Jalur Militer: PESAWAT TEMPUR

AS Upgrade Pesawat Pembom B-52 "Big Ugly Fat Fellow" dengan Rudal Hipersonik

Militer Amerika Serikat menyatakan akan terus memperkuat pesawat pembom "gaek" B-52 Stratofortress dengan persenjataan super canggih. (Foto: Istimewa)
WASHINGTON DC -- Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) menginginkan armada pesawat pembom (bomber), termasuk B-52 Stratofortress, berevolusi untuk dipersenjatai dengan rudal hipersonik.

Asisten Sekretaris Angkatan Udara untuk Akuisisi, Teknologi dan Logistik Will Roper mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa mengepak pesawat dengan senjata hipersonik bisa dilakukan, yang akan mengubah pesawat-pesawat pembom Amerika menjadi "pesawat arsenal".

Pesawat pembom AS yang membawa rudal jelajah bukanlah hal baru, tetapi peran utama pembom strategis seperti B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer adalah apa yang selalu diharapkan dilakukan oleh pesawat pembom, yakni terbang di atas target dan menjatuhkan bom.

Namun, dengan pertahanan udara yang lebih canggih dari sebelumnya, ide evolusi itu muncul. "Bisakah kita berpikir lebih luas tentang bagaimana sebuah pesawat yang membawa banyak senjata dapat dilihat?," kata Roper, seperti dikutip dari Military.com, Kamis (14/11/2019).

"Sebagai contoh, bagaimana bomber kebuntuan ini bekerja di lingkungan yang diperebutkan dengan cara yang komplementer dengan B-21?," ujarnya.

Laporan media itu mencatat rentetan tes baru-baru ini dengan Skuadron Uji Penerbangan ke-419, Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, menunjukkan upaya tersebut.

Komandan Komando Serangan Global AS, Jenderal Tim Ray, pada bulan September mengatakan bahwa para pejabat sekarang membahas bagaimana menempatkan empat hingga potensial delapan senjata hipersonik besar dalam ruang bom pesawat-pesawat pembom. Roper menunjukkan preferensi untuk B-52 "Big Ugly Fat Fellow" sebagai pesawat arsenal masa depan.

Sejarah Panjang Pesawat pembom B-52 Stratofortress


Amerika Serikat hingga detik ini masih menjadikan pesawat pembom B-52 sebagai salah satu tulang punggung kekuatan militer mereka. Tercatat, pembom B-52 selalu diterjunkan menghadapi musuh-musuh terkuat AS di seluruh dunia.

Di Timur Tengah, Selama operasi Desert Storm, pembom B-52 mengirim 40 persen dari semua senjata yang dijatuhkan oleh pasukan koalisi. Ini sangat efektif ketika digunakan untuk pengawasan laut, dan dapat membantu Angkatan Laut AS dalam operasi anti-kapal dan pembersihan ranjau. Dua B-52, dalam dua jam, dapat memonitor permukaan laut seluas 364.000 kilometer persegi.

Pesawat Komando Udara Strategis B-52G Stratofortress bersiap untuk berangkat selama misi Operasi Badai Gurun. (Foto: Istimewa)
Saat ini, Pentagon mengirim empat pesawat pengebom B-52 Stratofortress ke Timur Tengah untuk merespon dugaan ancaman Iran di kawasan Teluk Persia. Di Afghanistan, pengebom B-52 menjadi senjata paling efektif bagi AS dalam menghancurkan basis-basis pertahanan pasukan Taliban. 

Tercatat dalam perang tersebut, pembom B-52 menjatuhkan peluru kendali presisi di pusat-pusat pertahanan Taliban, terbanyak sepanjang sejarah pesawat tua tersebut masuk dalam layanan militer AS.

AS juga menerjunkan Dua pesawat pengebom B-52 Stratofortress untuk menghadapi agresi militer China  di kawasan Laut China Selatan. Pesawat pengebom itu terbang dari Pangkalan Andersen di Guam.

Terbangnya B-52 terjadi setelah AS menuduh China menghalangi adanya upaya pengembangan energi di Laut China Selatan melalui "cara yang memaksa". Negara kawasan Asia Tenggara yang menjadi sekutu AS di kawasan Indo-Pacific, tidak bisa melakukan eksplorasi sumber daya energi terbarukan senilai 2,5 triliun dollar AS, atau Rp 35.695 triliun.

Saat terjadi agresi militer Rusia di semenanjung Krimea, Pentagon juga menjadikan pembom B-52 sebagai penggertak agar Rusia tidak memperluas ambisi teritorialnya di benua Eropa. Setidaknya enam pesawat pengebom B-52 berkemampuan nuklir milik Angkatan Udara AS itu telah dikirim ke Benua Eropa.

Terakhir Satuan tugas pesawat pengebom B-52 Stratofortress, kru operator, maupun peralatan pendukung dari Wing Pengebom Kedua tiba di Fairford Inggris dari Barksdale. AU menyatakan, beberapa unit pesawat itu sudah berpartisipasi dalam misi yang dilaksanakan di seluruh Eropa. Pembom B-52 benar-benar menjadi "mata dan telinga" AS untuk mengawasi sepak terjadi militer Moskow di kawasan benua biru tersebut.

Boeing B-52 Stratofortress merupakan sebuah pesawat pengebom strategis jarak jauh pengintai (reconnaissance aircraft) bermesin delapan yang digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sejak 1954, menggantikan Convair B-36 dan Boeing B-47.

