Jalur Militer: ASIA

Tak Mampu Kalahkan Pejuang Taliban, AS Terjebak di Afghanistan

Seorang tentara yang terluka dari Resimen Artileri Lapangan 1-320, Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat AS, dibantu melewati kendaraan lapis baja M-ATV yang terbakar akibat terkena ranjau bom Improvised Explosive Device (IED) yang dipasang oleh para pejuang Taliban di jalan dekat Combat Outpost Nolen di Lembah Arghandab, Afghanistan, 23 Juli 2010. (Foto: REUTERS / Bob Strong via boston.com)
"Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang. Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan AS,"
WASHINGTON DC -- Setelah melewati perang sangat panjang dengan biaya perang yang begitu besar, Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui tetap tidak bisa mengalahkan para pejuang Taliban di Afghanistan. 

Sejumlah analis AS bahkan menyatakan aksi "koboy" Amerika yang berusaha menginvasi Afghanistan selama 17 tahun lebih, kini sudah pupus.

Pejabat militer Amerika menyebut kelompok Taliban di Afghanistan belum sepenuhnya kalah. Amerika terpaksa melunakkan sikapnya dengan mengajak para milisi Taliban untuk duduk di meja perundingan, suatu sikap sangat mahal yang pernah ditunjukkan AS, setelah berulang kali mengalami kekalahan di negara itu.

"Mereka belum kalah sekarang, saya pikir itu adil untuk dikatakan. Kami bertemu jalan buntu pada tahun lalu, dan kami relatif mengajak berbicara, hal itu tidak banyak berubah," kata Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford, saat berdiskusi di forum keamanan di Halifax, Kanada, dilansir  dari CNN.com, Senin (19/11).

Dunford menyatakan sementara ini tidak akan pernah ada jalan keluar dengan jalan militer untuk membawa perdamaian ke Afghanistan. Ia menyebut AS dan NATO akan bekerja untuk meningkatkan tekanan politik, dan ekonomi untuk meyakinkan kelompok Taliban.

"Tanpa menyebutkan rinciannya di sini, kami yakin Taliban tahu bahwa pada titik tertentu mereka harus melakukan rekonsiliasi. Kunci keberhasilan ini adalah menggabungkan seluruh tekanan itu untuk memberikan waktu yang insentif kepada Taliban untuk bernegosiasi," tegas Dunford.

Kemenangan Amerika di Afghanistan Telah Lenyap

Pengamat politik di RAND Corporation dan perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Laurel Miller mengatakan, ambisi Amerika memenangkan perang di Afghanistan kini sudah pupus. Alih-alih menjadikan Afghanistan semakin kuat dan makmur, seperti propaganda militer yang selalu digaungkan, Amerika malah membuat masa depan Afghanistan semakin kacau menjadi tak menentu.

Tentara Nasional Afghanistan (ANA) berjaga di samping helikopter Chinook milik ISAF (AS) yang jatuh di distrik timur Kabul pada 26 Juli 2010, akibat ditembak jatuh oleh para pejuang Taliban, setelah terjadinya pertempuran sengit di sepanjang perimeter kamp pasukan koalisi di provinsi Kabul. (Foto: SHAH MARAI / AFP / Getty Images).
Pengamat ini menilai, setelah menghabiskan dana perang lebih dari USD 100 miliar dan ribuan nyawa melayang, setelah dua pekan paling berdarah di Kabul, Amerika kini tampaknya memilih status quo.

Miller menyebut strategi AS kini adalah mencegah kalahnya "pemerintahan boneka" Afghanistan dan mencegah kemenangan Taliban selama mungkin. 

"Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang. Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan AS," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Frances Z Brown, seorang pakar Afghanistan dari Carnegie Endowment for International Peace. Dilansir dari laman the New York Times, Kamis (1/2), Brown mengatakan, ada dua skenario yang kemungkinan akan terpaksa diambil oleh AS untuk menutupi kekalahannya dalam menaklukkan negara miskin tersebut.

Skenario pertama, koalisi Amerika akan mengabaikan upaya untuk membentuk negara terpusat dan memberikan kesempatan kepada rakyat Afghanistan untuk membangun negara mereka sendiri dari bawah.

Itu artinya pemerintah pusat hanya sebagai perantara di antara para pemimpin lokal dan pemimpin perang. Idealnya, seiring berjalannya waktu, Afghanistan akan menjalankan ekonominya kemudian merangkul demokrasi dan akhirnya mencapai perdamaian dan stabilitas.

Skenario ini menuntut toleransi bagi kehadiran Taliban di kawasan terpencil dan kondisi bisa memicu kemelut krisis lebih pelik. "Tapi dari kasus yang sudah-sudah ini semua butuh waktu bergenerasi," ujar Brown.

Seorang prajurit Angkatan Darat Afghanistan menembakkan granat berpeluncur roket ke arah milisi Taliban saat terjadi pertempuran di Combat Outpost Nolen, Lembah Arghandab di utara Kandahar 22 Juli 2010. Amerika dan sekutu dengan dibantu para tentara pemerintahan Afghanistan yang didukung Barat, bahu-membahu berusaha mengalahkan para pejuang Taliban. (Foto: REUTERS / Bob Strong via Boston.com)
Yang berikutnya adalah skenario ala Somalia. Yaitu Pemerintah Afghanistan akan melepaskan kota-kota besar dan beralih menjadi sistem federal, seperti yang dilakukan Somalia pada 2012. Kekuasaan bisa diraih oleh para tokoh masyarakat dan para pemimpin perang, termasuk Taliban yang bisa bangkit dari kawasan pedalaman.

