Jalur Militer: RUSIA

4 Jenis UAV Tempur Super Canggih Siap Perkuat Militer Rusia

Rusia menjawab tantangan perang dimasa depan dengan menciptakan berbagai jenis pesawat tanpa awak (done/UAV) untuk memperkuat strategi dan postur militer negara adidaya tersebut. (Foto: istimewa)
MOSKOW -- Pesawat nirawak (UAV/drone) menjadi salah satu alat perang yang paling banyak diandalkan oleh militer Rusia di medan perang saat ini. Rusia semakin agresif menciptakan berbagai jenis UAV/drone dengan berbagai macam kemampuan dan kecanggihan.

Berikut sejumlah UAV yang telah dan sedang diciptakan Rusia, dan bahkan diantaranya ada yang sudah diujicoba langsung di medan perang.

1. UAV Orion

Ini merupakan salah satu drone yang telah berlaga di Suriah. Setelah diuji dalam pertempuran melawan kelompok militan di Suriah, drone Orion telah dikirim ke Tentara Rusia. Orion dipersenjatai empat buah peluru kendali dan nonkendali yang mampu menghancurkan target musuh pada jarak ratusan kilometer.

Drone baru ini dapat membawa empat rudal dengan bobot hingga 200 kg. Pada saat yang sama, Orion mampu mendaki ke ketinggian 7,5 km. Pesawat tanpa awak itu juga mampu melesat hingga 200 km/jam dan baterai yang tahan selama 24 jam. Setelah itu, drone perlu kembali ke hanggar untuk “mengisi bahan bakar”.

Kronstadt, perusahaan pengembang drone tersebut, belum mengomentari keberhasilan Orion baru-baru ini. Perusahaan itu pun enggan memberikan keterangan lebih rinci terkait pengiriman Orion ke pasukan Rusia. Selain mengutip “rahasia negara”, mereka masih harus menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut Viktor Murakhovsky, Pemimpin Redaksi Arsenal Otechestva, ada dua versi Orion yang digunakan di Suriah: satu untuk pengintaian, sedangkan yang lainnya untuk penyerangan.

UAV Orion buatan Rusia yang sudah diujicoba di medan perang Suriah. (Foto: Istimewa)
“Pasukan Kedirgantaraan Rusia kini sedang mengembangkan program untuk drone jarak jauh berdampak besar. Para jenderal ingin unit-unit tentara baru dipersenjatai dengan pesawat tradisional dan UAV dengan senjata kelas serupa supaya bisa beroperasi bersama dalam satu kelompok,” kata sang ahli.

2. UAV Sukhoi S-70 Okhotnik

Senjata mematikan lain yang akan segera memperkuat Tentara Rusia adalah drone tempur Okhotnik buatan Sukhoi. Dibuat dengan teknologi yang sama dengan pesawat tempur generasi kelima Su-57, drone ini merupakan prototipe pesawat tanpa awak masa depan.

Sebagaimana “abangnya” (Su-57), Okhotnik adalah pesawat tipe sayap terbang (flying wing), yang keduanya melindungi pesawat dari sistem pertahanan udara musuh dan memungkinkan drone membawa lebih banyak senjata.

Selain itu, drone seberat 20 ton tersebut dapat meluncur mencapai target dengan kecepatan supersonik hingga 1000 km/jam (hampir menyamai kecepatan suara). Apalagi, Okhotnik juga dilengkapi dengan salah satu komputer pertama yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan.

Teknologi ini membuat si operator terbebas dari sebagian besar tugas pengoperasian kecuali keputusan untuk mengerahkan senjata. Beberapa teknologi dan amunisinya bahkan disatukan dengan Su-57.

“Persenjataan Okhotnik termasuk rudal udara-ke-darat dan sejumlah bom (misil kendali dan bersayap) yang disembunyikan di dalam tubuh drone demi mengurangi visibilitas pada radar musuh alih-alih menggantungnya pada sayap,” ujar Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer Rusia kepada Rusia Beyond.

Di antara bom yang diangkut Okhotnik adalah bom berdaya ledak tinggi OFZAB-500 dan bom udara ODAB-500PMV, yang keduanya telah digunakan dalam kampanye militer di Suriah.

Salah satu UAV pertama Rusia kelak dapat menggunakan senjata pesawat tempur generasi kelima dan menyediakan platform untuk menguji teknologi pesawat masa depan. Foto-foto pertama drone terbaru Rusia, Okhotnik-B, yang diambil di lokasi uji coba di dekat Novosibirsk, dirilis di internet pada awal bulan ini.

Sebagaimana yang ditunjukkan foto-foto itu, drone tersebut adalah tipe drone bersayap yang dapat memberikan perlindungan lebih baik dari pertahanan udara musuh. Drone itu pun mampu membawa lebih banyak senjata. Teknologi kecerdasan buatan membuat drone ini sangat mandiri.

UAV Sukhoi S-70 Okhotnik. (Foto: Akela Freedom/artstation.com)
“Ini bukan hanya salah satu drone tempur pertama yang dibuat di Rusia, tetapi juga sebuah platform untuk menguji teknologi tempur generasi keenam. Spesifikasinya memang masih dalam tahap penyelesaian, tetapi fitur utamanya sudah diketahui, yaitu sistem yang sepenuhnya berbasis robot,” ujar Kozyulin menjelaskan.

Dalam istilah militer Rusia, “sepenuhnya berbasis robot” berarti tidak ada pilot dan mampu untuk membuat keputusan secara independen dari awal hingga akhir. “Mesin itu sudah melakukan siklus penuh operasi tempur, dengan pengecualian mengerahkan senjata dalam pertempuran. Fungsi ini ada pada operator,” tambahnya.

Menurut Kozyulin, badan pesawat itu terbuat dari bahan komposit dengan lapisan radio reflektif berbasis teknologi siluman.

3. UAV ZALA 421-16E2

Kalashnikov, perusahaan senjata Rusia yang terkenal akan senapan serbu legendaris AK-47, telah mulai memproduksi massal pesawat tak berawak (drone) canggih untuk penyelidikan dan pengintaian, ZALA 421-16E2. Pesawat ini memiliki fitur penerbangan tanpa suara.

