Jalur Militer: TERORISME

Kekurangan Anggota, ISIS Gunakan Anak-Anak untuk Senjata Bom Bunuh Diri

Menderita kekalahan hampir di semua medan pertempuran baik di Irak maupun Suriah dan kehilangan puluhan ribu pasukan, kini kelompok teroris ISIS mulai kekurangan anggota. Untuk menutupi kelemahannya, ISIS menggunakan anak-anak yang dipaksa untuk menjadi pasukan bom bunuh diri. Sejumlah anak tersebut mereka culik dari sejumlah kamp pengungsian. (Foto: Istimewa)
“Siapa yang akan mencurigai seorang anak kecil? Mereka (ISIS) telah melakukan hal ini kepada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Otak mereka sudah dicuci,”
DAMASKUS -- Bangkitnya kekuatan militer pemerintah Suriah setelah mendapat bantuan dari Rusia dan Iran merubah peta pertarungan dalam menghadapi kelompok teroris ISIS dan kelompok pemberontak lainnya di Irak dan Suriah. 

Hingga kini dilaporkan lebih dari 170.000 para anggota ISIS telah telah di medan perang Suriah dan Irak, dan kini pemerintah Suriah dengan dibantu Rusia, Iran, Hizbullah, Hamas, dan kelompok relawan jihad lainnya serangan penghabisan untuk merebut kembali Provinsi Aleppo dan Raqqa dari tangan kelompok ISIS

Kekalahan hampir di semua medan pertempuran menyebabkan ISIS mulai kekurangan personelnya, selain itu di sejumlah kota yang berhasil direbut kembali pemerintah Suriah, banyak anggota ISIS yang menyatakan menyerah dan keluar dari ISIS. Berkurangnya anggota ISIS diakali oleh para petinggi ISIS dengan cara merekrut secara paksa anak-anak untuk dijadikan anggota baru.


Selain merekrut anak-anak dari kota-kota yang sebelumnya mereka rebut, ISIS juga kerap menculik anak-anak dari sejumlah kamp pengungsian untuk dijadikan senjata bom manusia.

Kelompok teroris dari ISIS pada hari Senin (25/04) merilis video propaganda baru menyerukan anak-anak dan orang tua untuk bergabung dan mendukung opersi melawan koalisi Barat. Video propaganda ini dirilis oleh media center yang mendukung ISIS, Wilayat al-Khayr di Deir ez-Zor.

Puluhan anggota ISIS tewas, setelah dibombardir pasukan pemerintah Suriah di Aleppo selatan. (foto: istimewa)
Video itu ditujukan untuk umat Islam di seluruh dunia, dan menghasut mereka untuk bergabung dengan kelompok ISIS untuk melawan "musuh-musuh Allah."

Setelah itu, video kemudian memunculkan anak laki-laki berusia 14 tahun, dan mengatakan ia bergabung ISIS untuk menjadi anggota pelaku bunuh diri di jajaran kelompok. Anak itu juga mengatakan bahwa jatuhnya kota Shaddadi di provinsi Hasakah dan kota bersejarah Palmyra di Suriah Tengah di tangan pemerintah, tidak terlalu penting, tapi "berkomitmen pada aturan Khilafah adalah hal penting," tegasnya.

Selanjutnya, seorang narator mengajak setiap orang untuk bergabung dengan ISIS untuk mendukung janda, anak yatim dan kaum tertindas. Terakhir, orang tua yang tadi muncul lagi dan menyerukan bahwa ia tidak akan mengampuni anak-anaknya yang tidak bergabung dengan ISIS dan bahwa ia siap "untuk mati demi Allah."


ISIS melakukan perekrutan besar-besaran terhadap para anak dan remaja di Irak dan Suriah. Catatan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, beralihnya perekrutan kepada anak-anak karena ISIS mengalami kesulitan merekrut orang dewasa.

"Tercatat sejak awal tahun 2015, hanya 120 orang dewasa yang bergabung dengan mereka, " ungkap Kepala Observatorium yang berbasis di Inggris, Rami Abdulrahman seperti dilansir dari Reuters, Selasa (24/3).

