Jalur Militer: Dunia

AS Ingkar Janji, Iran Bangkitkan Kembali Fasilitas Nuklir Rahasia

Keputusan sepihak Amerika Serikat yang keluar dari perjanjian nuklir Iran, dibalas oleh Teheran dengan mengaktifkan kembali sejumlah fasilitas nuklir rahasia negara itu.
TEHERAN -- Iran kembali melanjutkan pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanahnya, Fordow, dengan target pengayaan 5 persen. Dikutip dari RT.com, kepala nuklir Iran Ali Akbar Salehi mengumumkan pada Selasa bahwa Iran akan mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas bawah tanah, dan mengatakan bahwa fasilitas itu memiliki kapasitas untuk memperkaya hingga 20 persen jika diperlukan.

Media pemerintah Iran melaporkan hari Rabu bahwa 2,800 kg silinder yang memuat 2.000 kg prekursor pengayaan uranium hexafluoride telah dipasang di Fordow. Di bawah kesepakatan 2015, Iran berkomitmen untuk mengurangi kemurnian uranium yang diperkaya menjadi 3 persen dan pengayaan dilarang di fasilitas Fordow.

"Setelah semua persiapan yang berhasil, injeksi gas uranium ke sentrifugal dimulai pada hari Kamis di Fordow, semua proses telah diawasi oleh inspektur pengawas nuklir AS," kata Badan Energi Atom Iran (AEOI) pada Kamis, seperti dikutip dari Reuters, 7 November 2019.

Perjanjian nuklir Iran 2015 melarang pengayaan dan bahan nuklir dari Fordow. Tetapi dengan bahan baku gas memasuki sentrifugalnya, fasilitas yang dibangun di dalam gunung, akan berpindah dari status yang diizinkan dari fasilitas penelitian menjadi situs nuklir aktif.

Di bawah pakta tersebut, Iran setuju untuk mengubah Fordow menjadi pusat nuklir, fisika dan teknologi, di mana 1.044 sentrifugal digunakan untuk tujuan selain pengayaan, seperti memproduksi isotop stabil, yang memiliki berbagai kegunaan sipil.

Iran secara bertahap mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir, di mana perjanjian tersebut mengekang program nuklirnya dengan imbalan penghapusan sebagian besar sanksi internasional, setelah Amerika Serikat mengingkari perjanjian tahun lalu.

"Prosesnya akan membutuhkan beberapa jam untuk stabil dan pada hari Sabtu, ketika inspektur Badan Energi Atom Internasional akan kembali mengunjungi situs tersebut, tingkat pengayaan uranium 4,5% akan tercapai," kata juru bicara AEOI Behrouz Kamalvandi kepada TV pemerintah.

"Semua sentrifugal yang dipasang di Fordow adalah tipe IR1. Gas uranium (UF6) disuntikkan ke empat rantai sentrifugal IR1 (696 sentrifugal). Dua rantai tersisa lainnya dari sentrifugal IR1 (348 sentrifugal) akan digunakan untuk memproduksi dan memperkaya isotop stabil di fasilitas tersebut," kata Kamalvandi.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan Teheran tidak memiliki alasan yang dapat dipercaya untuk memperluas program pengayaan uraniumnya dan Washington akan melanjutkan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Iran sampai ia mengubah perilakunya.


Iran Balas Pengkhianatan AS

Iran dan Rusia, pada Minggu 10 November 2019, meresmikan tahap konstruksi baru untuk reaktor kedua di satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr. Reaktor tersebut adalah satu dari dua yang secara resmi sedang dibangun sejak 2017 di lokasi Bushehr yang berjarak sekitar 750 km selatan Teheran.

Ali Akbar Salehi, kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), dan Wakil Kepala Badan Nnuklir Rusia (Rosatom), Alexander Lokshin, meluncurkan tahap baru pada upacara pembangunan awal di mana beton dituangkan ke pangkalan reaktor, demikian seperti dikutip dari the Japan Times, Senin (11/11/2019).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada sebuah demonstrasi Tea Party melawan kesepakatan nuklir internasional dengan Iran di luar gedung Capitol A.S. Rabu 9 September 2015. (Foto: Andrew Caballero-Reynolds / AFP / Getty)
"Dalam visi jangka panjang hingga 2027-2028, ketika proyek-proyek ini selesai, kami akan memiliki 3.000 megawatt listrik yang dihasilkan oleh pembangkit nuklir," kata Salehi pada upacara tersebut.

Iran tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak dan gas melalui pengembangan fasilitas tenaga nuklir. Rusia membangun reaktor 1.000 megawatt yang ada di Bushehr yang mulai beroperasi pada September 2011 dan diperkirakan akan melakukan pembangunan sepertiga lanjutannya di masa depan, menurut AEOI. Sebagai bagian dari perjanjian 2015, Moskow menyediakan bahan bakar yang dibutuhkan Teheran untuk reaktor nuklir penghasil listriknya.

Kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau 'Iran nuclear deal' 2015 yang ditandatangani oleh Iran dengan enam kekuatan utama dunia, termasuk Rusia, menempatkan pembatasan pada jenis reaktor nuklir yang dapat dikembangkan Teheran dan produksibahan bakar nuklirnya. Tetapi, perjanjian itu tidak mengharuskan Iran untuk menghentikan penggunaan energi nuklirnya untuk pembangkit listrik.

Menurut pakta itu, Iran dituntut untuk mengurangi stok uranium hingga 98 persen dan berhenti menjalankan program pengembangan senjata nuklir untuk tujuan militer. Kepatuhan Iran akan ditukar dengan pencabutan sanksi dari para negara penandatangan.

kelangsungan hidup kesepakatan JCPOA 2015 telah terancam sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada 8 Mei 2018, memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang menekan Negeri Paramullah.

Menanggapi pengkhianatan dan penjatuhan sanksi yang kembali dilakukan oleh AS terhadap Iran, Teheran kembali mengaktifkan secara bertahap seluruh fasilitas nuklir rahasianya yang sebelumnya sempat ditutup demi menghormati pakta perjanjian nuklir tersebut sejak Mei 2019.


Menanggapi kebijakan tekanan maksimum Washington, Iran telah melewati batasan kesepakatan selangkah demi selangkah, termasuk melanggar batasan pada uranium yang diperkaya yang ditimbun dan pada tingkat pengayaan fisil.

Iran pada hari Senin mengatakan sedang mengembangkan sentrifugal canggih yang dapat memperkaya uranium lebih cepat. Langkah Iran ini akan semakin memperumit peluang menyelamatkan perjanjian.

