Jalur Militer: MILITER

Walau Sempat Jadi Musuh, Malaysia Kagumi Kehebatan Kopassus

Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit Indonesia yang sudah kenyang dengan pengalaman tempur. Kopassus bahkan pernah adu tanding nyawa di belantara Kalimantan menghadapi pasukan elit Inggris dan Amerika Serikat dalam operasi Dwikora. Dalam operasi yang terkenal dengan istilah 'Ganyang Malaysia' tersebut, Kopassus bahkan juga menghadapi pasukan Gurkha yang dimitoskan sebagai pasukan elit tersadis di dunia. (Foto: Istimewa)
"Kesempatan langka kebersamaan itulah yang mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dekat dengan RPKAD,"
Jalurmiliter -- Komando Pasukan Khusus (Kopassus), salah satu pasukan elit kebanggaan Indonesia, memiliki banyak, kisah dan catatan sejarah yang panjang dan heroik sejak dibentuknya pasukan elit TNI Angkatan Darat ini.
Kopassus telah menjalani pelbagai pertempuran, mulai dari menghadapi gerilyawan DI/TII sampai operasi pembebasan sandera. Operasi militer Dwikora ke pedalaman Kalimantan menjadi salah satu misi berat yang dijalankan Kopassus. 

Dalam operasi 'Ganyang Malaysia' untuk menghadapi negara boneka Inggris itu, berkali-kali prajurit komando terlibat bentrok dengan pasukan elite Inggris, Special Air Service atau disingkat SAS. Meski terlibat pertempuran, namun tak pernah ada pernyataan perang antara Indonesia dan Malaysia. 

Personel yang tertangkap, atau terbunuh tak diakui keberadaannya. Seragam dan pangkat militer wajib dilepas, seragam diganti dengan seragam hijau Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Dengan demikian, jejak keterlibatan Indonesia terhapus. 

Operasi-operasi yang dilakukan Kopassus bersama Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) berkali-kali merepotkan Malaysia, hingga akhirnya meminta bantuan Inggris. Permintaan itu disetujui, negeri Ratu Elizabeth itu langsung menerjunkan satu batalyon SAS.

SAS merupakan pasukan elite terbaik dunia. Prestasinya sungguh tersohor. Selain SAS, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.
Presiden Soekarno saat memeriksa dan melepas pasukan TNI, dalam operasi Dwikora. (Foto: Istimewa)

Kerahkan Militer di Suriah, Rusia Malah Dapat Untung Besar



Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat pujian dari kalangan internasional dengan mengeluarkan taktik cerdasnya di Suriah. Walau sempat dihina oleh rival abadinya Amerika Serikat, pengerahan militer Rusia untuk membantu pemerintahan Bashar Assad justru akhirnya menguntungkan bagi Rusia. (Foto: istimewa)
“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,”
DAMASKUS -- Pada saaat Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan kebijakan mengirimkan armada perangnya ke Suriah, untuk membantu pemerintahan Presiden Bashar al Assad, Amerika Serikat beserta gerombolan sekutunya sempat menghina dan mengolok Rusia dan mengatakan Rusia akan mengalami kerugian total.

Tetapi siapa sangka, Rusia justru mendapatkan keuntungan ganda dari membantu Suriah yang merupakan sekutu lamanya tersebut. Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber militer Rusia. 

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keuntungan yang didapat Rusia dari membantu sekutunya Suriah:

Kontrak dengan Aljazair 

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. 

Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Rusia, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 sampai dengan 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai.
Seorang tentara Rusia berpose dengan dilatarbelakangi sebuah MBT-T90, di pangkalan militer Latakia, Suriah. (Foto: istimewa)
Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850-900 juta dolar AS. Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600-700 juta dolar AS. 

Mendapat Pembeli Dari Asia Tenggara

Di Asia Tenggara Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian negara terkuat dan terbesar di wilayah tersebut yaitu Indonesia. Selain itu, Vietnam dan Pakistan juga menyatakan akan mengikuti langkah Indonesia membeli armada perang Rusia tersebut.

Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. 

Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut, yang berencana membeli hingga lima Skuadron pesawat tempur Sukhoi SU35.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit, selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Rusia menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS. 

Pengerahan Armada Militer Untuk Iklan Senjata

Selain membantu sekutunya, Rusia secara tidak langsung juga menjadikan pengerahan armada perangnya ke Suriah sebagai sebuah iklan alat-alat tempur buatan terbaru dan tercanggih mereka di pentas dunia. Hal ini dibuktikan dengan membanjirnya pesanan bahkan dari kawasan Timur Tengah sendiri.

Buktinya militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. 

Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.
Sebuah helikopter Ka-52 Alligator dan helikopter Mi-28NE saat dalam operasi penumpasan ISIS di Suriah. (Foto: istimewa)

GFP: Peringkat Kekuatan Militer Indonesia Turun di 2018

Pasukan militer Indonesia berdiri dalam formasi di depan alutsista kanon 155mm dan beberapa senjata peluncur roket, pada perayaan HUT TNI ke-67 di bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, pada 5 Oktober, 2012. (Sumber Foto: AFP / ROMEO GACADROMEO GACAD / GettyImages)
JAKARTA -- Kekuatan militer Indonesia mengalami penurunan dibandingkan pada tahun sebelumnya. Hal ini terdata dalam situs Global Fire Power (GFP) yang kembali merilis peringkat kekuatan militer negara-negara di dunia. 

