Jalur Militer

KRI Ardedali 404, Kapal Selam Pembelian Era SBY Siap Perkuat TNI AL

KRI Ardadedali 404 merupakan salah satu dari tiga kapal selam yang Indonesia pesan dari Korea Selatan. Pembuatan dua kapal selam dilakukan di galangan DSME dan satu lainnya di PT PAL Surabaya. (Foto: Istimewa)
"Pengadaan alutsista TNI AL ini merupakan program strategis TNI AL jangka panjang, hal ini merupakan suatu hal yang wajar sebagai wujud peremajaan alutsista guna mengganti alutsista  yang berumur diatas 25 sampai dengan 30 tahun,"
JAKARTA -- Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mendapatkan tambahan kapal selam baru. Kapal selam yang diproduksi di galangan kapal di Daewoo Shipbulding and Marine Engineering Co, Ltd (DSME), Okpo, Korea Selatan (Korsel) itu diberi nama KRI Ardadedali 404.

KRI Ardadedali 404 berangkat dari dermaga galangan kapal DSME, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan pada 30 April 2018, melintasi laut selama 17 hari menuju Indonesia.

Rute yang dilalui adalah Okpo (Korsel), Selat Korea, Perairan Jepang, Laut Cina Timur, Selat Luzon, Laut Cina Selatan, Selat Apo, Selat Cuyo, Laut Sulu, Selat Sibutu, Laut Sulawesi, Selat Makassar - Laut Jawa Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) hingga akhirya merapat di Dermaga Kapal selam Koarmada II Surabaya, Jawa Timur pada Kamis, 17 Mei 2018.

"Pengadaan alutsista TNI AL ini merupakan program strategis TNI AL jangka panjang, hal ini merupakan suatu hal yang wajar sebagai wujud peremajaan alutsista guna mengganti alutsista  yang berumur diatas 25 sampai dengan 30 tahun," kata Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Ade Supandi yang menjadi Inspektur upacara dalam penyambutan kapal selam KRI Ardadedali 404 dalam keterangan tertulis, Jumat, 18 Mei 2018. 

Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Totok Sugiharto menjelaskan, nama Ardadedali diambil dari salah satu nama senjata panah yang dimiliki tokoh dalam dunia pewayangan Arjuna. "Anak panah Ardadedali merupakan senjata yang dahsyat yang dapat melumpuhkan musuhnya di medan pertempuran besar," kata Totok, Senin (30/4).

KRI Ardadedali 404 merupakan kapal selam type 209/400 DSME yang memiliki bobot 1.280 ton saat muncul di permukaan dan bobot menjadi 1.400 ton saat menyelam. Kapal selam ini memiliki empat mesin diesel MTU 12V493 yang mendukung jarak jelajah mencapai 18.520 km. KRI Ardadedali 404 ini juga dilengkapi Latest Combat System, Enhanced Operating System, Non-hull Penetrating Mast dan Comfortable Accomodation.

Prajurit TNI AL menambatkan tali KRI Ardadedali-404 ketika tiba di Dermaga Kapal Selam Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. (Foto: Antara/Zabur Karuru)
Memiliki panjang 61,3 meter, diameter 6,2 M, dengan draft 5,7 M yang mampu menampung 40 kru kapal. Kapal ini memiliki kecepatan mencapai 21 knot di bawah air dan 12 knot di permukaan. KRI Ardadedali mampu berlayar lebih dari 50 hari untuk menunjang fungsi operasi.


Kapal selam KRI Ardedali 404 merupakan kapal dengan sistem tempur terbaru dibandingkan kapal selam yang sudah dimiliki Indonesia saat ini. sistem operasi yang ditingkatkan, tiang penetrasi tanpa lambung, dan akomodasi yang nyaman.


Kapal tersebut dilengkapi dengan peluncur torpedo yang mampu melepaskan torpedo 533 mm. Kapal juga mampu melepaskan peluru kendali antikapal permukaan yang merupakan modernisasi armada kapal selam TNI AL.

Pembelian pada Era Pemerintahan Presiden SBY

Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji kepada wartawan di Surabaya, Senin (17/9), mengatakan kapal selam tersebut adalah pesanan kedua, dari tiga kontrak pembelian kapal selam dari Korea Selatan yang dilakukan para masa era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemudian melanjutkan program pengadaan persenjataan era SBY tersebut. Kapal selam yang dipesan Indonesia adalah kelas Changbogo senilai 250 juta dolar AS.

Salah satu bentuk kesepakatan kontrak pembelian adalah kapal selam pertama dan kedua akan dibangun di galangan kapal DSME Korea Selatan, dan kapal selam ketiga akan dibangun di galangan kapal PT PAL di Indonesia, melalui mekanisme transfer teknologi (ToT). Dengan adanya ToT, Indonesia berharap di masa depan akan mampu menciptakan kapal selam buatan dalam negeri secara mandiri.