Propaganda ISIS yang menggunakan anak-anak untuk menjadi anggota baru mereka. Propaganda ini mereka siarkan di Youtube dan sejumlah media sosial lainnya untuk mearik simpatik umat Islam dari seluruh dunia. (Foto: Istimewa)
ISIS mengalami kesulitan dalam perekrutan, lantaran kontrol yang lebih ketat di perbatasan Turki yang menyebabkan pejuang asing sulit untuk masuk ke Suriah. Demi mendapatkan pejuang, ISIS pun mendorong orang tua di Suriah untuk menyekolahkan anak mereka di kamp-kamp pelatihan. Ada pula anak-anak di Suriah yang direkrut tanpa persetujuan dari orangtuanya.

"Perekrutan ISIS sering memikat mereka (anak-anak) karena adanya tawaran uang," kata Observatorium, yang melacak konflik menggunakan sumber di lapangan. Adapun, di kamp-kamp pelatihan, kata dia, anak-anak belajar menggunakan senjata api peluru tajam. Mereka diajarkan berperang di pertempuran dan mengemudi.


Observatorium menambahkan, ISIS juga merekrut anak-anak sebagai informan dan sebagai penjaga untuk kantor pusat. Anak-anak yang cacat sejak lahir pun diterima dengan tangan terbuka oleh ISIS.

Anak-Anak Dijadikan Senjata Bom Bunuh Diri

Demi menarik minat anak-anak di berbagai negara di Timur Tengah, ISIS sering menampilkan anak-anak dalam video-video propaganda mereka. Anak-anak yang dijuluki "Anak Singa Khalifah" ini dilatih menggunakan senjata dan bom. Dalam beberapa video, mereka terlihat melakukan eksekusi mati tawanan.

"Perekrutan anak di kawasan itu meningkat. Anak-anak mengambil peran lebih banyak, mereka dilatih menggunakan senjata berat, menjaga pos pemeriksaan di garis depan, bertugas menjadi sniper, dan dalam kasus yang ekstrem menjadi pengebom bunuh diri, kata juru bicara regional UNICEF, Juliette Touma.

ISIS sudah melatih dan mengajarkan anak-anak yang masih balita, menggunakan bom, roket ataupun senapan mesin lainnya. Biasanya prajurit anak-anak mereka tempatkan di barisan paling depan pertempuran sekaligus untuk menjadi tameng hidup. (Foto: istimewa)
Hisham al-Hashimi, penasihat keamanan pemerintah Irak mengatakan ISIS tahun ini telah mengaktifkan Brigadi Pemuda Surga menyusul kekalahan di beberapa wilayah.

"Pemuda paling mudah direkrut untuk misi bunuh diri, terutama saat tengah menderita atau putus asa akibat kehilangan orang tercinta. Mereka juga tidak menarik perhatian dan kecurigaan dibanding orang dewasa," kata Hashimi. 

Studi Pusat Pemberantasan Terorisme akademi militer West Point di AS pada Februari lalu menunjukkan setidaknya ada tiga pengeboman bunuh diri yang dilakukan anak-anak ISIS antara Januari 2015 dan 2016.

Seperti peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Seorang anak sangat ketakutan saat polisi kota Kirkuk di Irak meringkusnya hari Minggu lalu. Sabuk peledak seberat 2 kg melingkar di pinggangnya, dia hendak meledakkan diri di dekat sebuah masjid Syiah. 


Kepolisian Irak mengatakan ISIS kini terpaksa menggunakan para pengantin bom bunuh diri berusia remaja karena semakin berkurangnya jumlah militan mereka. Menurut mereka, tidak akan ada yang curiga kepada anak-anak sehingga mereka bebas keluar masuk suatu wilayah.
Seorang anak yang menggunakan bom bunuh diri berhasil ditangkap aparat di Suriah, saat hendak meledakkan dirinya di pusat keramaian. (Foto: Istimewa)
“Siapa yang akan mencurigai seorang anak kecil? Mereka (ISIS) telah melakukan hal ini kepada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Otak mereka sudah dicuci,” ujar Gubernur Kirkuk Najmiddin Karim, seperti dimuat Washington Post, Selasa (23/8/16).