Rintangan terbesar untuk membangun senjata nuklir adalah mendapatkan bahan fisil yang cukup, yakni uranium atau plutonium yang sangat diperkaya, untuk inti bom. Tujuan utama kesepakatan nuklir 2015 adalah untuk memperpanjang waktu yang diperlukan Iran untuk membangun senjata nuklir, dari 2 hingga 3 bulan menjadi satu tahun.

Kisruh seputar pakta itu selama setahun terakhir telah menjadi salah satu faktor penyulut eskalasi tensi hubungan antara Iran - AS dan Iran dengan negara Barat lainnya, serta menuai kekhawatiran akan konflik diplomatik hingga geo-politik.

Situs reaktor nuklir Iran di wilayah Fordow saat dilihat dari satelit militer Amerika Serikat. Situs nuklir ini memiliki sistem keamanan yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin untuk dihancurkan. (Foto: Istimewa)
Berbicara pada konferensi pers di akhir kunjungan ke Cina, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut langkah terbaru Iran sebagai kabar buruk, dan ia akan berbicara dengan Trump dan Iran dalam beberapa hari mendatang.

Sejarah Panjang Pengembangan Nuklir Iran

Pada awal 1957, AS meluncurkan program nuklir dengan Iran. Saat itu, Iran yang dipimpin oleh Shah, memang memiliki hubungan baik dengan AS. Iran pun mengembangkan program nuklirnya pada 1970-an atas dukungan AS.

AS mulai berhenti mendukung program nuklir Iran ketika Shah digulingkan pada Revolusi Islam tahun 1979. Setelah Revolusi Islam, Iran semakin mengembangkan tenaga nuklir yang mereka klaim untuk dijadikan sebagai tenaga pembangkit listrik.

Namun badan rahasia AS, CIA, menilai bahwa negara tersebut belum perlu mengganti tenaga listriknya dengan nuklir. Negara-negara Barat pun curiga pengembangan nuklir di Iran bertujuan untuk membuat bom atom.

Pada tahun 2003, Badan Energi Atom Internasional, IAEA, menyatakan bahwa mereka menemukan pabrik uranium berkadar tinggi di Natanz, Iran. Produksi uranium Iran sempat dihentikan, namun pada tahun 2006 Iran kembali memproduksi setelah mengadakan perjanjian dengan IAEA.


Pada akhir tahun 2006 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan sanksi terhadap Iran karena tidak juga menghentikan program nuklirnya. Sanksi kemudian meluas menjadi larangan jual beli senjata, larangan berkunjung, larangan jual beli minyak dan larangan bertransaksi dengan bank di Iran selama tujuh tahun.

Sanksi tersebut melumpuhkan perekonomian Iran karena harga minyak turun dan mata uang Iran turun 80%. Tahun 2012 Iran bahkan mengalami inflasi. Tapi seakan tidak jera setelah diselidiki oleh AS, Iran malah menambah produksi uraniumnya menjadi 19 ribu sentrifugal yang awalnya hanya berjumlah 3.000 sentrifugal pada tahun 2007.

Pemerintah AS percaya bahwa sanksi yang diberikan cukup membuat Iran jera. Presiden Iran Hassan Rouhani juga dinilai lebih terbuka dari presiden sebelumnya sehingga lebih mudah diajak bernegoisasi.

Sebuah kelompok anti-nuklir di AS mengatakan bahwa jika Iran tidak dicegah, Iran dapat memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu sebulan. Namun menurut Mark Hibbs, seorang ahli kebijakan nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, jika Iran terus dicegah, Iran baru bisa memproduksi bom nuklir dalam jangka waktu satu hingga tiga tahun.

Negara barat menuntut agar Iran mengurangi 20% kadar uranium yang sedang diproduksi. Selain itu Iran juga harus mengurangi stok uranium, berhenti membangun fasilitas pengayaan uranium baru dan menghentikan reaktor di Arak, yang dapat menghasilkan plutonium bahan alternatif untuk bom nuklir.

Iran meminta negara Barat mengurangi sanksi dan memperbolehkan Iran memproduksi uranium berkadar rendah sesuai perjanjian Non-Proliferasi (pembatasan kepemilikan senjata nuklir) yang telah ditandatangani Iran pada 1 Juli 1968.

Iran Mampu Buat Senjata Nuklir dalam Hitungan Bulan 


Israel merupakan negara yang paling "getol" menentang pengembangan nuklir Iran. Musuh bebuyutan Teheran itu merasa terancam jika Iran berhasil membuat senjata nuklir di kawasan bergejolak tersebut.
Sejumlah situs reaktor nuklir Iran, yang disebar di sejumlah wilayah negara itu. (Gambar: Istimewa)

Israel Klaim Berhasil Ciptakan Rudal Balistik Penakluk Timur Tengah

Israel melakukan uji coba penembakan rudal pencegat anti-balistik Arrow-2. Selain terus mengupgrade berbagai rudal balistik yang dimilikinya, Israel mengklaim telah berhasil menciptakan rudal balistik yang dianggap terkuat di Timur Tengah. (Foto: wired.com)
TEL AVIV -- Setelah Rusia memperkuat militer Suriah dengan sistem pertahanan udara S-300, Israel seperti kebakaran jenggot dan berusaha mencari berbagai macam cara untuk melumpuhkan kecanggihan rudal S-300 Suriah tersebut.

Israel bertekad akan mengembangkan senjata yang mampu menembus perisai S-300 yang melindungi langit Suriah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel telah mengembangkan rudal ofensif yang bisa menghantam target di negara mana saja di seluruh wilayah Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Netanyahu saat pidato tentang kemajuan negaranya dalam teknologi militer dan kedirgantaraan pada hari Senin di Israel Aerospace Industries (IAI). Pemimpin Zionis tersebut sesumbar, bahwa negaranya adalah satu-satunya yang mengembangkan rudal seperti itu.

"Perusahaan ini secara aktif mengembangkan rudal ofensif, serta persenjataan dengan kemampuan khusus yang tidak dimiliki negara lain," kata Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel, Selasa (18/12/2018).

Selain itu, kata Netanyahu, Israel juga berusaha memperluas pijakannya di ruang angkasa dengan meluncurkan satelit mikro. "Ruang angkasa adalah lingkup besar yang negara Israel masuk," katanya.

Pernyataan PM Israel ini muncul di saat situasi di kawasan Timur Tengah masih tegang. Selama setahun terakhir, Israel telah berulang kali menyerang Suriah, dengan dalih menghilangkan kehadiran milisi pro-Iran dan pasukan Iran di negara tersebut.

