Jalur Militer: EROPA

Amerika Mulai Jadi Ancaman, UE Bentuk Aliansi Pertahanan Baru

Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sedang merancang sebuah draft untuk pembentukan aliansi pertahanan baru di luar NATO di kawasan benua Eropa. Aliansi ini sebagai bentuk antisipasi guna menghadapi negara-negara kuat seperti Rusia, China dan Amerika Serikat yang kini juga dianggap sebagai ancaman potensial sejak kepemimpinan Donald Trump. (Foto: AFP / Mehdi Fedouach via sputniknews.com)
"kami orang Eropa benar-benar harus mengambil nasib kami ke tangan kami sendiri."
BERLIN -- Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pembentukan pasukan militer Uni Eropa secara nyata, menyikapi rencana Amerika Serikat (AS) yang akan keluar dari perjanjian pembatasan senjata nuklir jarak menengah (INF).

Pernyataan Merkel ini sekaligus mendukung usulan serupa yang sudah pernah dilontarkan Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk membuat pasukan gabungan Uni Eropa pekan lalu.

Merkel secara terang-terangan mendukung usulan Macron terkait perencanaan pertahanan Eropa baik melalui operasi militer maupun pengembangan senjata. Menurut Merkel, pasukan militer Uni Eropa tidak akan merusak aliansi yang dibentuk lewat Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

"Kami harus bekerja pada visi membangun militer Eropa yang nyata. Pasukan militer Uni Eropa bisa jadi pelengkap NATO," tegas Merkel saat berpidato di Parlemen Eropa seperti dikutip Reuters, Selasa (13/11).

Sejak tahun 2013, Jerman telah mengambil kebijakan pengintegrasian sistem pertahanan yang lebih erat dengan sejumlah negara anggota Uni Eropa. Jerman berbagi pasukan dan kemampuan dengan negara-negara Eropa lainnya. 


Dua brigade Belanda telah diintegrasikan ke dalam Divisi Respons Cepat Bundeswehr dan Divisi Lapis Baja ke-1. Jerman juga melakukan hal yang sama untuk pasukan Ceko dan Rumania.

Dalam banyak hal, Jerman sering bersilang pendapat dan kebijakan dengan Prancis, Namun soal menghadapi arogansi AS di benua Eropa, Jerman dan Prancis berada dalam visi dan misi yang sama. Kedua negara kuat ini berangggapan bahwa sudah saatnya "menendang" Amerika dari kawasan tersebut.

Sebelumnya Macron menegaskan bahwa Benua Biru harus mulai mengurangi ketergantungan kepada AS. Macron menyerukan agar dibentuk sebuah pasukan militer Eropa untuk menangkal ancaman dari AS, Rusia, dan China.


Pernyataan ini disampaikan Macron terkait sikap AS yang disebut akan keluar dari kesepakatan bernama Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF). Menurut Macron, Eropa akan menjadi korban jika AS keluar dari perjanjian yang melarang AS maupun Rusia membuat rudal dengan jangkauan 500 hingga 5.500 kilometer tersebut.

Macron menegaskan perlindungan terhadap masyarakat Eropa akan terwujud melalui pasukan militer Eropa yang tangguh tanpa harus bergantung pada AS. Macron menyerukan dibentuknya pasukan khusus gerak cepat dari sembilan negara Eropa yang sifatnya bebas dari campur tangan NATO.

Pernyataan Macron membuat Presiden AS Donald Trump kesal. Melalui akun twitter pribadinya pada 9 November lalu, Trump menuding Macron sedang berusaha membangun pasukan militernya sendiri untuk melawan AS.


Hari ini, Selasa (13/11) Trump kembali berkicau dan membidik Macron. Trump mengecam Perancis yang kalah pada dua perang dunia karena dekat dengan Jerman. Tak hanya itu, Trump juga menyinggung industi anggur Perancis.
Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu dengan Pasukan ke-4, Angkatan Udara Cepat (SES) dari angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, di sebuah barak tentara di Leer, Ostfriesland, Jerman. (Foto: Fabian Bimmer / Reuters)
Menurut Trump, AS dipersulit untuk mengirim anggur ke Perancis karena dikenakan tarif besar. Trump juga menyinggung tingkat akseptabilitas Macron di Perancis yang terus menurun karena meningkatkan angka pengangguran.

Upaya Uni Eropa Keluar dari Cengkraman Amerika Serikat

Usulan pembentukan pasukan khusus Uni Eropa yang lepas dari pengaruh Amerika dan NATO sebenarnya sudah diajukan oleh sejumlah tokoh dan petinggi Uni Eropa, dan bahkan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker telah membicarakannya empat tahun lalu.

Kepada surat kabar Die Welt pada 2015 Jucker mengatakan bahwa, "sebuah pasukan Eropa yang umum akan menyampaikan pesan yang jelas kepada Rusia bahwa kami serius membela nilai-nilai Eropa kami."

Usulan Jucker yang rencana awalnya hanya untuk menghadapi militer Rusia, kini semakin berkembang setelah menilai bahwa AS bukan lagi sekutu yang jujur bagi kawasan itu. Ditambah lagi kebangkitan militer China juga menjadi ancaman baru bagi eksistensi Uni Eropa.


Pada bulan Maret, Uni Eropa juga mengumumkan pembukaan "markas militer gabungan." Namun, Menteri Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan bahwa markas militer gabungan itu "bukan tentara Eropa."

Pada awal November, Presiden Emmanuel Macron menyerukan pembentukan tentara Eropa yang akan independen dari Amerika Serikat, menekankan bahwa Prancis baru-baru ini menghadapi beberapa upaya oleh kekuatan luar untuk ikut campur dalam urusan domestik dan cyber security.

Secara khusus, presiden Prancis menyebutkan ancaman yang diduga datang dari Cina, Rusia, dan Amerika Serikat. Kanselir Jerman Angela Merkel menyuarakan dukungannya untuk gagasan itu.