“Sangat mudah untuk meracuni pikiran anak kecil,” ucap salah satu pejabat Kepolisian Kirkuk Brigadir Jenderal Sarhad Qadir. Jenderal Sarhad Qadir yakin remaja yang ditangkap di Kirkuk itu dibawa oleh seseorang dari Mosul beberapa hari lalu. Ia juga yakin remaja itu diberikan obat bius oleh ISIS untuk menjalankan aksinya.

Anak yang diperkirakan berusia antara 11-15 tahun ini bukan yang pertama digunakan sebagai "bom berjalan" oleh kelompok militan, bahkan cara ini kian dipilih untuk menyerang lawan. Dalam ledakan di Turki yang menewaskan lebih dari 50 orang, aparat juga mengatakan pelakunya adalah pengebom bunuh diri anak. 


ISIS disebut meneruskan metode yang dipakai oleh pendahulu mereka, Al Qaeda di Irak. Kelompok pimpinan almarhum Osama bin Laden itu sering menggunakan anak kecil sebagai pengantin bom bunuh diri. Anak-anak kecil itu disebut sebagai “Burung-Burung dari Surga”.

Selain itu di Afghanistan, militan Taliban juga telah lama menggunakan anak-anak sebagai serdadu perang. Pada tahun 2012, remaja berusia 14 tahun meledakkan diri di Kabul yang menewaskan enam orang. Dua tahun kemudian remaja lainnya meledakkan diri di pusat kebudayaan Perancis, juga di Kabul.
Anak-anak korban peperangan di Timur Tengah. ISIS biasanya menculik anak-anak yang tanpa memiliki orang tua atau tanpa pengawasan dari sejumlah kamp pengungsian di Irak, Suriah dan Turki. Anak-anak tersebut selanjutnya mereka doktrin agar setia dan bersedia melakukan apapun yang mereka perintahkan. (Foto: Istimewa)

Inilah Sumber Keuangan ISIS yang Menjadikannya Teroris Terkaya di Dunia

ISIS dikenal hingga kini menjadi kelompok teroris paling kaya di dunia. Dengan banyaknya sumber pemasukan dana, ISIS mampu mengerakkan pasukannya dengan mudah.(Gambar: Huffington Post)
Jalurmiliter.com - Munculnya kelompok teroris ISIS secara tiba-tiba dianggap sangat fenomenal. Bagaimana tidak, hanya dalam beberapa bulan saja ISIS mampu menguasai luas wilayah hampir dua kali luas negara Jerman di Irak dan Suriah hanya dalam beberapa bulan saja. Sebuah invasi yang bahkan tak mampu dilakukan oleh negara adidaya sekalipun.

Saat itu dengan propaganda mengatasnamakan Islam, ISIS mampu menarik minat kaum muslimin dari seluruh dunia untuk bergabung dengan mereka. ISIS juga mampu membuat sebuah framing yang sangat baik untuk memanipulasi umat Islam, ISIS selalu mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kemaslahatan Islam. Namun, waktu kemudian menjawab, bahwa perjuangan ISIS sangat jauh dari semangat dan ajaran Islam.

Lalu, apa yang membuat ISIS begitu kuat saat itu. Selain mampu mengumpulkan para prajurit dengan jumlah tanpa batas, ISIS juga memiliki sejumlah sumber pendanaan yang memperkuat pundi-pundi keuangan mereka. Banyaknya sumber pendanaan yang dimiliki ISIS membuat kelompok teror ini menjadi organisasi teroris terkaya di dunia.

Sejumlah lokasi di perbatasan sejumlah negara yang menjadi pintu pemasukan sumber dana ISIS di Timur Tengah. (Gambar: istimewa)
ISIS membutuhkan dana yang tak sedikit untuk biaya kelompok mereka. Mulai dari persenjataan, perekrutan anggota, hingga rencana teror bom yang kerap mereka lakukan di banyak tempat di belahan dunia. Berikut adalah enam sumber dana utama yang menyokong pergerakan ISIS yang dirangkum dari berbagai sumber;

1. Penjualan Minyak Ilegal
Ini merupakan sumber utama pendanaan ISIS. Selama ini, ISIS telah merebut beberapa ladang minyak penting di Suriah dan Irak. Pun sudah menjadi rahasia umum bahwa jalur penyelundupannya adalah melewati Turki. Pentagon menaksir, tiap bulan ISIS meraup omzet hingga 40 juta dollar AS dari pasar gelap minyak, atau setara dengan Rp 525 miliar.

