Jalur Militer

Pengamat: Miliki Presiden Lemah, Indonesia Bisa Kalah Lawan China di Natuna

Presiden Joko Widodo sedang 'ber-foto selfie' di atas kapal perang TNI AL, saat sedang mengunjungi perairan Natuna. Sempat dikatakan tidak akan pernah terlibat konflik di Laut China Selatan, Indonesia kini dengan tergopoh-gopoh akhirnya dipaksa untuk memperkuat pertahanannya di perairan pulau Natuna. Hal ini menindaklanjuti semakin seringnya angkatan perang China melakukan pelanggaran kedaulatan di wilayah itu. (Foto: Istimewa)
"Masalah ASEAN di sini, tidak ada pemimpin kuat. Ketidakhadiran Soeharto, ketidakhadiran Mahathir Mohammad, hanya menjadikan ASEAN ini sebagai tempat untuk konsultasi. Bukan lagi suatu kekuatan bersama untuk menghadapi China,"
JAKARTA -- Tindakan militer China yang sering melakukan pelanggaran wilayah dan pencurian ikan di perairan Natuna, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik senjata antara TNI dengan angkatan perang China. 

Namun, disaat China semakin memperkuat cengkramannya di Laut China Selatan, Indonesia justru dianggap mengalami krisis kepemimpinan akibat lemahnya pemerintahan saat ini dalam menyikapi berbagai hal.

Pengamat Budaya dan Politik China dari Universitas Indonesia, Abdullah Dahana menilai kepala negara dan pemerintahan yang ada di ASEAN, termasuk di Indonesia, terlalu lemah untuk menantang China.

Apalagi jika bicara sengketa di Laut China Selatan. Hasil pertemuan menteri luar negeri ASEAN (AMM) dan mitra wicaranya (ARF) di Vientiane, Laos kemarin juga tidak berdaya menghadapi klaim sepihak dari China di LCS.

"Masalah ASEAN di sini, tidak ada pemimpin kuat. Ketidakhadiran Soeharto, ketidakhadiran Lee Kuan Yew, ketidakhadiran Mahathir Mohammad, hanya menjadikan ASEAN ini sebagai tempat untuk konsultasi. Bukan lagi suatu kekuatan bersama untuk menghadapi China," kata Dahana dalam diskusi bertajuk 'Kita dan Sengketa Laut China Selatan' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/7/16).
Garis batas klaim yang dibuat China untuk menguasai hampir keseluruhan perairan Laut China Selatan. Negara yang terlibat akhirnya secara serentak memperkuat militer masing-masing guna menghadapi invasi China.
Dahana justru khawatir dengan sikap lemah ASEAN ini, bisa saja anggotanya di masa mendatang menuntut keluar. Sebut saja yang paling ngotot menghadapi China di LCS, Filipina dan Vietnam.

"Siapa tahu ya seperti yang terjadi di Uni Eropa. Jika di Inggris Raya ada Brexit, di ASEAN nanti ada Vietxit atau Filipinxit. Mereka akan keluar dari ASEAN karena merasa tidak mendapatkan dukungan dari organisasi yang menaungi negara-negara Asia Tenggara tersebut.," tukasnya.

Bahkan dua negara lain yang punya masalah dengan Negeri Panda di Laut China Selatan, yakni Malaysia dan Brunei Darussalam tidak turut unjuk suara. "Begitu juga dengan Indonesia yang sempat bermasalah dengan China soal Natuna, diam-diam saja tuh," pungkas Abdullah.

Abdullah beranggapan  bahwa Presiden Joko Widodo tidak memiliki sikap kepemimpinan dan pengetahuan yang kuat mengenai strategi perang dan diplomasi luar negeri, hal ini sangat bertolak belakang dibandingkan saat Indonesia di era presiden Soeharto yang sangat disegani di kawasan bahkan dunia.

Sengketa Natuna Meluas Jadi Masalah Kedaulatan

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Purnawirawan Ahmad Sucipto menyarankan jangan sampai sengketa klaim China atas perairan Natuna bergeser menjadi permasalahan politik bahkan masalah kedaulatan.
Armada kapal perang China, saat melakukan latihan militer di Laut China Selatan.
"Yang pokok, jangan digeser menjadi politik menurut saya. Jadi tetap masalah overlapping (tumpang-tindih) zona ekonomi ekskusif sajalah. Jangan berubah menjadi masalah kedaulatan. Karena kalau sudah menyangkut masalah kedaulatan dimensinya akan lebih luas lagi," kata Ahmad, Jakarta Pusat, Sabtu (30/7/16).

Sebelumnya, Juni 2016 terjadi penangkapan sejumlah kapal nelayan China oleh satuan TNI AL. Hal ini bahkan memicu protes oleh pemerintah Beijing. Mereka mengatakan kawasan penangkapan itu sebagai zona penangkapan ikan tradisional nelayan China.

