Jalur Militer: TIMUR TENGAH

Pertahanan Udara Khordad 15 Iran Jadi Mimpi Buruk AS di Timur Tengah

Ujicoba peluncuran Sistem Pertahanan Udara Khordad 15, oleh militer Iran. (Foto: tasnimnews.com)
TEHERAN -- Iran berhasil menguji sistem pertahanan udara produk dalam negeri. Sistem canggih itu diluncurkan pada Jumat, 22/11/19, dalam latihan militer berskala besar, dengan nama sandi "Guardians of Velayat Sky-98", di provinsi tengah, Semnan.

Sistem Pertahanan itu diberi nama Khordad 15. Khordad 15 adalah sistem pertahanan udara bergerak berbasis darat. Sistem senjata terdiri dari radar array bertahap yang mampu mendeteksi jet tempur, rudal jelajah, dan kendaraan udara tak berawak (UCAV) dari jarak 150 kilometer (93 mil) dan mampu melacaknya dalam jarak 120 kilometer (75 mil).

Sistem pertahanan udara ini dapat melibatkan hingga enam target secara bersamaan sambil mampu menembak jatuh mereka dalam waktu kurang dari lima menit setelah terdeteksi. Sistem ini juga dapat mendeteksi target siluman pada jarak 85 kilometer dan mampu menghancurkan target dalam jarak 45 kilometer.

Pengaturan sistem SAM mencakup dua truk militer. Satu dengan peluncur berputar persegi panjang yang berisi empat tabung rudal. Sistem pertahanan udara ini beroperasi bersamaan dengan misil Sayyad-3.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dinamai untuk menghormati demonstrasi 1963 di Iran, yang menurut kalender Iran dikenal sebagai pemberontakan 15 Khordad. Itu adalah serangkaian protes di Iran terhadap penangkapan Ayatollah Ruhollah Khomeini oleh rezim diktator Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang didukung Israel dan Amerika Serikat.

Sistem pertahanan udara Khordad 15 dirancang dan diproduksi oleh Organisasi Industri Penerbangan Iran (IAIO), dan diumumkan kepada publik pada 9 Juni 2019 dalam pidato Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami di Teheran, Iran.

Sistem Pertahanan Udara Khordad 15 Republik Islam Iran
Spesifikasi Khordad 15

Engaged Aerial Targets : 6
Performance
Max Detection Range    : 150 kilometer
Max Tracking Range     : 120 kilometer
Target's Max Altitude  : 27,000 meter (88,583 foot)
Weapon Max Range       : 120,000 meter
Time
Reaction Time          : 5 minute (300 second)

Ancaman Serius Bagi Militer AS dan Sekutu di Timur Tengah

Setelah diluncurkan, sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran, pada debut pertamanya langsung menggemparkan dunia. Sebuah Video yang dirilis memperlihatkan sistem pertahanan udara Khordad 15 bergerak meluncurkan rudal dari lokasi yang dirahasiakan di bagian selatan Iran pada Kamis dini hari. Rudal itu berhasil mengenai sasarannya di dalam wilayah udara Iran atau di atas provinsi Hormuzgan.

IRGC mengatakan bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara Khordad 3 untuk menembak jatuh drone Amerika yang canggih, yang dapat mencapai ketinggian hingga 18 kilometer. Iran juga mengatakan militer AS telah mematikan transponder pada pesawat, menerbangkannya dengan mode sembunyi-sembunyi.

IRGC menyatakan bahwa drone itu dari jenis RQ-4 Global Hawk. Triton adalah versi Global Hawk yang sedikit dimodifikasi dan sebagian besar dibuat dari komponen-komponennya. Tak lama kemudian, Iran memberikan koordinat peta yang tepat di mana drone ditembak.

AS awalnya membantah bahwa ada drone mereka yang ditembak jatuh oleh militer Iran, namun kemudian mengakui setelah itu. AS bahkan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menghasilkan koordinat peta, dengan menuduh bahwa drone telah ditargetkan di wilayah udara internasional.

Beberapa jam kemudian, para pejabat militer Amerika mengkonfirmasi bahwa pesawat tak berawak MQ-4C Triton milik Angkatan Laut AS telah ditembak jatuh di “wilayah udara internasional” dekat Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Angkatan Laut Amerika telah dikirim ke daerah itu untuk mengambilnya.

Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan militer AS untuk melakukan serangan balasan terhadap beberapa posisi di Iran tetapi kemudian secara tiba-tiba membatalkan serangan.

The New York Times juga telah melaporkan bahwa para pejabat pertahanan AS “terkejut” oleh kemampuan Iran untuk menurunkan “drone Amerika di ketinggian tinggi, yang dikembangkan untuk menghindari rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk menjatuhkannya.”

Pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia. (Foto: Erik Hildebrandt/Northrop Grumman/Handout via REUTERS)
“Ini adalah unjuk kekuatan,” kata Times mengutip Derek Chollet, mantan asisten menteri pertahanan AS untuk urusan keamanan internasional, sebagaimana dikatakan.

Becca Wasser, seorang analis di Rand Corp, mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, dan menggambarkan fakta “signifikan” bahwa sistem tersebut buatan dalam negeri.

“Penembakan drone menunjukkan kemampuan Iran, dan pesan kuat ke Amerika Serikat. Fakta bahwa Iran dapat menembak drone menunjukkan bahwa mereka telah mengembangkan atau membeli kemampuan yang cukup signifikan dan terampil dalam menggunakan sistem ini,” tambahnya.

Mantan kepala badan intelijen Prancis, yang berbicara dengan syarat anonim, juga mengatakan kepada AFP pada hari Selasa, bahwa bahkan jika militer AS mengirim sejumlah besar pesawat ke Iran, harus dipersiapkan untuk kerugian karena pertahanan udara Iran akan siap untuk terlibat.

Iran mengembangkan sistem dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan rudal dan ancaman udara lainnya mengingat kehadiran pasukan ekstra-regional yang dipimpin Amerika Serikat, di pangkalan di negara-negara di sekitar Iran.

Iran semakin bergerak cepat memperkuat postur pertahanan mereka di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan upaya gagal Eropa untuk menegakkan komitmennya terhadap perjanjian nuklir Iran 2015.

Titik lokasi ditembak jatuhnya pesawat tanpa awak (UAV) Triton RQ-4A Global Hawk, Angkatan Laut Amerika Serikat oleh sistem pertahanan udara Khordad 15 Iran di teluk Persia.