Pesawat seberat 84 ribu kilogram tersebut pertama kali digunakan di era 1950-an saat Perang Dingin memasuki puncaknya. Semula, Stratofortress didesain sebagai pengebom nuklir jarak jauh antarbenua yang bisa terbang tinggi dan menyerang jantung Uni Soviet.

B-52 paling baru mulai digunakan pada 1962, dan pesawat sepanjang 48 meter itu pun kemudian menjadi ikon perang dingin. Pesawat ini banyak dimodifikasi sejak Perang Dingin berakhir dan diperbarui dengan peluru kendali presisi, peralatan elektronik dan sensor canggih.


Walaupun dibuat untuk peran era Perang Dingin, pencegahan perang nuklir, pemakaian konvensionalnya pada masa kini adalah semakin penting dalam operasi-operasi USAF, di mana jarak jangkaunya yang jauh, muatan senjata beratnya, dan biaya operasionalnya yang ekonomis (dibanding dengan armada kapal pengebom strategis USAF yang lain) sangat berguna.
Sebuah pesawat pengebom AS B-52H terbang melintasi Laut China selatan. (Foto: Defense World)
B-52 Stratofortress atau biasa disebut BUFF, merupakan pembom strategis super berat yang dirancang oleh Boeing pada 15 April 1952, dan digunakan oleh USAF. Pesawat ini diawaki oleh 5 orang kru yang terdiri dari pilot, copilot, weapon system officer, navigator, electronic warfare officer. Kecepatan terbang dari BUFF mencapai 1.047 km/perjam, dengan radius terbang 16.232 km, di ketinggian 15 km. Seluruh jenis bom yang dimiliki oleh Amerika sanggup diangkut oleh BUFF.

Menurut situs Angkatan Udara AS US Air Force, www.af.mil, yang dikutip 14 Mei 2019, B-52 adalah pesawat pengebom jarak jauh yang masuk dalam ketegori pengebom berat dan bisa melaksanakan berbagai jenis misi. B-52 mampu terbang dengan kecepatan subsonik dengan ketinggian 15.166 meter. Pesawat ini mampu membawa nuklir atau bom konvensional kendali presisi tinggi.

Semua B-52 dapat dilengkapi dengan dua sensor penglihatan elektro-optik, inframerah yang melihat ke depan dan teropong penargetan (pod) canggih untuk meningkatkan penargetan, penilaian pertempuran, dan keselamatan penerbangan, sehingga semakin meningkatkan kemampuan tempurnya.

Pilot mengenakan kacamata penglihatan malam, atau nightvision google (NVG), untuk meningkatkan penglihatan mereka selama operasi malam hari. Kacamata penglihatan malam memberikan keamanan yang lebih besar selama operasi malam hari dengan meningkatkan kemampuan pilot untuk membersihkan medan secara visual.

B-52 ditingkatkan dari Pod Penargetan Lanjutan Litening ke Pod Penargetan Lanjutan Sniper. Pod sniper memberikan peningkatan deteksi atau identifikasi target jarak jauh dan pengawasan yang stabil terus menerus untuk semua misi, termasuk dukungan udara dekat pasukan darat.

Penargetan canggih dan teknologi pemrosesan gambar pod secara signifikan meningkatkan keefektifan tempur B-52 pada siang hari, malam hari dan kondisi cuaca di bawah serangan sasaran darat dengan berbagai senjata penahan (yaitu, bom yang dipandu laser, konvensional bom dan senjata yang dipandu GPS).

Penggunaan pengisian bahan bakar udara memberi B-52 rentang yang hanya dibatasi oleh daya tahan kru. Pesawat pengebom B-52 memiliki jangkauan jelajah lebih dari 14.080 kilometer. Dalam konflik konvensional, B-52 dapat melakukan serangan strategis, dukungan jarak dekat, larangan udara, operasi serangan balik udara dan maritim.

Pesawat pengebom B-52 memang pesawat generasi tua. Namun sejak enam puluh tujuh tahun setelah Angkatan Udara AS menerima B-52 terakhir dari Boeing, Angkatan Udara AS menyesuaikan pembom berat dengan mesin baru. Menurut nationalinterest.org, Majalah Air Force dalam edisi Januari 2019 membahas tentang upaya pembaruan mesin.

Pesawat pembom B-52 saat melakukan operasi pengeboman di era perang dingin. (Foto: istimewa)
Selain mesin baru, 76 B-52 dalam Angkatan Udara juga dapat ditingkatkan avionik, peralatan defensif, sensor dan kursi ejeksi, ungkap wartawan War Zone Joe Trevithick. Bomber yang direkayasa ulang dan ditingkatkan dapat menerima sebutan baru B-52J.

Pada tahun 2018, Angkatan Udara mengumumkan akan menghentikan 62 pembom B-1B tahun 1980-an dan 20 pembom siluman B-2 selambat-lambatnya tahun 2040-an, sementara pesawat pengebom B-52 yang diperbarui akan terus beroperasi bersama 100 pembom siluman B-21.