Dalam peringkat terbaru itu, kekuatan militer Indonesia masuk dalam daftar 15 besar dunia. Indonesia turun satu peringkat dari tahun lalu. Data GFP 2017 menyebutkan bahwa, Indonesia berada di urutan ke-14 daftar kekuatan tempur dunia.

Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara di regional ASEAN, seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Malaysia, Filipina, dan Singapura, Indonesia masih menempatkan posisi sebagai yang terkuat di kawasan.

Posisi ini juga menempatkan Indonesia sebagai negara ASEAN yang masuk dalam 20 besar peringkat GFP. Negara Asia Tenggara lainnya yang masuk dalam daftar tersebut adalah Vietnam di peringkat ke-17. Tidak hanya itu, peringkat Indonesia juga lebih baik dari Israel (16) dan Korea Utara (18) serta Australia (21).

Dalam menyusun peringkat kekuatan militer negara-negara di dunia, situs Global Firepower Index memasukkan unsur jumlah personil militer, pesawat tempur, tank, hingga total aset angkatan laut. Situs ini juga memasukkan anggaran pertahanan.

Selain persenjataan dan anggaran pertahanan, GFP juga memberikan penilaian berdasarkan cadangan energi, modernisasi, kesehatan ekonomi sebuah negara, kemampuan Naval (AL) yang mumpuni, jumlah penduduk usia produktif, dan luas wilayah suatu negara.

Dalam catatan Global Firepower Index, militer Indonesia mempunyai personil militer aktif sebesar 975.750 terdiri dari TNI/Polri, memiliki 39 pesawat tempur, 418 tank, 420 pesawat, 5 unit kapal selam dan total aset angkatan laut mencapai 221 dengan anggaran pertahanan mencapai USD 6,9 miliar.

Peringkat militer dunia pada tahun 2017, dimana Indonesia menempati posisi 14 besar dunia. (infografis: GFP)
Sejumlah negara yang secara kekuatan militer berada di bawah posisi Indonesia antara lain, Israel, Vietnam, Brazil, Taiwan, Iran, Australia, dan Arab Saudi. Sementara itu, untuk tiga besar negara kekuatan militer di dunia, Amerika Serikat (AS) berada pada puncak daftar diikuti Rusia (2) dan China (3). Di bawah ketiganya adalah India (4), Prancis (5), Inggris (6), Korea Selatan (7), Jepang (8), Turki (9) dan Jerman (10).

Salah satu penyebab turunnya peringkat kekuatan militer Indonesia adalah, tidak adanya pembelian persenjataan atau alutsista yang signifikan dalam satu tahun terakhir. Selain itu juga ditambah kondisi perekonomian Indonesia tidak dalam kondisi stabil, sehingga mempengaruhi finansial Indonesia secara nasional.

Sedangkan disisi lain, negara yang peringkat sebelumnya berada dibawah Indonesia, seperti Pakistan, justru memperkuat persenjataannya, sehingga mampu melewati Indonesia.

Berikut daftar 10 negara dengan militer terkuat di 2018:

1. Militer Amerika Serikat
Angaran militer: USD601 miliar (Rp7.945 triliun) pertahun
Personel tentara aktif: 1,4 juta
Personel cadangan: 1,1 juta
Tank: 8.848
Kendaraan lapis baja: 41.000 
Senjata artileri: 3.000 lebih 
Sistem peluncur roket: 1.331
Pesawat militer: 13.444
Pesawat tempur: 5.039
Pesawat angkut: 5.739
Helikopter serbu: 957
Kapal perang: 415 (19 kapal induk)
Kapal selam: 74
Kapal penyapu ranjau: 11

2. Militer Rusia
Angaran militer: USD84,5 miliar (Rp1.120 triliun) pertahun
Personel aktif: 766.055
Personel cadangan: 2,4 juta
Tank: 15.398
Kendaraan lapis baja: 31.298
Senjata artileri: 10.000 
Sistem peluncur roket: 3.793
Pesawat militer: 3.547
Helikopter serbu: 478
Kapal perang: 352 (1 kapal induk)
Kapal selam: 60

3. Militer China
Angaran militer: USD216 miliar (Rp3.000 triliun) pertahun
Personel aktif: 2,3 juta   
Personel cadangan: 2,3 juta
Tank: 9.150
Kendaraan lapis baja: 4.788  
Sistem peluncur roket: 1.770
Pesawat militer: 2.615
Helikopter serbu: 200
Kapal perang: 714 (1 kapal induk)
Kapal selam: 68

Jumlah perbandingan Personel militer aktif negara-negara di kawasan Asia.