Israel tidak menampik bahwa pengembangan rudal tersebut memang ditujukan untuk melawan Suriah dan sekutunya Iran. "Rudal-rudal itu bisa mencapai di mana saja di kawasan ini dan target apa pun. Ini adalah kekuatan ofensif Israel yang sangat penting bagi kami di semua sektor," ujar Netanyahu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memeriksa rudal canggih di Israel Aerospace Industries, Senin (17/12/2018). (Foto: / Twitter @IsraeliPM)
Sebelum Rusia memperkuat militer Suriah, rezim pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad memang kerepotan menghadapi gempuran Israel. Walau Suriah telah berulang kali mengecam serangan tersebut, yang dianggap sebagai agresi terbuka terhadap sebuah negara yang berdaulat, Israel tetap melenggang bebas karena didukung oleh Amerika Serikat.

Harus diakui, dengan bantuan AS dan sejumlah negara Barat lainnya, perkembangan teknologi rudal Israel menjadi yang terdepan di Timur Tengah. Sejumlah rudal balistik canggih melindungi wilayah zionis tersebut dari serangan musuh.

Untuk melindungi wilayah udaranya, Israel dilengkapi perisai misil anti-roket yang disebut Iron Dome. Israel sempat sesumbar bahwa Iron Dome adalah sistem pertahanan udara terkuat di dunia. Namun, seiring berkembangnya teknologi rudal yang dimiliki Pasukan Hamas dan Hizbullah, Iron Dome akhirnya perlahan-lahan kebobolan juga.

Dalam sejumlah serangan yang dilakukan Hamas, sistem Iron Dome tidak mampu melumpuhkan hujan roket yang dilancarkan para pejuang Palestina, saat menyerang basis-basis pertahanan Israel.

Saat ini, Israel bekerja sama dengan Amerika Serikat, mengembangkan misil pertahanan balistik terbaru yang dinamakan Arrow-3. Israel mengklaim, Arrow-3 mampu mencegat dan menghancurkan secara simultan lebih dari lima rudal balistik dalam 30 detik. 

Dikutip dari laman www.armyrecognition.com, Arrow-3 merupakan rudal anti balistik pencegat exoatmospheric yang menghancurkan target di luar atmosfir bumi. Rudal Arrow-3 dapat diluncurkan di satu tempat tanpa menunggu kepastian lokasi rudal balistik yang menjadi target untuk dihancurkan.

Sistem rudal Arrow-3 menghancurkan berbagai ancaman termasuk rudal yang membawa hulu ledak nuklir tanpa menimbulkan bahaya di bumi. Arrow-3 juga terkadang digunakan untuk mencegat satelit. Israel bahkan mengklaim rasio keberhasilan Arrow 3 dalam menjalankan tugasnya sekitar 99 persen.

Tentara Israel berjalan di dekat sistem pertahanan udara Irone Dome, sistem rudal permukaan-ke-udara (SAM), MIM-104 Patriot, dan rudal anti-balistik Arrow-3, saat melakukan latihan bersama, Juniper Cobra di Hatzor Pangkalan Angkatan Udara Israel di pusat Israel, 25 Februari 2016. (Foto: GETTY / Gil Cohen-Magen via al-monitor.com)

Hadapi Militer China dan Rusia, Jepang Bangun Kapal Induk Baru

Kapal Perang Perusak DDH183 Izumo class, Angkatan Bersenjata Maritim Jepang, terlihat selama upacara peluncurannya di Yokohama. (Foto: Reuters)
TOKYO -- Bangkitnya kekuatan militer China dianggap sebagai ancaman terbesar bagi Jepang. Negeri para samurai tersebut berupaya terus meningkatkan kekuatan militernya untuk bisa mengimbangi dan bahkan melampaui China.

Selama lebih dari dua dekade berjalan, Jepang telah membeli dan memproduksi berbagai alutsista, diantaranya pesawat tempur, rudal dan bahkan kini Jepang berencana akan membangun kapal induk, untuk melawan kapal induk Lioning milik Angkatan Laut China.

Jepang membangun kapal induk terbaru yang rencananya digunakan sebagai pangkalan militer bergerak, dan menjadi landasan pacu berbagai pesawat tempur Jepang, diantaranya adalah jet tempur F-35B Lightning yang dibeli Jepang dari Amerika Serikat (AS).

Jepang telah menandatangi kesepakatan pembelian 42 jet tempur siluman dari AS. Nanti pesawat tempur berteknologi generasi kelima tersebut akan ditempatkan di kapal perang JS Izumo dan JS Kaga.

Kapal perang Izumo class dan Kaga class sering disebut-sebut oleh para analis militer sebagai kapal perang "semi kapal induk," karena ukurannya yang sangat besar dan secara desain serupa dengan kapal induk.

Namun, kapal perang Izumo class dan Kaga class masih terlalu kecil untuk bisa menampung puluhan jet tempur F-35B. Sebelumnya kapal tersebut hanya mengangkut helikopter antikapal selam, karena Jepang belum memiliki pesawat yang mampu terbang dan mendarat di kapal.

Untuk itu Jepang berencana akan mengupgrade kemampuan dan ukuran kapal perang canggih itu, hingga memiliki kemampuan yang serupa dengan kapal induk yang sebenarnya. Japan Times melaporkan, pemerintah Jepang telah sepakat mengaplikasikan pedoman pertahanan baru untuk anggaran fiskal tahun 2009.

Pedoman pertahanan baru Jepang akan memodifikasi kapal perusak Izumo menjadi kapal induk yang mampu mengangkut F-35B, varian F-35 yang bisa lepas landas secara vertikal. Kedua kapal tersebut kini telah ditarik kembali ke galangan kapal untuk direnovasi dan didesain ulang agar bisa menampung pesawat F-35B.

Jet tempur siluman F-35Bs saat mendarat di atas kapal perang USS America pada bulan November 2016. Jepang sekarang mempertimbangkan untuk menjadikan kapal perang Izumo class sebagai operator jet tempur F-35B selain sebagai landasan pacu helikopter antikapal selam. (Sumber foto: Lockheed Martin)
“Dengan perubahan drastis lingkungan keamanan di sekitar Jepang, pemerintah akan mengambil segala langkah untuk melindungi kehidupan dan aset rakyat Jepang. Kajian terhadap petunjuk pertahanan baru menunjukkan rakyat Jepang dan dunia membutuhkan pertahanan kita," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dilansir CNN.

Kapal perusak kelas Izumo adalah kapal perang terbesar Jepang yang dibangun setelah kekalahan di Perang Dunia II. Menurut laporan The Independent, 19 Desember 2018, Jepang telah mengucurkan US$ 1,2 miliar atau Rp 17,2 triliun (kurs Rp 14,380.01/Dolar AS) untuk membuat Izumo pada 2013.

