Jalur Militer: PROGRAM IFX

Tak Ingin Dipecundangi Australia, Indonesia Beli Sukhoi SU-35

Pesawat tempur Sukhoi SU35 S, sudah masuk dalam layanan Angkatan Udara Federasi Rusia. Untuk mencegah kekalahan di masa lalu, Indonesia akan memperkuat TNI AU dengan membeli pesawat tempur Sukhoi SU 35. (Foto: istimewa)
"Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia."
JAKARTA -- Keinginan TNI Angkatan Udara untuk memiliki pesawat tempur yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia, didasari oleh banyak faktor. belajar dari kasus lepasnya Provinsi Timor - Timur dari kedaulatan Indonesia, hingga kini tetap menjadi catatan sejarah yang memalukan bagi Indonesia.

Lemahnya pertahanan udara Indonesia saat itu bisa dengan mudah dipecundangi oleh AU Australia. Saat ini jawaban untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, dijawab oleh Kementerian Pertahanan dengan membeli pesawat tempur superioritas udara Sukhoi SU-35S.


Dikembangkan untuk menyaingi pesawat siluman, Super Flanker akan memperkuat pertahanan udara dan kapabilitas proyeksi Angkatan Udara Indonesia. Su-35 memiliki jangkauan 3.600 kilometer dengan mengandalkan bahan bakar internal sehingga AU Indonesia dapat menjalankan misi jarak jauh.

Karena negara raksasa dengan 18.370 pulau ini belum mengembangkan secara maksimal jaringan lapangan udaranya, AU Indonesia tak bisa memencarkan pasukan udaranya.

Namun dengan kemampuan penerbangan jarak jauhnya, Su-35 mampu mengatasi masalah ini. 


Angkatan Udara Indonesia dapat menjangkau area patroli yang lebih luas dengan durasi yang lebih panjang. Pesawat ini dilengkapi dengan perangkat pengisian bahan bakar udara yang dapat memperpanjang jangkauannya, begitu pula waktu jelajahnya.

Angkatan Udara India, yang melatih para pilot pesawat tempur Indonesia, telah melakukan misi sepuluh jam Sukhoi. Jadi secara teori, AU Indonesia pun bisa melakukan hal yang sama.

Untuk ukuran pesawat yang mampu mengangkut beban cukup berat, yaitu delapan ton misil dan bom pada 14 hardpoint, pesawat ini tergolong cepat. Kecepatannya dikombinasikan dengan jangkauan jarak jauh, membuat pilot mampu mengulangi penjelajahan dan melakukan putaran balik, taktik Perang Dingin Rusia yang membuat pihak musuh mengalami disorientasi, lelah, dan rentan dalam pertempuran udara satu-lawan-satu. 


Fitur unggul dari pesawat tempur Rusia ini ialah kemampuannya mengangkut misil dalam jumlah besar. Ini adalah keuntungan besar bagi pilot karena mereka dapat mengangkut misil lebih banyak dan meluncurkan tembakan serentak untuk melakukan penaklukan udara-ke-udara.
Keterbatasan pesawat tempur yang dimiliki Indonesia untuk mengawasi wilayah udara yang maha luas, membuat sebagian besar sistem pertahanan udara Indonesia masih bolong di banyak sisi, serta tidak bisa dijaga dengan maksimal. (Gambar: istimewa)
Rusia telah menjual misil dengan akurasi dan dampak kinetik unggul pada sejumlah pembeli dan sepertinya Su-35 Indonesia akan dilengkapi dengan misil tersebut. Misil jarak jauh dan misil antikapal Rusia membuat Sukhoi Indonesia dapat menyerang target dari jarak aman.

TNI AU Dipecundangi Australia

Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia.

Kelemahan militer Indonesia terekspos luas pada krisis Timor Timur. Pada 1999, Indonesia hanya bisa menyaksikan dari pinggir saat kontingen yang sebagian besar terdiri dari pasukan Australia melepaskan Timor Timur dari Indonesia. Hal yang terjadi di bawah mandat PBB tersebut tak mengurangi rasa malu Indonesia.

Sementara saat itu kondisi ekonomi melemah, berarti Indonesia hanya mampu menginfus militernya. Setelah sanksi Amerika secara virtual mengurung pasukannya dengan F-16 yang ketinggalan zaman, Indonesia memesan dua pesawat Su-27 berkursi tunggal dan dua pesawat tempur Su-30 berkursi ganda dari Rusia pada 2003 dengan kontrak senilai 192 juta dolar AS.

Empat tahun kemudian, Indonesia memesan enam Sukhoi tambahan. Analis Pertahanan Martin Sieff mendeskripsikan kontrak tersebut sebagai ‘kacang dalam perdagangan senjata internasional’.

Hasilnya dengan pasukan yang ada, AU Indonesia tak bisa mengalahkan rival regionalnya. AU Australia memiliki 69 F/A-18 Hornets dan 24 Super Hornet yang canggih. Australia juga memiliki pesawat tempur elektronik EA-18G Growler, yang dapat memperkuat pasukan mereka dalam segala konflik.


Selain itu, AU Australia, yang mengikuti haluan Amerika, memiliki kemampuan tempur, bahkan jika aksi semacam itu termasuk melakukan serangan pura-pura melawan ISIS.


Mengantisipasi Ancaman China

Su-35 merupakan senjata yang dapat memperkuat pasukan Indonesia, dan tergolong unggul di panggung militer Asia Tenggara. Pesawat ini memiliki kemampuan avionik canggih yang dapat mengatasi gangguan elektronik dan membutakan pesawat musuh dengan perangkat pengganggunya.

Pesawat tempur Sukhoi SU 30 SM dan SU-27 TNI AU saat melakukan latihan dengan pesawat tempur F/A Super Hornets AU Australia. Baru dihargai saat mulai memiliki kekuatan udara yang mumpuni. (Foto: istimewa)
Sebagian besar analis dari Barat sepakat bahwa Su-35 adalah pesawat nonsiluman paling kuat dan dapat mengalahkan semua pesawat tempur barat kontemporer, kecuali pesawat siluman F-22. Namun, F-22 dibanderol seharga 350 juta dolar AS per pesawat, sementara Su-35 dibanderol seharga 65 juta dolar AS.

