Jalur Militer: ALUTSISTA

4 Jenis UAV Tempur Super Canggih Siap Perkuat Militer Rusia

Rusia menjawab tantangan perang dimasa depan dengan menciptakan berbagai jenis pesawat tanpa awak (done/UAV) untuk memperkuat strategi dan postur militer negara adidaya tersebut. (Foto: istimewa)
MOSKOW -- Pesawat nirawak (UAV/drone) menjadi salah satu alat perang yang paling banyak diandalkan oleh militer Rusia di medan perang saat ini. Rusia semakin agresif menciptakan berbagai jenis UAV/drone dengan berbagai macam kemampuan dan kecanggihan.

Berikut sejumlah UAV yang telah dan sedang diciptakan Rusia, dan bahkan diantaranya ada yang sudah diujicoba langsung di medan perang.

1. UAV Orion

Ini merupakan salah satu drone yang telah berlaga di Suriah. Setelah diuji dalam pertempuran melawan kelompok militan di Suriah, drone Orion telah dikirim ke Tentara Rusia. Orion dipersenjatai empat buah peluru kendali dan nonkendali yang mampu menghancurkan target musuh pada jarak ratusan kilometer.

Drone baru ini dapat membawa empat rudal dengan bobot hingga 200 kg. Pada saat yang sama, Orion mampu mendaki ke ketinggian 7,5 km. Pesawat tanpa awak itu juga mampu melesat hingga 200 km/jam dan baterai yang tahan selama 24 jam. Setelah itu, drone perlu kembali ke hanggar untuk “mengisi bahan bakar”.

Kronstadt, perusahaan pengembang drone tersebut, belum mengomentari keberhasilan Orion baru-baru ini. Perusahaan itu pun enggan memberikan keterangan lebih rinci terkait pengiriman Orion ke pasukan Rusia. Selain mengutip “rahasia negara”, mereka masih harus menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut Viktor Murakhovsky, Pemimpin Redaksi Arsenal Otechestva, ada dua versi Orion yang digunakan di Suriah: satu untuk pengintaian, sedangkan yang lainnya untuk penyerangan.

UAV Orion buatan Rusia yang sudah diujicoba di medan perang Suriah. (Foto: Istimewa)
“Pasukan Kedirgantaraan Rusia kini sedang mengembangkan program untuk drone jarak jauh berdampak besar. Para jenderal ingin unit-unit tentara baru dipersenjatai dengan pesawat tradisional dan UAV dengan senjata kelas serupa supaya bisa beroperasi bersama dalam satu kelompok,” kata sang ahli.

2. UAV Sukhoi S-70 Okhotnik

Senjata mematikan lain yang akan segera memperkuat Tentara Rusia adalah drone tempur Okhotnik buatan Sukhoi. Dibuat dengan teknologi yang sama dengan pesawat tempur generasi kelima Su-57, drone ini merupakan prototipe pesawat tanpa awak masa depan.

Sebagaimana “abangnya” (Su-57), Okhotnik adalah pesawat tipe sayap terbang (flying wing), yang keduanya melindungi pesawat dari sistem pertahanan udara musuh dan memungkinkan drone membawa lebih banyak senjata.

Selain itu, drone seberat 20 ton tersebut dapat meluncur mencapai target dengan kecepatan supersonik hingga 1000 km/jam (hampir menyamai kecepatan suara). Apalagi, Okhotnik juga dilengkapi dengan salah satu komputer pertama yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan.

Teknologi ini membuat si operator terbebas dari sebagian besar tugas pengoperasian kecuali keputusan untuk mengerahkan senjata. Beberapa teknologi dan amunisinya bahkan disatukan dengan Su-57.

“Persenjataan Okhotnik termasuk rudal udara-ke-darat dan sejumlah bom (misil kendali dan bersayap) yang disembunyikan di dalam tubuh drone demi mengurangi visibilitas pada radar musuh alih-alih menggantungnya pada sayap,” ujar Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer Rusia kepada Rusia Beyond.

Di antara bom yang diangkut Okhotnik adalah bom berdaya ledak tinggi OFZAB-500 dan bom udara ODAB-500PMV, yang keduanya telah digunakan dalam kampanye militer di Suriah.

Salah satu UAV pertama Rusia kelak dapat menggunakan senjata pesawat tempur generasi kelima dan menyediakan platform untuk menguji teknologi pesawat masa depan. Foto-foto pertama drone terbaru Rusia, Okhotnik-B, yang diambil di lokasi uji coba di dekat Novosibirsk, dirilis di internet pada awal bulan ini.

Sebagaimana yang ditunjukkan foto-foto itu, drone tersebut adalah tipe drone bersayap yang dapat memberikan perlindungan lebih baik dari pertahanan udara musuh. Drone itu pun mampu membawa lebih banyak senjata. Teknologi kecerdasan buatan membuat drone ini sangat mandiri.

UAV Sukhoi S-70 Okhotnik. (Foto: Akela Freedom/artstation.com)
“Ini bukan hanya salah satu drone tempur pertama yang dibuat di Rusia, tetapi juga sebuah platform untuk menguji teknologi tempur generasi keenam. Spesifikasinya memang masih dalam tahap penyelesaian, tetapi fitur utamanya sudah diketahui, yaitu sistem yang sepenuhnya berbasis robot,” ujar Kozyulin menjelaskan.

Dalam istilah militer Rusia, “sepenuhnya berbasis robot” berarti tidak ada pilot dan mampu untuk membuat keputusan secara independen dari awal hingga akhir. “Mesin itu sudah melakukan siklus penuh operasi tempur, dengan pengecualian mengerahkan senjata dalam pertempuran. Fungsi ini ada pada operator,” tambahnya.

Menurut Kozyulin, badan pesawat itu terbuat dari bahan komposit dengan lapisan radio reflektif berbasis teknologi siluman.

3. UAV ZALA 421-16E2

Kalashnikov, perusahaan senjata Rusia yang terkenal akan senapan serbu legendaris AK-47, telah mulai memproduksi massal pesawat tak berawak (drone) canggih untuk penyelidikan dan pengintaian, ZALA 421-16E2. Pesawat ini memiliki fitur penerbangan tanpa suara.

“Sistem ZALA 421-16E2 tidak ada bandingannya baik di Rusia maupun di dunia dalam hal fungsionalitas, kesederhanaan, dan keandalan operasi. Ia juga memiliki fitur penerbangan tanpa suara, yang sangat berguna untuk badan-badan pertahanan dan keamanan,” ujar Nikita Zakharov, wakil CEO ZALA AERO (bagian dari Kalashnikov), seperti yang diberitakan TASS, Selasa (20/6).

