Jalur Militer: Korea Utara

Amerika Tuding Korut Masih Miliki 13 Pangkalan Rudal Nuklir Rahasia

Sebuah laporan yang dikeluarkan lembaga thing-thank Amerika Serikat menyatakan, Korea Utara memiliki pangkalan rudal rahasia yang mampu melancarkan serangan terhadap AS. (Foto: GETTY via express.co.uk)
"Korea Utara memang tidak pernah berjanji menutup basis rudal ini. Mereka tidak pernah menandatangani perjanjian apa pun, atau negosiasi apa pun yang membuat penutupan basis-basis rudal itu menjadi sebuah kewajiban,"
WASHINGTON DC -- Perundingan senjata nuklir Korea Utara dengan Amerika Serikat (AS), masih berlangsung hingga kini. Walau Korut menyatakan bersedia melucuti kekuatan senjata nuklirnya, dengan syarat Amerika dan negara-negara Barat menghapus seluruh sanksi yang dijatuhkan terhadap Korut, namun Amerika sepertinya tidak percaya begitu saya.

Lembaga think tank AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melaporkan, Korut Disebut masih memiliki 13 Pangkalan Rudal nuklir yang disembunyikan. Laporan ini merujuk pada citra satelit yang mereka himpun.

Korut setidaknya masih mengoperasikan 13 pangkalan nuklir yang dirahasiakan, di tengah perundingan perlucutan senjata nuklir dengan Amerika. 


Kepala CSIS untuk Program Korea Utara, Victor Cha mengatakan bahwa Kim Jong-un tampaknya "mengelabui" Presiden Donald Trump dengan menghancurkan salah satu pangkalan rudal, tapi masih ada belasan situs lain yang beroperasi.

"Tampaknya pangkalan-pangkalan ini belum dibekukan. Pekerjaan masih berlangsung. Yang dikhawatirkan semua orang adalah Trump akan menerima kesepakatan buruk. Mereka hanya menghancurkan satu situs uji coba dan menutup beberapa hal lain, dengan timbal balik mereka ingin kesepakatan damai," ujar Cha sebagaimana dikutip AFP, Senin (12/11).

Berdasarkan laporan CSIS, situs-situs rudal tersebut berlokasi di daerah pinggiran pegunungan di Korut. Situs itu dapat digunakan untuk menyimpan rudal berbagai jarak, yang terjauh bisa mencapai wilayah AS.

"Basis rudal yang beroperasi ini bukan fasilitas peluncuran. Rudal bisa diluncurkan dari dalam situs itu dalam keadaan darurat, dengan prosedur operasi tentara Korut memerintahkan semua pelontar rudal disebar ke situs-situs operasi itu," demikian bunyi laporan tersebut.

Salah satu situs yang paling dekat dengan perbatasan Korea Selatan, Sakkanmol, dilaporkan "aktif dan dikelola dengan sangat baik." Lembaga think tank itu menyatakan bahwa pemerintah AS seharusnya mengetahui keberadaan semua situs senjata nuklir dan rudal sebelum mencapai kesepakatan.

Kim Jong-Un memeriksa sebuah perangkat nuklir, saat mengunjungi salah satu situs instalasi rudal nuklir negara tersebut. (Foto: STR / AFP / Getty via independent.co.uk)

Kemunculan 'Wanita Besi' Dinasti Korea Utara Gemparkan Dunia

Kim Yo Jong Adik perempuan pemimpin Korea Utara, mengganti pulpen dari panitia yang akan digunakan oleh Kim Jong-Un, dalam pertemuan puncak antara Korea Utara dengan Amerika Serikat di Hotel Capella di pulau Sentosa di Singapura pada 12 Juni 2018. Wajah muda Kim Yo-jong yang manis dianggap akan mampu memainkan strategi kakaknya untuk mengubah citra pemerintahan Korea Utara. (Foto: Gettyimage)
PYONGYANG -- Media massa dunia sejenak dialihkan dari pemberitaan program nuklir Korea Utara. Hal ini disebabkan munculnya seorang wanita berparas cantik dan murah senyum di lingkaran terdekat Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un. Wanita tersebut bernama Kim Yo-Jong.
 
Kim Yo-jong adalah adik perempuan dari Pemimpin Korut Kim Jong-un. Ia anak terakhir dari mantan pemimpin Korut Kim Jong-il dan mempunyai ibu yang sama dengan Kim Jong-un. Kim Yo Jong membuat sejarah pada hari Jumat saat dia berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018.

Kedatangannya di Korsel sebagai anggota pertama dari keluarga penguasa Korut, merupakan pertanda bahwa saudara perempuan pemimpin tertinggi Kim Jong Un itu, menjadi wanita paling kuat di Korea Utara saat ini.