China adalah kekhawatiran lainnya. Jakarta terlibat dalam kisruh regional dengan Beijing terkait sengketa wilayah di Laut China Selatan. Indonesia mungkin tak akan bisa menandingi kekuatan tembak China, tapi dengan Su-35, AU Indonesia memiliki kemampuan dan rasa percaya diri untuk mengawasi pesawat Tiongkok di atas perairan netral.

Menetralisasi Siluman Meski efektivitasnya diperdebatkan, sepertinya pada tahun 2020-an jet tempur siluman jenis baru akan menjadi fitur regular bagi semua angkatan udara di dunia.


Di Asia, China telah memulai seri produksi pesawat siluman J-31 dan J-21, dan Australia telah memesan 70 unit F-35 dari AS. Bagaimana posisi Indonesia di lingkungan ‘siluman’ tersebut?


Program KFX/IFX Mungkah Bisa Jadi Harapan?

AU Indonesia telah mengindikasikan mereka tertarik membeli pesawat tempur multiperan Rusia-India PAK-FA. Indonesia kemudian bergabung dengan Korea Selatan untuk mengembangkan Korean Fighter-Experimental (KFX).

Namun, hal tersebut tak berjalan sesuai rencana. Seperti semua pesawat tempur siluman di dunia, proyek KFX yang mahal mengalami turbulensi. Menurut majalah Forbes, AS tak mempercayakan Korea Selatan untuk memberi empat ‘teknologi dasar’ yang dibutuhkan bagi proyek tersebut.

“Korea menghadapi kekecewaan pahit atas penolakan AS untuk mempercayakan sekutunya akan perangkat teknologi canggih yang dibutuhkan bagi KFX yang tak hanya memiliki kapabilitas siluman, tapi juga mampu mencari dan melacak target berbahaya dengan radar terbarunya.”

Su-35 merupakan “asuransi” bagi Indonesia jika KFX ditunda atau dibatalkan. Yang Cheng-wei, pakar Taiwan dalam bidang sistem senjata Rusia, mendeskripsikan pesawat tersebut sebagai ‘jet generasi kelima tanpa penampilan pesawat tempur siluman’.

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX/IFX. Sebuah program ambisius demi pertahanan udara di masa depan. (Foto: istimewa)

Bangun Pesawat Tempur IFX, Indonesia Kerahkan Semua Sumber Daya

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX-IFX. Untuk mengejar ketertinggalan dalam teknologi dirgantara, Indonesia bertekad untuk bisa menciptakan pesawat tempur buatan sendiri. (Foto: istimewa)
“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,”
JAKARTA -- Ambisi Indonesia untuk bisa menciptakan pesawat tempur sendiri didasari kesadaran akan pentingnya penguasaan teknologi tingkat tinggi terutama teknologi kedirgantaraan.

Bahkan menurut Heri Yansyah, Kepala Program Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment (KF-X/IF-X) PT Dirgantara Indonesia mengatakan, dalam kondisi cepatnya perkembangan teknologi, Indonesia harus berpacu dengan waktu agar tidak tertinggal dengan bangsa lain.

“Pesawat tempur itu seperti ponsel. Teknologinya dalam setahun sudah berubah lebih canggih, apakah itu menyangkut sistem elektronik, sensor, atau senjata.”Jadi Indonesia harus mampu melakukan upgrading teknologi yang selalu berubah ini.


Kalau tidak punya kemampuan upgrade, lalu beli pesawat yang sama dengan negara-negara tetangga, maka dalam waktu dua-tiga tahun, Indonesia sudah kalah,” kata Heri Yansyah, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (19/2). 

Namun Heri menyadari, meski membandingkan pesawat tempur dengan ponsel, untuk membuatnya jauh dari kata mudah. Perlu waktu 10 tahun lebih mengembangkan KF-X/IF-X yang dirancang menjadi jet tempur multiperan generasi 4,5 dengan teknologi mendekati kemampuan pesawat siluman (stealth fighter) generasi 5.

Apalagi sejak mesin jet pertama kali dikembangkan tahun 1946, pesawat tempur telah berevolusi hingga generasi kelima. Generasi termutakhir ini menggabungkan teknologi siluman untuk tak terdeteksi radar, kemampuan menjelajah supersonik, dan sensor baru yang terintegrasi. 

Satu-satunya persawat tempur generasi 5 yang kini telah beroperasi ialah F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS.
F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS ialah salah satu contoh pesawat tempur generasi lima yang memiliki kemampuan siluman. (Foto: REUTERS/Michael Fiala)
Sementara sejumlah jet lain dari generasi itu seperti F-35 Lighting II dan Sukhoi PAK FA, masih pada tahap uji coba. Untuk membuat prototipe KF-X/IF-X, ilmuwan Indonesia dan Korea Selatan akan bekerja bahu-membahu di markas Korea Aerospace Industries di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan.

“Saat puncak pembuatan prototipe pesawat, 200 insinyur Indonesia akan terlibat,” kata Heri yang pada periode 2011-2012 ikut ke Korea Selatan selama 18 bulan untuk mengerjakan fase pertama proyek KF-X/IF-X, yakni pengembangan konsep. 

Jumlah insinyur Indonesia yang berangkat ke Korea Selatan pada penggarapan fase kedua pembuatan prototipe mulai tahun 2016 ini, jauh lebih banyak daripada fase pertama yang hanya berjumlah 52 orang. Para ilmuwan Indonesia itu akan berdatangan ke Korea Selatan secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. 

“Ada insinyur yang harus tinggal di sana selama 10 tahun penuh, tapi ada juga yang dirotasi,” ujar Heri.

Kerahkan Semua Sumber Daya

Untuk membangun fasilitas di dalam negeri, Indonesia mengebut persiapan sumber daya manusia dan teknologi, mulai dari riset soal teknologi inti mesin jet tempur, material, avionik, aeroninamika, hingga membangun laboratorium untuk menunjang riset tersebut. 

Selain itu, meski penggarapan KF-X/IF-X dipusatkan di Korea Selatan, markas PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, bakal tak kalah sibuk.
Suasana kesibukan di salah satu hanggar PT Dirgantara Indonesia. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
PTDI akan memantau seluruh pengerjaan pesawat tempur tersebut. PTDI misalnya menyiapkan Design Center Indonesia (DCI) untuk membangun kemampuan teknologi, infrastruktur, dan simulasi. Di tempat ini, seluruh tahap pengerjaan KF-X/IF-X di Korea Selatan akan dikomunikasikan. 