AS Ingkar Janji, Iran Bangkitkan Kembali Fasilitas Nuklir Rahasia

Keputusan sepihak Amerika Serikat yang keluar dari perjanjian nuklir Iran, dibalas oleh Teheran dengan mengaktifkan kembali sejumlah fasilitas nuklir rahasia negara itu.
TEHERAN -- Iran kembali melanjutkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanahnya, Fordow, dengan target pengayaan 5 persen. Dikutip dari RT.com, kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi mengumumkan pada Selasa bahwa Iran akan mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas bawah tanah, dan mengatakan bahwa fasilitas itu memiliki kapasitas untuk memperkaya hingga 20 persen jika diperlukan.

Media pemerintah Iran melaporkan hari Rabu bahwa 2,800 kg silinder yang memuat 2.000 kg prekursor pengayaan uranium hexafluoride telah dipasang di Fordow. Di bawah kesepakatan 2015, Iran berkomitmen untuk mengurangi kemurnian uranium yang diperkaya menjadi 3 persen dan pengayaan dilarang di fasilitas Fordow.

"Setelah semua persiapan yang berhasil, injeksi gas uranium ke sentrifugal dimulai pada hari Kamis di Fordow, semua proses telah diawasi oleh inspektur pengawas nuklir AS," kata Badan Energi Atom Iran (AEOI) pada Kamis, seperti dikutip dari Reuters, 7 November 2019.

Perjanjian nuklir Iran 2015 melarang pengayaan dan bahan nuklir dari Fordow. Tetapi dengan bahan baku gas memasuki sentrifugalnya, fasilitas yang dibangun di dalam gunung, akan berpindah dari status yang diizinkan dari fasilitas penelitian menjadi situs nuklir aktif.

Di bawah pakta tersebut, Iran setuju untuk mengubah Fordow menjadi pusat nuklir, fisika dan teknologi, di mana 1.044 sentrifugal digunakan untuk tujuan selain pengayaan, seperti memproduksi isotop stabil, yang memiliki berbagai kegunaan sipil.

Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir, di mana perjanjian tersebut mengekang program nuklirnya dengan imbalan penghapusan sebagian besar sanksi internasional, setelah Amerika Serikat mengingkari perjanjian tahun lalu.

"Prosesnya akan membutuhkan beberapa jam untuk stabil dan pada hari Sabtu, ketika inspektur Badan Energi Atom Internasional akan kembali mengunjungi situs tersebut, tingkat pengayaan uranium 4,5% akan tercapai," kata juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi kepada TV pemerintah.

"Semua sentrifugal yang dipasang di Fordow adalah tipe IR1. Gas uranium (UF6) disuntikkan ke empat rantai sentrifugal IR1 (696 sentrifugal). Dua rantai tersisa lainnya dari sentrifugal IR1 (348 sentrifugal) akan digunakan untuk memproduksi dan memperkaya isotop stabil di fasilitas tersebut," kata Kamalvandi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan Teheran tidak memiliki alasan yang dapat dipercaya untuk memperluas program pengayaan uraniumnya dan Washington akan melanjutkan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Iran sampai ia mengubah perilakunya.


Iran Balas Pengkhianatan AS

Iran dan Rusia, pada Minggu 10 November 2019, meresmikan tahap konstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr. Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 km selatan Teheran.

Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), dan Wakil Kepala Badan Nnuklir Rusia (Rosatom), Alexander Lokshin, meluncurkan tahap baru pada upacara pembangunan awal di mana beton dituangkan ke pangkalan reaktor, demikian seperti dikutip dari the Japan Times, Senin (11/11/2019).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kami akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Iran tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir. Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga lanjutannya di masa depan, menurut AEOI. Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Teheran untuk reaktor nuklir penghasil listriknya.

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau 'Iran nuclear deal' 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama dunia, termasuk Rusia, menempatkan pembatasan pada jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Teheran dan produksibahan bakar nuklirnya. Tetapi, perjanjian itu tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

Menurut pakta itu, Iran dituntut untuk mengurangi stok uranium hingga 98 persen dan berhenti menjalankan program pengembangan senjata nuklir untuk tujuan militer. Kepatuhan Iran akan ditukar dengan pencabutan sanksi dari para negara penandatangan.

kelangsungan hidup kesepakatan JCPOA 2015 telah terancam sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada 8 Mei 2018, memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang menekan Negeri Paramullah.

Menanggapi pengkhianatan dan penjatuhan sanksi yang kembali dilakukan oleh AS terhadap Iran, Teheran kembali mengaktifkan secara bertahap seluruh fasilitas nuklir rahasianya yang sebelumnya sempat ditutup demi menghormati pakta perjanjian nuklir tersebut sejak Mei 2019.


Menanggapi kebijakan tekanan maksimum Washington, Iran telah melewati batasan kesepakatan selangkah demi selangkah, termasuk melanggar batasan pada uranium yang diperkaya yang ditimbun dan pada tingkat pengayaan fisil.

Iran pada hari Senin mengatakan sedang mengembangkan sentrifugal canggih yang dapat memperkaya uranium lebih cepat. Langkah Iran ini akan semakin memperumit peluang menyelamatkan perjanjian.

Rintangan terbesar untuk membangun senjata nuklir adalah mendapatkan bahan fisil yang cukup, yakni uranium atau plutonium yang sangat diperkaya, untuk inti bom. Tujuan utama kesepakatan nuklir 2015 adalah untuk memperpanjang waktu yang diperlukan Iran untuk membangun senjata nuklir, dari 2 hingga 3 bulan menjadi satu tahun.

Kisruh seputar pakta itu selama setahun terakhir telah menjadi salah satu faktor penyulut eskalasi tensi hubungan antara Iran - AS dan Iran dengan negara Barat lainnya, serta menuai kekhawatiran akan konflik diplomatik hingga geo-politik.

Situs reaktor nuklir Iran di wilayah Fordow saat dilihat dari satelit militer Amerika Serikat. Situs nuklir ini memiliki sistem keamanan yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan. (Foto: Istimewa)
Berbicara pada konferensi pers di akhir kunjungan ke Cina, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah terbaru Iran sebagai kabar buruk, dan ia akan berbicara dengan Trump dan Iran dalam beberapa hari mendatang.

Sejarah Panjang Pengembangan Nuklir Iran

Pada awal 1957, AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan AS. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan AS.

AS mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik.

Namun badan rahasia AS, CIA, menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom.

Pada tahun 2003, Badan Energi Atom Internasional, IAEA, menyatakan bahwa mereka menemukan pabrik uranium berkadar tinggi di Natanz, Iran. Produksi uranium Iran sempat dihentikan, namun pada tahun 2006 Iran kembali memproduksi setelah mengadakan perjanjian dengan IAEA.


Pada akhir tahun 2006 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi terhadap Iran karena tidak juga menghentikan program nuklirnya. Sanksi kemudian meluas menjadi larangan jual beli senjata, larangan berkunjung, larangan jual beli minyak dan larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama tujuh tahun.