Model Somalia ini bisa 'membantu' terjadinya perpecahan. Warga lokal bisa berupaya sendiri untuk berdamai dengan Taliban dan di beberapa daerah terpencil hal inilah yang sedang terjadi.

Bangkit Kembali Kekuatan Para Pejuang Taliban

Amerika Serikat sempat sesumbar bahwa misi mereka dalam menaklukkan para milisi Taliban yang digelari "teroris" telah sukses besar. Bahkan negara adidaya itu sempat mengejek Rusia yang terpaksa angkat kaki dari Afghanistan, saat Uni Soviet berusaha menginvasi negara itu. Tapi seperti Sebuah karma, hinaan itu justru berbalik dan kini Amerika seakan jadi pecundang di Afghanistan.

Sebuah penelitian yang dirilis BBC mengungkapkan, kelompok militan Taliban telah bergerak secara aktif di hampir 70 persen tanah Afghanistan. 


Penelitian itu menunjukkan, jumlah distrik yang dikuasai Taliban semakin meningkat sejak invasi AS dan sekutunya di negara tersebut dianggap berakhir pada 2014 lalu.

"Sekitar 15 juta warga Afghanistan tinggal di daerah yang dikontrol oleh gerakan radikal tersebut atau di distrik yang sering menjadi target serangan Taliban," ungkap penelitian BBC, dikutip dari Sputniknews.com, Rabu (31/1).

Taliban telah menguasai setidaknya 14 distrik di negara tersebut dan menunjukkan 'tanda-tanda' keberadaannya di 263 daerah lainnya.

Sersan Staf Brenden Patterson dari Skuadron Penyelamatan ke-58, Las Vegas, melakukan pemindaian untuk mencari basis-basis pertahanan para pejuang Taliban dengan menggunakan helikopter Pavehawk CASEVAC, di pegunungan tandus yang terletak di provinsi Kandahar, Afghanistan selatan pada Rabu 28 Juli 2010. Terlihat dilatar belakang para penembak jitu dan seorang tentara menggunakan senjata artileri berat. (Foto: Brennan Linsley / Boston.com)

Myanmar Kerahkan Militer untuk Habisi Etnis Rohingya

Tentara Myanmar menyisir desa-desa di wilayah Rakhine untuk mencari para warga etnis muslim Rohingya.  Pemerintah Myanmar secara sistematis dan terencana terbukti melakukan genosida terhadap etnis Rohingya di negara tersebut. (Foto: AFP / Getty Images)
RAKHINE -- Kelompok advokasi Fortify Rights melaporkan, militer Myanmar secara sistematis merencanakan kampanye genosida untuk menyingkirkan Muslim Rohingya. Laporan tersebut didasarkan dari kesaksian dari 254 orang yang selamat, pejabat dan pekerja selama periode 21 bulan.

Organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2013 oleh Matthew F. Smith, seorang aktivis hak asasi manusia tersebut menjelaskan, dimulai pada bulan Oktober 2016, pejabat militer Myanmar secara sistematis menghancurkan semua benda dan alat-alat yang bisa dijadikan senjata untuk membeli diri oleh muslim Rohingya.

Militer juga menghancurkan pagar di sekitar rumah-rumah Rohingya agar serangan lebih mudah dilakukan.

Militer Myanmar juga melatih etnis Rakhine yang beragama Budha dan menjadikannya sebagai pasukan milisi. Warga Budha yang sudah dilatih itu bertugas untuk memburu dan menghabisi umat muslim Rohingya yang masih bersembunyi di pelosok-pelosok desa. 


Tidak hanya itu, Myanmar juga mematikan dan menutup akses keran bantuan internasional untuk komunitas Rohingya yang miskin

Myanmar juga mengirim pasukan militer dalam jumlah besar ke Rakhine utara. Setidaknya 27 batalion Angkatan Darat Myanmar berjumlah 11.000 tentara, tiga batalion polisi tempur dengan 900 personil, berpartisipasi dalam pertumpahan darah yang dimulai pada akhir Agustus dan berlanjut selama berminggu-minggu sesudahnya.

Laporan 162 halaman itu mengatakan bahwa eksodusnya sekitar 700.000 Muslim Rohingya ke Bangladesh tahun lalu dipicu oleh serangan brutal militan Budha yang dibekingi oleh pasukan militer Myanmar.

Dipersenjatai dengan pedang, etnis Rakhine yang dikomandoi oleh para biksu Budha radikal melakukan pembantaian massal, pemerkosaan dan pembakaran desa-desa muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Militer Myanmar menjadi pengarah langsung dalam aksi kejam dan brutal tersebut.

Tentara Myanmar membakar rumah-rumah warga Rohingya di berbagai pelosok desa di wilayah negara bagian Rakhine. (Foto: Istimewa)
Sekitar 22 pejabat militer dan polisi yang diantaranya Panglima Tertinggi Jenderal Min Aung Hlaing, Wakil Senior Jenderal Soe Win dan kepala staf umum Jenderal Mya Tun Oo, bertanggung jawab langsung atas kampanye pembersihan etnis tersebut.

Fortify Rights merekomendasikan agar Dewan Keamanan PBB menyeret mereka ke Pengadilan Pidana Internasional.

Untuk menutupi kekejamannya, Myanmar juga berusaha menutupi akses informasi dan media massa ke wilayah-wilayah konflik. Dua wartawan Reuters yang menyelidiki peristiwa itu ditangkap.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan polisi saat membawa peta dan dokumen yang berkaitan dengan kawasan itu, di Yangon. Militer Myanmar langsung mengajukan tuntutan terhadap wartawan di bawah Undang-undang Rahasia Resmi, yang menjatuhkan hukuman penjara maksimal 14 tahun.