DCI dibangun dengan meniru dari gedung Design Center yang juga dibangun di Sacheon, Korea Selatan. Design Center di Sacheon semacam bangunan yang tertutup rapat dan steril. Orang-orang yang memasukinya dilarang membawa flashdisk dan komputer. Di sana ilmuwan Indonesia dan Korsel akan kerja bersama. 

Indonesia juga kebagian tugas membuat komponen pesawat bagian sayap dan ekor kanan, serta penguat di bawah sayap. Selain itu, Indonesia mendapat jatah untuk membuat prototipe pesawat. Total ada delapan prototipe yang akan dibuat, enam prototipe terbang, dan dua prototipe tak terbang untuk uji struktur.

“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,” imbuh pakar aerodinamika PTDI itu. 

Oleh sebab itu PTDI juga menyiapkan fasilitas hanggar composing, hanggar titanium, hanggar produksi, dan hanggar perakitan akhir pesawat tempur. Tak kalah penting, Indonesia bersiap untuk membangun kemampuan persenjataan secara bertahap. 

Sementara dari segi sumber daya manusia, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan mendapat pelatihan untuk mempertajam kemampuan, termasuk dengan disekolahkan lagi di dalam dan luar negeri. Untuk di dalam negeri, Institut Teknologi Bandung digandeng. “Ada 25 orang kandidat S2 dan enam orang kandidat S3 di ITB. Semua sudah dites,” kata Heri.
Penandatanganan perjanjian kerjasama antara perwakilan Indonesia dan perwakilan Korea Selatan. (Foto: istimewa)

Ekonomi Lesu, Jokowi Minta Renegosiasi Proyek Jet Tempur KFX-IFX

Purwarupa jet tempur KFX / IFX yang merupakan program kerjasama antara Korea Selatan dengan Indonesia. (Foto: Istimewa)
"Kita ketahui mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah mengalami tekanan luar biasa, kami sangat apresiasi pemerintah Korsel atas pengertiannya untuk menyetujui renegosiasi,"
JAKARTA -- Kerjasama proyek pembuatan jet tempur Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) antara pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan hingga kini masih belum jelas kelanjutannya. 

Salah satu kendala terbesar adalah masalah pembiayaan yang dirasa oleh Indonesia sangat berat, disaat kondisi kondisi Rupiah yang tengah tertekan dan perekonomian nasional sedang memburuk dalam empat tahun terakhir.

Presiden Joko Widodo meminta supaya melakukan perundingan ulang (renegosiasi) rencana kerja sama pembuatan jet tempur generasi 4.5 itu dengan Korsel. Renegosiasi salah satunya bertujuan agar Indonesia mendapatkan keringanan dalam hal pembiayaan.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto usai menggelar rapat bersama Kepala BKPM Thomas Lembong di kantor Kemenko Polhukam, Jumat (19/10).

"Dengan kondisi nasional maka presiden putuskan untuk bukan batalkan tapi renegosiasi, bagaimana posisi Indonesia bisa lebih ringan menyangkut masalah pembiayaan," kata Wiranto, dilansir dari cnnindonesia.com.

Wiranto mengatakan, keputusan renegosiasi itu bisa berdampak pada perubahan dalam sejumlah persetujuan yang telah disepakati sebelumnya. Menindaklanjuti hal itu, Wiranto mengatakan pemerintah telah membuat tim khusus guna membahas proses renegosiasi dengan pihak Korea Selatan

"Bisa berdampak pada agreement lalu yang sudah kita bicarakan, kita rapatkan setelah presiden perintahkan Polhukam untuk ketuai tim renegosiasi ini kepada Korsel," kata dia.

Peresmian kerjasama pengembangan proyek jet tempur KFX/IFX antara Korea Selatan dengan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Selain itu, Wiranto pun menargetkan kesepakatan renegosiasi selesai dalam satu tahun dan mengklaim pihaknya telah melakukan berbagai pembicaraan dengan Korea Selatan dari sisi pembiayaan, pembagian keuntungan maupun ongkos produksi dalam kerjasama pesawat jet tersebut

Renegosiasi Akan Menghemat Devisa

Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan langkah renegosiasi proyek KFX/IFX diperlukan buat menghemat devisa negara guna menjaga stabilitas Rupiah. Ia mengatakan semua pembiayaan pemerintah Indonesia ke Korea dalam proyek itu harus dibayar dalam bentuk devisa.

"Kita ketahui mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah mengalami tekanan luar biasa, kami sangat apresiasi pemerintah Korsel atas pengertiannya untuk menyetujui renegosiasi," kata dia.

Masalah anggaran juga dikeluhkan Kementerian Pertahanan RI, menyatakan proyek ambisius ini bisa saja batal dilanjutkan karena terkendala dana. "Arahan dari Pak Presiden kita lihat dulu kemampuan anggaran," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Anne Kusmayati di Jakarta Selatan, Selasa (28/8).

Proyek KFX/IFX Harus Tetap Jalan

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan bahwa proyek kerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX akan tetap dijalankan. Hal itu ia katakan untuk menjawab keraguan dan adanya isu penundaan dari program pembuatan pesawat jet siluman generasi 4.5 itu.

Mantan KASAD itu menjelaskan bahwa pemerintah bisa merugi jika program itu tak dilanjutkan. Pasalnya, uang yang sudah digelontorkan oleh pemerintah terbilang besar. Pemerintah telah menggelontorkan jaminan uang muka demi berlangsungnya proyek ini sebesar Rp3 triliun, pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Program tetap dilanjutkan. Sudah didatangkan, jangan sampai rugi dong kita, itu Rp3 triliun masa dibuang," kata Ryamizard di Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (3/5).

Meski tetap dilanjutkan, ada beberapa kendala seperti kelengkapan perizinan dan masalah MoU yang hingga saat ini masih diperdebatkan. Kendala lainnya karena Indonesia ingin agar alih teknologi pesawat itu dapat menguntungkan kedua belah pihak. Ryamizard menekankan, Indonesia bakal terus benegosiasi hingga tercapainya kesepakatan yang tak merugikan pihak Indonesia.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyaksikan penanda tanganan perjanjian kerjasam tahap II, proyek jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan. (Foto: istimewa)
Masalah alih teknologi (TOT) menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Totok Sugiharto, menjadi perhatian utama Indonesia dalam kerjasama bernilai investasi mencapai 8 miliar dollar AS itu. Karena Indonesia tak ingin hanya sekadar memproduksi semata. Tapi juga ingin teknologi dalam pesawat itu juga dikuasai sepenuhnya.

