Jalur Militer: Kudeta

Curigai Barat Telah Sponsori Kudeta, Turki Kini Merapat ke Rusia dan Iran

Arah kebijakan luar negeri Turki berubah 360 derajat setelah terjadinya kudeta militer untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Mendapat bantuan menggagalkan aksi kudeta tersebut, kini Erdogan membuat kebijakan untuk menjalin aliansi baru dengan Rusia dan Iran dalam menangani konflik di Timur Tengah. (Foto: istimewa)
“Saya berharap para pemimpin Negara Barat di dunia bereaksi yang sama (terhadap kudeta militer di Turki) dengan cara yang sama. Bukannya malah berpuas diri dengan beberapa klise,”
ANKARA -- Pasca kudeta gagal yang dilakukan sekelompok militer Turki, terjadi perobahan drastis dalam pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan. Turki yang sebelumnya berseberangan dengan Rusia dan Iran, kini justru semakin dekat. 

Bukan tanpa alasan, Erdogan merubah sikapnya karena merasa berhutang budi dengan bantuan yang diberikan Rusia dan Iran dalam upaya menggagalkan aksi kudeta militer untuk menjatuhkan pemerintahannya.

Seperti diketahui, Setelah kudeta berhasil dikendalikan, Presiden Erdogan lalu melakukan kunjungan ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya terjadi semenjak insiden ditembak jatuhnya pesawat tempur Rusia oleh militer Turki.

Dalam pertemuan tersebut, mereka dikabarkan menjalin sejumlah kerjasama termasuk investasi besar-besaran Rusia di Turki. Kabar kedekatan dua pemimpin dunia inilah yang membuat Barat menjadi semakin takut dan cemas. Demikian sebagaimana dilansir TIME, Kamis (11/8/16).


Selain itu, kepada surat kabar harian Le Monde di Prancis, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pernah mengatakan kalau dia sekarang ini merasa ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya di Negara Barat. Dia mencontohkan, kejadian teror di negaranya selalu diabaikan, dianggap biasa. Sementara ketika negara Eropa lain dilanda kengerian serupa, para kepala negara atau pemerintahannya menyambangi atau minimal ikut mengecam dan menyatakan belasungkawa.
Presiden Erdogan saat menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin, setelah gagalnya aksi kudeta yang dilakukan pihak militer Turki. (Foto: istimewa)
“Seluruh dunia bereaksi terhadap serangan (teroris) di (kantor berita) Charlie Hebdo. Perdana Menteri kami bahkan ikut berkampanye di jalan Paris,” ujarnya, seperti dikutip dari EurActiv, Rabu (10/8/2016).

Ia kemudian mengambil pengandaian kedua mengapa dia merasa Turki diabaikan negara-negara barat. Ketika kudeta militer meletus di Ankara dan Istanbul pada 15 Juli, negara barat bukannya mengutuk upaya pemakzulan itu, tetapi malah mencerca cara dia memperlakukan para tahanan. 


Sedangkan menurut Erdogan, Rusia dan Iran justru berlaku sebaliknya yang bersedia memberikan bantuan informasi dan intelijen dalam usaha menggagalkan aksi kudeta tersebut, padahal Rusia dan Iran sedang posisi bermusuhan dengan Turki.

“Saya berharap para pemimpin Negara Barat di dunia bereaksi yang sama (terhadap kudeta militer di Turki) dengan cara yang sama. Bukannya malah berpuas diri dengan beberapa klise,” tukasnya, sehari sebelum melakukan kunjungan krusial ke St Petersburg untuk bicara dari hati ke hati dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pecahnya hubungan Turki dengan aliansi Baratnya disebabkan Turki menuduh AS sebagai dalang di balik kudeta militer. Bahkan, Presiden Erdogan menolak keras kritik Barat atas sikap yang diambilnya untuk mengontrol pemerintahan.
Presiden Erdogan saat menemui Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani, setelah gagalnya aksi kudeta yang dilakukan pihak militer Turki. (Foto: istimewa)
Sebelumnya, para pimpinan di negara Eropa sudah memperingati Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk tidak menggunakan alasan kudeta untuk menghabisi para musuh politiknya.

Uni Eropa menentang keras keputusannya Erdogan mengembalikan hukuman mati yang sudah lama dicabut dari konstitusi Turki. Amerika Serikat diminta mengekstradisi Fethullah Gulen, tetapi tidak kunjung mengabulkan permohonan tersebut.

NATO Mulai Terancam

Semakin merapatnya Erdogan dalam barisan Rusia dan Iran, membuat aliansi militer NATO mulai merasa cemas. Sebab, Turki adalah negara anggota NATO yang memiliki pasukan militer terbesar kedua dalam aliansi itu. Selain itu di Turki juga terdapat pangkalan militer Amerika Serikat di Incirlik, dimana rudal balistik berkemampuan nuklir AS ditempatkan.