Kapal Selam pertama dengan nama KRI Nagapasa 403 yang murni dibuat oleh teknisi dan tenaga kerja Korea Selatan di galangan DSME, sudah lebih dulu datang dan memperkuat alutsista TNI AL. Kapal selam kedua KRI Ardadedali 404 dibuat di galangan DSME Kores Selatan dengan teknisi Indonesia dan teknisi Korea Selatan.

Prajurit TNI AL berusaha menambatkan tali KRI Ardadedali-404 ketika tiba di Dermaga Kapal Selam Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jawa Timur, 17 Mei 2018. (Foto: Antara/Zabur Karuru)

Persaingan Militer AS, Rusia dan China Merambah ke Luar Angkasa

Ruang angkasa berpotensi menjadi medan perang baru, setelah Rusia, China dan Amerika Serikat menyatakan akan membangun kekuatan militer di luar angkasa. (Foto: dailystar.co.uk)
“Kami telah memperingatkan semua pihak selama bertahun-tahun perlunya melindungi aset ruang angkasa dan mengembangkan kapabilitas sistemnya. Kami tidak memilih untuk mempersenjatai ruang angkasa, tapi jika kami ditantang, kami akan memberikan respons,"
WASHINGTON DC -- Peperangan di luar angkasa yang selama ini hanya disaksikan dalam film-film fiksi, tidak lama lagi sepertinya akan benar-benar terjadi di dunia nyata. Hal ini dipicu tiga negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia, yakni Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China yang menyatakan akan memperkuat dan bahkan menciptakan senjata yang dapat digunakan dalam perang luar angkasa di masa depan.

Tiga negara tersebut bersaing membentuk dan memperkuat Tentara Angkatan Antariksa (AA). Teranyar AS akan menggelontorkan dana hingga USD8 miliar untuk mendominasi bagian atas bumi itu. Rencananya proyek tersebut dimulai pada 2020.

Di AS sendiri, teori perang bintang masih menjadi perdebatan. Kebijakan yang digagas Presiden AS Donald Trump sejak Juni itu masih membutuhkan persetujuan Kongres karena pembentukan Tentara AA akan menjadi bagian dari cabang keenam militer. Pendirian Tentara AA negeri Paman Sam dipastikan akan memacu persaingan.

Sejumlah anggota Kongres dan pejabat militer sudah memperingatkan, ruang angkasa tidak lama lagi menjadi tempat damai. Jika terjadi konflik, wilayah hampa udara itu akan menjadi salah satu pusat pertempuran karena negara besar bergantung pada satelit dalam mengantisipasi misil, berkomunikasi, dan mengelola data.

Pasukan AS sedang menguji pesawat ruang angkasa yang disebut Boeing X-37. (Foto: dailystar.co.uk)
Namun, AS menghadapi dilema yang tidak memungkinkan mereka hanya diam atau mundur, pasalnya seteru abadi seperti Rusia dan China, mengalami kemajuan yang lebih pesat dibanding AS terkait aset Tentara AA. Rusia bahkan sudah melangkah jauh.

Trump menginginkan Tentara AA yang independen dan memiliki seragam serta logo sendiri. Gedung Putih meminta Parlemen merancang aturan baru pada awal tahun depan.


Beberapa anggota Kongres pernah mengadvokasi pembentukan Korps Antariksa di tubuh Tentara AU pada tahun lalu, mirip Korps Marinir di tubuh Tentara Angkatan Laut. Namun, Trump menginginkan departemen baru. Para ahli mengatakan pembentukan depar temen baru sama saja akan memerlukan birokrasi baru.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengaku sadar pembentukan Tentara AA tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Dia mengatakan Pentagon memerlukan asisten Menteri Pertahan untuk antariksa, jabatan tinggi yang bertanggung jawab memberikan laporan terkait perkembangan dan ekspansi layanan Tentara AA terhadap Menhan.

Pasukan luar angkasa Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
Jenderal Tentara AU Paul Selva yang juga wakil kepala staf gabungan mengatakan, Pentagon sangat antusias untuk mendirikan Komando Antariksa guna mempercepat rencana militerisasi ruang angkasa, sebab militer AS tidak pernah membentuk departemen baru sejak pembentukan Tentara AU pada 1947. Komando Antariksa akan diperkuat ahli ruang angkasa dari seluruh cabang militer, satelit, dan teknologi terbaru dan canggih.

Adapun Menteri Pertahanan (Menhan) AS Jim Mattis mengatakan, Pentagon dan Gedung Putih memiliki kesamaan pandangan terkait pentingnya Tentara AA setelah sebelumnya menentang pembentukan departemen baru.

Mattis sempat menentang karena anggarannya kosong. Pada 2017 anggaran militer AS mencapai USD590 miliar. Sekretaris Eksekutif Dewan Antariksa Nasional Scott Pace mengatakan, reorganisasi Tentara AA harus menggunakan anggaran secukupnya.

Anggota House Armed Services Committee Mike D Rogers dan Jim Cooper menyambut baik pembentukan Tentara AA yang diharapkan dapat memperkuat AS. 