"Jadi tak semata-mata menguntungkan pihak luar, jadi transfer teknologinya itu bisa dilakukan di Indonesia. Jadi bisa menguntungkan pihak Korea dan menguntungkan pihak Indonesia," ungkapnya.

Amerika Serikat Telah Restui Transfer Teknologi

Sebelumnya, salah satu kendala terbesar dalam pengembangan proyek jet tempur KFX-IFX adalah, adanya penolakan dari Amerika Serikat mengenai sejumlah teknologi pesawat tempur KFX/IFX. Seperti diketahui, basis pengembangan pesawat tempur Korea Selatan berasal dari teknologi Amerika.

September 2015, pemerintah Amerika Serikat menolak transfer empat dari 25 teknologi inti ke Korea Selatan. Transfer teknologi utama jet tempur dinilai AS melanggar kebijakan keamanan negara itu. AS menolak jika Korea Selatan memberikan sejumlah teknologi pesawat tempur kepada Indonesia yang menjadi komponen dalam proyek tersebut.

Harian Korea Selatan Chosun Ilbo melansir, salah satu yang dilarang AS untuk ditransfer ialah data teknologi terkait radar AESA (active electronically scanned array). Ini sistem radar canggih dengan kemampuan perang elektronik.

AESA dapat mencari dan melacak target lebih cepat dan akurat daripada sistem-sistem yang sudah ada selama ini. Selain radar AESA, tiga teknologi inti lain yang tak diizinkan pemerintah AS untuk ditransfer ialah sistem perang elektronik, pencari dan pelacak inframerah atau IRST (infrared search and track), serta electro-optical targeting pod.

Korea Selatan, melalui Korea Aerospace Industries (KAI), dan Lockheed Martin memiliki sejarah kerja sama mengembangkan pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle  yang kini juga menjadi bagian dari armada udara Republik Indonesia.

Master plan proyek pembangunan jet tempur KFX/IFX antara Korea Selatan dengan Indonesia.

Indonesia Berambisi 9 Tahun Lagi Mampu Produksi Jet Tempur Sendiri

Purwa rupa pesawar tempur KFX/IFX. Bersama Korea Selatan, Indonesia bertekad mampu menciptakan dan memproduksi pesawat tempur canggih buatan sendiri. Walau melalui jalan dan proses yang tidak mudah, kemampuan menguasai teknologi pesawat tempur siluman dianggap Indonesia sebagai suatu hal yang wajib. (Foto: Istimewa)
“Indonesia memang harus buat pesawat tempur karena Indonesia ini negara besar, nomor tiga terbesar di dunia dengan daratan dan lautan begitu luasnya. Tentu harus punya kemampuan laut dan udara yang andal,”
BANDUNG -- Sebagai salah satu negara terbesar di dunia, dan memiliki wilayah yang begitu luas, kemampuan dalam menguasai teknologi pesawat tempur dianggap suatu hal yang mutlak, guna menjaga kedaulatan Indonesia di masa depan.

Untuk itu, Indonesia bertekad masuk deretan negara elite pembuat pesawat tempur tersebut. Tak tanggung-tanggung, Indonesia bekerja sama dengan Korea Selatan akan menciptakan jet tempur generasi 4,5 dengan kemampuan hampir setara dengan pesawat tempur siluman (stealth fighter) generasi 5.

Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) direncanakan bakal menandingi kehebatan Dassault Rafale produksi Perancis, Eurofighter Typhoon buatan konsorsium Eropa, F/A-18 Super Hornet dan F-16 Fighting Falcon asal AS, serta Sukhoi Su-30 buatan Rusia.

Jakarta dan Seoul menandatangani kontrak cost share agreement atau kesepakatan berbagi biaya untuk mewujudkan KF-X/IF-X yang ditargetkan mengudara sembilan tahun lagi.

Kolaborasi antarpemerintah kedua negara diperkuat dengan kerja sama konkret melalui skema business to business antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Korea Aerospace Industries (KAI) yang menyertakan kesepakatan transfer teknologi.
Mock up pesawat tempur KFX/IFX disebuah pameran kedirgantaraan. (Foto: Istimewa)
“Mulai tahun ini sampai 2019, kami buat prototipe bersama Korea. Lalu akan kami uji terbang di Korea dan Indonesia karena kedua negara punya kondisi alam dan geografis yang berbeda. Tahun 2020 mulai produksi, tahun 2025 pesawat beroperasi,” kata Direktur Utama PTDI Budi Santoso di markas PTDI, Bandung, Jawa Barat.

Dalam pembuatan prototipe pesawat tempur multiperan itu, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Anne Kusmayati, PTDI akan membuat sayap, penguat di bagian bawah sayap, dan ekor.

Nantinya untuk tiap pesawat tempur K-FX/I-FX yang diproduksi, PTDI akan tetap membuat komponen-komponen tersebut. Itu sebabnya untuk menunjang penggarapan, PTDI membuat hanggar composing.

Pengerjaan jet tempur KF-X/IF-X akan dipusatkan di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan, kota yang menjadi lokasi markas dan pabrik utama Korea Aerospace Industries. Sebanyak 200 insinyur Indonesia di Sacheon selama satu-dua tahun, merancang desain pesawat. Para insinyur itu juga akan ikut mendesain seluruh komponen pesawat.

Dari total pekerja kedua negara yang terlibat pembuatan KF-X/IF-X, 30 persen lebih berasal dari Indonesia dan mayoritas sisanya dari Korea Selatan. Ini pula alasan pembuatan pesawat dipusatkan di Sacheon, bukan di Indonesia.
Eurofighter Typhoon buatan konsorsium Eropa. Salah satu pesawat tempur tercanggih saat ini yang ingin dilampaui kemampuannya oleh Indonesia dengan pembuatan pesawat tempur KFX/IFX. (Foto: Istimewa)
Proporsi 30 persen lebih insinyur Indonesia yang terlibat pengerjaan KF-X/IF-X itu sesungguhnya bertambah dari jumlah semula sebanyak 20 persen. Penambahan pekerja Indonesia itu terjadi seiring berjalannya waktu penggarapan.