Merkel menyatakan bahwa Eropa tidak dapat lagi bergantung pada sekutunya di Inggris dan Amerika Serikat dan bahwa "kami orang Eropa benar-benar harus mengambil nasib kami ke tangan kami sendiri."


Pada bulan Desember, negara-negara anggota UE, kecuali Denmark, Malta, dan Kerajaan Inggris, mengadopsi keputusan untuk membentuk Kerja Sama Terstruktur Permanen (PESCO). Negara-negara menyepakati daftar 17 proyek yang akan dilakukan di bawah PESCO, termasuk pelatihan, pengembangan kemampuan, dan kesiapan pertahanan operasional.

Musim panas ini, Komisi Eropa mengusulkan peningkatan investasi keamanan sebesar 40 persen dalam anggaran 2021-2027. Blok tersebut juga mendukung Program Pengembangan Industri Pertahanan Eropa (EDIDP), yang bertujuan untuk mendanai pengembangan produk dan peningkatan teknologi baru.

Program ini akan diluncurkan sebagai bagian dari Dana Pertahanan Uni Eropa, yang dibentuk pada 2017 untuk mengoordinasikan investasi negara-negara Uni Eropa dalam pertahanan, penelitian, dan perolehan teknologi dan peralatan militer baru.

Presiden Perancis Emmanuel Macron, salah satu pemimpin Eropa yang paling keras menetang hegemoni dan arogansi Amerika Serikat di kawasan Eropa. (Foto: Reuters)
Tapi negara-negara di benua biru itu belum menemukan konsep integrasi militer seperti apa yang akan dipilih oleh negara-negara anggota UE, setelah November lalu Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang membuka jalan bagi pembentukan aliansi pertahanan baru.

Dalam resolusi itu sudah dibuat sebuah draft yang mewajibkan setiap anggota mendedikasikan 2 persen PDB negara anggota untuk pertahanan, mendirikan pasukan multinasional UE, yang memungkinkan blok tersebut bertindak dalam situasi apa pun di mana "NATO tidak mau."

Masalah anggaran pertahanan, tidak semua negara di kawasan itu yang setuju dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Namun, sejumlah negara dengan sukarela menyatakan menyetujuinya. Brussels adalah salah satu negara yang menyatakan siap menggelontorkan dana lebih untuk pembentukan aliansi baru.

Bahkan, salah satu negara termakmur di dunia tersebut telah meluncurkan Dana Pertahanan Eropa, dan berkomitmen untuk menginvestasikan hingga lebih dari € 5 milyar per tahun setelah 2020 untuk mengembangkan dan mendapatkan teknologi militer terbaru.

Saat ini, UE sedang mempertimbangkan tiga skenario integrasi. Pertama skenario "Keamanan dan Kerja Sama Pertahanan." Skenario pertama ini lebih longgar dan ringan, karena negara-negara anggotanya hanya secara sukarela berkontribusi dan akan mengeluarkan anggaran masing-masing jika ada ancaman keamanan kasus per-kasus.

Kedua, skenario "Keamanan Bersama dan Pertahanan." Skenario kedua ini lebih ketat, karena mengharuskan dan mewajibkan negara-negara anggota memperkuat pertahanan mereka dengan berkontribusi mengerahkan seluruh aset keuangan dan operasional pertahanan masing-masing anggota.

Opsi terakhir, adalah skenario "Pertahanan Umum dan Keamanan." Ini adalah langkah paling tegas dan nyata, karena pembentukan kebijakan pertahanan UE bersama akan dibangun berdasarkan Pasal 42 dari Traktat UE.

Skenario terakhir ini akan menganggap setiap ancaman dari negara musuh akan dipandang sebagai ancaman bagi seluruh negara anggota. Seluruh persenjataan, perangkat militer, teknologi, operasional dan bahkan strategi setiap negara anggota UE akan diintegrasikan menjadi satu kesatuan untuk menghadapi dan menggempur serangan musuh.

Dari sejumlah skenario yang ada, kendala terbesar pembentukan aliansi adalah tidak adanya dukungan dari negara terkuat di Eropa, yaitu Inggris. Sejumlah usulan, dan rencana integrasi yang diajukan, selalu ditolak oleh Inggris. Negara kerajaan tertua di dunia itu tetap 'ngotot' dengan pendiriannya yang akan keluar dari Uni Eropa dan berdiri dengan kaki sendiri.

Sejak Inggris mengambil kebijakan keluar dari Uni Eropa yaitu lebih dikenal dengan Brexit, London merasa tidak memiliki kewajiban apapun dengan UE dan tidak akan ikut campur dengan setiap kebijakan yang akan dibuat oleh persekutuan. 


Namun, tidak mengajak Inggris sebagai negara besar di benua itu dalam rencana pembentukan aliansi baru oleh sejumlah analis Barat juga dianggap merupakan sebuah keanehan.
Presiden AS Donald Trump, menyaksikan kedekatan hubungan Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan Kanselir Jerman Angela Merkel saat menghadiri upacara Arc de Triomphe, 11 November. (Foto: AP / Francois Mori)

Turki Manfaatkan Konflik AS-Rusia untuk Dapatkan Rudal S-400 dan Patriot

Ujicoba misil pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat. Turki berencana juga akan membeli rudal Patriot, selain juga membeli misil tandingan S-400 dari Rusia. (Foto: defpost.com)
"Turki Mencari kepemimpinan di Timur Tengah, Turki mencoba menggunakan konflik antara negara-negara kuat seperti AS dan Rusia untuk kepentingannya sendiri,"
ANKARA -- Setelah mendapatkan ancaman sanksi dari Amerika Serikat (AS) karena membeli rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia, kini Turki mengisyaratkan juga akan membeli misil pertahanan Patriot dari Amerika.

Rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal Patriot AS disampaikan Juru bicara Presiden Erdogan beberapa waktu lalu. "Turki tidak harus memenuhi kebutuhannya dari satu sumber, karena Turki adalah negara besar," kata juru bicara Erdogan.

Namun, sejumlah pengamat dari Rusia menyatakan langkah Erdogan tersebut hanya memanfaatkan konflik yang terjadi antara Rusia dengan musuh bebuyutannya, yaitu Amerika, untuk mendapatkan sekaligus rudal canggih S-400 dan Patriot dengan harga murah.

"Turki Mencari kepemimpinan di Timur Tengah, Turki mencoba menggunakan konflik antara negara-negara kuat seperti AS dan Rusia untuk kepentingannya sendiri," kata Nikita Danyuk, wakil direktur Institute for Strategic Studies and Predictions yang berbasis di Moskow, dilansir dari Russia Today, Sabtu (24/11/2018).

Nikita menyatakan, memegang negosiasi dengan beberapa mitra dagang secara bersamaan sejalan dengan taktik Presiden Erdogan untuk menggunakan kesepakatan senjata sebagai alat tawar-menawar. 


"Dengan menjajaki kesepakatan itu, ada kemungkinan bahwa Erdogan ingin mendorong Moskow untuk memberikan konsesi tertentu dalam hal kerja sama militer," kata analis itu.

selain itu, Turki juga menjadikan perseteruan Washington dan Moskow di Timur Tengah sebagai nilai tawar dengan Amerika. Dengan membeli rudal Patriot, Erdogan mengharapkan kesepakatan untuk menghalangi Presiden Donald Trump menekan Turki dalam memotong hubungan ekonominya dengan Iran.

Erdogan juga mengharapkan Amerika akan segera menyerahkan pentolan oposisi Turki, Fethullah Gulen, yang kini bermukin di AS dan menggeser kebijakan Amerika pada kaum Kurdi Suriah.

Para perwira tentara AS berdiri di depan sistem pertahanan rudal Patriot AS, selama latihan militer gabungan Israel-AS "Juniper Cobra" di Hatzor Airforce Base Israel pada 8 Maret 2018. Rudal Patriot yang dimiliki Israel, menjadi alasan kuat Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. (Foto: AFP / JACK GUEZ)
Seperti diketahui, Pentagon selama ini telah membantu kelompok paramiliter YPG Kurdi di Suriah utara dengan senjata dan pelatihan. Sedangkan Ankara menganggap YPG sebagai organisasi teroris dan meluncurkan beberapa operasi militer terhadap milisi Kurdi.

"Turki membuat isyarat niat baik, mengharapkan AS untuk mengubah pendiriannya terhadap Kurdi di Suriah. AS menghadapi dilema; terus mendukung Kurdi atau membiarkan Erdogan menghancurkan otonomi mereka," kata Peneliti kebijakan luar negeri Rusia, Konstantin Truyevtsev.

Truyevtsev, yang bekerja di Institute of Oriental Studies of the Russian Academy of Sciences Rusia, berpendapat bahwa Presiden Erdogan tidak mungkin berhasil mengubah strategi Amerika di kawasan itu, tetapi dia akan terus berusaha.

Integrasi S-400 dengan Patriot Mustahil Dilakukan

Jika rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 dan misil Patriot terealisasi, Ankara setidaknya harus melakukan pengintegrasian teknologi pada dua misil pertahanan terkuat di dunia tersebut.

Hal inilah yang disanksikan oleh sejumlah pengamat militer. Pasalnya, basic atau dasar teknologi dari kedua senjata canggih tersebut sangat berbeda. Ahli militer Aleksey Leonkov mengatakan, akan sulit untuk membuat sistem rudal Patriot kompatibel dengan S-400 buatan Rusia, jika Turki memutuskan untuk menyebarkan keduanya.

"Ini diragukan bahwa rudal Patriot dapat berintegrasi dalam satu sistem kontrol dengan S-400. Amerika tidak akan mengizinkannya, karena khawatir teknologi yang sangat rahasia akan bocor ke Moskow," katanya.

Upaya pencurian teknologi kemungkinan besar terjadi dan akan dilakukan oleh dua negara adidaya tersebut, untuk mencari titik lemah masing-masing. Nilai tawar Turki akan menjadi penentu, apakah hegemoni Ankara mampu menggoyahkan kedua negara raksasa tersebut.

Sanksi Amerika jadi 'Senjata makan Tuan'

Kebijakan yang diterapkan oleh rezim Donald Trump untuk memberikan sanksi atau hukuman kepada setiap negara yang membeli senjata dari Rusia, ternyata menjadi 'senjata makan tuan' yang sangat merepotkan bagi Washington.

Truk militer Belanda membawa sistem pertahanan rudal Patriot NATO untuk melindungi Turki jika tetangga Suriah meluncurkan serangan, yang diturunkan di pangkalan Incirnik, dekat Adana, Turki, Kamis, 24 Januari 2013. Sebagai sesama anggota NATO, Turki memang mendapat bantuan 'pinjaman' rudal Patriot, namun, kebijakan NATO terhadap Turki dianggap sering tidak tulus dan penuh dengan kepentingan tertentu. (Foto: AP / Rob van Eerden , Kementerian Pertahanan Belanda, HO)
Seperti diketahui, negara-negara yang membeli senjata dari Moskow berisiko terkena sanksi AS di bawah undang-undangnya yang bernama Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

Namun, penerapan sanksi tersebut tidak berjalan mulus di lapangan. Bahkan sejumlah sanksi, jika benar-benar diterapkan, akan menciptakan musuh baru bagi Amerika. 


Seperti rencana AS yang akan memberikan sanksi kepada India, karena membeli sejumlah alutsista canggih buatan Rusia, seperti misil S-400, jet tempur Sukhoi SU-35 dan kapal selam.