“Sistem ZALA 421-16E2 tidak ada bandingannya baik di Rusia maupun di dunia dalam hal fungsionalitas, kesederhanaan, dan keandalan operasi. Ia juga memiliki fitur penerbangan tanpa suara, yang sangat berguna untuk badan-badan pertahanan dan keamanan,” ujar Nikita Zakharov, wakil CEO ZALA AERO (bagian dari Kalashnikov), seperti yang diberitakan TASS, Selasa (20/6).

Beberapa badan pemerintah, perusahaan, dan perdagangan telah memesan sistem ZALA 421-16E2. Kalashnikov berharap drone ini dapat diuji coba tahun ini dan didemonstrasikan pada Pertunjukan Udara dan Aviasi Internasional 2017 di Moskow pada Juli 2017 dan pameran Army 2017 pada Agustus mendatang.

Drone ZALA 421-16E2 buatan Rusia. (Foto: Istimewa)
ZALA 421-16E2 memiliki bobot 7,5 kilogram, dan dapat dipasang kamera siang hari dengan 60 kali optical zoom dan modul pencitraan termal dengan 10 kali optical zoom. 

Drone ini dapat mengirimkan informasi video di tengah kondisi cuaca yang sulit dengan jarak lebih dari 30 kilometer dan radius kendali lebih dari 50 kilometer. Selain itu, ZALA 421-16E2 juga dapat terbang terus-menerus selama empat jam dan diluncurkan dengan tangan.

4. UAV T-16
Eleron

Biro Desain Eniks, perusahaan asal Kazan, sedang mengembangkan drone T-16 yang didesain untuk keperluan militer. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strake di tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah

Rusia sedang menguji coba T-16, pesawat tanpa awak (UAV/drone) bersenjata buatan lokal, demikian dilaporkan kantor berita Interfax, mengutip seorang sumber di sektor pertahanan.

“UAV ini dapat membawa muatan hingga 6 kilogram,” ujar sang sumber. “Ia dapat mengirim amunisi di pylon bawah sayapnya.” Ia tidak menjelaskan lebih detail mengenai karakteristik teknis persenjataannya, yang diketahui berasal dari pihak ketiga.

T-16 memiliki bobot lepas landas sekitar 20 kilogram, menurutnya. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strakedi tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah. Baling-baling pendorong drone tersebut digerakkan oleh akumulator dengan kebisingan rendah atau motor elektrik bertenaga bensin.

UAV terbaru ini sedang dikembangkan oleh Biro Desain Eniks, perusahaan spesialis perancangan UAV dan objek udara berukuran kecil asal Kazan. Proyek perusahaan ini sebelumnya termasuk UAV Tipchak-RN, yang dikirim untuk penyelidikan proyektil yang diluncurkan dari sistem peluncur roket Smerch, serta berbagai macam modifikasi UAV Eleron 3 dan Eleron 10 untuk badan-badan keamanan Rusia.

Eleron 10 sendiri bertindak sebagai platform untuk UAV Valdai yang digunakan oleh Layanan Keamanan Federal Rusia untuk berpatroli di Olimpiade 2014 di Sochi. Di halaman situs webnya, Eniks mengatakan bahwa mereka memiliki lapangan uji coba UAV sendiri.

Drone T-16 belum terdaftar dalam katalog produk Eniks. Namun begitu, tahun lalu di sumber-sumber internet tertentu beredar foto-foto contoh T-16 yang diambil di acara Konferensi Sains Militer “Perobotan Angkatan Bersenjata Rusia”.

Sumber tersebut menyorot kesamaan penampilan T-16 dengan UAV Orbiter 3b buatan perusahaan asal Israel, Aeronautics Defense Systems, yang telah tersedia sejak 2014.


Sepuluh hingga 15 tahun yang lalu, hanya UAV berkelas MALE yang mampu membawa senjata, ujar Denis Fedutinov, pakar sistem tanpa awak dan pemimpin redaksi situs web UAV.ru.

UAV T-16 Eleron buatan Rusia. (Foto: Istimewa)

Jet Tempur SU-57 Siap Perkuat Militer Rusia

Militer Rusia menyatakan akan memproduksi jet tempur siluman SU-57 secara besar-besaran untuk memperkuat postur pertahanan udara negara adidaya tersebut. (Foto: Vladimir Astapkovich/Sputnik)
MOSKOW -- Pesawat jet tempur siluman Su-57 pertama hasil produksi serial dinyatakan siap untuk memasuki layanan militer Rusia. Pesawat tempur generasi kelima itu sedang dikirim ke Angkatan Udara Rusia.

"Mengenai program pembuatan pesawat generasi kelima, kami dapat melihat bersama Anda bahwa pesawat Su-57 pertama yang diproduksi serial sebenarnya siap untuk dikirim ke pasukan. Itu akan dikirim ke Angkatan Udara sebelum akhir tahun ini," kata Wakil Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko kepada wartawan.

Pengumuman itu disampaikan setelah Krivoruchko mengunjungi Komsomolsk-on-Amur Aviation Enterprise, pabrikan yang sedang membangun jet tempur Rusia paling canggih, pada hari Jumat pekan lalu.

"Tahun depan, kami berharap mendapatkan pesawat seperti itu dan selanjutnya produksi mereka akan berlipat ganda," ujarnya, dikutip dari kantor berita TASS, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, di bawah kontrak saat ini, Angkatan Udara Rusia akan menerima 76 unit pesawat tempur generasi kelima Su-57 pada tahun 2028.

Su-57 adalah pesawat tempur multirole generasi kelima yang dirancang untuk menghancurkan semua jenis target udara, darat dan laut. Jet tempur Su-57 memiliki teknologi stealth (siluman) dengan penggunaan material komposit yang meluas, yang mampu mengembangkan kecepatan jelajah supersonik dan dilengkapi dengan peralatan radio-elektronik onboard yang paling canggih, termasuk komputer onboard yang kuat.

Selain itu, pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem radar yang menyebar ke seluruh tubuh pesawat dan beberapa inovasi lainnya, khususnya, persenjataan yang ditempatkan di dalam badan pesawat.

Su-57 naik terbang ke udara untuk pertama kalinya pada tanggal 29 Januari 2010. Dibandingkan dengan pendahulunya, Su-57 menggabungkan fungsi pesawat serang dan jet tempur.