Beberapa badan pemerintah, perusahaan, dan perdagangan telah memesan sistem ZALA 421-16E2. Kalashnikov berharap drone ini dapat diuji coba tahun ini dan didemonstrasikan pada Pertunjukan Udara dan Aviasi Internasional 2017 di Moskow pada Juli 2017 dan pameran Army 2017 pada Agustus mendatang.

Drone ZALA 421-16E2 buatan Rusia. (Foto: Istimewa)
ZALA 421-16E2 memiliki bobot 7,5 kilogram, dan dapat dipasang kamera siang hari dengan 60 kali optical zoom dan modul pencitraan termal dengan 10 kali optical zoom. 

Drone ini dapat mengirimkan informasi video di tengah kondisi cuaca yang sulit dengan jarak lebih dari 30 kilometer dan radius kendali lebih dari 50 kilometer. Selain itu, ZALA 421-16E2 juga dapat terbang terus-menerus selama empat jam dan diluncurkan dengan tangan.

4. UAV T-16
Eleron

Biro Desain Eniks, perusahaan asal Kazan, sedang mengembangkan drone T-16 yang didesain untuk keperluan militer. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strake di tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah

Rusia sedang menguji coba T-16, pesawat tanpa awak (UAV/drone) bersenjata buatan lokal, demikian dilaporkan kantor berita Interfax, mengutip seorang sumber di sektor pertahanan.

“UAV ini dapat membawa muatan hingga 6 kilogram,” ujar sang sumber. “Ia dapat mengirim amunisi di pylon bawah sayapnya.” Ia tidak menjelaskan lebih detail mengenai karakteristik teknis persenjataannya, yang diketahui berasal dari pihak ketiga.

T-16 memiliki bobot lepas landas sekitar 20 kilogram, menurutnya. Pesawat tersebut memiliki dua ekor dengan konfigurasi kanard, serta dilengkapi dengan strakedi tepi muka sayap serta sayap kecil yang mengarah ke bawah. Baling-baling pendorong drone tersebut digerakkan oleh akumulator dengan kebisingan rendah atau motor elektrik bertenaga bensin.

UAV terbaru ini sedang dikembangkan oleh Biro Desain Eniks, perusahaan spesialis perancangan UAV dan objek udara berukuran kecil asal Kazan. Proyek perusahaan ini sebelumnya termasuk UAV Tipchak-RN, yang dikirim untuk penyelidikan proyektil yang diluncurkan dari sistem peluncur roket Smerch, serta berbagai macam modifikasi UAV Eleron 3 dan Eleron 10 untuk badan-badan keamanan Rusia.

Eleron 10 sendiri bertindak sebagai platform untuk UAV Valdai yang digunakan oleh Layanan Keamanan Federal Rusia untuk berpatroli di Olimpiade 2014 di Sochi. Di halaman situs webnya, Eniks mengatakan bahwa mereka memiliki lapangan uji coba UAV sendiri.

Drone T-16 belum terdaftar dalam katalog produk Eniks. Namun begitu, tahun lalu di sumber-sumber internet tertentu beredar foto-foto contoh T-16 yang diambil di acara Konferensi Sains Militer “Perobotan Angkatan Bersenjata Rusia”.

Sumber tersebut menyorot kesamaan penampilan T-16 dengan UAV Orbiter 3b buatan perusahaan asal Israel, Aeronautics Defense Systems, yang telah tersedia sejak 2014.


Sepuluh hingga 15 tahun yang lalu, hanya UAV berkelas MALE yang mampu membawa senjata, ujar Denis Fedutinov, pakar sistem tanpa awak dan pemimpin redaksi situs web UAV.ru.

UAV T-16 Eleron buatan Rusia. (Foto: Istimewa)

AS Upgrade Pesawat Pembom B-52 "Big Ugly Fat Fellow" dengan Rudal Hipersonik

Militer Amerika Serikat menyatakan akan terus memperkuat pesawat pembom "gaek" B-52 Stratofortress dengan persenjataan super canggih. (Foto: Istimewa)
WASHINGTON DC -- Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) menginginkan armada pesawat pembom (bomber), termasuk B-52 Stratofortress, berevolusi untuk dipersenjatai dengan rudal hipersonik.

Asisten Sekretaris Angkatan Udara untuk Akuisisi, Teknologi dan Logistik Will Roper mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa mengepak pesawat dengan senjata hipersonik bisa dilakukan, yang akan mengubah pesawat-pesawat pembom Amerika menjadi "pesawat arsenal".

Pesawat pembom AS yang membawa rudal jelajah bukanlah hal baru, tetapi peran utama pembom strategis seperti B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer adalah apa yang selalu diharapkan dilakukan oleh pesawat pembom, yakni terbang di atas target dan menjatuhkan bom.

Namun, dengan pertahanan udara yang lebih canggih dari sebelumnya, ide evolusi itu muncul. "Bisakah kita berpikir lebih luas tentang bagaimana sebuah pesawat yang membawa banyak senjata dapat dilihat?," kata Roper, seperti dikutip dari Military.com, Kamis (14/11/2019).

"Sebagai contoh, bagaimana bomber kebuntuan ini bekerja di lingkungan yang diperebutkan dengan cara yang komplementer dengan B-21?," ujarnya.

Laporan media itu mencatat rentetan tes baru-baru ini dengan Skuadron Uji Penerbangan ke-419, Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, menunjukkan upaya tersebut.

Komandan Komando Serangan Global AS, Jenderal Tim Ray, pada bulan September mengatakan bahwa para pejabat sekarang membahas bagaimana menempatkan empat hingga potensial delapan senjata hipersonik besar dalam ruang bom pesawat-pesawat pembom. Roper menunjukkan preferensi untuk B-52 "Big Ugly Fat Fellow" sebagai pesawat arsenal masa depan.

Sejarah Panjang Pesawat pembom B-52 Stratofortress


Amerika Serikat hingga detik ini masih menjadikan pesawat pembom B-52 sebagai salah satu tulang punggung kekuatan militer mereka. Tercatat, pembom B-52 selalu diterjunkan menghadapi musuh-musuh terkuat AS di seluruh dunia.

Di Timur Tengah, Selama operasi Desert Storm, pembom B-52 mengirim 40 persen dari semua senjata yang dijatuhkan oleh pasukan koalisi. Ini sangat efektif ketika digunakan untuk pengawasan laut, dan dapat membantu Angkatan Laut AS dalam operasi anti-kapal dan pembersihan ranjau. Dua B-52, dalam dua jam, dapat memonitor permukaan laut seluas 364.000 kilometer persegi.

