Namun,
angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima.
Beberapa narasumber militer menyampaikan bahwa sejak dimulainya kampanye
di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah
didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri
pertahanan Rusia, terutama pesawat.
“Di
satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer
kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain,
lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur
seorang narasumber militer Rusia.
Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keuntungan yang didapat Rusia dari membantu sekutunya Suriah:
Kontrak dengan Aljazair
Pada
Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut
Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di
Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah
berlangsung selama delapan tahun.
Kesuksesan
performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam
negosiasi. Menurut narasumber Rusia, militer Aljazair harus merogoh
kocek setidaknya 500 sampai dengan 600 juta dolar AS untuk membeli
skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian
setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai.
 |
| Seorang tentara Rusia berpose dengan dilatarbelakangi sebuah MBT-T90, di pangkalan militer Latakia, Suriah. (Foto: istimewa) |
Kontrak
penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850-900 juta dolar
AS.
Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40
helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap
dikirim. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600-700
juta dolar AS.
Mendapat Pembeli Dari Asia Tenggara
Di
Asia Tenggara Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian negara
terkuat dan terbesar di wilayah tersebut yaitu Indonesia. Selain itu,
Vietnam dan Pakistan juga menyatakan akan mengikuti langkah Indonesia
membeli armada perang Rusia tersebut.
Ketiga
negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan
mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus
Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang
didiskusikan.
Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian
tersebut, yang berencana membeli hingga lima Skuadron pesawat tempur
Sukhoi SU35.
Sementara
untuk Pakistan, situasinya lebih rumit, selain buruknya situasi
ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik
berkaitan dengan India. Narasumber Rusia menyebutkan, bahkan dalam
skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam
pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai
500 juta dolar AS.
Pengerahan Armada Militer Untuk Iklan Senjata
Selain
membantu sekutunya, Rusia secara tidak langsung juga menjadikan
pengerahan armada perangnya ke Suriah sebagai sebuah iklan alat-alat
tempur buatan terbaru dan tercanggih mereka di pentas dunia. Hal ini
dibuktikan dengan membanjirnya pesanan bahkan dari kawasan Timur Tengah
sendiri.
Buktinya
militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator.
Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok
46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017.
Diperkirakan
demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu
proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.
 |
| Sebuah helikopter Ka-52 Alligator dan helikopter Mi-28NE saat dalam operasi penumpasan ISIS di Suriah. (Foto: istimewa) |