Namun, Jerman sebagai salah satu anggota NATO mengaku tidak khawatir dengan membaiknya hubungan Rusia dan Turki. Pasalnya, Jerman menegaskan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) tidak akan melemah dengan rujuknya kedua negara tersebut.

Sebagaimana dikutip dari Newsweek, Selasa (10/8/16) Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengatakan kepada tabloid Bild, ia tidak takut pendekatan kembali Turki ke Rusia akan berakhir dengan Turki meninggalkan NATO.

Pertemua para negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Aliansi Utara atau NATO. (Foto: Istimewa)

Turki Kirim Mata-mata ke Seluruh Dunia untuk Habisi Kekuatan Pemberontak

Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan terus mengeluarkan kebijakan represif dan otoriter untuk menumpas semua kelompok oposisi yang dianggap mengancam kekuasaannya. Erdogan mengirim ratusan aparat intelijennya ke berbagai negara untuk mengejar para kelompok oposisi. (Foto: Istimewa)
"Ini bukan lagi tentang pengumpulan informasi intelijen, tetapi lebih pada penindasan yang dilakukan oleh badan intelijen (MIT). Bahkan, Stasi saja tidak memiliki agen sebanyak MIT,”
BERLIN -- Dampak kudeta yang dilakukan sekelompok kecil militer Turki untuk menumbangkan kekuasaan Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan, hingga kini ternyata belum juga berakhir. Walau berhasil menggagalkan kudeta tersebut, Presiden Erdogan sepertinya belum bisa tenang sebelum bisa menumpas dan menghabisi seluruh kekuatan kelompok opisisi Fethullah Gullen.

Erdogan merasa terancam dengan kemungkinan adanya pergerakan kudeta kedua, yang dilakukan kelompok oposisi Gullen. Demi menghabisi semua ancaman oposisi itu, Erdogan mengirimkan sejumlah mata-mata ke berbagai negara di seluruh dunia. 

Bahkan di Indonesia sendiri pun tak lepas dari tuduhan rezim Erdogan bahwa terdapat kekuatan kelompok Gullen dalam bentuk berbagai yayasan pendidikan. Erdogan sempat mendesak Indonesia untuk menyerahkan para oposisi Gullen dan menutup yayasan pendidikan tersebut.

Di Eropa, tanpa malu-malu Erdogan mengirimkan sejumlah aparat intelijen untuk mengawasi setiap warga negaranya di benua itu. Tak ayal lagi sikap Turki itu membuat sejumlah negara marah, dan menganggap Turki menginjak-injak kedaulatan negara mereka.
Seorang petugas keamanan yang dianggap pendukung aksi kudeta, ditangkap aparat keamanan Turki pro Erdogan. (Foto: Istimewa)
Seperti di Jerman misalnya, saat ini ini ada 6.000 mata-mata Turki di Jerman. Mereka mengawasi gerak-gerik setiap warga Turki di Negeri Panser tersebut. Hal ini diungkap seorang politisi Jerman yang enggan disebutkan namanya. 

Ia menyebutkan, intelijen Turki yang dikenal sebagai MIT memiliki lebih dari 800 agen yang menjalankan 6.000 mata-mata di Jerman. Saat ini diperkirakan terdapat sekira tiga juta warga Turki menetap di Jerman.

Menurut politisi tersebut, seperti diberitakan Die Welt,satu intel akan mengawasi 500 warga Turki di Jerman. Bahkan, jumlah mata-mata Turki ini disebut melebihi agen Stasi, yaitu polisi rahasia yang sangat legendaris di Jerman Timur. Kepala Kebijakan Perdamaian Institut Riset Jerman, Erich Schnidt-Eenboom mengaku khawatir dengan keadaan ini.

"Ini bukan lagi tentang pengumpulan informasi intelijen, tetapi lebih pada penindasan yang dilakukan oleh badan intelijen (MIT). Bahkan, Stasi saja tidak memiliki agen sebanyak MIT,” ujar Eenboom, seperti dilansir Daily Caller, Selasa (23/8/16).  

Anggota Parlemen Green Party (MP), Hans-Christian Strobele bahkan menyebut jumlah agen mata-mata MIT di Jerman sungguh tidak dapat dipercaya. Strobele menyebut agen rahasia Turki ini benar-benar tidak dapat dideteksi. Terlebih lagi, mereka tidak menerima uang dari Pemerintah Turki atas pekerjaannya.
Seorang jurnalis Turki yang dituduh mendukung aksi kudeta, langsung disergap aparat keamanan saat masih menyiarkan sebuah berita. (Foto: Istimewa)
“Saya ingin mendapatkan jawaban dari pemerintah Jerman. Jika MIT benar-benar aktif di Jerman dengan agenda sendiri, menjalankan 6.000 informan dan menempatkan tekanan pada orang-orang Turki, maka ini adalah tindakan melawan hukum," pungkas Strobele.