2. Penjarahan Bank 

ISIS selalu menjarah bank-bank di kawasan yang mereka rebut di Suriah dan Irak. Pemerintah AS menaksir, antara 500 juta hingga satu miliar dollar AS mereka raup dari bank-bank tersebut. Saat menaklukkan Kota Mossul di utara Irak, dilaporkan dana sebesar 420 juta dollar AS raib dijarah. Jumlah ini cukup buat membayar gaji 50.000 teroris mereka selama setahun.
ISIS berhasil merebut sebuah ladang minyak dari pasukan Suriah. (Foto: istimewa)
3. Pajak dan Pemerasan
Delapan juta rakyat di kawasan kekuasaan ISIS harus membayar pajak antara 5 sampai 15 persen dari pendapatan. Pemerintah Jerman melaporkan, ISIS juga menerapkan pajak khusus bagi warga non-Muslim. Pajak pun berlaku bagi perusahaan di kawasan yang ditaklukkan harus membayar rutin sejumlah uang perlindungan.

4. Penjualan Barang Antik
Para teroris ini pun biasa mempropagandakan aksi menghancurkan berhala dari kota-kota antik yang mereka kuasai. Namun, barang antik berharga tinggi biasanya diamankan dan diselundupkan untuk dijual di pasar gelap. Juga banyak artefak temuan arkeolog yang disita dan dijual di pasar gelap. Sejauh ini tidak ada angka pasti terkait omzet penjualan ini.

5. Penculikan dan Uang Tebusan
penculikan dan permintaan uang tebusan ibarat pisau bermata dua bagi ISIS. Di satu sisi menjadi sumber pemasukan, dan di sisi lain menjadi propaganda teror. ISIS diyakini telah mengantongi puluhan juta dollar AS. Sandera yang mempunyai efek propaganda besar biasanya dieksekusi dan videonya ditayangkan lewat internet. Dengan sekali pukul, ISIS mencapai dua sasaran.

ISIS merempas sejumlah artefak kuno untuk dijual ke pasar gelap barang antik. Banyak artefak kuno dari Suriah yang memiliki nilai tinggi, dijual kelompok ISIS untuk mendanai pergerakannya. (Foto: istimewa)

Berada Diambang Kekalahan, Pemimpin ISIS Malah Dikudeta Pasukannya

Terjadi sebuah tindakan kudeta di dalam tubuh organisasi teror ISIS. Kudeta yang dilakukan para petinggi ISIS tersebut bertujuan untuk membunuh pemimpin ISIS, namun berhasil digagalkan.
"Pemimpin Polisi Islam ISIS tewas, bersama dengan sejumlah pembantunya, dan ISIS mengeksekusi massal anggota yang yang berpartisipasi dalam upaya kudeta,"
MOSUL -- Kesialan sepertinya kini tak henti-hentinya mengikuti kelompok teror ISIS. Setelah mengalami kekalahan hampir di semua medan pertempuran, baik di Irak, Suriah dan Libya, kini ISIS mengalami perpecahan dari dalam, dan memicu terjadinya upaya kudeta yang dilakukan para petinggi ISIS sendiri.

Pemimpin tertinggi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi dilaporkan selamat dari upaya kudeta yang dilakukan oleh "Polisi Islam ISIS" di Mosul setelah tentara al-Assra berhasil menumpas upaya kudeta tersebut, demikian menukil laporan situs berbahasa Arab, al-Sumaria pada Senin, 17/10/16.

Menurut laporan al-Sumaria, Komandan Polisi Islam ISIS, Abu Othman, memimpin upaya kudeta dengan menyerang empat markas ISIS di Mosul. Tetapi, pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi mengerahkan apa yang disebut sebagai tentara al-Assra untuk menekan kudeta dan membunuh tujuh pemimpin Polisi Islam ISIS yang diduga terlibat.

"Pemimpin Polisi Islam ISIS tewas, bersama dengan sejumlah pembantunya, dan ISIS mengeksekusi massal anggota yang yang berpartisipasi dalam upaya kudeta," tulis al-Sumaria.