Izumo adalah kapal perusak namun memiliki ukuran besar dengan dek landasan yang bisa beralih fungsi dari kapal perusak menjadi kapal induk. Dilansir dari The Royal Institute of Naval Architect, rina.org.uk, Izumo dibuat setelah kapal kelas Hyuga senilai US$ 1,1 miliar atau Rp 15,8 triliun pada 2004 dan 2006.

Konstruksi Izumo dimulai pada 2011 di IHI Marine United di Yokohama. Uji pelayaran pada 29 September 2019 hingga resmi ditugaskan untuk Angkatan Pertahanan Laut Jepang pada 25 Maret 2015. The Royal Institute of Naval Architect melaporkan total produksi kapal tersebut sekitar US$ 1,5 miliar atau Rp 21,5 triliun.

Kapal perusak kelas Izumo memiliki panjang 248 meter dengan lebar 50 meter, tinggi 33,5 meter dan kedalaman 7,5 meter. Bobot bersih sekitar 19.500 ton, sementara bobot kotor 27 ribu ton. Kapal ini mampu mengangkut 400-500 awak dengan lima level tingkat.

Dek kapal Izumo mampu mengoperasikan 5 helikopter secara bersamaan, sementara hanggarnya bisa menampung 14 helikopter. Secara keseluruhan jika dek parkir difungsikan, maka total bisa menampung 25 helikopter lebih. Izumo mampu melaju dengan kecepatan maksimum 30 knot dengan Combined gas turbine and gas turbine (COGAG).

Selain pengangkut helikopter, Izumo juga dilengkapi dengan rudal pertahanan Mk 41 VLS dan ESSM. Dilengkapi dengan sistem tempur ATECS dan radar OPS-50 AESA, radar OPS-28 yang mampu melacak obyek permukaan, radar navigasi OPS-20, sonar OQQ-23, NOLQ 3D-1 untuk perang elektronik, dan varian sistem komunikasi lain. Kapal juga dilangkapi dengan enam Mk 137 peluncur torpedo dan sistem anti-torpedo OLQ-1.

Kapal induk kelas wahid Jepang milik Pasukan Bela Diri Jepang Jepang (JMSDF), DDH-184 Kaga terlihat di sebelah wahana helikopter JMSDF, Izumo di Yokohama, Jepang, 22 Maret 2017. (Sumber foto: Kyodo / via REUTERS)
Dalam panduan peningkatan pertahanan Jepang, telah mencantumkan China, Korea Utara dan Rusia sebagai entitas ancaman terbesar bagi Jepang. Ketiga negara tersebut dianggap memiliki kekuatan militer yang terus berkembang dan harus diwaspadai dan dipantau ketat setiap saat.

Sebagai catatan, sejak kebangkitan ekonomi China, negara komunis itu secara masif dan agresif terus meningkatkan kekuatan militernya. China meningkatkan jumlah personel Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), membangun berbagai jet tempur, memproduksi kapal induk dan mendirikan pangkalan militer di sejumlah negara di kawasan Asia dan Afrika.

Perilaku militer China yang dianggap tidak lumrah itu tentu saja dikhawatirkan Jepang. Ditambah lagi negara tersebut juga masih berkonflik dengan Rusia dalam memperebutkan gugusan kepulauan Kuril yang disengketakan kedua negara.

Menanggapi rencana Jepang tersebut, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan, Jepang sedang “bernyanyi dengan nada lawas” dan membuat “pernyataan tak berarti” tentang aktivitas pertahanan China yang normal saja.

“Apa yang dilakukan Jepang saat ini adalah meningkatkan dan mengembangkan hubungan China-Jepang dalam kerangka stabilitas dan perdamaian. China mengekspresikan ketidakpuasan dan perlawanan terhadap itu (peningkatan anggaran pertahanan),” ujar Hua.

Rusia pun menyatakan pernyataan senada dengan China. Moskow juga menyatakan akan membangun barak militer baru bagi tentaranya di kepulauan Kuril yang dikuasai dari Jepang pada akhir Perang Dunia II.

Terkait semakin memanasnya situasi militer di kawasan Asia, Analis keamanan Asia di Universitas Freie di Berlin, Corey Wallace mengatakan, Beijing terpaksa akan memberikan perhatian penuh terhadap peningkatan kemampuan kapal induk Jepang. “Itu akan membuat proyeksi militer China semakin ke arah konflik teritorial di Kepulauan Ryukyu, Jepang,” kata Wallace.

Tapi Wallace memperingatkan bahwa, walau sudah diupgrade, kapal induk Jepang tetap berukuran relatif kecil jika dibandingkan kapal induk AS kelas Nimitz 90.000 ton dan kapal induk China dan Liaoning dengan 58.000 ton.

Jepang meluncurkan kapal kedua dan terakhir sebagai wahana helikopter antikapal selam, kelas Izumo yang baru, di galangan kapal Jepang Marine United di Yokohama. Ini merupakan kapal perang terbesar yang dibangun Jepang sejak Perang Dunia II. (Sumber foto: Japan Marine United via sputniknews.com)

Menhan Malaysia Kagum dengan Industri Pertahanan Indonesia

Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu. (Sumber foto: kemhan.go.id)
KUALA LUMPUR -- Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu menyatakan ingin mencontoh industri pertahanan Indonesia yang telah sukses membuat dan memproduksi berbagai peralatan tempur seperti kapal perang, pesawat, tank, senapan serbu, amunisi dan berbagai alutsista lainnya.

Dilansir dari laman berita Astroawani.com, Sabu menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan kerja sama Sidang General Border Commitee (GBC) Malindo ke-41 di Pullman Hotel, Legian Bali, Kamis, 15 November 2018.

Mohammad Sabu mengaku sangat kagum dengan Indonesia yang telah mampu memproduksi berbagai alutsista asli buatan dalam negeri.

Sabu berpendapat, melihat masifnya perkembangan industri pertahanan Indonesia, seharusnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tidak perlu lagi harus mengimpor senjata dari negara-negara Barat.

“Bukan kita mau berperang, tetapi daripada kita beli di negara luar, lebih baik dibeli dari kalangan negara ASEAN. Kalau ada pertukaran uang pun, cuma di kalangan negara ASEAN,” katanya.

Mohammad Sabu bahkan mengusulkan agar negara-negara ASEAN membangun industri pertahanan bersama, sehingga mampu membuat berbagai alutsista tanpa harus bergantung pada buatan Barat. 