Pesawat Komando Udara Strategis B-52G Stratofortress bersiap untuk berangkat selama misi Operasi Badai Gurun. (Foto: Istimewa)
Saat ini, Pentagon mengirim empat pesawat pengebom B-52 Stratofortress ke Timur Tengah untuk merespon dugaan ancaman Iran di kawasan Teluk Persia. Di Afghanistan, pengebom B-52 menjadi senjata paling efektif bagi AS dalam menghancurkan basis-basis pertahanan pasukan Taliban. 

Tercatat dalam perang tersebut, pembom B-52 menjatuhkan peluru kendali presisi di pusat-pusat pertahanan Taliban, terbanyak sepanjang sejarah pesawat tua tersebut masuk dalam layanan militer AS.

AS juga menerjunkan Dua pesawat pengebom B-52 Stratofortress untuk menghadapi agresi militer China  di kawasan Laut China Selatan. Pesawat pengebom itu terbang dari Pangkalan Andersen di Guam.

Terbangnya B-52 terjadi setelah AS menuduh China menghalangi adanya upaya pengembangan energi di Laut China Selatan melalui "cara yang memaksa". Negara kawasan Asia Tenggara yang menjadi sekutu AS di kawasan Indo-Pacific, tidak bisa melakukan eksplorasi sumber daya energi terbarukan senilai 2,5 triliun dollar AS, atau Rp 35.695 triliun.

Saat terjadi agresi militer Rusia di semenanjung Krimea, Pentagon juga menjadikan pembom B-52 sebagai penggertak agar Rusia tidak memperluas ambisi teritorialnya di benua Eropa. Setidaknya enam pesawat pengebom B-52 berkemampuan nuklir milik Angkatan Udara AS itu telah dikirim ke Benua Eropa.

Terakhir Satuan tugas pesawat pengebom B-52 Stratofortress, kru operator, maupun peralatan pendukung dari Wing Pengebom Kedua tiba di Fairford Inggris dari Barksdale. AU menyatakan, beberapa unit pesawat itu sudah berpartisipasi dalam misi yang dilaksanakan di seluruh Eropa. Pembom B-52 benar-benar menjadi "mata dan telinga" AS untuk mengawasi sepak terjadi militer Moskow di kawasan benua biru tersebut.

Boeing B-52 Stratofortress merupakan sebuah pesawat pengebom strategis jarak jauh pengintai (reconnaissance aircraft) bermesin delapan yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sejak 1954, menggantikan Convair B-36 dan Boeing B-47.

Pesawat seberat 84 ribu kilogram tersebut pertama kali digunakan di era 1950-an saat Perang Dingin memasuki puncaknya. Semula, Stratofortress didesain sebagai pengebom nuklir jarak jauh antarbenua yang bisa terbang tinggi dan menyerang jantung Uni Soviet.

B-52 paling baru mulai digunakan pada 1962, dan pesawat sepanjang 48 meter itu pun kemudian menjadi ikon perang dingin. Pesawat ini banyak dimodifikasi sejak Perang Dingin berakhir dan diperbarui dengan peluru kendali presisi, peralatan elektronik dan sensor canggih.


Walaupun dibuat untuk peran era Perang Dingin, pencegahan perang nuklir, pemakaian konvensionalnya pada masa kini adalah semakin penting dalam operasi-operasi USAF, di mana jarak jangkaunya yang jauh, muatan senjata beratnya, dan biaya operasionalnya yang ekonomis (dibanding dengan armada kapal pengebom strategis USAF yang lain) sangat berguna.
Sebuah pesawat pengebom AS B-52H terbang melintasi Laut China selatan. (Foto: Defense World)
B-52 Stratofortress atau biasa disebut BUFF, merupakan pembom strategis super berat yang dirancang oleh Boeing pada 15 April 1952, dan digunakan oleh USAF. Pesawat ini diawaki oleh 5 orang kru yang terdiri dari pilot, copilot, weapon system officer, navigator, electronic warfare officer. Kecepatan terbang dari BUFF mencapai 1.047 km/perjam, dengan radius terbang 16.232 km, di ketinggian 15 km. Seluruh jenis bom yang dimiliki oleh Amerika sanggup diangkut oleh BUFF.

Menurut situs Angkatan Udara AS US Air Force, www.af.mil, yang dikutip 14 Mei 2019, B-52 adalah pesawat pengebom jarak jauh yang masuk dalam ketegori pengebom berat dan bisa melaksanakan berbagai jenis misi. B-52 mampu terbang dengan kecepatan subsonik dengan ketinggian 15.166 meter. Pesawat ini mampu membawa nuklir atau bom konvensional kendali presisi tinggi.

Semua B-52 dapat dilengkapi dengan dua sensor penglihatan elektro-optik, inframerah yang melihat ke depan dan teropong penargetan (pod) canggih untuk meningkatkan penargetan, penilaian pertempuran, dan keselamatan penerbangan, sehingga semakin meningkatkan kemampuan tempurnya.

Pilot mengenakan kacamata penglihatan malam, atau nightvision google (NVG), untuk meningkatkan penglihatan mereka selama operasi malam hari. Kacamata penglihatan malam memberikan keamanan yang lebih besar selama operasi malam hari dengan meningkatkan kemampuan pilot untuk membersihkan medan secara visual.

B-52 ditingkatkan dari Pod Penargetan Lanjutan Litening ke Pod Penargetan Lanjutan Sniper. Pod sniper memberikan peningkatan deteksi atau identifikasi target jarak jauh dan pengawasan yang stabil terus menerus untuk semua misi, termasuk dukungan udara dekat pasukan darat.

Penargetan canggih dan teknologi pemrosesan gambar pod secara signifikan meningkatkan keefektifan tempur B-52 pada siang hari, malam hari dan kondisi cuaca di bawah serangan sasaran darat dengan berbagai senjata penahan (yaitu, bom yang dipandu laser, konvensional bom dan senjata yang dipandu GPS).

Penggunaan pengisian bahan bakar udara memberi B-52 rentang yang hanya dibatasi oleh daya tahan kru. Pesawat pengebom B-52 memiliki jangkauan jelajah lebih dari 14.080 kilometer. Dalam konflik konvensional, B-52 dapat melakukan serangan strategis, dukungan jarak dekat, larangan udara, operasi serangan balik udara dan maritim.

Pesawat pengebom B-52 memang pesawat generasi tua. Namun sejak enam puluh tujuh tahun setelah Angkatan Udara AS menerima B-52 terakhir dari Boeing, Angkatan Udara AS menyesuaikan pembom berat dengan mesin baru. Menurut nationalinterest.org, Majalah Air Force dalam edisi Januari 2019 membahas tentang upaya pembaruan mesin.