Sanksi tersebut melumpuhkan perekonomian Iran karena harga minyak turun dan mata uang Iran turun 80%. Tahun 2012 Iran bahkan mengalami inflasi. Tapi seakan tidak jera setelah diselidiki oleh AS, Iran malah menambah produksi uraniumnya menjadi 19 ribu sentrifugal yang awalnya hanya berjumlah 3.000 sentrifugal pada tahun 2007.

Pemerintah AS percaya bahwa sanksi yang diberikan cukup membuat Iran jera. Presiden Iran Hassan Rouhani juga dinilai lebih terbuka dari presiden sebelumnya sehingga lebih mudah diajak bernegoisasi.

Sebuah kelompok anti-nuklir di AS mengatakan bahwa jika Iran tidak dicegah, Iran dapat memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu sebulan. Namun menurut Mark Hibbs, seorang ahli kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, jika Iran terus dicegah, Iran baru bisa memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu satu hingga tiga tahun.

Negara barat menuntut agar Iran mengurangi 20% kadar uranium yang sedang diproduksi. Selain itu Iran juga harus mengurangi stok uranium, berhenti membangun fasilitas pengayaan uranium baru dan menghentikan reaktor di Arak, yang dapat menghasilkan plutonium bahan alternatif untuk bom nuklir.

Iran meminta negara Barat mengurangi sanksi dan memperbolehkan Iran memproduksi uranium berkadar rendah sesuai perjanjian Non-Proliferasi (pembatasan kepemilikan senjata nuklir) yang telah ditandatangani Iran pada 1 Juli 1968.

Iran Mampu Buat Senjata Nuklir dalam Hitungan Bulan 


Israel merupakan negara yang paling "getol" menentang pengembangan nuklir Iran. Musuh bebuyutan Teheran itu merasa terancam jika Iran berhasil membuat senjata nuklir di kawasan bergejolak tersebut.
Sejumlah situs reaktor nuklir Iran, yang disebar di sejumlah wilayah negara itu. (Gambar: Istimewa)

Rudal S-300 Suriah Ubah Peta Kekuatan di Timur Tengah

Kebijakan pemerintah Rusia dengan menempatkan rudal sistem pertahanan udara S-300 di Suriah, membuat perimbangan kekuatan di Timur Tengah menjadi berubah. Militer Israel dan Amerika Serikat yang dulu sangat mendominasi di kawasan tersebut, kini mulai tertekan dengan kehadiran rudal pertahanan udara canggih tersebut. (Foto: debka.com)
TEL AVIV -- Media-media massa Israel menanggapi serius pengiriman sistem antirudal S-300 oleh Rusia ke Suriah. Stasiun televisi Israel Chanel 9, menyebut Angkatan Udara Israel akan menghadapi mimpi buruk. The Jerusalem Post mengatakan, keberadaan sistem rudal canggih S-300 akan benar-benar mendongkrak kapabilitas militer Suriah.

Sementara media Haaretz dalam headline-nya, menulis "Kehadiran S-300 di Suriah Membuat Israel Berpikir Dua Kali di Aksi Berikutnya". Haaretz menambahkan, saat ini jadi masa paling sulit bagi Tel Aviv menyikapi perkembangan ini. 


Sedangkan surat kabar Ynetnews menyebut kedatangan rudal S-300 di Suriah adalah kabar buruk bagi Israel.

Sebab, rudal balistik itu akan membatasi manuver armada udara Israel yang selama ini begitu leluasa menerbangi wilayah Lebanon dan Suriah. 


Bukan hanya Israel, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu yang menjadi musuh utama Damaskus juga mencemaskan pengiriman rudal S-300 ke Suriah.

Kebijakan Moskow mengirim misil S-300 ke Suriah dipicu akibat ditembak jatuhnya pesawat pengintai Il-20 Rusia di atas langit Suriah. Peristiwa nahas tersebut menewaskan 15 tentara Rusia.

Menurut Rusia, pesawat itu secara keliru ditembak jatuh oleh rudal S-200 Suriah, yang sebetulnya diarahkan ke jet tempur Israel F-16 yang tengah menyerang negara tersebut. 


Namun, salah satu pilot F-16 berhasil menghindari tembakan itu dan mengalihkannya ke pesawat Rusia yang memiliki permukaan pantulan lebih besar. Tak terelakkan, pesawat Rusia menjadi sasaran empuk rudal S-200 dan meledak di udara.

Menanggapi hal ini, Moskow langsung mengambil langkah khusus demi mencegah terulangnya tragedi serupa. Karena itu, Moskow hendak melengkapi pertahanan udara Suriah dengan sistem yang dua kali lebih baik.

Selain mengirimkan sistem antirudal S-300, Menhan Rusia Sergei Shoigu menegaskan, Rusia akan menetapkan larang terbang di wilayah Latakia hingga lepas pantainya. Zona larangan terbang ini akan memangkas pergerakan Israel dan pesawat asing lainnya.


Lalu, sebenarnya secanggih apa misil pertahanan udara S-300 buatan Rusia tersebut, hingga mampu membuat Israel dan sekutunya seperti "terkencing-kencing" ketakutan?

Kecanggihan Rudal S-300 Buatan Rusia

S-300 (pelaporan nama NATO: SA-10 Grumble) adalah serangkaian sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara yang dikembangkan pada tahun 1970-an, dan menjadi tulang punggung pertahanan udara Rusia pada era Uni Soviet.

Kemampuan rudal sistem pertahanan udara S-300 dalam membentengi wilayah Iran dari serangan musuh. Sebelum Suriah, Iran telah lebih dulu membeli dan menginstal rudal S-300 di sejumlah titik strategis negara tersebut. (Infografis: graphicnews)
Misil canggih ini mengambil DNA dari rudal S-75 yang merupakan misil SAM pertama yang dimiliki Uni Soviet. S-75 adalah rudal legendaris, yang telah menembak jatuh pesawat mata-mata U-2 Amerika Serikat di atas ruang udara Uni Soviet pada tahun 1960, dan mempermalukan pemerintahan Presiden AS, Eisenhower.

Rudal yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan pertahanan Rusia, NPO Almaz-Antey tersebut, mempunyai jarak tembak 150 km dengan kecepatan 4 Mach. 


Dalam upgrade versi terbaru, daya jangkau S-300 ditingkatkan hingga mencapai 300 kilometer, dan memiliki alat pelacak jet dan roket. Rudal pintar ini juga mampu menyergap benda yang terbang rendah maupun tinggi (25M- 25KM).

Awalnya misil S-300 dikembangkan sebagai benteng pertahanan Angkatan Udara Uni Soviet dari serangan rudal jelajah dan rudal balistik Amerika Serikat dan sekutu. Kemampuan S-300 semakin berkembang dan kini mampu mendeteksi, menyergap dan menghancurkan Pesawat tempur, Helikopter, Drone, Roket Balistik, serta Peluru Kendali antar-benua (ICBM).