“Itu menandakan insinyur Indonesia diperhitungkan Korea. Bahkan ada paket pekerjaan yang satu teknologinya hanya dimiliki orang Indonesia. Dia doktor dari ITB (Institut Teknologi Bandung), satu-satunya yang memiliki kemampuan inlight design. Jadi Korea tak memandang enteng Indonesia,” kata Anne.

Indonesia Mampu Produksi Jet Tempur Canggih

Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sama-sama bertekad menyukseskan program pembuatan jet tempur KF-X/IF-X ini. Masing-masing negara punya kepentingan atas proyek yang diinisasi oleh Korea Selatan itu.

“Indonesia memang harus buat pesawat tempur karena Indonesia ini negara besar, nomor tiga terbesar di dunia dengan daratan dan lautan begitu luasnya. Tentu harus punya kemampuan laut dan udara yang andal. Harus,” kata Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu saat menghadiri penandatanganan kontrak kerja sama Indonesia-Korea Selatan di Jakarta, 7 Januari.

“Kalau tak dimulai dari sekarang, kapan lagi Indonesia bisa membuat (pesawat tempur). Kalau membeli, semua bisa. Kalau membuat kan tidak semua bisa,” ujar Ryamizard.
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu saat menyaksikan penandatanganan kontrak kerja sama Indonesia-Korea Selatan, dalam pembuatan pesawat tempur KFX/IFX. (Foto: Sindonews)
Ryamizard menargetkan memiliki sedikitnya dua skuadron KF-X/IF-X untuk memenuhi kebutuhan TNI AU. Satu skuadron bisa terdiri dari 12 sampai 24 pesawat. Total sekitar 50 unit pesawat yang diincar Indonesia.

“Pesawat kesatu dan kedua dibuat di Korea Selatan. Selanjutnya pembuatan pesawat ketiga akan dilakukan di Indonesia, dengan pengerjaan melibatkan 80 persen orang Indonesia,” kata Ryamizard.

Korea Selatan sebagai pihak yang menginisiasi proyek tersebut gembira dengan kerja sama antara negaranya dan Indonesia. Korsel pertama kali mengumumkan rencana mereka membuat pesawat tempur Maret 2001, saat Presiden Kim Dae-jung berpidato pada upacara kelulusan Akademi Angkatan Udara Korea.

“Ini titik awal kerja sama ilmuwan Indonesia dan Korea Selatan. Saya bertanggung jawab penuh dan optimistis proyek ini akan sukses,” kata Kepala Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan, Chang Myoung-jin.
Suasana kesibukan para teknisis di PT. Dirgantara Indonesia dalam memproduksi sejumlah pesawat pesanan negara asing. (Foto: Istimewa)

Taklukan Singapura, Indonesia Akan Produksi Pesawat Tempur Sendiri

Pasukan TNI AU. Menyadari minimnya kekuatan tempur yang dimiliki dibanding negara lain di kawasan, Indonesia saat ini bertekad untuk bisa menciptakan pesawat tempur sendiri. (Foto: istimewa)
“Singapura itu negara kecil, tapi pesawat tempurnya lebih banyak dari Indonesia. Singapura tak memiliki kekuatan darat dan laut yang besar. Dia memang menekankan pada Angkatan Udara yang besar,”
JAKARTA -- Belajar dari banyak peristiwa pertempuran yang terjadi di berbagai negara saat ini, untuk mempertahankan kedaulatan NKRI penguasaan kekuatan udara adalah mutlak.

Salah satu pelajaran penting yang diambil oleh para petinggi Indonesia adalah saat Amerika Serikat dan para negara anggota koalisinya menyerang ibu kota Irak, Baghdad.

Amerika Serikat dan pasukan koalisinya hanya butuh 20 hari untuk menguasai Baghdad, menandai awal kejatuhan Saddam Hussein. Kunci penguasaan Koalisi AS atas Irak ada pada serangan udara.



Invasi AS dimulai dengan serangan udara ke Istana Kepresidenan Baghdad, 20 Maret 2003. Selanjutnya, Kolisi AS melancarkan serangan udara besar-besaran ke seluruh Irak, membuat balatentara Saddam Hussein kocar-kacir dan tak dapat melawan balik.
Pesawat tempur Amerika Serikat dan koalisi saat menyerang Irak. (Foto: istimewa)
Dua puluh hari kemudian, 9 April, pasukan darat Koalisi AS dengan mudah memasuki jantung Baghdad, dan segera mengalahkan tentara Irak yang ada di kota itu.

“Dalam perang modern, wilayah udara adalah yang pertama kali diserbu dan dikuasai.

Wilayah udara Irak dikuasai Amerika dalam satu hari, dan dalam seminggu kekuatan darat, laut, dan udara Irak hilang semua,” kata Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, mengisahkan kembali pertempuran AS-Irak, Jumat (19/2).

“Saat itu pesawat-pesawat Irak tak ada yang bisa terbang, dan 3.000 tanknya di darat serta semua kapalnya habis semua ditembaki dari udara oleh Amerika,” ujar Andi.

Maka jika wilayah udara suatu negara telah dikuasai, sekalipun di darat dan laut ada tentara, akan sulit sekali bagi negara itu untuk mempertahankan diri. Kedaulatan udara, kata Andi, bukan persoalan main-main.

Rongsokan pasukan Tank angkatan perang Irak, menjadi bulan-bulanan pesawat tempur pasukan koalisi Amerika Serikat. (Foto: istimewa)
Oleh sebab itu, menurutnya, Indonesia perlu sekali bekerja bersama Korea Selatan mengembangkan Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X). Andi berpendapat pesawat tempur yang dimiliki Indonesia masih amat kurang meski mencapai 100 unit dalam berbagai varian. Jumlah itu tak sebanding dengan cakupan luas wilayah darat dan laut Indonesia yang totalnya lebih dari 5 juta kilometer persegi.

Dibanding Singapura, kekuatan udara Republik Indonesia bisa dibilang tak ada apa-apanya.

“Singapura itu negara kecil, tapi pesawat tempurnya lebih banyak dari Indonesia. Di sisi lain, Singapura tak memiliki kekuatan darat dan laut yang besar. Dia memang menekankan pada Angkatan Udara yang besar,” kata Andi.