“Kita tidak mau negara menjadi pengimport terus-menerus, kalau bisa, kita buat sendiri kapal-kapal patroli, kapal perang, dan sebagainya," tegas Mohamad Sabu.

Selain bicara soal industri pertahanan Indonesia, Menhan Malaysia itu juga bicara seputar kerja sama militer negeri jiran tersebut dengan militer Indonesia. 


Sejumlah kerja sama baru telah disepakati, diantaranya menambah pos pengawasan dan pos patroli Laut di perairan Laut Sulu, Filipina, yang berbatasan dengan kedua negara.
Panser Anoa, merupakan salah satu alutsista buatan Indonesia yang telah dibeli oleh militer Malaysia. (Foto: Istimewa)

Rudal S-300 Suriah Ubah Peta Kekuatan di Timur Tengah

Kebijakan pemerintah Rusia dengan menempatkan rudal sistem pertahanan udara S-300 di Suriah, membuat perimbangan kekuatan di Timur Tengah menjadi berubah. Militer Israel dan Amerika Serikat yang dulu sangat mendominasi di kawasan tersebut, kini mulai tertekan dengan kehadiran rudal pertahanan udara canggih tersebut. (Foto: debka.com)
TEL AVIV -- Media-media massa Israel menanggapi serius pengiriman sistem antirudal S-300 oleh Rusia ke Suriah. Stasiun televisi Israel Chanel 9, menyebut Angkatan Udara Israel akan menghadapi mimpi buruk. The Jerusalem Post mengatakan, keberadaan sistem rudal canggih S-300 akan benar-benar mendongkrak kapabilitas militer Suriah.

Sementara media Haaretz dalam headline-nya, menulis "Kehadiran S-300 di Suriah Membuat Israel Berpikir Dua Kali di Aksi Berikutnya". Haaretz menambahkan, saat ini jadi masa paling sulit bagi Tel Aviv menyikapi perkembangan ini. 


Sedangkan surat kabar Ynetnews menyebut kedatangan rudal S-300 di Suriah adalah kabar buruk bagi Israel.

Sebab, rudal balistik itu akan membatasi manuver armada udara Israel yang selama ini begitu leluasa menerbangi wilayah Lebanon dan Suriah. 


Bukan hanya Israel, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu yang menjadi musuh utama Damaskus juga mencemaskan pengiriman rudal S-300 ke Suriah.

Kebijakan Moskow mengirim misil S-300 ke Suriah dipicu akibat ditembak jatuhnya pesawat pengintai Il-20 Rusia di atas langit Suriah. Peristiwa nahas tersebut menewaskan 15 tentara Rusia.

Menurut Rusia, pesawat itu secara keliru ditembak jatuh oleh rudal S-200 Suriah, yang sebetulnya diarahkan ke jet tempur Israel F-16 yang tengah menyerang negara tersebut. 


Namun, salah satu pilot F-16 berhasil menghindari tembakan itu dan mengalihkannya ke pesawat Rusia yang memiliki permukaan pantulan lebih besar. Tak terelakkan, pesawat Rusia menjadi sasaran empuk rudal S-200 dan meledak di udara.

Menanggapi hal ini, Moskow langsung mengambil langkah khusus demi mencegah terulangnya tragedi serupa. Karena itu, Moskow hendak melengkapi pertahanan udara Suriah dengan sistem yang dua kali lebih baik.

Selain mengirimkan sistem antirudal S-300, Menhan Rusia Sergei Shoigu menegaskan, Rusia akan menetapkan larang terbang di wilayah Latakia hingga lepas pantainya. Zona larangan terbang ini akan memangkas pergerakan Israel dan pesawat asing lainnya.


Lalu, sebenarnya secanggih apa misil pertahanan udara S-300 buatan Rusia tersebut, hingga mampu membuat Israel dan sekutunya seperti "terkencing-kencing" ketakutan?

Kecanggihan Rudal S-300 Buatan Rusia

S-300 (pelaporan nama NATO: SA-10 Grumble) adalah serangkaian sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara yang dikembangkan pada tahun 1970-an, dan menjadi tulang punggung pertahanan udara Rusia pada era Uni Soviet.

Kemampuan rudal sistem pertahanan udara S-300 dalam membentengi wilayah Iran dari serangan musuh. Sebelum Suriah, Iran telah lebih dulu membeli dan menginstal rudal S-300 di sejumlah titik strategis negara tersebut. (Infografis: graphicnews)
Misil canggih ini mengambil DNA dari rudal S-75 yang merupakan misil SAM pertama yang dimiliki Uni Soviet. S-75 adalah rudal legendaris, yang telah menembak jatuh pesawat mata-mata U-2 Amerika Serikat di atas ruang udara Uni Soviet pada tahun 1960, dan mempermalukan pemerintahan Presiden AS, Eisenhower.

Rudal yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan pertahanan Rusia, NPO Almaz-Antey tersebut, mempunyai jarak tembak 150 km dengan kecepatan 4 Mach. 


Dalam upgrade versi terbaru, daya jangkau S-300 ditingkatkan hingga mencapai 300 kilometer, dan memiliki alat pelacak jet dan roket. Rudal pintar ini juga mampu menyergap benda yang terbang rendah maupun tinggi (25M- 25KM).

Awalnya misil S-300 dikembangkan sebagai benteng pertahanan Angkatan Udara Uni Soviet dari serangan rudal jelajah dan rudal balistik Amerika Serikat dan sekutu. Kemampuan S-300 semakin berkembang dan kini mampu mendeteksi, menyergap dan menghancurkan Pesawat tempur, Helikopter, Drone, Roket Balistik, serta Peluru Kendali antar-benua (ICBM).


Walau masuk kategori alutsista keluaran lama, S-300 masih dianggap sebagai sistem pertahanan udara terkuat di dunia, sebelum keluarnya misil pertahanan udara generasi terbaru buatan Rusia lainnya seperti misil S-400 dan S-500. Sejumlah analis militer menyatakan S-300 Rusia setara dengan rudal Patriot AS, bahkan dalam beberapa spesifikasi, S-300 lebih unggul dari Patriot AS.
 
Sistem pertahanan S-300 dapat melacak hingga 12 target serangan, dimana enam baterai rudal lainnya bisa menyasar objek yang terpisah dan berbeda secara bersamaan. 


Misil S-300 adalah sistem pertahanan mobile yang dirancang untuk memukul mundur dan menghancurkan serangan udara besar-besaran, dimana tingkat akurasi yang diciptakan S-300 mampu menghancurkan 80 hingga 95 persen formasi pesawat tempur musuh.