Amerika akhirnya menganulir kembali rencananya untuk menjatuhkan sanksi kepada New Delhi, karena berpotensi akan menciptakan konflik tingkat tinggi dengan India. Status India dianggap sebagai 'pengecualian.'

Hal yang sama juga berlaku untuk Indonesia, yang berencana membeli jet tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia. Rencana Amerika yang akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia, juga dianulir tanpa alasan yang jelas.

Militer Turki juga sebelumnya berada dalam ancaman Sanksi Amerika. Tapi sikap 'ngotot' rezim Erdogan membuat AS juga serba salah. Turki sempat menyatakan akan melawan segala sanksi dan ancaman yang dilontarkan oleh Amerika.

Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada hari Kamis mengatakan, pembelian sistem pertahanan canggih buatan Rusia itu merupakan kebijakan nasional mereka dan akan disebar untuk melindungi wilayah negaranya mulai Oktober 2019.

Akar mengatakan Turki menghadapi ancaman rudal, namun tidak tidak menyebut asal ancaman tersebut. "Kita harus melawan ancaman itu," ujarnya. Akar menegaskan, kontrak untuk kesepakatan S-400 sudah ditandatangani dengan Rosoboronexport, agen ekspor senjata utama Rusia.

Rudal S-400 buatan Rusia, yang rencaananya akan dibeli India dan Turki, merupakan sistem pertahanan udara canggih terkuat di muka bumi yang hingga kini belum bisa dilampaui oleh Amerika dan NATO sekalipun. (Foto: Vasily Fedosenko / Reuters)

Ironi Rusia: Digdaya di Bidang Militer, Jadi Pecundang di Sepakbola

Tentara Rusia menyaksikan prajurit Ukraina bermain sepakbola di Belbek Sevastopol International Airport di wilayah Crimea, yang berada dalam zona konflik. Tim dari wilayah Crimea sekarang akan bermain di liga Rusia. (Foto: Istimewa)
MOSKOW -- Jika berbicara teknologi perang dan kekuatan militer, Rusia adalah jagoannya. Hingga kini, Amerika Serikat, NATO dan seluruh bangsa-bangsa di dunia sangat berhati-hati jika berurusan dengan Rusia. 

Bahkan, setelah runtuhnya Uni Soviet, Moskow sempat diprediksi akan tamat, tapi ternyata negara itu hanya berganti wajah. Kini Rusia dipandang menjadi negara adidaya yang lebih "bijaksana."

Masalah militer, Rusia boleh saja paling unggul, namun tidak dalam urusan olahraga sepakbola. Dalam masalah olahraga paling diminati sejagad itu, Rusia dipandang hanya jadi pecundang di benua Eropa bahkan di tingkat dunia.

Tim sepak bola nasional Rusia menggoreskan performa yang buruk pada Euro 2016. Terbilang sulit untuk melakukan perubahan besar dalam waktu dua tahun menjelang Piala Dunia. 


Meski masyarakat mencela kegagalan Rusia dalam Euro 2016, pemerintah tak mengambil langkah sistematis untuk memperbaiki situasi tim nasional. Menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko mengaitkan buruknya performa tim dengan kekurangan jumlah pemain.

Masalah terbesar dalam sepak bola Rusia sesungguhnya adalah adanya ‘lubang neraka’ antara pemain sepak bola profesional dan amatir. Piramida sepak bola, salah satu prinsip utama FIFA, pada dasarnya dihancurkan di Rusia.

Jumlah minimal klub profesional yang akan bepartisipasi dalam tiga divisi Rusia pada musim 2016 – 2017 ialah 94 (hanya 12 di antaranya dari Siberia dan Timur Jauh).

Dua orang suporter timnas Rusia terlihat berwajah murung, setelah menyaksikan pertandingan babak penyisihan grup antara Rusia dan Wales pada Euro 2016. (Foto: Vladimir Pesnya / RIA Novosti)
Jumlah penonton juga menyedihkan: jumlah rata-rata penggemar yang menonton pertandingan Liga Primer Rusia pada musim 2015 – 2016 ialah 11.046 (dalam Bundesliga Jerman terdapat 43.300 penonton dan Liga Primer Inggris 36.452).

Sepak bola profesional di Rusia semakin hari semakin elit. Pemain berbakat dari daerah sulit menembus tim besar. Hanya anak-anak dari keluarga terhormat yang diterima di akademi klub penting. 


Padahal, hanya di situ pemain muda berkesempatan mengembangkan karir profesional mereka. Daerah-daerah di Rusia tak punya liga sepak bola anak-anak. Mereka juga kekurangan pelatih yang mau dibayar murah.

Buruknya kondisi persepakbolaan Rusia, mendapat kecaman seluruh lapisan rakyat di negara itu. 


Salah satu bentuk kemarahan para pecinta sepak bola Rusia diperlihatkan dengan munculnya petisi untuk membubarkan tim nasional Rusia, yang telah ditandatangai oleh hampir satu juta pengguna internet.

Namun kemarahan tersebut tak menghasilkan apa-apa karena setelah turnamen utama tim nasional memang selalu dibubarkan dan kemudian dibentuk kembali dengan pelatih baru.

Buruknya Manajemen

Terdapat sejumlah masalah besar yang membuat sepak bola Rusia menjadi salah satu yang terburuk dibanding negara Barat lainnya. Diantaranya adalah buruknya manajemen. Sejumlah masalah seperti;


Pertama, masalah pelatih. Pelatih utama tim nasional Rusia saat ini, Stanislav Cherchesov, dikenal akan metode kerasnya dalam menangani pemain. Di Rusia, banyak pihak yang melihat ini sebagai keuntungan. 