Si Cantik yang Misterius

Yo-Jong adalah sosok perempuan misterius. Untuk mengetahui siapa sebenarnya perempuan tidak dikenal ini, kita harus mundur beberapa waktu tepatnya saat mantan pemimpin Korut, Kim Jong-il, wafat pada 2011 lalu.

Kim Yo-jong diyakini sebagai anak termuda dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Il, dari ibu bernama Ko Yong Hui, seorang penari etnis Korea yang lahir di Jepang dan sewaktu kecil pindah ke Korea Utara, satu dekade setelah berakhirnya perang dengan Korea Selatan.

Ko Yong Hui diyakini telah bertemu dengan Kim Jong Il setelah dia pernah menikah dan memiliki seorang putra, Kim Jong Nam, dan satu anak perempuan, Kim Sol Song.


Setelah Ko Yong Hui melahirkan Kim Jong Chol dan pemimpin tertinggi masa depan Kim Jong Un, Kim Yo Jong menjadi tambahan terbaru untuk keluarga penguasa, yang saat itu masih dipimpin oleh pendiri Korea Utara Kim Il Sung, yang meninggal pada tahun 1994.
Silsilah dinasti Korea Utara.
Ketiga saudara kandung itu terbawa dalam isolasi relatif dari anggota keluarga lainnya, kemungkinan karena usaha Kim Jong Il untuk menjauhkan mereka dari ayahnya.

Yo-jong lahir pada tanggal 26 September 1987, dan saat ini diyakini berusia sekitar 30 tahun. Kim Yo-jong dan Kim Jong-un diyakini sangat dekat karena mereka menempuh pendidikan di sekolah swasta yang sama di Swiss pada akhir 1990an, dan karena mereka sudah dekat, mereka saling melindungi saat di sekolah.


"Dia tinggal di kedutaan bersama saudaranya dengan nama samaran. Mereka digambarkan sebagai anak-anak pekerja rumah tangga, pembantu dan tukang kebun," kata seorang ahli Korut yang mengelola blog dan kontributor untuk situs Johns Hopkins University’s Korean Studies, Michael Madden, seperti dikutip dari ABC News.go, Kamis (8/2/2017).

Pemain yang Bergerak Di belakang Layar

Tidak banyak yang diketahui tentang Kim Yo Jong setelah kembali belajar di Korea Utara. Namun, ibunya dilaporkan meninggal karena kanker payudara saat menjalani perawatan di Paris pada tahun 2004.

Yo-jong muncul pertama kali saat upacara pemakaman resmi mendiang ayahnya. Saat itu kehadiran Yo-jong menarik perhatian sejumlah pengamat. Sosok gadis muda terlihat aktif dan berdiri dekat dengan pewaris Jong-il, Kim Jong-un, membuat pengamat tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.

Kim Yo-jong, yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kim Jong-un, tampaknya bergerak mendekati pusat kekuasaan setelah pamannya dieksekusi dan bibinya menghilang dari foto-foto resmi pada tahun 2013. 


Laporan berita televisi pada waktu itu menunjukkan Yo-jong muda masuk dalam lapisan pejabat senior.

Selama bertahun-tahun sejak pemakaman Kim Jong-il, para analis terus memperhatikan keberadaan perempuan misterius ini di televisi Korut. 


Televisi Korut adalah satu-satunya sumber penting yang menawarkan petunjuk informasi tentang apa yang terjadi di dalam negara tertutup itu.
Kim Yo Jong (kiri) adik pemimpin Korea utara yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Propaganda dan Agitasi Departemen Partai Buruh Korea, membuka jalan untuk Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, sebelum mengadakan pertemuan di markas Partai Buruh di Pyongyang, Korea Utara, Selasa. (Foto: Korps Pers Pyongyang via upi.com)
Sesekali, ia muncul di belakang Kim Jong-un di sebuah stadion yang mengarah ke panggung saat acara-acara resmi kenegaraan, atau berjalan-jalan dengan bebasnya di dekat Kim Jong-un dan istrinya saat mereka berkeliling tempat monumental. 

Bahasa tubuhnya yang bebas sangat kontras dibandingkan dengan pejabat tua lain yang kokoh bak tentara dan sangat sopan di hadapan diktator muda Korut.

Memiliki Hak Istimewa

Sampai saat ini, Kim Yo Jong adalah satu-satunya saudara kandung Jon-un yang menikmati berita utama internasional. Konghan Oh, dari Brookings Institute, mengatakan bahwa adik perempuan Kim Jong-un tersebut memiliki hak istimewa. "Dia telah diberi banyak kesempatan untuk bepergian," kata Oh.


Yo-jong sendiri terakhir kali terlihat di luar negeri pada tahun 2011 ketika dia diduga menghadiri konser Eric Clapton dengan kakaknya, Jung-chul, di Singapura. Konfirmasi identitas resmi Kim Yong-jong akhirnya muncul pada tahun 2014. 