Persenjataan pesawat tersebut akan mencakup rudal hipersonik. Jet tempur generasi kelima telah berhasil diuji dalam kondisi tempur di Suriah.

Apa yang menjadikan Su-57 lebih baik daripada jet tempur generasi kelima Amerika dan Tiongkok, dan kapan jet ini akan mulai bertarung untuk NATO?

Bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin meninjau Su-57 bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di pameran udara MAKS-2019, di pinggiran kota Moskow. Keduanya bahkan membahas potensi pembelian pesawat-pesawat ini oleh Turki yang merupakan anggota NATO. Namun, kedua negara masih harus menyelesaikan semua rincian potensial dan belum menandatangani kontrak.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menginspeksi jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57, pada acara MAKS-2019 di Zhukovsky, Rusia. (Foto: Sputnik/Sergey Guneev)
Su-57 adalah jet tempur kedua dalam kelasnya (generasi kelima) yang telah sepenuhnya dibangun di dunia (Tiongkok masih berkutat mengerjakan Chengdu J-20).

Jet tempur ini dibuat untuk menyaingi pesawat terbaik Amerika F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Sejarah Su-57

Jet tempur ini telah dikembangkan sejak awal abad ke-21. Sepuluh tahun kemudian (pada 2010), Su-57 mengangkasa untuk pertama kalinya.

Awalnya proyek ini dikritik secara luas, karena berbagai masalah yang tidak memungkinkannya memenuhi kriteria jet tempur generasi kelima. Salah satu masalah terbesar adalah mesinnya.

Selama bertahun-tahun, ia menggunakan "jantung" generasi sebelumnya, sehingga tidak menghadirkan kemampuan terbang dan pertempuran udara yang diperlukan selama pengujian. Namun pada akhir 2018, masalah ini diselesaikan dan Su-57 masuk ke tahap produksi serial.

Mesin garang Su-57

Su-57 menerima mesin jet generasi baru yang memungkinkannya berakselerasi dalam mode non-afterburner ke kecepatan supersonik dan mempertahankannya di keseluruhan penerbangan.

Kecepatannya melebihi 2.000 km/jam, selagi bermanuver dan melakukan aerobatik, sehingga mampu menghindari tembakan rudal dan senjata musuh dengan lebih baik.

Tidak terdeteksi radar

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan jet generasi kelima secara umum adalah untuk menyembunyikan mereka dari sistem pertahanan udara modern.

Untuk mencapai itu para insinyur harus menyembunyikan semua persenjataan (misil yang dipandu dan tak dipandu, serta bom) di dalam badan pesawat. Mereka juga harus menggunakan bahan komposit terbaru dan termahal dalam konstruksi badan pesawat.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat melihat Su-57, jet tempur generasi ke-5 Rusia paling canggih yang ditampilkan dalam pertunjukan udara di 2019 MAKS Air Show, di Bandara Internasional Zhukovsky Moskow, Rusia.(Foto: Sputnik)

Ironi Rusia: Digdaya di Bidang Militer, Jadi Pecundang di Sepakbola

Tentara Rusia menyaksikan prajurit Ukraina bermain sepakbola di Belbek Sevastopol International Airport di wilayah Crimea, yang berada dalam zona konflik. Tim dari wilayah Crimea sekarang akan bermain di liga Rusia. (Foto: Istimewa)
MOSKOW -- Jika berbicara teknologi perang dan kekuatan militer, Rusia adalah jagoannya. Hingga kini, Amerika Serikat, NATO dan seluruh bangsa-bangsa di dunia sangat berhati-hati jika berurusan dengan Rusia. 

Bahkan, setelah runtuhnya Uni Soviet, Moskow sempat diprediksi akan tamat, tapi ternyata negara itu hanya berganti wajah. Kini Rusia dipandang menjadi negara adidaya yang lebih "bijaksana."

Masalah militer, Rusia boleh saja paling unggul, namun tidak dalam urusan olahraga sepakbola. Dalam masalah olahraga paling diminati sejagad itu, Rusia dipandang hanya jadi pecundang di benua Eropa bahkan di tingkat dunia.

Tim sepak bola nasional Rusia menggoreskan performa yang buruk pada Euro 2016. Terbilang sulit untuk melakukan perubahan besar dalam waktu dua tahun menjelang Piala Dunia. 


Meski masyarakat mencela kegagalan Rusia dalam Euro 2016, pemerintah tak mengambil langkah sistematis untuk memperbaiki situasi tim nasional. Menteri Olahraga Rusia Vitaly Mutko mengaitkan buruknya performa tim dengan kekurangan jumlah pemain.

Masalah terbesar dalam sepak bola Rusia sesungguhnya adalah adanya ‘lubang neraka’ antara pemain sepak bola profesional dan amatir. Piramida sepak bola, salah satu prinsip utama FIFA, pada dasarnya dihancurkan di Rusia.

Jumlah minimal klub profesional yang akan bepartisipasi dalam tiga divisi Rusia pada musim 2016 – 2017 ialah 94 (hanya 12 di antaranya dari Siberia dan Timur Jauh).

Dua orang suporter timnas Rusia terlihat berwajah murung, setelah menyaksikan pertandingan babak penyisihan grup antara Rusia dan Wales pada Euro 2016. (Foto: Vladimir Pesnya / RIA Novosti)
Jumlah penonton juga menyedihkan: jumlah rata-rata penggemar yang menonton pertandingan Liga Primer Rusia pada musim 2015 – 2016 ialah 11.046 (dalam Bundesliga Jerman terdapat 43.300 penonton dan Liga Primer Inggris 36.452).

Sepak bola profesional di Rusia semakin hari semakin elit. Pemain berbakat dari daerah sulit menembus tim besar. Hanya anak-anak dari keluarga terhormat yang diterima di akademi klub penting. 


Padahal, hanya di situ pemain muda berkesempatan mengembangkan karir profesional mereka. Daerah-daerah di Rusia tak punya liga sepak bola anak-anak. Mereka juga kekurangan pelatih yang mau dibayar murah.

Buruknya kondisi persepakbolaan Rusia, mendapat kecaman seluruh lapisan rakyat di negara itu. 