"Saya kira, kita ada clash menyangkut penangkapan kapal ikan China yang melanggar zona ekonomi ekslusif dan kebijakan IUU Fishing Indonesia," ungkap dia.

Ketika diberikan peringatan, China pun bereaksi. "Mereka bilang Indonesia dengan China ada masalah overlapping klaim di Laut China Selatan. Kata-kata itu (tumpang tindih) sebelumnya enggak pernah muncul," tuturnya.

Ahmad menjelaskan, ada perubahan pandangan. Indonesia tidak bisa lagi mengatakan tidak memihak (non alignment). Sehingga masalah tumpang tindih pada batas garis imajiner Nine Dash Line yang ditetapkan China dengan ZEE Indonesia harus segera diselesaikan.

Kebijakan Indonesia Lemah di Laut China Selatan

Terkait polemik ini, pengamat pertahanan, Rahakundini Bakrie mengatakan, Indonesia seharusnya bisa memainkan peran politik luar negeri non-alignment (tidak memihak) dengan sebaik-baiknya. Jangan malah karena tidak berpihak, Indonesia lantas boleh tenggelam di tengah-tengah Laut China Selatan.
China secara perlahan-lahan melakukan perluasan wilayah dengan cara membuat pulau buatan di Laut China Selatan.
"Kalau kita non-alignment, harus dipertahankan. Tapi berubah bentuk. Sayangnya, hari ini saya lihat non-alignment malah membuat kita mati di tengah-tengah. Sebentar geser ke kiri, sebentar geser ke kanan enggak punya sikap," katanya, Sabtu (30/7/16).

"Justru kita harus tentukan sikap sebagai non-alignment ini loh Indonesia. Bagian barat dan selatan menjadi bagian kerjasama kita dengan China apakah perdagangankah, militerkah. Tapi di Timur kita enggak ada pilihan. Kita harus kerjasama dengan Australia karena kerjasama lebih ke Pasifik," katanya.

Bakrie menambahkan, "sekali lagi saya melihat jangan kita sampai ter-drive seolah-olah China itu mengancam kawasan. China sedang membangun kekuatan yang sudah dia proyeksikan sejak dulu. Bedanya China itu GBHN-nya diikuti terus. Mau presidennya ganti 10 kali tetap aja dia mau bangun blue water navy pada 2050. Enggak geser, enggak tiba-tiba jadi 2100," ungkapnya.

Ambisi China dan Pengakuan Dunia

Setelah Filipina mengajukan gugatan ke Mahkamah Arbitrase Internasional (PCA) dan dimenangkan pengadilan Den Haag tersebut, China justru semakin memperkuat kehadiran militernya di LCS.

Berdasarkan hasil putusan tersebut, China terbukti telah melanggar kedaulatan Filipina di LCS. Sembilan garis putus-putus (nine dash-line) yang diklaim terdapat dalam perkamen bersejarah China juga tidak dapat diakui kebenarannya.
Pengamat Militer dan Pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie. (Foto: Istimewa)

Kalah di Berbagai Medan Pertempuran, ISIS Kehilangan Banyak Wilayah

Tentara Suriah merayakan kemenangannya setelah berhasil merebut kembali sebuah wilayah yang sebelumnya di kuasai ISIS. (Foto: Istimewa)
"Wilayah ISIS benar-benar telah menyusut, oleh karena itulah saat ini mereka memilih menerapkan pertahanan berlapis untuk menjaga wilayah yang masih mereka duduki,"
DAMASKUS -- Sempat menjadi momok yang sangat menakutkan, dengan serangan kilatnya menguasai hampir seluruh wilayah Irak dan Suriah, kini kelompok teroris ISIS mulai kehilangan sebagian besar wilayahnya. ISIS kehilangan wilayah seluas Irlandia atau seperempat dari wilayah kekuasaannya dalam 18 bulan terakhir akibat perang melawan musuh-musuhnya di Irak dan Suriah.

Dalam beberapa bulan ke depan ISIS diperkirakan akan menyerang warga sipil, demikian bunyi laporan IHS seperti dikutip Reuters. Wilayah kekuasaan ISIS telah menyusut dari 90.800 km persegi pada Januari 2015 menjadi 68.300 km persegi di Suriah dan Irak.

Kekalahan ini membuat ISIS menyerang penduduk sipil di Timur Tengah dan Eropa yang kemungkinan makin intensif.

"Mengingat khilafah ISIS menyusut dan semakin jelas kini bahwa proyek pemerintahan mereka gagal, telah membuat kelompok ini mereprioritasi gerilya," kata Columb Strack dari IHS.
Peta wilayah kekuasaan ISIS di Suriah dan Irak.
"Akibatnya, kami dengan menyesal memperkirakan adanya peningkatan dalam serangan korban massal dan sabotase infrastruktur ekonomi di seluruh Irak dan Suriah, dan medan lebih jauh lagi, termasuk Eropa."