Hingga kini, tidak ada satupun jet tempur di dunia yang bisa menandingi kecepatan misil S-300, yang mampu mencapai kecepatan di atas 7200 km / jam dan mampu mencapai ketinggian maksimum 98.000 kaki.


Bahkan pada pengembangan versi terbaru, misil S-300 mampu menembak jet tempur yang berusaha bersembunyi dari jangkauan radar dengan terbang rendah 20 kaki di atas permukaan laut.

Pengiriman misil S-300 ke Suriah akan mendongkrak kekuatan militer Damaskus secara signifikan. Sebab selama ini untuk mempertahankan ruang udara wilayahnya, Suriah hanya mengandalkan misil permukaan-ke-udara jangka panjang SA-5 atau biasa juga disebut S-200 buatan Uni Soviet yang diproduksi pada akhir 1960-an.

Rudal S-200 Suriah yang sudah tua hampir benar-benar tak berdaya melawan kecanggihan jet-jet tempur generasi terbaru, drone maupun rudal balistik Israel dan AS. Sistem pertahanan udara terbaru yang mereka miliki hanya rudal jarak pendek Pantsir S-1.

Rudal pertahanan udara S-300 mampu membentengi seluruh wilayah udara Suriah dari serangan Israel dan Amerika Serikat. (Infografis: RT.com)
Namun dengan memiliki S-300, Suriah mampu mendeteksi jet tempur Israel, 107 detik saat tinggal landas dari pangkalan udara Tel Aviv. Artinya Suriah mampu mengunci pergerakan jet tempur Israel bahkan hingga di dalam basis pertahanan terdalam sekalipun.

Misil S-300 yang dimiliki Suriah menjadi momen penting, sebab ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Timur Tengah, bangsa Arab akan memiliki kemampuan untuk menembak jatuh pesawat tempur Israel di atas wilayah negara zionis tersebut.

Robert Hewson, editor IHS Jane, menggambarkan sistem S-300 sebagai alat yang tangguh dan dihormati oleh para perencana militer Barat. "Jika rencana Anda adalah melenggang ke wilayah udara Suriah dan memulai pengeboman, ini adalah kesalahan terbesar," kata Hewson.

Sebagai contoh, S-300 dapat mengeliminasi jet-jet tempur taktis dan pengebom canggih yang dilengkapi teknologi siluman. S-300 dapat menangkis rudal jelajah Tomahawk (salah satu senjata utama kapal perusak AS) dan rudal balistik dengan jangkauan hingga 2.500 km, serta rudal jarak pendek yang diluncurkan dari negara-negara tetangga Suriah.

Tak hanya itu, S-300 dapat beroperasi bahkan ketika sistemnya dikacaukan oleh perangkat peperangan elektronik lainnya. Selain sulit dilumpuhkan S-300 juga sangat sulit dideteksi pergerakannya.

S-300 akan semakin mematikan jika digunakan bersama-sama dengan artileri anti-pesawat (AAA) dan pesawat tempur. Cara kerjanya rudal S-300 mendorong pesawat musuh ke dalam "perangkap buta" di mana baterai AAA dan pesawat tempur menunggu mereka.

Salah satu yang paling ditakuti oleh AS dan sekutunya mengenai sistem pertahanan S-300 adalah, mampu menjiplak navigasi satelit, radar onboard dan sistem komunikasi pesawat tempur musuh yang berusaha menyerang sasaran.

Tidak cukup sampai disitu, perangkat S-300 juga mampu mengcopy dan menyalin semua data, sistem dan kecanggihan pesawat tempur musuh yang sudah masuk dalam jangkauan perangkap radarnya.

Saat ini Rusia sudah mengembangkan hingga tiga varian rudal S-300, dan beberapa sub varian lainnya yang memiliki kecanggihannya masing-masing. Diantara varian tersebut adalah: basis darat S-300P (SA-10), basis laut S-300F (SA-N-6), basis laut S-300FM (SA-N-20), S-300V (SA-12), S-300PMU-1/2 (SA-20), S-400 (SA-21) dan S-300VM (SA-X-23).

Versi S-300P diletakkan di atas truk mirip peluncur rudal balistik, S-300F untuk di kapal perang, dan terakhir S-300V yang dibopong kendaraan beralaskan track, mirip 9K37 Buk (SA-11 'Gadfly'). Yang terakhir ini juga dikenal dengan nama Antey-300.

Saat Iran menekan perjanjian kerja sama pembelian rudal S-300 dari Rusia, Israel sebenarnya sudah langsung melakukan penelitian untuk mencari cara melumpuhkan sistem pertahanan udara canggih tersebut.

Reuters melaporkan, Israel dengan dibantu AS, pada tahun 2015 pernah berlatih melawan sistem rudal S-300 yang dipasok oleh Rusia di Yunani. Yunani adalah satu-satunya negara anggota NATO yang membeli rudal S-300 buatan Rusia. Tapi hingga kini upaya itu belum juga berhasil.

Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)

Israel dan AS Ketar-Ketir Hadapi Rudal S-300 Suriah

Israel dan sekutunya, Amerika Serikat mengecam keras kebijakan Rusia dengan mengirim sistem pertahanan udara rudal S-300 ke Suriah. (Sumber foto: AP)
DAMASKUS -- Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, rezim Suriah telah menempatkan empat sistem pertahanan rudal anti-pesawat S-300 Rusia di belahan utara negara itu. Hal ini diketahui dari rilis rekaman yang diambil oleh satelit Israel yang menunjukkan salah satu peluncur sudah dipasok oleh Rusia ke Suriah.

Menurut Haaretz, salah satu sistem pertahanan udara S-300 dikerahkan di daerah Musyaf, sebelah utara kota Homs. Kawasan itu memiliki jaringan industri senjata Suriah di mana Iran dan Suriah telah berusaha memproduksi senjata presisi untuk Hizbullah. Israel telah menyerang wilayah itu beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Sedangkang Izvestia, pada hari Jumat (19/10/2018), melaporkan, Rusia telah memasok militer Suriah dengan sistem pertahanan rudal S-300PM-2, versi lain dari S-300 yang lebih canggih. Pengiriman senjata pertahanan itu untuk melawan serangan Israel.

Misil S-300PM-2 yang dipasok ke militer Damaskus memiliki sistem radar dan komunikasi yang lebih canggih. Senjata pertahanan itu telah digunakan oleh tentara Rusia sejak 2010.

Laporan yang mengutip pejabat di Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, tiga baterai dari sistem S-300PM-2 telah ditransfer ke Suriah. Sistem baru ini merupakan pasokan tambahan dari baterai S-300 yang dikirim Moskow awal bulan ini. Secara bertahap, Rusia akan mengirimkan hingga delapan bateral misil S-300 ke Suriah.