Ia menemani saudara laki-lakinya dalam memberikan suara untuk Majelis Rakyat Tertinggi. Penyiar berita untuk pertama kalinya menyebut Yo-jong sebagai "pejabat senior" Komite Sentral Partai Buruh.

Ia kemudian diangkat sebagai wakil direktur Departemen Propaganda dan Agitasi Partai Buruh. Tanggung jawab utamanya adalah untuk "mendewakan" dan mengumpulkan dukungan publik untuk pemimpin nasional.

Karirnya kemudian melesat dengan cepat dan menempatkannya dalam kursi kekuasaan di komite pusat Partai Buruh pada tahun 2016. Ia dipromosikan pada Oktober lalu menjadi Wakil Direktur Pertama Departemen Organisasi dan Kepemimpinan. 


Dia sekarang bertanggung jawab atas keamanan negara yang mengawasi pejabat senior di partai dan militer.
Wakil Presiden AS Mike Pence, pejabat senior Korea Utara Kim Yong Nam dan adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Kim Yo Jong menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, pada 9 Februari. Meskipun hanya satu kaki dari satu sama lain, Ada banyak spekulasi mengenai apakah Pence akan berbicara dengan pejabat Korea Utara. (Foto: Yonhap News Agency/Reuters)
Dalam sebuah birokrasi yang kaku dan tak kenal ampun seperti Korea Utara, sedikit tersisa kesempatan para ahli untuk berspekulasi tentang, bagaimana kemunculan Kim Yo Jong telah memberikan pengaruh terhadap kekuasaan Kim Jong Un, di tengah sistem kekuasaan yang sangat di dominasi kaum laki-laki dan pengaruh mendiang ayahnya.

Sejumlah elit tua Korut, beberapa di antaranya mungkin skeptis terhadap kemampuan pemimpin milenium untuk memerintah. 


Namun, Kim Jong Un menjawab kecurigaan ini dengan pembersihan, termasuk pamannya Jang Song Thaek, yang dieksekusi pada 2013. Jong-un kini telah mengganti wajah-wajah tua tersebut dengan yang lebih muda.

Dr. John Park, Direktur Bidang Studi Korea di Harvard School Kennedy School mengatakan kepada Newsweek, Kim Yo Jong telah menentang spekulasi awal "bahwa dia adalah orang yang bodoh atau tidak penting" dan malah terbukti menjadi bagian dari "generasi baru" pemimpin Kim Jong Un.


Sosok Harapan Perubahan

Kim Yo-jong akan menjadi anggota keluarga pertama dari penguasa Korut yang mengunjungi Korsel sejak berakhirnya perang Korea dengan perjanjian gencatan senjata pada 1953.

Ini adalah penampilan internasional pertamanya yang terkenal di panggung utama, meskipun secara teknis dia hanya anggota delegasi yang dipimpin oleh negarawan senior Korut  yang berusia lanjut, Kim Yong Nam yang berusia 90 tahun.

Untuk alasan keamanan, beberapa rincian jadwal perjalanan tiga hari Yo-jong di Korsel sangat dirahasikan. 


Setelah sampai di Bandara Internasional Incheon Selatan, menggunakan jet pribadi Kim Jong-un, Yo-jong langsung mengadakan pertemuan singkat dengan para pejabat Korsel, termasuk dengan Menteri Unifikasi Cho Myoung-gyon, sebelum dibawa dengan limusin hitam berkecepatan tinggi ke Pyeongchang untuk menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin.
Saudari Kim Jong-un dengan pengawalan ekstra ketat hadir sebagai delegasi Korea Utara, saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018, di Korea Selatan. (Foto: AP)

Inilah Kim Yo Jong, Sang 'Wanita Besi' Dinasti Korea Utara

Dinasti Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya salah satu wanita paling berkuasa dari negara itu, yakni Kim Yo Jong, yang merupakan adik dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un. Tetapi warga dunia masih menyangsikan apakah kemunculan wanita cantik ini mampu menghentikan kebengisan diktator Korea Utara. (Foto: Istimewa)
“Kim Yo-jong mungkin wajah Korea Utara yang paling ramah, namun masih merupakan lambang rezim yang mengerikan. Dan apa yang harus Anda lihat saat melihat senyum Kim Yo-jong? Untuk yang utama, senyumnya mewakili sebuah rezim yang sangat membutuhkan kelangsungan hidup,”
PYONGYANG -- Masyarakat dunia terutama media massa internasional dalam beberapa bulan terakhir menyorotkan perhatian lebih ke Korea Utara, yang selama ini dikenal sebagai negara diktator terkejam di dunia.