Di Belanda, Turki juga melakukan gerakan intelijen yang sama. Konsulat Jenderal Turki di Belanda, Sadin Ayyildiz, mengirimkan surat berisi himbauan untuk menangkal protes anti-pemerintah Erdogan di sejumlah kota. Permintaan Turki itu langsung ditolak mentah-mentah oleh otoritas Negeri Tulip.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Belanda Bert Koenders meminta Turki untuk berhenti mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Surat tersebut membuat Koenders menjadwalkan kunjungan pekan depan ke Ankara untuk menyampaikan protes secara langsung. Belanda berpendapat bahwa Turki tidak seharusnya mencampuri urusan dalam negeri Amsterdam.

“Belanda mengatasi warganya sendiri dan tidak ada urusannya dengan pemerintah Turki. Kami bebas berbicara mengenai Turki. Demikian juga Turki bebas berbicara mengenai Belanda. Ini seperti mempertanyakan tanggung jawab nasional kami di Belanda,” ujar Koenders, seperti dimuat Russia Today, Minggu (28/8/2016).
Rakyat Turki mulai melakukan demonstrasi menetang gaya kepemimpinan Presiden Erdogan yang dianggap semakin otoriter dan kejam. (Foto: Istimewa)

Oposisi: Erdogan Rekayasa Kudeta Militer Turki untuk Perkuat Kekuasaan

Banyaknya kecurigaan yang terjadi setelah gagalnya kudeta yang dilakukan sekelompok militer Turki, menimbulkan sebuah hipotesa baru. Erdogan, hanya dalam hitungan jam dan hari, menangkap ribuan para pelaku yang dituduh terlibat kudeta, sekalipun belum dilakukan pengadilan hukum apapun. Pihak oposisi meyakini kudeta militer merupakan rekayasa rezim Erdogan, karena gerakan pembersihan yang dilakukan Erdogan sangat sistematis dan terencana. (Gambar: Istimewa)
"Saya tidak percaya dunia percaya tuduhan Presiden Erdogan, Mungkin saja kudeta itu telah direncanakan sebelumnya dan bisa jadi untuk menunjukkan tuduhan pada kami,"
ISTANBUL -- Aksi kudeta yang dilakukan sebuah kelompok di dalam militer Turki untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan, berhasil digagalkan. Saat ini, aparat keamanan pendukung Erdogan sudah menangkap lebih dari 80.000 para tersangka yang dianggap ikut ambil bagian dalam kudeta tersebut. 

Bukan hanya menangkap para tentara yang terlibat kudeta, Erdogan juga menanggap ribuan guru, hakim, jaksa, tokoh politik, anggota kepolisian, ilmuwan, tokoh politik, dan bahkan warga biasa yang dianggap menjadi simpatisan kudeta militer tersebut.

Dengan sadis Erdogan mengatakan, bahwa para pelaku kudeta akan diperlakukan sama layaknya teroris. "Mereka yang bertanggung jawab atas kudeta ini akan membayar sangat mahal," kata Erdogan.


Melihat tindakan rezim Erdogan yang menangkap pihak-pihak yang dituduh sebagai pelaku kudeta hanya dalam hitungan hari, sejumlah pengamat internasional meyakini jika kudeta militer itu sudah direkayasa Erdogan sendiri, hal ini dilakukan untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya dan jajaran militer yang tidak loyal.

Ulama Turki, Fethullah Gulen, yang pasca kudeta langsung dituduh mendalangi aksi kudeta itu meyakini, kudeta militer yang terjadi di Turki merupakan permainan politik tingkat tinggi Erdogan. Dia bahkan menyebut kudeta militer itu dilakukan oleh Presiden Erdogan sendiri.

Para pendukung Erdogan menyiksa dan memukuli para tentara yang dituduh terlibat dalam kudeta untuk menjatuhkan rezim pemerintahan Erdogan. (Foto: istimewa)
Dalam sebuah wawancara singkat Saylorsburgm Pennsylvania, Sabtu (16/7/2016), Gulen menentang tuduhan yang dituujukan kepada dirinya.

"Sebagai seseorang yang berulang kali pernah menderita di bawah kudeta militer selama lima dekade ini, tuduhan itu sangat menyinggung," ucap Gulen.


Menurutnya, tak mungkin dirinya yang selama ini melarikan diri dari tekanan dan siksaan kudeta malah melakukan kudeta. Ia justru menyebut ada kemungkinan kudeta yang telah menewaskan sebanyak 265 orang itu malah didalangi rezim Turki.

"Saya tidak percaya dunia percaya tuduhan Presiden Erdogan, Mungkin saja kudeta itu telah direncanakan sebelumnya dan bisa jadi untuk menunjukkan tuduhan pada kami (Gulen dan pengikutnya) kata Gullen, seperti dilansir koran the Guardian, Ahad (17/7).

Dia mengatakan membantah semua tuduhan keterlibatan militer dan mengaku menderita akibat kudeta yang gagal pada 1990-an. "Setelah kudeta militer di Turki saya ditekan dan dipenjara. Saya menjalani pengadilan dan berbagai bentuk pelecehan. Kini Turki sudah di jalan demokrasi dan tak bisa kembali, kata Gullen.