Namun, hingga kini pemerintah Myanmar masih membantah telah melakukan genosida terhadap Rohingya. Bahkan beralasan bahwa laporan pembunuhan massal dan perkosaan adalah rekayasa yang diciptakan oleh ratusan ribu orang Rohingya yang sekarang tinggal di kamp pengungsi yang kumuh di Bangladesh.

Pemerintah militer dan sipil Myanmar secara konsisten berkilah tindakan kejam itu sebagai "operasi pembebasan" dari "teroris" Muslim.

Para perwira militer, termasuk Panglima Militer, Jenderal Senior, Min Aung Hlaing, berdalih militer bereaksi karena untuk membalas serangan mematikan oleh Arakan Rohingya Salvation Army pada bulan Oktober 2016 dan Agustus 2017.


"Tidak ada pembersihan genosida dan etnis di Myanmar. Ya, ada pelanggaran hak asasi manusia, dan pemerintah akan mengambil tindakan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia," kata U Zaw Htay, juru bicara pemerintah. 

Namun, PBB dan sejumlah lembaga kemanusiaan dunia menolak alasan Myanmar yang menjadikan milisi ARSA sebagai dalih untuk melakukan pembantaian muslim Rohingya.
Tentara dan polisi Myanmar membumi hanguskan desa-desa warga etnis Rohingya dan membantai setiap muslim Rohingya yang berhasil mereka temui. (Foto: Istimewa)

Kemunculan 'Wanita Besi' Dinasti Korea Utara Gemparkan Dunia

Kim Yo Jong Adik perempuan pemimpin Korea Utara, mengganti pulpen dari panitia yang akan digunakan oleh Kim Jong-Un, dalam pertemuan puncak antara Korea Utara dengan Amerika Serikat di Hotel Capella di pulau Sentosa di Singapura pada 12 Juni 2018. Wajah muda Kim Yo-jong yang manis dianggap akan mampu memainkan strategi kakaknya untuk mengubah citra pemerintahan Korea Utara. (Foto: Gettyimage)
PYONGYANG -- Media massa dunia sejenak dialihkan dari pemberitaan program nuklir Korea Utara. Hal ini disebabkan munculnya seorang wanita berparas cantik dan murah senyum di lingkaran terdekat Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un. Wanita tersebut bernama Kim Yo-Jong.
 
Kim Yo-jong adalah adik perempuan dari Pemimpin Korut Kim Jong-un. Ia anak terakhir dari mantan pemimpin Korut Kim Jong-il dan mempunyai ibu yang sama dengan Kim Jong-un. Kim Yo Jong membuat sejarah pada hari Jumat saat dia berjabat tangan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018.

Kedatangannya di Korsel sebagai anggota pertama dari keluarga penguasa Korut, merupakan pertanda bahwa saudara perempuan pemimpin tertinggi Kim Jong Un itu, menjadi wanita paling kuat di Korea Utara saat ini.


Si Cantik yang Misterius

Yo-Jong adalah sosok perempuan misterius. Untuk mengetahui siapa sebenarnya perempuan tidak dikenal ini, kita harus mundur beberapa waktu tepatnya saat mantan pemimpin Korut, Kim Jong-il, wafat pada 2011 lalu.

Kim Yo-jong diyakini sebagai anak termuda dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Il, dari ibu bernama Ko Yong Hui, seorang penari etnis Korea yang lahir di Jepang dan sewaktu kecil pindah ke Korea Utara, satu dekade setelah berakhirnya perang dengan Korea Selatan.

Ko Yong Hui diyakini telah bertemu dengan Kim Jong Il setelah dia pernah menikah dan memiliki seorang putra, Kim Jong Nam, dan satu anak perempuan, Kim Sol Song.


Setelah Ko Yong Hui melahirkan Kim Jong Chol dan pemimpin tertinggi masa depan Kim Jong Un, Kim Yo Jong menjadi tambahan terbaru untuk keluarga penguasa, yang saat itu masih dipimpin oleh pendiri Korea Utara Kim Il Sung, yang meninggal pada tahun 1994.
Silsilah dinasti Korea Utara.
Ketiga saudara kandung itu terbawa dalam isolasi relatif dari anggota keluarga lainnya, kemungkinan karena usaha Kim Jong Il untuk menjauhkan mereka dari ayahnya.

Yo-jong lahir pada tanggal 26 September 1987, dan saat ini diyakini berusia sekitar 30 tahun. Kim Yo-jong dan Kim Jong-un diyakini sangat dekat karena mereka menempuh pendidikan di sekolah swasta yang sama di Swiss pada akhir 1990an, dan karena mereka sudah dekat, mereka saling melindungi saat di sekolah.


"Dia tinggal di kedutaan bersama saudaranya dengan nama samaran. Mereka digambarkan sebagai anak-anak pekerja rumah tangga, pembantu dan tukang kebun," kata seorang ahli Korut yang mengelola blog dan kontributor untuk situs Johns Hopkins University’s Korean Studies, Michael Madden, seperti dikutip dari ABC News.go, Kamis (8/2/2017).

Pemain yang Bergerak Di belakang Layar

Tidak banyak yang diketahui tentang Kim Yo Jong setelah kembali belajar di Korea Utara. Namun, ibunya dilaporkan meninggal karena kanker payudara saat menjalani perawatan di Paris pada tahun 2004.