Pembangunan kekuatan tempur suatu negara tergantung pada doktrin negara itu. “Singapura misal berpikir bagaimana seandainya dia mesti bertempur. Mau bertempur di darat, toh negaranya cuma sepulau kecil itu, banyak penduduknya akan langsung jadi korban. Jadi dia harus menang di udara,” ujar Andi.

Andi menekankan, doktrin tempur itu amat penting dan tak boleh dilupakan. “Harus menang di udara pada pertempuran pertama sehingga darat bisa dipertahankan. Itu mutlak.”

Pesawat tempur angkatan udara Singapura, selalu memiliki yang tercanggih dan terbaik di kelasnya. (Foto: istimewa)
Saat ini Lima pilot TNI AU disiapkan TNI Angkatan Udara turut dilibatkan dalam proyek KF-X/IF-X yang pengerjaannya dipusatkan di Sacheon, Korea Selatan –kota yang menjadi markas Korea Aerospace Industries.

Sejak fase awal, yakni pengembangan teknologi KF-X/IF-X, sejumlah personel TNI AU ikut mendesain bentuk pesawat dan menyatukan doktrin militer dengan angkatan bersenjata Korea Selatan sampai tingkat tertentu.

TNI AU dilibatkan penuh karena KF-X/IF-X terang dibuat untuk memenuhi kebutuhan armada tempur mereka. Nantinya akan ada sekitar 50 unit pesawat KF-X/IF-X yang digunakan TNI AU.

TNI AU juga menyiapkan lima orang pilot untuk menguji terbang KF-X/IF-X. Usai prototipe pesawat rampung dibuat pada 2019, KF-X/IF-X akan diuji terbang di Korea Selatan dan Indonesia sebelum memasuki proses produksi yang direncanakan dimulai tahun 2020.

“Uji terbang pesawat tempur akan butuh waktu lama. Tak bisa dilakukan sembarang pilot. Jadi lima penerbang muda TNI AU disekolahkan S1 Teknik Penerbangan ITB supaya mereka bisa melakukan test flight dengan baik,” kata Andi.

Kelima penerbang muda itu saat ini pun sudah bisa menerbangkan pesawat-pesawat buatan Korea Selatan, yakni pesawat latih dasar KT-1 Woongbi dan jet tempur ringan T-50 Golden Eagle yang memang dimiliki TNI AU masing-masing satu skuadron.

Kebutuhan-kebutuhan TNI AU juga diakomodasi dalam KF-X/IF-X. Contohnya, AU butuh pesawat tempur yang bisa mendarat di landasan pacu pendek daerah mana pun mengingat wilayah Indonesia yang amat luas.

Soal jenis KF-X/IF-X yang dirancang menjadi pesawat tempur canggih generasi 4,5 di atas F-16 Fighting Falcon, Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, atau Sukhoi Su-30 yang masuk generasi 4, Andi menyebut kecanggihan bukan segalanya.

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX/IFX, pesawat tempur masa depan yang sedang dibangun oleh Indonesia dan Korea Selatan. (Foto: istimewa)

Banyak Penyusup di Udara, RI Bertekad Ciptakan Pesawat Tempur Buatan Sendiri

Pesawat tempur TNI AU. Luasnya wilayah udara yang harus dijaga di tengah kurangnya armada udara membuat TNI AU belum bisa maksimal menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia dari penyusup asing (Foto: istimewa)
“Indonesia merupakan negara besar dengan daratan dan lautan begitu luasnya. Tentu harus punya kemampuan laut dan udara yang andal. Harus,”
JAKARTA -- Program ambisius Indonesia bersama Korea Selatan untuk menciptakan pesawat tempur sendiri hingga saat ini berjalan ke arah yang semakin positif.

Para ilmuwan dan teknisi dari kedua negara saling berbagi pengalaman dalam menciptakan pesawat tempur KFX/IFX yang digadang-gadang akan setara dengan pesawat tempur kelas siluman lainnya.

Khusus untuk Indonesia sendiri keinginan untuk bisa menciptakan pesawat tempur buatan dalam negeri dianggap sebagai sebuah kewajiban, mengingat luasnya wilayah republik yang harus dijaga.


Dengan 14 ribu lebih pulau berserak dan panjang garis pantai 99 ribu kilometer, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia yang secara maritim berbatasan dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Palau, dan Australia.

Sebuah mock up pesawat tempur KFX/IFX. Harapan besar untuk menjaga kedaulatan wilayah udara NKRI di masa depan (Foto: istimewa)
“Indonesia merupakan negara besar dengan daratan dan lautan begitu luasnya. Tentu harus punya kemampuan laut dan udara yang andal. Harus,” kata Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu di Jakarta, 7 Januari.

Kekuatan mumpuni di laut dan udara sebagai negara maritim itu menjadi salah satu alasan pemerintah Republik Indonesia mendukung proyek pengembangan jet tempur siluman (stealth fighter) KF-X/IF-X yang diinisiasi Korea Selatan.

Ada 1.001 alasan dukungan Indonesia atas KF-X/IF-X. Lima di antaranya untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Udara, membangun kemandirian bangsa, meningkatkan industri pertahanan, mendorong perekonomian nasional, dan memunculkan efek gentar pada kawasan.


Bukan rahasia lagi wilayah udara dan perairan Indonesia yang luas kerap diterobos oleh pesawat dan kapal asing.

Pembagian komando operasi skuadron udara TNI AU. Dengan luasnya wilayah dan sedikitnya pesawat tempur yang tersedia membuat sebagian wilayah udara Indonesia tidak bisa terjaga dengan baik dari penyusupan pesawat asing (Gambar: istimewa)

Trauma Diembargo, Indonesia Segera Produksi Pesawat Tempur IFX

Pesawat tempur F16 TNI AU. Sempat mangkrak akibat embargo militer yang dijatuhkan Amerika Serikat. Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Indonesia bekerjasama dengan Korea Selatan bertekad akan menciptakan pesawat tempur buatan sendiri (Foto: istimewa)
“Beli senjata ke Amerika, ya akan tergantung kepada Amerika. Kalau hubungan Indonesia dengan Amerika sedang baik, tak apa-apa. Tapi kalau tiba-tiba bermasalah lalu diembargo, jadi tidak ada dukungan persenjataan,”
JAKARTA -- Ambisi Indonesia untuk bisa mewujudkan dan menciptakan pesawat tempur buatan sendiri didorong oleh pengalaman masa lalu yang tidak begitu mengenakkan. Yaitu pada saat Amerika Serikat menjatuhkan embargo militer terhadap Indonesia.