Walau masuk kategori alutsista keluaran lama, S-300 masih dianggap sebagai sistem pertahanan udara terkuat di dunia, sebelum keluarnya misil pertahanan udara generasi terbaru buatan Rusia lainnya seperti misil S-400 dan S-500. Sejumlah analis militer menyatakan S-300 Rusia setara dengan rudal Patriot AS, bahkan dalam beberapa spesifikasi, S-300 lebih unggul dari Patriot AS.
 
Sistem pertahanan S-300 dapat melacak hingga 12 target serangan, dimana enam baterai rudal lainnya bisa menyasar objek yang terpisah dan berbeda secara bersamaan. 


Misil S-300 adalah sistem pertahanan mobile yang dirancang untuk memukul mundur dan menghancurkan serangan udara besar-besaran, dimana tingkat akurasi yang diciptakan S-300 mampu menghancurkan 80 hingga 95 persen formasi pesawat tempur musuh.

Hingga kini, tidak ada satupun jet tempur di dunia yang bisa menandingi kecepatan misil S-300, yang mampu mencapai kecepatan di atas 7200 km / jam dan mampu mencapai ketinggian maksimum 98.000 kaki.


Bahkan pada pengembangan versi terbaru, misil S-300 mampu menembak jet tempur yang berusaha bersembunyi dari jangkauan radar dengan terbang rendah 20 kaki di atas permukaan laut.

Pengiriman misil S-300 ke Suriah akan mendongkrak kekuatan militer Damaskus secara signifikan. Sebab selama ini untuk mempertahankan ruang udara wilayahnya, Suriah hanya mengandalkan misil permukaan-ke-udara jangka panjang SA-5 atau biasa juga disebut S-200 buatan Uni Soviet yang diproduksi pada akhir 1960-an.

Rudal S-200 Suriah yang sudah tua hampir benar-benar tak berdaya melawan kecanggihan jet-jet tempur generasi terbaru, drone maupun rudal balistik Israel dan AS. Sistem pertahanan udara terbaru yang mereka miliki hanya rudal jarak pendek Pantsir S-1.

Rudal pertahanan udara S-300 mampu membentengi seluruh wilayah udara Suriah dari serangan Israel dan Amerika Serikat. (Infografis: RT.com)
Namun dengan memiliki S-300, Suriah mampu mendeteksi jet tempur Israel, 107 detik saat tinggal landas dari pangkalan udara Tel Aviv. Artinya Suriah mampu mengunci pergerakan jet tempur Israel bahkan hingga di dalam basis pertahanan terdalam sekalipun.

Misil S-300 yang dimiliki Suriah menjadi momen penting, sebab ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Timur Tengah, bangsa Arab akan memiliki kemampuan untuk menembak jatuh pesawat tempur Israel di atas wilayah negara zionis tersebut.

Robert Hewson, editor IHS Jane, menggambarkan sistem S-300 sebagai alat yang tangguh dan dihormati oleh para perencana militer Barat. "Jika rencana Anda adalah melenggang ke wilayah udara Suriah dan memulai pengeboman, ini adalah kesalahan terbesar," kata Hewson.

Sebagai contoh, S-300 dapat mengeliminasi jet-jet tempur taktis dan pengebom canggih yang dilengkapi teknologi siluman. S-300 dapat menangkis rudal jelajah Tomahawk (salah satu senjata utama kapal perusak AS) dan rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.500 km, serta rudal jarak pendek yang diluncurkan dari negara-negara tetangga Suriah.

Tak hanya itu, S-300 dapat beroperasi bahkan ketika sistemnya dikacaukan oleh perangkat peperangan elektronik lainnya. Selain sulit dilumpuhkan S-300 juga sangat sulit dideteksi pergerakannya.

S-300 akan semakin mematikan jika digunakan bersama-sama dengan artileri anti-pesawat (AAA) dan pesawat tempur. Cara kerjanya rudal S-300 mendorong pesawat musuh ke dalam "perangkap buta" di mana baterai AAA dan pesawat tempur menunggu mereka.

Salah satu yang paling ditakuti oleh AS dan sekutunya mengenai sistem pertahanan S-300 adalah, mampu menjiplak navigasi satelit, radar onboard dan sistem komunikasi pesawat tempur musuh yang berusaha menyerang sasaran.

Tidak cukup sampai disitu, perangkat S-300 juga mampu mengcopy dan menyalin semua data, sistem dan kecanggihan pesawat tempur musuh yang sudah masuk dalam jangkauan perangkap radarnya.

Saat ini Rusia sudah mengembangkan hingga tiga varian rudal S-300, dan beberapa sub varian lainnya yang memiliki kecanggihannya masing-masing. Diantara varian tersebut adalah: basis darat S-300P (SA-10), basis laut S-300F (SA-N-6), basis laut S-300FM (SA-N-20), S-300V (SA-12), S-300PMU-1/2 (SA-20), S-400 (SA-21) dan S-300VM (SA-X-23).

Versi S-300P diletakkan di atas truk mirip peluncur rudal balistik, S-300F untuk di kapal perang, dan terakhir S-300V yang dibopong kendaraan beralaskan track, mirip 9K37 Buk (SA-11 'Gadfly'). Yang terakhir ini juga dikenal dengan nama Antey-300.

Saat Iran menekan perjanjian kerja sama pembelian rudal S-300 dari Rusia, Israel sebenarnya sudah langsung melakukan penelitian untuk mencari cara melumpuhkan sistem pertahanan udara canggih tersebut.

Reuters melaporkan, Israel dengan dibantu AS, pada tahun 2015 pernah berlatih melawan sistem rudal S-300 yang dipasok oleh Rusia di Yunani. Yunani adalah satu-satunya negara anggota NATO yang membeli rudal S-300 buatan Rusia. Tapi hingga kini upaya itu belum juga berhasil.

Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)

Israel dan AS Ketar-Ketir Hadapi Rudal S-300 Suriah

Israel dan sekutunya, Amerika Serikat mengecam keras kebijakan Rusia dengan mengirim sistem pertahanan udara rudal S-300 ke Suriah. (Sumber foto: AP)
DAMASKUS -- Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, rezim Suriah telah menempatkan empat sistem pertahanan rudal anti-pesawat S-300 Rusia di belahan utara negara itu. Hal ini diketahui dari rilis rekaman yang diambil oleh satelit Israel yang menunjukkan salah satu peluncur sudah dipasok oleh Rusia ke Suriah.