Berikut spesifikasi pesawat pembom B-52 tersebut: 

Ciri-ciri umum :
    Kru: 5 Pilot, kopilot, navigator radar, navigator, dan Electronic Warfare Officer.
    Panjang: 159 ft 4 inci (48.5 m)
    Rentang sayap: 185 ft 0 in (56.4 m)
    Tinggi: 40 ft 8 in (12.4 m)
    Luas sayap: 4,000 ft² (370 m²)
    Airfoil: NACA 63A219.3 mod root, NACA 65A209.5 tip
    Berat kosong: 185,000 lb (83,250 kg)
    Berat isi: 265,000 lb (120,000 kg)
    Berat maksimum saat lepas landas: 488,000 lb (220,000 kg)
    Fuel capacity: 47,975 US gal (181,725 L))
    Mesin: 8 × Pratt & Whitney TF33-P-3/103 turbofans, 17,000 lbf (76 kN) masing-masing
    * Zero-lift drag coefficient: 0.0119 (estimated)
    Drag area: 47.60 ft² (4.42 m²)

    Aspect ratio: 8.56

Kinerja :
    Laju maksimum: 560 kt (650 mph, 1,000 km/h[6])
    Radius tempur: 4,480 mi (3,890 NM, 7,210 km)
    Jangkauan feri: 10,145 mi (8,764 nm, 16,232 km)
    Langit-langit batas: 50,000 ft[6] (15,000 m[6])
    Laju tanjak: 6,270 ft/min.[7] (31.85 m/s)
    Beban sayap: 30 lb/ft² (150 kg/m²)
    Dorongan/berat: 0.51
    Lift-to-drag ratio: 21.5 (estimated)

Persenjataan :
Senjata mesin: M61 Vulcan 1× 20 mm.
Munisi: sampai 60.000 lb (27,200 kg) bomb, peluru kendali, dan ranjau

Data dari Quest for Performance
*Dari berbagai sumber

Jet Tempur SU-57 Siap Perkuat Militer Rusia

Militer Rusia menyatakan akan memproduksi jet tempur siluman SU-57 secara besar-besaran untuk memperkuat postur pertahanan udara negara adidaya tersebut. (Foto: Vladimir Astapkovich/Sputnik)
MOSKOW -- Pesawat jet tempur siluman Su-57 pertama hasil produksi serial dinyatakan siap untuk memasuki layanan militer Rusia. Pesawat tempur generasi kelima itu sedang dikirim ke Angkatan Udara Rusia.

"Mengenai program pembuatan pesawat generasi kelima, kami dapat melihat bersama Anda bahwa pesawat Su-57 pertama yang diproduksi serial sebenarnya siap untuk dikirim ke pasukan. Itu akan dikirim ke Angkatan Udara sebelum akhir tahun ini," kata Wakil Menteri Pertahanan Alexei Krivoruchko kepada wartawan.

Pengumuman itu disampaikan setelah Krivoruchko mengunjungi Komsomolsk-on-Amur Aviation Enterprise, pabrikan yang sedang membangun jet tempur Rusia paling canggih, pada hari Jumat pekan lalu.

"Tahun depan, kami berharap mendapatkan pesawat seperti itu dan selanjutnya produksi mereka akan berlipat ganda," ujarnya, dikutip dari kantor berita TASS, Minggu (10/11/2019).

Menurutnya, di bawah kontrak saat ini, Angkatan Udara Rusia akan menerima 76 unit pesawat tempur generasi kelima Su-57 pada tahun 2028.

Su-57 adalah pesawat tempur multirole generasi kelima yang dirancang untuk menghancurkan semua jenis target udara, darat dan laut. Jet tempur Su-57 memiliki teknologi stealth (siluman) dengan penggunaan material komposit yang meluas, yang mampu mengembangkan kecepatan jelajah supersonik dan dilengkapi dengan peralatan radio-elektronik onboard yang paling canggih, termasuk komputer onboard yang kuat.

Selain itu, pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem radar yang menyebar ke seluruh tubuh pesawat dan beberapa inovasi lainnya, khususnya, persenjataan yang ditempatkan di dalam badan pesawat.

Su-57 naik terbang ke udara untuk pertama kalinya pada tanggal 29 Januari 2010. Dibandingkan dengan pendahulunya, Su-57 menggabungkan fungsi pesawat serang dan jet tempur.

Persenjataan pesawat tersebut akan mencakup rudal hipersonik. Jet tempur generasi kelima telah berhasil diuji dalam kondisi tempur di Suriah.

Apa yang menjadikan Su-57 lebih baik daripada jet tempur generasi kelima Amerika dan Tiongkok, dan kapan jet ini akan mulai bertarung untuk NATO?

Bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin meninjau Su-57 bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di pameran udara MAKS-2019, di pinggiran kota Moskow. Keduanya bahkan membahas potensi pembelian pesawat-pesawat ini oleh Turki yang merupakan anggota NATO. Namun, kedua negara masih harus menyelesaikan semua rincian potensial dan belum menandatangani kontrak.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menginspeksi jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57, pada acara MAKS-2019 di Zhukovsky, Rusia. (Foto: Sputnik/Sergey Guneev)
Su-57 adalah jet tempur kedua dalam kelasnya (generasi kelima) yang telah sepenuhnya dibangun di dunia (Tiongkok masih berkutat mengerjakan Chengdu J-20).

Jet tempur ini dibuat untuk menyaingi pesawat terbaik Amerika F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Sejarah Su-57

Jet tempur ini telah dikembangkan sejak awal abad ke-21. Sepuluh tahun kemudian (pada 2010), Su-57 mengangkasa untuk pertama kalinya.

Awalnya proyek ini dikritik secara luas, karena berbagai masalah yang tidak memungkinkannya memenuhi kriteria jet tempur generasi kelima. Salah satu masalah terbesar adalah mesinnya.

Selama bertahun-tahun, ia menggunakan "jantung" generasi sebelumnya, sehingga tidak menghadirkan kemampuan terbang dan pertempuran udara yang diperlukan selama pengujian. Namun pada akhir 2018, masalah ini diselesaikan dan Su-57 masuk ke tahap produksi serial.