Ada pandangan bahwa pemain bola Rusia hanya paham metode ‘cambuk’. Namun anehnya, Cherchesov, mantan kiper tim nasional Rusia, sukses melatih di Eropa. Pada musim lalui ia memenangkan Liga Polandia bersama Liga Warsawa.
"Di Amerika, Anda menendang bola. Di rusia soviet, sepak bola menendang Anda!" Adalah sebuah sindiran bernada ejekan yang sering disematkan kepada Rusia, jika berbicara dunia sepak bola. Negeri Beruang Merah tersebut seakan menjadi pesakitan dalam hal olahraga si kulit bundar ini. (Foto; Istimewa)

Waspadai Rusia, Amerika Tumpuk Amunisi dan Rudal Balistik di Eropa

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang,"
BERLIN -- Amerika Serikat (AS) dibawah kepemimpinan Donald Trump semakin memanaskan situasi di Eropa. Setelah melakukan latihan militer besar-besaran dengan NATO, yang membuat Rusia naik pitam, kini negara adidaya tersebut berencana menumpuk rudal-rudal balistik di Eropa.

Dilaporkan, pangkalan Udara Ramstein di Jerman telah menerima sekitar 100 kontainer amunisi dan rudal balistik dari Amerika. Pengiriman persenjataan itu tercatat yang terbesar oleh Washington sejak NATO melakukan pemboman di Yugoslavia pada tahun 1999.

"Berbagai amunisi sudah dikirim ke Ramstein selama bulan Oktober. Ramstein adalah pangkalan udara luar negeri dan pusat pengangkutan udara terbesar AS. Jadi tugas utama kami adalah mendapatkan amunisi di mana mereka harus tepat waktu," kata Sersan Arthur Myrick, kepala untuk Misioner Skuadron 86.

Pengiriman itu dimaksudkan untuk mendukung prakarsa NATO yang bernama "European Deterrence Initiative" dan memompa sumber daya yang tersedia untuk Angkatan Udara AS di Eropa.

Pentagon bertujuan untuk meningkatkan waktu respons militer AS dengan memposisikan amunisi, bahan bakar, dan peralatan untuk dapat memberikan respons cepat terhadap ancaman yang dibuat oleh aktor agresif, yang disini tentu saja ditujukan untuk militer Rusia.

"Ini adalah amunisi dunia nyata untuk memenuhi tujuan dunia nyata. Itulah alasan kami mengunduh hal-hal tersebut, untuk memastikan kami memiliki kemampuan untuk menggerakkan pertarungan ke depan jika perlu," jelas Sersan Arthur, seperti dikutip Russia Today, Sabtu (27/10/2018).

Sersan David Head, Kepala Bagian Operasi Amunisi Skuadron 86, mencatat bahwa pengiriman itu adalah yang terbesar dari jenisnya sejak Operasi Pasukan Sekutu, yang berlangsung pada tahun 1999.

Staf Angkatan Udara AS Sgt. Jeric Hernandez, inspektur jaminan kualitas Skuadron ke-86, memeriksa pengiriman persenjataan besar baru-baru ini di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)
"Ini pengiriman terbesar dari jenisnya sejak Operasi Angkatan Bersenjata, yang berlangsung pada tahun 1999. Amunisi yang kami terima akan digunakan untuk operasi teater masa depan dan kehadiran Komando Eropa AS yang sedang berkembang," kata David dalam sebuah rilis.

Operasi Allied Force adalah nama kode NATO resmi untuk kampanye pengeboman 78 hari aliansi melawan pasukan Serbia selama Perang Serbia-Kosovo antara akhir Maret dan awal Juni 1999.

Saat itu, AS dan sekutunya meluncurkan serangan udara di Yugoslavia, tanpa restu Dewan Keamanan PBB, setelah menyalahkan Beograd atas penggunaan kekuatan yang berlebihan dan tidak proporsional dalam konflik dengan pemberontakan etnik Albania di Kosovo.

Dalam pemboman di Yugoslavia, pesawat-pesawat tempur NATO meluncurkan 900 serangan mendadak selama operasi pemboman brutal selama 78 hari. Data resmi menyatakan 758 warga sipil tewas selama agresi tersebut. Namun sumber-sumber Serbia mengatakan jumlah korban sebenarnya dua kali lebih besar.

Lebih dari 1.000 pesawat NATO, yang sebagian besar berasal dari AS, melancarkan 38.000 total serangan, 30.000 di antaranya dilakukan oleh pesawat AS. Selama konflik, hanya dua pesawat berawak NATO yang ditembak jatuh. 


Salah satunya jet tempur siluman F-117 Nighthawks dan F-16 Angkatan Udara AS yang saat itu dipiloti oleh Letnan Kolonel David Goldfein, yang sekarang adalah kepala staf Angkatan Udara.

Amerika dan NATO Terus Provokasi Rusia

Tuan Sersan. Arthur Myrick mengatakan bahwa persediaan di Ramstein akan ditambahkan ke Bahan Cadangan Perang Angkatan Udara di Eropa dan akan mendukung European Deterrence Initiative (EDI) atau Inisiatif Pencegahan Eropa.

EDI, sebelumnya dikenal sebagai Prakarsa Reasuransi Eropa, yang telah mendanai proyek-proyek militer di Eropa sejak intervensi Rusia di Ukraina pada tahun 2014. Sejak dimulainya konflik Ukraina dan reunifikasi Crimea dengan Rusia, NATO telah mengerahkan ribuan pasukan dan persenjataan berat ke negara-negara Baltik, Polandia, dan wilayah Eropa Tenggara.