Menurut Haaretz, salah satu sistem pertahanan udara S-300 dikerahkan di daerah Musyaf, sebelah utara kota Homs. Kawasan itu memiliki jaringan industri senjata Suriah di mana Iran dan Suriah telah berusaha memproduksi senjata presisi untuk Hizbullah. Israel telah menyerang wilayah itu beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Sedangkang Izvestia, pada hari Jumat (19/10/2018), melaporkan, Rusia telah memasok militer Suriah dengan sistem pertahanan rudal S-300PM-2, versi lain dari S-300 yang lebih canggih. Pengiriman senjata pertahanan itu untuk melawan serangan Israel.

Misil S-300PM-2 yang dipasok ke militer Damaskus memiliki sistem radar dan komunikasi yang lebih canggih. Senjata pertahanan itu telah digunakan oleh tentara Rusia sejak 2010.

Laporan yang mengutip pejabat di Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, tiga baterai dari sistem S-300PM-2 telah ditransfer ke Suriah. Sistem baru ini merupakan pasokan tambahan dari baterai S-300 yang dikirim Moskow awal bulan ini. Secara bertahap, Rusia akan mengirimkan hingga delapan bateral misil S-300 ke Suriah.

"Pos komando pasukan Suriah dan unit pertahanan udara militer akan dilengkapi dengan sistem kontrol otomatis, yang telah disediakan hanya untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Ini akan memastikan manajemen terpusat dari semua kekuatan pertahanan udara Suriah, fasilitas, pemantauan situasi di wilayah udara dan penetapan target yang cepat," kata Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu.


"Yang paling penting, S-300 akan memastikan identifikasi semua pesawat Rusia oleh pasukan pertahanan udara Suriah," tegas Shoigu, menjelaskan cara kerja misil S-300 di Suriah.
Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)
Israel dan Amerika Serikat "Ketar-Ketir" Hadapi Misil S-300 Suriah

Israel dan Amerika Serikat (AS) mengecam keras pengiriman rudal S-300 ke Suriah. Bahkan Israel dan AS sudah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan masuknya rudal canggih tersebut ke wilayah Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon mengatakan, pengiriman misil S-300 ke Suriah merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Israel memperingatkan Rusia bahwa kebijakan Moskow untuk mengirim misil S-300 ke Suriah dapat membahayakan kawasan Timur Tengah.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga sudah berulang kali melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, agar membatalkan pengiriman S-300 ke Suriah. 


Bahkan pada tanggal 9 Oktober, Netanyahu berbicara langsung dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Maxim Akimov di Yerusalem, agar Moskow menghentikan pengiriman S-300 tersebut.

Israel membujuk Rusia dan beralasan tidak akan lagi menjadikan jet-jet tempur Rusia di Suriah sebagai target sasaran mereka. Israel berkilah, operasi militer yang mereka lakukan selama ini di Suriah hanya menyasar pabrik dan gudang-gudang persenjataan Iran yang sering digunakan oleh milisi Hizbullah.

Selain berusaha melobi Rusia, Pemerintah Israel, berusaha mempengaruhi Dewan Keamanan PBB agar mengambil sikap terkait tindakan Rusia tersebut. PM Netanyahu sempat mengadakan pertemuan dengan DK PBB untuk membahas perkembangan. Bersama sekutunya Presiden AS, Donald Trump, dia mendesak masalah ini diangkat di Majelis Umum PBB.

Sedangkan Menteri Energi Israel Yuval Steinitz mengatakan, Kabinet Keamanan Israel mengakui penempatan S-300 di Suriah adalah masalah yang problematik bagi militer Israel. "Dan itu bisa juga untuk Amerika. Ini adalah sistem yang tentu menyulitkan kami dan membutuhkan solusi untuk ditemukan," kata Steinitz dikutip dari Army Radio.

Seirama dengan Israel, AS pun mengutuk Rusia yang mengirim rudal S-300 ke Suriah. Jenderal Joseph Votel, Komandan pasukan AS di Timur Tengah mengatakan, pengerahan S-300 itu hanya akan memicu eskalasi dan respons spontan yang tidak perlu, dan menuding senjata anti-pesawat itu hanya untuk melindungi kejahatan rezim Iran dan Suriah.

Presiden Suriah Bashar al-Assad saat bertemu dengan sekutu kuatnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Sumber foto: ndtv.com)

Misil S-300 Bentengi Iran dari Serangan Amerika dan Israel

Peluncuran sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. Setelah melalui jalan yang panjang dan melelahkan, Republik Islam Iran akhirnya kini memperoleh sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. Diyakini kecanggihan teknologi S-300 akan merubah peta kekuatan di Timur Tengah. (Foto: istimewa)
"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami,"
JAKARTA -- Sebagai sebuah negara adidaya, Amerika Serikat ternyata hingga kini belum juga bisa menyentuh negara yang paling dibencinya di Timur Tengah, yaitu Iran. Walau AS dan negara-negara sekutunya sudan menjatuhkan sanksi berkali-kali kepada negara para mullah tersebut, Iran bukannya melemah tapi justru semakin kuat dan mandiri.

Salah satu yang dikagumi kalangan internasional saat ini terhadap Iran adalah kemandirian dalam membangun dan menciptakan teknologi terbaru terutama dalam hal persenjataan dan sistem pertahanan.

Meski beribu sanksi menghadang, Republik Islam Iran mampu menciptakan inovasi dan peralatan tempur secara mandiri, walau AS, Israel dan sekutunya tetap berusaha menghalangi upaya Iran tersebut.

Berita terheboh saat ini mengenai Iran adalah pembelian sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. AS, Israel dan para sekutunya selama ini terus berusaha menghalangi Iran memiliki sistem pertahanan canggih tersebut. Karena dikhawatirkan akan mengancam hegemoni Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Atase Militer Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Kolonel Shahriar Dasin mengatakan, dirinya sudah tidak merasa aneh dengan sikap Amerika Serikat (AS) yang coba menjegal upaya Iran membeli jet tempur Su-30 dari Rusia. Menurutnya, hal semacam itu sudah dilakukan AS sejak tiga dekade lalu.

"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami," ucap Dasin pada Jumat (15/4).

Daya jangkau sistem pertahanan udara S-300 yang dibeli Iran dari Rusia, jika ditempatkan di kawasan Timur Tengah. (Gambar: istimewa)
Dasin menuturkan, meski Iran sedang mencoba membeli sejumlah peralatan militer dari negara lain, tapi fokus utama Iran sejatinya adalah mengembangkan sendiri alutista dan persenjataan mereka. Hal ini dilakukan agar di masa depan Iran tidak bergantung pada negara lain. 

S-300 Membuat Iran Kebal dari Serangan

Terkait pembelian sistem pertahan udara S-300 itu, analis politik asal Turki, Hakan Gunes menuturkan, sistem pertahanan udara S-300 akan membuat Iran kebal dari ancaman Israel dan Arab Saudi, dua rival terbesarnya di Timur Tengah.