Pemimpin tertinggi ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi
Kantor Berita Irak itu juga melaporkan, beberapa jam sebelum kudeta Polisi Islam ISIS dilakukan, mereka mencoba mengumumkan melalui pengeras suara yang dibawa kendaraan bahwa aturan al-Baghdadi di Mosul berakhir, dan Baghdadi melarikan diri ke kota Suriah di Raqqa.

"ISIS mengumumkan hal itu melalui detasemen medianya bahwa mereka telah mengatasi kudeta yang dilakukan oleh Kepolisian Islam terhadap al-Baghdadi dan kembali mengontrol penuh seluruh markas setelah konfrontasi hebat yang berlangsung selama beberapa jam," tambah al-Sumaria.

Peta pertempuran di Timur Tengah mengalami perubahan setelah Rusia ikut ambil bagian di Suriah. ISIS sebelumnya seakan menjadi kekuatan tanpa tanding di Irak, Suriah dan Libya mengalami kemunduran setelah rakyat di sejumlah negara jajahan ISIS bangkit melawan.

Kehadiran Rusia memberikan semangat baru pada pemimpin negara yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan ISIS, ditambah lagi Amerika Serikat, Arab Saudi, Turki dan sejumlah negara koalisi lainnya yang selama ini selalu berkoar-koar akan membasmi ISIS, justru dikemudian hari diketahui menjadi sponsor utama terbentuknya kekuatan ISIS.(*)

Sumber: IT/al-Sumaria

Kelompok Militan Abu Sayyaf Kembali Menyandera WNI

Kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan. Sejumlah WNI kembali disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Kejadian penculikan WNI secara berulang-ulang tersebut menjadi pertanyaan sejumlah pihak akan kemampuan Presiden Joko Widodo dalam melindungi warga negaranya. (Foto: Istimewa)
"ABK dan pelaut kita benar-benar jadi bulan-bulanan perompak dan teroris dari kelompok Abu Sayyaf,"
JAKARTA -- Terus terjadinya penculikan Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri selama pemerintahan Presiden Joko Widodo menjadi pertanyaan banyak pihak dan masyarakat. Kemampuan Jokowi dalam melindungi warga negaranya di luar negeri sangat lemah. Bahkan DPR RI menganggap terulangnya penculikan WNI di luar negeri sebagai bukti bahwa di era pemerintahan Jokowi, Indonesia sama sekali tak dipandang apalagi ditakuti oleh dunia.

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari menilai penculikan anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) menunjukkan Indonesia dilecehkan oleh orang atau kelompok. Atas persoalan penculikan ABK WNI yang selalu berulang, ia mengatakan langkah pertama yang harusnya dilakukan pemerintah memperbaiki diplomasi Indonesia agar semakin bagus.

"Itu artinya kewibawaan kita tidak dihitung," kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu saat dihubungi, Senin 11 Juli 2016.

Abdul menyatakan sudah mewanti-wanti agar solusi penculikan jangan menggunakan tebusan. Tapi menurutnya semua orang tahu kasus-kasus terdahulu diselesaikan dengan membayarkan tebusan.

"Bukan sekadar jadi pembelajaran tapi harus belajar lebih cepat lagi, jangan belajarnya terlalu lama apalagi ini sudah ke empat. Kalau di Filipina dilakukan Abu Sayyaf maka mereka menghitung banget, kenyataannya ditebus juga," kata Abdul.
Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari. (Foto: Istimewa)
Ia menegaskan kalau Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi disegani, maka tidak akan ada pihak yang berani menculik WNI. Persoalannya diplomasi yang pemerintah Indonesia lakukan ke negara-negara yang bersangkutan belum berhasil.

Penculikan WNI Terjadi Lagi

Peristiwa penculikan WNI yang berprofesi sebagai anak buah kapal (ABK) kerap berulang. Tercatat, hingga pertengahan tahun ini, sudah empat kali terjadi penculikan oleh "lanun" atau kelompok pembajak/perompak dari Filipina selatan.

Yang terbaru, pada Sabtu, 9 Juli 2016, tiga orang diculik oleh lima orang bersenjata di Perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi sampai berucap kalau berulang-ulangnya penculikan sudah mencapai titik nadir. Tidak bisa lagi ditolerir.