ISIS Terdesak di Suriah

Serangan besar di Suriah dilancarkan pada saat yang bersamaan dengan operasi militer Irak buat merebut Fallujah dan Mosul yang dikuasai kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi tersebut. Selain itu, jantung kekuasaan ISIS di Libya, Sirte, kini juga sedang terdesak oleh manuver pasukan pemerintah.

Serangan besar dilancarkan aliansi Arab-Kurdi di utara Suriah untuk memotong jalur logistik Islamic State. Sementara itu pasukan pemerintah persatuan Libya mulai mendekat ke jantung kekuasaan ISIS di Sirte.

Pasukan Demokratik Suriah, sebuah aliansi militer yang didominasi kelompok Kurdi, menyerbu kota strategis Manbij, dengan bantuan serangan udara koalisi pimpinan AS. Dalam 24 jam terakhir koalisi itu melancarkan sebanyak 14 serangan udara.

Manbij berada di antara Jarablus, kota perbatasan yang dikuasai ISIS, dan Raqqa, ibukota kekhalifahan di Suriah. Selama ini ISIS menggunakan kota tersebut buat mendatangan logistik dari Turki ke Raqa, kara Jennifer Cafarella, analis Suriah utuk Institut Studi Konflik di Washington, AS.

Peta wilayah kekuasaan ISIS pada tahun 2016. Wilayah ISIS mulai menyusut setelah pasukan resmi pemerintah Suriah dan Irak mulai melakukan perlawanan balik.
Jika koalisi berhasil merebut Manbij dan Jarablus, ISIS bakal kesulitan mempertahankan akses ke perbatasan Turki. "Merebut kedua kota itu akan mengganggu, tapi tidak mengeliminasi kemampuan ISIS untuk menjamin pasokan logistik," tutur Cafarella.

Tentara Suriah Mulai Dekati Ibu Kota ISIS


Kelompok pemantau konflik di Suriah mengatakan, tentara Suriah telah menyeberangi perbatasan provinsi Raqqa pasca serangan besar-besaran Rusia terhadap ISIS.

Observatorium untuk HAM Suriah (SOHR) mengatakan, serangan udara Rusia deras melanda wilayah ISIS di sebelah timur provinsi Hama, Suriah, pada Jumat kemarin. Wilayah itu berbatasan dengan provinsi Raqaa dan membantu tentara Suriah mencapai wilayah pinggiran Raqqa.

Meski begitu, juru bicara tentara Suriah tidak mau berkomentar terkait kabar, ini seperti disitir dari laman Reuters, Sabtu (4/6/16).

Kota Raqqa secara de facto diumumkan sebagai ibukota kelompok Negara Islam Irak Suriah atau ISIS. Kota ini bersama dengan kota Mosul, Irak, menjadi target utama pasukan yang memerangi kelompok ekstrimis itu.


Serangan militer Suriah ke Raqqa adalah serangan militer terbesar ketiga terhadap basis ISIS. Sedangkan di Irak, pasukan pemerintah setempat juga melakukan serangan besar-besaran ke kota Fallujah, salah satu basis ISIS.
Konvoi kelompok ISIS berusaha lari meninggalkan medan perang Palmyra, saat pasukan pemerintah Suriah merebut kembali kota kuno tersebut. (Foto: Istimewa)

Dapat Tambahan Alutsista Terbaru, Korps Marinir TNI AL Semakin Ditakuti

RM-70 Vampire multi-launch rocket system. Korps marinir TNI AL kembali mendapatkan tambahan alutsista canggih. Namun, luasnya wilayah Indonesia yang harus dilindungi, tambahanan alutsita tersebut dianggap masih jauh dari cukup. (Foto: Istimewa)
"Pembelian ini dalam rangka pemenuhan kekuatan Marinir, khususnya kemampuan arteleri medan dari laut ke darat,"
JAKARTA -- Korps Marinir kembali mendapatkan delapan kendaraan tempur (ranpur) berpeluncur roket multilaras baru buatan Republik Ceko. Serah terima alutsista itu ditandai seremoni antara Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Ade Supandi dan Komandan Korps Marinir, Brigjen Trusuno di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (2/8).
 
Ranpur tersebut adalah RM-70 Vampire multi-launch rocket system atau Raketomet vzor 1970. Alutsista yang juga dioperasikan sejumlah negara Asia, Amerika Selatan dan Afrika itu nantinya akan disiagakan Situbondo.

"Pembelian ini dalam rangka pemenuhan kekuatan Marinir, khususnya kemampuan arteleri medan dari laut ke darat," ucap Ade seperti dilansir Antara.

Ade mengatakan, delapan ranpur berpeluncur roket tersebut merupakan bagian dari program pembelian 36 unit RM-70 Vampire. Tahun 2016, kata dia, pemerintah baru bisa merealisasikan delapan ranpur.