"Israel dan Arab Saudi lebih dari sekali membuat pernyataan tentang serangan rudal jarak menengah pada infrastruktur Iran. Pernyataan-pernyataan ini menjadi tidak relevan sekarang, bila melihat fakta Iran telah menerima S-300," kata Gunes, seperti dilansir Sputnik pada Jumat (15/4).

Dirinya juga menuturkan, S-300 sejatinya bukanlan senjata yang ditujukan untuk menyerang, tapi senjata yang didesain untuk bertahan. Sehingga, S-300 pada faktanya tidak akan memberikan ancaman kepada negara lain.


Namun, lanjut Gunes, akibat pernyataan-pernyataan yang kerap dibuat Saudi dan Israel, S-300 kemudian terlihat seperti yang mengancam. Inilah yang pada akhirnya akan membuat hubungan antara Iran dengan negara-negara anti-Iran lainnya, seperti Turki dan Qatar akan terus memburuk.

"Terus memburuknya situasi terkait dengan pengiriman S-300 buatan Rusia ke Iran tidak lepas dari provokasi yang dibuat Arab Saudi dan Israel. S-300 adalah senjata defensif, dan bukan senjata ofensif," tutur Gunes.

Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, saat bertemu sekutunya Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: istimewa)

Israel Tolak Kembalikan Dataran Tinggi Golan ke Suriah

Pasukan Israel saat berpatroli di Dataran Tinggi Golan. Perdana Menteri Israel menyatakan tidak akan pernah menyerahkan dataran tinggi Golan yang mereka rebut dari Suriah dalam perang Yom Kippur. Israel bahkan meminta sekutu abadinya Amerika Serikat mendukung klaim tersebut. (Foto: istimewa)
"UE mengakui Israel sesuai perbatasan pra tahun 1967-nya, apa pun klaim pemerintah (Israel) terkait daerah lain, sampai dengan penyelesaian akhir disimpulkan, Ini adalah posisi konsolidasi umum UE dan negara-negara anggotanya,"
TEL AVIV -- Zionis Israel sepertinya pantas disebut sebagai kolonial sejati di Timur Tengah. Setelah menjajah dan perampas seluruh tanah bangsa Palestina, kini Israel ingin menguasai secara utuh Dataran Tinggi Golan yang merupakan wilayah kedaulatan Suriah, ke dalam wilayah jajahan mereka.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu saat memimpin rapat kabinet terbatas di Dataran Tinggi Golan pada Minggu 17 April siang waktu setempat, meminta dunia mengakui kedaulatan Israel di wilayah tersebut serta berjanji tidak akan mengembalikan Golan ke Suriah dalam pidato pembukaannya.

Pengambilan waktu dan lokasi rapat kabinet itu diduga sengaja dilakukan bertepatan dengan negosiasi damai Suriah di Jenewa, Swiss. “Dataran Tinggi Golan telah menjadi bagian integral Israel sejak zaman dahulu. 

Puluhan Sinagoga kuno di sekitar kita sekarang ini telah memberi bukti. Golan adalah bagian integral Israel di era baru,” ucap Netanyahu seperti dilansir New York Times, Senin (18/4/2016). Pria 66 tahun itu mengaku telah menyampaikan sikap Israel kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry. 

Netanyahu tidak masalah dengan perjanjian diplomatik dengan Suriah selama tetangganya itu tidak mengganggu keamanan dalam negeri Israel.

Bashar al-Jaafari, Duta Besar Suriah untuk PBB, mengecam Israel, dengan menyebut negara zionis tersebut melakukan "provokasi yang tidak bertanggung jawab”.

Dunia Mengecam

Pernyataan Benjamin Netanyahu untuk menganeksasi seluruh dataran tinggi Golan mendapat kecaman dunia. Bahkan kecaman pun datang dari negara-negara Uni Eropa yang selama ini biasanya selalu menyokong Israel.

Perdana Menteri Israel saat memimpin rapat kabinetnya di wilayah dataran tinggi Golan, yang merupakan wilayah kedaulatan Suriah. (Foto: istimewa)
Kepala Kebijakan Urusan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Federica Mogherini, pada Selasa, 19/04/16, menyebut bahwa Uni Eropa (UE) tidak mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan.

Mogherini mematahkan pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengklaim Dataran Tinggi Golan adalah milik Israel dan takkan menyerahkan kepada Suriah.

"UE mengakui Israel sesuai perbatasan pra tahun 1967-nya, apa pun klaim pemerintah (Israel) terkait daerah lain, sampai dengan penyelesaian akhir disimpulkan, Ini adalah posisi konsolidasi umum UE dan negara-negara anggotanya," kata Mogherini.

Pernyataan UE itu disampaikan Mogherini menjelang pertemuan di Brussels, ibu kota Belgia, yang diikuti lembaga donor internasional dalam rangka mendukung perekonomian Palestina. Pertemuan itu dihadiri para menteri dan pejabat tinggi Israel, pada Ahad, 17/04/16.

Dataran Tinggi Golan adalah sebuah dataran tinggi di wilayah perbatasan Israel, Lebanon, Yordania dan Suriah. Dataran Tinggi Golan merupakan wilayah Suriah, namun Israel mencaploknya dari tangan Suriah pada tahun 1967 dalam Perang Enam Hari. Setelah itu mereka perlahan-lahan mengambil wilayah Golan tanpa diketahui dunia internasional.


Pada awal Perang Yom Kippur 1973, Suriah berhasil merebutnya kembali, namun serangan balik Israel berhasil mengusir Suriah dari sebagian besar Dataran Tinggi Golan.
Dataran Tinggi Golan, tanah strategis milik Suriah yang berhasil direbut Israel pada saat perang Arab-Israel. (Gambar: Istimewa)

Kerahkan Militer di Suriah, Rusia Malah Dapat Untung Besar



Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat pujian dari kalangan internasional dengan mengeluarkan taktik cerdasnya di Suriah. Walau sempat dihina oleh rival abadinya Amerika Serikat, pengerahan militer Rusia untuk membantu pemerintahan Bashar Assad justru akhirnya menguntungkan bagi Rusia. (Foto: istimewa)
“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,”
DAMASKUS -- Pada saaat Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan kebijakan mengirimkan armada perangnya ke Suriah, untuk membantu pemerintahan Presiden Bashar al Assad, Amerika Serikat beserta gerombolan sekutunya sempat menghina dan mengolok Rusia dan mengatakan Rusia akan mengalami kerugian total.

Tetapi siapa sangka, Rusia justru mendapatkan keuntungan ganda dari membantu Suriah yang merupakan sekutu lamanya tersebut. Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber militer Rusia. 