Hal ini dipicu dengan munculnya adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bernama Kim Yo Jong. Berbeda dengan para petinggi Korut lainnya yang dikenal berwajah bengis dan kaku, Kim Yo Jong muncul justru dengan wajah yang penuh senyuman, keramahan dan kesantunan.

Adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un itu sudah menjadi pusat perhatian sejak tiba di Korea Selatan. Kunjungannya selama tiga hari menjadi bagian sejarah upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang pada Jumat 9 Februari 2018.

Sebagai utusan saudara laki-lakinya, dia ditugaskan menunjukkan sisi lembut rezim Korut, yang dikenal buruk karena dituduh melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia dan mengembangkan program senjata nuklir.

Strategi tersebut sejauh ini berhasil dilakukan rezim Korut di media Korsel. Kengerian yang diperlihatkan sang kakak, ayah, dan kakeknya sama sekali tidak terlihat dari sosok Kim Yo-jong di tengah sorotan media Korsel dan internasional.

"Dia terlihat bugar dan tampak gesit, dibandingkan dengan saudara laki-laki dan anggota keluarga lainnya," tulis Oh Young-jin, editor pelaksana Korea Times.

Kantor berita CNN menyatakan bahwa Kim Yo-jong "mencuri pertunjukan di Olimpiade Musim Dingin." Sementara BBC mengatakan Korut berada dalam melancarkan "serangan dengan menggunakan pesona Kim Yo-jong."

Kim Yo Jong saat bersama para petinggi militer Korea Utara. Besarnya kewenangan yang dimiliki Kim Yo Jong, membuat adik perempuan pemimpin Korut tersebut digelari 'wanita besi' dari Korea Utara. (Foto: Istimewa)
"Kunjungan Kim Yo-jong efektif di bidang hubungan masyarakat Korut, mengingat kakaknya dikenal sebagai diktator kejam yang menyuruh agen membunuh kakaknya sendiri dengan racun di siang hari di bandara internasional, dan juga membunuh pamannya dengan senjata anti-pesawat," kata Guardian, Minggu 11 Februari 2018.

Kengerian yang Ditutupi

Diplomasi senyuman yang dilakukan adik diktator Korut Kim Jong-un; Kim Yo-jong, tak hanya menyita perhatian media internasional, tapi juga pembelot. Di mata pembangkang, perempuan muda itu adalah simbol sebuah rezim mengerikan yang membungkusnya dengan senyuman ramah.


Seorang pembelot yang diidentifikasi sebagai John Choi mengatakan kepada Open Doors, sebuah badan pengawas penganiayaan terhadap umat Kristen, bahwa Kim Yo-jong tidak mencontohkan rezim baru Korea Utara yang lebih positif.

“Kim Yo-jong mungkin wajah Korea Utara yang paling ramah, namun masih merupakan lambang rezim yang mengerikan. Dan apa yang harus Anda lihat saat melihat senyum Kim Yo-jong? Untuk yang utama, senyumnya mewakili sebuah rezim yang sangat membutuhkan kelangsungan hidup,” katanya.

Pembelot yang sekarang tinggal di Inggris itu mengatakan bahwa bahkan warga sipil Korea Utara sendiri tidak tertipu oleh senyum Kim Yo-jong di depan kamera.

”Mereka lebih memperhatikan makan malam besok dan memberi makan anak-anak mereka. Mereka tahu bahwa negara mereka mungkin telah menegosiasikan dukungan ekstra, namun semua dukungan itu akan masuk ke kelas penguasa,” sambung John Choi, seperti dikutip dari Daily Star, Minggu (25/2/2018).

Terkait hal ini, sebagian warga Korea Selatan juga masih skeptis terhadap keluarga Kim.

"Saya mendukung tim hoki karena kami (utara dan selatan) adalah orang yang sama-sama Korea, tapi Kim Jong-un dan para pemimpinnya adalah orang jahat," kata Hwang Min-ho, 22, yang sedang menonton pertandingan olimpiade.

Kim Yo Jong dengan pengawalan super ketat, tiba di Korea Selatan dalam rangka menghadiri pertemuan Reunifikasi Korea, di Presidential Blue House di Seoul. (Foto: Istimewa)
Sedangkan sejumlah pengamat menilai, kilauan senyuman yang diperkirakan Korut itu bisa dengan cepat hilang.

"Orang Korut itu negosiator tangguh. Kemungkinan mereka akan mengubah sikap usai Olimpiade berkisar di angka nol persen," ujar Robert Kelly, profesor politik di Universitas Nasional Pusan, mengatakan.

"Perundingan (damai dengan Korsel) akan menjadi seperti biasa: bernada keras dengan dimotori ketidakpercayaan mendalam. Olimpiade "tidak akan mengubah apa pun kecuali atmosfer ketegangan, dan itu hanya berlangsung singkat", tambahnya.