Korps Marinir sebelumnya telah mengoperasikan sembilan ranpur berpeluncur roket jenis RM Grad buatan Rusia sejak 10 tahun yang lalu. Perbedaannya, kata Ade, RM-70 Vampire dikendalikan secara digital.
Pasukan Marinir melakukan ujicoba alutsista RM-70 Vampire multi-launch rocket system buatan Republik Ceko. (Foto: Istimewa)
Juni lalu, bertempat di Markas Batalyon Roket-1 Marinir, Surabaya, prajurit korps berprinsip jalesu bhumyamca jayamahe itu telah menguji coba RM-70 Vampire. Pelatihan penggunaan peluncur roket berkaliber 122 milimeter itu diadakan sejak 12 Juni hingga 30 Juli lalu.

Dinas Penerangan Marinir menyampaikan, pelatihan itu berkonten pendidikan pimpinan penembakan, awak pucuk, peninjau depan, komunikasi dan montir.

Selain Indonesia, RM-70 dioperasikan beberapa negara seperti Myanmar, Kamboja, Zimbabwe, Ghana, Polandia dan Uruguay.

Sebelumnya, sejumlah negara Eropa pernah memiliki ranpur berpeluncur roket multilaras ini, yakni Jernam, Republik Ceko, dan Bulgaria. RM-70 Vampire tercatat pernah digunakan para pihak yang bersengketa di Perang Ossetia Selatan tahun 2008.

Alutsista Marinir Banyak yang Usang

Sebelumnya, saat masih menjabat Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengungkapkan, Alat Utama Sistem Senjata atau alutsista Korps Marinir saat ini sudah banyak yang setengah tua (STW).
Pasukan Marinir TNI AL melakukan uji coba penggunaan alutsista RM-70 Vampire multi-launch rocket system buatan Republik Ceko. (Foto: Istimewa)
"Kita harus selalu memodernisasi persenjataan. Kita up date, termasuk tank-tank yang sudah tua. Kalau sudah tua, dimodifikasi seperti apapun tidak bisa. Lupakan yang lama dan kita cari yang baru," katanya kepada wartawan seusai penyerahan tank amfibi BMP-3F dari Rusia di Puslatpur Karang Tekok, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (27/1).

Moeldoko menyebut tank-tank Korps Marinir saat ini tidak bisa beroperasi maksimal. Jenderal berbintang empat itu mengemukakan kelengkapan alutsista merupakan bagian kesejahteraan secara tidak langsung bagi prajurit TNI. 

Menurut dia, kalau prajurit berangkat ke medan tempur dengan senjata tua, maka akan menurunkan moral prajurit "Dengan kedatangan tank baru ini akan sangat baik bagi pembangunan kekuatan Marinir ke depan. Marinir tentu akan semakin hebat," katanya.

Dalam acara serah terima dilaksanakan penandatanganan naskah penyerahan 37 unit BMP-3F dari pihak Rusia ke Dephan kemudian ke Mabes TNI dan terakhir ke pihak TNI AL. 

Minim Alutsista, Marinir TNI AL Tetap Ditakuti

Meski tak dilengkapi alat utama sistem persenjataan (alutsista) secanggih milik negara-negara maju, Indonesia disebut-sebut memiliki kekuatan Korps Marinir terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Pasukan Marinir TNI AL mengoperasikan Tank amfibi BMP-3F buatan Rusia. (Foto: Istimewa)

Terus Dibombardir Rusia, ISIS Sesumbar Akan Membunuh Presiden Putin

Menderita kekalahan bertubi-tubi sejak ikut campurnya Rusia di medan perang Suriah, kelompok teror ISIS mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Vladimir Putin. (Foto: express.co.uk)
“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.”
DAMASKUS -- Bantuan yang diberikan Federasi Rusia kepada pemerintahan Presiden Bashar Al Assad dalam menumpas kelompok teror ISIS di bumi Suriah dengan cepat mengubah peta pertempuran. ISIS yang sebelumnya sangat begitu kuat dan dibantu oleh Arab Saudi, dan beberapa negara teluk lainnya, kini berada di ujung kekalahan.

Hingga saat ini, wilayah kekuasaan ISIS yang sebelumnya membentang dari Irak, Suriah, hingga Libya, perlahan-lahan mulai menyusut, akibat terus mengalami kekalahan dalam menghadapi pasukan pemerintah dari masing-masing negara yang ingin merebut wilayahnya kembali.

Terus menderita kekalahan, ISIS pun dendam kesumat kepada tokoh yang menjadi biang keladi semua kesialan mereka, ya siapa lagi kalau bukan Presiden Rusia Vladimir Putin. ISIS pun mengancam akan menyerang Rusia dan membunuh Presiden Putin.

Seperti pada 31 Juli lalu, ISIS kembali memublikasikan sebuah video ancaman di YouTube. Dalam video itu tampak seorang pria yang mengenakan penutup wajah, berkata dengan mata tertuju pada kamera, “Putin, Anda dengar? Kami juga akan datang ke Rusia dan akan membunuh Anda di sana, insya Allah.” Ia lalu menyerukan agar para milisi Islam meluncurkan jihad di Rusia. 