Mesin garang Su-57

Su-57 menerima mesin jet generasi baru yang memungkinkannya berakselerasi dalam mode non-afterburner ke kecepatan supersonik dan mempertahankannya di keseluruhan penerbangan.

Kecepatannya melebihi 2.000 km/jam, selagi bermanuver dan melakukan aerobatik, sehingga mampu menghindari tembakan rudal dan senjata musuh dengan lebih baik.

Tidak terdeteksi radar

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan jet generasi kelima secara umum adalah untuk menyembunyikan mereka dari sistem pertahanan udara modern.

Untuk mencapai itu para insinyur harus menyembunyikan semua persenjataan (misil yang dipandu dan tak dipandu, serta bom) di dalam badan pesawat. Mereka juga harus menggunakan bahan komposit terbaru dan termahal dalam konstruksi badan pesawat.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat melihat Su-57, jet tempur generasi ke-5 Rusia paling canggih yang ditampilkan dalam pertunjukan udara di 2019 MAKS Air Show, di Bandara Internasional Zhukovsky Moskow, Rusia.(Foto: Sputnik)

Tak Ingin Dipecundangi Australia, Indonesia Beli Sukhoi SU-35

Pesawat tempur Sukhoi SU35 S, sudah masuk dalam layanan Angkatan Udara Federasi Rusia. Untuk mencegah kekalahan di masa lalu, Indonesia akan memperkuat TNI AU dengan membeli pesawat tempur Sukhoi SU 35. (Foto: istimewa)
"Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia."
JAKARTA -- Keinginan TNI Angkatan Udara untuk memiliki pesawat tempur yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia, didasari oleh banyak faktor. belajar dari kasus lepasnya Provinsi Timor - Timur dari kedaulatan Indonesia, hingga kini tetap menjadi catatan sejarah yang memalukan bagi Indonesia.

Lemahnya pertahanan udara Indonesia saat itu bisa dengan mudah dipecundangi oleh AU Australia. Saat ini jawaban untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, dijawab oleh Kementerian Pertahanan dengan membeli pesawat tempur superioritas udara Sukhoi SU-35S.


Dikembangkan untuk menyaingi pesawat siluman, Super Flanker akan memperkuat pertahanan udara dan kapabilitas proyeksi Angkatan Udara Indonesia. Su-35 memiliki jangkauan 3.600 kilometer dengan mengandalkan bahan bakar internal sehingga AU Indonesia dapat menjalankan misi jarak jauh.

Karena negara raksasa dengan 18.370 pulau ini belum mengembangkan secara maksimal jaringan lapangan udaranya, AU Indonesia tak bisa memencarkan pasukan udaranya.

Namun dengan kemampuan penerbangan jarak jauhnya, Su-35 mampu mengatasi masalah ini. 


Angkatan Udara Indonesia dapat menjangkau area patroli yang lebih luas dengan durasi yang lebih panjang. Pesawat ini dilengkapi dengan perangkat pengisian bahan bakar udara yang dapat memperpanjang jangkauannya, begitu pula waktu jelajahnya.

Angkatan Udara India, yang melatih para pilot pesawat tempur Indonesia, telah melakukan misi sepuluh jam Sukhoi. Jadi secara teori, AU Indonesia pun bisa melakukan hal yang sama.

Untuk ukuran pesawat yang mampu mengangkut beban cukup berat, yaitu delapan ton misil dan bom pada 14 hardpoint, pesawat ini tergolong cepat. Kecepatannya dikombinasikan dengan jangkauan jarak jauh, membuat pilot mampu mengulangi penjelajahan dan melakukan putaran balik, taktik Perang Dingin Rusia yang membuat pihak musuh mengalami disorientasi, lelah, dan rentan dalam pertempuran udara satu-lawan-satu. 


Fitur unggul dari pesawat tempur Rusia ini ialah kemampuannya mengangkut misil dalam jumlah besar. Ini adalah keuntungan besar bagi pilot karena mereka dapat mengangkut misil lebih banyak dan meluncurkan tembakan serentak untuk melakukan penaklukan udara-ke-udara.
Keterbatasan pesawat tempur yang dimiliki Indonesia untuk mengawasi wilayah udara yang maha luas, membuat sebagian besar sistem pertahanan udara Indonesia masih bolong di banyak sisi, serta tidak bisa dijaga dengan maksimal. (Gambar: istimewa)
Rusia telah menjual misil dengan akurasi dan dampak kinetik unggul pada sejumlah pembeli dan sepertinya Su-35 Indonesia akan dilengkapi dengan misil tersebut. Misil jarak jauh dan misil antikapal Rusia membuat Sukhoi Indonesia dapat menyerang target dari jarak aman.

TNI AU Dipecundangi Australia

Su-35, bisa dibilang, menghilangkan masalah jarak. Lokasi di peta seperti Darwin dan Perth, yang terlihat tak tergapai kini berada di jarak pandang AU Indonesia.

Kelemahan militer Indonesia terekspos luas pada krisis Timor Timur. Pada 1999, Indonesia hanya bisa menyaksikan dari pinggir saat kontingen yang sebagian besar terdiri dari pasukan Australia melepaskan Timor Timur dari Indonesia. Hal yang terjadi di bawah mandat PBB tersebut tak mengurangi rasa malu Indonesia.

Sementara saat itu kondisi ekonomi melemah, berarti Indonesia hanya mampu menginfus militernya. Setelah sanksi Amerika secara virtual mengurung pasukannya dengan F-16 yang ketinggalan zaman, Indonesia memesan dua pesawat Su-27 berkursi tunggal dan dua pesawat tempur Su-30 berkursi ganda dari Rusia pada 2003 dengan kontrak senilai 192 juta dolar AS.