Para tentara dan rakyat yang berhasil ditangkap ditelanjangi dan diperlakukan dengan hina oleh para pendukung rezim Erdogan. (Foto: Istimewa)
Pernyataan ini telah membuat Erdogan semakin murka. Dia bahkan mendesak Presiden AS Barack Obama untuk mengekstradisi ulama Turki tersebut. Otoritas AS mengatakan, pihaknya tak akan mengekstradisi Gullen tanpa ada bukti bahwa sang ulama terlibat sebagai dalang utama kudeta.

Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan bahwa Turki harus menunjukkan bukti kepada AS bahwa pria berusia 75 tahun itu dalang utama kudeta. Kerry juga meminta otoritas Turki menghormati aturan hukum selama penyelidikan terhadap mereka yang diduga terlibat upaya kudeta. 

Hal ini dilontarkan Kerry karena Erdogan sejak kudeta gagal, telah melakukan penangkapan dan penyiksaan terhadap ribuan orang yang dituduh terlibat dalam aksi penggulingan dirinya.

Erdogan Alami Paranoid


Presiden Erdogan selama ini selalu merasa 'paranoid' terhadap gerakan Gullen yang dulu sempat menjadi sekutunya itu. Bukan hanya langsung mengkambinghitamkan kelompok Gulen dalam kudeta gagal tersebut, Pemerintahan Erdogan selalu menuduh Fethullah Gülen dan gerakan Hizmet, setiap terjadi kerusuhan di Turki. Sebagai contoh, pembersihan militer tak hanya terjadi setelah kudeta gagal akhir pekan lalu.

Pada 2012, Erdogan juga pernah melakukan pembersihan di tubuh militer dengan memecat 236 tentara, mulai dari level tinggi sampai rendah. Dia menuding para tentara itu sebagai loyalis Gullen yang mencoba akan menggulingkan kekuasaannya. Bahkan, sejak 2013, Erdogan mengumumkan Gerakan Gullen sebagai kelompok teroris yang membuat banyak pengikut kelompok tersebut mencari suaka ke luar negeri.

Ulama kharismatik Turki, Fethullah Gullen. (Foto: Istimewa)
Gullen sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal di pengasingan di AS. Dia bahkan menegaskan, gerakan Hizmet didirikan berdasarkan prinsip perdamaian dan demokrasi. Oleh karena itu, kudeta sangat bertentangan dengan prinsip Hizmet.

Dalam wawancara khusus dengan jurnalis Guardian Amana Fontanella-Khan yang menemui sang ulama ternama tersebut di kediamannya di Amerika Serikat, Gullen mengatakan bahwa kudeta tersebut tak terjadi secara spontan, tetapi telah dirancang oleh rezim Erdogan. 


Dilansir Guardian, mayoritas kalangan internasional tak percaya dengan tudingan Erdogan bahwa Gulen adalah dalang utama insiden Jumat 15 Juli 2016 lalu.

Selain menuduh sebagai pelaku utama, Erdogan juga mengatakan bahwa Fethullah Gulen hanyalah pion dari dalang kudeta Turki yang berhasil digagalkan. Erdogan tidak menyebut siapa dalang kudeta yang sebenarnya. 


Meski demikian, menurut laporan Reuters, Minggu (31/7/2016), dalam berbagai pidatonya, Erdogan kerap menggunakan istilah “dalang” yang secara tersirat menunjuk Barat sebagai referensi umum dan Amerika Serikat (AS) sebagai referensi khusus.

Erdogan sebelumnya juga mulai menyuarakan sentimen anti-AS  dengan menuduh bahwa Washington membantu dan bersimpati kepada para Gulenist yang berusaha untuk menggulingkan Pemerintah Erdogan.
Kedekatan Erdogan dan Gullen saat masih menjadi sahabat dekat. (Foto: istimewa)

Pasca Kudeta Militer, Erdogan Penjarakan Ratusan Jenderal

Setelah gagalnya kudeta yang dilakukan militer Turki untuk menumbangkan pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan, kini Erdogan bertindak semakin otoriter dan brutal terhadap kelompok oposisi. Dilaporkan, ratusan ribu rakyat Turki dari berbagai kalangan yang anti-Erdogan telah ditangkap dan dipenjara. (Foto: Istimewa)
ANKARA -- Gagalnya kudeta yang dilakukan pihak militer Turki pada 15 Juli lalu, memperlihatkan wajah baru Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan. Hingga saat ini Erdogan telah menahan ribuan warganya sendiri yang diduga terlibat dalam aksi kudeta, meskipun belum ada keadilan hukum yang diberikan kepada para tersangka tersebut.

Seperti dilansir dari kantor berita Reuters, Kamis (28/7), pemerintah Turki menutup sejumlah sekolah, universitas, serta menangkapi personel tentara dan militer yang dianggap terlibat kudeta dan menjadi lawan politiknya.