Para penerbang AS yang ditugaskan ke Skadron Mesiu ke-86 membongkar pengiriman amunisi di pangkalan udara Ramstein di Jerman, 19 Oktober 2018. (Foto: Angkatan Udara AS / Senior Airman Joshua Magbanua via businessinsider.sg)

Provokasi Rusia, NATO Galang Latihan Militer Terbesar Pasca Perang Dingin

Gabungan pasukan Marinir dari AS, Portugal dan Inggris melakukan pendaratan kapal ke pantai, selama bagian akhir dari latihan Trident Juncture yang digelar NATO. "Trident Juncture", latihan militer terbesar sejak akhir Perang Dingin, diluncurkan di Norwegia pada 25 Oktober dan akan berlangsung hingga 7 November. Sekitar 50.000 tentara mengambil bagian dalam latihan, termasuk 24.000 personel angkatan laut dan 20.000 tentara. (Foto: Michaels S. Darnell)
"Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden AS mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan China serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir,"
OSLO -- Benua Eropa kembali memanas setelah negara-negara anggota NATO melakukan latihan perang besar-besaran. Latihan terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin tersebut dimulai Rabu (24/10) dan dijadwalkan akan berlangsung hingga tanggal 7 November
di ruang udara dan laut di seluruh di Norwegia.
 
Sekitar 50.000 tentara bergabung dalam latihan perang untuk menguji pertahanan aliansi melawan "agresor fiktif." Jerman adalah peserta terbesar kedua. Jerman mengirim kontingen militer, dalam rangka mempersiapkan diri untuk memimpin pasukan gerak cepat NATO.

Militer Jerman Bundeswehr berpartisipasi dalam manuver dengan sekitar 10.000 tentara dan 4.000 kendaraan. Selain itu, Bundeswehr mengerahkan pesawat tempur Tornado dan Eurofighter dan tiga kapal perang.

Latihan perang "Trident Juncture" melibatkan sekitar 10.000 kendaraan, 250 pesawat dan 65 kapal perang dari semua 29 anggota aliansi, ditambah Swedia dan Finlandia.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk menguji dan melatih "Very High Readiness Joint Task Force" (VHRJTF) NATO, yang nantinya akan berada di bawah komando Jerman. Pasukan gabungan gerak cepat ini dirancang untuk mempelopori pertahanan negara anggota aliansi yang menghadapi serangan dari luar.

VHRJTF NATO dirancang aliansi pertahanan Atlantik Utara itu pada tahun 2014 setelah aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan bahwa latihan itu akan mengirim “pesan yang jelas kepada negara-negara kami dan kepada musuh potensial”.

“Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan keamanan Eropa telah memburuk secara signifikan. NATO tidak mencari konfrontasi, tetapi kami siap untuk membela semua sekutu terhadap ancaman apa pun,” kata Stoltenberg kepada para wartawan, saat konferensi pers pada Rabu (24/10).

Tentara Inggris saat mengikuti latihan militer Trident Juncture 2015 yang digelar oleh NATO. (Foto: act.nato.int).
Latihan militer NATO dan Amerika Serikat (AS) langsung meningkatnya ketegangan antara aliansi keamanan transatlantik tersebut dengan Rusia. Namun, NATO bersikeras bahwa operasi yang sedang berlangsung tidak bertujuan untuk mensimulasikan konflik dengan Rusia, yang berbatasan dengan Norwegia.

Reporter Al Jazeera Alex Gatopoulos, melaporkan dari Norwegia, mengatakan bahwa meski tidak ada yang menyebut Rusia, namun “semua orang melihat ke timur”. “NATO jelas melatih untuk menanggapi ini, tidak hanya untuk membela negara-negara garis depan, tetapi juga untuk merebut kembali negara-negara tersebut jika ada konflik di masa depan,” ujar Gatopoulos.

Latihan tersebut dimulai hanya beberapa minggu setelah Rusia melakukan latihan militer terbesarnya sendiri sejak berakhirnya Perang Dingin. Tahun lalu, Rusia juga melakukan latihan perang bersama Belarus, di dekat perbatasan timur Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia.

Latihan Militer NATO Dapat Memicu Perang Dingin Jilid II

Rusia menyatakan, latihan militer NATO dalam skala besar tersebut bersifat provokatif dan dapat memicu perang dingin jilid II. Ditambah lagi latihan dilakukan di Norwegia yang berbatasan langsung dengan negeri beruang merah tersebut.

"Aktivitas militer NATO dekat perbatasan kami telah mencapai tingkat tertinggi sejak masa Perang Dingin," kata Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu hari Rabu (24/10). Dia menambahkan, Trident Juncture adalah "simulasi tindakan militer ofensif."

Pada Rabu (24/10), Kedutaan Besar Rusia di Oslo mengatakan, pihaknya menganggap Trident Juncture 18 sebagai latihan “anti-Rusia”. “Kegiatan seperti itu tampak provokatif, bahkan jika Anda mencoba untuk membenarkannya sebagai latihan yang murni defensif,” katanya.

Komentar itu muncul setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova yang berbicara pada awal Oktober mengecam apa yang disebutnya sebagai “ancaman militer” NATO.

Angkatan Darat dari aliansi militer NATO, menyusuri Sungai Pasvik yang terletak diantara perbatasan antara Norwegia dan Rusia. (Foto: Thomas Nilsen via thebarentsobserver.com)
“Semua persiapan NATO ini tidak dapat diabaikan, dan Federasi Rusia akan mengambil tindakan pembalasan yang diperlukan untuk menjamin keamanannya sendiri. Tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti itu pasti akan mengacaukan situasi militer dan politik di utara,” kata Zakharova kepada kantor berita TASS (2/10/2018).
 
Kecaman juga datang dari Wakil pemimpin Partai Kiri, "Die Linke" di parlemen Jerman, Dietmar Bartsch, mengeritik latihan gabungan itu sebagai "menggelikan, berbahaya, dan provokatif terhadap Rusia."

"Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden AS mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan China serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir," kata Dietmar Bartsch kepada harian Jerman Neue Osnabrcker Zeitung.