Amerika Serikat menuduh Indonesia pada tahun 1991 di Dili Timor Timur telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia, yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia, dengan menembaki demonstran di Dili, (kini Timor Leste)

AS menyetop penjualan senjata, termasuk tak mau memberikan suku cadang yang diperlukan Indonesia untuk meremajakan pesawat-pesawat TNI yang dibeli dari mereka.

Akibat embargo tersebut, peralatan tempur atau alutsista Indonesia seperti pesawat tempur F16 dan lain-lain, mangkrak dan hanya menjadi tumpukan besi rongsokan di gudang senjata TNI.

Pasukan TNI di Timor Timur saat melakukan operasi penumpasan separatis Fretilin (Foto: istimewa)
Karena embargo yang dilakukan oleh Amerika dan dibatalkannya penjualan F-16 ke Indonesia, yang dipesan oleh rezim Presiden Soeharto, membuat Indonesia beralih ke sekutu lamanya yaitu Rusia.

Saat hubungan Presiden Soeharto dengan Amerika Serikat renggang, pada tahun 1996 Presiden Soeharto sebernanya sempat berencana untuk membeli Sukhoi dari Rusia sebanyak 12 unit pesawat unit tempur Sukhoi.

Namun dalam proses pembelian terdapat banyak hambatan yang didapatkan oleh Indonesia. Dan baru direalisasikan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Indonesia membeli pesawat Sukhoi buatan Rusia pada tahun kedelapan masa embargo Amerika Serikat, yakni 2013.

Pengalaman Guru Terbaik

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana mengatakan, belajar dari kasus embargo tersebut, Indonesia wajib menguasai teknologi pesawat tempur dan membuatnya sendiri.

Apalagi Indonesia bangsa yang besar. Kalau mau bertahan, jelas mesti kuat pertahanan udaranya," kata Andi Alisjahbana, seperti dikutip dari CNNIndonesia.com.

“Lalu kenapa harus mengembangkan jet tempur? Tentu karena itu salah satu alat tempur utama di udara. Yang menentukan menang-tidaknya Sekutu atau Jepang dalam Perang Dunia II adalah pertempuran maritim dan udara,” ujar Andi.

Pesawat tempur Sukhoi SU-30SM yang dibeli Indonesia dari Rusia (Foto: istimewa)
Mencapai kemandirian menjadi kata kunci. Jika hanya membeli persenjataan dari negara lain, kata Andi, sudah pasti Indonesia akan tergantung pada negara itu. Terlebih jika menyangkut alat utama sistem senjata (alutsista) berteknologi tinggi.

“Beli senjata ke Amerika, ya akan tergantung kepada Amerika. Kalau hubungan Indonesia dengan Amerika sedang baik, tak apa-apa. Tapi kalau tiba-tiba bermasalah lalu diembargo, jadi tidak ada dukungan persenjataan,” kata Andi.

Sepuluh tahun embargo AS, ujar Andi, membuat kekuatan tempur udara Republik Indonesia mengalami kemerosotan tajam. Banyak pesawat tempur TNI Angkatan Udara harus di-grounded lantaran tak punya suku cadang.

Hal itu misalnya menimpa setengah lusin F-16 Fighting Falcon, sejumlah armada F-5 Tiger, sampai pesawat angkut militer C-130 Hercules yang seluruhnya buatan AS.

Lebih parah lagi, beberapa pesawat Hawk 109/209 buatan Inggris, sekutu AS yang dimiliki TNI juga ikut terkena embargo. Embargo membuat banyak pesawat militer RI tak bisa diterbangkan sekalipun kondisinya baik, bahkan tergolong baru.

Alhasil sia-sia saja memiliki armada tempur jika banyak yang tak bisa digunakan untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia.

Diembargo, Indonesia Mencari Akal

Andi mengatakan keputusan Indonesia membeli pesawat tempur Sukhoi SU-30SM buatan Rusia, untuk mengimbangi Amerika Serikat adalah sebuah langkah tepat.

“Apa yang dilakukan Indonesia ketika itu seperti membuat dua sistem: satu tergantung kepada Amerika, satu kepada Rusia. Ada Sukhoi, ada F-16 (buatan AS). Kalau Amerika mengembargo sehingga F-16 tidak bisa terbang, masih ada Sukhoi,” kata Andi.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana (kiri). (Foto: istimewa)
Sesungguhnya embargo militer merugikan AS sendiri. Perusahaan-perusahaan negara adidaya itu yang bergerak di industri penerbangan jadi kehilangan salah satu pasar potensial. Mereka tak bisa menjual alutsista dan suku-suku cadang kepada Indonesia.

Embargo akhirnya dicabut tahun 2005. Namun Indonesia tetap mempertahankan dua sistem tersebut sebagai “tali pengaman.

”Target Indonesia selanjutnya adalah menjaga kesinambungan alat-alat tempur yang dimiliki dalam keadaan krisis. Ini yang paling utama. Indonesia berhak untuk mempertahankan diri dari ancaman luar,” ujar Andi.

Tahap Mencapai Kemandirian

“Masih panjang perjalanan Indonesia untuk mandiri. Tapi setidaknya negara ini bisa bertahan dalam keadaan krisis. Semisal ada pertempuran sampai 10 tahun, minimal pesawat Indonesia tidak kehabisan peluru dan suku cadang.

Di situ letak kesinambungannya,” kata Andi. Kesinambungan dan kemandirian tersebut terkait erat satu sama lain.

Untuk mencapai kedua hal itu, Indonesia –setelah serangkaian proses– menerima tawaran Korea Selatan untuk bersama-sama mengembangkan teknologi pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X).

Skema pembuatan pesawat tempur IFX oleh PT. Dirgantara Indonesia (Gambar: istimewa)
"Korea antusias dan percaya dengan Indonesia," ujar Andi. Indonesia menerima tawaran Korea Selatan mengembangkan pesawat tempur KF-X/IF-X untuk mencapai kemandirian industri pertahanan.