Empat tahun kemudian, Indonesia memesan enam Sukhoi tambahan. Analis Pertahanan Martin Sieff mendeskripsikan kontrak tersebut sebagai ‘kacang dalam perdagangan senjata internasional’.

Hasilnya dengan pasukan yang ada, AU Indonesia tak bisa mengalahkan rival regionalnya. AU Australia memiliki 69 F/A-18 Hornets dan 24 Super Hornet yang canggih. Australia juga memiliki pesawat tempur elektronik EA-18G Growler, yang dapat memperkuat pasukan mereka dalam segala konflik.


Selain itu, AU Australia, yang mengikuti haluan Amerika, memiliki kemampuan tempur, bahkan jika aksi semacam itu termasuk melakukan serangan pura-pura melawan ISIS.


Mengantisipasi Ancaman China

Su-35 merupakan senjata yang dapat memperkuat pasukan Indonesia, dan tergolong unggul di panggung militer Asia Tenggara. Pesawat ini memiliki kemampuan avionik canggih yang dapat mengatasi gangguan elektronik dan membutakan pesawat musuh dengan perangkat pengganggunya.

Pesawat tempur Sukhoi SU 30 SM dan SU-27 TNI AU saat melakukan latihan dengan pesawat tempur F/A Super Hornets AU Australia. Baru dihargai saat mulai memiliki kekuatan udara yang mumpuni. (Foto: istimewa)
Sebagian besar analis dari Barat sepakat bahwa Su-35 adalah pesawat nonsiluman paling kuat dan dapat mengalahkan semua pesawat tempur barat kontemporer, kecuali pesawat siluman F-22. Namun, F-22 dibanderol seharga 350 juta dolar AS per pesawat, sementara Su-35 dibanderol seharga 65 juta dolar AS.

China adalah kekhawatiran lainnya. Jakarta terlibat dalam kisruh regional dengan Beijing terkait sengketa wilayah di Laut China Selatan. Indonesia mungkin tak akan bisa menandingi kekuatan tembak China, tapi dengan Su-35, AU Indonesia memiliki kemampuan dan rasa percaya diri untuk mengawasi pesawat Tiongkok di atas perairan netral.

Menetralisasi Siluman Meski efektivitasnya diperdebatkan, sepertinya pada tahun 2020-an jet tempur siluman jenis baru akan menjadi fitur regular bagi semua angkatan udara di dunia.


Di Asia, China telah memulai seri produksi pesawat siluman J-31 dan J-21, dan Australia telah memesan 70 unit F-35 dari AS. Bagaimana posisi Indonesia di lingkungan ‘siluman’ tersebut?


Program KFX/IFX Mungkah Bisa Jadi Harapan?

AU Indonesia telah mengindikasikan mereka tertarik membeli pesawat tempur multiperan Rusia-India PAK-FA. Indonesia kemudian bergabung dengan Korea Selatan untuk mengembangkan Korean Fighter-Experimental (KFX).

Namun, hal tersebut tak berjalan sesuai rencana. Seperti semua pesawat tempur siluman di dunia, proyek KFX yang mahal mengalami turbulensi. Menurut majalah Forbes, AS tak mempercayakan Korea Selatan untuk memberi empat ‘teknologi dasar’ yang dibutuhkan bagi proyek tersebut.

“Korea menghadapi kekecewaan pahit atas penolakan AS untuk mempercayakan sekutunya akan perangkat teknologi canggih yang dibutuhkan bagi KFX yang tak hanya memiliki kapabilitas siluman, tapi juga mampu mencari dan melacak target berbahaya dengan radar terbarunya.”

Su-35 merupakan “asuransi” bagi Indonesia jika KFX ditunda atau dibatalkan. Yang Cheng-wei, pakar Taiwan dalam bidang sistem senjata Rusia, mendeskripsikan pesawat tersebut sebagai ‘jet generasi kelima tanpa penampilan pesawat tempur siluman’.

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX/IFX. Sebuah program ambisius demi pertahanan udara di masa depan. (Foto: istimewa)

Bangun Pesawat Tempur IFX, Indonesia Kerahkan Semua Sumber Daya

Sebuah mock-up pesawat tempur KFX-IFX. Untuk mengejar ketertinggalan dalam teknologi dirgantara, Indonesia bertekad untuk bisa menciptakan pesawat tempur buatan sendiri. (Foto: istimewa)
“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,”
JAKARTA -- Ambisi Indonesia untuk bisa menciptakan pesawat tempur sendiri didasari kesadaran akan pentingnya penguasaan teknologi tingkat tinggi terutama teknologi kedirgantaraan.

Bahkan menurut Heri Yansyah, Kepala Program Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment (KF-X/IF-X) PT Dirgantara Indonesia mengatakan, dalam kondisi cepatnya perkembangan teknologi, Indonesia harus berpacu dengan waktu agar tidak tertinggal dengan bangsa lain.

“Pesawat tempur itu seperti ponsel. Teknologinya dalam setahun sudah berubah lebih canggih, apakah itu menyangkut sistem elektronik, sensor, atau senjata.”Jadi Indonesia harus mampu melakukan upgrading teknologi yang selalu berubah ini.


Kalau tidak punya kemampuan upgrade, lalu beli pesawat yang sama dengan negara-negara tetangga, maka dalam waktu dua-tiga tahun, Indonesia sudah kalah,” kata Heri Yansyah, seperti dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (19/2). 