“Kami telah memperingatkan semua pihak selama bertahun-tahun perlunya melindungi aset ruang angkasa dan mengembangkan kapabilitas sistemnya. Kami tidak memilih untuk mempersenjatai ruang angkasa, tapi jika kami ditantang, kami akan memberikan respons," katanya.
Kosmonot Yuri A. Gagarin. Sejarah mencatat, Rusia atau dulu dikenal sebagai Uni Soviet, merupakan negara adidaya yang menjadi pioner penjelajahan ruang angkasa. (Foto: Istimewa)
Ancaman Perang Luar Angkasa

Saat ini Rusia satu-satunya negara yang sudah mendirikan Tentara AA bernama Kosmicheskie Voyska Rossii (KVR). KVR merupakan hasil merger antara Tentara Angkatan Udara dan Pasukan Pertahanan Antariksa Rusia. KVR didirikan pada 10 Agustus 1992 dan beroperasi di Plesetsk dan Svobodny Cosmodromes.


Sedangkan China pada 2007 berhasil meledakkan satelit cuaca yang sudah rusak hingga berkeping-keping dengan misil ruang angkasa. Uji coba serupa juga dilakukan terhadap satelit diorbit jauh. 

China telah menggalakkan program ruang angkasa sejak beberapa tahun terakhir. AS menyebut aksi itu sebagai tindakan provokatif, dan menuduh China telah mencuri teknologi dalam skala besar dari AS.

Persaingan penguasaan atau penaklukan ruang angkasa sudah terjadi sejak 1960-an. AS dan Rusia pernah bersaing menuju bulan untuk menunjukkan keadidayaan mereka. “Jangan sampai melakukan kesalahan. Kami sedang berperang dengan China,” kata CEO dan Chairman Nano-Mech, Jim Phillips.

Program ruang angkasa China: Beijing menginvestasikan miliaran untuk ekspansi ke orbit Bumi. (Foto: dailystar.co.uk)

Gunakan Teknologi Kuno, Jet Tempur Buatan Iran Jadi Bahan Tertawaan AS dan Israel

Presiden Iran Hassan Rouhani duduk di kokpit jet tempur Kowsar Iran, Selasa (21/8/2018). (Foto:IRNA)
"Ini hampir seperti peristiwa yang menggelikan, ini adalah pesawat yang tidak kami gunakan dalam 20 tahun, kecuali untuk melatih negara lain dalam cara menerbangkan pesawat Amerika. Teknologi kuno ini tidak mengintimidasi."
TEHERAN -- Embargo militer tidak menyurutkan Republik Islam Iran untuk bangkit dan mandiri dalam bidang teknologi persenjataan. Negeri paramullah tersebut secara perlahan mampu menciptakan sejumlah persenjataan seperti tank, rudal, drone dan bahkan pesawat tempur.

Iran mengklaim telah berhasil menciptakan jet tempur generasi keempat yang diberi nama Kowsar. Stasiun televisi pemerintah Iran memamerkan adegan pesawat Kowsar saat lepas. Video itu direkam dari dalam kokpit.

Peluncuran Kowsar bahkan dihadiri langsung Presiden Hassan Rouhani yang duduk di kokpit sambil memeriksa jet tempur tersebut. Dalam laporan Selasa, kantor berita pemerintah Iran, Fars, mengatakan fungsi utama pesawat tempur itu adalah untuk misi pelatihan. Iran mengklaim, Kowsar merupakan jet tempur yang diproduksi sendiri oleh Iran dengan sistem avionik terdepan.

Jet Tempur Buatan Iran Jadi Bahan Tertawaan Barat

Kowsar, pesawat tempur baru Iran yang diklaim buatan dalam negeri, juga menarik perhatian para pakar militer Barat. Peluncuran pesawat itu dianggap sebagai kejadian menggelikan, karena Kowsar bisa jadi target empuk jet tempur canggih Amerika Serikat (AS), seperti F-22.


Sebab, setiap pesawat tempur Iran yang menyeberang ke Irak atau Suriah akan menghadapi jet-jet tempur canggih AS, termasuk F-16 dan F-22. Dua jet tempur AS itu rutin terbang di atas wilayah Irak dan Suriah sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi koalisi pimpinan AS melawan kelompok militan Islamic State atau ISIS.

Kowsar, jet tempur buatan Iran yang dianggap merupakan hasil jiplakan teknologi lama pesawat tempur Amerika Serikat. (Foto: IRNA)
Para pakar Barat meyakini, pesawat tempur itu mirip pesawat F-5 Tiger Amerika yang sudah usang dan mempertanyakan keampuhan senjatanya. Namun, mereka tetap menghargai pesawat yang berpotensi untuk pelatihan.