Salah satu bentuk kemarahan para pecinta sepak bola Rusia diperlihatkan dengan munculnya petisi untuk membubarkan tim nasional Rusia, yang telah ditandatangai oleh hampir satu juta pengguna internet.

Namun kemarahan tersebut tak menghasilkan apa-apa karena setelah turnamen utama tim nasional memang selalu dibubarkan dan kemudian dibentuk kembali dengan pelatih baru.

Buruknya Manajemen

Terdapat sejumlah masalah besar yang membuat sepak bola Rusia menjadi salah satu yang terburuk dibanding negara Barat lainnya. Diantaranya adalah buruknya manajemen. Sejumlah masalah seperti;


Pertama, masalah pelatih. Pelatih utama tim nasional Rusia saat ini, Stanislav Cherchesov, dikenal akan metode kerasnya dalam menangani pemain. Di Rusia, banyak pihak yang melihat ini sebagai keuntungan. 


Ada pandangan bahwa pemain bola Rusia hanya paham metode ‘cambuk’. Namun anehnya, Cherchesov, mantan kiper tim nasional Rusia, sukses melatih di Eropa. Pada musim lalui ia memenangkan Liga Polandia bersama Liga Warsawa.
"Di Amerika, Anda menendang bola. Di rusia soviet, sepak bola menendang Anda!" Adalah sebuah sindiran bernada ejekan yang sering disematkan kepada Rusia, jika berbicara dunia sepak bola. Negeri Beruang Merah tersebut seakan menjadi pesakitan dalam hal olahraga si kulit bundar ini. (Foto; Istimewa)

Kerahkan Militer di Suriah, Rusia Malah Dapat Untung Besar



Presiden Rusia Vladimir Putin mendapat pujian dari kalangan internasional dengan mengeluarkan taktik cerdasnya di Suriah. Walau sempat dihina oleh rival abadinya Amerika Serikat, pengerahan militer Rusia untuk membantu pemerintahan Bashar Assad justru akhirnya menguntungkan bagi Rusia. (Foto: istimewa)
“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,”
DAMASKUS -- Pada saaat Presiden Rusia Vladimir Putin mengeluarkan kebijakan mengirimkan armada perangnya ke Suriah, untuk membantu pemerintahan Presiden Bashar al Assad, Amerika Serikat beserta gerombolan sekutunya sempat menghina dan mengolok Rusia dan mengatakan Rusia akan mengalami kerugian total.

Tetapi siapa sangka, Rusia justru mendapatkan keuntungan ganda dari membantu Suriah yang merupakan sekutu lamanya tersebut. Lima setengah bulan Angkatan Udara Rusia melakukan operasi militer di Suriah, dan Negeri Beruang Merah tersebut menggelontorkan biaya sebesar 33 miliar rubel (464 juta dolar AS), demikian disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Namun, angka tersebut tak seberapa dibanding keuntungan yang akan diterima. Beberapa narasumber militer menyampaikan bahwa sejak dimulainya kampanye di Suriah, Badan Kerja Sama Teknis Militer Federal (FSVTS) telah didekati oleh banyak negara yang tertarik terhadap produk industri pertahanan Rusia, terutama pesawat.

“Di satu sisi, kami telah mendemonstrasikan kapabilitas perangkat militer kami (di Suriah), menarik perhatian pembeli potensial; di sisi lain, lebih dari separuh pilot kami mendapat pengalaman tempur praktis,” tutur seorang narasumber militer Rusia. 

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa keuntungan yang didapat Rusia dari membantu sekutunya Suriah:

Kontrak dengan Aljazair 

Pada Desember 2015, Aljazair memesan 12 pesawat pengebom Su-32. Menurut Sergei Smirnov, Direktur Pabrik Pesawat Chkalov yang berbasis di Novosibirsk, diskusi mengenai kerja sama dengan Aljazair telah berlangsung selama delapan tahun. 

Kesuksesan performa pesawat pengebom ini di Suriah memberi ‘gairah’ baru dalam negosiasi. Menurut narasumber Rusia, militer Aljazair harus merogoh kocek setidaknya 500 sampai dengan 600 juta dolar AS untuk membeli skuadron pertama Su-32. Sementara, pembicaraan mengenai pembelian setidaknya 10 pesawat tempur Su-35S akan segera dimulai.
Seorang tentara Rusia berpose dengan dilatarbelakangi sebuah MBT-T90, di pangkalan militer Latakia, Suriah. (Foto: istimewa)
Kontrak penjualan pesawat tersebut diperkirakan sekitar 850-900 juta dolar AS. Terobosan baru lainnya ialah penandatanganan kesepakatan pasokan 40 helikopter serang Mi-28NE untuk Aljazair. Gelombang pertama siap dikirim. Kontrak Aljazair untuk Mi-28NE diperkirakan mencapai 600-700 juta dolar AS. 

Mendapat Pembeli Dari Asia Tenggara

Di Asia Tenggara Pesawat tempur Su-35 juga menarik perhatian negara terkuat dan terbesar di wilayah tersebut yaitu Indonesia. Selain itu, Vietnam dan Pakistan juga menyatakan akan mengikuti langkah Indonesia membeli armada perang Rusia tersebut.

Ketiga negara telah berpengalaman mengoperasikan pesawat Soviet dan Rusia, dan mereka hendak meningkatkan kualitas pasukan udara mereka. Dalam kasus Indonesia dan Vietnam, kontrak bernilai satu miliar dolar AS sedang didiskusikan. 

Indonesia mungkin akan mencari pinjaman untuk pembelian tersebut, yang berencana membeli hingga lima Skuadron pesawat tempur Sukhoi SU35.

Sementara untuk Pakistan, situasinya lebih rumit, selain buruknya situasi ekonomi, kerja sama potensial ini juga terancam oleh aspek geopolitik berkaitan dengan India. Narasumber Rusia menyebutkan, bahkan dalam skenario terbaik, Pakistan tak akan mampu membeli lebih dari enam pesawat. Namun, kontrak berskala kecil tersebut diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS. 

