaaban.

Pejabat Suriah tersebut berpendapat, Barat sengaja menghancurkan pusat-pusat penelitian dan riset Suriah, karena ketakutan dan tak ingin Suriah atau negara-negara Arab yang menjadi musuhnya bisa menguasai teknologi tingkat tinggi. AS, Sekutu dan Israel takut jika Suriah mampu mempersenjatai dirinya dengan sains dan pengetahuan tersebut.

“Tanggapan nyata terhadap agresi, pendudukan, dan upaya mereka untuk melikuidasi Palestina dan mempermalukan orang Arab dan pan-Arabisme adalah memiliki lebih banyak ilmu dan pengetahuan, dan untuk mengembangkan kemampuan dan pertahanan udara dan laboratorium kami, dan untuk menghasilkan apa pun yang mengamankan kebutuhan generasi kita,” tukas Shaaban.

Sebuah rudal 9M317 saat akan diluncurkan dari transporter-erector-launcher 9A316 (TEL). 9A316 membawa empat radar ulang-alih. Dalam keadaan normal, batalyon Buk terdiri dari enam TELAR dan tiga TEL, yang dapat dibagi lagi menjadi tiga baterai dengan dua TELAR dan satu TEL masing-masing. Setiap batalion juga termasuk radar akuisisi target, kendaraan komando dan truk yang membawa lebih banyak muatan. Sistem pertahanan ini menjadi salah satu yang terkuat di Suriah. (Foto: istimewa)

Kalah di Berbagai Medan Pertempuran, ISIS Kehilangan Banyak Wilayah

Tentara Suriah merayakan kemenangannya setelah berhasil merebut kembali sebuah wilayah yang sebelumnya di kuasai ISIS. (Foto: Istimewa)
"Wilayah ISIS benar-benar telah menyusut, oleh karena itulah saat ini mereka memilih menerapkan pertahanan berlapis untuk menjaga wilayah yang masih mereka duduki,"
DAMASKUS -- Sempat menjadi momok yang sangat menakutkan, dengan serangan kilatnya menguasai hampir seluruh wilayah Irak dan Suriah, kini kelompok teroris ISIS mulai kehilangan sebagian besar wilayahnya. ISIS kehilangan wilayah seluas Irlandia atau seperempat dari wilayah kekuasaannya dalam 18 bulan terakhir akibat perang melawan musuh-musuhnya di Irak dan Suriah.

Dalam beberapa bulan ke depan ISIS diperkirakan akan menyerang warga sipil, demikian bunyi laporan IHS seperti dikutip Reuters. Wilayah kekuasaan ISIS telah menyusut dari 90.800 km persegi pada Januari 2015 menjadi 68.300 km persegi di Suriah dan Irak.

Kekalahan ini membuat ISIS menyerang penduduk sipil di Timur Tengah dan Eropa yang kemungkinan makin intensif.

"Mengingat khilafah ISIS menyusut dan semakin jelas kini bahwa proyek pemerintahan mereka gagal, telah membuat kelompok ini mereprioritasi gerilya," kata Columb Strack dari IHS.
Peta wilayah kekuasaan ISIS di Suriah dan Irak.
"Akibatnya, kami dengan menyesal memperkirakan adanya peningkatan dalam serangan korban massal dan sabotase infrastruktur ekonomi di seluruh Irak dan Suriah, dan medan lebih jauh lagi, termasuk Eropa."

ISIS Terdesak di Suriah

Serangan besar di Suriah dilancarkan pada saat yang bersamaan dengan operasi militer Irak buat merebut Fallujah dan Mosul yang dikuasai kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi tersebut. Selain itu, jantung kekuasaan ISIS di Libya, Sirte, kini juga sedang terdesak oleh manuver pasukan pemerintah.

Serangan besar dilancarkan aliansi Arab-Kurdi di utara Suriah untuk memotong jalur logistik Islamic State. Sementara itu pasukan pemerintah persatuan Libya mulai mendekat ke jantung kekuasaan ISIS di Sirte.