Misil S-300 Rusia Pecundangi Kekuatan Militer AS dan Israel di Suriah

Baterai anti-misil S-300 di Suriah. (Foto: EAP)
"Sistem ini murni defensif, jadi ketika AS mengatakan bahwa senjata defensif merusak keamanan nasional, itu tidak benar. Bahkan, tindakan seperti itu akan mengarah pada stabilisasi kawasan,"
DAMASKUS -- Medan perang Timur Tengah dan Suriah khususnya, kembali memanas, setelah Rusia yang menjadi sekutu terkuat Damaskus, berencana menambah kekuatan sistem pertahanan udara S-300 di wilayah Suriah. Keputusan Moskow itu sebagai respons setelah pesawat mata-matanya ditembak jatuh sistem rudal S-200 Damaskus saat merespons serangan empat jet tempur F-16 Tel Aviv.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan bahwa Moskow akan menyediakan sistem pertahanan udara S-300 yang canggih kepada Suriah untuk meningkatkan keamanan prajurit Rusia yang ditempatkan di negara itu.

Keputusan Rusia ini langsung mendapat kecaman dan penolakan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tel Aviv dan Washington pada Senin malam mengeluarkan peringatan kepada Moskow untuk membatalkan keputusannya. Mereka menilai langkah Moskow akan semakin mengguncang kawasan dan meningkatkan ketegangan yang sudah memanas.

Bahkan, kabinet keamanan Israel langsung menggelar rapat pada Selasa (25/9/18) pagi. Pertemuan itu untuk membahas perkembangan terbaru yang menentukan hubungan Tel Aviv dengan Moskow.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyatakan, walau Presiden Rusia Vladimir Putin telah menghubunginya melalui telepon terkait rencana tersebut, namun Israel tidak akan tinggal diam dan akan memberikan respon langsung jika merasa terancam.

 "Perdana menteri mengatakan menyediakan sistem persenjataan canggih kepada aktor yang tidak bertanggung jawab akan memperbesar bahaya di wilayah tersebut, dan bahwa Israel akan terus mempertahankan diri dan kepentingannya," bunyi pernyataan kantor Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel.

Jet tempur Angkatan Udara Israel yang dituduh menjadi dalang utama jatuhnya pesawat mata-mata milik Rusia di Suriah. (Foto: Istimewa)
Sedangkan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan keputusan Rusia adalah "kesalahan besar" yang akan menyebabkan eskalasi signifikan. Bolton mendesak Moskow untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Amerika menyatakan bahwa sistem rudal S-300 dapat membahayakan jet-jet tempur Angkatan Udara AS yang beroperasi melawan kelompok Islamic State atau ISIS di Suriah.

"Membawa lebih banyak rudal anti-pesawat ke Suriah tidak akan menyelesaikan penembakan misil yang tidak profesional dan sembarangan dan tidak akan mengurangi bahaya bagi pesawat yang terbang di daerah itu," kata Bolton, seperti dilansir Channel 10 News.

"Kami pikir memperkenalkan S-300 kepada pemerintah Suriah akan menjadi eskalasi signifikan oleh Rusia dan sesuatu yang kami harap, jika laporan pers ini akurat, mereka akan mempertimbangkan kembali (keputusannya)," kata Bolton kepada wartawan.


Misil S-300 Lindungi Seluruh Wilayah Udara Suriah

Direktur Departemen Nonproliferasi dan Pengawasan Senjata Kementerian Luar Negeri Rusia, Vladimir Ermakov mengatakan, pasokan S-300 Rusia ke rezim Damaskus akan dapat menutup wilayah udara Suriah jika diperlukan. Menurutnya, permintaan agar Moskow tidak mengirim S-300 ke Suriah, tidak memiliki efek lagi, dan negara manapun tidak berhak mencegahnya.


Menanggapi pernyataan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, bahwa pengiriman S-300 ke Suriah akan menjadi "eskalasi signifikan" oleh Moskow, Ermakov menyatakan bahwa sistem S-300 dimaksudkan untuk tujuan defensif.
Prajurit Rusia menyaksikan peluncuran rudal sistem pertahanan udara S-300 selama Pertandingan Tentara Internasional 2016 di poligon militer Ashuluk di luar Astrakhan, Rusia, 7 Agustus 2016.  (Foto: REUTERS / Maxim Shemetov)
Menurutnya, AS memalsukan fakta ketika mengatakan bahwa pasukan Rusia akan melanggar keamanan nasionalnya. Selain itu, Ermakov menyatakan bahwa langkah-langkah itu akan mengarah pada stabilisasi, bukan eskalasi.

"Sistem ini murni defensif, jadi ketika AS mengatakan bahwa senjata defensif merusak keamanan nasional, itu tidak benar. Bahkan, tindakan seperti itu akan mengarah pada stabilisasi kawasan, karena kita akan dapat menutup wilayah udara di mana itu diperlukan, dan, pertama-tama, prajurit kami yang memenuhi tugas internasional mereka atas undangan pemerintah Suriah akan dilindungi," Kata Ermakov, seperti dikutip Sputnik. Selasa (25/9/18).