Puluhan ribu orang, termasuk polisi, hakim, jaksa, guru, juga dipecat. Keputusan pemerintah itu semakin memperkuat tuduhan sejumlah kalangan yang menyatakan Erdogan akan semakin otoriter setelah kudeta militer tempo hari.

Selain itu, pada Kamis (28/7/2016), tiga kantor berita, 16 stasiun televisi, 45 harian, dan 15 majalah akan ditutup oleh pemerintah Turki. Di tempat terpisah, 1.700 tentara juga mengalami pemecatan.

Pemerintah Turki juga telah menutup puluhan organisasi media pada Rabu 27 Juli 2016. Selain menutup media, aparat pro-Erdogan sudah mengeluarkan surat penangkapan bagi 42 jurnalis.
Ribuan tentara yang diduga mendukung atau simpatisan kudeta militer, ditangkap pihak keamanan pendukung pemerintahan Erdogan. (Foto: cnn.com)
Otoritas Turki menerbitkan surat penahanan terhadap 47 wartawan. Perintah tersebut muncul hanya beberapa hari setelah surat serupa yang ditujukan bagi 42 wartawan. Sebagian besar dari 47 orang itu adalah wartawan harian Zaman yang sudah ditutup oleh pemerintah.

Erdogan Tangkap Ratusan Jenderal

Selain memberangus media massa, Erdogan juga melakukan penangkapan terhadap ratusan para jederal militer yang dianggap pro kudeta dan tidak loyal pada pemerintahannya. Sekitar 8.000 personel polisi di seluruh Turki dipecat, sebagai langkah pembersihan yang dilakukan pemerintahan Erdogan.

Tak hanya itu, sebanyak 103 jenderal dan laksamanan ditahan menyusul kudeta yang gagal menggulingkan Presiden Erdogan yang terjadi pada pekan lalu.


Sebelumnya, sebanyak 6.000 anggota militer, aparat kehakiman dan berbagai institusi negara ditangkap menyusul bentrokan di Istanbul dan Ankara yang menewaskan setidaknya 290 orang.

Dari semua tersangka yang ditangkap ini, tak kurang dari 100 orang yang diyakini terkait dengan kudeta yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu.

Ribuan rakyat Turki melakukan demonstrasi menentang kekuasaan Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan. Pasca Kudeta gagal, Erdogan dianggap semakin brutal dan otoriter dengan menangkap ribuan rakyatnya tanpa proses hukum. Sebagian rakyat Turki mengibaratkan Erdogan seperti kebengisan pemimpin Jerman, Adolf Hitler. (Foto: Istimewa)

Erdogan Tuduh Fethullah Gullen Dalang Dibalik Kudeta Militer Turki

Pendukung Erdogan dan Fethullah Gullen. Pernah menjadi rekan politik paling dekat, kini Erdogan menjatuhkan tuduhannya kepada Gullen sebagai dalang terjadinya kudeta di Turki. (Foto: Istimewa)
"Pemberontakan oleh anggota militer negara itu bisa saja "diselenggarakan" oleh pemerintah itu sendiri. Saya tidak percaya bahwa dunia mempercayai tuduhan yang dibuat oleh Presiden Erdogan,"
ISTANBUL -- Kudeta yang terjadi secara instan dan cepat di Turki berhasil digagalkan. Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan dengan dibantu aparat keamanan dan para pendukungnya, berhasil menangkap seluruh pelaku dan tersangka kudeta yang sebagian besar berasal dari kalangan militer. Walau belum melalui proses hukum yang jelas, Erdogan telah menjatuhkan telunjuknya kepada kubu pesaingnya.

Erdogan menyalahkan Fethullah Gulen dan pendukungnya sebagai provokator kudeta. Gulen adalah ulama muslim yang hidup dalam pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat. Gulen dan Erdogan dulunya saling bersekutu. Namun, hubungan mereka putus pada tahun 2013 karena Gullen menuduh Erdogan dan lingkarannya melakukan korupsi.

Selama bertahun-tahun, Gulen membangun pengaruhnya di lembaga hukum dan polisi. Erdogan kemudian menyingkirkan orang-orang Gulen tersebut. Dia juga menyebut Gulen sebagai kepala kelompok teror.


Gullen adalah warga Turki, seorang mantan imam, penulis sekaligus tokoh politik. Pria 75 tahun ini membentuk gerakan politik keagamaan bernama gerakan Gulen, atau yang dikenal dengan nama Hizmet di Turki. 