Yo-jong muncul pertama kali saat upacara pemakaman resmi mendiang ayahnya. Saat itu kehadiran Yo-jong menarik perhatian sejumlah pengamat. Sosok gadis muda terlihat aktif dan berdiri dekat dengan pewaris Jong-il, Kim Jong-un, membuat pengamat tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.

Kim Yo-jong, yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kim Jong-un, tampaknya bergerak mendekati pusat kekuasaan setelah pamannya dieksekusi dan bibinya menghilang dari foto-foto resmi pada tahun 2013. 


Laporan berita televisi pada waktu itu menunjukkan Yo-jong muda masuk dalam lapisan pejabat senior.

Selama bertahun-tahun sejak pemakaman Kim Jong-il, para analis terus memperhatikan keberadaan perempuan misterius ini di televisi Korut. 


Televisi Korut adalah satu-satunya sumber penting yang menawarkan petunjuk informasi tentang apa yang terjadi di dalam negara tertutup itu.
Kim Yo Jong (kiri) adik pemimpin Korea utara yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur Propaganda dan Agitasi Departemen Partai Buruh Korea, membuka jalan untuk Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, sebelum mengadakan pertemuan di markas Partai Buruh di Pyongyang, Korea Utara, Selasa. (Foto: Korps Pers Pyongyang via upi.com)
Sesekali, ia muncul di belakang Kim Jong-un di sebuah stadion yang mengarah ke panggung saat acara-acara resmi kenegaraan, atau berjalan-jalan dengan bebasnya di dekat Kim Jong-un dan istrinya saat mereka berkeliling tempat monumental. 

Bahasa tubuhnya yang bebas sangat kontras dibandingkan dengan pejabat tua lain yang kokoh bak tentara dan sangat sopan di hadapan diktator muda Korut.

Memiliki Hak Istimewa

Sampai saat ini, Kim Yo Jong adalah satu-satunya saudara kandung Jon-un yang menikmati berita utama internasional. Konghan Oh, dari Brookings Institute, mengatakan bahwa adik perempuan Kim Jong-un tersebut memiliki hak istimewa. "Dia telah diberi banyak kesempatan untuk bepergian," kata Oh.


Yo-jong sendiri terakhir kali terlihat di luar negeri pada tahun 2011 ketika dia diduga menghadiri konser Eric Clapton dengan kakaknya, Jung-chul, di Singapura. Konfirmasi identitas resmi Kim Yong-jong akhirnya muncul pada tahun 2014. 

Ia menemani saudara laki-lakinya dalam memberikan suara untuk Majelis Rakyat Tertinggi. Penyiar berita untuk pertama kalinya menyebut Yo-jong sebagai "pejabat senior" Komite Sentral Partai Buruh.

Ia kemudian diangkat sebagai wakil direktur Departemen Propaganda dan Agitasi Partai Buruh. Tanggung jawab utamanya adalah untuk "mendewakan" dan mengumpulkan dukungan publik untuk pemimpin nasional.

Karirnya kemudian melesat dengan cepat dan menempatkannya dalam kursi kekuasaan di komite pusat Partai Buruh pada tahun 2016. Ia dipromosikan pada Oktober lalu menjadi Wakil Direktur Pertama Departemen Organisasi dan Kepemimpinan. 


Dia sekarang bertanggung jawab atas keamanan negara yang mengawasi pejabat senior di partai dan militer.
Wakil Presiden AS Mike Pence, pejabat senior Korea Utara Kim Yong Nam dan adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un Kim Yo Jong menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan, pada 9 Februari. Meskipun hanya satu kaki dari satu sama lain, Ada banyak spekulasi mengenai apakah Pence akan berbicara dengan pejabat Korea Utara. (Foto: Yonhap News Agency/Reuters)
Dalam sebuah birokrasi yang kaku dan tak kenal ampun seperti Korea Utara, sedikit tersisa kesempatan para ahli untuk berspekulasi tentang, bagaimana kemunculan Kim Yo Jong telah memberikan pengaruh terhadap kekuasaan Kim Jong Un, di tengah sistem kekuasaan yang sangat di dominasi kaum laki-laki dan pengaruh mendiang ayahnya.

Sejumlah elit tua Korut, beberapa di antaranya mungkin skeptis terhadap kemampuan pemimpin milenium untuk memerintah. 


Namun, Kim Jong Un menjawab kecurigaan ini dengan pembersihan, termasuk pamannya Jang Song Thaek, yang dieksekusi pada 2013. Jong-un kini telah mengganti wajah-wajah tua tersebut dengan yang lebih muda.

Dr. John Park, Direktur Bidang Studi Korea di Harvard School Kennedy School mengatakan kepada Newsweek, Kim Yo Jong telah menentang spekulasi awal "bahwa dia adalah orang yang bodoh atau tidak penting" dan malah terbukti menjadi bagian dari "generasi baru" pemimpin Kim Jong Un.


Sosok Harapan Perubahan

Kim Yo-jong akan menjadi anggota keluarga pertama dari penguasa Korut yang mengunjungi Korsel sejak berakhirnya perang Korea dengan perjanjian gencatan senjata pada 1953.

Ini adalah penampilan internasional pertamanya yang terkenal di panggung utama, meskipun secara teknis dia hanya anggota delegasi yang dipimpin oleh negarawan senior Korut  yang berusia lanjut, Kim Yong Nam yang berusia 90 tahun.

Untuk alasan keamanan, beberapa rincian jadwal perjalanan tiga hari Yo-jong di Korsel sangat dirahasikan. 