Rudal S-300 Mampu Pecundangi AS, Israel dan Turki

Pakar militer dari kelompok think tank Al-Mustaqbal yang berbasis di Uni Emirat Arab, Dr Shadi Abdel Wahhab, mengatakan, Pengiriman sistem rudal pertahanan udara S-300 oleh Rusia ke tentara Suriah tidak hanya akan membuat Israel menjadi pecundang. Turki juga akan dibuat sama terkait kepentingannya di negara Bashar al-Assad tersebut.

"Pengiriman sistem S-300 Rusia ke Suriah akan membuat serangan di wilayah Suriah merupakan latihan yang sangat mahal bagi Israel, ini akan memperkuat posisi Iran dan kelompok Syiah pro-Iran, Hizbullah, yang fasilitasnya di Suriah menjadi sasaran serangan Israel," kata Abdel Wahhab, kepada Sputnik (24/9/18).

Menurut pakar tersebut, sistem S-300 menimbulkan ancaman bagi semua negara yang akan mengebom wilayah Suriah. Ancaman ini berlaku tidak hanya untuk Israel, tetapi juga untuk Amerika Serikat, serta negara-negara lain yang merupakan bagian dari koalisi Washington.

"Tapi Turki akan menjadi pecundang lain. Jika operasi militer di Idlib di timur laut Suriah dilanjutkan, serangan pesawat Amerika Serikat terhadap tentara Suriah akan terhalang jika (Damaskus) memiliki sistem S-300," ujarnya.

Pesawat mata-mata Ilyushin IL-20M milik Angkatan Udara Federasi Rusia. (Foto: Dmitry Terekhov)

Militer China Sebar Kapal Selam Nuklir di Kawasan Laut China Selatan

Kapal selam class Jin, Angkatan Laut China, yang menampung 12 rudal balistik Jl-2 berhulu ledak nuklir. China menyatakan menolak keputusan Mahkamah Arbitrase internasional yang tidak mengakuia klaim China di Laut China Selatan. Militer China menyatakan siap memperkuat kehadiran militer mereka di kawasan sengketa tersebut. (Foto: Istimewa)
"China telah melanggar hak kedaulatan Filipina di zona ekonomi eksklusifnya dengan cara melakukan penangkapan ikan dan eksplorasi minyak, membangun pulau buatan dan tidak melarang nelayan China bekerja di zona tersebut,"
BEIJING -- Republik Rakyat China (RRC) sepertinya akan benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan mereka demi memenuhi ambisinya untuk menguasai seluruh kawasan di Laut China Selatan (LCS)

Walau Filipina ingin menyeret China ke Mahkamah Arbitrase di Den Haag, Belanda, untuk menentukan legalitas klaim China di LCS, tapi sepertinya negeri tirai bambu itu tak gentar. China kini justru semakin memperkuat armada militernya di kawasan kaya minyak tersebut.

Militer China menyatakan siap untuk mengirim kapal selam bersenjata rudal nuklir ke Samudera Pasifik dan Laut China Selatan. Langkah itu untuk melawan sistem senjata baru Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan yang dianggap mengancam Beijing.

Para pejabat militer China yang dikonfirmasi The Guardian pada Kamis (26/5/16) tidak menentukan waktu patroli kapal selam berudal nuklir itu. Hanya saja mereka menegaskan bahwa langkah itu tidak terelakkan.

China mendirikan sejumlah pulau buatan di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, elemen krusial bagi motivasi Cina untuk mendirikan pulau-pulau buatan terletak di bawah permukaan laut.
Rombongan armada kapal selam nuklir dan kapal perang Angkatan Laut China yang dikerahkan di Laut China Selatan. (Foto: Istimewa)
Pembangunan pulau-pulau buatan di Laut Cina Selatan sejatinya punya dua fungsi, yakni memperkuat klaim kedaulatan Cina dan menjadi wadah keberadaan Cina di ranah militer dan sipil. China berdalih bahwa pulau-pulau buatan tak hanya penting bagi sistem pertahanan, tapi juga kepentingan publik.

Di Pulau Fiery Cross, China telah membangun mercusuar dan sebuah rumah sakit. Di masa mendatang bukan tidak mungkin Cina akan menempatkan kantor administratif pemerintahan di sana.

Kekhawatiran Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) akan rentannya strategi penggentar berkekuatan nuklir di daratan dan kemampuan meluncurkan serangan balasan kedua telah mendorong China untuk menempatkan beberapa hulu ledak nuklirnya di dalam kapal selam.

Dua tahun lalu, China mengerahkan kapal selam yang menampung 12 rudal balistik Jl-2 berhulu ledak nuklir untuk pertama kali. Bertolak dari pangkalan militer dekat Sanya, di ujung selatan Pulau Hainan, kapal selam tersebut kini berpatroli di kedalaman Laut Cina Selatan. 