Ketegangan Militer NATO dan Amerika VS Rusia

Selama berbulan-bulan, Moskow telah kesal oleh kehadiran militer Barat yang semakin meningkat di kawasan itu, di mana Amerika Serikat dan Inggris meningkatkan penempatan pasukan di Norwegia, dengan alasan untuk mengkondisikan pasukan mereka dalam pertempuran cuaca dingin.

Saat Donald Trump memegang tampuk kekuasaan di Gedung Putih, militer NATO semakin agresif setelah Trump dalam KTT NATO di Brussels, Belgia, pada Rabu, 11 Juli 2018, mengancam akan menarik AS keluar dari NATO, jika aliansi pertahanan itu tidak menaikkan anggaran belanja pertahanan sebesar 2% dari GDP masing-masing negara anggota.

Trump juga mengancam akan membuat AS bertindak secara unilateral dalam mengambil langkah-langkah keamanan global tanpa bekerja sama lagi dengan NATO. Sejauh ini hanya lima negara yang memenuhi target belanja pertahanan 2% dari GDP, Amerika Serikat, Inggris, Yunani, Polandia dan Estonia.

Tentara Denmark mengendarai sebuah tank tempur mengamati garis depan di area pelatihan di Chinchilla, Spanyol pada 22 Oktober 2015 selama latihan NATO Trident Juncture 2015. (Foto: Photo: act.nato.int)

Bendung Dominasi China, Prancis Kirim Kapal Induk ke Samudera Hindia

Jet tempur Dassault Rafale Angkatan Udara Prancis, mengawal kapal induk Charles de Gaulle dari udara. Prancis menyatakan akan menempatkan kapal induk berkekuatan nuklir di kawasan Samudera Hindia untuk membendung ekspansi dan dominasi militer China. (Foto: Marine nationale)

Penyebaran Kapal Selam Nuklir Rusia di Atlantik Utara Resahkan AS dan NATO

Kapal selam nuklir Angkatan Laut Rusia. Militer Moskow meningkatkan penyebaran kapal selam canggih mereka di kawasan Atlantik, yang menimbulkan keresahan Amerika Serikat dan sekutu NATO. (Foto: Dmitry Lovetsky / © AP)
"Kami melihat adanya peningkatan aktivitas kapal selam Rusia di dekat kabal bawah laut (di Atlantik Utara). Jelas bahwa Rusia memiliki agenda di kawasan dan infrastruktur bawah laut (yang dikelola oleh) NATO,"
MOSKOW -- Sebuah divisi kapal selam bertenaga nuklir Rusia dilaporkan telah melakukan latihan di dekat pangkalan militer Amerika Serikat (AS), kata seorang komandan Rusia. Tanggal dan lokasi misi tersebut tidak diungkapkan, namun saluran tersebut mengatakan bahwa kapal selam Rusia "mencapai garis pantai AS tanpa terdeteksi."

Komandan tidak menyebutkan secara spesifik kapal selam yang terlibat, namun saluran tersebut mencatat bahwa mereka adalah bagian dari Proyek 971 armada Front Utara. Komandan Angkatan Laut mencatat bahwa kapal bertenaga nuklir tersebut "cukup dekat" ke pantai AS.

"Misi ini telah selesai, kapal selam muncul di lokasi yang ditentukan di lautan dan kembali ke markas. Ya. Inilah tujuan kami untuk datang dan pergi tanpa terdeteksi," kata Sergei Starshinov, komandan divisi kapal selam kelas Akula Shchuka-B, kepada Zvezda, saluran TV resmi Kementerian Pertahanan Rusia, Jumat (16/3/2018).

Tanggal dan lokasi misi rahasia tersebut belum diungkapkan, namun stasiun televisi tersebut melaporkan bahwa kapal selam bertenaga nuklir Rusia "mencapai garis pantai AS yang sangat luas".

Dokumenter stasiun televisi militer mengungkap kejadian itu. Menurut seorang perwira kapal selam yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut mengatakan, komando Angkatan Laut memerintahkan untuk mengambil posisi di sekitar pangkalan militer AS selama latihan.

Komandan Skuadron Shchuka-B Sergey Starshinov mengatakan, mereka mendapat perintah agar kapal selam muncul di sekitar pangkalan militer AS. "Kami berhasil melaksanakan misi. Kami muncul sebentar, sebelum kemudian kembali ke markas," ujar Starshinov.


Kapal selam Shchuka-B telah ditugaskan untuk Angkatan Laut Soviet pada tahun 1986. Kapal ini mampu meluncurkan rudal jelajah Kalibr atau Granat, melakukan serangan terhadap target bawah laut dengan torpedo 553mm, dan tetap terendam selama 100 hari. Menurut Rusia Today, Angkatan Laut Rusia saat ini sedang memodernisasi beberapa kapal selam Shchuka-B.
Kapal selam nuklir Rusia yang dalam kode NATO dinamai Akula Project 971. Kapal selam canggih ini menjadi momok menakutkan bagi kekuatan militer AS dan negara-negara di kawasan Eropa yang menjadi rival utama Rusia. (Foto: Istimewa)
Seperti banyak kapal selam nuklir Rusia, informasi status tentang penyebaran kapal Shchuka-B pada saat ini dan masa lalu jarang diungkap. Beberapa kapal selam Akula-class dioperasikan oleh Angkatan Laut Rusia dan telah dimodernisasi. Satu kapal selam Shchuka-B diketahui disewakan ke India dan memasuki layanan militer dengan nama INS Chakra.

Pada 2016, seorang pejabat senior Angkatan Laut AS mengeluhkan kemampuan sebuah cabang militer karena tidak dapat memastikan penempatan kapal selam Rusia pada tingkat yang tak terlihat sejak Perang Dingin.

"Kapal selam yang kami lihat jauh lebih sembunyi-sembunyi. Orang-orang Rusia memiliki sistem senjata yang lebih canggih, sistem rudal yang dapat menyerang daratan pada rentang yang panjang dan kemampuan operasional mereka semakin baik karena jaraknya jauh dari perairan rumah (mereka)," kata Admiral Mark Ferguson, komandan Angkatan Laut AS di Eropa pada saat itu, kepada CNN.