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keuntungan yang didapat Rusia dari membantu sekutunya Suriah:

Kontrak dengan Aljazair 

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. 

Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Rusia, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 sampai dengan 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai.
Seorang tentara Rusia berpose dengan dilatarbelakangi sebuah MBT-T90, di pangkalan militer Latakia, Suriah. (Foto: istimewa)
Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850-900 juta dolar AS. Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600-700 juta dolar AS. 

Mendapat Pembeli Dari Asia Tenggara

Di Asia Tenggara Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian negara terkuat dan terbesar di wilayah tersebut yaitu Indonesia. Selain itu, Vietnam dan Pakistan juga menyatakan akan mengikuti langkah Indonesia membeli armada perang Rusia tersebut.

Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. 

Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut, yang berencana membeli hingga lima Skuadron pesawat tempur Sukhoi SU35.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit, selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Rusia menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS. 

Pengerahan Armada Militer Untuk Iklan Senjata

Selain membantu sekutunya, Rusia secara tidak langsung juga menjadikan pengerahan armada perangnya ke Suriah sebagai sebuah iklan alat-alat tempur buatan terbaru dan tercanggih mereka di pentas dunia. Hal ini dibuktikan dengan membanjirnya pesanan bahkan dari kawasan Timur Tengah sendiri.

Buktinya militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. 

Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.
Sebuah helikopter Ka-52 Alligator dan helikopter Mi-28NE saat dalam operasi penumpasan ISIS di Suriah. (Foto: istimewa)

Tentara Israel Serang Pejuang Hamas di Dalam Terowongan Gaza

Pasukan zionis Israel saat menemukan sebuah terowongan para pejuang Hamas di jalur Gaza. Di tengah rasa takut dengan semakin agresifnya serangan para pejuang Hamas, zionis Israel meningkatkan pemburuannya hingga mencari terowongan yang selama ini dijadikan sebagai jalur suplai senjata, dan tempat bersembunyi para pejuang Hamas. (Foto: Istimewa)
"Hamas menggali terowongan untuk tujuan menyerang dan bertahan, sejauh ini belum pernah ditemukan adanya terowongan yang mengarah ke Israel sebelum 2014,"
YERUSSALEM -- Zionis Israel hingga kini terus memburu keberadaan pasukan perlawanan Palestina, Hamas. Bukan hanya dipermukaan, Israel juga memburu para pejuang Hamas hingga ke dalam terowongan yang banyak terdapat di sepanjang jalur Gaza. Info terbaru, militer Israel (IDF) menemukan terowongan Hamas dari Gaza yang tembus hingga wilayah Israel.

Ini adalah terowongan bawah tanah Hamas pertama yang diketahui tembus sampai Israel sejak Perang Gaza tahun 2004. Menurut informasi yang beredar, terowongan ditemukan 10 hari lalu saat IDF menggelar operasi. Sejak ditemukan, militer Israel telah menghancurkan pembuka terowongan di kedua sisi perbatasan.

Sumber pertahanan senior menyebut pembuka terowongan ditemukan di wilayah antara pagar perbatasan markas militer dan kota. Terowongan sepanjang ratusan meter dari Kibbutz Holit ini berlokasi di Dewan Kedaerahan Eshkol.

IDF hingga saat ini masih terus mendalami terowongan yang berawal dari selatan Gaza ini. Informasi sementara mengatakan kedalaman terowongan mencapai 30 meter. Sedangkan situs Palestina Zamn melaporkan, terowongan dibangun selama lebih dari dua tahun, termasuk kekuatan infrastruktur di dalamnya.

Israel menduga terowongan ini memiliki banyak cabang dan telah digunakan Hamas untuk tujuan perlawanan. "Hamas menggali terowongan untuk tujuan menyerang dan bertahan, sejauh ini belum pernah ditemukan adanya terowongan yang mengarah ke Israel sebelum 2014," kata seorang Komando Senior Selatan, seperti dikutip dari situs Haaretz, Senin (18/4).

Pejabat Israel mengatakan penemuan ini merupakan sebuah 'pertanda' dari teknologi militer IDF yang berhasil menemukan lokasi dari terowongan Hamas. "Terowongan adalah aset bagi Hamas," terang Komando Senior Selatan.

Pejuang Hamas Membalas

Menanggapi penghancuran terowongan Gaza, sayap militer Hamas, Brigade Qassam, melansir video yang berisi ancaman terhadap Israel. Roket-roket akan ditembakkan ke kota-kota besar Negeri Bintang Daud, jika terowongan Jalur Gaza diusik.

Para pejuang Hamas saat memobilisasi pasukan di dalam terowongan jalur Gaza. (Foto: Istimewa)

Tentara Yaman Berhasil Produksi Rudal Balistik, Arab Saudi Marah

Tentara Yaman memberi hormat di atas peluncur rudal balistik Scud, selama parade militer di Sana'a pada 21 Mei 2009, menandai penyatuan Yaman ke-19. Saat ini Yaman berhasil menciptakan berbagai jenis rudal balistik untuk menghadapi agresi militer Arab Saudi dan koalisinya. (Sumber Foto: AFP / Khaled Fazaa / Getty Images)
"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini,"
SANA'A -- Menghadapi keroyokan dari negara-negara koalisi pimpinan Arab Saudi, tidak menjatuhkan mental para pejuang Yaman untuk mempertahankan tanah air mereka. Bahkan, perang yang sudah berlangsung selama beberapa tahun tersebut, justru membuat Yaman berusaha mandiri dalam bidang persenjataan.

Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan telah meluncurkan sebuah rudal cerdas yang dirancang dan diproduksi secara domestik. Biro media Pusat Komando Operasi Yaman,pada hari Sabtu (28/10), mengumumkan bahwa rudal jarak dekat dan propelan padat Badr P-1 adalah upgrade dari rudal Badr-1, dan memiliki akurasi 3 meter.

Yaman berusaha memproduksi rudal balistik tersebut dengan titik akurasi yang sangat tinggi untuk mencapai sasaran objek-objek vital Arab Saudi. Dengan rudal ini, Yaman mampu menghancurkan target-target yang ditetapkan.

Rudal balistik ini langsung diterjunkan dalam pertempuran melawan koalisi Riyadh. Tentara Yaman didukung oleh milisi komite populer, menembakkan rudal balistik Badr-1, pada Rabu (9/5) malam di markas Informasi dan Peperangan Elektronik Saudi di Najran, Arab Saudi selatan.

Sebelumnya, tentara Yaman menyerang pangkalan al-Mostahaddeth di provinsi pesisir barat Yaman Hudaydah dengan rudal balistik yang sama, membunuh dan melukai sejumlah besar pasukan Sudan yang dipimpin Saudi di sana.