Waspadai 'Diplomasi Senyuman' Korea Utara

Jurus diplomasi yang diperlihatkan Korut, mendapat beragam tanggapan dari berbagai negara, terutama sejumlah negara yang menjadi rival utamanya, salah satunya adalah Jepang.

Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono mengingatkan semua pihak untuk tidak tertipu diplomasi senyuman yang diperlihatkan Korea Utara. Kono menegaskan meski Kim Yo-jong terus menebar senyum di Korsel, Pyongyang masih berkomitmen terhadap program nuklir dan misil.


Bukan menuduh tanpa sebab, Kono menyebut Korut tetap mengejar ambisi nuklirnya meski ketegangan dengan Korsel cenderung menurun. Hal ini terlihat dari digelarnya parade militer di Korut menjelang pembukaan Olimpiade Pyeongchang beberapa hari lalu.

"Tanpa tertipu oleh diplomasi senyuman, Jepang akan terus berkoordinasi (dengan Amerika Serikat dan Korsel) untuk menuju tujuan utama denuklirisasi Semenanjung Korea," ujar Kono kepada awak media di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, seperti dikutip Japan Times, Senin 12 Februari 2018.

Adik perempuan Kim Jong Un mencatatkan namanya dalam buku sejarah menjadi orang pertama dari dinasti Kim yang menginjakkan kakinya ke Korea Selatan sejak Perang Korea berakhir, saat menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018. Momen ini merupakan kehadiran pertama kali Kim Yo Jong di Korea Selatan.

Sebelum bertemu dengan Presiden Korsel, Moon Jae In, simpul senyum elok khas wanita Korea Utara terbit di wajahnya saat pagelaran upacara olimpiade berlangsung. Sorot mata dunia pun langsung tertuju pada adik Pemimpin Korut yang kini masih diselimuti misteri itu.

Ri Son-kwon, ketua Komite Reunifikasi Korea, berbicara dengan Kim Yo-Jong, saudara perempuan Kim Jong-un sebelum pertemuan mereka di Presidential Blue House di Seoul. (Foto: Reuters)

Rudal Nuklir Korea Utara Kini Mampu Menghantam Kawasan Eropa

Ujicoba peluncuran rudal nuklir Korea Utara. Kemampuan daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat dari waktu ke waktu, hal ini menimbulkan kecemasan bagi AS dan negara-negara Barat lainnya. (Foto: © REUTERS / KCNA)
"Sekarang kita akhirnya menyadari penyebab historis yang hebat dalam menyelesaikan kekuatan nuklir negara,"
PYONGYANG -- Permasalahan senjata nuklir Korea utara (Korut) kini masih menjadi momok menakutkan bagi dunia Barat. Korut dituduh terus melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan nuklir mereka. Terbukti, daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat, bahkan kini mampu mencapai kawasan Eropa.

Rudal balistik antarbenua (ICBM) Korut kini dapat dipasangi hulu ledak nuklir dan mampu menargetkan negara-negara di Eropa tengah. Perkembangan kemampuan senjata rezim Kim Jong-un ini disampaikan intelijen Jerman.

Surat kabar Bild pada hari Minggu mengutip laporan Wakil Ketua Federal Intelligence Service (BND), Ole Diehl, kepada pejabat pemerintah dalam sebuah pertemuan tertutup. Dalam laporannya, Diehl mengatakan bahwa ICBM Korea Utara sekarang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir.

Selain itu, dia juga yakin bahwa ICBM Pyongyang sekarang dapat menjangkau Jerman. Meski demikian, Diehl melihat pembicaraan antara Korea Utara dan Korea Selatan sebagai langkah positif untuk menurunkan ketegangan. Pihak BND secara resmi belum berkomentar atas laporan pejabatnya tersebut.

Korea Utara telah lama mengklaim bahwa rudalnya mampu mencapai berbagai negara di dunia. Pada bulan November, Pyongyang mengatakan telah melakukan uji coba pertama Hwasong-15, sebuah rudal balistik antarbenua terbaru yang diklaim bisa sampai ke bagian dunia manapun.

Perkembangan daya jangkau rudal nuklir Korea Utara, yang kini sudah mampu mencapai kawasan Eropa dan sebagian wilayah teritorial Amerika Serikat.

Indonesia Hanya Punya 16 Menit untuk Berlindung dari Rudal Nuklir Korut

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tengah memeriksa persiapan peluncuran sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-12.