Mengaku bermazhab Hanafi, Gulen menekankan pengajarannya dengan memadukan agama dengan ilmu pengetahuan alam, mendorong dialog antar agama, serta demokrasi multi partai. Dia menginisiasi dialog dengan Vatikan dan organisasi-organisasi Yahudi.
Para pendukung Erdogan berhasil melumpuhkan sebuah tank yang digunakan pihak militer Turki untuk melakukan kudeta. (Foto: Twitter)
Awalnya, Gulen merupakan pendukung Erdogan. Kongsi kedua tokoh ini pecah tahun 2013 saat kasus korupsi mendera keluarga dan para pendukung Erdogan di pemerintahan dan kepolisian. Erdogan membantah tudingan tersebut dan menuduh Gulen berada di balik fitnah korupsi terhadap dirinya. Gulen kemudian kabur ke AS, upaya Turki mendeportasinya belum membuahkan hasil.

Ajaran Gulen diyakini oleh sekitar 10 persen populasi Turki, atau yang disebut Gulenis. Saat ini Gulen masuk dalam salah satu buronan teroris nomor satu Turki. Hizmet yang dijuluki Turki sebagai Organisasi Teror Gulenis, FETO, dituding mencoba menggulingkan pemerintahan Erdogan, salah satunya dengan menebar fitnah korupsi di ring satu pemerintahan.

Dalam sebuah rekaman video tahun 1999, Gulen menyarankan para pengikutnya untuk menyusup ke institusi-institusi pemerintahan.

"Kalian harus masuk ke urat nadi sistem, tanpa seorang pun yang mengetahui kehadiran kalian, sampai kalian mencapai pusat dari kekuatan, kalian harus menunggu sampai memperoleh semua kekuatan di pemerintahan, sampai semua kekuatan di institusi konstitusional berada di pihak kalian," ujar Gulen saat itu.

Gullen membantahnya, mengatakan video rekaman itu telah diubah.

Erdogan dan Gullen saat mereka masih menjadi rekan dekat dan sahabat politik yang loyal. (Foto: Istimewa)
Pengacara pemerintah Turki, Robert Amsterdam, mengatakan ada indikasi keterlibatan para Gulenis dalam upaya kudeta militer ini. Menurut laporan intelijen yang diterima Amsterdam, ada "tanda-tanda Gulen bekerja sama dengan beberapa petinggi militer untuk melawan pemerintah terpilih."

Fethullah Gullen Membantah

Dari kediamannya di kota kecil Saylorsburg, Pennsylvania, Gulen membantah tuduhan tersebut. Dia mengaku menentang perebutan kekuasaan dengan kekerasan. "Sebagai seseorang yang menderita akibat beberapa kali kudeta militer selama lima dekade terakhir, sebuah penghinaan jika saya dituduh terkait dalam upaya yang sama," kata Gulen. 


Bahkan dirinya menilai bisa saja kudeta itu diselenggarakan oleh pemerintahan Erdogan itu sendiri.

"Pemberontakan oleh anggota militer negara itu bisa saja "diselenggarakan" oleh pemerintah itu sendiri. Saya tidak percaya bahwa dunia mempercayai tuduhan yang dibuat oleh Presiden Erdogan," kata Gulen dalam sebuah wawancara yang singkat dengan sekelompok kecil wartawan di kediamannya di Saylorsburg, Pennsylvania dikutip dari di The Guardian.

"Ada kemungkinan jika terselenggaranya kudeta itu bisa dimaksudkan untuk tuduhan lainnya yakni melawan diriku dan para pengikutku," tambah ulama kharismatik yang kerap disapa Hocaefendi itu.

"Setelah kudeta militer di Turki, saya telah ditekan dan saya telah dipenjara. Saya telah mencoba dan menghadapi berbagai bentuk pelecehan. Sekarang bahwa Turki adalah pada jalur demokrasi, itu tidak bisa kembali," tuturnya.

Ketika ditanya apakah ia akan kembali ke Turki jika kudeta itu berhasil, Gulen mengatakan: "Sesungguhnya, Aku sangat rindu dengan tanah air. Tapi ada faktor lain yang lebih penting, yaitu kebebasan. Saya di sini, jauh dari masalah politik Turki dan aku hidup dengan kebebasan saya," tutur pira yang dinobatkan sebagai orang nomor satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia versi Foreign Policy Magazine, Amerika Serikat tahun 2008 itu.

Fethullah Gullen, saat kediamannya di kota Saylorsburg, Pennsylvania. (Foto: Istimewa)

AS Minta Erdogan Buktikan Keterlibatan Gulen dalam Kudeta Militer Turki

Pendukung Presiden Erdogan berusaha melumpuhkan sebuah tank tempur yang digunakan tentara untuk melakukan kudeta. Kudeta yang dilakukan militer Turki untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan, berhasil digagalkan. Erdogan menyatakan kudeta didalangi oleh ulama oposisi Fathullah Gulen. (Foto: Istimewa)
"Kami mengundang pemerintah Turki, seperti yang selalu dilakukan selama ini untuk memberikan kami bukti yang sah. AS akan menerima dan meneliti serta membuat kesimpulan objektif terhadap bukti tersebut,"
NEW YORK -- Usaha kudeta yang dilakukan militer Turki untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan, dilaporkan telah gagal. Ribuan pelaku kudeta telah ditangkap oleh otoritas keamanan Turki yang pro Erdogan. Namun, penyelidikan belum berjalan, Erdogan telah menjatuhkan telunjuknya kepada pihak oposisi yang selama ini menentang pemerintahannya.