Pengerahan Armada Militer Untuk Iklan Senjata

Selain membantu sekutunya, Rusia secara tidak langsung juga menjadikan pengerahan armada perangnya ke Suriah sebagai sebuah iklan alat-alat tempur buatan terbaru dan tercanggih mereka di pentas dunia. Hal ini dibuktikan dengan membanjirnya pesanan bahkan dari kawasan Timur Tengah sendiri.

Buktinya militer internasional juga tertarik pada helikopter Ka-52 Alligator. Rosoboronexport telah menandatangani kontrak dengan Mesir untuk memasok 46 helikopter, dan pengirimannya dijadwalkan mulai 2017. 

Diperkirakan demonstrasi karakter tempur Ka-52 dalam operasi di Suriah akan membantu proses pencarian pembeli baru pesawat ini, terutama di Timur Tengah.
Sebuah helikopter Ka-52 Alligator dan helikopter Mi-28NE saat dalam operasi penumpasan ISIS di Suriah. (Foto: istimewa)

Rusia Nyatakan Siap Kembali Perkuat Militer Indonesia

Kapal perang penjelajah proyek Cruiser 68-bis "Ordzhonikidze" yang dinamakan sebagai KRI Irian 201, merupakan salah satu persenjataan tercanggih yang pernah diberikan Uni Soviet kepada Indonesia pada era perjuangan kemerdekaan. Kapal perang raksasa ini menjadi armada tempur yang paling ditakuti Belanda dan sekutu, karena memiliki persenjataan super canggi pada eranya. (Sumber foto: Ria Novosti)
"Saat ini kita telah memasuki babak baru dalam hubungan ini, khususnya dalam bidang militer. Indonesia dan Rusia adalah dua negara yang bersahabat. Kita memiliki kerjasama tehnik militer yang sangat aktif."
JAKARTA -- Pemerintah Federasi Rusia menyatakan siap dan bersedia untuk kembali memperkuat postur pertahanan Indonesia, hal ini disampaikan Atase Militer Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Kolonel Nikolay Nikolayuk, di Hotel Borobudur, Jakarta, dalam moment Perayaan Hari Pasukan Bersenjata Rusia.

Nikolayuk menegaskan, Rusia selalu siap mengembangkan dan memperkuat militer Indonesia sejauh yang Indonesia inginkan, karena kedua negara memiliki hubungan sejarah yang sangat panjang dan dalam. Dia menyebut, sejak awal kemerdekaan Indonesia, Rusia sudah memberikan dukungan dari segi politik maupun militer ke Indonesia.

"Berbicara mengenai sejarah hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia, saya ingin menyampaikan bahwa Rusia sudah menyediakan banyak dukungan militer dan politik kepada Indonesia sedari awal kemerdekaan (Indonesia)," ucap Nikolayuk, dilansir dari Sindonews.com, Senin (26/2/2018).

Nikolayuk mengatakan, saat ini hubungan kedua negara sudah mencapai babak baru, khususnya dalam bidang militer. Indonesia telah lama mengoperasikan berbagai alutsista dan persenjataan buatan Rusia, dan jika memungkinkan, Rusia akan memberikan bantuan kerjasama militer untuk Indonesia, hingga kembali menjadi yang terkuat di wilayah bumi bagian selatan.

"Saat ini kita telah memasuki babak baru dalam hubungan ini, khususnya dalam bidang militer. Indonesia dan Rusia adalah dua negara yang bersahabat. Kita memiliki kerjasama tehnik militer yang sangat aktif. Waktu demi waktu kita meningkatkan hubungan antar-militer. Dan sangat penting bagi kita untuk menggarisbawahi bahwa Rusia siap untuk mengembangkan proses ini sejauh yang Indonesia inginkan," ucapnya.

Namun, Rusia menyadari semuanya kembali ke pihak Indonesia dan bagaimana merespon tawaran yang diberikan Moskow. Sebab, kerjasama kedua negara akan tetap berjalan diberbagai bidang.

Atase Militer Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Kolonel Nikolay Nikolayuk. (Foto: Istimewa)
"Kita memiliki tradisi yang bagus dan pengalaman kerja sama yang luas, yang dapat menjadi dasar yang baik untuk pengembangan lebih lanjut hubungan persahabatan kita," tukasnya.

Persahabatan Tak Lekang Oleh Zaman


Sejarah mencatat, hubungan Indonesia-Rusia atau dulu dikenal dengan Uni Soviet, hampir sama tuanya dengan umur Republik Indonesia. Uni Soviet sudah memberikan bantuan bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Soviet mendukung gerakan antikolonialisme di Asia dan tertarik dengan misi Soekarno untuk membebaskan seluruh Hindia Timur dari kolonial Belanda.

Pada Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia di seluruh bekas wilayah Hindia Belanda, kecuali Papua. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pulau dan suku-suku yang mendiami Papua memiliki kebudayaan mereka sendiri yang berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya.

Soekarno akhirnya memimpin gerakan kemerdekaan Indonesia, membuat misi untuk membebaskan wilayah yang saat itu disebut sebagai Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Upaya S0ekarno untuk membebaskan Irian Barat dimulai dengan melakukan negosiasi bilateral langsung dengan Belanda.

Ketika langkah ini gagal, Indonesia kemudian mencoba untuk menggalang dukungan di Majelis Umum PBB. Namun, hal ini pun terbukti sia-sia. Pada tahun 1956, Presiden Soekarno, melakukan kunjungan pertamanya ke Moskow.

Di Moskow, sang presiden pertama RI membahas sengketa negaranya dengan Belanda. Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev ketika itu, dengan cepat mengumumkan dukungannya terhadap Indonesia.

Moskow mulai mempersenjatai angkatan bersenjata Indonesia. Dari akhir 1950-an hingga akhir masa kepemimpinan Soekarno pada 1966, Uni Soviet telah memasok Indonesia dengan satu kapal penjelajah, 14 kapal perusak, 8 kapal patroli antikapal selam, 20 kapal rudal, beberapa kapal torpedo bermotor dan kapal meriam, serta kendaraan-kendaraan lapis baja dan amfibi, helikopter, dan pesawat pengebom.