Pasukan Demokratik Suriah, sebuah aliansi militer yang didominasi kelompok Kurdi, menyerbu kota strategis Manbij, dengan bantuan serangan udara koalisi pimpinan AS. Dalam 24 jam terakhir koalisi itu melancarkan sebanyak 14 serangan udara.

Manbij berada di antara Jarablus, kota perbatasan yang dikuasai ISIS, dan Raqqa, ibukota kekhalifahan di Suriah. Selama ini ISIS menggunakan kota tersebut buat mendatangan logistik dari Turki ke Raqa, kara Jennifer Cafarella, analis Suriah utuk Institut Studi Konflik di Washington, AS.

Peta wilayah kekuasaan ISIS pada tahun 2016. Wilayah ISIS mulai menyusut setelah pasukan resmi pemerintah Suriah dan Irak mulai melakukan perlawanan balik.
Jika koalisi berhasil merebut Manbij dan Jarablus, ISIS bakal kesulitan mempertahankan akses ke perbatasan Turki. "Merebut kedua kota itu akan mengganggu, tapi tidak mengeliminasi kemampuan ISIS untuk menjamin pasokan logistik," tutur Cafarella.

Tentara Suriah Mulai Dekati Ibu Kota ISIS


Kelompok pemantau konflik di Suriah mengatakan, tentara Suriah telah menyeberangi perbatasan provinsi Raqqa pasca serangan besar-besaran Rusia terhadap ISIS.

Observatorium untuk HAM Suriah (SOHR) mengatakan, serangan udara Rusia deras melanda wilayah ISIS di sebelah timur provinsi Hama, Suriah, pada Jumat kemarin. Wilayah itu berbatasan dengan provinsi Raqaa dan membantu tentara Suriah mencapai wilayah pinggiran Raqqa.

Meski begitu, juru bicara tentara Suriah tidak mau berkomentar terkait kabar, ini seperti disitir dari laman Reuters, Sabtu (4/6/16).

Kota Raqqa secara de facto diumumkan sebagai ibukota kelompok Negara Islam Irak Suriah atau ISIS. Kota ini bersama dengan kota Mosul, Irak, menjadi target utama pasukan yang memerangi kelompok ekstrimis itu.


Serangan militer Suriah ke Raqqa adalah serangan militer terbesar ketiga terhadap basis ISIS. Sedangkan di Irak, pasukan pemerintah setempat juga melakukan serangan besar-besaran ke kota Fallujah, salah satu basis ISIS.
Konvoi kelompok ISIS berusaha lari meninggalkan medan perang Palmyra, saat pasukan pemerintah Suriah merebut kembali kota kuno tersebut. (Foto: Istimewa)

Terus Dibombardir Rusia, ISIS Sesumbar Akan Membunuh Presiden Putin

Menderita kekalahan bertubi-tubi sejak ikut campurnya Rusia di medan perang Suriah, kelompok teror ISIS mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Vladimir Putin. (Foto: express.co.uk)
“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.”
DAMASKUS -- Bantuan yang diberikan Federasi Rusia kepada pemerintahan Presiden Bashar Al Assad dalam menumpas kelompok teror ISIS di bumi Suriah dengan cepat mengubah peta pertempuran. ISIS yang sebelumnya sangat begitu kuat dan dibantu oleh Arab Saudi, dan beberapa negara teluk lainnya, kini berada di ujung kekalahan.

Hingga saat ini, wilayah kekuasaan ISIS yang sebelumnya membentang dari Irak, Suriah, hingga Libya, perlahan-lahan mulai menyusut, akibat terus mengalami kekalahan dalam menghadapi pasukan pemerintah dari masing-masing negara yang ingin merebut wilayahnya kembali.

Terus menderita kekalahan, ISIS pun dendam kesumat kepada tokoh yang menjadi biang keladi semua kesialan mereka, ya siapa lagi kalau bukan Presiden Rusia Vladimir Putin. ISIS pun mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Putin.