Pesawat pembom B-52 saat melakukan operasi pengeboman di era perang dingin. (Foto: istimewa)
Selain mesin baru, 76 B-52 dalam Angkatan Udara juga dapat ditingkatkan avionik, peralatan defensif, sensor dan kursi ejeksi, ungkap wartawan War Zone Joe Trevithick. Bomber yang direkayasa ulang dan ditingkatkan dapat menerima sebutan baru B-52J.

Pada tahun 2018, Angkatan Udara mengumumkan akan menghentikan 62 pembom B-1B tahun 1980-an dan 20 pembom siluman B-2 selambat-lambatnya tahun 2040-an, sementara pesawat pengebom B-52 yang diperbarui akan terus beroperasi bersama 100 pembom siluman B-21.

Berikut spesifikasi pesawat pembom B-52 tersebut: 

Ciri-ciri umum :
    Kru: 5 Pilot, kopilot, navigator radar, navigator, dan Electronic Warfare Officer.
    Panjang: 159 ft 4 inci (48.5 m)
    Rentang sayap: 185 ft 0 in (56.4 m)
    Tinggi: 40 ft 8 in (12.4 m)
    Luas sayap: 4,000 ft² (370 m²)
    Airfoil: NACA 63A219.3 mod root, NACA 65A209.5 tip
    Berat kosong: 185,000 lb (83,250 kg)
    Berat isi: 265,000 lb (120,000 kg)
    Berat maksimum saat lepas landas: 488,000 lb (220,000 kg)
    Fuel capacity: 47,975 US gal (181,725 L))
    Mesin: 8 × Pratt & Whitney TF33-P-3/103 turbofans, 17,000 lbf (76 kN) masing-masing
    * Zero-lift drag coefficient: 0.0119 (estimated)
    Drag area: 47.60 ft² (4.42 m²)

    Aspect ratio: 8.56

Kinerja :
    Laju maksimum: 560 kt (650 mph, 1,000 km/h[6])
    Radius tempur: 4,480 mi (3,890 NM, 7,210 km)
    Jangkauan feri: 10,145 mi (8,764 nm, 16,232 km)
    Langit-langit batas: 50,000 ft[6] (15,000 m[6])
    Laju tanjak: 6,270 ft/min.[7] (31.85 m/s)
    Beban sayap: 30 lb/ft² (150 kg/m²)
    Dorongan/berat: 0.51
    Lift-to-drag ratio: 21.5 (estimated)

Persenjataan :
Senjata mesin: M61 Vulcan 1× 20 mm.
Munisi: sampai 60.000 lb (27,200 kg) bomb, peluru kendali, dan ranjau

Data dari Quest for Performance
*Dari berbagai sumber

Jet Tempur SU-57 Siap Perkuat Militer Rusia

Militer Rusia menyatakan akan memproduksi jet tempur siluman SU-57 secara besar-besaran untuk memperkuat postur pertahanan udara negara adidaya tersebut. (Foto: Vladimir Astapkovich/Sputnik)
MOSKOW -- Pesawat jet tempur siluman Su-57 pertama hasil produksi serial dinyatakan siap untuk memasuki layanan militer Rusia. Pesawat tempur generasi kelima itu sedang dikirim ke Angkatan Udara Rusia.

"Mengenai program pembuatan pesawat generasi kelima, kami dapat melihat bersama Anda bahwa pesawat Su-57 pertama yang diproduksi serial sebenarnya siap untuk dikirim ke pasukan. Itu akan dikirim ke Angkatan Udara sebelum akhir tahun ini," kata Wakil Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko kepada wartawan.

Pengumuman itu disampaikan setelah Krivoruchko mengunjungi Komsomolsk-on-Amur Aviation Enterprise, pabrikan yang sedang membangun jet tempur Rusia paling canggih, pada hari Jumat pekan lalu.

"Tahun depan, kami berharap mendapatkan pesawat seperti itu dan selanjutnya produksi mereka akan berlipat ganda," ujarnya, dikutip dari kantor berita TASS, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, di bawah kontrak saat ini, Angkatan Udara Rusia akan menerima 76 unit pesawat tempur generasi kelima Su-57 pada tahun 2028.

Su-57 adalah pesawat tempur multirole generasi kelima yang dirancang untuk menghancurkan semua jenis target udara, darat dan laut. Jet tempur Su-57 memiliki teknologi stealth (siluman) dengan penggunaan material komposit yang meluas, yang mampu mengembangkan kecepatan jelajah supersonik dan dilengkapi dengan peralatan radio-elektronik onboard yang paling canggih, termasuk komputer onboard yang kuat.

Selain itu, pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem radar yang menyebar ke seluruh tubuh pesawat dan beberapa inovasi lainnya, khususnya, persenjataan yang ditempatkan di dalam badan pesawat.

Su-57 naik terbang ke udara untuk pertama kalinya pada tanggal 29 Januari 2010. Dibandingkan dengan pendahulunya, Su-57 menggabungkan fungsi pesawat serang dan jet tempur.

Persenjataan pesawat tersebut akan mencakup rudal hipersonik. Jet tempur generasi kelima telah berhasil diuji dalam kondisi tempur di Suriah.

Apa yang menjadikan Su-57 lebih baik daripada jet tempur generasi kelima Amerika dan Tiongkok, dan kapan jet ini akan mulai bertarung untuk NATO?

Bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin meninjau Su-57 bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di pameran udara MAKS-2019, di pinggiran kota Moskow. Keduanya bahkan membahas potensi pembelian pesawat-pesawat ini oleh Turki yang merupakan anggota NATO. Namun, kedua negara masih harus menyelesaikan semua rincian potensial dan belum menandatangani kontrak.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menginspeksi jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57, pada acara MAKS-2019 di Zhukovsky, Rusia. (Foto: Sputnik/Sergey Guneev)
Su-57 adalah jet tempur kedua dalam kelasnya (generasi kelima) yang telah sepenuhnya dibangun di dunia (Tiongkok masih berkutat mengerjakan Chengdu J-20).

Jet tempur ini dibuat untuk menyaingi pesawat terbaik Amerika F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Sejarah Su-57

Jet tempur ini telah dikembangkan sejak awal abad ke-21. Sepuluh tahun kemudian (pada 2010), Su-57 mengangkasa untuk pertama kalinya.

Awalnya proyek ini dikritik secara luas, karena berbagai masalah yang tidak memungkinkannya memenuhi kriteria jet tempur generasi kelima. Salah satu masalah terbesar adalah mesinnya.

Selama bertahun-tahun, ia menggunakan "jantung" generasi sebelumnya, sehingga tidak menghadirkan kemampuan terbang dan pertempuran udara yang diperlukan selama pengujian. Namun pada akhir 2018, masalah ini diselesaikan dan Su-57 masuk ke tahap produksi serial.