"Ini hampir seperti peristiwa yang menggelikan, ini adalah pesawat yang tidak kami gunakan dalam 20 tahun, kecuali untuk melatih negara lain dalam cara menerbangkan pesawat Amerika. Teknologi kuno ini tidak mengintimidasi." kata Michael Pregent, seorang analis Timur Tengah di Hudson Institute yang berbasis di Washington, dalam wawancara dengan VOA Persian, Minggu (26/8/2018). .

Pregent mengatakan keterbatasan Kowsar sebagai pesawat tempur modern dapat menjadi bumerang bagi Iran.

"Iran ingin dapat memproyeksikan kemampuan ofensif (udara) di Selat Hormuz dan setidaknya menunjukkan kemampuan yang sama untuk menyerang pasukan Amerika di Irak dan Suriah. Tapi saya pikir (peluncuran Kowsar) akan menjadi bumerang, karena AS akan meningkatkan postur pertahanannya di Irak dan Suriah dan membuatnya sangat mudah untuk menembak salah satu dari mereka," ujarnya.

Jet tempur buatan Iran dianggap hanya akan menjadi sasaran empuk bagi jet-jet tempur canggih negara-negara yang menjadi musuhnya, jika terjadi perang terbuka. (Foto: IRNA)

Rusia Akan Kerahkan Senjata Nuklir di Suriah Jika AS Jatuhkan Sanksi

Rusia menanggapi dengan keras ancaman sanksi yang akan dijatuhkan oleh pemerintahan Donald Trump. Salah satunya dengan menempatkan senjata nuklir di wilayah Suriah untuk membendung hegemoni AS. (Foto: Daily Star/Getty)
"Kita harus mengikuti saran dari para ahli, yang mengatakan bahwa Rusia mungkin harus menangguhkan pelaksanaan perjanjian pada non-proliferasi teknologi rudal, dan juga mengikuti contoh AS dan mulai menyebarkan senjata nuklir taktis kami di negara-negara asing. Ada kemungkinan bahwa Suriah, di mana kita memiliki pangkalan udara yang dilindungi dengan baik, dapat menjadi salah satu dari negara-negara tersebut,"
MOSKOW -- Berbagai macam sanksi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) kepada musuh abadinya, Rusia, membuat negeri Beruang Merah itu semakin tersudut. Rusia pun mengancam akan membalas perlakuan AS itu dengan tindakan yang setimpal.

Salah satunya Moskow berencana akan menempatkan senjata nuklir taktis Rusia di negara-negara sekutu seperti Suriah. Langkah itu diambil Moskow sebagai respons atas sanksi dari Washington yang dianggap tak masuk akal.

Gagasan dari para ahli Rusia itu dibocorkan Vladimir Gutenev, Wakil Kepala Komite Kebijakan Ekonomi Duma Negara (Parlemen Rusia). Dia mengatakan, sudah waktunya bagi Rusia untuk menarik garis merahnya sendiri. Menurutnya, pemerintah Rusia harus mengikuti saran dari para ahli tersebut.

"Saya percaya bahwa sekarang Rusia harus menggambar 'garis merah' sendiri. Saatnya telah tiba untuk merenungkan varian tanggapan asimetris terhadap AS, yang sekarang sedang disarankan oleh para ahli dan dimaksudkan tidak hanya untuk mengimbangi sanksi mereka tetapi juga untuk melakukan beberapa kerusakan balas dendam," lanjut dia, dilansir Express.co.uk, Minggu (26/8/2018).

Presiden Rusia Vladimir Putin, (kanan), mememeriksa kesiapan pasukan Rusia, saat mengunjungi pangkalan udara Hmeimim di Suriah, 11 Desember 2017. (Foto: Mikhail Klimentyev/Sputnik/Kremlin Pool Photo via AP)
Langkah pembalasan lainnya adalah penggunaan cryptocurrency untuk ekspor senjata Rusia dan penangguhan sejumlah perjanjian dengan AS seperti perjanjian non-proliferasi teknologi nuklir.

"Kita harus mengikuti saran dari para ahli, yang mengatakan bahwa Rusia mungkin harus menangguhkan pelaksanaan perjanjian pada non-proliferasi teknologi rudal, dan juga mengikuti contoh AS dan mulai menyebarkan senjata nuklir taktis kami di negara-negara asing. Ada kemungkinan bahwa Suriah, di mana kita memiliki pangkalan udara yang dilindungi dengan baik, dapat menjadi salah satu dari negara-negara tersebut," ujar Gutenev.

AS dan sejumlah negara Uni Eropa, terutama negara-negara Anggota NATO, sudah berkali-kali memberikan sanksi bagi ekonomi, militer maupun sanksi diplomatik kepada Rusia untuk melemahkan Moskow. Namun, sanksi tersebut justru malah meningkatkan perlawanan Rusia dalam melawan hegemoni Barat.

Sanksi terbaru Washington terhadap Moskow dijatuhkan pada 22 Agustus lalu sebagai tanggapan atas dugaan keterlibatan Moskow dalam meracuni bekas mata-mata Kremlin, Sergei Skripal dan putrinya di Salisbury, Inggris. Sergei dan putrinya, Yulia, ditemukan tidak sadarkan diri di bangku dekat pusat perbelanjaan Maltings di Salisbury, beberapa bulan lalu.