Seperti pada 31 Juli lalu, ISIS kembali memublikasikan sebuah video ancaman di YouTube. Dalam video itu tampak seorang pria yang mengenakan penutup wajah, berkata dengan mata tertuju pada kamera, “Putin, Anda dengar? Kami juga akan datang ke Rusia dan akan membunuh Anda di sana, insya Allah.” Ia lalu menyerukan agar para milisi Islam meluncurkan jihad di Rusia. 

Menurut laporan Reuters, tautan video tersebut dikirim oleh akun aplikasi Telegram yang terhubung dengan para milisi. Dalam video tersebut, kelompok ISIS memperlihatkan adegan pria bersenjata menyerang kendaraan lapis baja. Mereka juga menunjukkan tenda dan pengumpulan senjata di sebuah padang gurun.
Kelompok teror ISIS merekam propagannya melalui video dan menyebarkannya di dunia maya.
“Breaking menjadi barak penangkal militer di jalur internasional selatan Akashat,” bunyi teks dalam video ISIS, seperti dikutip Reuters, Senin (1/8/16).

Rekaman video itu tidak memberikan alasan mengapa Rusia dan Putin menjadi target. Namun, Rusia dan AS dalam beberapa hari ini telah membahas kerja sama militer dan intelijen dalam melawan ISIS dan Al-Qaeda di Suriah.

ISIS Serukan Muslim Rusia Bunuh Putin

Sebelumnya, pada Maret lalu sekelompok teroris Rusia yang berjanji setia kepada ISIS menyerukan jutaan warga muslim Rusia untuk mengangkat senjata dan melakukan serangan terhadap penduduk dan pemerintah Rusia lewat rekaman video yang beredar di dunia maya.

Kremlin menanggapi pesan teroris tersebut dengan menegaskan bahwa ancaman semacam itu tak akan mempengaruhi kebijakan Rusia dalam memerangi terorisme. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Kepresidenan Dmitry Peskov, yang menambahkan bahwa Rusia tak perlu pontang-panting menghadapi ancaman teroris yang ‘ekornya sedang diinjak-injak’.


ISIS memanggil para pengikutnya untuk melakukan jihad di Rusia karena operasi militer yang dilancarkan Angkatan Udara Rusia di Suriah menciptakan kerusakan serius bagi mereka, demikian disampaikan Vladimir Akhmedov, peneliti senior dunia Arab di Institut Studi Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat bertemu Presiden Suriah, Bashar Al Assad.
“ISIS benar-benar compang-camping. Berdasarkan beragam perkiraan, ISIS telah kehilangan sekitar 30 – 50 persen wilayahnya di Suriah,” kata sang pakar.

Sergei Goncharov, presiden asosiasi veteran antiteror internasional unit Alfa, juga sepakat dengan pandangan tersebut. Ia mengaitkan ancaman terhadap Rusia dengan serangkaian serangan baru-baru ini yang terjadi di sejumlah negara Barat. 


“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.” katanya.

Sejauh ini, ISIS belum melakukan aksi terorisme besar-besaran di tanah Rusia. Serangan terbesarnya sejauh ini ialah meledakkan pesawat penumpang Rusia Airbus A321 di atas Semenanjung Sinai, 31 Oktober 2015 lalu, yang menewaskan 224 jiwa. Namun demikian, para pakar mengingatkan bahwa ancaman teroris harus ditanggapi dengan serius.

“Ada sekitar dua ribu hingga empat ribu warga negara Rusia yang bertempur di pihak ISIS, sebagian besar warga suku Chechnya dan penduduk dari republik lainnya di Kaukasus Utara,” kata Vladimir Akhmedov. Seiring dengan kekalahan-kekalahan militer mereka di Suriah dan Irak, kemungkinan para milisi akan kembali ke Rusia dan melancarkan aksi terorisme, tambahnya.