"Pos komando pasukan Suriah dan unit pertahanan udara militer akan dilengkapi dengan sistem kontrol otomatis, yang telah disediakan hanya untuk Angkatan Bersenjata Rusia. Ini akan memastikan manajemen terpusat dari semua kekuatan pertahanan udara Suriah, fasilitas, pemantauan situasi di wilayah udara dan penetapan target yang cepat," kata Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu.


"Yang paling penting, S-300 akan memastikan identifikasi semua pesawat Rusia oleh pasukan pertahanan udara Suriah," tegas Shoigu, menjelaskan cara kerja misil S-300 di Suriah.
Uji coba penembakan misil sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. (Sumber foto: Reuters)
Israel dan Amerika Serikat "Ketar-Ketir" Hadapi Misil S-300 Suriah

Israel dan Amerika Serikat (AS) mengecam keras pengiriman rudal S-300 ke Suriah. Bahkan Israel dan AS sudah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan masuknya rudal canggih tersebut ke wilayah Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Yaalon mengatakan, pengiriman misil S-300 ke Suriah merupakan suatu hal yang tidak dapat diterima. Israel memperingatkan Rusia bahwa kebijakan Moskow untuk mengirim misil S-300 ke Suriah dapat membahayakan kawasan Timur Tengah.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga sudah berulang kali melakukan komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, agar membatalkan pengiriman S-300 ke Suriah. 


Bahkan pada tanggal 9 Oktober, Netanyahu berbicara langsung dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Maxim Akimov di Yerusalem, agar Moskow menghentikan pengiriman S-300 tersebut.

Israel membujuk Rusia dan beralasan tidak akan lagi menjadikan jet-jet tempur Rusia di Suriah sebagai target sasaran mereka. Israel berkilah, operasi militer yang mereka lakukan selama ini di Suriah hanya menyasar pabrik dan gudang-gudang persenjataan Iran yang sering digunakan oleh milisi Hizbullah.

Selain berusaha melobi Rusia, Pemerintah Israel, berusaha mempengaruhi Dewan Keamanan PBB agar mengambil sikap terkait tindakan Rusia tersebut. PM Netanyahu sempat mengadakan pertemuan dengan DK PBB untuk membahas perkembangan. Bersama sekutunya Presiden AS, Donald Trump, dia mendesak masalah ini diangkat di Majelis Umum PBB.

Sedangkan Menteri Energi Israel Yuval Steinitz mengatakan, Kabinet Keamanan Israel mengakui penempatan S-300 di Suriah adalah masalah yang problematik bagi militer Israel. "Dan itu bisa juga untuk Amerika. Ini adalah sistem yang tentu menyulitkan kami dan membutuhkan solusi untuk ditemukan," kata Steinitz dikutip dari Army Radio.

Seirama dengan Israel, AS pun mengutuk Rusia yang mengirim rudal S-300 ke Suriah. Jenderal Joseph Votel, Komandan pasukan AS di Timur Tengah mengatakan, pengerahan S-300 itu hanya akan memicu eskalasi dan respons spontan yang tidak perlu, dan menuding senjata anti-pesawat itu hanya untuk melindungi kejahatan rezim Iran dan Suriah.

Presiden Suriah Bashar al-Assad saat bertemu dengan sekutu kuatnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Sumber foto: ndtv.com)

Iran Klaim Berhasil Produksi Jet Tempur Generasi Keempat

Iran melakukan uji terbang jet tempur Kowsar buatan dalam negeri yang diklaim merupakan pesawat tempur generasi keempat pada 21 Agustus 2018. (Foto: Tasnimnews.com)
"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran mengklaim telah berhasil memproduksi jet tempur canggih buatan dalam negeri, jet tempur tersebut kini memasuki proses produksi skala besar untuk memperkuat militer negara itu.

Iran bahkan sempat memamerkan salah satu prototipe jet tempur yang dinamai Kowsar tersebut pada Agustus lalu.

"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara," kata Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dalam peresmian pembuatan jet tempur tersebut, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (3/11).

Dalam gambar yang ditunjukkan televisi Iran, pada 21 Agustus lalu, Presiden Hassan Rouhani terlihat duduk di kokpit Kowsar, yang diklaim merupakan jet tempur generasi keempat, pada ajang Industri Pertahanan Nasional.

Cuplikan tes terbang Kowsar juga sudah diedarkan oleh berbagai media resmi, walaupun tayangan langsung harus terputus sebelum jet lepas landas. Iran mengatakan Kowsar "100 persen buatan dalam negeri".

Media Iran melaporkan bahwa jet baru tersebut dilengkapi dengan sistem avionik terkini dan radar multiguna. Pesawat itu diklaim Teheran sanggup membawa berbagai jenis senjata dan akan digunakan untuk mendukung misi jangka pendek angkatan udara.

Pemerintah Iran menyatakan akan memproduksi secara besar-besaran jet tempur Kowsar secepatnya, guna mengantisipasi meningkatnya konflik antara negeri paramullah tersebut dengan Amerika Serikat, sejak era kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Namun, sejumlah pengamat dan analis militer meyakini bahwa Kowsar adalah jiplakan dari jet tempur F-5 buatan Amerika Serikat yang hanya dimodifikasi. AS memproduksi F-5 sekitar 1960-an.

Iran memproduksi secara massal jet tempur Kowsar yang diklaim 100 persen buatan dalam negeri, di Perusahaan Industri Manufaktur Pesawat Iran di Provinsi Isfahan pada 3 November 2018. (Foto: defanews.ir)

Tak Mampu Kalahkan Pejuang Taliban, AS Terjebak di Afghanistan

Seorang tentara yang terluka dari Resimen Artileri Lapangan 1-320, Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat AS, dibantu melewati kendaraan lapis baja M-ATV yang terbakar akibat terkena ranjau bom Improvised Explosive Device (IED) yang dipasang oleh para pejuang Taliban di jalan dekat Combat Outpost Nolen di Lembah Arghandab, Afghanistan, 23 Juli 2010. (Foto: REUTERS / Bob Strong via boston.com)
"Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang. Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan AS,"
WASHINGTON DC -- Setelah melewati perang sangat panjang dengan biaya perang yang begitu besar, Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui tetap tidak bisa mengalahkan para pejuang Taliban di Afghanistan. 

Sejumlah analis AS bahkan menyatakan aksi "koboy" Amerika yang berusaha menginvasi Afghanistan selama 17 tahun lebih, kini sudah pupus.