Pemerintah Cina mengeluarkan peta kawasan sembilan garis putus-putus atau nine-dashed lines yang mencakup sekitar 90% dari 3,5 juta kilometer persegi perairan Laut Cina Selatan. Untuk mewujudkan klaim tersebut, kapal selam China harus mampu meluncur dari pangkalan militer di Hainan dan melintasi Laut Cina Selatan ke Samudera Pasifik tanpa terdeteksi, hal ini untuk membendung armada militer Amerika Serikat yang saat ini sudah mulai memperkuat kehadirannya di Laut China Selatan.
Peta penyebaran kapal selam nuklir di Laut China Selatan, serta kemungkinan akses yang dilalui kapal selam nuklir China menuju Pasifik yang menjadi basis pertahanan Amerika Serikat. (Gambar: istimewa)
Departemen Pertahanan AS meyakini patroli kapal selam China akan bisa menembus Samudera Pasifik tahun ini, yang dianggap dapat mengancam basis militer Amerika Serikat di Guam dan Hawai.

Sebagian besar perairan bagian selatan China agak dangkal, dengan kedalaman di bawah 100 meter. Akan tetapi, di perairan yang tercakup dalam wilayah yang diklaim China di Laut China Selatan, landas kontinennya mencapai kedalaman 4.000 meter, cocok bagi persembunyian kapal selam.

Itulah sebabnya sejumlah pakar meyakini perairan dalam di Laut Cina Selatan, ditambah upaya China menangkal kapal selam asing di sana, amat mungkin menjadi basis kapal selam China pada masa mendatang.

China telah bekerja pada teknologi kapal selam rudal balistik selama lebih dari tiga dekade, namun penyebaran yang nyata telah tertunda oleh kegagalan teknis, persaingan institusional dan keputusan kebijakan pemerintah.

China Tidak Akui Keputusan Mahkamah Arbitrase

Beijing bereaksi keras setelah menolak keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional (PCA) di Den Haag, Belanda, Selasa (12/7/16). PCA menutuskan bahwa China telah melanggar kedaulatan Filipina di Laut China Selatan.

Rakyat Filipina dengan dibantu tentara, berusaha menancapkan sebuah bendera Filipina di kawasan karang yang ingin dikuasai oleh militer China, di Laut China Selatan. (Foto: Istimewa)
"China telah melanggar hak kedaulatan Filipina di zona ekonomi eksklusifnya dengan cara melakukan penangkapan ikan dan eksplorasi minyak, membangun pulau buatan dan tidak melarang nelayan China bekerja di zona tersebut," kata PCA dalam sebuah pernyataan.

Beijing justru menganggap angin lalu keputusan itu. Kementerian Luar Negeri China mengatakan, pemerintahnya tidak menerima dan takkan mengakui keputusan tersebut.

"China akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan wilayah, hak maritim, dan kepentingannya," kata Partai Komunis China di halaman depan People's Daily, Rabu.

Beijing bahkan menuding para hakim PCA telah disumpali dengan uang oleh Filipina dan juga memojokkan PCA sebagai “boneka” dari kekuatan eksternal.

Dalam pernyataan, Rabu, Beijing mengatakan, klaim kedaulatan Filipina tak berdasar (baseless). Filipina telah melecehkan dan menyerang kapal-kapal China di Kepulauan Spratly.

Pulau buatan yang dibangun China dengan cara menimbun jejeran pulau-pulau kecil berkarang di kawasan Laut China Selatan. Pulau buatan itu kini dijadikan China sebagai pangkalan militer mereka di kawasan tersebut.

China dan Amerika Bisa Picu Perang Nuklir di Kawasan Laut China Selatan

Kapal perang destroyer Amerika Serikat berkemampuan nuklir, di Laut China Selatan. Ambisi China untuk menguasai seluruh kawasan Laut China Selatan berpotensi terjadinya perang nuklir antara China dan Amerika Serikat, yang kini ikut campur dalam konflik tersebut. Kedua negara pemilik senjata pemusnah massal tersebut sama-sama mulai mengeluarkan senjata dan armada perang tercanggih mereka. (Foto: Istimewa)
”Karena SSBNs (kapal selam rudal nuklir) China berada di Laut China Selatan, Angkatan Laut AS akan mencoba untuk mengirim kapal mata-mata di sana dan mendekat dengan SSBNs. Angkatan Laut China membenci itu dan akan mencoba untuk mendorong mereka pergi,”
BEIJING -- Ikut campurnya negara adidaya Amerika Serikat dalam konflik teritori di Laut China Selatan menimbulkan potensi terjadinya perang nuklir antara militer China dan AS. Kedua negara yang memiliki senjata pemusnah massal tersebut kini sama-sama mulai mengeluarkan senjata dan armada perang tercanggih mereka di Laut China Selatan.

Salah satu contoh gesekan yang terjadi yakni, saat sebuah pesawat mata-mata AS dan dua jet tempur China nyaris bertabrakan di wilayah yang berjarak 50 mil dari pulau Hainan, di mana empat  kapal selam Jin-Class dengan rudal balistik disiagakan. Kapal selama kelima sedang dalam proses pembangunan.

Menurut Profesor Wu Riqiang dari School of International Studies di Renmin University, Beijing, angkatan laut AS dan China semakin berdekatan di kawasan pulau-pulau yang disengketakan. Menurutnya, potensi bentrok di antara dua kubu bisa saja terjadi jika kapal selam beroperasi.