Dari kiri ke kanan: kosmonot legendaris Uni Soviet Yuri Gagarin, Presiden Uni Soviet, Nikita Khrushchev, Presiden Republik Indonesia, Soekarno, dan Leonid Brezhnev di Kremlin, Moskow, Juni 1961. (Foto: Istimewa)

Provokasi Rusia, NATO Galang Latihan Militer Terbesar Pasca Perang Dingin

Gabungan pasukan Marinir dari AS, Portugal dan Inggris melakukan pendaratan kapal ke pantai, selama bagian akhir dari latihan Trident Juncture yang digelar NATO. "Trident Juncture", latihan militer terbesar sejak akhir Perang Dingin, diluncurkan di Norwegia pada 25 Oktober dan akan berlangsung hingga 7 November. Sekitar 50.000 tentara mengambil bagian dalam latihan, termasuk 24.000 personel angkatan laut dan 20.000 tentara. (Foto: Michaels S. Darnell)
"Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden AS mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan China serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir,"
OSLO -- Benua Eropa kembali memanas setelah negara-negara anggota NATO melakukan latihan perang besar-besaran. Latihan terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin tersebut dimulai Rabu (24/10) dan dijadwalkan akan berlangsung hingga tanggal 7 November
di ruang udara dan laut di seluruh di Norwegia.
 
Sekitar 50.000 tentara bergabung dalam latihan perang untuk menguji pertahanan aliansi melawan "agresor fiktif." Jerman adalah peserta terbesar kedua. Jerman mengirim kontingen militer, dalam rangka mempersiapkan diri untuk memimpin pasukan gerak cepat NATO.

Militer Jerman Bundeswehr berpartisipasi dalam manuver dengan sekitar 10.000 tentara dan 4.000 kendaraan. Selain itu, Bundeswehr mengerahkan pesawat tempur Tornado dan Eurofighter dan tiga kapal perang.

Latihan perang "Trident Juncture" melibatkan sekitar 10.000 kendaraan, 250 pesawat dan 65 kapal perang dari semua 29 anggota aliansi, ditambah Swedia dan Finlandia.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk menguji dan melatih "Very High Readiness Joint Task Force" (VHRJTF) NATO, yang nantinya akan berada di bawah komando Jerman. Pasukan gabungan gerak cepat ini dirancang untuk mempelopori pertahanan negara anggota aliansi yang menghadapi serangan dari luar.

VHRJTF NATO dirancang aliansi pertahanan Atlantik Utara itu pada tahun 2014 setelah aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea. Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan bahwa latihan itu akan mengirim “pesan yang jelas kepada negara-negara kami dan kepada musuh potensial”.

“Dalam beberapa tahun terakhir, lingkungan keamanan Eropa telah memburuk secara signifikan. NATO tidak mencari konfrontasi, tetapi kami siap untuk membela semua sekutu terhadap ancaman apa pun,” kata Stoltenberg kepada para wartawan, saat konferensi pers pada Rabu (24/10).

Tentara Inggris saat mengikuti latihan militer Trident Juncture 2015 yang digelar oleh NATO. (Foto: act.nato.int).
Latihan militer NATO dan Amerika Serikat (AS) langsung meningkatnya ketegangan antara aliansi keamanan transatlantik tersebut dengan Rusia. Namun, NATO bersikeras bahwa operasi yang sedang berlangsung tidak bertujuan untuk mensimulasikan konflik dengan Rusia, yang berbatasan dengan Norwegia.

Reporter Al Jazeera Alex Gatopoulos, melaporkan dari Norwegia, mengatakan bahwa meski tidak ada yang menyebut Rusia, namun “semua orang melihat ke timur”. “NATO jelas melatih untuk menanggapi ini, tidak hanya untuk membela negara-negara garis depan, tetapi juga untuk merebut kembali negara-negara tersebut jika ada konflik di masa depan,” ujar Gatopoulos.

Latihan tersebut dimulai hanya beberapa minggu setelah Rusia melakukan latihan militer terbesarnya sendiri sejak berakhirnya Perang Dingin. Tahun lalu, Rusia juga melakukan latihan perang bersama Belarus, di dekat perbatasan timur Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia.

Latihan Militer NATO Dapat Memicu Perang Dingin Jilid II

Rusia menyatakan, latihan militer NATO dalam skala besar tersebut bersifat provokatif dan dapat memicu perang dingin jilid II. Ditambah lagi latihan dilakukan di Norwegia yang berbatasan langsung dengan negeri beruang merah tersebut.

"Aktivitas militer NATO dekat perbatasan kami telah mencapai tingkat tertinggi sejak masa Perang Dingin," kata Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu hari Rabu (24/10). Dia menambahkan, Trident Juncture adalah "simulasi tindakan militer ofensif."

Pada Rabu (24/10), Kedutaan Besar Rusia di Oslo mengatakan, pihaknya menganggap Trident Juncture 18 sebagai latihan “anti-Rusia”. “Kegiatan seperti itu tampak provokatif, bahkan jika Anda mencoba untuk membenarkannya sebagai latihan yang murni defensif,” katanya.

Komentar itu muncul setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova yang berbicara pada awal Oktober mengecam apa yang disebutnya sebagai “ancaman militer” NATO.

Angkatan Darat dari aliansi militer NATO, menyusuri Sungai Pasvik yang terletak diantara perbatasan antara Norwegia dan Rusia. (Foto: Thomas Nilsen via thebarentsobserver.com)
“Semua persiapan NATO ini tidak dapat diabaikan, dan Federasi Rusia akan mengambil tindakan pembalasan yang diperlukan untuk menjamin keamanannya sendiri. Tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti itu pasti akan mengacaukan situasi militer dan politik di utara,” kata Zakharova kepada kantor berita TASS (2/10/2018).
 
Kecaman juga datang dari Wakil pemimpin Partai Kiri, "Die Linke" di parlemen Jerman, Dietmar Bartsch, mengeritik latihan gabungan itu sebagai "menggelikan, berbahaya, dan provokatif terhadap Rusia."

"Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden AS mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan China serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir," kata Dietmar Bartsch kepada harian Jerman Neue Osnabrcker Zeitung.

Ketegangan Militer NATO dan Amerika VS Rusia

Selama berbulan-bulan, Moskow telah kesal oleh kehadiran militer Barat yang semakin meningkat di kawasan itu, di mana Amerika Serikat dan Inggris meningkatkan penempatan pasukan di Norwegia, dengan alasan untuk mengkondisikan pasukan mereka dalam pertempuran cuaca dingin.