Namun Heri menyadari, meski membandingkan pesawat tempur dengan ponsel, untuk membuatnya jauh dari kata mudah. Perlu waktu 10 tahun lebih mengembangkan KF-X/IF-X yang dirancang menjadi jet tempur multiperan generasi 4,5 dengan teknologi mendekati kemampuan pesawat siluman (stealth fighter) generasi 5.

Apalagi sejak mesin jet pertama kali dikembangkan tahun 1946, pesawat tempur telah berevolusi hingga generasi kelima. Generasi termutakhir ini menggabungkan teknologi siluman untuk tak terdeteksi radar, kemampuan menjelajah supersonik, dan sensor baru yang terintegrasi. 

Satu-satunya persawat tempur generasi 5 yang kini telah beroperasi ialah F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS.
F-22 Raptor buatan Lockheed Martin AS ialah salah satu contoh pesawat tempur generasi lima yang memiliki kemampuan siluman. (Foto: REUTERS/Michael Fiala)
Sementara sejumlah jet lain dari generasi itu seperti F-35 Lighting II dan Sukhoi PAK FA, masih pada tahap uji coba. Untuk membuat prototipe KF-X/IF-X, ilmuwan Indonesia dan Korea Selatan akan bekerja bahu-membahu di markas Korea Aerospace Industries di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan.

“Saat puncak pembuatan prototipe pesawat, 200 insinyur Indonesia akan terlibat,” kata Heri yang pada periode 2011-2012 ikut ke Korea Selatan selama 18 bulan untuk mengerjakan fase pertama proyek KF-X/IF-X, yakni pengembangan konsep. 

Jumlah insinyur Indonesia yang berangkat ke Korea Selatan pada penggarapan fase kedua pembuatan prototipe mulai tahun 2016 ini, jauh lebih banyak daripada fase pertama yang hanya berjumlah 52 orang. Para ilmuwan Indonesia itu akan berdatangan ke Korea Selatan secara bertahap dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. 

“Ada insinyur yang harus tinggal di sana selama 10 tahun penuh, tapi ada juga yang dirotasi,” ujar Heri.

Kerahkan Semua Sumber Daya

Untuk membangun fasilitas di dalam negeri, Indonesia mengebut persiapan sumber daya manusia dan teknologi, mulai dari riset soal teknologi inti mesin jet tempur, material, avionik, aeroninamika, hingga membangun laboratorium untuk menunjang riset tersebut. 

Selain itu, meski penggarapan KF-X/IF-X dipusatkan di Korea Selatan, markas PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, bakal tak kalah sibuk.
Suasana kesibukan di salah satu hanggar PT Dirgantara Indonesia. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
PTDI akan memantau seluruh pengerjaan pesawat tempur tersebut. PTDI misalnya menyiapkan Design Center Indonesia (DCI) untuk membangun kemampuan teknologi, infrastruktur, dan simulasi. Di tempat ini, seluruh tahap pengerjaan KF-X/IF-X di Korea Selatan akan dikomunikasikan. 

DCI dibangun dengan meniru dari gedung Design Center yang juga dibangun di Sacheon, Korea Selatan. Design Center di Sacheon semacam bangunan yang tertutup rapat dan steril. Orang-orang yang memasukinya dilarang membawa flashdisk dan komputer. Di sana ilmuwan Indonesia dan Korsel akan kerja bersama. 

Indonesia juga kebagian tugas membuat komponen pesawat bagian sayap dan ekor kanan, serta penguat di bawah sayap. Selain itu, Indonesia mendapat jatah untuk membuat prototipe pesawat. Total ada delapan prototipe yang akan dibuat, enam prototipe terbang, dan dua prototipe tak terbang untuk uji struktur.

“Prototipe kelima akan dibuat di sini,” ujar Heri. “Kenapa mesti yang kelima? Karena Indonesia baru pertama kali ini mengembangkan pesawat tempur. Untuk prototipe pertama dan kedua, Indonesia belum siap,” imbuh pakar aerodinamika PTDI itu. 

Oleh sebab itu PTDI juga menyiapkan fasilitas hanggar composing, hanggar titanium, hanggar produksi, dan hanggar perakitan akhir pesawat tempur. Tak kalah penting, Indonesia bersiap untuk membangun kemampuan persenjataan secara bertahap. 

Sementara dari segi sumber daya manusia, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan mendapat pelatihan untuk mempertajam kemampuan, termasuk dengan disekolahkan lagi di dalam dan luar negeri. Untuk di dalam negeri, Institut Teknologi Bandung digandeng. “Ada 25 orang kandidat S2 dan enam orang kandidat S3 di ITB. Semua sudah dites,” kata Heri.
Penandatanganan perjanjian kerjasama antara perwakilan Indonesia dan perwakilan Korea Selatan. (Foto: istimewa)

Ekonomi Lesu, Jokowi Minta Renegosiasi Proyek Jet Tempur KFX-IFX

Purwarupa jet tempur KFX / IFX yang merupakan program kerjasama antara Korea Selatan dengan Indonesia. (Foto: Istimewa)
"Kita ketahui mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah mengalami tekanan luar biasa, kami sangat apresiasi pemerintah Korsel atas pengertiannya untuk menyetujui renegosiasi,"
JAKARTA -- Kerjasama proyek pembuatan jet tempur Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) antara pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan hingga kini masih belum jelas kelanjutannya. 

Salah satu kendala terbesar adalah masalah pembiayaan yang dirasa oleh Indonesia sangat berat, disaat kondisi kondisi Rupiah yang tengah tertekan dan perekonomian nasional sedang memburuk dalam empat tahun terakhir.