”Karena SSBNs (kapal selam rudal nuklir) China berada di Laut China Selatan, Angkatan Laut AS akan mencoba untuk mengirim kapal mata-mata di sana dan mendekat dengan SSBNs. Angkatan Laut China membenci itu dan akan mencoba untuk mendorong mereka pergi,” kata Wu.

Kemampuan dari Kapal selam Type 094 Kelas Jin, menurut beberapa analisis dapat menjangkau daratan AS jika terjadi perang antara kedua Negara. Perbandikan kekuatan militer Cina dan kekuatan militer Cina memang masih sangat jauh.
China membangun pangkalan militer dengan menimbun dan mereklamasi pulau-pulau karang yang banyak bertebaran di Laut China Selatan. Meski mendapat penolakan dan kecaman dari dunia internasional, China tak bergeming dan kini mulai memindahkan armada perangnya ke pulau buatan tersebut.
Namun, militer Cina tidak berhenti untuk meningkatkan kemampuan militernya, bahkan militer Cina telah berhasil menciptakan kapal selam berpeluru kendali agar dapat mencapai daratan AS dengan jangakauan 8000 km.

Seperti laporan yang telah dilansir oleh media pertahanan memperkirakan tiga kapal selam selam rudal balistik PLA Angkatan Laut tipe 094 kelas Jin dan dua Jenis 093 Shang-kelas yang saat ini ditempatkan di Sanya, Armada Laut Selatan PLA di provinsi selatan Pulau Hainan.Lokasi ini sangat strategis dan yang paling dekat untuk penyebaran ke Laut Cina Selatan.

Sebuah serangan rudal Cina bisa mencapai sejauh Australia jika diluncurkan dari perairan Laut Cina Selatan. Serangan serupa menargetkan pantai barat AS akan tetap sangat sulit, kata laporan itu. 

Untuk menyerang Los Angeles, kapal selam Jin-kelas harus menembakan rudal JL-2 dari dua pulau yang membentang dari Honshu ke Nugini. Namun, hal ini akan sangat mungkin jika kapal selam Jenis 094 memasuki wilayah ini akan mudah terdeteksi oleh pesawat patroli P-8A Angkatan Laut AS, kata laporan itu.

Kapal selam Type 094 Kelas Jin adalah salah satu kelas baru dari kapal selam peluru kendali balistik yang dibangunkan untuk Angkatan Laut Tentera Pembebasan Rakyat China. Untuk Kapal pertama jenis kapal selam ini telah bangun di Limbungan Huludao, Wilayah Liaoning dan diluncurkan pada bulan Juli 2004. Sekurang-kurang dua kapal selam kelas ini telah sah dioperasikan.
Kapal selam kelas JIN Angkatan Laut China, yang memiliki kemampuan nuklir di Laut China Selatan. (Foto: Istimewa)
Sebuah gambar yang diambil dari sebuah satelit pada akhir tahun 2006 menangkap gambar dari sebuah gambar kapal selam jenis jin yang sedang berlabuh di Pangkalan Kapal Selam Xiaopingdao. Kapal selam type 04 ini telah di upgrade dan lebih panjang dari Type 092 dari panjang 122 kepada.

Kapal selam jenis 094 kelas jin ini mampu membawa 12 buah Rudal kendali JL-2 dengan jarak kira-kira 8,000 km. Type 094 dinyakini oleh beberapa analisis Barat merupakan kombinasi dari teknologi-teknologi Rusia yang akan menggantikan.

Konflik Semakin Memanas
 
Pada awal 2009, sejumlah kapal nelayan Cina berupaya memotong kabel penghubung peralatan sonar yang ditarik kapal pemantau AS, USNS Impeccable, di lepas pantai Pulau Hainan. Kemudian, pada akhir 2009, kapal selam Cina menghantam peralatan sonar bawah laut yang ditarik kapal perang AS, USS John McCain, di Subic Bay, lepas pantai Filipina.

Baru-baru ini, Cina meluncurkan kapal fregat tipe 056A, Quijing, yang memiliki peralatan pemburu kapal selam asing. Kapal ini akan ditempatkan di Laut Cina Selatan.

Seperti era Perang Dingin, tatkala AS dan para sekutunya menciptakan jaringan peralatan di dasar laut, yang terbenam di seluruh Asia untuk mendengarkan pergerakan kapal selam Rusia, China kini siap mengoperasikan jaringan serupa di Laut Cina Selatan.
Kapal selam Los Angeles Angkatan Laut Amerika Serikat, yang memiliki kemampuan nuklir. Amerika Serikat selain menurunkan kapal induk dipermukaan, armada kapal selam AS kini juga sudah mulai dikerahkan ke zona konflik di Laut China Selatan. (Foto: Istimewa)

Rusia Gunakan Asap untuk Strategi Perang Kota Melawan Serangan NATO

Mengantisipasi serbuan militer aliansi NATO, angkatan perang Rusia mempelajari sebuah strategi perang kota terbaru. Militer Rusia ingin memanfaatkan asap sebagai benteng pertahanan kota. (Foto: rusofil-tuluza-rota.forumactif)
"Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri,"
MOSKOW -- Pergerakan aliansi militer NATO yang semakin mendekati pagar perbatasan Federasi Rusia, ditindaklanjuti negara itu dengan penguatan armada militer di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya membangkitkan Alat Sistem Senjata super canggih, Rusia juga mengembangkan berbagai macam strategi pertempuran dalam menghadapi musuh.