Saat Donald Trump memegang tampuk kekuasaan di Gedung Putih, militer NATO semakin agresif setelah Trump dalam KTT NATO di Brussels, Belgia, pada Rabu, 11 Juli 2018, mengancam akan menarik AS keluar dari NATO, jika aliansi pertahanan itu tidak menaikkan anggaran belanja pertahanan sebesar 2% dari GDP masing-masing negara anggota.

Trump juga mengancam akan membuat AS bertindak secara unilateral dalam mengambil langkah-langkah keamanan global tanpa bekerja sama lagi dengan NATO. Sejauh ini hanya lima negara yang memenuhi target belanja pertahanan 2% dari GDP, Amerika Serikat, Inggris, Yunani, Polandia dan Estonia.

Tentara Denmark mengendarai sebuah tank tempur mengamati garis depan di area pelatihan di Chinchilla, Spanyol pada 22 Oktober 2015 selama latihan NATO Trident Juncture 2015. (Foto: Photo: act.nato.int)

Putin: Kekuatan Rudal Nuklir Kami Mampu Hancurkan Planet Bumi

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali memperkuat rudal nuklir yang dimiliki negeri beruang merah, setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump ingin menarik diri dari perjanjian pengurangan senjata nuklir global. (Foto: GETTY via express.co.uk)
"Agresor harus tahu bahwa pembalasan tidak dapat dihindarkan, bahwa itu akan dihancurkan. Dan kita, para korban agresi, akan pergi ke surga sebagai martir, sementara mereka hanya akan mati, karena mereka tak punya waktu untuk bertobat,"
SOCHI -- Menyandang predikat sebagai negara pemilik rudal nuklir terkuat di dunia, tidak membuat pemerintah Rusia gegabah dan sombong dalam bertindak. Bahkan, Moskow menyadari bahwa senjata yang mereka miliki seperti pedang bermata dua yang juga bisa menghancurkan diri mereka sendiri. 

Negeri Beruang Merah itu berkomitmen hanya menggunakan rudal nuklir jika keadaan saat mendesak dan mereka tidak punya pilihan lain atasnya.

Hal ini disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin perihal kebijakan pertahanan dan doktrin nuklir Rusia. Menurutnya, jika negaranya dibom nuklir lebih dulu maka Moskow pasti membalas dengan senjata pemusnah massal dan kehidupan di planet Bumi bisa tamat atau berakhir.

Pemimpin Kremlin itu menyampaikan doktrin nuklirnya dalam forum Valdai Discussion Club di Sochi pada hari Kamis (18/10/2018). Dia menjamin senjata nuklir Moskow tidak untuk serangan pre-emptive (pendahuluan), namun digunakan sebagai pembalasan terhadap negara agresor.

"Tentang apakah kita siap, apakah saya siap, untuk menggunakan senjata yang kita miliki, termasuk senjata pemusnah massal, untuk melindungi kepentingan kita. Saya akan mengingatkan Anda apa yang saya katakan, dan saya mengatakan bahwa dalam konsep senjata nuklir kami tidak ada gagasan serangan pre-emptive," katanya.

"Konsep kami adalah respons terhadap serangan pre-emptive. Bagi mereka yang tahu, tidak perlu menjelaskan apa itu, tetapi bagi yang belum tahu saya akan mengatakannya lagi. Ini berarti bahwa kami siap dan akan menggunakan senjata nuklir hanya ketika kami membuat yakin bahwa seseorang, calon agresor, serangan di Rusia, di wilayah kita," ujarnya.

Sebuah rudal nuklir mobile Topol-12M Rusia. (Foto: REUTERS)
Tetapi Putin juga menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah ragu-ragu untuk menghantam musuh-musuh yang menyerang negaranya dengan kekuatan senjata nuklir total. Putin menegaskan akan melumat dan menghancurkan negara manapun yang menyerang Rusia, dan setiap musuh Rusia harus menyadari konsekuensi kehancuran yang akan mereka terima.

"Agresor harus tahu bahwa pembalasan tidak dapat dihindarkan, bahwa itu akan dihancurkan. Dan kita, para korban agresi, akan pergi ke surga sebagai martir, sementara mereka hanya akan mati, karena mereka tak punya waktu untuk bertobat," paparnya, seperti dikutip Sputnik.

Doktrin nuklir Rusia ini berbeda dengan doktrin nuklir Amerika Serikat (AS). Dalam dokumen Nuclear Posture Review (NPR) terbaru Washington yang dirilis beberapa bulan lalu dinyatakan bahwa Washington bisa menggunakan senjata nuklir sebagai tanggapan atas serangan non-nuklir terhadap dirinya sendiri atau sekutu-sekutunya.

Serangan yang bisa memicu pembalasan bom nuklir AS itu masih samar-samar, sehingga memicu spekulasi bahwa serangan siber pun bisa memungkinkan respons senjata nuklir Amerika. Presiden Putin menekankan bahwa Rusia tidak akan memulai perang nuklir karena akan menyebabkan malapetaka global.

Sejarah mencatat, tanggal 31 Juli 1991 menjadi tonggak awal untuk menuju perdamaian dan keamanan dunia dari ancaman senjata pemusnah massal nuklir. Pada hari itu, dua kekuatan dunia, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet meneken perjanjian untuk mengurangi jumlah senjata nuklir yang dihadapi masing-masing negara.

Di perjanjian bertajuk "START" ini, AS dan Soviet sepakat untuk mengurangi sekitar 35% senjata nuklir yang mereka miliki. Kesepakatan ini ditandatangani di Moskow oleh Presiden AS George HW Bush dan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev. Perjanjian "Start" antara Blok Barat dan Blok Timur ini, baru tercapai setelah 9 tahun bernegosiasi.