Presiden Joko Widodo meminta supaya melakukan perundingan ulang (renegosiasi) rencana kerja sama pembuatan jet tempur generasi 4.5 itu dengan Korsel. Renegosiasi salah satunya bertujuan agar Indonesia mendapatkan keringanan dalam hal pembiayaan.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto usai menggelar rapat bersama Kepala BKPM Thomas Lembong di kantor Kemenko Polhukam, Jumat (19/10).

"Dengan kondisi nasional maka presiden putuskan untuk bukan batalkan tapi renegosiasi, bagaimana posisi Indonesia bisa lebih ringan menyangkut masalah pembiayaan," kata Wiranto, dilansir dari cnnindonesia.com.

Wiranto mengatakan, keputusan renegosiasi itu bisa berdampak pada perubahan dalam sejumlah persetujuan yang telah disepakati sebelumnya. Menindaklanjuti hal itu, Wiranto mengatakan pemerintah telah membuat tim khusus guna membahas proses renegosiasi dengan pihak Korea Selatan

"Bisa berdampak pada agreement lalu yang sudah kita bicarakan, kita rapatkan setelah presiden perintahkan Polhukam untuk ketuai tim renegosiasi ini kepada Korsel," kata dia.

Peresmian kerjasama pengembangan proyek jet tempur KFX/IFX antara Korea Selatan dengan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Selain itu, Wiranto pun menargetkan kesepakatan renegosiasi selesai dalam satu tahun dan mengklaim pihaknya telah melakukan berbagai pembicaraan dengan Korea Selatan dari sisi pembiayaan, pembagian keuntungan maupun ongkos produksi dalam kerjasama pesawat jet tersebut

Renegosiasi Akan Menghemat Devisa

Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan langkah renegosiasi proyek KFX/IFX diperlukan buat menghemat devisa negara guna menjaga stabilitas Rupiah. Ia mengatakan semua pembiayaan pemerintah Indonesia ke Korea dalam proyek itu harus dibayar dalam bentuk devisa.

"Kita ketahui mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah mengalami tekanan luar biasa, kami sangat apresiasi pemerintah Korsel atas pengertiannya untuk menyetujui renegosiasi," kata dia.

Masalah anggaran juga dikeluhkan Kementerian Pertahanan RI, menyatakan proyek ambisius ini bisa saja batal dilanjutkan karena terkendala dana. "Arahan dari Pak Presiden kita lihat dulu kemampuan anggaran," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan Anne Kusmayati di Jakarta Selatan, Selasa (28/8).

Proyek KFX/IFX Harus Tetap Jalan

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan bahwa proyek kerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX akan tetap dijalankan. Hal itu ia katakan untuk menjawab keraguan dan adanya isu penundaan dari program pembuatan pesawat jet siluman generasi 4.5 itu.

Mantan KASAD itu menjelaskan bahwa pemerintah bisa merugi jika program itu tak dilanjutkan. Pasalnya, uang yang sudah digelontorkan oleh pemerintah terbilang besar. Pemerintah telah menggelontorkan jaminan uang muka demi berlangsungnya proyek ini sebesar Rp3 triliun, pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Program tetap dilanjutkan. Sudah didatangkan, jangan sampai rugi dong kita, itu Rp3 triliun masa dibuang," kata Ryamizard di Mako Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (3/5).

Meski tetap dilanjutkan, ada beberapa kendala seperti kelengkapan perizinan dan masalah MoU yang hingga saat ini masih diperdebatkan. Kendala lainnya karena Indonesia ingin agar alih teknologi pesawat itu dapat menguntungkan kedua belah pihak. Ryamizard menekankan, Indonesia bakal terus benegosiasi hingga tercapainya kesepakatan yang tak merugikan pihak Indonesia.

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyaksikan penanda tanganan perjanjian kerjasam tahap II, proyek jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan. (Foto: istimewa)
Masalah alih teknologi (TOT) menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Totok Sugiharto, menjadi perhatian utama Indonesia dalam kerjasama bernilai investasi mencapai 8 miliar dollar AS itu. Karena Indonesia tak ingin hanya sekadar memproduksi semata. Tapi juga ingin teknologi dalam pesawat itu juga dikuasai sepenuhnya.

"Jadi tak semata-mata menguntungkan pihak luar, jadi transfer teknologinya itu bisa dilakukan di Indonesia. Jadi bisa menguntungkan pihak Korea dan menguntungkan pihak Indonesia," ungkapnya.

Amerika Serikat Telah Restui Transfer Teknologi

Sebelumnya, salah satu kendala terbesar dalam pengembangan proyek jet tempur KFX-IFX adalah, adanya penolakan dari Amerika Serikat mengenai sejumlah teknologi pesawat tempur KFX/IFX. Seperti diketahui, basis pengembangan pesawat tempur Korea Selatan berasal dari teknologi Amerika.

September 2015, pemerintah Amerika Serikat menolak transfer empat dari 25 teknologi inti ke Korea Selatan. Transfer teknologi utama jet tempur dinilai AS melanggar kebijakan keamanan negara itu. AS menolak jika Korea Selatan memberikan sejumlah teknologi pesawat tempur kepada Indonesia yang menjadi komponen dalam proyek tersebut.

Harian Korea Selatan Chosun Ilbo melansir, salah satu yang dilarang AS untuk ditransfer ialah data teknologi terkait radar AESA (active electronically scanned array). Ini sistem radar canggih dengan kemampuan perang elektronik.