Mesin garang Su-57

Su-57 menerima mesin jet generasi baru yang memungkinkannya berakselerasi dalam mode non-afterburner ke kecepatan supersonik dan mempertahankannya di keseluruhan penerbangan.

Kecepatannya melebihi 2.000 km/jam, selagi bermanuver dan melakukan aerobatik, sehingga mampu menghindari tembakan rudal dan senjata musuh dengan lebih baik.

Tidak terdeteksi radar

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan jet generasi kelima secara umum adalah untuk menyembunyikan mereka dari sistem pertahanan udara modern.

Untuk mencapai itu para insinyur harus menyembunyikan semua persenjataan (misil yang dipandu dan tak dipandu, serta bom) di dalam badan pesawat. Mereka juga harus menggunakan bahan komposit terbaru dan termahal dalam konstruksi badan pesawat.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat melihat Su-57, jet tempur generasi ke-5 Rusia paling canggih yang ditampilkan dalam pertunjukan udara di 2019 MAKS Air Show, di Bandara Internasional Zhukovsky Moskow, Rusia.(Foto: Sputnik)

Hadapi Militer China dan Rusia, Jepang Bangun Kapal Induk Baru

Kapal Perang Perusak DDH183 Izumo class, Angkatan Bersenjata Maritim Jepang, terlihat selama upacara peluncurannya di Yokohama. (Foto: Reuters)
TOKYO -- Bangkitnya kekuatan militer China dianggap sebagai ancaman terbesar bagi Jepang. Negeri para samurai tersebut berupaya terus meningkatkan kekuatan militernya untuk bisa mengimbangi dan bahkan melampaui China.

Selama lebih dari dua dekade berjalan, Jepang telah membeli dan memproduksi berbagai alutsista, diantaranya pesawat tempur, rudal dan bahkan kini Jepang berencana akan membangun kapal induk, untuk melawan kapal induk Lioning milik Angkatan Laut China.

Jepang membangun kapal induk terbaru yang rencananya digunakan sebagai pangkalan militer bergerak, dan menjadi landasan pacu berbagai pesawat tempur Jepang, diantaranya adalah jet tempur F-35B Lightning yang dibeli Jepang dari Amerika Serikat (AS).

Jepang telah menandatangi kesepakatan pembelian 42 jet tempur siluman dari AS. Nanti pesawat tempur berteknologi generasi kelima tersebut akan ditempatkan di kapal perang JS Izumo dan JS Kaga.

Kapal perang Izumo class dan Kaga class sering disebut-sebut oleh para analis militer sebagai kapal perang "semi kapal induk," karena ukurannya yang sangat besar dan secara desain serupa dengan kapal induk.

Namun, kapal perang Izumo class dan Kaga class masih terlalu kecil untuk bisa menampung puluhan jet tempur F-35B. Sebelumnya kapal tersebut hanya mengangkut helikopter antikapal selam, karena Jepang belum memiliki pesawat yang mampu terbang dan mendarat di kapal.

Untuk itu Jepang berencana akan mengupgrade kemampuan dan ukuran kapal perang canggih itu, hingga memiliki kemampuan yang serupa dengan kapal induk yang sebenarnya. Japan Times melaporkan, pemerintah Jepang telah sepakat mengaplikasikan pedoman pertahanan baru untuk anggaran fiskal tahun 2009.

Pedoman pertahanan baru Jepang akan memodifikasi kapal perusak Izumo menjadi kapal induk yang mampu mengangkut F-35B, varian F-35 yang bisa lepas landas secara vertikal. Kedua kapal tersebut kini telah ditarik kembali ke galangan kapal untuk direnovasi dan didesain ulang agar bisa menampung pesawat F-35B.

Jet tempur siluman F-35Bs saat mendarat di atas kapal perang USS America pada bulan November 2016. Jepang sekarang mempertimbangkan untuk menjadikan kapal perang Izumo class sebagai operator jet tempur F-35B selain sebagai landasan pacu helikopter antikapal selam. (Sumber foto: Lockheed Martin)
“Dengan perubahan drastis lingkungan keamanan di sekitar Jepang, pemerintah akan mengambil segala langkah untuk melindungi kehidupan dan aset rakyat Jepang. Kajian terhadap petunjuk pertahanan baru menunjukkan rakyat Jepang dan dunia membutuhkan pertahanan kita," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dilansir CNN.

Kapal perusak kelas Izumo adalah kapal perang terbesar Jepang yang dibangun setelah kekalahan di Perang Dunia II. Menurut laporan The Independent, 19 Desember 2018, Jepang telah mengucurkan US$ 1,2 miliar atau Rp 17,2 triliun (kurs Rp 14,380.01/Dolar AS) untuk membuat Izumo pada 2013.

Izumo adalah kapal perusak namun memiliki ukuran besar dengan dek landasan yang bisa beralih fungsi dari kapal perusak menjadi kapal induk. Dilansir dari The Royal Institute of Naval Architect, rina.org.uk, Izumo dibuat setelah kapal kelas Hyuga senilai US$ 1,1 miliar atau Rp 15,8 triliun pada 2004 dan 2006.

Konstruksi Izumo dimulai pada 2011 di IHI Marine United di Yokohama. Uji pelayaran pada 29 September 2019 hingga resmi ditugaskan untuk Angkatan Pertahanan Laut Jepang pada 25 Maret 2015. The Royal Institute of Naval Architect melaporkan total produksi kapal tersebut sekitar US$ 1,5 miliar atau Rp 21,5 triliun.

Kapal perusak kelas Izumo memiliki panjang 248 meter dengan lebar 50 meter, tinggi 33,5 meter dan kedalaman 7,5 meter. Bobot bersih sekitar 19.500 ton, sementara bobot kotor 27 ribu ton. Kapal ini mampu mengangkut 400-500 awak dengan lima level tingkat.

Dek kapal Izumo mampu mengoperasikan 5 helikopter secara bersamaan, sementara hanggarnya bisa menampung 14 helikopter. Secara keseluruhan jika dek parkir difungsikan, maka total bisa menampung 25 helikopter lebih. Izumo mampu melaju dengan kecepatan maksimum 30 knot dengan Combined gas turbine and gas turbine (COGAG).

Selain pengangkut helikopter, Izumo juga dilengkapi dengan rudal pertahanan Mk 41 VLS dan ESSM. Dilengkapi dengan sistem tempur ATECS dan radar OPS-50 AESA, radar OPS-28 yang mampu melacak obyek permukaan, radar navigasi OPS-20, sonar OQQ-23, NOLQ 3D-1 untuk perang elektronik, dan varian sistem komunikasi lain. Kapal juga dilangkapi dengan enam Mk 137 peluncur torpedo dan sistem anti-torpedo OLQ-1.