Setelah sampai di Bandara Internasional Incheon Selatan, menggunakan jet pribadi Kim Jong-un, Yo-jong langsung mengadakan pertemuan singkat dengan para pejabat Korsel, termasuk dengan Menteri Unifikasi Cho Myoung-gyon, sebelum dibawa dengan limusin hitam berkecepatan tinggi ke Pyeongchang untuk menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin.
Saudari Kim Jong-un dengan pengawalan ekstra ketat hadir sebagai delegasi Korea Utara, saat upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018, di Korea Selatan. (Foto: AP)

Inilah Kim Yo Jong, Sang 'Wanita Besi' Dinasti Korea Utara

Dinasti Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya salah satu wanita paling berkuasa dari negara itu, yakni Kim Yo Jong, yang merupakan adik dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un. Tetapi warga dunia masih menyangsikan apakah kemunculan wanita cantik ini mampu menghentikan kebengisan diktator Korea Utara. (Foto: Istimewa)
“Kim Yo-jong mungkin wajah Korea Utara yang paling ramah, namun masih merupakan lambang rezim yang mengerikan. Dan apa yang harus Anda lihat saat melihat senyum Kim Yo-jong? Untuk yang utama, senyumnya mewakili sebuah rezim yang sangat membutuhkan kelangsungan hidup,”
PYONGYANG -- Masyarakat dunia terutama media massa internasional dalam beberapa bulan terakhir menyorotkan perhatian lebih ke Korea Utara, yang selama ini dikenal sebagai negara diktator terkejam di dunia.

Hal ini dipicu dengan munculnya adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, bernama Kim Yo Jong. Berbeda dengan para petinggi Korut lainnya yang dikenal berwajah bengis dan kaku, Kim Yo Jong muncul justru dengan wajah yang penuh senyuman, keramahan dan kesantunan.

Adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un itu sudah menjadi pusat perhatian sejak tiba di Korea Selatan. Kunjungannya selama tiga hari menjadi bagian sejarah upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang pada Jumat 9 Februari 2018.

Sebagai utusan saudara laki-lakinya, dia ditugaskan menunjukkan sisi lembut rezim Korut, yang dikenal buruk karena dituduh melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia dan mengembangkan program senjata nuklir.

Strategi tersebut sejauh ini berhasil dilakukan rezim Korut di media Korsel. Kengerian yang diperlihatkan sang kakak, ayah, dan kakeknya sama sekali tidak terlihat dari sosok Kim Yo-jong di tengah sorotan media Korsel dan internasional.

"Dia terlihat bugar dan tampak gesit, dibandingkan dengan saudara laki-laki dan anggota keluarga lainnya," tulis Oh Young-jin, editor pelaksana Korea Times.

Kantor berita CNN menyatakan bahwa Kim Yo-jong "mencuri pertunjukan di Olimpiade Musim Dingin." Sementara BBC mengatakan Korut berada dalam melancarkan "serangan dengan menggunakan pesona Kim Yo-jong."

Kim Yo Jong saat bersama para petinggi militer Korea Utara. Besarnya kewenangan yang dimiliki Kim Yo Jong, membuat adik perempuan pemimpin Korut tersebut digelari 'wanita besi' dari Korea Utara. (Foto: Istimewa)
"Kunjungan Kim Yo-jong efektif di bidang hubungan masyarakat Korut, mengingat kakaknya dikenal sebagai diktator kejam yang menyuruh agen membunuh kakaknya sendiri dengan racun di siang hari di bandara internasional, dan juga membunuh pamannya dengan senjata anti-pesawat," kata Guardian, Minggu 11 Februari 2018.

Kengerian yang Ditutupi

Diplomasi senyuman yang dilakukan adik diktator Korut Kim Jong-un; Kim Yo-jong, tak hanya menyita perhatian media internasional, tapi juga pembelot. Di mata pembangkang, perempuan muda itu adalah simbol sebuah rezim mengerikan yang membungkusnya dengan senyuman ramah.


Seorang pembelot yang diidentifikasi sebagai John Choi mengatakan kepada Open Doors, sebuah badan pengawas penganiayaan terhadap umat Kristen, bahwa Kim Yo-jong tidak mencontohkan rezim baru Korea Utara yang lebih positif.

“Kim Yo-jong mungkin wajah Korea Utara yang paling ramah, namun masih merupakan lambang rezim yang mengerikan. Dan apa yang harus Anda lihat saat melihat senyum Kim Yo-jong? Untuk yang utama, senyumnya mewakili sebuah rezim yang sangat membutuhkan kelangsungan hidup,” katanya.

Pembelot yang sekarang tinggal di Inggris itu mengatakan bahwa bahkan warga sipil Korea Utara sendiri tidak tertipu oleh senyum Kim Yo-jong di depan kamera.

”Mereka lebih memperhatikan makan malam besok dan memberi makan anak-anak mereka. Mereka tahu bahwa negara mereka mungkin telah menegosiasikan dukungan ekstra, namun semua dukungan itu akan masuk ke kelas penguasa,” sambung John Choi, seperti dikutip dari Daily Star, Minggu (25/2/2018).

Terkait hal ini, sebagian warga Korea Selatan juga masih skeptis terhadap keluarga Kim.

"Saya mendukung tim hoki karena kami (utara dan selatan) adalah orang yang sama-sama Korea, tapi Kim Jong-un dan para pemimpinnya adalah orang jahat," kata Hwang Min-ho, 22, yang sedang menonton pertandingan olimpiade.

Kim Yo Jong dengan pengawalan super ketat, tiba di Korea Selatan dalam rangka menghadiri pertemuan Reunifikasi Korea, di Presidential Blue House di Seoul. (Foto: Istimewa)
Sedangkan sejumlah pengamat menilai, kilauan senyuman yang diperkirakan Korut itu bisa dengan cepat hilang.