Rusia Siap Hadapi Setiap Ancaman ISIS

Secara umum, pasukan keamanan Rusia dinilai mampu mengatasi ancaman dan mencegah para milisi kembali ke Rusia. “Perbatasan kita di bawah kendali. Para petugas di lapangan memiliki data para bandit yang bertempur di Suriah,” kata Goncharov.

Sebuah helikopter tempur Rusia membombardir basis pertahanan kelompok ISIS di Aleppo Selatan, Suriah. (Foto: Istimewa)

Ratusan Ribu Anggota Tewas, Militan ISIS Berada di Ujung Kekalahan

Para tentara pemerintah Suriah merayakan kemenangannya saat berhasil menguasai basis pertahanan ISIS di Kota Homs, Suriah. Sejak terbentuknya koalisi sejumlah negara dan kelompok pejuang Islam untuk mengalahkan ISIS, pergerakan kelompok teror tersebut kini mulai melemah. Dalam beberapa bulan saja dilaporkan puluhan ribu anggota ISIS tewas di berbagai macam medan pertempuran Irak dan Suriah. (Foto: Istimewa)

Terus Menerus Diserang, Militer Suriah Akhirnya Tembak Jatuh Jet Tempur Israel

Pasukan militer Suriah akhirnya bertindak tegas menghadapi sejumlah serangan yang dilakukan pesawat tempur Israel. Suriah menembak jatuh sejumlah pesawat tempur Israel, saat negara zionis itu berencana menyerang konvoi militer Suriah di perbatasan Golan.
"Tampaknya Presiden Suriah menyampaikan pesan ke Komando Utara Tentara Zionis melalui penargetan pesawat Israel. Kali ini rudal menghantam pesawat, namun siapa tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang?"
QUNEITRA -- Kesabaran pemerintah Suriah sepertinya sampai pada batasnya menghadapi sikap 'sok jagoan' militer Israel yang terus saja menerobos wilayah udara Suriah dan bahkan seringkali juga menyerang basis-basis pertahanan pemerintahan Damaskus.

Kini, Suriah bersumpah akan menembak jatuh setiap pesawat tempur negara zionis jika berani menerobos wilayah Suriah. Hal ini dibuktikan militer Suriah saat unit artileri tentara Suriah di dekat Dataran Tinggi Golan telah diserang oleh pesawat tempur Israel. Tanpa basa-basi Suriah pun langsung menembak jatuh pesawat tempur Israel tersebut, sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukan Suriah sejak terjadinya konflik lebih dari empat tahun lalu.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Suriah mengumumkan beberapa waktu yang lalu bahwa unit pertahanan udara di kabupaten itu dikerahkan di barat daya negara itu dan telah menembak jatuh dua pesawat Zionis Israel di provinsi Quneitra. Tidak ada detail lebih lanjut tentang jenis pesawat tempur dan korban serangan tersebut.


"Sebuah pesawat Israel, yang telah melanggar wilayah udara bagian Barat provinsi Quneitra, dilacak dan ditembak jatuh oleh rudal anti-pesawat Angkatan Darat Suriah pada jam-jam dini hari ini," kata pernyataan Staf Jenderal Suriah.
Peta lokasi ditembak jatuhnya pesawat tempur Israel oleh misil pasukan Suriah. (Gambar: Istimewa)
Sementara di hari berbeda, militer Suriah juga telah menembak jatuh sebuah pesawat pengintai dan drone di dalam wilayah Suriah, saat Israel mencoba menyerang posisi militer di Suriah. Jet tempur Israel, telah jatuh di daerah Quneitra barat dan pesawat tak berawak di daerah yang disebut wilayah Sa'sa yang terletak di Damaskus.

Media resmi Suriah SANA mengutip militer Suriah yang mengatakan bahwa pesawat Israel yang telah masuk ke dalam wilayah Suriah telah terdeteksi dan berhasil dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara negara itu saat mereka berusaha melancarkan posisi militer Suriah. Tentara Suriah meluncurkan dua rudal permukaan-ke-udara yang langsung melumat pesawat tempur Israel itu.