Sebuah ledakan terjadi di sebuah gudang senjata milik pemberontak Suriah di wilayah Ghouta Timur, akibat dibombardir pesawat tempur Rusia. (Foto: Daily Star/Getty)

Bom MK-82 Arab Saudi Hujani Yaman, Tewaskan Puluhan Wanita dan Anak-anak

Pasukan militer Arab Saudi dan kelompok sekutunya terus membombardir wilayah Yaman. Bahkan Saudi tak segan-segan menggunakan bom canggih Mark-82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat untuk menyerang negara miskin tersebut. (Foto: PressTV)
"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang,"
SANAA -- Militer Kerajaan Arab Saudi kembali membombardir wilayah Yaman dalam agresi mereka untuk mengalahkan negara miskin tersebut. Stasiun Al Massira TV yang dikelola Houthi melaporkan, 22 anak dan empat wanita tewas pada hari Kamis setelah serangan jet tempur Koalisi Arab yang menargetkan sebuah kamp bagi orang-orang telantar di ad-Durayhimi.

Kelompok pejuang Houthi Yaman mengatakan, serangan terhadap puluhan warga sipil ini hanya berselang dua minggu setelah serangan udara Koalisi Arab terhadap bus sekolah yang menewaskan 40 anak laki-laki. Belakangan diketahui, bom yang digunakan untuk menyerang bus sekolah itu adalah bom Mark 82 atau MK-82 buatan Amerika Serikat (AS).

Juru bicara pejuang Houthi Yaman, Mohammed Abdul-Salam, mengatakan serangan Koalisi Arab terjadi di Distrik ad-Durayhimi, 20 kilometer (12,5 mil) dari Kota Hodeida.

Anak-anak Yaman yang menjadi korban serangan militer Arab Saudi dan sekutu. (Foto: Business Insider)
Namun, kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab (UEA), WAM, melaporkan bahwa pemberontak Houthi yang meluncurkan serangan rudal balistik di daerah tersebut. UEA merupakan bagian dari Koalisi Arab pimpinan Saudi. Versi media itu, satu anak tewas dan lusinan lainnya terluka.

Hussein al-Bukhaiti, seorang wartawan Yaman di Sanaa, mengatakan jumlah korban tewas dalam serangan udara Kamis mencapai 31 orang. Data itu mengutip sumber medis setempat. Menurut Al-Bukhaiti, puluhan anak-anak dan wanita diserang sebelum mereka naik bus dalam upaya untuk melarikan diri.

"Serangan Saudi pada awalnya menargetkan sebuah desa di daerah ad-Durayhimi di selatan Hodeidah, menewaskan lima orang dan melukai dua (orang) lainnya. Tetapi serangan kedua Saudi-UEA menargetkan bus itu, membunuh semua orang," ujarnya, katanya kepada Al Jazeera, Jumat (24/8/2018).

Seorang anak Yaman memperlihatkan serpihan bom MK-82 Arab Saudi yang membombardir negara itu. (Foto: YemenExtra)
Agresi Koalisi Arab terhadap Yaman dengan dalih memerangi pemberontak Houthi sudah berlangsung sejak Maret 2015. Konflik itu telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan banyak warga di negara miskin itu dilanda kelaparan.

PBB dan dunia internasional seakan bungkam dengan aksi brutal yang dilakukan Saudi terhadap Yaman. Menurut sejumlah laporan internasional, saat ini Yaman sudah berada dalam kondisi bencana kemanusiaan yang berat, dampak dari agresi militer yang dilakukan Arab Saudi beserta sekutunya.(*JM)

Sumber:AlMassiraTV/AlJazeera

Serangan Rudal Berhasil Dihalau, Suriah Meledek Kekuatan Militer Amerika dan Sekutu

Sebuah sistem pertahanan Suriah menembakkan misil mencegat rudal-rudal yang ditembakkan Amerika Serikat dan Sekutu saat menyerang ibukota Damaskus. (Foto: presstv.com)
“Trump menghancurkan institusi ini, yang tidak memiliki koneksi untuk memproduksi senjata apa pun. Ini adalah kebohongan perang tentang senjata kimia yang diciptakan Trump. Pusat Sains dan Penelitian yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Suriah terbaik setiap tahun menjadi sasaran,"
DAMASKUS --- Aksi Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara sekutunya seperti Inggris dan Prancis yang menyerang Suriah secara tiba-tiba, mendapat perlawanan keras dari Suriah. Berniat ingin menunjukkan 'otot' dan 'taringnya' kepada dunia, AS dan sekutu justru mendapat cemoohan bukan hanya di dalam negeri mereka masing-masing, tapi justru oleh Suriah dan Rusia.