Rintangan Menghadang

Wakil Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Eris Herryanto mengatakan, tak mudah bagi Indonesia dan Korea Selatan untuk sampai pada tahap kerja sama seperti sekarang ini.

Perbedaan sistem, perbedaan tujuan, dan perbedaan posisi dalam mendapat teknologi, membuat Jakarta dan Seoul mesti saling berkompromi dan menyamakan persepsi.

Kesulitan juga terletak pada teknologi Amerika Serikat, yakni perusahaan dirgantara AS Lockheed Martin, yang direncanakan digunakan untuk mengembangkan jet KF-X/IF-X.

Mantan Wamenhan Sjafri Syamsudin pada masa era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu perwakilan Korea Selatan membicarakan kerjasama pembuatan pesawat tempur KFX/IFX. (Foto: istimewa)

Suntikan Teknologi Amerika Dalam Program Pesawat Tempur Indonesia

Sebuah Mock-up pesawat tempur KFX/IFX. Indonesia dan Korea Selatan bertekad membangun pesawat tempur dengan teknologi yang setara dengan pesawat tempur generasi kelima (Foto: istimewa)
“Pertemuan trilateral ini belum tentu sebulan selesai. Butuh waktu. (Perundingan) bisa sampai enam bulan atau satu tahun,”
JAKARTA -- Indonesia dan Korea Selatan sepertinya tidak tanggung-tanggung dalam membangun program pesawat tempur KFX-IFX yang akan menjadi pesawat tempur masa depan bagi kedua negara.

Salah satu tekad dalam program ini adalah menciptakan pesawat tempur yang akan memiliki teknologi siluman setara dengan pesawat tempur paling tercanggih saat ini yaitu pesawat tempur F22 Raptor Amerika Serikat.

Tetapi akankah program berjalan lancar, bukan tanpa sebab hingga saat ini Korea Selatan masih mengandalkan sumbangan teknologi dari Amerika Serikat.

Sebelumnya Amerika Serikat dilaporkan tidak bersedia memberikan beberapa kriteria teknologi yang diminta Korea Selatan dengan alasan hadirnya Indonesia dalam program tersebut.


Walau akhirnya Amerika Serikat melunakkan sikapnya terhadap Indonesia, tetapi sejumlah teknologi pesawat tempur yang hanya dimiliki Amerika Serikat hingga saat ini masih dalam perdebatan ketiga negara.

Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Indonesia menggelar pertemuan trilateral akhir Februari. Ketiga negara membicarakan rencana transfer teknologi untuk pesawat tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X) yang sedang dikembangkan bersama oleh RI dan Korsel.

Pertemuan Indonesia dan Korea Selatan dalam membahas pembangunan pesawat tempur KFX/IFX. (Foto: istimewa)
Dalam pertemuan di AS itu, perwakilan perusahaan dirgantara masing-masing negara, Lockheed Martin, Korea Aerospace Industries, dan PT Dirgantara Indonesia, ikut hadir.

Jika mulus, Lockheed Martin akan mentransfer teknologi penting untuk pengembangan KF-X/IF-X yang direncanakan mewujud jet tempur generasi 4,5 dengan kemampuan nyaris setara dengan pesawat siluman (stealth fighter) generasi kelima.

“Pertemuan trilateral ini belum tentu sebulan selesai. Butuh waktu. (Perundingan) bisa sampai enam bulan atau satu tahun,” kata Kepala Program KF-X/IF-X PTDI Heri Yansyah, Jumat (19/2).

Seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Korea Selatan telah berencana meminta bantuan Lockheed Martin untuk mengembangkan KF-X sejak Maret 2014 saat mereka memutuskan membeli 40 unit pesawat tempur siluman keluaran perusahaan itu, F-35 Lighting II.

Sebagai bagian dari kesepakatan memborong F-35 tersebut, Lockheed menawarkan keahlian teknik setara 300 tahun masa kerja individu untuk membantu merancang KF-X.

Lockheed bahkan berencana menyodorkan lebih dari 500 ribu halaman dokumentasi teknis terkait pembuatan jet tempur generasi keempat mereka, F-16 Fighting Falcon, serta F-35 Lighting II dan F-22 Raptor dari generasi kelima.

Korea Selatan, melalui Korea Aerospace Industries (KAI), dan Lockheed Martin memiliki sejarah kerja sama mengembangkan pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle –yang kini juga menjadi bagian dari armada udara Republik Indonesia.

Meski demikian, untuk proyek KF-X yang berjalan saat ini, Lockheed ragu memberikan dukungan penuh karena khawatir KF-X pada akhirnya menjadi kompetitor mereka sendiri di pasar ekspor jet tempur. Penawaran saat itu bukan hanya datang dari Lockheed Martin dan KAI.

Pesawat tempur F-35 Lighting II yang menjadi andalan Amerika Serikat saat ini. (Foto: istimewa)
Desember 2014, Airbus Eropa, Boeing AS, dan Korean Air bergabung dalam satu tim untuk mengusulkan alternatif pembuatan pesawat tempur yang lebih murah bagi Korea Selatan.

Tim Airbus-Boeing-Korean Air juga menawarkan alih teknologi. Boeing misalnya dapat menyediakan pengetahuan soal radar dan teknologi siluman pada jet tempur. Bermitra dengan Airbus membuat Boeing dapat mentransfer informasi tersebut meski aturan AS membatasi transfer teknologi hingga tingkat tertentu ke luar negeri.

Namun pada 9 Februari 2015, tenggat waktu yang ditetapkan bagi kedua tim untuk mengajukan penawaran, hanya KAI-Lockheed Martin yang menyerahkan proposal mereka, sedangkan Korean Air-Airbus masih memerlukan waktu untuk mempersiapkan penawaran mereka.

Batas waktu penyerahan proposal pun diundur karena aturan hukum Korea Selatan mensyaratkan tender diikuti oleh minimal dua peserta.

Akhirnya pada 30 Maret 2015 pemerintah Korea Selatan mengumumkan tender proyek KF-X dimenangkan oleh Korea Aerospace Industries yang menggandeng Lockheed Martin sebagai mitra.

Namun enam bulan kemudian, September 2015, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan menolak transfer empat dari 25 teknologi inti ke Korea Selatan. Transfer teknologi utama jet tempur dinilai AS melanggar kebijakan keamanan negara itu.

Pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan yang juga sudah dibeli Indonesia. (Foto: istimewa)