"Sementara itu, sebuah pesawat mata-mata tak berawak Israel juga ditembak jatuh oleh tentara Suriah di sisi Barat Sa'asa 'dekat Dataran Tinggi Golan," tambah pernyataan itu.


Setelah Tel-Aviv mendengar laporan tersebut, militer Israel membantah bahwa pesawatnya telah ditembak jatuh di Suriah, dan mengklaim bahwa dua rudal telah ditembakkan dalam serangan udara pada Quneitra namun gagal. Namun, harian Israel, melaporkan bahwa sebenarnya pemerintah Zionis mengakui hal tersebut, mengutip pernyataan seorang petinggi militer Israel.
Pasukan artileri Suriah terus membombardir posisi kelompok teror ISIS. Sebelumnya, keberhasilan ISIS dalam menguasai daerah di perbatasan Dataran Tinggi Golan tak lepas dari bantuan suplai senjata Israel. (Foto: Istimewa)
"Tampaknya Presiden Suriah Bashar al-Assad menyampaikan pesan ke Komando Utara Tentara Zionis melalui penargetan pesawat Israel. Dengan cara ini, Assad melakukan putaran pertama pembicaraan di era baru antara Israel dan Suriah. Kali ini rudal menghantam pesawat, namun siapa tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang?" kata harian Israel, Maariv.

Sejak terjadinya konflik di Suriah, setiap Israel melakukan penyerangan, militer Suriah hampir tidak pernah membalas, karena memfokuskan seluruh kekuatan mereka menumpas kelompok teror ISIS dan para pemberontak lainnya.


Kelemahan Suriah ini benar-benar dimanfaatkan zionis dengan terus menerus menyerang sejumlah basis pertahanan militer Suriah, dan juga menyuplai bantuan kepada para pemberontak maupun kelompok teror lainnya.

Tapi kini, setelah ISIS mulai hancur dan para pemberontak mulai menyerah, Suriah sepertinya ingin memberikan pembalasan yang menyakitkan kepada Zionis. Bahkan, Presiden Suriah, Bashar Al Assad sudah menyatakan akan membalas setiap serangan yang dilakukan militer Israel, baik kini maupun di masa depan dengan cara yang lebih menyakitkan.

Rakyat Suriah yang sebelumnya mengungsi, sudah mulai kembali ke kampung halamannya di Homs, sesaat setelah pasukan pemerintah Suriah berhasil merebut kembali wilayah Homs dari ISIS dan kelompok pemberontak lainnya. (Foto: Istimewa)

Keberanian Asma Assad Tolak Rayuan Musuh untuk Kabur dari Medan Perang Suriah

Ibu negara Suriah, Asma Assad, saat berusaha menenangkan seorang wanita yang menjadi korban perang di Homs, Suriah. (Foto: The New York Times)
"Tidak perlu jenius untuk mengetahui apa yang dinginkan mereka setelah saya pergi meninggalkan Suriah. Ide tersebut bukan untuk menyelamatkan saya dan anak-anak. Itu adalah sebuah usaha yang disengaja untuk menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap presiden mereka,"
DAMASKUS -- Negara Arab Suriah hingga kini masih bergelut dengan peperangan. Negara yang dulunya menjadi salah satu negara terkaya di dunia itu, kini telah hancur lebur menjadi puing-puing akibat perang. Walau telah lama berselang, ambisi negara sponsor seperti Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Israel, Qatar dan sejumlah negara anggota NATO untuk menumbangkan pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad, tetap tak terwujud dan Assad tetap tak tersentuh.

Saat permulaan perang, ketika Iran dan Rusia belum ikut campur membantu pemerintah Suriah, propaganda negara-negara Barat dan sebagian negara Arab teluk untuk menjelekkan citra dan pamor keluarga Assad di mata rakyatnya begitu kencang terjadi. Dengan dibantu media massa internasional, rezim Assad diidentikkan dengan kebrutalan, kesadisan, kejam dan diktator. Sesuatu yang tak pernah terbukti kebenarannya hingga kini.