"Orang Korut itu negosiator tangguh. Kemungkinan mereka akan mengubah sikap usai Olimpiade berkisar di angka nol persen," ujar Robert Kelly, profesor politik di Universitas Nasional Pusan, mengatakan.

"Perundingan (damai dengan Korsel) akan menjadi seperti biasa: bernada keras dengan dimotori ketidakpercayaan mendalam. Olimpiade "tidak akan mengubah apa pun kecuali atmosfer ketegangan, dan itu hanya berlangsung singkat", tambahnya.

Waspadai 'Diplomasi Senyuman' Korea Utara

Jurus diplomasi yang diperlihatkan Korut, mendapat beragam tanggapan dari berbagai negara, terutama sejumlah negara yang menjadi rival utamanya, salah satunya adalah Jepang.

Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono mengingatkan semua pihak untuk tidak tertipu diplomasi senyuman yang diperlihatkan Korea Utara. Kono menegaskan meski Kim Yo-jong terus menebar senyum di Korsel, Pyongyang masih berkomitmen terhadap program nuklir dan misil.


Bukan menuduh tanpa sebab, Kono menyebut Korut tetap mengejar ambisi nuklirnya meski ketegangan dengan Korsel cenderung menurun. Hal ini terlihat dari digelarnya parade militer di Korut menjelang pembukaan Olimpiade Pyeongchang beberapa hari lalu.

"Tanpa tertipu oleh diplomasi senyuman, Jepang akan terus berkoordinasi (dengan Amerika Serikat dan Korsel) untuk menuju tujuan utama denuklirisasi Semenanjung Korea," ujar Kono kepada awak media di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, seperti dikutip Japan Times, Senin 12 Februari 2018.

Adik perempuan Kim Jong Un mencatatkan namanya dalam buku sejarah menjadi orang pertama dari dinasti Kim yang menginjakkan kakinya ke Korea Selatan sejak Perang Korea berakhir, saat menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2018. Momen ini merupakan kehadiran pertama kali Kim Yo Jong di Korea Selatan.

Sebelum bertemu dengan Presiden Korsel, Moon Jae In, simpul senyum elok khas wanita Korea Utara terbit di wajahnya saat pagelaran upacara olimpiade berlangsung. Sorot mata dunia pun langsung tertuju pada adik Pemimpin Korut yang kini masih diselimuti misteri itu.

Ri Son-kwon, ketua Komite Reunifikasi Korea, berbicara dengan Kim Yo-Jong, saudara perempuan Kim Jong-un sebelum pertemuan mereka di Presidential Blue House di Seoul. (Foto: Reuters)

China Nyatakan Siap Perang Hadapi Amerika di Laut China Selatan

Presiden China, Xi Jinping saat menghadiri sebuah parade militer angkatan perang China. (Foto: Istimewa)
"Amerika diharapkan untuk melakukan lebih banyak latihan kebebasan navigasi di wilayah Laut Cina Selatan, dan karena itu tidak mengakui hak Beijing terhadap pulau buatan, seperti Mischief Reef, mungkin akan ada lebih banyak gesekan militer antara kedua negara di sana,"
BEIJING -- Presiden China Xi Jinping memberikan komando kepada seluruh tentara negeri tirai bambu tersebut untuk selalu siap berperang dalam situasi apapun. Terutama terkait mengenai ekspansi militer China di kawasan Laut China Selatan (LCS).

Jinping mengingatkan agar militer China selalu memantau LCS dengan ketat, terutama untuk mengetahui pergerakan militer negara-negara yang terlibat konflik dikawasan tersebut seperti Taiwan, Vietnam, Filipina dan ikut campurnya kekuatan militer Amerika Serikat (AS) di perairan kaya minyak tersebut.

"Ini perlu untuk memperkuat misi dan berkonsentrasi bersiap untuk berperang. Kami perlu mempertimbangkan semua situasi rumit dan membuat rencana darurat dengan tepat. Kami harus meningkatkan latihan kesiapan tempur, latihan bersama dan latihan konfrontatif untuk meningkatkan kemampuan prajurit dan persiapan untuk perang," kata Jinping, dikutip dari New Zealand Herald, Minggu (28/10/2018).

Kunjungan Jinping ke komando militer adalah salah satu dari beberapa yang dia buat selama perjalanan empat hari ke provinsi selatan China yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan di tengah perlambatan ekonomi, dan perdagangan yang berkembang dan sengketa strategis dengan Amerika.

Pernyataan ini muncul sehari setelah Menteri Penasihat Umum Chin dan Menteri Pertahanan Wei Fenghe mengatakan negara itu tidak akan pernah menyerahkan satu bagian dari wilayahnya, terutama terkait bantuan militer AS kepada Taiwan yang ingin melepaskan diri dari China daratan.

Salah satu misi utama dari Komando Militer Selatan China adalah mengawasi Laut Cina Selatan. Ini adalah area di mana ketegangan dan aktivitas militer yang melibatkan China, AS, dan kekuatan lainnya telah tumbuh dengan terus menerus.

Awal bulan ini, sebuah kapal perusak China hampir bertabrakan dengan kapal perang AS di perairan yang disengketakan setelah melakukan apa yang digambarkan AS sebagai manuver "berbahaya dan tidak profesional" dalam upaya untuk memperingatkannya agar meninggalkan daerah itu.

Pengamat militer mengatakan komentar Jinping kemungkinan besar dimaksudkan untuk meningkatkan semangat dan menegaskan kembali klaim teritorial Beijing di Laut Cina Selatan.