Menurut laporan Reuters, tautan video tersebut dikirim oleh akun aplikasi Telegram yang terhubung dengan para milisi. Dalam video tersebut, kelompok ISIS memperlihatkan adegan pria bersenjata menyerang kendaraan lapis baja. Mereka juga menunjukkan tenda dan pengumpulan senjata di sebuah padang gurun.
Kelompok teror ISIS merekam propagannya melalui video dan menyebarkannya di dunia maya.
“Breaking menjadi barak penangkal militer di jalur internasional selatan Akashat,” bunyi teks dalam video ISIS, seperti dikutip Reuters, Senin (1/8/16).

Rekaman video itu tidak memberikan alasan mengapa Rusia dan Putin menjadi target. Namun, Rusia dan AS dalam beberapa hari ini telah membahas kerja sama militer dan intelijen dalam melawan ISIS dan Al-Qaeda di Suriah.

ISIS Serukan Muslim Rusia Bunuh Putin

Sebelumnya, pada Maret lalu sekelompok teroris Rusia yang berjanji setia kepada ISIS menyerukan jutaan warga muslim Rusia untuk mengangkat senjata dan melakukan serangan terhadap penduduk dan pemerintah Rusia lewat rekaman video yang beredar di dunia maya.

Kremlin menanggapi pesan teroris tersebut dengan menegaskan bahwa ancaman semacam itu tak akan mempengaruhi kebijakan Rusia dalam memerangi terorisme. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Kepresidenan Dmitry Peskov, yang menambahkan bahwa Rusia tak perlu pontang-panting menghadapi ancaman teroris yang ‘ekornya sedang diinjak-injak’.


ISIS memanggil para pengikutnya untuk melakukan jihad di Rusia karena operasi militer yang dilancarkan Angkatan Udara Rusia di Suriah menciptakan kerusakan serius bagi mereka, demikian disampaikan Vladimir Akhmedov, peneliti senior dunia Arab di Institut Studi Oriental, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat bertemu Presiden Suriah, Bashar Al Assad.
“ISIS benar-benar compang-camping. Berdasarkan beragam perkiraan, ISIS telah kehilangan sekitar 30 – 50 persen wilayahnya di Suriah,” kata sang pakar.

Sergei Goncharov, presiden asosiasi veteran antiteror internasional unit Alfa, juga sepakat dengan pandangan tersebut. Ia mengaitkan ancaman terhadap Rusia dengan serangkaian serangan baru-baru ini yang terjadi di sejumlah negara Barat. 


“Karena terus mengalami kekalahan, ISIS mencoba memindahkan aktivitas terorisnya ke luar Suriah. Hal ini menciptakan ancaman bagi negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Rusia.” katanya.

Sejauh ini, ISIS belum melakukan aksi terorisme besar-besaran di tanah Rusia. Serangan terbesarnya sejauh ini ialah meledakkan pesawat penumpang Rusia Airbus A321 di atas Semenanjung Sinai, 31 Oktober 2015 lalu, yang menewaskan 224 jiwa. Namun demikian, para pakar mengingatkan bahwa ancaman teroris harus ditanggapi dengan serius.

“Ada sekitar dua ribu hingga empat ribu warga negara Rusia yang bertempur di pihak ISIS, sebagian besar warga suku Chechnya dan penduduk dari republik lainnya di Kaukasus Utara,” kata Vladimir Akhmedov. Seiring dengan kekalahan-kekalahan militer mereka di Suriah dan Irak, kemungkinan para milisi akan kembali ke Rusia dan melancarkan aksi terorisme, tambahnya.


Rusia Siap Hadapi Setiap Ancaman ISIS

Secara umum, pasukan keamanan Rusia dinilai mampu mengatasi ancaman dan mencegah para milisi kembali ke Rusia. “Perbatasan kita di bawah kendali. Para petugas di lapangan memiliki data para bandit yang bertempur di Suriah,” kata Goncharov.

Sebuah helikopter tempur Rusia membombardir basis pertahanan kelompok ISIS di Aleppo Selatan, Suriah. (Foto: Istimewa)

Rusia Gunakan Asap untuk Strategi Perang Kota Melawan Serangan NATO

Mengantisipasi serbuan militer aliansi NATO, angkatan perang Rusia mempelajari sebuah strategi perang kota terbaru. Militer Rusia ingin memanfaatkan asap sebagai benteng pertahanan kota. (Foto: rusofil-tuluza-rota.forumactif)
"Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri,"
MOSKOW -- Pergerakan aliansi militer NATO yang semakin mendekati pagar perbatasan Federasi Rusia, ditindaklanjuti negara itu dengan penguatan armada militer di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya membangkitkan Alat Sistem Senjata super canggih, Rusia juga mengembangkan berbagai macam strategi pertempuran dalam menghadapi musuh.