Kapal induk kelas wahid Jepang milik Pasukan Bela Diri Jepang Jepang (JMSDF), DDH-184 Kaga terlihat di sebelah wahana helikopter JMSDF, Izumo di Yokohama, Jepang, 22 Maret 2017. (Sumber foto: Kyodo / via REUTERS)
Dalam panduan peningkatan pertahanan Jepang, telah mencantumkan China, Korea Utara dan Rusia sebagai entitas ancaman terbesar bagi Jepang. Ketiga negara tersebut dianggap memiliki kekuatan militer yang terus berkembang dan harus diwaspadai dan dipantau ketat setiap saat.

Sebagai catatan, sejak kebangkitan ekonomi China, negara komunis itu secara masif dan agresif terus meningkatkan kekuatan militernya. China meningkatkan jumlah personel Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), membangun berbagai jet tempur, memproduksi kapal induk dan mendirikan pangkalan militer di sejumlah negara di kawasan Asia dan Afrika.

Perilaku militer China yang dianggap tidak lumrah itu tentu saja dikhawatirkan Jepang. Ditambah lagi negara tersebut juga masih berkonflik dengan Rusia dalam memperebutkan gugusan kepulauan Kuril yang disengketakan kedua negara.

Menanggapi rencana Jepang tersebut, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan, Jepang sedang “bernyanyi dengan nada lawas” dan membuat “pernyataan tak berarti” tentang aktivitas pertahanan China yang normal saja.

“Apa yang dilakukan Jepang saat ini adalah meningkatkan dan mengembangkan hubungan China-Jepang dalam kerangka stabilitas dan perdamaian. China mengekspresikan ketidakpuasan dan perlawanan terhadap itu (peningkatan anggaran pertahanan),” ujar Hua.

Rusia pun menyatakan pernyataan senada dengan China. Moskow juga menyatakan akan membangun barak militer baru bagi tentaranya di kepulauan Kuril yang dikuasai dari Jepang pada akhir Perang Dunia II.

Terkait semakin memanasnya situasi militer di kawasan Asia, Analis keamanan Asia di Universitas Freie di Berlin, Corey Wallace mengatakan, Beijing terpaksa akan memberikan perhatian penuh terhadap peningkatan kemampuan kapal induk Jepang. “Itu akan membuat proyeksi militer China semakin ke arah konflik teritorial di Kepulauan Ryukyu, Jepang,” kata Wallace.

Tapi Wallace memperingatkan bahwa, walau sudah diupgrade, kapal induk Jepang tetap berukuran relatif kecil jika dibandingkan kapal induk AS kelas Nimitz 90.000 ton dan kapal induk China dan Liaoning dengan 58.000 ton.

Jepang meluncurkan kapal kedua dan terakhir sebagai wahana helikopter antikapal selam, kelas Izumo yang baru, di galangan kapal Jepang Marine United di Yokohama. Ini merupakan kapal perang terbesar yang dibangun Jepang sejak Perang Dunia II. (Sumber foto: Japan Marine United via sputniknews.com)

Menhan Malaysia Kagum dengan Industri Pertahanan Indonesia

Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu. (Sumber foto: kemhan.go.id)
KUALA LUMPUR -- Menteri Pertahanan Malaysia, Haji Mohamad bin Sabu menyatakan ingin mencontoh industri pertahanan Indonesia yang telah sukses membuat dan memproduksi berbagai peralatan tempur seperti kapal perang, pesawat, tank, senapan serbu, amunisi dan berbagai alutsista lainnya.

Dilansir dari laman berita Astroawani.com, Sabu menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan kerja sama Sidang General Border Commitee (GBC) Malindo ke-41 di Pullman Hotel, Legian Bali, Kamis, 15 November 2018.

Mohammad Sabu mengaku sangat kagum dengan Indonesia yang telah mampu memproduksi berbagai alutsista asli buatan dalam negeri.

Sabu berpendapat, melihat masifnya perkembangan industri pertahanan Indonesia, seharusnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN tidak perlu lagi harus mengimpor senjata dari negara-negara Barat.

“Bukan kita mau berperang, tetapi daripada kita beli di negara luar, lebih baik dibeli dari kalangan negara ASEAN. Kalau ada pertukaran uang pun, cuma di kalangan negara ASEAN,” katanya.

Mohammad Sabu bahkan mengusulkan agar negara-negara ASEAN membangun industri pertahanan bersama, sehingga mampu membuat berbagai alutsista tanpa harus bergantung pada buatan Barat. 


“Kita tidak mau negara menjadi pengimport terus-menerus, kalau bisa, kita buat sendiri kapal-kapal patroli, kapal perang, dan sebagainya," tegas Mohamad Sabu.

Selain bicara soal industri pertahanan Indonesia, Menhan Malaysia itu juga bicara seputar kerja sama militer negeri jiran tersebut dengan militer Indonesia. 


Sejumlah kerja sama baru telah disepakati, diantaranya menambah pos pengawasan dan pos patroli Laut di perairan Laut Sulu, Filipina, yang berbatasan dengan kedua negara.
Panser Anoa, merupakan salah satu alutsista buatan Indonesia yang telah dibeli oleh militer Malaysia. (Foto: Istimewa)

Iran Klaim Berhasil Produksi Jet Tempur Generasi Keempat

Iran melakukan uji terbang jet tempur Kowsar buatan dalam negeri yang diklaim merupakan pesawat tempur generasi keempat pada 21 Agustus 2018. (Foto: Tasnimnews.com)
"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara,"
TEHERAN -- Republik Islam Iran mengklaim telah berhasil memproduksi jet tempur canggih buatan dalam negeri, jet tempur tersebut kini memasuki proses produksi skala besar untuk memperkuat militer negara itu.

Iran bahkan sempat memamerkan salah satu prototipe jet tempur yang dinamai Kowsar tersebut pada Agustus lalu.

"Dalam waktu dekat, jet-jet tempur ini akan diproduksi dan digunakan untuk melayani kebutuhan Angkatan Udara," kata Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dalam peresmian pembuatan jet tempur tersebut, seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (3/11).

Dalam gambar yang ditunjukkan televisi Iran, pada 21 Agustus lalu, Presiden Hassan Rouhani terlihat duduk di kokpit Kowsar, yang diklaim merupakan jet tempur generasi keempat, pada ajang Industri Pertahanan Nasional.

Cuplikan tes terbang Kowsar juga sudah diedarkan oleh berbagai media resmi, walaupun tayangan langsung harus terputus sebelum jet lepas landas. Iran mengatakan Kowsar "100 persen buatan dalam negeri".

Media Iran melaporkan bahwa jet baru tersebut dilengkapi dengan sistem avionik terkini dan radar multiguna. Pesawat itu diklaim Teheran sanggup membawa berbagai jenis senjata dan akan digunakan untuk mendukung misi jangka pendek angkatan udara.