Kapal induk China, Liaoning, saat berpatroli di kawasan Laut China Selatan. (Foto: scmp.com)

China Klaim Berhasil Ciptakan Rudal Supersonik yang Mampu Kalahkan India

Rudal CX-1 buatan China. Kini China mengklaim berhasil menciptakan rudal jelajah lainnya yang dinamak HD-1. Tidak seperti rudal supersonik lainnya, HD-1 diklaim hanya membutuhkan lebih sedikit bahan bakar dan terbang lebih cepat dan lebih jauh. (Foto: siasat.com)
"Rudal BrahMos adalah rudal jelajah supersonik yang lebih mahal dan kurang berguna yang dikembangkan oleh India dan Rusia."
BEIJING -- Produsen senjata China, Guangdong Hongda Blasting Company mengklaim telah berhasil menguji coba peluncuran rudal jelajah supersonik HD-1. Senjata ini diklaim akan mampu mengalahkan rudal supersonik BrahMos India. Ujicoba peluncuran rudal jelajah tersebut dilakukan pada pada 15 Oktober lalu, di sebuah lokasi rahasia di China utara.

"Semua parameter untuk penerbangan mencapai perkiraan tujuannya," bunyi pernyataan perusahaan tersebut yang dikutip Global Times, Kamis (18/10/2018).

Perusahaan tidak mengungkapkan rincian tambahan tentang tes atau spesifikasi dari rudal supersonik itu. Uji peluncuran senjata tersebut bertujuan untuk memverifikasi sistem peluncuran, daya, dan kontrol penerbangan HD-1.

rudal jelajah supersonik HD-1  menggunakan teknologi ramjet yang berbahan bakar padat canggih. Senjata itu diklaim akan tersedia untuk pelanggan internasional dalam varian peluncuran berbasis udara, darat, dan laut.

Hongda mengatakan pihaknya secara independen berinvestasi untuk mengembangkan rudal HD-1 tersebut. Total investasi untuk HD-1 diperkirakan mencapai 1,3 miliar yuan atau sekitar Rp2,8 triliun

"Bahan bakar padat HD-1 yang canggih membutuhkan lebih sedikit bahan bakar dibandingkan pesaingnya, menjadikan rudal yang lebih ringan dapat terbang lebih cepat dan lebih jauh. Penerbangan menunjukkan bahwa komponen inti HD-1 sekarang telah matang, dengan desain aerodinamisnya, material dan struktur keseluruhan sudah terbukti layak," kata Wei Dongxu, seorang analis militer yang berbasis di Beijing.

Didirikan pada tahun 1988, Hongda adalah perusahaan pertambangan yang berbasis di Guangzhou, ibukota Provinsi Guangdong China Selatan yang juga memproduksi peralatan peledakan dan militer. Saat ini, perusahaan tersebut sedang menunggu keluarnya ijin lisensi ekspor dari pemerintah China untuk menjual senjata dan melakukan produksi serial.

Rudal jelajah supersonik Brahmos hasil buatan patungan antara India dengan Rusia. (Foto: Sputniknews.com)

India Beli S-400, AS dan Pakistan Tuduh Rusia Picu Perlombaan Senjata

India telah menandatangani pembelian 5 unit sistem pertahanan udara rudal S-400 dari Rusia. Kebijakan New Delhi ini mendapat tentangan dari Pakistan dan Amerika Serikat (AS). (Foto: onlineindus.com)
"Pembelian sistem rudal S-400 India adalah bagian dari upaya mereka untuk memperoleh Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMD) melalui berbagai sumber. Ini akan semakin mengacaukan stabilitas strategis di Asia Selatan, selain mengarah ke perlombaan senjata baru,"
ISLAMABAD -- Keputusan militer India untuk membeli sistem pertahanan udara Rudal S-400, mendapat kecaman dari Amerika Serikat (AS) dan Pakistan. Bahkan kedua negara menuding Rusia sebagai produsen, telah memicu perlombaan senjata di anak benua Asia tersebut.

Pemerintah Pakistan mengkritik pembelian sistem rudal S-400 Rusia oleh India sebagai bagian dari upaya New Delhi untuk memperoleh Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMD). Islamabad menilai pembelian senjata pertahanan itu akan memicu perlombaan senjata baru di kawasan setempat.

"Pembelian sistem rudal S-400 India adalah bagian dari upaya mereka untuk memperoleh Sistem Pertahanan Rudal Balistik (BMD) melalui berbagai sumber. Ini akan semakin mengacaukan stabilitas strategis di Asia Selatan, selain mengarah ke perlombaan senjata baru," kata Kantor Kementerian Luar Negeri Pakistan, seperti dikutip dari Geo News, Sabtu (20/10/18).

Sedangkan AS menyatakan, Jika New Delhi tetap membeli senjata tersebut dari musuh 'bebuyutannya' Rusia, Washington mengancam akan menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap  India. Namun, dalam pesan samarnya, Washington menyatakan bahwa keputusan sanksi apa pun terhadap India tidak dapat diprediksi.

Amerika Serikat melalui Kedutaan-nya di New Delhi menegaskan bahwa sanksi yang dibuat berdasarkan undang-undang bernama Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) itu sejatinya hanya menargetkan militer Rusia, bukan sekutu atau mitra Washington.

"Pengesahan dari Pasal 231 Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) akan dipertimbangkan pada transaksi demi transaksi. Kami tidak bisa memprediksikan keputusan sanksi apa pun," Kedutaan Amerika Serikat yang dilansir NDTV, Sabtu (6/10/18).