Salah satu strategi yang sedang dipelajari militer Rusia adalah memanfaatkan asap dalam strategi pertahanan perang kota. Strategi asap ini digunakan militer Rusia dalam operasi militer besar-besaran akan digelar oleh militer Rusia. Dalam latihan ini, skenario yang akan dijalankan adalah menguasai sebuah tempat di Rusia. Hasil dari latihan ini sungguh menakjubkan.

Pada latihan ini, Armada Utara Rusia berencana menyelimuti dan menyembunyikan sebuah kota yang dihuni oleh 50 ribu orang dengan asap tebal selama tiga hari. Tempat itu adalah Severomorsk di mana ia merupakan salah satu kota terbesar di wilayah Murmansk, Rusia Utara. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian latihan perang untuk militer Rusia.

Pihak berwenang telah memperingatkan asap tersebut akan berbau tapi tidak akan berbahaya dan akan segera hilang. Sebuah pernyataan dari Kementerian Pertahanan mengatakan, 

"Warga diminta untuk tetap tenang. Campuran asap tidak berbahaya untuk manusia meskipun ia sedikit berbau”. Demikian sebagaimana dikutip Express, Kamis (11/8/16).
Asap menyelimuti kota Moskow. (Foto: Istimewa)
Juru bicara armada menyatakan bahwa dalam kurun tiga hari ke depan, peluncur asap bergerak dan stasioner akan menciptakan 'selimut asap' untuk menaungi kota, mengaburkan kota sekaligus markas armada yang terletak di sana. Media Rusia menyebutkan ini adalah pertama kalinya militer Rusia mencoba manuver semacam ini.

Angkatan Laut Rusia meminta orang-orang untuk tetap berada di kota tersebut sebagai bagian dari latihan dan orang-orang juga diminta untuk tetap tenang ketika asap menyebar. Karena itu, mereka harus memastikan seluruh jendela untuk tetap terkunci dan lebih waspada saat mengemudi karena jarak pandang terganggu.

Salah seorang penduduk, Mila Tsigareva, menanggapi rencana tersebut dengan biasa saja. "Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri," kata Mila seperti dikutip ABC.

Sementara Svetlana, penduduk lain, mengaku tak terganggu dengan latihan militer yang digelar di kotanya. "Mereka melakukan ini tiap tahun. Bagi saya ini sama saja," tuturnya.

Angkatan Laut berharap bahwa kabut palsu akan membuat pangkalan militer besar Severomorsk ini tidak terlihat oleh mata musuh. Mereka juga  mengklaim ini adalah pertama kalinya hal seperti ini digunakan.
Negara-negara yang tergabung dalam aliansi militer NATO saat mengadakan latihan militer bersama di sepanjang perbatasan Rusia. NATO beralasan latihan militer tersebut dilakukan karena merasa terancam dengan penguatan militer Rusia. (Foto: Sputniknews)

Curigai Barat Telah Sponsori Kudeta, Turki Kini Merapat ke Rusia dan Iran

Arah kebijakan luar negeri Turki berubah 360 derajat setelah terjadinya kudeta militer untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Mendapat bantuan menggagalkan aksi kudeta tersebut, kini Erdogan membuat kebijakan untuk menjalin aliansi baru dengan Rusia dan Iran dalam menangani konflik di Timur Tengah. (Foto: istimewa)
“Saya berharap para pemimpin Negara Barat di dunia bereaksi yang sama (terhadap kudeta militer di Turki) dengan cara yang sama. Bukannya malah berpuas diri dengan beberapa klise,”
ANKARA -- Pasca kudeta gagal yang dilakukan sekelompok militer Turki, terjadi perobahan drastis dalam pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan. Turki yang sebelumnya berseberangan dengan Rusia dan Iran, kini justru semakin dekat. 

Bukan tanpa alasan, Erdogan merubah sikapnya karena merasa berhutang budi dengan bantuan yang diberikan Rusia dan Iran dalam upaya menggagalkan aksi kudeta militer untuk menjatuhkan pemerintahannya.

Seperti diketahui, Setelah kudeta berhasil dikendalikan, Presiden Erdogan lalu melakukan kunjungan ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya terjadi semenjak insiden ditembak jatuhnya pesawat tempur Rusia oleh militer Turki.

Dalam pertemuan tersebut, mereka dikabarkan menjalin sejumlah kerjasama termasuk investasi besar-besaran Rusia di Turki. Kabar kedekatan dua pemimpin dunia inilah yang membuat Barat menjadi semakin takut dan cemas. Demikian sebagaimana dilansir TIME, Kamis (11/8/16).


Selain itu, kepada surat kabar harian Le Monde di Prancis, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pernah mengatakan kalau dia sekarang ini merasa ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya di Negara Barat. Dia mencontohkan, kejadian teror di negaranya selalu diabaikan, dianggap biasa. Sementara ketika negara Eropa lain dilanda kengerian serupa, para kepala negara atau pemerintahannya menyambangi atau minimal ikut mengecam dan menyatakan belasungkawa.
Presiden Erdogan saat menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin, setelah gagalnya aksi kudeta yang dilakukan pihak militer Turki. (Foto: istimewa)
“Seluruh dunia bereaksi terhadap serangan (teroris) di (kantor berita) Charlie Hebdo. Perdana Menteri kami bahkan ikut berkampanye di jalan Paris,” ujarnya, seperti dikutip dari EurActiv, Rabu (10/8/2016).