Pesimis Dengan Perdamaian, AS Siapkan Opsi Militer untuk Hadapi Korut

Amerika Serikat secara diam-diam mempersiapkan kekuatan militer besar-besaran untuk menghadapi eskalasi konflik di Semenanjung Korea. AS mengaku pesimis bahwa penyelesaian nuklir Korea Utara dapat dilakukan melalui jalur damai. (Foto: express.co.uk)
"Presiden Trump juga mengatakan bahwa AS terbuka untuk melakukan pembicaraan, jika Korea Utara menginginkannya, selama keadaan dan waktunya tepat. Trump juga mengatakan bahwa tidak akan ada tindakan militer diambil selama pembicaraan antara Korea sedang berlangsung,"
WASHINGTON DC -- Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan kantor berita Reuters, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pesimis krisis Korea Utara bisa diselesaikan dengan cara damai. Trump meyakini, dialog saja tampaknya tidak dapat menyelesaikan permasalahan dua Korea. Berbicara dari Ruang Oval, Trump mengatakan kepada Reuters, dia masih tidak mengesampingkan opsi militer dalam krisis ini.

"Saya mau duduk dan bicara, tetapi saya tidak yakin masalah bisa diselesaikan. Saya juga tidak yakin perundingan akan menghasilkan sesuatu yang berarti," kata Trump, mengingat dialog ini sudah berlangsung selama 25 tahun, seperti dikutip dari laman Russia Today, Kamis (18/1).

Dalam wawancara ini Trump juga menuding Rusia seolah memberi dukungan kepada Korut. Padahal, Dewan Keamanan PBB telah memberikan sanksi kepada Korut. Namun negara tersebut justru menyarankan AS agar melakukan pendekatan lebih moderat terhadap Pyongyang.

"Rusia bersikap terlalu lunak terhadap Korut dan tidak berbuat banyak untuk menerapkan sanksi yang disepakati oleh PBB," ungkapnya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengkritik pertemuan gabungan antara AS dan Kanada untuk menyelesaikan persoalan di Korut. Rusia menilai bahwa negara-negara yang hadir di Vancouver gagal memberikan strategi alternatif untuk menghentikan program nuklir.

Sebuah truk angkatan laut Korea Utara membawa rudal balistik yang diluncurkan oleh Pukkuksong (SLBM) selama sebuah pawai militer yang menandai ulang tahun kelahiran ke-105 pendiri negara, Kim Il Sung, di Pyongyang, 15 April. (Foto: REUTERS/Damir Sagolj)
Sebelumnya, Donald Trump mengatakan bahwa dirinya bersedia untuk membuka dialog dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un. Hal itu disampaikan Trump kepada rekannya di Korea Selatan, Presiden Moon Jae-in melalui pembicaraan di telepon, sehari setelah Korut dan Korsel mengadakan pertemuan pertama setelah dua tahun untuk membicarakan berbagai isu di kawasan.

"Kedua kepala negara menyakini bahwa perundingan antara Korut dan Korsel secara otomatis akan membawa perundingan antara AS dan Korut tentang denuklirisasi di Semenanjung Korea setelah Olimpiade Muslim Dingin di Pyeongchang. Keduanya juga sepakat untuk bernegosiasi mengenai perkembangan perundingan antar Korea," demikian pernyataan dikeluarkan, seperti dilansir dari laman Asia One, Kamis (11/1).

Trump juga mengatakan akan mengirim Wakil Presiden Mike Pence untuk memimpin delegasi AS ke olimpiade Pyeongchang yang akan diadakan di Korea Selatan bulan depan.

"Presiden Trump juga mengatakan bahwa AS terbuka untuk melakukan pembicaraan, jika Korea Utara menginginkannya, selama keadaan dan waktunya tepat. Trump juga mengatakan bahwa tidak akan ada tindakan militer diambil selama pembicaraan antara Korea sedang berlangsung," tegas pernyataan itu

Siapkan Serangan Militer Besar-besaran

Walau Amerika Serikat menyatakan siap melakukan perundingan dengan Korea Utara, Presiden AS, Donald Trump mengakui juga mempersiapkan kekuatan militer jika eskalasi konflik semakin meningkat. Hal ini disampaikan Trump dalam sebuah artikel di koran Wall Street Journal. Dalam artikel tersebut, Trump menegaskan bahwa AS sedang mempertimbangkan serangan militer ke Korut adalah salah besar.


"Siapa yang tahu ke mana arahnya? Semoga ini bisa membawa kebaikan bagi dunia, bukan hanya untuk negara kita tetapi juga bagi seluruh negara di dunia. Kita bisa menunggu beberapa bulan dan bulan berikutnya sampai ini terjadi," paparnya kepada wartawan di Gedung Putih usai panggilan telepon itu.
Daya jangkau rudal nuklir Korea Utara, yang sudah menjangkau sebagian daratan Amerika Serikat. (Foto: smh.com.au)
Sedangkan Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis dan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengatakan, AS siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di semenanjung Korea. Untuk itu, AS telah melakukan inisiatif melakukan latihan militer dengan sekutunya, Korea Selatan, jika nanti harus pecah perang terbuka dengan Pyongyang.