Pasukan Yaman juga menembakkan salvo rudal balistik tersebut dengan menyasar "target ekonomi" di ibu kota Saudi Riyadh, sebagai pembalasan terhadap agresi Al-Saud. Seorang juru bicara militer gerakan perlawanan Ansarullah, Kolonel Aziz Rashed, mengatakan serangan rudal itu menandai "fase baru" dan balas dendam atas serangan udara Saudi di Yaman.

"Akan ada lebih banyak lagi salvo sampai musuh ini dihalangi, memahami arti kekuatan Yaman dan menghentikan kejahatannya," katanya, seperti diberitakan televisi berbahasa Arab al-Masirah.

Badr P-1 misil balistik presisi tinggi yang dipajang di Sana'a, Yaman. (Foto: Istimewa)
Selain berhasil membuat rudal balistik Badr-I, sebelumnya tentara Yaman juga telah berhasil memproduksi rudal yang dinamai Zelzal-1 (Gempa-1). Rudal balistik ini dalam sejumlah serangan, mampu menghancurkan basis-basis pertahanan pasukan Saudi dan koalisinya.

Di daerah al-Khobe wilayah Jizan, hantaman rudal Zelzal-I bahkan menewaskan puluhan tentara Arab Saudi. Tembakan rudal pasukan Yaman juga mampu menyasar dan menghantam gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh.


Saudi dan Amerika Tuduh Rudal Yaman Buatan Iran

Agresifnya tentara Yaman menembakkan rudal-rudal balistik canggih ke wilayah Arab Saudi, membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya Arab Saudi marah dan mencurigai Iran telah menyuplai Yaman dengan persenjataan canggih.

Amerika dan Saudi menuduh bahwa rudal yang dimiliki para pejuang Yaman, merupakan buatan Iran. Karena kecanggihan rudal tersebut memiliki kesamaan dengan sejumlah rudal balistik yang diproduksi Iran.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Nikki Haley, saat berpidato di hadapan para anggota Dewan Keamanan PBB, bahkan terang-terangan melontarkan tuduhan tersebut kepada Iran.

"Punya kesamaan dengan rudal dalam serangan-serangan serupa yang menggunakan senjata pasokan Iran. Kita harus bertindak bersama untuk mengungkap kejahatan-kejahatan rezim Teheran dan melakukan apapun yang diperlukan demi memastikan mereka mendapat pesannya. Jika kita tidak melakukannya, Iran akan membawa dunia lebih masuk ke dalam konflik kawasan," kata Haley.

Haley sudah berkali-kali mengajukan pemberian sanksi DK PBB untuk Iran, tapi selalu ditolak dan diveto oleh Rusia dan China. Sejumlah anggota tidak tetap DK PBB juga menolak pemberian sanksi terhadap Iran.

Para pemberontak Houthi mengungkap rudal Burkan-2 pada Februari 2017. (Foto: Almasirah)
Sementara Arab Saudi melalui Juru bicara pasukan koalisi, Kolonel Turki al-Maliki mengatakan, saat ini rudal-rudal balistik yang ditembakkan oleh para pejuang Yaman hanya bisa dilumpuhkan dengan sistem pertahanan udara rudal Patriot. 

Hal inilah yang semakin menguatkan tuduhan Saudi bahwa rudal Yaman dipasok oleh Iran yang merupakan musuh bebuyutannya.

Iran Membantah Tuduhan Saudi dan Amerika


Menanggapi tuduhan Amerika dan Saudi, pemerintahan Teheran dengan tegas membantahnya. Pada hari Senin (12/3), kementerian luar negeri Iran menolak tuduhan Saudi bahwa Tehran telah memasok Yaman dengan rudal dan senjata dan menekankan bahwa ucapan tersebut dibuat karena putus asa akibat kekalahan pasukan Saudi dan koalisi di Yaman.

"Ucapan yang diucapkan oleh beberapa pejabat Saudi sangat banyak memberi tahu tentang keputusasaan pemerintah Saudi untuk analis politik yang adil," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qassemi.

Sedangkan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami mengatakan, Amerika dan sekutunya Saudi berusaha mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan mereka di negara Arab yang malang itu.

"Sementara Yaman berada di bawah pengepungan ketat dan pengiriman obat-obatan dan bahan makanan ke negara tersebut, pasokan senjata dan rudal ke Yaman tidak mungkin dilakukan sama sekali dan tuduhan Amerika dan sekutu mereka sebenarnya ditujukan untuk mengalihkan opini publik dunia dari kejahatan ini," kata Brigjen Hatami di Tehran pada hari Selasa (13/3).

Bantahan Iran juga diperkuat oleh Deputi Juru Bicara Sekjen PBB, Farhan Haq mengatakan, tidak ada satu buktipun yang menunjukkan bahwa rudal-rudal yang ditembakkan ke Arab Saudi dari Yaman adalah buatan Iran.

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperlihatkan sisa-sisa rudal yang ditembakkan ke arah Riyadh, November lalu. (Foto: AFP)
Hal ini disampaikan Farhan Haq saat melaporkan pelaksanaan resolusi 2231 di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Kamis (14/12).

Sementara petinggi Yaman sendiri berulangkali menegaskan, kekuatan pertahanan militer negara ini sepenuhnya produk dalam negeri dan meski diblokade total oleh Saudi, kekuatan ini berhasil ditingkatkan.

Yaman sejak Maret 2015 menghadapi agresi brutal oleh koalisi pimpinan Saudi, dalam upaya mengembalikan kekuasaan kepada mantan presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang buron. Puluhan ribu orang Yaman telah terluka dan menjadi martir, dengan sebagian besar dari mereka adalah warga sipil.

Data PBB memperlihatkan lebih dari 8.670 orang meninggal dunia dan 49.960 lainnya cedera sejak pasukan koalisi turut campur dalam peperangan di Yaman. 


Perang tersebut juga menyebabkan 20,7 juta orang memerlukan bantuan kemanusiaan dan turut menimbulkan wabah kolera yang diperkirakan menewaskan 2.219 orang sejak April lalu.

Menurut Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa, setidaknya 60 persen dan tiga perempat dari populasi Yaman sebesar 28 juta jiwa, didefinisikan tidak aman dalam segi asupan makanan, di mana tujuh dari 22 provinsi di negara itu, berada di ambang kelaparan, dan hampir setengah juta anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Namun, kekuatan sekutu tentara Yaman dan komite populer yang didirikan oleh kaum revolusioner Ansarullah telah secara heroik menghadapi agresi dengan segala cara, menimbulkan kerugian besar pada pasukan Saudi koalisi.

Serangan rudal balistik tentara Yaman berhasil menghancurkan sebuah bangunan di kota Jizan, Arab Saudi. (Foto: alaraby.co.uk / Getty)