Tak banyak yang tahu mengenai Presiden Suriah Bashar Al-Assad, media internasional bahkan menyebutkan gerak geriknya tak pernah bisa diprediksi. Namun, yang paling ingin diketahui dunia tentu saja keluarganya, terutama mengenai kehidupan istrinya Asma Assad, yang oleh media massa Barat diberikan gambaran sebagai wanita sosialita yang cinta kemewahan.

Presiden Suriah beserta istrinya Asma Assad, ikut serta memberikan suara dalam pelaksaanan pemilu di negara tersebut.(Foto: Sputnik International)
Anehnya, saat Asma dalam sebuah wawancara televisi menyatakan tidak akan pernah meninggalkan negaranya Suriah, sekalipun kematian menjemputnya dalam peperangan, media massa Barat kemudian seakan berhenti menjelek-jelekkan perempuan berusia 43 tahun tersebut.

Dalam sebuah wawancara, istri Presiden Suriah Asma Al Assad menceritakan bahwa ia memilih untuk tetap bertahan di tanah Suriah demi melanjutkan perjuangan bersama suaminya daripada kabur dan lari dari Suriah. Ia tidak peduli walaupun setiap hari gempuran kelompok pemberontak dan militan Suriah terus mengancam keselamatan ia dan keluarganya.

Asma mengatakan pernah ditawari suaka oleh negara-negara yang jadi musuh rezim Suriah. Suaka itu ditawarkan untuk perlindungan terhadap dirinya, anak-anaknya serta diberikan jaminan hidup mewah dan finansial.

Asma Assad saat mengunjungi para korban perang, akibat serangan kelompok ISIS dan pemberontak bentukan Amerika Serikat dan Arab Saudi.(Foto: The Guardian)
Pengakuan soal tawaran suaka itu diungkap Asma Assad dalam sebuah wawancara stasiun televisi Russia 24. Dia mengaku tidak tergoda tawaran suaka dan tidak akan meninggalkan Suriah sejak konflik pecah.

"Saya tidak pernah berpikir mencari tempat lain sama sekali. Benar bahwa saya pernah ditawari untuk kabur meninggalkan Suriah atau lebih tepatnya lari dari Suriah. Mereka akan menjamin keamanan dan perlindungan bagi anak-anak saya, dan bahkan kebutuhan finansial," kata Asma seperti dilansir Channel News Asia, Rabu (19/10/16).

Dalam pandangan Asma, ajakan tersebut merupakan sebuah jebakan terhadap dirinya. Sebab, kaburnya Asma ke negara lain dapat membuat kepercayaan masyarakat Suriah hancur terhadap kepemimpinan Presiden Bashar Al Assad.

Asma Assad ikut menjadi penyuluh dalam sebuah program rehabilitasi anak-anak yang menjadi korban perang di Suriah.(Foto: The Guardian)
"Tidak perlu jenius untuk mengetahui apa yang dinginkan mereka setelah saya pergi meninggalkan Suriah. Ide tersebut bukan untuk menyelamatkan saya dan anak-anak. Itu adalah sebuah usaha yang disengaja untuk menghancurkan kepercayaan masyarakat (Suriah) terhadap presiden mereka," ujarnya .

Ibu Negara Suriah yang lahir di London ini, mengakui bahwa semua pihak telah menderita dalam konflik Suriah yang sudah berlangsung lima tahun, di mana ratusan ribu orang telah tewas. 


Namun, dia kecewa dengan media Barat yang jarang menunjukkan penderitaan rakyat Suriah pendukung pemerintah yang diserang dan dibunuh oleh kelompok ISIS, pemberontak dan militer Barat.
Rakyat Suriah berebut berusaha untuk bisa mendekati dan mencium ibu negara mereka, Asma Assad di sebuah pusat perbelanjaan di Damaskus, Suriah.(Foto: Al Arabiya)