Pertahanan anti pesawat Suriah menembak jatuh rudal yang ditembakkan ke pangkalan udara Suriah Shayrat, Homs, dan pangkalan lain di timur laut Ibu Kota Damaskus. Televisi Suriah memperlihatkan gambar-gambar sebuah rudal yang ditembakkan di atas pangkalan udara.


Dilansir dari Reuters, Selasa (17/4/2018),  Serangan ini hanya beberapa saat setelah serangan AS dan Sekutu terhadap sejumlah sasaran di Suriah, sebagai pembalasan atas dugaan serangan bahan kimia di kota Douma di pinggiran Damaskus.

Televisi pemerintah tidak menyebutkan jumlah rudal yang ditembakkan ke bandara militer Dumair, timur laut Damaskus tersebut, namun media Hezbollah melaporkan sembilan serangan rudal Sekutu telah dicegat oleh sistem pertahanan udara Suriah.

Menurut sumber oposisi Suriah, pangkalan udara Dumair adalah pangkalan utama pasukan pemerintah untuk menyerang daerah kantong pemberontak di pinggiran Damaskus. Sedangkan Pangkalan udara Shayrat pernah menjadi target serangan rudal jelajah AS tahun lalu. 


Menurut AS, serangan itu sebagai balasan atas serangan kimia yang menewaskan sedikitnya 70 orang, termasuk anak-anak, di kota Khan-Khaniqun yang dikuasai pemberontak.
Sebuah gambar yang disiarkan oleh Angkatan Laut AS, menunjukkan kapal perang penjelajah USS Monterey (CG 61), menembakkan rudal Tomahawk, dari lepas pantai Suriah. (Foto: PTI)
Menurut laporan Suriah, selain dibantu kekuatan Sekutu, Israel juga ikut ambil bagian dalam agenda AS untuk menyerang Suriah. Namun, As membantah telah menyerang pangkalan militer Suriah, seorang juru bicara Pentagon mengatakan tidak ada kegiatan militer AS di daerah itu pada saat ini.

"Tidak ada kegiatan militer AS di daerah itu pada saat ini. Kami tidak memiliki detail tambahan untuk diberikan," kata Eric Pahond, seorang juru bicara Pentagon, Selasa (17/4).

Walau diperkuat hasil laporan Rusia, bahwa Zionis ada di belakang penyerangan pangkalan udara T-4 di Homs, Israel tetap tidak mengakuinya dan melalui seorang juru bicara militer mengatakan: "Kami tidak berkomentar tentang laporan seperti itu."

Suriah 'Meledek' Serangan AS dan Sekutu

Terkait aksi 'koboy' AS dan Sekutu terhadap Suriah, Penasihat politik Presiden Bashar al-Assad, Bouthaina Shaaban memuji sistem pertahanan udara Suriah. Pasalnya, sebagian besar rudal yang ditembakkan AS dan sekutunya pada akhir pekan lalu berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Suriah.

"Pecahnya agresi jahat mereka adalah awal dari lenyapnya kekaisaran mereka, yang akan digantikan oleh kekuatan baru yang menghormati kemanusiaan, kedaulatan dan keamanan masyarakat," katanya seperti dilansir dari Press TV, Selasa (17/4/2018).

Perempuan berusia 65 tahun itu juga meledek tweet Trump sebelum serangan, yang memperingatkan Suriah dan sekutunya untuk bersiap-siap menghadapi serangan misil. Donald Trump menyebut bahwa misil-misil yang diluncurkan akan menghindari pertahanan udara Suriah karena mempunyai kualitas yang "baik dan baru serta cerdas."

Rudal sistem pertahanan Suriah mencegat serangan Rudal AS dan Sekutu di atas langit kota Damaskus. (Foto: AP)
“Fakta paling penting yang harus kita catat di sini untuk Trump adalah bahwa misilnya tidak cerdas, tidak akurat dan bahwa pertahanan udara Suriah telah memberikan bukti bahwa mereka lebih pintar dan akurat daripada misilnya. Dia harus berhati-hati tentang tweet-nya,” ledek Shaaban.

Shaaban menjelaskan, Serangan AS, Sekutu dan Israel alih-alih membuat Rakyat Suriah ketakutan dan mencari tempat perlindungan, justru malah kembali membangkitkan semangat juang dan persatuan Suriah. Kini warga Suriah malah keluar dari bunker-bunker perlindungan dan siap menyambut serangan Sekutu sampai titik darah penghabisan.

“Alih-alih orang-orang Suriah pergi ke tempat penampungan, mereka pergi ke atap untuk menyaksikan pasukan Suriah menembak jatuh sejumlah rudal Trump sebelum mereka dapat mencapai tujuan mereka," cetus Shaaban.

Hizbullah: Serangan AS dan Sekutu Telah Gagal Meneror Suriah

Pemimpin Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah menyebut, serangan Barat terhadap Suriah gagal meneror negara itu. Melalui pidato yang disiarkan televisi dari ibu kota Lebanon di Beirut, Nasrallah menyatakan bahwa serangan ini dimaksudkan untuk menghancurkan tekad bangsa Suriah dan pasukan pemerintah, tetapi serangan itu malah meningkatkan ketahanan dan ketabahan mereka.