Pejabat militer Amerika menyebut kelompok Taliban di Afghanistan belum sepenuhnya kalah. Amerika terpaksa melunakkan sikapnya dengan mengajak para milisi Taliban untuk duduk di meja perundingan, suatu sikap sangat mahal yang pernah ditunjukkan AS, setelah berulang kali mengalami kekalahan di negara itu.

"Mereka belum kalah sekarang, saya pikir itu adil untuk dikatakan. Kami bertemu jalan buntu pada tahun lalu, dan kami relatif mengajak berbicara, hal itu tidak banyak berubah," kata Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford, saat berdiskusi di forum keamanan di Halifax, Kanada, dilansir  dari CNN.com, Senin (19/11).

Dunford menyatakan sementara ini tidak akan pernah ada jalan keluar dengan jalan militer untuk membawa perdamaian ke Afghanistan. Ia menyebut AS dan NATO akan bekerja untuk meningkatkan tekanan politik, dan ekonomi untuk meyakinkan kelompok Taliban.

"Tanpa menyebutkan rinciannya di sini, kami yakin Taliban tahu bahwa pada titik tertentu mereka harus melakukan rekonsiliasi. Kunci keberhasilan ini adalah menggabungkan seluruh tekanan itu untuk memberikan waktu yang insentif kepada Taliban untuk bernegosiasi," tegas Dunford.

Kemenangan Amerika di Afghanistan Telah Lenyap

Pengamat politik di RAND Corporation dan perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Laurel Miller mengatakan, ambisi Amerika memenangkan perang di Afghanistan kini sudah pupus. Alih-alih menjadikan Afghanistan semakin kuat dan makmur, seperti propaganda militer yang selalu digaungkan, Amerika malah membuat masa depan Afghanistan semakin kacau menjadi tak menentu.

Tentara Nasional Afghanistan (ANA) berjaga di samping helikopter Chinook milik ISAF (AS) yang jatuh di distrik timur Kabul pada 26 Juli 2010, akibat ditembak jatuh oleh para pejuang Taliban, setelah terjadinya pertempuran sengit di sepanjang perimeter kamp pasukan koalisi di provinsi Kabul. (Foto: SHAH MARAI / AFP / Getty Images).
Pengamat ini menilai, setelah menghabiskan dana perang lebih dari USD 100 miliar dan ribuan nyawa melayang, setelah dua pekan paling berdarah di Kabul, Amerika kini tampaknya memilih status quo.

Miller menyebut strategi AS kini adalah mencegah kalahnya "pemerintahan boneka" Afghanistan dan mencegah kemenangan Taliban selama mungkin. 

"Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang. Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan AS," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Frances Z Brown, seorang pakar Afghanistan dari Carnegie Endowment for International Peace. Dilansir dari laman the New York Times, Kamis (1/2), Brown mengatakan, ada dua skenario yang kemungkinan akan terpaksa diambil oleh AS untuk menutupi kekalahannya dalam menaklukkan negara miskin tersebut.

Skenario pertama, koalisi Amerika akan mengabaikan upaya untuk membentuk negara terpusat dan memberikan kesempatan kepada rakyat Afghanistan untuk membangun negara mereka sendiri dari bawah.

Itu artinya pemerintah pusat hanya sebagai perantara di antara para pemimpin lokal dan pemimpin perang. Idealnya, seiring berjalannya waktu, Afghanistan akan menjalankan ekonominya kemudian merangkul demokrasi dan akhirnya mencapai perdamaian dan stabilitas.

Skenario ini menuntut toleransi bagi kehadiran Taliban di kawasan terpencil dan kondisi bisa memicu kemelut krisis lebih pelik. "Tapi dari kasus yang sudah-sudah ini semua butuh waktu bergenerasi," ujar Brown.

Seorang prajurit Angkatan Darat Afghanistan menembakkan granat berpeluncur roket ke arah milisi Taliban saat terjadi pertempuran di Combat Outpost Nolen, Lembah Arghandab di utara Kandahar 22 Juli 2010. Amerika dan sekutu dengan dibantu para tentara pemerintahan Afghanistan yang didukung Barat, bahu-membahu berusaha mengalahkan para pejuang Taliban. (Foto: REUTERS / Bob Strong via Boston.com)
Yang berikutnya adalah skenario ala Somalia. Yaitu Pemerintah Afghanistan akan melepaskan kota-kota besar dan beralih menjadi sistem federal, seperti yang dilakukan Somalia pada 2012. Kekuasaan bisa diraih oleh para tokoh masyarakat dan para pemimpin perang, termasuk Taliban yang bisa bangkit dari kawasan pedalaman.

Model Somalia ini bisa 'membantu' terjadinya perpecahan. Warga lokal bisa berupaya sendiri untuk berdamai dengan Taliban dan di beberapa daerah terpencil hal inilah yang sedang terjadi.

Bangkit Kembali Kekuatan Para Pejuang Taliban

Amerika Serikat sempat sesumbar bahwa misi mereka dalam menaklukkan para milisi Taliban yang digelari "teroris" telah sukses besar. Bahkan negara adidaya itu sempat mengejek Rusia yang terpaksa angkat kaki dari Afghanistan, saat Uni Soviet berusaha menginvasi negara itu. Tapi seperti Sebuah karma, hinaan itu justru berbalik dan kini Amerika seakan jadi pecundang di Afghanistan.

Sebuah penelitian yang dirilis BBC mengungkapkan, kelompok militan Taliban telah bergerak secara aktif di hampir 70 persen tanah Afghanistan. 


Penelitian itu menunjukkan, jumlah distrik yang dikuasai Taliban semakin meningkat sejak invasi AS dan sekutunya di negara tersebut dianggap berakhir pada 2014 lalu.

"Sekitar 15 juta warga Afghanistan tinggal di daerah yang dikontrol oleh gerakan radikal tersebut atau di distrik yang sering menjadi target serangan Taliban," ungkap penelitian BBC, dikutip dari Sputniknews.com, Rabu (31/1).

Taliban telah menguasai setidaknya 14 distrik di negara tersebut dan menunjukkan 'tanda-tanda' keberadaannya di 263 daerah lainnya.

Sersan Staf Brenden Patterson dari Skuadron Penyelamatan ke-58, Las Vegas, melakukan pemindaian untuk mencari basis-basis pertahanan para pejuang Taliban dengan menggunakan helikopter Pavehawk CASEVAC, di pegunungan tandus yang terletak di provinsi Kandahar, Afghanistan selatan pada Rabu 28 Juli 2010. Terlihat dilatar belakang para penembak jitu dan seorang tentara menggunakan senjata artileri berat. (Foto: Brennan Linsley / Boston.com)