AESA dapat mencari dan melacak target lebih cepat dan akurat daripada sistem-sistem yang sudah ada selama ini. Selain radar AESA, tiga teknologi inti lain yang tak diizinkan pemerintah AS untuk ditransfer ialah sistem perang elektronik, pencari dan pelacak inframerah atau IRST (infrared search and track), serta electro-optical targeting pod.

Korea Selatan, melalui Korea Aerospace Industries (KAI), dan Lockheed Martin memiliki sejarah kerja sama mengembangkan pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle  yang kini juga menjadi bagian dari armada udara Republik Indonesia.

Master plan proyek pembangunan jet tempur KFX/IFX antara Korea Selatan dengan Indonesia.

Dua Jet Tempur Sukhoi SU-35 Akan Datang di HUT TNI 2019

Jet tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia. Pemerintah Indonesia hingga kini terus mengupayakan pembelian Sukhoi SU-35, sejumlah MoU dan mekanisme pembelian jet tempur canggih tersebut sudah disepakati antara kedua belah pihak. (Foto: istimewa)

Indonesia Barter Sukhoi SU-35 dengan Kerupuk, Kopi dan Karet

Indonesia mencapai titik temu dengan Rusia dalam proses pembelian jet tempur Sukhoi SU-35. Disepakati dalam MoU bahwa pembelian Sukhoi SU-35 dilakukan melalui mekanisme barter sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang diminati Rusia.
"Rencana imbal dagang ini sudah hampir final. Namun, kami masih menawarkan produk Indonesia lainnya untuk diekspor ke Rusia selain karet yang mereka minta,"
JAKARTA -- Memburuknya perekonomian Indonesia dalam empat tahun terakhir, memaksa Indonesia mencari berbagai macam alternatif dalam proses pembelian jet tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia. 

Saat ini, sudah diputuskan bahwa pembelian jet tempur canggih tersebut dilakukan melalui skema barter sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang diminati Rusia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan rencana barter jet tempur Sukhoi Su-35 dengan hasil produksi karet Indonesia telah dalam tahap final. Selain karet, Enggar juga menawarkan kelapa sawit dan kerupuk dalam daftar bahan pangan yang akan dibarter dengan 11 unit Sukhoi 35. Kerupuk diusulkan sebagai produk barter bersamaan dengan barang furnitur.

"Saya serius (soal barter kerupuk), karena ada nilai tambahnya," kata Enggartiasto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir dari katadata.co.id, Senin (28/8).

Enggartiasto menjelaskan, kesepakatan barter tertuang dalam MoU dengan perusahaan produsen Sukhoi SU-35, Rostec asal Rusia. Dalam MoU tersebut tertulis bahwa Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, termasuk karet olahan dan turunannya serta minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan turunannya.

Selain itu, opsi lainnya adalah mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik, dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya. Nilai barter produk tersebut senilai US$ 570 juta.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. (Foto: istimewa)

Amerika Ancam Jatuhkan Sanksi Jika Indonesia Beli Sukhoi SU-35

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah petarung superioritas udara terhebat Rusia yang beroperasi hari ini, dan mewakili puncak desain jet tempur generasi ke-4++. Jet tempur Sukhoi SU-35 akan tetap beroperasi hingga pembangunan jet tempur siluman PAK-FA generasi kelima, selesai diproduksi. (Foto: theduran.com)
"Indonesia sangat menantikan untuk menerima jet tempur itu segera, kami sangat tertarik dengan ini,"
SINGAPURA -- Impian Indonesia untuk segera bisa memiliki jet tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia benar-benar melalui jalan yang terjal. Setelah sebelumnya terkendala dana dan budget yang terbatas, akibat memburuknya perekonomian nasional, kini Amerika Serikat (AS) juga mulai ikut campur.

Pembelian pesawat tempur Su-35 yang dilakukan Indonesia dari Rusia membuat Amerika berang. AS mengancam akan memberikan sanksi kepada Indonesia atas pembelian jet tempur tersebut.

AS telah memberlakukan undang-undang (UU) Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) untuk negara-negara yang membeli persenjataan buatan Rusia. Indonesia juga tak luput dari sanksi tersebut, jika tidak membatalkan pembelian 11 pesawat jet tempur SU-35 Rusia.

Sejauh ini, China menjadi negara pertama yang terkena sanksi CAATSA karena membeli sejumlah jet tempur Su-35 dan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Beijing memprotes keras penjatuhan sanksi tersebut.

Indonesia melalui Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan menolak mundur dari kesepakatan pembelian 11 pesawat jet  tempur Su-35 Rusia meskipun dihantui sanksi dari Amerika Serikat (AS).

"Indonesia sangat menantikan untuk menerima jet tempur itu segera, kami sangat tertarik dengan ini," kata Menhan Ryamizard, di sela-sela forum ASEAN Defense Ministers' Meeting (Pertemuan Para Menteri Pertahanan ASEAN), Sabtu (20/10/2018).


Pembelian jet tempur dengan nilai kontrak sekitar USD1,154 miliar itu sudah tercapai dan sedang dalam proses pengiriman. Ryamizard menambahkan bahwa kementeriannya saat ini sedang mengerjakan perincian tentang prosedur pembayaran dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan.

Berdasarkan undang-undang yang diteken Presiden Donald John Trump pada bulan Agustus lalu, setiap negara yang terlibat perdagangan dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia akan menghadapi sanksi Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis bertemu di Jakarta pada Selasa (23/01). (Foto: Antara / Sigid Kurniawan)