Menurut Harian the New York Times, AS diam-diam tengah menyiapkan perangkat dan juga pasukan militer untuk memulai perang di Semenanjung Korea. Hal tersebut ditunjukkan melalui sebuah latihan tempur dan latihan logistik yang hampir menyerupai perang dalam skala besar baru-baru ini.

Berdasarkan keterangan Pentagon, latihan invasi darat ini berbasis perluasan program kontra-terorisme yang berkelanjutan. Namun, jenis dan ruang lingkupnya mengarah ke sebuah operasi yang jauh lebih besar, dibuktikan dengan latihan militer di Fort Bragg, California Utara, bulan lalu.


Bahkan, ada 48 helikopter tempur Apache dan helikopter kargo Chinook yang digunakan untuk membawa pasukan dan persedian logistik selama mereka menjalani latihan tembak artileri.

Dilansir dari laman Sputniknews, Rabu (17/1), latihan Fort Bragg itu dilakukan selama kurang dari 48 jam, di mana ratusan pasukan melakukan terjun payung dan melompat dari pesawat kargo C-17 di dataran rendah dalam kegelapan, seolah mensimulasikan invasi pasukan darat yang besar.

Selain itu, latihan ini juga untuk mengerahkan pasukan Operasi Khusus tambahan di Korea Selatan guna mengamankan Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, yang jauhnya sekitar 80 mil dari perbatasan Korut.

Latihan militer bersama antara Amerika Serikat dengan Korea Selatan. (Foto: Yonhap/EPA)

Korea Selatan Siapkan Serangan Pre-emptive untuk Hancurkan Korea Utara

Sistem pertahanan udara canggih THAAD, salah satu senjata canggih yang saat ini dimiliki Korea Selatan untuk melawan kekuatan nuklir negara tetangganya Korea Utara. Korsel bertekad akan melakukan serangan balik dan mematikan sehingga mampu menghapus menghanguskan negara komunis itu, jika Korut benar-benar berani menyerang mereka dengan kekuatan nuklirnya. (Foto: Istimewa)
“Setiap distrik di Pyongyang, terutama dimana pemimpin Korut mungkin bersembunyi, akan dihancurkan dengan rudal balistik dan artileri berkekuatan tinggi saat Korut menunjukkan tanda-tanda penggunaan senjata nuklir. Dengan kata lain, ibu kota Korut akan dijadikan debu dan dihapuskan dari peta,”
SEOUL -- Sikap provokasi dan yang terus-menerus dilontarkan Korea Utara (Korut), kini mulai ditanggapi Korea Selatan (Korsel) dengan tindakan yang lebih tegas. Dalam sikap diamnya, Korsel ternyata telah menyiapkan sebuah skenario perang penghabisan untuk mengalahkan dan membumi hanguskan Korut.

Hal ini diketahui setelah seorang sumber militer Korea Selatan (Korsel) mengungkap rencana rahasia Negeri Ginseng itu untuk meratakan ibu kota Korut, Pyongyang dengan tanah jika negara pimpinan Kim Jong-un itu menunjukkan tanda-tanda akan melakukan serangan nuklir. Pernyataan itu disampaikan beberapa hari setelah uji coba nuklir kelima yang dilakukan Korut pekan lalu.

Terungkapnya rencana bumi hangus Pyongyang itu terjadi setelah Kementerian Pertahanan Korsel melaporkan rencana bernama “Korea Massive Punishment & Retaliator (KMPR) pada Majelis Nasional sebagai respons uji coba di nuklir Korut.

“Setiap distrik di Pyongyang, terutama dimana pemimpin Korut mungkin bersembunyi, akan dihancurkan dengan rudal balistik dan artileri berkekuatan tinggi saat Korut menunjukkan tanda-tanda penggunaan senjata nuklir. Dengan kata lain, ibu kota Korut akan dijadikan debu dan dihapuskan dari peta,” kata seorang sumber militer yang tidak disebutkan namanya seperti dilansir Yonhap, Senin (12/9/2016).
Pasukan aliansi militer Korea Selatan dan Amerika Serikat saat melakukan latihan tempur menyerang Korea Utara. AS sering memprovokasi dan menciptakan kemarahan Korut dengan melakukan berbagai macam simulasi perang menghadapi Korut. (Foto: Istimewa)
Konsep operasi itu adalah serangan bom pre-emptive kepada Pemimpin Korut, Kim Jong-un dan pejabat-pejabat lainnya jika ada tanda-tanda mereka akan melakukan serangan nuklir. Menurut sumber itu Korsel siap untuk mengerahkan rudal Hyunmoo mereka yang saat ini masih dalam tahap uji coba.

Korea utara dan Korea Selatan sejatinya masih dalam posisi perang terbuka. Penghentian perang dilakukan hanya berdasarkan pada perjanjian genjatan senjata antara kedua belah pihak. Berbagai upaya perdamaian dan reunifikasi sudah dilakukan untuk menyatukan kembali dua negara yang sebenarnya masih satu bangsa ini, namun selalu menemui jalan buntu.