Erdogan sebelum ini menyebut bahwa tragedi kudeta militer diprakarsai oleh seorang ulama terkemuka Turki, Fathullah Gulen.

Terkait tuduhan itu, Amerika Serikat (AS) sebagai tempat tinggal Gulen saat ini meminta kepada Presiden Erdogan untuk memberikan bukti bahwa Gulen benar-benar terlibat dalam kudeta militer tersebut. Permintaan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

Selain itu, Kerry juga menawarkan bantuan kepada Turki untuk membantu penyelidikan kudeta berdarah tersebut. Karena itu, AS mengundang pihak Turki untuk membeberkan keterlibatan Gulen dalam kudeta tersebut.

Saat berbicara di Luxembourg, Kerry mengatakan Washington belum menerima secara resmi permintaan untuk melakukan ekstradisi Gulen, tapi mereka telah mengantisipasi jika muncul pertanyaan terkait Gulen.
Fathulah Gulen saat berada di pengasingan, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
"Kami mengundang pemerintah Turki, seperti yang selalu dilakukan selama ini untuk memberikan kami bukti yang sah. AS akan menerima dan meneliti serta membuat kesimpulan objektif terhadap bukti tersebut," ujar Kerry, sebagaimana dilansir Middle East, Sabtu (16/7/2016).

Erdogan Minta AS Tangkap Fethullah Gulen

Presiden Erdogan meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menangkap Fethullah Gulen dan memulangkannya ke Ankara jika AS memang teman Turki.

Permintaan Erdogan kepada Obama muncul setelah penguasa militer Turki memblokir Pangkalan Udara Incirlik yang menjadi rumah senjata nuklir AS di Adana, Turki. Pangkalan itu jadi basis militer AS dalam memerangi kelompok ISIS di Suriah dan Irak.

”Negara ini banyak menderita di tangan gerakan Gulen,” kata Erdogan di depan kerumunan pendukungnya di dekat rumahnya di Istanbul, seperti dikutip CNN, Minggu (17/7/2016).

”Saya menyerukan kepada Amerika Serikat dan Presiden Barack Obama (untuk) menangkap Fethullah Gulen atau memulangkannya ke Turki,” imbuh Erdogan. ”Jika kita adalah mitra strategis atau mitra model, lakukan apa yang diperlukan,” lanjut seruan Erdogan.

Rakyat Turki pro pemerintah berhasil melumpuhkan sebuah tank tempur yang sebelumnya digunakan tentara untuk berusaha menjatuhkan pemerintahan Erdogan. (Foto: Istimewa)

Kudeta Militer Turki: Jawaban Erdogan, Tersangka Kudeta, dan Tanggapan Dunia



Pasukan keamanan Turki pro pemerintah menangkap para tentara yang melakukan kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Erdogan. (foto: Twitter)
"Ada beberapa Gulenis (anggota kelompok gulen) terkenal yangmengisyaratkan pemberontakan dalam beberapa bulan terakhir,"
ANKARA -- Walau pihak Militer Turki yang melakukan kudeta mengatakan pada Jumat bahwa mereka telah mengambil alih kekuasan, tetapi Presiden Tayyip Erdogan berjanji bahwa kudeta akan digagalkan.

Jika berhasil, penggulingan Erdogan, yang telah memerintah Turki sejak tahun 2003, akan menjadi salah satu perubahan terbesar di Timur Tengah dalam beberapa tahun, mengubah salah satu sekutu AS paling penting di wilayah tersebut sementara perang berkecamuk di perbatasan.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dilaporkan dalam keadaan selamat, demikian dikatakan oleh seorang sumber dari kantor kepresidenan, di tengah laporan bahwa militer Turki telah melancarkan kudeta pada Jumat (15/7/2016).


Sumber itu juga mengatakan bahwa kudeta dilancarkan oleh sebagian anggota angkatan bersenjata tak tidak direstui oleh pusat komando.

"Kami akan mengatasi hal ini," kata Erdogan, yang berbicara pada panggilan video via ponsel di depan kamera penyiar CNN di Turki. Dia meminta para pengikutnya untuk turun ke jalan untuk membela pemerintahnya dan mengatakan komplotan kudeta akan membayar harga yang berat.

Seorang pejabat mengatakan Erdogan berbicara dari Marmaris di pantai Turki, di mana ia sedang berlibur. Erdogan mengatakan ia dengan cepat akan kembali ke Ankara.

Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan pemerintah terpilih tetap di kantor. Namun, ternyata mereka berada di balik kudeta.