Pemerintah Iran menyatakan akan memproduksi secara besar-besaran jet tempur Kowsar secepatnya, guna mengantisipasi meningkatnya konflik antara negeri paramullah tersebut dengan Amerika Serikat, sejak era kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Namun, sejumlah pengamat dan analis militer meyakini bahwa Kowsar adalah jiplakan dari jet tempur F-5 buatan Amerika Serikat yang hanya dimodifikasi. AS memproduksi F-5 sekitar 1960-an.

Iran memproduksi secara massal jet tempur Kowsar yang diklaim 100 persen buatan dalam negeri, di Perusahaan Industri Manufaktur Pesawat Iran di Provinsi Isfahan pada 3 November 2018. (Foto: defanews.ir)

Tak Ingin Dipecundangi Australia, Indonesia Beli Sukhoi SU-35

Pesawat tempur Sukhoi SU35 S, sudah masuk dalam layanan Angkatan Udara Federasi Rusia. Untuk mencegah kekalahan di masa lalu, Indonesia akan memperkuat TNI AU dengan membeli pesawat tempur Sukhoi SU 35. (Foto: istimewa)
"Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia."
JAKARTA -- Keinginan TNI Angkatan Udara untuk memiliki pesawat tempur yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia, didasari oleh banyak faktor. belajar dari kasus lepasnya Provinsi Timor - Timur dari kedaulatan Indonesia, hingga kini tetap menjadi catatan sejarah yang memalukan bagi Indonesia.

Lemahnya pertahanan udara Indonesia saat itu bisa dengan mudah dipecundangi oleh AU Australia. Saat ini jawaban untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, dijawab oleh Kementerian Pertahanan dengan membeli pesawat tempur superioritas udara Sukhoi SU-35S.


Dikembangkan untuk menyaingi pesawat siluman, Super Flanker akan memperkuat pertahanan udara dan kapabilitas proyeksi Angkatan Udara Indonesia. Su-35 memiliki jangkauan 3.600 kilometer dengan mengandalkan bahan bakar internal sehingga AU Indonesia dapat menjalankan misi jarak jauh.

Karena negara raksasa dengan 18.370 pulau ini belum mengembangkan secara maksimal jaringan lapangan udaranya, AU Indonesia tak bisa memencarkan pasukan udaranya.

Namun dengan kemampuan penerbangan jarak jauhnya, Su-35 mampu mengatasi masalah ini. 


Angkatan Udara Indonesia dapat menjangkau area patroli yang lebih luas dengan durasi yang lebih panjang. Pesawat ini dilengkapi dengan perangkat pengisian bahan bakar udara yang dapat memperpanjang jangkauannya, begitu pula waktu jelajahnya.

Angkatan Udara India, yang melatih para pilot pesawat tempur Indonesia, telah melakukan misi sepuluh jam Sukhoi. Jadi secara teori, AU Indonesia pun bisa melakukan hal yang sama.

Untuk ukuran pesawat yang mampu mengangkut beban cukup berat, yaitu delapan ton misil dan bom pada 14 hardpoint, pesawat ini tergolong cepat. Kecepatannya dikombinasikan dengan jangkauan jarak jauh, membuat pilot mampu mengulangi penjelajahan dan melakukan putaran balik, taktik Perang Dingin Rusia yang membuat pihak musuh mengalami disorientasi, lelah, dan rentan dalam pertempuran udara satu-lawan-satu. 


Fitur unggul dari pesawat tempur Rusia ini ialah kemampuannya mengangkut misil dalam jumlah besar. Ini adalah keuntungan besar bagi pilot karena mereka dapat mengangkut misil lebih banyak dan meluncurkan tembakan serentak untuk melakukan penaklukan udara-ke-udara.
Keterbatasan pesawat tempur yang dimiliki Indonesia untuk mengawasi wilayah udara yang maha luas, membuat sebagian besar sistem pertahanan udara Indonesia masih bolong di banyak sisi, serta tidak bisa dijaga dengan maksimal. (Gambar: istimewa)
Rusia telah menjual misil dengan akurasi dan dampak kinetik unggul pada sejumlah pembeli dan sepertinya Su-35 Indonesia akan dilengkapi dengan misil tersebut. Misil jarak jauh dan misil antikapal Rusia membuat Sukhoi Indonesia dapat menyerang target dari jarak aman.

TNI AU Dipecundangi Australia

Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia.

Kelemahan militer Indonesia terekspos luas pada krisis Timor Timur. Pada 1999, Indonesia hanya bisa menyaksikan dari pinggir saat kontingen yang sebagian besar terdiri dari pasukan Australia melepaskan Timor Timur dari Indonesia. Hal yang terjadi di bawah mandat PBB tersebut tak mengurangi rasa malu Indonesia.

Sementara saat itu kondisi ekonomi melemah, berarti Indonesia hanya mampu menginfus militernya. Setelah sanksi Amerika secara virtual mengurung pasukannya dengan F-16 yang ketinggalan zaman, Indonesia memesan dua pesawat Su-27 berkursi tunggal dan dua pesawat tempur Su-30 berkursi ganda dari Rusia pada 2003 dengan kontrak senilai 192 juta dolar AS.

Empat tahun kemudian, Indonesia memesan enam Sukhoi tambahan. Analis Pertahanan Martin Sieff mendeskripsikan kontrak tersebut sebagai ‘kacang dalam perdagangan senjata internasional’.

Hasilnya dengan pasukan yang ada, AU Indonesia tak bisa mengalahkan rival regionalnya. AU Australia memiliki 69 F/A-18 Hornets dan 24 Super Hornet yang canggih. Australia juga memiliki pesawat tempur elektronik EA-18G Growler, yang dapat memperkuat pasukan mereka dalam segala konflik.


Selain itu, AU Australia, yang mengikuti haluan Amerika, memiliki kemampuan tempur, bahkan jika aksi semacam itu termasuk melakukan serangan pura-pura melawan ISIS.


Mengantisipasi Ancaman China

Su-35 merupakan senjata yang dapat memperkuat pasukan Indonesia, dan tergolong unggul di panggung militer Asia Tenggara. Pesawat ini memiliki kemampuan avionik canggih yang dapat mengatasi gangguan elektronik dan membutakan pesawat musuh dengan perangkat pengganggunya.