Petinggi Hizbulllah menyatakan,  AS dan sekutunya tidak dapat mencapai tujuan apapun dari serangan rudal tersebut. "Jika serangan ini ditujukan untuk meningkatkan moral kelompok bersenjata, itu benar-benar membuat mereka frustrasi!" Kata pemimpin Hizbullah itu.

Sebuah sistem pertahanan Pantsir-S1 menembakkan salah satu dari dua belas rudal permukaan ke udara 57E6-nya. Seperti halnya Buk-M2E dan Pechora-2M, sistem ini terutama terkonsentrasi di sekitar Damaskus dan Wilayah pesisir Suriah. Agar lebih berbaur dengan lingkungan di sepanjang pantai, banyak Pantsir-S1s yang telah dikamuflase agar sama dengan warna lingkungan padang gurun di sekitarnya, sehingga luput dari pandangan musuh. (Foto: Istimewa)
Dia menegaskan bahwa AS, Inggris dan Prancis bergegas untuk meluncurkan serangan rudal terhadap Suriah karena mereka tahu klaim mereka terkait serangan senjata kimia terhadap kota Douma Damaskus, tidak berdasar. "Mereka ingin menyelesaikan skenario sebelum ahli senjata kimia internasional dapat mencapai lokasi yang diduga," kata sekjen Hizbullah.

Menurut Nasrallah, militer AS dan Sekutu melakukan serangannya secara terbatas karena tahu serangan lebih luas bakal memicu pembalasan dari Damaskus, Moskow dan sekutu Suriah lainnya, termasuk dari Hizbullah. Sebab, Hizbullah dan Iran akan tetap menjadi sekutu utama Damaskus dan memenangkan perang Proxy untuk mengembalikan kedaulatan Suriah.

"Militer Amerika Serikat tahu betul bahwa AS bergerak ke arah bentrokan luas dan operasi besar melawan pemerintah dan tentara serta pasukan sekutu di Suriah tak akan ada akhirnya. Setiap bentrokan seperti itu akan mengobarkan semangat seluruh wilayah," kata Nasrallah dalam unjuk rasa di Bekaa, Lebanon.

Seperti diketahui, pada hari Sabtu (14/4), Suriah menjadi sasaran serangan agresi AS, Inggris dan Prancis dan Israel. Serangan yang dilakukan atas perintah Presiden  AS, Donald Trump tersebut, menargetkan Pusat Penelitian di Barzeh dan gudang untuk tentara Arab Suriah di Homs.

Barat melakukan agresi dengan alasan untuk menghancurkan senjata Kimia Suriah, dan menuduh Damaskus telah melakukan serangan kimia di kota Douma yang dikuasai militan ISIS dan kubu pemberontak.

Rudal 9M33 saat akan ditembakkan dari sistem pertahanan 9K33 Osa SAM. Suriah telah menerjunkan 9K33 sejak tahun 80-an untuk melindungi perbatasan dan bahkan digunakan untuk melindungi wilayah udara Lebanon. Sistem pertahanan ini kembali digunakan setelah kelompok militan Jaish al-Islam mendapat bantuan beberapa peluncur rudal dari Barat di Ghouta Timur pada tahun 2012. Suriah bahkan mengembangkan sistem pertahanan 9K33 agar dapat dioperasikan menggunakan helikopter SyAAF, di atas wilayah teritorial yang dikuasai Jaish al-Islam. (Foto: istimewa)
Namun tuduhan tak berdasar tersebut langsung dibantah Damaskus, sebab, Suriah telah menyerahkan seluruh persediaan bahan kimianya di bawah kesepakatan yang dinegosiasikan oleh Rusia dan AS pada 2013 lalu. Sedangkan menurut laporan Rusia, justru Inggris yang menjadi dalang dibalik serangan senjata kimia tersebut melalui tangan kubu pemberontak.

Penasihat politik Presiden Bashar al-Assad, Bouthaina Shaaban mengecam tuduhan kepala Pentagon Jim Mattis bahwa instalasi yang terkait dengan produksi senjata kimia telah dibom.

“Trump menghancurkan institusi ini, yang tidak memiliki koneksi untuk memproduksi senjata apa pun. Ini adalah kebohongan perang tentang senjata kimia yang diciptakan Trump. Pusat Sains dan Penelitian yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Suriah terbaik setiap tahun menjadi sasaran," tegas Shaaban.

Pejabat Suriah tersebut berpendapat, Barat sengaja menghancurkan pusat-pusat penelitian dan riset Suriah, karena ketakutan dan tak ingin Suriah atau negara-negara Arab yang menjadi musuhnya bisa menguasai teknologi tingkat tinggi. AS, Sekutu dan Israel takut jika Suriah mampu mempersenjatai dirinya dengan sains dan pengetahuan tersebut.