Bantuan militer tanpa batas yang diberikan Amerika Serikat kepada Korea Selatan, membuat Korut menjadi semakin agresif dan mencurigai kemungkinan serangan tiba-tiba Korsel dengan dibantu AS, untuk menjatuhkan negara komunis itu.

Kini konflik semakin memanas dan berbahaya setelah Korut berhasil menciptakan senjata nuklir dan mengancam akan menyerang semua negara yang dianggap menjadi ancaman, bahkan jika itu artinya harus menyerang daratan Amerika Serikat sekalipun. (*)

Sumber: Yonhap

Ujicoba Rudal Nuklir Korea Utara Ciptakan Guncangan Gempa Dahsyat

Presiden Korea Utara Kim Jong Un kembali melakukan uji coba nuklir kelima. Uji coba senjata nuklir kali ini dianggap sebagai salah satu yang terkuat, karena mampu menciptakan guncangan gempa dahsyat. (Foto: Youtube)
KILJU -- Korea Utara kembali membuat resah dunia dengan kekuatan nuklirnya. merespon provokasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Korea Selatan, negara komunis itu kembali melakukan uji coba nuklirnya. Uji coba kali ini diprediksi menjadi salah satu yang terbesar, karena mampu menimbulkan guncangan gemba hingga terasa ke sejumlah negara.

Kementerian Pertahanan Korea Selatan membenarkan kabar bahwa Korut diduga kembali melakukan uji coba nuklir. Uji coba yang diadakan di fasilitas nuklir Pyunggye-ri di wilayah Kilju itu menimbulkan guncangan yang serupa dengan gempa. Pejabat itu menambahkan, kekuatan dari ledakan nuklir Korut tersebut diduga sebesar 10 kiloton.

“Berdasarkan hasil analisis, kami berkesimpulan bahwa Korut telah mengadakan uji coba nuklir,” ujar pejabat Kemhan Korsel, seperti dilansir Yonhap, Jumat (9/9/16).

Guncangan ini juga dibenarkan oleh China Earthquake Networks Center (CENC) yang menyatakan terjadi pada pukul 08.30 waktu setempat. Pihak CENC menambahkan, guncangan kuat terjadi di permukaan bumi.
Guncangan gempa yang ditimbulkan akibat uji coba senjata nuklir Korea Utara. (Gambar: Istimewa)
Menanggapi tindakan Korea Utara ini, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dilaporkan langsung mengadakan rapat darurat di Gedung Biru (Istana Kepresidenan Korsel), membahas uji coba nuklir Korut.

Uji coba nuklir Korut yang menimbulkan guncangan gempa dahsyat itu langsung menimbulkan kekhawatiran beberapa negara. Langkah-langkah mengantisipasi tindakan Korut pun dilakukan sejumlah negara. 

Otoritas keamanan Amerika Serikat (AS) mengatakan terus menghubungi sekutunya di Semenanjung Korea untuk memastikan Korut memang mengadakan uji coba nuklir. Dewan Keamanan Nasional AS juga menyatakan terus memonitor situasi di sana.

Sedangkan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengatakan bakal mengajukan protes keras kepada Korut jika memang terbukti. Media Kyodo News mewartakan, Pemerintah Jepang telah mengajukan protes resmi atas tindakan Korut ini. Nota protes dikirim ke Pyongyang melalui jaringan diplomatis China.
Peluncuran rudal nuklir Korea Utara. (Foto: AFP)
Sementara itu, Kementerian Lingkungan China langsung mengadakan pengawasan radiasi di sepanjang perbatasan bagian timur lautnya. Ini merupakan wilayah perbatasan China dengan Korut.

Korea Utara Menantang

Uji coba nuklir Korea Utara juga menimbulkan kecemasan Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), yang mengecam dengan keras aksi gegabah dan membahayakan itu. DK PBB mengutuk Korut karena menimbulkan keresahan di kawasan semenanjung Korea dan Asia pada umumnya.

Kutukan dari DKK PBB itu sendiri dikeluarkan melalui pernyataan pers yang dirilis pada Selasa lalu. DK PBB semakin geram dengan peluncuran rudal Korut, sebab rudal yang ditembakkan pada Senin 5 September itu diduga jatuh di perairan zona ekonomi eksklusif Jepang.

Seakan tak gentar dengan ancaman apapun, mendengar kutukan DK PBB tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korut langsung merilis pernyataan melalui media Korean Central News Agency (KCNA).
Daya jangkau senjata nuklir Korea Utara yang mampu menjangkau seluruh wilayah Jepang, Korea Selatan, Australia dan sebagian dataran Amerika Serikat.