Pesawat tempur Sukhoi SU 30 SM dan SU-27 TNI AU saat melakukan latihan dengan pesawat tempur F/A Super Hornets AU Australia. Baru dihargai saat mulai memiliki kekuatan udara yang mumpuni. (Foto: istimewa)
Sebagian besar analis dari Barat sepakat bahwa Su-35 adalah pesawat nonsiluman paling kuat dan dapat mengalahkan semua pesawat tempur barat kontemporer, kecuali pesawat siluman F-22. Namun, F-22 dibanderol seharga 350 juta dolar AS per pesawat, sementara Su-35 dibanderol seharga 65 juta dolar AS.

China adalah kekhawatiran lainnya. Jakarta terlibat dalam kisruh regional dengan Beijing terkait sengketa wilayah di Laut China Selatan. Indonesia mungkin tak akan bisa menandingi kekuatan tembak China, tapi dengan Su-35, AU Indonesia memiliki kemampuan dan rasa percaya diri untuk mengawasi pesawat Tiongkok di atas perairan netral.

Menetralisasi Siluman Meski efektivitasnya diperdebatkan, sepertinya pada tahun 2020-an jet tempur siluman jenis baru akan menjadi fitur regular bagi semua angkatan udara di dunia.


Di Asia, China telah memulai seri produksi pesawat siluman J-31 dan J-21, dan Australia telah memesan 70 unit F-35 dari AS. Bagaimana posisi Indonesia di lingkungan ‘siluman’ tersebut?


Program KFX/IFX Mungkah Bisa Jadi Harapan?

AU Indonesia telah mengindikasikan mereka tertarik membeli pesawat tempur multiperan Rusia-India PAK-FA. Indonesia kemudian bergabung dengan Korea Selatan untuk mengembangkan Korean Fighter-Experimental (KFX).

Namun, hal tersebut tak berjalan sesuai rencana. Seperti semua pesawat tempur siluman di dunia, proyek KFX yang mahal mengalami turbulensi. Menurut majalah Forbes, AS tak mempercayakan Korea Selatan untuk memberi empat ‘teknologi dasar’ yang dibutuhkan bagi proyek tersebut.

“Korea menghadapi kekecewaan pahit atas penolakan AS untuk mempercayakan sekutunya akan perangkat teknologi canggih yang dibutuhkan bagi KFX yang tak hanya memiliki kapabilitas siluman, tapi juga mampu mencari dan melacak target berbahaya dengan radar terbarunya.”

Su-35 merupakan “asuransi” bagi Indonesia jika KFX ditunda atau dibatalkan. Yang Cheng-wei, pakar Taiwan dalam bidang sistem senjata Rusia, mendeskripsikan pesawat tersebut sebagai ‘jet generasi kelima tanpa penampilan pesawat tempur siluman’.

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX/IFX. Sebuah program ambisius demi pertahanan udara di masa depan. (Foto: istimewa)

Misil S-300 Bentengi Iran dari Serangan Amerika dan Israel

Peluncuran sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia. Setelah melalui jalan yang panjang dan melelahkan, Republik Islam Iran akhirnya kini memperoleh sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. Diyakini kecanggihan teknologi S-300 akan merubah peta kekuatan di Timur Tengah. (Foto: istimewa)
"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami,"
JAKARTA -- Sebagai sebuah negara adidaya, Amerika Serikat ternyata hingga kini belum juga bisa menyentuh negara yang paling dibencinya di Timur Tengah, yaitu Iran. Walau AS dan negara-negara sekutunya sudan menjatuhkan sanksi berkali-kali kepada negara para mullah tersebut, Iran bukannya melemah tapi justru semakin kuat dan mandiri.

Salah satu yang dikagumi kalangan internasional saat ini terhadap Iran adalah kemandirian dalam membangun dan menciptakan teknologi terbaru terutama dalam hal persenjataan dan sistem pertahanan.

Meski beribu sanksi menghadang, Republik Islam Iran mampu menciptakan inovasi dan peralatan tempur secara mandiri, walau AS, Israel dan sekutunya tetap berusaha menghalangi upaya Iran tersebut.

Berita terheboh saat ini mengenai Iran adalah pembelian sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia. AS, Israel dan para sekutunya selama ini terus berusaha menghalangi Iran memiliki sistem pertahanan canggih tersebut. Karena dikhawatirkan akan mengancam hegemoni Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Atase Militer Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Kolonel Shahriar Dasin mengatakan, dirinya sudah tidak merasa aneh dengan sikap Amerika Serikat (AS) yang coba menjegal upaya Iran membeli jet tempur Su-30 dari Rusia. Menurutnya, hal semacam itu sudah dilakukan AS sejak tiga dekade lalu.

"Ini bukanlah hal yang baru bagi kami, ini merupakan gaya diplomasi Amerika Serikat terhadap Iran sejak 30 tahun yang lalu. Itu bukan hal yang baru bagi kami," ucap Dasin pada Jumat (15/4).

Daya jangkau sistem pertahanan udara S-300 yang dibeli Iran dari Rusia, jika ditempatkan di kawasan Timur Tengah. (Gambar: istimewa)
Dasin menuturkan, meski Iran sedang mencoba membeli sejumlah peralatan militer dari negara lain, tapi fokus utama Iran sejatinya adalah mengembangkan sendiri alutista dan persenjataan mereka. Hal ini dilakukan agar di masa depan Iran tidak bergantung pada negara lain. 

S-300 Membuat Iran Kebal dari Serangan

Terkait pembelian sistem pertahan udara S-300 itu, analis politik asal Turki, Hakan Gunes menuturkan, sistem pertahanan udara S-300 akan membuat Iran kebal dari ancaman Israel dan Arab Saudi, dua rival terbesarnya di Timur Tengah.

"Israel dan Arab Saudi lebih dari sekali membuat pernyataan tentang serangan rudal jarak menengah pada infrastruktur Iran. Pernyataan-pernyataan ini menjadi tidak relevan sekarang, bila melihat fakta Iran telah menerima S-300," kata Gunes, seperti dilansir Sputnik pada Jumat (15/4).

Dirinya juga menuturkan, S-300 sejatinya bukanlan senjata yang ditujukan untuk menyerang, tapi senjata yang didesain untuk bertahan. Sehingga, S-300 pada faktanya tidak akan memberikan ancaman kepada negara lain.


Namun, lanjut Gunes, akibat pernyataan-pernyataan yang kerap dibuat Saudi dan Israel, S-300 kemudian terlihat seperti yang mengancam. Inilah yang pada akhirnya akan membuat hubungan antara Iran dengan negara-negara anti-Iran lainnya, seperti Turki dan Qatar akan terus memburuk.

"Terus memburuknya situasi terkait dengan pengiriman S-300 buatan Rusia ke Iran tidak lepas dari provokasi yang dibuat Arab Saudi dan Israel. S-300 adalah senjata defensif, dan bukan senjata ofensif," tutur Gunes.

Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, saat bertemu sekutunya Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: istimewa)