Bagi politisi Partai Golkar Tantowi Yahya, serangkaian aksi penculikan ini menunjukan Indonesia telah menjadi sasaran empuk kelompok itu.


"ABK dan pelaut kita benar-benar jadi bulan-bulanan perompak dan teroris dari kelompok Abu Sayyaf," kata Tantowi melalui pesan singkat, Selasa, 12 Juli 2016.
Kapal Brahma 12, sebuah kapal yang sempat dibajak oleh kelompok Abu Sayyaf. (Foto: Istimewa)
Menurutnya, persoalan yang membuat kelompok Abu Sayyaf berani menyandera pelaut Indonesia, jika berkaca pada penanganan saat pembebasan sebelumnya, "Kita terlalu lembek, terlalu persuasif istilahnya Panglima TNI."

Anggota Komisi I DPR yang membidangi hubungan luar negeri dan pertahanan keamanan ini mengingatkan, mengenai perjanjian tiga negara, yaitu Indonesia, Filipina dan Malaysia. Pada perjanjian ini, semua menteri luar negeri dan panglima militer tiga negara itu sepakat melakukan patroli bersama di perairan yang rawan tersebut.

Sedangkan, Pengamat hubungan internasional Emil Radiansyah menuturkan satu faktor kemungkinan mengapa WNI menjadi sasaran penculikan kelompok yang diduga termasuk ke dalam jaringan Abu Sayyaf itu.

Pada kasus penculikan April lalu, menurut Emil, WNI dibebaskan diduga dengan cara ditebus. Itu indikasi sangat kuat, meskipun pemerintah tidak pernah mengakuinya.

“Menurut saya, indikasi kuat mengapa WNI jadi sasaran penculikan karena (dugaan) faktor tebusan itu," kata dia, Senin, 11 Juli 2016.
Kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan. (Foto: Istimewa)

Terbukti Bantai Siyono, Anggota Densus 88 Diperiksa

Salah satu aksi Densus 88 saat melakukan tugasnya. Densus 88 selama ini sering bertindak sewenang-wenang dan sering melecehkan simbol-simbol Islam, rumah ibadah dan bahkan pemuka agama dalam setiap melaksanakan tugasnya. (Foto: istimewa)
"Banyak patah tulang dan segala macam yang berujung kepada jantung itu penyebab kematiannya. Patah tulang di bagian tubuh ditemukan banyak,"
JAKARTA -- Meski berkali-kali sempat membantah adanya kesalahan prosedur dan pelanggaran hukum dalam penangkapan Siyono salah satu terduga teroris yang tewas oleh Densus 88, Mabes Polri akhirnya mengakui bahwa ada beberapa anggota Densus 88 yang melakukan tindakan yang melampaui tugas dan kewenangannya.

Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Mabes Polri, Irjen M Iriawan mengatakan sudah memeriksa tujuh orang saksi yang merupakan anggota Densus 88 Antiteror terkait kasus kematian terduga teroris asal Klaten Siyono.


 "Ada banyak saksi-saksi yang sudah saya periksa. Pokoknya saksi yang melihat dan mendengar, ya diperiksa. Khusus yang dari Densus ada tujuh orang yang saya periksa, termasuk dua anggota yakni yang mengawal dan menyupir," kata Iriawan di Komplek Mabes Polri, Jumat (8/4/2016).

Selain itu anggota Kepala Satuan Wilayah di Jateng juga menjadi bagian dari tujuh orang yang diperiksa dari Densus 88. Bahkan akan ada sidang kode etik untuk anggota Densus yang mengawal dan menyupir tersebut.

"Intinya memang ada kesalahan prosedur, enggak diborgol (Siyono). Mereka tidak memborgol karena merasa sudah dekat (dengan lokasi tempat penitipan senjata di Prambanan). Nanti ada sidang kode etik dan profesi, mereka tidak profesional," pungkasnya.
Kesimpulan Hasil Autopsi

Ketua Umun PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Azhar Simajuntak memaparkan empat poin kesimpulan dari hasil autopsi jenazah terduga teroris asal Klaten, Siyono.