Ia kemudian mengambil pengandaian kedua mengapa dia merasa Turki diabaikan negara-negara barat. Ketika kudeta militer meletus di Ankara dan Istanbul pada 15 Juli, negara barat bukannya mengutuk upaya pemakzulan itu, tetapi malah mencerca cara dia memperlakukan para tahanan. 


Sedangkan menurut Erdogan, Rusia dan Iran justru berlaku sebaliknya yang bersedia memberikan bantuan informasi dan intelijen dalam usaha menggagalkan aksi kudeta tersebut, padahal Rusia dan Iran sedang posisi bermusuhan dengan Turki.

“Saya berharap para pemimpin Negara Barat di dunia bereaksi yang sama (terhadap kudeta militer di Turki) dengan cara yang sama. Bukannya malah berpuas diri dengan beberapa klise,” tukasnya, sehari sebelum melakukan kunjungan krusial ke St Petersburg untuk bicara dari hati ke hati dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pecahnya hubungan Turki dengan aliansi Baratnya disebabkan Turki menuduh AS sebagai dalang di balik kudeta militer. Bahkan, Presiden Erdogan menolak keras kritik Barat atas sikap yang diambilnya untuk mengontrol pemerintahan.
Presiden Erdogan saat menemui Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani, setelah gagalnya aksi kudeta yang dilakukan pihak militer Turki. (Foto: istimewa)
Sebelumnya, para pimpinan di negara Eropa sudah memperingati Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk tidak menggunakan alasan kudeta untuk menghabisi para musuh politiknya.

Uni Eropa menentang keras keputusannya Erdogan mengembalikan hukuman mati yang sudah lama dicabut dari konstitusi Turki. Amerika Serikat diminta mengekstradisi Fethullah Gulen, tetapi tidak kunjung mengabulkan permohonan tersebut.

NATO Mulai Terancam

Semakin merapatnya Erdogan dalam barisan Rusia dan Iran, membuat aliansi militer NATO mulai merasa cemas. Sebab, Turki adalah negara anggota NATO yang memiliki pasukan militer terbesar kedua dalam aliansi itu. Selain itu di Turki juga terdapat pangkalan militer Amerika Serikat di Incirlik, dimana rudal balistik berkemampuan nuklir AS ditempatkan.


Namun, Jerman sebagai salah satu anggota NATO mengaku tidak khawatir dengan membaiknya hubungan Rusia dan Turki. Pasalnya, Jerman menegaskan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) tidak akan melemah dengan rujuknya kedua negara tersebut.

Sebagaimana dikutip dari Newsweek, Selasa (10/8/16) Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier mengatakan kepada tabloid Bild, ia tidak takut pendekatan kembali Turki ke Rusia akan berakhir dengan Turki meninggalkan NATO.

Pertemua para negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Aliansi Utara atau NATO. (Foto: Istimewa)

Inilah si 'Radar Terbang' MiG-31, Jet Tempur Supersonik Paling Ditakuti di Dunia

Hingga saat ini belum pernah ada satu kekuatan militer negara manapun yang mampu dan berani menerobos wilayah udara negara Federasi Rusia. Hal ini disebabkan langit Rusia dijaga oleh pesawat tempur MIG-31 dengan daya sergap dan kemampuan manuver di atas rata-rata pesawat tempur buatan negara lain. Kecanggihan pesawat tempur MIG-31 sampai saat ini masih menjadi misteri yang menambah kesan angker kekuatan militer Rusia. (Foto: istimewa)
“Pembaruan ini seharusnya dilakukan sejak 20 tahun lalu. Namun, itu tak terwujud, sehingga standarnya kini ditingkatkan. Hal itu termasuk peningkatan kecepatan menjadi Mach 4 – 4,3 (sekitar 4.248 kilometer per jam),”
MOSKOW -- Indonesia merupakan salah satu dari lima negara terbesar di dunia. Dengan wilayah yang sangat luas tersebut hingga kini Indonesia belum juga bisa menjaga kedaulatannya secara maksimal. Setidaknya hingga kini wilayah udara Indonesia masih sering menjadi langganan diterobos pesawat asing baik pesawat sipil maupun militer. 

Selain memiliki radar militer yang sangat minim, armada pesawat tempur Indonesia juga berada dalam kondisi darurat. Indonesia saat ini hanya memiliki satu Skuadron pesawat tempur campuran Sukhoi SU-27 dan Sukhoi SU-30 yang memiliki kemampuan yang dapat mencegat target dan menghancurkan sasaran dalam berbagai kecepatan. 