NATO Resah dengan Penyebaran Kapal Selam Rusia


NATO melaporkan bahwa sejumlah kapal selam Rusia tengah meningkatkan presensi dan aktivitasnya di Laut Atlantik Utara sejak beberapa waktu terakhir. Aktivitas itu, menurut NATO, merupakan sebuah langkah agresif dari Rusia yang mampu mengganggu stabilitas di kawasan serta berpotensi memicu sejumlah masalah lain.

Salah satu insiden paling panas adalah saat Kapal penjelajah Inggris mengawal kapal perang Rusia yang melintas di Laut Utara di dekat perairan Inggris saat Natal. Disebutkan kapal Angkatan Laut Inggris, HMS St Albans "terus mengawasi aktivitas kapal Rusia Admiral Gorshkov untuk menjaga kedaulatan wilayahnya".

Pada Januari lalu, sebuah kapal perang Inggris dan tiga pesawat tempur RAF mengawal kapal induk Rusia dan sejumlah kapal lainnya yang melintas ke arah Selat Inggris.

Angkatan Laut Inggris mengatakan ada kenaikan jumlah kapal-kapal Rusia yang melintas di dekat perairan Inggris. Inggris mewaspadai kemungkinan Rusia akan menyerang keberadaan saluran kabel internet di bawah laut. Disebutkan kabel-kabel itu melintas di dasar laut yang menghubungkan antar negara dan benua.

Marsekal Udara Sir Stuart Peach, kepala staf pertahanan Inggris, pada awal bulan ini mengatakan bahwa Inggris dan NATO harus memprioritaskan untuk melindungi jalur komunikasi tersebut.

NATO khawatir, kabel bawah laut penyalur transmisi komunikasi dan internet untuk kawasan Eropa serta Amerika Utara itu sewaktu-waktu dapat dibajak oleh kapal selam Rusia tersebut.

Kapal selam Rusia, Stary Oskol (kiri), dicegat oleh fregat HMS Kent saat melaju di wilayah Selat Inggris pada Selasa malam. (Foto: MoD Crown Copyright / PA)

Rusia Gunakan Asap untuk Strategi Perang Kota Melawan Serangan NATO

Mengantisipasi serbuan militer aliansi NATO, angkatan perang Rusia mempelajari sebuah strategi perang kota terbaru. Militer Rusia ingin memanfaatkan asap sebagai benteng pertahanan kota. (Foto: rusofil-tuluza-rota.forumactif)
"Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri,"
MOSKOW -- Pergerakan aliansi militer NATO yang semakin mendekati pagar perbatasan Federasi Rusia, ditindaklanjuti negara itu dengan penguatan armada militer di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya membangkitkan Alat Sistem Senjata super canggih, Rusia juga mengembangkan berbagai macam strategi pertempuran dalam menghadapi musuh.

Salah satu strategi yang sedang dipelajari militer Rusia adalah memanfaatkan asap dalam strategi pertahanan perang kota. Strategi asap ini digunakan militer Rusia dalam operasi militer besar-besaran akan digelar oleh militer Rusia. Dalam latihan ini, skenario yang akan dijalankan adalah menguasai sebuah tempat di Rusia. Hasil dari latihan ini sungguh menakjubkan.

Pada latihan ini, Armada Utara Rusia berencana menyelimuti dan menyembunyikan sebuah kota yang dihuni oleh 50 ribu orang dengan asap tebal selama tiga hari. Tempat itu adalah Severomorsk di mana ia merupakan salah satu kota terbesar di wilayah Murmansk, Rusia Utara. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian latihan perang untuk militer Rusia.

Pihak berwenang telah memperingatkan asap tersebut akan berbau tapi tidak akan berbahaya dan akan segera hilang. Sebuah pernyataan dari Kementerian Pertahanan mengatakan, 

"Warga diminta untuk tetap tenang. Campuran asap tidak berbahaya untuk manusia meskipun ia sedikit berbau”. Demikian sebagaimana dikutip Express, Kamis (11/8/16).
Asap menyelimuti kota Moskow. (Foto: Istimewa)
Juru bicara armada menyatakan bahwa dalam kurun tiga hari ke depan, peluncur asap bergerak dan stasioner akan menciptakan 'selimut asap' untuk menaungi kota, mengaburkan kota sekaligus markas armada yang terletak di sana. Media Rusia menyebutkan ini adalah pertama kalinya militer Rusia mencoba manuver semacam ini.

Angkatan Laut Rusia meminta orang-orang untuk tetap berada di kota tersebut sebagai bagian dari latihan dan orang-orang juga diminta untuk tetap tenang ketika asap menyebar. Karena itu, mereka harus memastikan seluruh jendela untuk tetap terkunci dan lebih waspada saat mengemudi karena jarak pandang terganggu.

Salah seorang penduduk, Mila Tsigareva, menanggapi rencana tersebut dengan biasa saja. "Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri," kata Mila seperti dikutip ABC.

Sementara Svetlana, penduduk lain, mengaku tak terganggu dengan latihan militer yang digelar di kotanya. "Mereka melakukan ini tiap tahun. Bagi saya ini sama saja," tuturnya.

Angkatan Laut berharap bahwa kabut palsu akan membuat pangkalan militer besar Severomorsk ini tidak terlihat oleh mata musuh. Mereka juga  mengklaim ini adalah pertama kalinya hal seperti ini digunakan.
Negara-negara yang tergabung dalam aliansi militer NATO saat mengadakan latihan militer bersama di sepanjang perbatasan Rusia. NATO beralasan latihan militer tersebut dilakukan karena merasa terancam dengan penguatan militer Rusia. (Foto: Sputniknews)