"Pertama tidak benar sudah dilakukan autopsi terhadap jenazah Siyono sebelumnya. Autopsi yang dilakukan oleh tim dokter forensik yang diketuai oleh Dokter Gatot (tim PP Muhammadiyah) adalah autopsi yang pertama," tegas Dahnil, Senin (11/4/16).

Demonstrasi masyarakat memprotes aksi brutal Densus 88 terhadap warga terduga teroris. Sebagian masyarakat saat ini menganggap bahwa Densus 88 sengaja mengincar umat Islam dan membantainya tanpa didasari fakta hukum yang jelas. (Foto: istimewa)
Kedua lanjut Dahnil tidak benar ada indikasi kematian Siyono karena pendarahan di kepala.

"Ternyata hasil autopsi dokter tim forensik kita justru di kepala itu kalau istilah dokter otaknya tidak dalam bentuk bubur merah tetapi bubur putih. Berati tidak ada pendarahan di kepala. Agak aneh kalau kemudian polisi bisa tahu penyebab kematiannya adalah pendarahan di kepala karena polisi sendiri tidak pernah melakukan autopsi kecuali CT Scan," tegasnya.

Ketiga, dokter forensik telah membuat kesimpulan di mana dari hasil autopsi yakni uji mikroskopis dan lab ditemukan pendaraan hebat. "Banyak patah tulang dan segala macam yang berujung kepada jantung itu penyebab kematiannya. Patah tulang di bagian tubuh ditemukan banyak," katanya.

Yang terakhir lanjut Dahnil dari hasil autopsi jenazah Siyono tidak ditemukan adanya indikasi perlawanan dari Siyono. "Empat poin itu penting menjawab apa yang disampaikan Densus 88 dan pihak kepolisian," pungkasnya.


Sedangkan aktivis PP Muhammadiyah, Makmun Murod al Barbasy, mengatakan bahwa autopsi terhadap jenazah terduga teroris Siyono dilakukan untuk menemukan jawaban dari sisi ilmiah terkait kematiannya yang dianggap tidak wajar.

Menurutnya, autopsi jenazah merupakan langkah yang tepat sehingga tidak menimbulkan prasangka.

"Itu langkah luar biasa, jadi tidak ada timbul sangka suudzon, tapi ini fakta (hasil autopsi) seperti ini. Jadi yang menjawab siapa pun tidak ada yang bisa membantah. Polisi tidak bisa membantah dan masyarakat juga tidak bisa seenaknya menuduh. Jadi, proporsional," kata Makmun Murod di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (7/4/16).


Hasil Autopsi Tampar Densus 88
 

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengatakan, tindakan Muhammadiyah harus dihargai untuk mengungkap kesalahan polisi, khususnya Densus 88 Antiteror Mabes Polri, dalam menangani kasus ini.

"Apa yang dilakukan Muhammadiyah harus dihargai dan menjadi tamparan bagi kepolisian, Densus 88 bagaimana terjadi pelanggaran, karena apa pun ceritanya kalau ditahan kemudian meninggal itu pelanggaran. Polisi benar lakukan sidang etik terhadap perkara Siyono," kata Fadli, Selasa (12/4/2016).

Sebuah meme yang dibuat netizen dalam menyikapi aksi Densus 88, yang dianggap tidak adil terhadap umat Islam. (Gambar: Facebook)
Menurut Fadli, penanganan kasus ini tak cukup dengan sekadar sidang etik, namun harus diberikan sanksi berat. Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) harus ditanggapi serius.

"Harus ada pembenahan dan sanksi berat. Satu orang saja kita permasalahkan bertahun-tahun, ini sebegitu banyak. Era Reformasi tekankan HAM," tegasnya.


Berdasarkan agenda DPR sendiri, komisi III hari ini, pukul 13.00 WIB, akan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan PP Muhammadiyah, Komnas HAM, dan KontraS. Jadwal ini sesuai rencana komisi hukum itu sejam minggu lalu.

Seperti diketahui Almarhum Siyono meninggal dunia usai berkelahi dengan anggota Densus 88 saat mengawalnya menunjukkan lokasi tempat penitipan senjata. Propam menemukan memang ada kesalahan prosedur dalam pengawalan itu.