Dengan hanya memiliki satu skuadron pesawat tempur jenis fighter dan buru sergap, menjadi suatu hal mustahil TNI Angkatan Udara mampu menjaga seluruh wilayah kedaulatan Indonesia dengan baik.

Indonesia harusnya berkaca pada negara Federasi Rusia, yang merupakan negara terbesar di dunia, namun mampu menjaga kedaulatan wilayahnya dengan baik. Walaupun memiliki wilayah yang sangat luas, tidak ada satupun negara yang berani menerobos wilayah udara Rusia, bahkan negara adidaya Amerika Serikat sekalipun.
Para teknisi dan ilmuwan Rusia terus berupaya meningkatkan kecanggihan pesawat tempur MIG-31, seiring semakin pesatnya perkembangan teknologi pesawat militer. (Foto: istimewa)
Faktor yang membuat Rusia disegani dan ditakuti adalah armada pesawat tempurnya yang begitu canggih. Rusia memiliki sejumlah pesawat tempur yang mampu menjaga negara itu dari ujung timur hingga ujung paling barat perbatasan negara tersebut dengan baik.

Perbatasan udara Rusia dijaga oleh MiG-31, pesawat canggih yang dapat mencegat target apa pun dalam berbagai kecepatan, mulai dari rudal jelajah tersembunyi hingga satelit, baik siang maupun malam, dalam cuaca hujan atau pun cerah. Para ahli militer mengatakan sistem pesawat ini unik dan tidak akan ada pesawat yang sebanding dengan karakteristik MiG-31 Rusia dalam 10 – 15 tahun ke depan.


Pesawat ini mampu mencegat dan menghancurkan segala sasaran, mulai dari satelit terbang rendah hingga rudal jelajah. Sekelompok pesawat pencegat MiG-31 dapat menguasai sebagian besar ruang udara dengan mengarahkan pesawat tempur kepada sasaran serta misil antipesawat berbasis darat.

MiG-31 dijuluki “radar terbang” oleh para pilot karena kemampuan avionikanya yang unik. Pesawat ini memiliki sistem kendali “barrier” di pangkalannya dan dilengkapi dengan antena dengan susunan berfase pertama (PPA) di dunia. PPA berbeda dari radar klasik karena bisa menggerakkan sorotan di antena tetap, menghasilkan sejumlah sinar yang diperlukan, serta melacak berbagai sasaran sekaligus.

MIG-31 Tanpa Tanding Akan Lahirkan Generasi Baru

Prestasi gemilang yang dibuat MIG-31 adalah, hingga kini tidak ada satupun negara yang mampu menerobos wilayah udara Rusia sekalipun hanya sekadar mendekatinya. Hal ini tentu saja karena 'keangkeran' pesawat tempur MIG-31 yang membuat militer negara manapun berpikir seratus kali untuk coba-coba berbuat macam dengan Rusia.

Pesawat tempur MIG-41 yang masih dalam tahap pengembangan dan uji coba. (Foto: Istimewa)
Untuk mempertahankan kehebatan pesawat tempur MIG-31 tersebut, pada akhir Desember 2015, Direktur Jenderal MiG Sergey Korotkov menyampaikan pada para wartawan bahwa sebuah pesawat baru yang akan menggantikan pesawat pencegat legendaris MiG-31 akan dibuat berdasarkan prinsip rekayasa modern pesawat militer dan material modern.

Saat ini, desain fisik pesawat tengah dikembangkan. Pengembangan proyek ini dimulai pada awal 2014. Di saat yang sama, Anggota Komite Pertahanan dan Wakil Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) Aleksander Tarnaev mengumumkan penandatangan dokumen untuk melakukan riset proyek MiG-41.

Menurut Kepala Komando AU Rusia Viktor Bondarev, pesawat pencegat baru ini akan siap pada 2020. Pilot uji coba Anatoly Kvochur yakin bahwa pesawat ini akan mewarisi semua keunggulan pendahulunya, MiG-31, tapi akan lebih cepat, mampu mencapai Mach 4+. 


“Pembaruan ini seharusnya dilakukan sejak 20 tahun lalu. Namun, itu tak terwujud, sehingga standarnya kini ditingkatkan. Hal itu termasuk peningkatan kecepatan menjadi Mach 4 – 4,3 (sekitar 4.248 kilometer per jam),” kata sang pilot dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti.

Pengerjaan pesawat pencegat supersonik MiG-41 melibatkan proyek nomor 301 dan 321 yang dimulai sejak 1990-an. Pesawat ini bersaing dengan proyek Biro Desain Sukhoi, yang telah mengambil inisiatif untuk menciptakan pesawat pencegat terjangkau yang mampu beroperasi dengan kecepatan 2.500 – 2.700 kilometer per jam, sehingga baik pihak industri maupun pihak militer harus menyepakati kelangsungan pengembangan kedua proyek.

Perkembangan pesawat tempur generasi MIG  buatan Uni Soviet/Rusia dari masa ke masa