"Maksud dari implementasi CAATSA kami adalah untuk membebani Rusia atas perilaku buruknya, termasuk dengan menghentikan aliran uang ke sektor pertahanan Rusia. CAATSA tidak dimaksudkan untuk membuat kerusakan pada kemampuan militer sekutu atau mitra kami. Otoritas pengabaian bukan untuk pembebasan 'selimut'. Ini adalah khusus transaksi. Ada kriteria ketat untuk mempertimbangkan pengabaian," lanjut kedutaan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi saat tiba di New Delhi, Kamis (4/10/18). (Foto/Sputnik/Mikhail Metzel/Kremlin via REUTERS)
Washington telah lama mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap negara manapun yang membeli sistem senjata canggih dari Rusia. Dengan menyetujui kontrak, pemerintah India telah menentang ancaman sanksi AS berdasarkan undang-undang bernama Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

India Tidak Takut Ancaman AS dan Pakistan

Menanggapi sejumlah pernyataan menyerang dari Amerika dan Pakistan, India menyatakan ketahanan hubungan diplomatik negara itu sedang diuji dan inilah saatnya India akan menyatakan kedaulatannya. India tidak takut dengan segala ancaman yang dilontarkan AS terkait pembelian senjata canggih tersebut.

"S-400 menarik perhatian karena Trump-AS overhang. Dengan undang-undang domestik AS yang mengecilkan negara-negara seperti India dari keterlibatan perdagangan yang signifikan dengan Rusia, ada subteks politik visibilitas tinggi tentang bagaimana kesepakatan ini akan berdampak pada hubungan bilateral India-AS," kata Uday Bhaskar, direktur The Society for Policy Studies.

"Tanggapan AS akan terbukti pada 5 November, ketika kedua perdagangan dengan Rusia dan impor hidrokarbon dari Iran akan mencapai titik kritis. Jika AS memutuskan untuk melanjutkan dengan undang-undang domestiknya dan meminta hukuman/sanksi terhadap New Delhi, itu akan menguji ketahanan bilateral India-AS," katanya.

Seperti diketahui, India menyatakan akan membeli sejumlah persenjataan dan misil super canggih dari Rusia. Penandatanganan dilakukan saat Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu Perdana Menteri Narendra Modi di New Delhi. Dalam kunjungan itu, India dan Rusia meneken lebih dari 20 dokumen termasuk kesepakatan pembelian sistem rudal S-400.

Kunjungan Putin ke India juga bersamaan dengan munculnya laporan bahwa Rusia ingin memasok New Delhi dengan tiga jet tempur supersonik MiG-21. India mengumumkan pembelian lima unit sistem pertahanan rudal S-400 Rusia dengan nilai kesepakatan kontrak antara USD4,5 miliar hingga USD5 miliar.

S-400 Triumf, (pelaporan nama NATO: SA-21 Growler), sebelumnya dikenal sebagai S-300PMU-3, adalah sistem senjata rudal anti-pesawat generasi baru yang dikembangkan oleh Russia's Almaz Central Design Bureau sebagai upgrade dari S-300. S-400 menggunakan empat rudal yang berbeda untuk menutupi seluruh kinerjanya. Sistem ini dapat menyasar semua jenis target udara termasuk pesawat tempur,UAV,rudal balistik dan jelajah dalam kisaran 400 km pada ketinggian sampai 30 km, dan dapat melumpuhkan 36 target secara bersamaan. (Foto: Istimewa)

Rudal Nuklir Korea Utara Kini Mampu Menghantam Kawasan Eropa

Ujicoba peluncuran rudal nuklir Korea Utara. Kemampuan daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat dari waktu ke waktu, hal ini menimbulkan kecemasan bagi AS dan negara-negara Barat lainnya. (Foto: © REUTERS / KCNA)
"Sekarang kita akhirnya menyadari penyebab historis yang hebat dalam menyelesaikan kekuatan nuklir negara,"
PYONGYANG -- Permasalahan senjata nuklir Korea utara (Korut) kini masih menjadi momok menakutkan bagi dunia Barat. Korut dituduh terus melakukan riset untuk meningkatkan kemampuan nuklir mereka. Terbukti, daya jangkau rudal nuklir Korut semakin meningkat, bahkan kini mampu mencapai kawasan Eropa.

Rudal balistik antarbenua (ICBM) Korut kini dapat dipasangi hulu ledak nuklir dan mampu menargetkan negara-negara di Eropa tengah. Perkembangan kemampuan senjata rezim Kim Jong-un ini disampaikan intelijen Jerman.

Surat kabar Bild pada hari Minggu mengutip laporan Wakil Ketua Federal Intelligence Service (BND), Ole Diehl, kepada pejabat pemerintah dalam sebuah pertemuan tertutup. Dalam laporannya, Diehl mengatakan bahwa ICBM Korea Utara sekarang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir.

Selain itu, dia juga yakin bahwa ICBM Pyongyang sekarang dapat menjangkau Jerman. Meski demikian, Diehl melihat pembicaraan antara Korea Utara dan Korea Selatan sebagai langkah positif untuk menurunkan ketegangan. Pihak BND secara resmi belum berkomentar atas laporan pejabatnya tersebut.

Korea Utara telah lama mengklaim bahwa rudalnya mampu mencapai berbagai negara di dunia. Pada bulan November, Pyongyang mengatakan telah melakukan uji coba pertama Hwasong-15, sebuah rudal balistik antarbenua terbaru yang diklaim bisa sampai ke bagian dunia manapun.

Perkembangan daya jangkau rudal nuklir Korea Utara, yang kini sudah mampu mencapai kawasan Eropa dan sebagian wilayah teritorial Amerika Serikat.