Salah satu strategi yang sedang dipelajari militer Rusia adalah memanfaatkan asap dalam strategi pertahanan perang kota. Strategi asap ini digunakan militer Rusia dalam operasi militer besar-besaran akan digelar oleh militer Rusia. Dalam latihan ini, skenario yang akan dijalankan adalah menguasai sebuah tempat di Rusia. Hasil dari latihan ini sungguh menakjubkan.

Pada latihan ini, Armada Utara Rusia berencana menyelimuti dan menyembunyikan sebuah kota yang dihuni oleh 50 ribu orang dengan asap tebal selama tiga hari. Tempat itu adalah Severomorsk di mana ia merupakan salah satu kota terbesar di wilayah Murmansk, Rusia Utara. Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian latihan perang untuk militer Rusia.

Pihak berwenang telah memperingatkan asap tersebut akan berbau tapi tidak akan berbahaya dan akan segera hilang. Sebuah pernyataan dari Kementerian Pertahanan mengatakan, 

"Warga diminta untuk tetap tenang. Campuran asap tidak berbahaya untuk manusia meskipun ia sedikit berbau”. Demikian sebagaimana dikutip Express, Kamis (11/8/16).
Asap menyelimuti kota Moskow. (Foto: Istimewa)
Juru bicara armada menyatakan bahwa dalam kurun tiga hari ke depan, peluncur asap bergerak dan stasioner akan menciptakan 'selimut asap' untuk menaungi kota, mengaburkan kota sekaligus markas armada yang terletak di sana. Media Rusia menyebutkan ini adalah pertama kalinya militer Rusia mencoba manuver semacam ini.

Angkatan Laut Rusia meminta orang-orang untuk tetap berada di kota tersebut sebagai bagian dari latihan dan orang-orang juga diminta untuk tetap tenang ketika asap menyebar. Karena itu, mereka harus memastikan seluruh jendela untuk tetap terkunci dan lebih waspada saat mengemudi karena jarak pandang terganggu.

Salah seorang penduduk, Mila Tsigareva, menanggapi rencana tersebut dengan biasa saja. "Biarkan mereka menyelimuti seluruh kota dengan asap. Itu semua untuk kebaikan kita sendiri," kata Mila seperti dikutip ABC.

Sementara Svetlana, penduduk lain, mengaku tak terganggu dengan latihan militer yang digelar di kotanya. "Mereka melakukan ini tiap tahun. Bagi saya ini sama saja," tuturnya.

Angkatan Laut berharap bahwa kabut palsu akan membuat pangkalan militer besar Severomorsk ini tidak terlihat oleh mata musuh. Mereka juga  mengklaim ini adalah pertama kalinya hal seperti ini digunakan.
Negara-negara yang tergabung dalam aliansi militer NATO saat mengadakan latihan militer bersama di sepanjang perbatasan Rusia. NATO beralasan latihan militer tersebut dilakukan karena merasa terancam dengan penguatan militer Rusia. (Foto: Sputniknews)

Inilah si 'Radar Terbang' MiG-31, Jet Tempur Supersonik Paling Ditakuti di Dunia

Hingga saat ini belum pernah ada satu kekuatan militer negara manapun yang mampu dan berani menerobos wilayah udara negara Federasi Rusia. Hal ini disebabkan langit Rusia dijaga oleh pesawat tempur MIG-31 dengan daya sergap dan kemampuan manuver di atas rata-rata pesawat tempur buatan negara lain. Kecanggihan pesawat tempur MIG-31 sampai saat ini masih menjadi misteri yang menambah kesan angker kekuatan militer Rusia. (Foto: istimewa)
“Pembaruan ini seharusnya dilakukan sejak 20 tahun lalu. Namun, itu tak terwujud, sehingga standarnya kini ditingkatkan. Hal itu termasuk peningkatan kecepatan menjadi Mach 4 – 4,3 (sekitar 4.248 kilometer per jam),”
MOSKOW -- Indonesia merupakan salah satu dari lima negara terbesar di dunia. Dengan wilayah yang sangat luas tersebut hingga kini Indonesia belum juga bisa menjaga kedaulatannya secara maksimal. Setidaknya hingga kini wilayah udara Indonesia masih sering menjadi langganan diterobos pesawat asing baik pesawat sipil maupun militer. 

Selain memiliki radar militer yang sangat minim, armada pesawat tempur Indonesia juga berada dalam kondisi darurat. Indonesia saat ini hanya memiliki satu Skuadron pesawat tempur campuran Sukhoi SU-27 dan Sukhoi SU-30 yang memiliki kemampuan yang dapat mencegat target dan menghancurkan sasaran dalam berbagai kecepatan. 