Perbedaan sejumlah rudal nuklir yang dimiliki Amerika Serikat dan Rusia (dulu Uni Soviet). (Foto: stilloutinthecold.net)

Penyebaran Kapal Selam Nuklir Rusia di Atlantik Utara Resahkan AS dan NATO

Kapal selam nuklir Angkatan Laut Rusia. Militer Moskow meningkatkan penyebaran kapal selam canggih mereka di kawasan Atlantik, yang menimbulkan keresahan Amerika Serikat dan sekutu NATO. (Foto: Dmitry Lovetsky / © AP)
"Kami melihat adanya peningkatan aktivitas kapal selam Rusia di dekat kabal bawah laut (di Atlantik Utara). Jelas bahwa Rusia memiliki agenda di kawasan dan infrastruktur bawah laut (yang dikelola oleh) NATO,"
MOSKOW -- Sebuah divisi kapal selam bertenaga nuklir Rusia dilaporkan telah melakukan latihan di dekat pangkalan militer Amerika Serikat (AS), kata seorang komandan Rusia. Tanggal dan lokasi misi tersebut tidak diungkapkan, namun saluran tersebut mengatakan bahwa kapal selam Rusia "mencapai garis pantai AS tanpa terdeteksi."

Komandan tidak menyebutkan secara spesifik kapal selam yang terlibat, namun saluran tersebut mencatat bahwa mereka adalah bagian dari Proyek 971 armada Front Utara. Komandan Angkatan Laut mencatat bahwa kapal bertenaga nuklir tersebut "cukup dekat" ke pantai AS.

"Misi ini telah selesai, kapal selam muncul di lokasi yang ditentukan di lautan dan kembali ke markas. Ya. Inilah tujuan kami untuk datang dan pergi tanpa terdeteksi," kata Sergei Starshinov, komandan divisi kapal selam kelas Akula Shchuka-B, kepada Zvezda, saluran TV resmi Kementerian Pertahanan Rusia, Jumat (16/3/2018).

Tanggal dan lokasi misi rahasia tersebut belum diungkapkan, namun stasiun televisi tersebut melaporkan bahwa kapal selam bertenaga nuklir Rusia "mencapai garis pantai AS yang sangat luas".

Dokumenter stasiun televisi militer mengungkap kejadian itu. Menurut seorang perwira kapal selam yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut mengatakan, komando Angkatan Laut memerintahkan untuk mengambil posisi di sekitar pangkalan militer AS selama latihan.

Komandan Skuadron Shchuka-B Sergey Starshinov mengatakan, mereka mendapat perintah agar kapal selam muncul di sekitar pangkalan militer AS. "Kami berhasil melaksanakan misi. Kami muncul sebentar, sebelum kemudian kembali ke markas," ujar Starshinov.


Kapal selam Shchuka-B telah ditugaskan untuk Angkatan Laut Soviet pada tahun 1986. Kapal ini mampu meluncurkan rudal jelajah Kalibr atau Granat, melakukan serangan terhadap target bawah laut dengan torpedo 553mm, dan tetap terendam selama 100 hari. Menurut Rusia Today, Angkatan Laut Rusia saat ini sedang memodernisasi beberapa kapal selam Shchuka-B.
Kapal selam nuklir Rusia yang dalam kode NATO dinamai Akula Project 971. Kapal selam canggih ini menjadi momok menakutkan bagi kekuatan militer AS dan negara-negara di kawasan Eropa yang menjadi rival utama Rusia. (Foto: Istimewa)
Seperti banyak kapal selam nuklir Rusia, informasi status tentang penyebaran kapal Shchuka-B pada saat ini dan masa lalu jarang diungkap. Beberapa kapal selam Akula-class dioperasikan oleh Angkatan Laut Rusia dan telah dimodernisasi. Satu kapal selam Shchuka-B diketahui disewakan ke India dan memasuki layanan militer dengan nama INS Chakra.

Pada 2016, seorang pejabat senior Angkatan Laut AS mengeluhkan kemampuan sebuah cabang militer karena tidak dapat memastikan penempatan kapal selam Rusia pada tingkat yang tak terlihat sejak Perang Dingin.

"Kapal selam yang kami lihat jauh lebih sembunyi-sembunyi. Orang-orang Rusia memiliki sistem senjata yang lebih canggih, sistem rudal yang dapat menyerang daratan pada rentang yang panjang dan kemampuan operasional mereka semakin baik karena jaraknya jauh dari perairan rumah (mereka)," kata Admiral Mark Ferguson, komandan Angkatan Laut AS di Eropa pada saat itu, kepada CNN.

NATO Resah dengan Penyebaran Kapal Selam Rusia


NATO melaporkan bahwa sejumlah kapal selam Rusia tengah meningkatkan presensi dan aktivitasnya di Laut Atlantik Utara sejak beberapa waktu terakhir. Aktivitas itu, menurut NATO, merupakan sebuah langkah agresif dari Rusia yang mampu mengganggu stabilitas di kawasan serta berpotensi memicu sejumlah masalah lain.

Salah satu insiden paling panas adalah saat Kapal penjelajah Inggris mengawal kapal perang Rusia yang melintas di Laut Utara di dekat perairan Inggris saat Natal. Disebutkan kapal Angkatan Laut Inggris, HMS St Albans "terus mengawasi aktivitas kapal Rusia Admiral Gorshkov untuk menjaga kedaulatan wilayahnya".

Pada Januari lalu, sebuah kapal perang Inggris dan tiga pesawat tempur RAF mengawal kapal induk Rusia dan sejumlah kapal lainnya yang melintas ke arah Selat Inggris.

Angkatan Laut Inggris mengatakan ada kenaikan jumlah kapal-kapal Rusia yang melintas di dekat perairan Inggris. Inggris mewaspadai kemungkinan Rusia akan menyerang keberadaan saluran kabel internet di bawah laut. Disebutkan kabel-kabel itu melintas di dasar laut yang menghubungkan antar negara dan benua.

Marsekal Udara Sir Stuart Peach, kepala staf pertahanan Inggris, pada awal bulan ini mengatakan bahwa Inggris dan NATO harus memprioritaskan untuk melindungi jalur komunikasi tersebut.

NATO khawatir, kabel bawah laut penyalur transmisi komunikasi dan internet untuk kawasan Eropa serta Amerika Utara itu sewaktu-waktu dapat dibajak oleh kapal selam Rusia tersebut.

Kapal selam Rusia, Stary Oskol (kiri), dicegat oleh fregat HMS Kent saat melaju di wilayah Selat Inggris pada Selasa malam. (Foto: MoD Crown Copyright / PA)