Sementara itu Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim membantah klaim militer. Ia mengatakan bahwa upaya kudeta bisa digagalkan dan para petugas keamanan telah dikerahkan untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Presiden Erdogan bicara soal kudeta melalui via phone. (foto: Aljazeera)
"Beberapa orang melakukan tindakan ilegal di luar saluran komando," kata Yildirim seperti yang ditayangkan oleh saluran teleivisi NTV, "Pemerintah yang dipilih rakyat tetap memegang kendali. Pemerintahan ini hanya akan turun jika dikehendaki rakyat."

Tersangka Kudeta Militer

Kelompok Gulen disinyalir menjadi motor dibalik kudeta militer Turki untuk menggulingkan Pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan.

The Guardian melaporkan, seorang sumber di lingkaran Presiden Reccep Tayyip Erdogan menyampaikan kepada media di London, Inggris, tentang kelompok Gulen yang menginfiltrasi militer dan melakukan serangkain kegiatan yang dilarang oleh yang pemerintahan sah saat ini.

"Ada beberapa Gulenis (anggota kelompok gulen) terkenal yangmengisyaratkan pemberontakan dalam beberapa bulan terakhir," demikian kata sumber tersebut, Sabtu (16/7).


Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari pemerintahan di Ankara, soal siapa dalang di balik aksi militer yang saat ini sedang menguasai ibu kota untuk menggulingkan Pemerintahan Perdana Menteri Binali Yildirim dan Presiden Erdogan.

Akhir Mei lalu, Presiden Erdogan menyatakan kelompok Gulen sebagai faksi politik ilegal. Bahkan, dikatakan presiden dari Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (AKP) itu, kelompok Gulen merupakan bagian dari aksi terorisme di negara itu.

Turki resmi melarang dan menyatakan anggota Gulen sebagai kelompok terorisme. Kelompok Gulen diketahui berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS) namun kerap melakukan aktivitas politik di Turki.

Kelompok tersebut dikuasai oleh seorang agamawan bernama Fethullah Gulen yang saat ini mendapat perlindungan dari Gedung Putih. Pemerintah Turki beberapa kali mendesak agar Washington mengekstradisi Gulen untuk diadili dipengadilan, tapi permintaan tersebut kerap ditentang oleh AS.


Tanggapan Pemimpin Dunia

Sejumlah pemimpin dunia dari Rusia, Uni Eropa, Iran, dan PBB menyatakan prihatin atas peristiwa upaya kudeta di Turki pada Jumat waktu setempat.
Pasukan militer Turki memblokade jembatan utama di selat Bosphorus. (foto: Twitter)

Militer Turki Lakukan Kudeta, Kekuasaan Erdogan Di Ujung Tanduk

Pemerintahan Presiden Turki, Reccep Tayyip Erdogan, kini berada di ujung tanduk. Pihak militer Turki melakukan kudeta militer untuk menjatuhkan Erdogan dari tampuk kekuasaan Turki. (foto:Express.co.uk)
"Kepala Angkatan Laut dan jenderal yang bertanggung jawab atas Divisi Pertama Angkatan Darat telah menentang keras kudeta,"
ANKARA -- Berita mengejutkan datang dari Turki. Dilaporkan telah terjadi kudeta yang dilakukan pihak militer negara itu untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan. Namun, perkembangan terakhir menginformasikan jika kudeta tersebut tidak disetujui oleh seluruh kesatuan angkatan militer Turki.

Seorang pejabat senior pemerintahan Turki mengungkapkan bahwa komplotan yang mencoba melakukan kudeta di negara itu adalah beberapa elemen di Angkatan Udara dan Gendarmerie Turki (polisi pedesaan).

"Kepala Angkatan Laut dan jenderal yang bertanggung jawab atas Divisi Pertama Angkatan Darat telah menentang keras kudeta," katanya kepada CNN.


Pejabat itu menunjukkan penarikan tank-tank pemberontak dari bandara, sebagai bukti kudeta telah gagal. "Kami tidak percaya ini direncanakan untuk waktu yang lama," kata sumber itu.

Pesawat Tempur dan Helikopter Saling Serang di Ankara


Sebuah jet tempur Turki menambak jatuh satu helikopter militer di atas ibukota Ankara yang sedang digunakan komplotan yang mencoba berkudeta, penyiar NTV mengatakan pada hari Sabtu.

Secara terpisah, kantor berita Anadolu yang dikelola negara Turki mengatakan 17 polisi tewas di markas pasukan khusus di Ankara. Sementara CNN Turki melaporkan bahwa tiga bom telah dijatuhkan di luar gedung parlemen di Ankara.

Unit Intelijen Nasional Turki mengklaim telah mengalahkan para pekudeta. "Unit Intelijen Nasional mengumumkan para pekudeta telah dikalahkan," kata Rinuh Yilmaz, press officer untuk organisasi intelijen nasional.


Dalam laporan terbarunya, CNN juga menayangkan video yang memuat bentrokan antara pasukan militer dengan para pendemo di jalanan.

Tentara Angkatan Darat Turki berjaga-jaga di pusat kota Ankara. (foto: Reuters)