Dengan hanya memiliki satu skuadron pesawat tempur jenis fighter dan buru sergap, menjadi suatu hal mustahil TNI Angkatan Udara mampu menjaga seluruh wilayah kedaulatan Indonesia dengan baik.

Indonesia harusnya berkaca pada negara Federasi Rusia, yang merupakan negara terbesar di dunia, namun mampu menjaga kedaulatan wilayahnya dengan baik. Walaupun memiliki wilayah yang sangat luas, tidak ada satupun negara yang berani menerobos wilayah udara Rusia, bahkan negara adidaya Amerika Serikat sekalipun.
Para teknisi dan ilmuwan Rusia terus berupaya meningkatkan kecanggihan pesawat tempur MIG-31, seiring semakin pesatnya perkembangan teknologi pesawat militer. (Foto: istimewa)
Faktor yang membuat Rusia disegani dan ditakuti adalah armada pesawat tempurnya yang begitu canggih. Rusia memiliki sejumlah pesawat tempur yang mampu menjaga negara itu dari ujung timur hingga ujung paling barat perbatasan negara tersebut dengan baik.

Perbatasan udara Rusia dijaga oleh MiG-31, pesawat canggih yang dapat mencegat target apa pun dalam berbagai kecepatan, mulai dari rudal jelajah tersembunyi hingga satelit, baik siang maupun malam, dalam cuaca hujan atau pun cerah. Para ahli militer mengatakan sistem pesawat ini unik dan tidak akan ada pesawat yang sebanding dengan karakteristik MiG-31 Rusia dalam 10 – 15 tahun ke depan.


Pesawat ini mampu mencegat dan menghancurkan segala sasaran, mulai dari satelit terbang rendah hingga rudal jelajah. Sekelompok pesawat pencegat MiG-31 dapat menguasai sebagian besar ruang udara dengan mengarahkan pesawat tempur kepada sasaran serta misil antipesawat berbasis darat.

MiG-31 dijuluki “radar terbang” oleh para pilot karena kemampuan avionikanya yang unik. Pesawat ini memiliki sistem kendali “barrier” di pangkalannya dan dilengkapi dengan antena dengan susunan berfase pertama (PPA) di dunia. PPA berbeda dari radar klasik karena bisa menggerakkan sorotan di antena tetap, menghasilkan sejumlah sinar yang diperlukan, serta melacak berbagai sasaran sekaligus.

MIG-31 Tanpa Tanding Akan Lahirkan Generasi Baru

Prestasi gemilang yang dibuat MIG-31 adalah, hingga kini tidak ada satupun negara yang mampu menerobos wilayah udara Rusia sekalipun hanya sekadar mendekatinya. Hal ini tentu saja karena 'keangkeran' pesawat tempur MIG-31 yang membuat militer negara manapun berpikir seratus kali untuk coba-coba berbuat macam dengan Rusia.

Pesawat tempur MIG-41 yang masih dalam tahap pengembangan dan uji coba. (Foto: Istimewa)
Untuk mempertahankan kehebatan pesawat tempur MIG-31 tersebut, pada akhir Desember 2015, Direktur Jenderal MiG Sergey Korotkov menyampaikan pada para wartawan bahwa sebuah pesawat baru yang akan menggantikan pesawat pencegat legendaris MiG-31 akan dibuat berdasarkan prinsip rekayasa modern pesawat militer dan material modern.

Saat ini, desain fisik pesawat tengah dikembangkan. Pengembangan proyek ini dimulai pada awal 2014. Di saat yang sama, Anggota Komite Pertahanan dan Wakil Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) Aleksander Tarnaev mengumumkan penandatangan dokumen untuk melakukan riset proyek MiG-41.

Menurut Kepala Komando AU Rusia Viktor Bondarev, pesawat pencegat baru ini akan siap pada 2020. Pilot uji coba Anatoly Kvochur yakin bahwa pesawat ini akan mewarisi semua keunggulan pendahulunya, MiG-31, tapi akan lebih cepat, mampu mencapai Mach 4+. 


“Pembaruan ini seharusnya dilakukan sejak 20 tahun lalu. Namun, itu tak terwujud, sehingga standarnya kini ditingkatkan. Hal itu termasuk peningkatan kecepatan menjadi Mach 4 – 4,3 (sekitar 4.248 kilometer per jam),” kata sang pilot dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti.

Pengerjaan pesawat pencegat supersonik MiG-41 melibatkan proyek nomor 301 dan 321 yang dimulai sejak 1990-an. Pesawat ini bersaing dengan proyek Biro Desain Sukhoi, yang telah mengambil inisiatif untuk menciptakan pesawat pencegat terjangkau yang mampu beroperasi dengan kecepatan 2.500 – 2.700 kilometer per jam, sehingga baik pihak industri maupun pihak militer harus menyepakati kelangsungan pengembangan kedua proyek.

Perkembangan pesawat tempur generasi MIG  buatan Uni Soviet/Rusia dari masa ke masa