“Tanggapan nyata terhadap agresi, pendudukan, dan upaya mereka untuk melikuidasi Palestina dan mempermalukan orang Arab dan pan-Arabisme adalah memiliki lebih banyak ilmu dan pengetahuan, dan untuk mengembangkan kemampuan dan pertahanan udara dan laboratorium kami, dan untuk menghasilkan apa pun yang mengamankan kebutuhan generasi kita,” tukas Shaaban.

Sebuah rudal 9M317 saat akan diluncurkan dari transporter-erector-launcher 9A316 (TEL). 9A316 membawa empat radar ulang-alih. Dalam keadaan normal, batalyon Buk terdiri dari enam TELAR dan tiga TEL, yang dapat dibagi lagi menjadi tiga baterai dengan dua TELAR dan satu TEL masing-masing. Setiap batalion juga termasuk radar akuisisi target, kendaraan komando dan truk yang membawa lebih banyak muatan. Sistem pertahanan ini menjadi salah satu yang terkuat di Suriah. (Foto: istimewa)

Hamas Merapat ke Iran, Arab Saudi Ingin Lucuti Kekuatan Pejuang Palestina

Para pejuang Hamas. Penolakan para pejuang Hamas untuk ikut serta bergabung dalam invasi Arab Saudi menyerang rakyat Yaman, ditanggapi dengan kemarahan oleh dinasti Al-Saud. Di tengah kedekatan Hubungan Arab Saudi saat, terselip sebuah konspirasi untuk melucuti kemampuan tempur pejuang Hamas dalam menghadapi Israel. (Foto: Istimewa)
"Semua orang tahu bahwa Hamas merupakan pergerakan yang memerangi pendudukan Zionis di tanah Palestina dan Hamas hanya memiliki agenda rakyat Palestina (saja),”
GAZA -- Hubungan antara Arab Saudi dan organisasi pejuang Hamas, memasuki babak baru. Pada Minggu 10 Juli 2016, kelompok Hamas di Palestina mengutuk pernyataan dari salah satu pangeran di Arab Saudi yaitu Turki al-Faisal yang mengatakan, Hamas dan Kelompok Harakat al-Jihad al-Islami fi Filasthin telah menyebarkan kekacauan.

“Ini adalah sebuah bentuk kebohongan dan pernyataan tanpa dasar,” ujar Hamas melalui pernyataan yang dikutip dari Quds Press, sebagaimana dilansir dari Middle East Monitor, Senin (11/7/16).


Dilaporkan, kelompok Hamas menegaskan bahwa pergerakan yang selama ini mereka lakukan adalah demi memukul mundur okupasi Israel di wilayah Palestina.

“Semua orang tahu bahwa Hamas merupakan pergerakan yang memerangi pendudukan Zionis di tanah Palestina dan Hamas hanya memiliki agenda rakyat Palestina (saja),” papar Kelompok Hamas.

Dilaporkan, Hamas juga menuduh pernyataan dari Al-Faisal sebagai bentuk dalih yang memberikan alasan lebih kepada Israel untuk melancarkan agresi kepada rakyat Palestina.
Pangeran Arab Saudi Turki al-Faisal. (Foto: Istimewa)
Selain Hamas, Kelompok Harakat al-Jihad al-Islami fi Filasthin juga mengutuk pernyataan dari sang Pangeran Saudi tersebut.

Tolak Perintah Saudi, Hamas Dilucuti

Kebencian Kerajaan Arab Saudi kepada para pejuang Hamas semakin menjadi-jadi ketika kelompok pembebasan Palestina tersebut menolak ajakan Arab Saudi untuk ikut ambil bagian menyerang Yaman, yang dianggap membangkang kepada dinasti Al-Saud.

Kemarahan Saudi semakin bertambah ketika melihat bahwa Hamas justru semakin dekat dengan Republik Islam Iran, yang merupakan rival abadi kerajaan Arab Saudi.

Menurut laporan Panorama Middle East, Muhammad bin Salman, Menteri Pertahanan dan pangeran mahkota Arab Saudi dalam pertemuan dengan Khaled Meshal, meminta pengerahan 700 pasukan dan pejuang Palestina yang mendapat latihan dengan taktik Hizbullah Lebanon, ke Arab Saudi agar mereka dapat dikirim untuk menghadapi militer dan komite rakyat Yaman.

Mereaksi tuntutan Muhammad bin Salman itu, Khaled Meshal mengatakan, “Jika 700 personil dari pasukan Hamas direlokasi dari Jalur Gaza menuju Arab Saudi, maka akan tercipta kekosongan keamanan dimana masalah ini menciptakan masalah politik.

Kepala Biro Politik Hamas ini mengusulkan kepada Salman bahwa gerakan ini siap untuk melatih militer Arab Saudi berdasarkan taktik Hizbullah daripada merelokasi pasukan Palestina ke dalam wilayah Arab Saudi.
Luas wilayah negara Palestina yang dijajah Israel dari masa ke masa. (Gambar: Istimewa)