Autopsi jenazah Siyono dilakukan pada Minggu 3 April 2016 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dukuh Brengkungan Desa Pogung Kecamatan Cawas Klaten Jawa Tengah.

Siyono tewas setelah Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 menangkapnya dan menyiksanya dengan membabi buta. Siyono dikembalikan kepada keluarganya dalam kondisi tubuh yang sudah rusak dan hancur. (*JM)

Sumber:Jurnalummah.com

Gawat! WNI Disandera ISIS, Mampukah Jokowi Membebaskan?

Para anggota Abu Sayyaf di Filipina selatan. Abu Sayyaf menyandera 10 WNI dan meminta tebusan sebagai syarat pembebasan kepada pemerintah Indonesia (ilustrasi)
"Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan pada tanggal 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf"
MANILA -- Pemerintah Indonesia saat ini dikagetnya dengan informasi tidak mengenakkan yang datang dari Filipina.

Seperti dilansir dari Manila Bulletin, Selasa (29/3), melaporkan sebanyak 10 WNI yang berada di kapal dengan nama lambung Brama berbendera Indonesia, diserang dan diculik oleh kelompok Abu Sayyaf. Otoritas Pejabat militer senior di Filipina menyebut penculik minta uang tebusan.

Pejabat setempat mengatakan, kapal yang dibawa 10 WNI itu dibajak dan disandera dekat perbatasan Malaysia saat berlayar dari Indonesia menuju Filipina. 10 WNI tersebut disandera bersama 7 ribu ton batu bara.

 
Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelompok militan itu menyerang kapal yang kemudian berlanjut penyanderaan. 10 WNI ini dibawa dengan boat kelompok menyerang diduga ke Pulau Sulu atau Basilan.

Sedangkan kapal tongkang itu sudah ditemukan dalam keadaan kosong oleh kepolisian Filipina di Tawi-tawi. Pihak penyerang sudah mengontak otoritas Filipina dan meminta tebusan sebesar Rp 15 miliar.

Kapal Brama yang dibajak kelompok Abu Sayyaf. (Foto: istimewa)
Para WNI itu sempat menghubungi majikan mereka untuk memberitahu tentang pembajakan yang dialami, tapi lokasi tempat mereka disandera belum diketahui.

Salah seorang korban disebut sudah dipaksa melakukan kontak dengan aparat setempat, untuk memberitahukan bahwa penyandera meminta tebusan untuk membebaskan mereka.


Pemerintah Mengakui


Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso membenarkan 10 WNI itu diculik oleh Kelompok Abu Sayyaf di Filipina. "Betul terjadi pada hari Sabtu yang lalu," ujar Sutiyoso, Senin (28/3/2016).

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia hingga kini masih melakukan koordinasi dengan otoritas Filipina mengenai kapal Indonesia yang dibajak dan 10 WNI awak kapal yang disandera.


Untuk menangani kasus ini, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L.P Marsudi terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait di Indonesia dan Filipina, termasuk dengan Menlu Filipina.

Kelompok Abu Sayyaf saat menyandera warga negara asing yang berhasil mereka tangkap. (Foto: istimewa)
Juru bicara Kemlu Arrmanatha Nasir, disampaikan pihak perusahaan sudah ditelpon penyandera dan diminta sejumlah uang tebusan. "Pihak pemilik kapal baru mengetahui terjadi pembajakan pada tanggal 26 Maret 2016, pada saat menerima telepon dari seseorang yang mengaku dari kelompok Abu Sayyaf.

Dalam komunikasi melalui telepon kepada perusahaan pemilik kapal, pembajak/penyandera menyampaikan tuntutan sejumlah uang tebusan," katanya, melalui pesan singkat, Selasa (28/3).

Pemerintah Harus Tegas!


Menanggapi terjadinya penyanderaan WNI di Filipina, Komisi I DPR RI meminta pemerintahan Joko Widodo bertindak cepat dan tegas dalam mengatasi hal tersebut.

"Sesuai dengan kebiasaan dan etika diplomasi, kita gunakan dulu perwakilan kita di Manila dibantu oleh BIN untuk melakukan komunikasi dengan kelompok Abu Sayyaf," kata Anggota Komisi I DPR Tantowi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (29/3).

Peta wilayah kekuasaan kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan. (Foto: istimewa)